Malam semakin larut, ketika Naruto menepikan mobil sedan hitam di pekarangan sebuah hotel kecil yang terletak di Prefektur Aichi. Butuh waktu sekitar 5 jam perjalanan dari gunung Oyama, tempat mereka melakukan kegiatan dan juga lokasi penyerangan manusia bulan yang dipimpin Toneri.
Selama dalam perjalanan, Hinata masih terlelap di kursi penumpang di samping Naruto. Gadis itu semenjak kematian Sasori, tidak sadarkan diri, seakan ada sesuatu yang terputus darinya. Naruto sempat memiliki teori bahwa ini ada hubungannya dengan perjanjian darah yang pernah dibicarakan Neji.
Sekitar sepuluh menit Naruto masuk ke dalam hotel, mengisi beberapa form sebelum akhirnya mendapatkan kunci kamar. Pemuda pirang itu segera kembali ke mobil, membuka pintu, menyelimuti Hinata dengan jaket olahraganya sebelum menggendongnya masuk ke dalam hotel.
Naruto membaringkan Hinata di atas tempat tidur dengan hati-hati. Dia lalu menarik kursi dan duduk di samping ranjang, memerhatikan Hinata tidur dengan napas teratur. Manik birunya baru menyadari, ada noda darah di pipi kiri sang gadis. Naruto menyekanya dengan ibu jari sebelum menarik napas perlahan, wajahnya sedikit pucat, cemas karena sampai saat ini Hinata belum juga bangun.
Pemuda pirang itu meraih tangan Hinata, menggenggam erat dan menaruh kening di atasnya. Dia tidak menyadari, bahwa entah sejak kapan tangannya bergetar. Perasaan takut yang terselimuti adrenalin kini menguap, berteriak mengatakan dia takut kehilangan Hinata, berharap Hinata segera membuka matanya, dan melihat kembali senyum tulus sang gadis.
"Hinata..., maafkan aku. Maaf karena aku begitu terlambat menyadari semuanya." Naruto berbisik pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku mohon..., bangunlah..."
Sebuah hentakan kecil di tangan mengejutkan Naruto, pria itu segera menoleh ke Hinata. Raut wajah yang semula tenang kini berubah keruh, keningnya berkerut dengan raut cemas, gelisah, dan ketakutan. Erangan kecil lolos dari bibir kecil Hinata, serta tubuhnya bergerak gelisah. Melihat hal itu, Naruto berdiri, panik, dan berusaha menenangkan Hinata.
Tidak lama kemudian, Hinata mulai menangis. Gadis itu terisak, mencengkram baju bagian dadanya dengan kuat. Lalu sepasang mata rembulan bersinar terang ketika tiba-tiba pemiliknya membuka mata. Naruto terkejut melihatnya, dia sempat tertegun sebelum akhirnya memanggil Hinata ketika gadis itu mulai tenang.
Tidak sampai semenit, mata Hinata kembali normal dan deru napas gadis itu perlahan melambat. Ketika Naruto memanggilnya untuk kesekian kalinya, akhirnya sang pemuda mendapatkan respon. Hinata melirik ke arahnya, dan memanggilnya dengan suara serak.
Naruto menghela napas lega, dia menyeka pelan keringat dingin di kening Hinata. Kemudian pemuda itu membantu sang gadis untuk duduk, dan memberikannya segelas air putih. Hinata menerimanya dengan hati-hati, tubuhnya masih terlalu lemas. Setelah menghabiskan setengah gelas, gadis itu kini memerhatikan sekitar sebelum tertuju pada Naruto.
"Kita di mana? bagaimana keadaan sekolah dan Neji-nii-san?"
Setelah menaruh gelas, Naruto kembali duduk dan membalas tatapan Hinata. Manik biru itu menatap cemas pada sang gadis, wajahnya terlihat pucat, meski tidak sepucat saat mereka kabur dari Toneri.
"Kita ada di perbatasan Prefektur Aichi dan Neji-san baik-baik saja. Dua jam yang lalu dia menghubungiku dan menyuruhku untuk pergi sejauh mungkin dari Kota Tokyo. Mereka berhasil memukul mundur Toneri, ada beberapa yang terluka, namun tidak ada korban jiwa selain..."
Naruto tidak melanjutkan perkataannya, dia tidak berani mengucap nama Sasori di depan Hinata. Gadis itu baru saja sadar, bagaimana jika dia kembali panik ketika dia teringat kematian Sasori?
"jadi, hanya Sasori-san yang tewas di sana?" Hinata bertanya pelan, seakan ingin menyakini arti dibalik kata-kata Naruto yang terputus.
Naruto mengangguk lemah, wajahnya tertunduk.
Air mata jatuh perlahan sebelum berubah deras. Hinata terisak pelan, menggigit bibir bawahnya untuk meredam tangisnya yang hendak pecah. Dia masih belum percaya, sosok tenang yang selalu berada disisinya kini telah tiada. Pria yang memayunginya dan menemaninya saat Hinata menangis, pria yang menjaga punggung dan melindunginya saat bertarung dengan manusia bulan. Semua kepingan kenangan itu berhamburan menerjangnya, semakin membuat dadanya sesak, dan perih.
Naruto tidak tahu, apakah dia pantas untuk menenangkan Hinata. Gadis itu pernah terluka, pernah menangis karena ulahnya. Dan kini Hinata menangis untuk pria lain, pantaskah jika dia merengkuhnya?
Rasa dingin tiba-tiba muncul di punggung, seakan menjadi sebuah dorongan, perasaan itu memberikan keberanian pada Naruto. Pemuda itu mendekat, lalu merengkuh Hinata dalam pelukan hangat. Dia menaruh kepala Hinata untuk bersandar di dada bidangnya, menepuk pelan punggung mungil yang bergetar pelan. Perlakuan hangat itu berhasil membuat tangis Hinata pecah.
Hinata menangis, meluapkan seluruh kesedihannya, dan kali ini ada Naruto di sisinya.
...
"Sejak kapan Naruto-kun tahu semua ini?"
Setelah puas menangis, dan perasaannya sudah tenang, kini mereka berdua kembali saling berhadapan. Mulai bicara serius empat mata.
"Sejak aku memohon kepada Neji-san untuk memberiku kesempatan kedua."
Naruto meraih tangan Hinata, mengusapnya pelan dan menatap dalam mata gadis itu. Pemuda pirang itu kemudian berlutut, masih menggenggam tangan Hinata. Sorot matanya tegas dan dalam, saat dia berkata.
"Izinkan aku berada di sampingmu, Hinata. Maukah kau memberiku kesempatan?"
Gadis itu tidak langsung menjawab, seperti menimang sambil membalas tatapan Naruto. Pemuda itu tahu, tidak mungkin mudah meminta kesempatan kedua pada Hinata. Gadis itu sudah terlalu banyak menerima perlakuan dingin dan penolakan darinya. Namun Naruto tidak akan mundur, jika Hinata menolaknya, maka dia akan bergabung bersama tim bodyguard Neji untuk menjaganya dari jauh.
"Apa kau juga sudah tahu, tentang perjanjian darah?" Hinata kembali bertanya dan Naruto mengangguk.
"Apa kau bisa menebak, alasan aku memilih Sasori-san menjadi partnerku?"
Kali ini pertanyaan Hinata membuat Naruto mengingat lagi penjelasan Neji mengenai Perjanjian darah. Pria itu memberitahunya dengan singkat, dan itu adalah jalan keluar bagi keturunan Putri Kaguya untuk menghilangkan jejak dari para Manusia Bulan. Pasangannya bisa siapa aja diluar dari keturunan Hyuuga itu sendiri. Jadi sejujurnya, Naruto tidak terlalu yakin dengan jawabannya.
"Karena Sasori adalah kandidat terkuat untuk melindungimu."
Hinata mengangguk pelan dan matanya berkaca-kaca meski senyum tipis terpatri di wajah cantiknya.
"Aku juga memilih Sasori-san karena aku berpikir, jika nanti aku harus mati. Maka lebih baik aku mati bersama orang asing ketimbang dengan orang yang aku sayangi."
Hinata menghela napas pelan, dia perlahan melepaskan genggaman Naruto. Sekuat tenaga gadis itu menahan tangisnya yang akan kembali pecah, dan memilih tersenyum lebar.
"Sekarang Sasori-san sudah tiada. Itu artinya aku juga harus segera pergi."
Naruto segera beranjak, wajahnya terlihat panik ketika mendengar perkataan Hinata. Kemana gadis itu akan pergi, apakah dia berniat untuk ikut Toneri ke bulan?
"Tidak, kau tidak boleh pergi Hinata! masih ada aku, Neji dan keluarga Hyuuga lainnya yang akan melindungimu!"
Hinata menggeleng kuat, air matanya akhirnya kembali jatuh.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian terluka, atau lebih buruknya lagi. AKU TIDAK INGIN KALIAN MATI KARENA AKU!"
Hinata memeluk tubuhnya sendiri, meringkuk dan menangis dalam diam. Dia tidak ingin lagi merasakan kehilangan, melihat orang yang dia sayangi satu persatu mati karena dirinya. Semua salahnya, jika saya Hinata menurut dan mengikuti Momoshiki ke bulan, dan jika saja dia tidak melakukan perjanjian darah bersama Sasori. Mungkin semua orang akan bahagia, cukup dirinya yang terluka.
Naruto kembali memeluk Hinata, menepuk pelan punggung kecil itu. Mata biru telah basah oleh air mata, dia merasa sesak di dada setiap mendengar perkataan Hinata. Gadis ini, dia lebih memikirkan orang lain ketimbang kebahagiaannya sendiri. Bagaimana bisa Naruto tega melepaskannya dan membiarkannya pergi sendiri. Cukup akan kebodohan dan keegoisannya waktu lalu, kali ini Hinata tidak akan pernah sendirian lagi.
"Aku tidak akan mati, Hinata."
Naruto berucap tegas, lalu dia melepas pelukannya. Kedua tangannya menangkup wajah sembab Hinata, dan kedua pasang mata berbeda warna itu saling tatap.
"Aku dan juga Neji-san tidak akan mati meninggalkanmu. Karena itu jangan pergi, Hinata."
Bibir itu terkatup rapat, masih enggan berucap, seakan tetap tegas menutup hatinya. Naruto tersenyum kecil, lalu tanpa peringatan dia mencium Hinata. Mempertemukan kedua bibir mereka, seakan mengetuk pintu hati sang gadis dengan kecupan manis. Satu kecupan, dua kecupan, berulang kali sampai bibir tipis itu perlahan terbuka.
Kali ini gadis itu menyambutnya, Hinata melingkarkan kedua tangannya pada leher Naruto. Mulutnya dia buka lebar-lebar dan membiarkan sang pemuda melumatnya. Kecupan yang semula manis kini berubah panas dan bergairah. Hinata dibuat mabuk kepayang oleh perlakuan Naruto. Cara pria itu menyentuh daerah sensitif dan menciumnya. Berhasil membuat sang gadis tidak mampu berpikir jernih hingga dia membiarkan desahan demi desahan lolos dari bibirnya. Dia membiarkan Naruto memanjakan tubuhnya dan Hinata pun luluh dalam dekapan Naruto.
Satu persatu pakaian mulai jatuh ke lantai, Hinata kini hanya mengenakan pakaian dalam sementara Naruto masih menyisakan celananya. Deru napas keduanya memburu, bersama rasa panas menyentuh kulit masing-masing. Wajah Hinata memerah, air mata masih mengalir di ekor mata dan Naruto menyekanya dengan kecupan singkat.
"Kau manis sekali, Hinata."
Pujian kecil itu membuat rona merah di pipi putih itu semakin terang. Hinata mengalihkan wajahnya, tidak berani membalas tatapan Naruto. Pria itu terkekeh pelan, mencium pipi Hinata, lalu turun ke leher jenjangnya yang putih dan meninggalkan tanda cinta di sana.
"Ukh..."
"Tidak usah kau tahan. Aku ingin mendengar suaramu, Hinata."
Naruto mencium kening, sementara tangannya mulai turun ke bawah. Jari telunjuknya menelusup masuk, menarik ujung celana dalam berwarna peach dan mendorongnya semakin turun ke paha. Hinata tidak pernah menyangka tubuhnya akan sesensitif ini, tiap sentuhan membuat tubuhnya tersentak pelan dan perutnya geli seperti digelitik. Saat jemari lentik Naruto mulai meraba dan bermain di bawah selangkangannya, Hinata tidak kuasa lagi menahan desahan panjangnya.
Jari tengah sudah sibuk bergerak maju-mundur di dalam lubang hangat dan basah. Bergerak cepat lalu melambat sambil menekan-nekan dinding rahim. Sekujur tubuh Hinata menegang, salah satu kakinya terangkat ke atas bahu bidang Naruto. Tubuh gadis itu melemas, membuat dia memeluk leher Naruto erat, sebelum membiarkan sang pemuda menaruh tubuhnya di atas pangkuannya.
"Kau tahu, Hinata. Haa..., Aku tidak bisa menahan debaran jantungku saat melihatmu datang dengan gaun itu."
"Ugh! Kau cantik seperti dewi bulan, begitu memesona."
"Ah..., Ah! Na-Naruto-kun... Arg!"
Hinata tidak mengubris perkataan Naruto, dia sedang mabuk kepayang oleh hentakan sang pemuda. Benda tumpul itu sudah berhasil masuk ke dalam tubuhnya, dan sedang bergerak maju-mundur dengan tempo cepat. Astaga..., Hinata hampir gila dibuatnya.
"Haa..., ah! a-ah!"
Jemari tangan Hinata mulai meremas rambut belakang Naruto. Manik rembulan itu terlihat berkabut, deru napasnya menderu. Hinata menangkup wajah mantan tunangannya itu, sebelum melumat bibir tebal di depannya. Naruto sengaja membuka mulutnya, membiarkan Hinata bermain dengan lidahnya. Kecupan demi kecupan yang memabukan. Keringat mulai membasahi sekujur tubuh mereka.
"Kita pindah," ujar Naruto tiba-tiba dan tanpa menunggu respon Hinata. Pria itu sudah lebih dulu menggendong Hinata menuju kamar mandi.
Shower menyala, air dingin segera membasahi tubuh kedua sejoli yang tengah memadu kasih. Punggung Hinata menempel pada dinding, mereka kembali berciuman, berperang lidah dan saling meninggalkan tanda di tubuh satu sama lain. Hinata menggigit bahu Naruto, pria itu mengerang pelan sebelum mendesah tertahan saat gadis itu menjilatnya.
Tidak cukup satu gigitan, Hinata mulai menggigit bagian tubuh Naruto yang lain. Lalu menjilatnya, menikmati darah yang mengalir dari bekas gigitannya. Sementara sang gadis sibuk memberi tanda, Naruto memainkan tangannya, meremas pelan buah dada di depannya sambil menghentak pinggulnya dengan tempo cepat.
"A-ah..., Naruto-kun..."
"Hinata..., Ugh!"
Entah sudah berapa kali mereka melakukannya, berganti posisi di kamar mandi, di tempat tidur. Mereka berdua melakukannya penuh gairah, menikmati hangatnya tubuh pasangan mereka di malam panjang ini. Sampai ketika bulan mulai terbenam dan siap berganti dengan mentari. Hinata jatuh terlelap di ranjang.
Jemari kekar itu bergerak pelan, menyisir poni Hinata dan pemiliknya memerhatikan wajah tidur sang gadis. Naruto duduk di tepi ranjang, memerhatikan sebelum suara dering ponsel mengalihkannya. Pria itu beranjak, mengambilnya dan menekan tombol hijau.
"Halo, Neji-san."
.
.
.
Continue...
a/n: ini adalah alasan kenapa aku tidak cepat-cepat update di bulan puasa kemarin. Kalian pasti sudah tahu jawabannya, bukan? ha ha ha. #alasanaja. Maaf sudah membuat kalian semua menunggu, dan terima kasih masih setia dengan cerita ini. Salam hangat dari Sei *muah
