SKET Dance by Kenta Shinohara
Warning : OOC, Bahasa Informal, gajelas.
Sudah satu jam lebih sejak Himeko meletakkan tubuhnya untuk rebahan di tatami ruang klub Sket-Dan, membuat Bossun yang biasanya bersantai di tatami favoritnya itu harus mengalah dan duduk di sofa yang ada di seberangnya.
Bossun tidak tahu dan tidak punya keberanian untuk bertanya pada Himeko, apa yang terjadi padanya. Apalagi Switch yang daritadi hanya fokus pada dating simulator yang ada di komputernya. Beberapa kali pemuda dengan topi merah bertanduk itu mengirim kode darurat pada Switch agar ia memulai pembicaraan, soalnya Bossun agak payah dalam hal itu.
"H-hey, Himeko… kau sakit???"
Bossun memberanikan diri. Ia melirik Switch dengan tatapan tolongin plis gue takut kena pukul kunpuumaru. Melihat Himeko yang tak punya tenaga di hadapannya sangat aneh, biasanya gadis itu yang paling cerewet dan punya semangat tinggi kalau urusannya untuk menganiyaya Bossun dan Switch.
Hari ini pengecualian.
"Hm? Sepertinya aku harus pergi," suara synthesizer menggema di ruangan itu. "Otakura-kun memintaku untuk menemuinya di Akiba,"
Bossun meliriknya dengan tatapan deathglare. Wajahnya kusut, alisnya hampir menyatu, menandakan kalau ia kesal. Berani-beraninya ninggalin gue?! Mana bisa gue ninggalin Himeko yang lagi begini sendirian?!
Switch mengedipkan matanya dan seakan berkata, semangat.
SEMANGAT PALELU!
Pintu ruang klub Sket-Dan tertutup. Yang tersisa sekarang hanyalah Bossun dan Himeko.
"H-himeko?"
Gadis itu bangkit dari tidurnya. Ia merasa sekujur tubuhnya sakit. Perutnya seperti melilit. Seperti merasa demam dan mual. Wajahnya juga pucat. Ini seperti bukan Himeko yang biasanya.
"Anu.. Bossun…"
"Y-ya?"
"A-apa aku.. boleh minta tolong?"
.
.
.
Pembalut, ya.
'T-tolong belikan aku pembalut, ya? Rasanya.. aku sulit berjalan.. sakit perut sekali..'
Bossun berakhir menurutinya. Beruntung koperasi sekolah menyediakan hal-hal seperti ini, walau penjaga koperasi sempat mengintrograsi Bossun. Tanpa hambatan apapun, ia jawab, ini untuk Himeko.
Penjaga itu menjawab, kau pacar yang baik ya?
Bossun membalas, aku hanya membantunya sebagai seorang teman.
Penjaga itu membalas lagi, Himeko-chan sudah memintamu untuk beli hal sensitif begini, kurasa hubungan kalian sudah lebih dari teman!
Hal itu, berhasil membuat Bossun overthinking. Himeko sakit, dan ia butuh bantuan Bossun. Lagipula, ia juga tinggal bersama dua wanita lain di rumahnya—Rumi dan Ibunya, jadi sudah bukan hal aneh kalau dia pergi belanja dan membeli kebutuhan wanita. Tidak ada yang aneh kan?
Ya, kan?
Bossun kembali ke ruang Sket-Dan dan memberikan barang yang dititip Himeko. Ia melihat Himeko bersender ke tembok sambil memejamkan matanya.
"Apa separah itu?" Tanya Bossun.
"Kau tidak tahu rasanya karena kau bukan cewek… tapi.. makasih ya.."
Gadis itu bahkan berdiri, dibantu oleh pegangan tangan Bossun yang menahannya agar tidak jatuh. Ia mengambil barang itu dan pergi ke luar ruangan, yang Bossun asumsikan ia pergi ke kamar mandi. Pemuda itu lantas duduk di tatami yang tadi menjadi tempat istirahat Himeko.
Jadi cewek menyakitkan juga, ya.
Seumur-umur hidup dengan wanita, ia pernah ingat Rumi bolos sekolah hanya karena menstruasi. Hal itu membuatnya iri pada saat itu. Ya, namanya bocah SMP, sekarang pun kalau lihat adiknya bolos karena hari pertama menstruasi juga dia kadang suka iri.
Lima belas menit kemudian, ia melihat Himeko kembali.
"Mau pulang saja? Aku antar pulang, ya?"
Himeko menoleh, "Rumahmu beda arah denganku," ujarnya.
Sambil berjalan pelan, ia mengambil tas yang ada di dekat Bossun dan berjalan kembali ke arah mejanya.
?
Menyadari sesuatu, Bossun langsung melepas jaket hoodie merah putihnya dan berjalan ke arah Himeko. Pemuda itu kangsung melingkari lengan jaket itu di pinggang Himeko, hingga akhirnya menutupi bagian yang harus ditutupi itu.
"Ada ap– eh?"
Himeko menyadari sesuatu. Ia melihat ke arah rok sekolahnya, lalu menepuk dahinya. "Maafkan aku… haduh,"
"Ayolah, mumpung gaada kerjaan, aku antar kau pulang,"
Melihat Bossun, wajahnya memerah. Gadis itu mulai tersenyum kecil,
"Ayo pulang."
.
.
.
"Kau gapapa? Rumahmu terbilang cukup jauh loh," kata Bossun.
Himeko menghela nafas, "Sudah biasa…"
Iya sih.
Bossun dan Himeko terus berjalan setelah turun dari stasiun kereta. Bossun pernah sekali datang ke rumah Himeko, dengan yang ini mungkin kedua kalinya. Ia tak menyangka kalau ia akan datang sendiri tanpa Switch, tapi malam ini hanya memastikan sampai Himeko masuk ke rumahnya, kan?
"Gawat.."
"Kenapa??" Tanya Bossun.
Himeko melambatkan langkahnya, "Perutku sakit banget.. ahaha,"
Sempet sempetnya ketawa, ya?
Tapi ia bakal susah jalan kalau begitu.
"Pelan-pelan saja jalannya… badanku sakit semua rasanya.." kata Himeko.
Mau bagaimana lagi.
Bossun langsung jongkok membelakangi Himeko. "Naik,"
"Eeeeh?? Kau ngapain?!" Seru Himeko.
"Buru deh, kau kan sakit perut. Rumahmu masih jauh,"
"T-t-tidak usah!!! Aku berat!"
Ck. Lama deh. Tanpa basa-basi, Bossun meraih belakang lutut kedua kaki Himeko dan menggendongnya. Ia langsung berjalan saat membetulkan posisi Himeko di punggungnya.
Entah tanganku yang dingin, atau memang terasa hangat?
Himeko mengistirahatkan lengannya di bahu Bossun, Begitu juga dengan kepalanya sampai pemuda itu bisa mendengar helaan nafas Himeko.
"Maafkan aku ya, merepotkanmu,"
Bossun terdiam sesaat. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja.
"Adikku juga sering begini, jadi tidak masalah," ujar Bossun.
"Rumi-chan?"
"Ya,"
"Ooh…"
Suasana hening untuk sesaat. Himeko memejamkan matanya. Dengan badan yang terasa dipukuli, ia jadi lebih cepat lelah dan tidak punya tenaga. Apalagi kepalanya sangat pusing dan mual saat ini.
Jadi cewek memang merepotkan.
"Tapi rasanya tiap bulan tidak pernah sakit, kenapa yang ini kau sampai babak belur?" Tanya Bossun.
Iya juga. Tapi Himeko tau kenapa hari pertamanya jadi sangat kacau.
"Ya.. kau tahu, mungkin karena sebentar lagi ujian akhir semester… aku jadi kebawa stress," ujar Himeko.
"Kau stress?!"
Himeko mendelik, "Memangnya kenapa?"
"T-tidak.. biasanya mau hasil ujian berapapun kau takkan khawatir," kata Bossun.
Siaal aku tidak punya tenaga untuk memukul kepalanya. "Ya.. kita mau kelas tiga! Masa nilainya jelek terus.."
Bossun tertawa kecil, "Haha, benar juga."
"Hiyaaah tapi," Himeko tersenyum sambil mengalungkan lengannya di bahu Bossun, "Kadang-kadang digendong gini enak juga, ya! Hahaha,"
Wajahnya memerah ketika Bossun merasakan rangkulan dari tangan Himeko. Ia juga bisa merasakan kepala gadis itu tersandar di bahunya. Ia tak bisa berkata apapun.
Ini bukan pertama kalinya. Ia memang sering mendapati Himeko memeluknya. Ia ingat saat setelah Himeko diculik, gadis itu langsung memeluknya. Dalam beberapa waktu yang tak disengaja juga Bossun selalu mendapat pelukan dari Himeko. Seharusnya ia sudah biasa, tapi dia memang tak pernah merasa biasa saja dengan apa yang Himeko lakukan padanya. Apalagi pelukan seperti itu…
5 menit kemudian, mereka tiba di depan rumah Himeko. Beruntung Bossun bisa hapal jalanan, karena kalau tidak, habislah ia bawa-bawa Himeko yang lagi mabok nyasar.
"Himeko, kita sampai,"
Tak ada jawaban. Bossun membuka gerbang dan berhenti di depan pintu.
"Himeko! Oi!"
Tidak ada jawaban.
Ketiduran ni anak….
Bossun menghela nafas. Ia lalu memencet tombol bel kediaman Onizuka hingga akhirnya melihat sosok tuan rumah yang merupakan ibunya Himeko.
"Eh? Bossun? Himeko kenapa?!"
"S-selamat malam!! Anu, Himeko sakit, dan dia ketiduran…"
Ibunya Himeko diam sesaat dan tersenyum, "Masuklah, maaf ya Himeko merepotkanmu! Mampirlah sebentar dan makan malam dulu!"
.
.
.
Situasi macam apa ini….
Karena Himeko pingsan a.k.a ketiduran, Bossun langsung membawanya ke kamar Himeko sesuai arahan nyonya Onizuka. Sekarang yang tersisa di ruang makan keluarga Onizuka hanya ibunya dan Bossun.
"Sekali lagi maaf ya, anak itu kalau sedang stress memang suka sakit saat datang bulan!" Ujar Nyonya Onizuka, sembari mengambil nasi untuk Bossun. "Segini cukup?" Tanyanya sambil menunjukkan porsi yang baru saja diambil.
Bossun sebenarnya tak enak hati. Tapi mengingat bagaimana seramnya Nyonya Onizuka saat ngamuk, mau tidak mau ia menuruti keinginannya. "C-cukup, Onizuka-san. Terima kasih banyak," kata Bossun.
"Selamat makan!"
Mengingat tuan Onizuka pulang terlambat, akhirnya nyonya Onizuka menyisihkan beberapa lauk makanan untuk suaminya dan juga Himeko yang sedang tepar di kamarnya.
"Kalau Bossun, sudah belajar untuk ujian akhir?" Tanya nyonya Onizuka.
"Ah aku.. gampang untuk mengingat sesuatu, jadi selama ini belajarku baik-baik saja," ujar Bossun. "Terkadang aku, Himeko dan Switch belajar bertama juga,"
"Bagus tuh! Sering-sering ajak Himeko belajar bareng, anak itu gapernah bisa fokus kalau sendirian," kata Nyonya Onizuka.
"Benar, hahaha,"
Suasana diam sesaat, masing-masing fokus dengan makanan sendiri.
"Jadi?"
Bossun menoleh, "Ya?"
"Sejak kapan kau dan Himeko pacaran?"
UHUK
Bossun tersedak dan langsung minum air putih yang ada di sampingnya. Nafasnya hampir saja berhenti sedetik setelah mendengar pertanyaan itu.
"T-t-tidak!! Aku hanya m—"
"Hanya apa? Yaa, kalau aku sih wajar jika kau khawatir, tapi rasanya ada yang aneh…" katanya sambil mesem-mesem, "Ada rasa kyun kyun gimanaa gitu,"
Ibu sama anak gaada bedanya ya.
"Anak itu bego soal cowok, jadi aku terharu dia pulang diantar dengan cowok!" Serunya. "Apalagi aku banyak dengar tentangmu, karena Himeko sering cerita tentangmu juga~~"
Himeko?
"Ah.. ya.."
"Jadi?"
Apalagi nih?
"Enggak nih? Kalian gak pacaran?"
Wajahnya kecewa. Bossun hanya terkekeh sedikit, "T-tidak, Himeko butuh bantuan dan aku hanya membantunya…"
Nyonya Onizuka menghela nafas.
"Hmm.. yasudahlah, gapapa. Lagi semuanya butuh waktu untuk berproses, kan?" Katanya sambil mengedipkan matanya.
Dah gila nih emak-emak.
.
.
.
"Sering-sering main kesini dong! Biar Himeko tidak kesepian tiap hari kayak anak ilang!"
Bossun tertawa mendengar bercandaan yang diucapkan nyonya Onizuka. "Haha, baik, nanti aku bilang pada Himeko!"
Duh…
"Aku pulang dulu, tolong sampaikan salamku pada Himeko,"
"Hati-hati di jalan, ya!"
Sesaat setelah Bossun menutup pintu rumahnya, nyonya Onizuka kembali untuk beberes bekas makan malam tadi. Tanpa ia sadari, Himeko berlari ke arah pintu secara tiba-tiba dan membuat ibunya terkejut - lah, udah bangun tuh anak?
Himeko membuka pintu rumahnya dan berlari ke arah Bossun yang masih terlihat di luar pagar rumahnya.
Aku harus memanggilnya.
"Bossun!"
Pemuda sepantarannya itu merasa terpanggil dan menghentikan jalannya. Himeko berlari mendekatinya dan berhenti sambil mengatur nafasnya.
"Oi oi pelan-pelan! Memangnya sudah merasa baikan?"
Himeko menghembuskan nafasnya. Rasanya aneh, ia tak bisa mengangkat kepalanya. Otaknya tak mampu menerima visual akan wajah Bossun yang biasanya tiap hari ia lihat itu.
Entah kenapa kau terlihat dewasa.
Entah kenapa rasanya aku tak sanggup melihatmu langsung seperti biasa.
"Kenapa?"
Entah kenapa rasanya tak sanggup mendengar suaramu.
"A-anu.. terima kasih banyak.. jaketnya akan kukembalikan setelah ku cuci.."
Bossun mengerutkan dahinya, "Tak perlu, untukmu saja,"
Eh?
Himeko mengangkat kepalanya dan melihat Bossun.
"Aku punya banyak di rumah, kau simpan yang saja yang itu,"
Kenapa..
Benakku jadi tak nyaman melihatmu senyum dengan tulus di hadapanku.
Aku jadi tak bisa berkata apa-apa.
Ia mengayunkan tangannya dan meletakannya di atas kepala Himeko yang terasa hangat. Sambil tersenyum, ia mengusapnya dan berkata,
"Cepat sembuh ya,"
Aku benci melihatmu yang seperti itu.
Aku benci perasaan yang aku rasakan saat ini.
"Kalau besok tidak masuk sekolah, tidak apa, akan kupastikan Switch tidak kabur lagi,"
Tolong, jangan seperti ini lagi.
Aku benci mengakuinya..
Himeko mematung melihat Bossun yang tersenyum di hadapannya.
Aku benci mengakui kalau aku suka padamu.
