Haikyuu milik Furudate Haruichi

Selamat membaca.


Dia menyeringai masam. Gari gari-kun biru di tangan pun terasa hambar di lidah. Orang bodoh mana yang memakan es krim pada cuaca beku; secara harfiah karena salju putih menumpuk di sepanjang jalan menutupi permukaan. Ah, ya, Nishinoya melakukannya. Nishinoya adalah salah satu dari banyak orang bodoh yang bertahan di luar rumah saat penyiar berita di televisi mengumumkan akan segera memasuki musim salju.

Hanya bermodalkan sweter tebal berwarna merah konyol, beanie norak usang, sepatu bot lusuh, dan... Gari gari-kun.

Nishinoya bahkan tak lagi merasakan dingin mencubit setiap inci kulitnya karena memang tidak ada lagi yang tersisa yang bisa dia rasakan. Bahkan jika sekarang seorang sosiopat muncul entah dari mana, menusuknya dengan pisau, Nishinoya hanya akan bergeser–karena bersin, bukan tusukannya. Dia sudah menahannya dari tadi.

Nishinoya mengintip ponselnya; pesan masuk bertubi-tubi. Dia tidak membacanya. Sebaliknya, dia menggeser berulang-ulang atas ke bawah. Tidak ada pesan masuk darinya. Dari yang Nishinoya harapkan. Giginya bergemeletuk. Tidak yakin apakah karena ada fakta seluruh tubuhnya sebiru es atau hatinya yang remuk tak bersuara.

Mereka bahkan tidak bertengkar. Tidak, belum sempat ada pertengkaran karena dia ditinggalkan begitu saja tanpa kata. Nishinoya menunggu di sofa. Membiarkan waktu berlarut-larut dan televisi menyala tanpa ada penontonnya. Bahkan hingga keesokannya dia tertidur di sana, tidak ada. Tidak ada yang kembali.

Chikara yang memberitahunya. Nishinoya ingat rasa kasihan di mata hitam kaburnya. Nishinoya bercanda dengan merangkul leher temannya sembari mengejek, "Apa? Kau kalah lotre kali ini?" Dan gambar itu muncul. Nishinoya menatapnya bingung sesaat. Berpikir Chikara baru saja membuat lelucon April Fools dan dia ingat bahwa hari itu adalah hari kamis, tanggal 10 Mei. Dua bulan setelah tanggal jadinya yang kedua.

Nishinoya bahkan tidak ingin tahu seberapa mengerikan wajahnya karena Chikara terlihat seperti ingin mengeluarkan air mata. Tidak bisa, tidak dengan sosok kekasihnya yang tersenyum bahagia–senyumnya begitu lebar, menghadap ke arah kamera, dan di sebelahnya sosok yang lebih kecil yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya, memeluk kekasihnya erat di pinggang. Membubuhi ciuman di pipi.

Intim.

Tampak begitu mesra.

Dan kalimat yang tertera di bawah gambar, having fun with my tangerine, simbol hati.

Nishinoya hancur. Dia hancur luar dan dalam. Tapi dia masih tersenyum. Nishinoya masih tersenyum meski sesuatu yang basah mengalir deras dari matanya. Ryu pernah mengatakannya, Nishinoya menolak percaya padanya. Mereka bertengkar untuk pertama kalinya hari itu sebagai sahabat kental sejak sekolah menengah, karena kenaifannya.

Suga-san tidak pernah mengatakannya secara langsung, tapi Nishinoya bisa tahu dari setiap tatapan yang diberikan seniornya tersebut. Chikara mencoba meredam situasi. Tidak mengatakan apa-apa, tapi itu juga mengganggu Nishinoya karena pemuda justru lebih seperti mengasihaninya. Kasihan karena Nishinoya yang egois, memutus persahabatan tulusnya. Kasihan karena begitu semua orang meninggalkannya yang menolak mempercayai kekasihnya selingkuh, dan Nishinoya dibuai oleh yang namanya cinta.

Ryu menamparnya dan meneriakkan bahwa itu bukan cinta. Nishinoya memang buta. Tapi bukan dibutakan oleh cinta. Nishinoya dibutakan oleh ketergantungan. Ketakutan akan ditinggalkan sendirian. Mencoba membodohi dirinya sendiri bahwa tidak mungkin kekasihnya melakukan sesuatu dengan orang lain tanpa sepengetahuannya. Menipunya selama ini.

Semua tatapan dingin itu. Kata kasar yang dia terima. Waktu yang semakin sedikit mereka habiskan. Kekasihnya bahkan tidak lagi menatap wajahnya setiap mereka berbicara. Tidak, kekasihnya memang menganggapnya tidak ada di rumah yang mereka tinggali bersama.

Nishinoya menghembuskan nafas. Uap beku keluar membumbung tinggi ke angkasa. Tangannya berhenti bergetar. Satu getaran, satu pesan masuk; dari Chikara yang menanyakan keberadaannya. Nishinoya mengetik lambat dengan satu jari.

Dua lantai ke atas, penyiar berita yang sama muncul dengan kabar yang sama pula. Memasuki musim dingin. Salju semakin lebat. Dimohonkan untuk orang-orang tidak keluar rumah.

Satu getaran, Nishinoya meletakkan ponselnya. Gari gari-kun tinggal setengah. Penyiar berita, perkiraan cuaca, kopi di atas meja, kalung dengan inisial namanya. Nishinoya memutarnya berulang-ulang.

Satu getaran, pesan masuk tak terbaca. Uap mengepul di sekitar wajah Nishinoya. Bibirnya tertarik ke atas. Ingat kereta api yang berjalan dan bunyi dari corong asapnya.

Lebih banyak getaran, panggilan masuk. Nafas dan kehangatan meninggalkan tubuh Nishinoya.


Lagi kepingin nulis yang sesuai sama suasana hati.

–Cal.