"Oh? Pakai jaketku, ya?"
"H-Himeko-chan.. apa?"
Bodoh, bodoh banget sudah bilang itu depan Saaya!!!!
SKET DANCE by Kenta Shinohara
Sequel dari growing up teenager
Walau aku tau fandom Sket Dance sudah sepi (lol) selamat membaca!
WARN : OOC, Bahasa Informal, gajelas
"Haa? Jaketku basah semua?"
Pagi hari yang mendung, Seorang gadis muda berusia 17 tahun baru saja turun dari lantai dua tempat kamarnya berada. Ia mendengar sahutan suara ibunya yang barusan memberi info kalau jaketnya masih dalam proses pencucian semua. Gadis itu kemudian mendatangi ibunya yang ada di dekat kamar mandi, tempat mesin cuci berada.
"Mau gimana lagi, mesin pengering kita lagi rusak, dan akhir-akhir ini matahari sudah jarang, kan... jadi ibu terpaksa mengeringkannya di dekat penghangat ruangan, tapi malah jadi bau apek!"
Kerjaan siapa sih sampe bikin mesin pengering rusak di musim hujan begini?
Tepat pergantian musim panas dan musim gugur, hujan sering banyak terjadi di Tokyo. Itu membuat jaket musim gugur Himeko jadi basah setiap ia pulang ke rumah.
Gadis itu menghela nafas. Kalau ke sekolah pake jaket musim dingin, ketebelan. Kalau pakai punya ibunya, uhh, dengan motif yang mencolok seperti selera ibunya itu? Tidak! Tapi kalau tidak pakai, pasti kedinginan. Himeko memitar otak, masa hara-gara jaket saja ia tidak masuk sih.
Ada sih, satu jaket...
"Kayaknya ibu kemarin lihat jaket merah di lemari mu, pakai saja yang itu?"
...
Himeko tak punya alasan untuk menolak menggunakan jaket itu.
"Y-ya.. kayaknya..."
.
.
.
Tidak ada yang aneh, kan?
Tidak. Tidak ada jalan lain selain pakai jaketnya Bossun. Himeko sudah pegang ponsel dengan layar sudah siap mengirim pesan ke sahabat karibnya itu.
To : Bossun Bego
Aku hari ini pergi ke sekolah pakai jaketmu, ya!
Kirim.
Suara kereta berjalan mengisi kepala Himeko. Tapi suara itu kalah dengan pikiran akan balasan Bossun.
Tapi sampai di sekolah, tak ada satupun balasan dari Bossun. Mungkin pemuda itu tak mengecek ponselnya. Mungkin HPnya kecelup air got. Atau entah skenario liar lainnya yang diproyeksikan di kepala Himeko. Ia tetap berangkat sekolah menggunakan jaket yang sebenarnya sudah jadi miliknya—karena beberapa waktu lalu Bossun bilang jaket ini boleh jadi miliknya.
Tetap saja rasanya aneh pake jaket cowok...
Feel saat memakanya seakan-akan masih kebesaran. Ujung lengan jaket itu bahkan hampir menutupi telapak tangan Himeko. Karena terlalu besar, ia berinisiatif untuk menggulung lengan jaketnya menjadi 3/4. Dengan begitu ia tidak merasa terlalu kecil.
"Oh? Himeko-chan!"
Adik manis dari mantan ketua OSIS Kaimei—Agata Saaya, muncul dengan senyuman manis.
"Selamat pagi, Saaya!"
Mereka berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Sejujurnya, hubungan di antara mereka agak awkward, dan ini semua menyangkutpautkan Bossun. Himeko tahu persis kalau Saaya menaruh hati pada Bossun. Sementara dirinya sendiri juga sama—tapi bersikap sebagai teman baik dari Bossun dan juga Saaya, mau tidak mau, ia biarkan apa yang ada mengalir begitu saja.
"Oh? Bukankah itu Himeko dan Saaya?"
Biang keroknya muncul.
Tak lama setelah Himeko dan Saaya sampai di gerbang sekolah, ia bertemu dengan Bossun yang berangkat sekolah dengan Rumi, adiknya. Rumi lumayan dekat dengan Himeko, sementara ia belum terlalu kenal Saaya. Dan nampaknya, gadis rambut pendek itu sadar akan kondisi Himeko sekarang ini. Pandangannya berubah jadi oh, gitu toh...
"Aku buru-buru belum edit artikel, aku duluan ya Kak!!!" Ujar Rumi yang langsung berlari bahkan sebelum Himeko sempat menyapa.
"Kenapa lagi tuh anak? Perasaan tadi berangkatnya santai aja. Padahal mau kukenalkan dengan Saaya..."
Himeko menoleh, ia melihat wajah merah tomatnya Saaya saat Bossun berkata demikian.
"Yah, dia juga sibuk dengan klubnya sendiri ya. Gak sepertimu yang asal-asalan!" Ujar Himeko sambil berjalan ke dalam sekolah dengan Bossun dan Saaya di sampingnya.
"Haa? Maksudmu? Aku ini leader klub mu, tahu!" Kata Bossun emosi.
"Sudah, sudah.. masih pagi.." ujar Saaya.
Bossun menghela nafas. Mereka bertiga berjalan dengan Saaya yang berada di tengah. Himeko juga menghela nafas lega, beruntung dia tidak mengungkit soal jaket yang–
"Oh? Kau pakai jaketku, ya?"
Jaket yang dipakai...
Himeko terhenti. Wajahnya memanas untuk sesaat.
"H-Himeko-chan...apa?"
Kau bodoh, bodoh banget sudah bilang itu depan Saaya!!!!
"Hahaha! Kebesaran untukmu ya?!"
Himeko tak tahu harus merespon apa, terutama di depan Saaya. Ia takut melukai hatinya, namun pemuda itu rasanya tidak peduli akan perasaan Saaya, padahal ia tahu kalau Saaya suka padanya.
Lagi si goblok ini ga baca pesanku apa?!
"A-aah jangan salah paham! Aku—"
"Orang ini kemaren tuh sakit, karena kasian ya aku pinjemin. Terus kubilang simpen aja jaketnya. Ternyata sekarang dipakai," Bossun menimpali.
Kata gue lo diem aja ulet keket merah! Liat Saaya mukanya dah kusut banget!
"Saaya, jangan dengerin orang–"
"Ooh..! Gitu..!" Ujar Saaya sambil senyum. Tapi gue ga yakin tu senyum tulus. "A-aku duluan ya! Mau ke kamar mandi dulu, dadah!"
Pandangan Himeko mengikuti Saaya sampai menghilang dari pemgkihatannya. Gadis itu menghela nafas kesal dan menampar bagian punggung Bossun dengan keras.
"Aduh! WOY! Kenapa si?!" Seru Bossun.
"DASAR BEGO!" Lalu Himeko pergi meninggalkan Bossun sendirian.
.
.
.
"Lu punya masalah apa si sama gue?"
Himeko menatap Bossun Tajam. Kelas 3C, murid-murid keluar kelas untuk makan siang pada jam istirahat, sebagian pergi ke kantin untuk membeli beberapa snack pengganjal perut.
"Hm? Ada apa?"
Suara synthesizer dari komputer Switch juga menghiasi telinga Himeko yang tengah merapihkan buku tulisnya. Wajahnya ikutan Kusut, auranya jadi seram.
"Bilangin temanmu supaya lebih punya hati, kek!" Seru Himeko.
Switch melirik ke arah Bossun. Jemarinya mengetik dan bersuara, "Punya hati dikit kek!"
"Gue denger woy!" Seru Bossun. "Tardulu. Emang masalahnya apa sama si Saaya?"
Himeko memukul dahinya.
"Bossun, aku memang pakai jaket darimu. Ini emang punyamu. Aku makasih banget!" Seru Himeko. "Aku pakai ini hari ini karena, pertama, semua jaketku belum kering. Mesin pengeringku rusak dan ibuku harus berjuang sama bau apek karena berusaha ngeringin baju di dalam ruangan pada kondisi musim hujan kayak gini. Kedua, aku gak mau pake jaket alay punya ibuku, karena kau bakal ngatain aku kayak emak-emak Osaka!" Lanjutnya.
"Hm hm, terus?"
"Ketiga, KAU BEGO!" Ujar Himeko dengan penuh kemarahan.
Bossun menunjuk Himeko, "Nah itu, alasan kau ngatain aku bego itu kenapa?"
"Bukannya Bossun emang tiap hari gitu?" Tanya Switch.
"Ya emang bener sih! Tapi yang tadi itu begonya kelewatan, Switch!" Ujar Himeko.
Switch langsung melirik Bossun dengan pandangan kejam, "Lu ngapain si, Fujisaki-kun?" Kata Switch dengan suara komputernya.
"Ya mana gue tau anjir? Makanya gue nanya Himeko biar bisa introspeksi diri!" Seru Bossun tak kalah ramai.
Himeko menghela nafas, "Saaya itu menyukaimu, kau tahu itu," kata Himeko. "Terus kau dengan lantang bilang kalau jaket yang aku pakai itu punyamu di hadapan Saaya. Dia kan pasti mikirnya jadi aneh-aneh! Mungkin mikir kalau kau suka denganku? Atau aku suka denganmu? Atau gimana kalo dia mikir kita itu pacaran?"
"Hm. Berat." Ujar Switch.
"Y-ya kita kan gak pacaran?!"
"JUSTRU KARENA ITU AKU BILANG KAU ITU BEGO! Kau pikir kau ga ngelukain perasaannya?! Aku tau sih kau emang ceritain hal yang sebenarnya, tapi ya kira-kira kek?!"
"Pusing." Kata Switch. "Aku yang ganteng pun gak seribet dirimu, Bossun," lanjutnya.
"JADI LO BILANG GUE JELEK?!" Seru Bossun. Moodnya jadi kacau. Gaada yang ngelarang suka sama gue, tapi kalau situ sakit hati apa gue harus tanggung jawab? Begitu yang ada dalam otaknya. Ia hanya tak mau mengungkapkannya karena ia tahu Himeko akan menghajarnya.
"Yaudah, aku bakal ngobrol sama Saaya–"
"Gak usah, aku aja. Kau ngobrol setelah aku ngobrol dengannya." Ujar Himeko sambil berdiri dari duduknya.
"Tunggu dulu,"
Bossun mencengkram pergelangan tangan Himeko. Hal itu membuatnya terkejut, seakan listrik baru saja menyetrum dirinya saat itu. Ia menoleh ke arah Bossun.
"Kau mau ngomong kalau semua itu salah paham?"
"Y-ya iyalah!"
"Dengan aku cerita begitu tadi pagi, aku sudah ngasih tau yang sebenarnya. Kalau kau nambahin, ada kemungkinan bikin Saaya makin sakit hati,"
Himeko terdiam. Beruntung ruang kelas 3C saat itu tak ada siapapun kecuali ketiga anggota Sket-Dan.
"Bossun benar, Himeko. Lebih baik kau beri Saaya waktu." Ujar Switch.
"T-tapi—"
"Dia bakal terluka. Lebih. Kalau kau bersikeras mau Bicara padanya. Biarin aja dulu," kata Bossun. "Perasaan yang dia rasain sekarang bukan tanggung jawabmu, apalagi aku," lanjutnya.
"Apalagi aku." Switch menimpali.
Himeko duduk kembali. Bossun melepaskan pegangan tangannya.
"Lagipula, lebih baik kau pikirkan perasaanmu sendiri terlebih dahulu daripada orang lain,"
Perasaanku sendiri.
...
Himeko menoleh ke arah Bossun. Wajah pemuda itu memerah, dan langsung memalingkannya.
DIA TAHU KAHhhhhhhhhhHHHH?!!!!
KACAUUUUU!!!!!
"Switch! Ayo jajan ke kantin!"
"Himeko gimana?"
"Dia pass, biarin aja!"
...
Dia tahu, ya...
Tak lama Bossun dan Switch pergi, Himeko mendapat pesan singkat.
From : Saaya
Himeko-chan, bisa kita bicara setelah pulang sekolah?
.
.
.
Pukul 3.30, Himeko bergegas langsung menuju kelasnya Saaya. Gadis itu ternyata menunggu di depan kelasnya, sambil melambaikan tangan dan berkata, "Ke taman, yuk?"
Mereka berdua jalan ke taman sekolah. SMA Kaimei memiliki taman yang cukup luas, mereka bahkan memiliki hutan kota sendiri yang fatalnya sering jadi tempat bolos siswa SMA Kaimei sih. Sket-Dan pun sempat menjadi salah satunya.
"Himeko-chan?"
"Y-ya? Saaya?!"
Apanih? Perasaan perasaan kek mau dilabrak begini aneh banget deh.
"Kenapa sih? Kok kayak panik gitu,"
Emang panik sih jujur aja gue mah. Himeko menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, "Y-ya.. kau tahu.. aku rasa aku perlu bicara padamu soal yang tadi pagi,"
Saaya tak memberi jawaban. Gadis twintail itu berjalan menunduk.
"Aku tak ingin kau salah paham, Saaya! Aku dan Bossun tidak punya hubungan seperti itu, kok. Jaket ini memang punya dia, aku tak pernah ada minat untuk menggunakannya–tapi karena urgent jaketku basah semua dan hari ini sangat dingin, jadi... aku tak punya pilihan lain.." ujar Himeko. "A-aku tidak punya maksud untuk menyakiti perasaanmu.. tapi.. aku memang sempat sakit dan ia.. ia..."
Bayangan wajah Bossun malam itu terlintas di ingatannya, sekilas membuat wajahnya memerah. Ia tahu ia menyukainya, ia pun membenci untuk mengakuinya. "Ia bilang aku simpan saja.."
Gadis pirang itu menghentikan langkahnya. "Aku minta maaf, dan juga maaf karena Bossun berbicara kalimat bodoh!" Ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya.
Saaya juga berhenti dan melihat Himeko saat itu memohon maaf. Ia menghembuskan nafas dan tersenyum, "Haah, Himeko-chan kenapa sih, memberi penjelasan seakan-akan malah aku yang ada hubungan dengan Bossun..." ujar Saaya sambil terkekeh.
Himeko mendongak.
"Tapi.. kau kan.."
"Aku memang menyukainya. Tapi sudah jelas lah akhirnya akan bagaimana," ujar Saaya, sambil sedikit terkekeh.
Himeko tak bisa menghentikan wajah merahnya.
"Aku sudah lama tahu, kok. Pas festival musim panas lalu, aku sadar kalau aku tak bisa membuat Bossun melihat ke arahku sedikitpun, haah, beneran deh, kenapa sih kita suka sama cowok yang kayak dia..." kata Saaya santai, melanjutkan langkah kakinya. Himeko yang tertinggal menyusul langkahnya dan mendengarkan penjelasannya.
Festival musim panas? Memang ada apa?
Himeko ingat mereka pergi ke festival musim panas ber empat bersama Saaya. Dalam ingatan gadis Osaka itu, semuanya berjalan biasa saja tanpa ada event khusus tertentu. Yang ia ingat hanya sendal geta yang putus.
"Kalian saling mengerti tanpa harus bicara satu sama lain, aku lihat loh, Bossun tahu apa yang kau sukai, kau juga mengerti apa yang Bossun inginkan. Ia memberimu hadiah permainan tembakan tanpa berkata apapun disaat aku harus bilang kalau aku menginginkannya. Kau tahu? Pas sendalmu rusak, ia langsung membetulkannya tanpa banyak basa-basi. Aku jadi sadar..."
Himeko melihat wajah Saaya. Matanya sedikit berkaca-kaca, namun Himeko tahu ia menahannya. "Kalau Bossun tak sedikitpun melihat ke arahku,"
"Tapi Saaya, kalau soal sendal rusak itu terjadi padamu, aku yakin Bossun akan melakukan hal yang sama. Otaknya itu kosong, kau tahu? Ia tak punya waktu untuk memikirkan cewek!" Seru Himeko, dengan sedikit sentuhan ejekan pada Bossun supaya Saaya tidak sedih.
"Tidak," kata Saaya, "Kau hanya tidak sadar, Himeko-chan. Bossun juga tidak sadar akan bagaimana cara ia memperlakukanmu." Lanjutnya.
Aku sadar kok, aku suka padanya.
Tapi karena orang itu bego, aku jadi tak ingin menaruh harapan padanya.
"Lagipula semenjak musim panas, aku sudah mencoba melupakannya, kok! Kau benar, otaknya kosong. Aku tak boleh menghabiskan waktu untuk memikirkannya," kata Saaya, kembali mengejek Bossun sambil tertawa.
Sore itu mendung. Suara gemuruh mulai terdengar di sekitar SMA Kaimei. Himeko tak bisa membalas kalimat terakhir Saaya ucapkan.
"Ooi! Himeko! Saaya!"
Suara itu membuat dua gadis yang tengah berbincang jadi menoleh. "Ayo pulang, kegiatan klub hari ini diliburkan. Katanya mau ada hujan badai!"
Itu Bossun. Saaya mengelap matanya dan menyapa pemuda itu.
"Oh iya, mau hujan.. aku harus cepat sampai tempat les," kata Saaya. Ia bergegas berlari.
"Saaya? Mau kemana? Pulang bareng kami, yuk!" Ujar Bossun.
Saaya membalilkan badannya dan melambaikan tangan, "Aku harus pergi ke tempat les secepatnya, kalian pulangnya hati-hati ya!!"
"Hati-hati, Saaya!!" Seru Himeko.
Mereka berdua melihat Saaya semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya. Helaan nafas yang keluar dari mulut Himeko secara tidak sengaja terdengar di telinga Bossun, membuat pemuda itu menoleh pada gadis yang ada di sampingnya.
"Gimana?"
Himeko melirik. "Ayo pulang, ah. Aku gak bawa payung," ujar Himeko sambil berjalan meninggalkan Bossun.
"Heh! Gimana dah, musim hujan gak bawa payung?! Mau aku pinjamkan? Atau aku antar sampai rumah?!"
"Berisiiik ah kayak emak gue aja lu?!" Himeko marah.
"Kalo lu sakit kehujanan nanti Sket-Dan jadi melehoy, tau! Ayo pulang bareng!"
Stasiun dekat rumah Himeko dilanda hujan deras. Himeko melihat ke arah tetesan air hujan yang seakan menghalanginya untuk pulang. Sementara itu, si pemuda topi merah bertanduk dua itu bersikukuh untuk mengantar Himeko pulang, karena gadis itu tidak ingin meminjam payungnya.
"Tuh kan, liat. Kalau aku gaada, kau bisa di stasiun sampe tutup,"
Serah lu dah.
"Iya, makasih."
Bossun membuka payung itu dan menunggu Himeko masuk ke dalamnya.
"Ayo."
...
Entah karena hujan atau memang Bossun terlihat lebih tinggi darinya? Itu membuat Himeko merasakan hal aneh di benaknya. Ia berjalan di samping Bossun untuk menerobos hujan deras. Padahal ia sering berdiri di dekat Bossun, tapi kalau kedua bahunya sampai menempel begini rasanya ia takkan mampu menyembunyikan wajah merahnya.
Apasih?! Dia itu cuma temenmu!
"Kau tau, Himeko.."
Bossun memulai percakapan.
"A-apa tuh?"
"Kenapa kau gugup? Kek gapernah ngomong sama cowok aja," ujar Bossun.
"Apaan dah lu?! Yang jelas ngapa?!"
Bossun tertawa, "Tadi tuh ada customer di Sket-Dan, anak kelas 2-C. Karena tadi gaboleh ada ekskul jadi dia cuma ngomong sekilas. Intinya, dia mau minta tolong,"
"Oh.. customer, kenapa tuh dia?"
"Lupa nanya tadi namanya siapa, tapi aku dah bilang kalau jam istirahat pertama besok dia bisa dateng ke Sket-Dan sih. Dia bilang dia mau ajak jalan pacar barunya, tapi karena dia anaknya canggung banget, dia minta tolong ke kita supaya kita bisa nemenin dia nge-date gitu,"
Himeko mengerutkan dahinya. "Ha? Kapan?"
"Sabtu besok,"
"Ooh.. kayaknya sih bisa. Sama Switch, kan?"
"Enggak, aku sama kau saja,"
... ya? Ga salah denger gue?
"Hah?"
"Hah hoh hah hoh, budeg lu ye berisik ama ujan? Gua ama lu, nemenin datenya tu anak kelas 2! Kalo bertiga sama Switch malah jadi kerja kelompok, bukan double date!"
GAK. Gak.
"Kaga mau gua. Ajak yang laen aja."
"PARAH BANGET! KEMANA JIWA NOLONGIN ORANG LU SELAMA HIMEKOOOO???!" seru Bossun.
Berisik banget ajggg ini lagi ujan.
"Aku trauma kalau kencan denganmu,"
Bossun tertawa kecil, "Ya lagi itu kau gak bilang supaya pura-pura pacaran denganku biar si Jin gak ngerecokin lagi," katanya. "Yang sekarang komit dah. Kita ngedate, buat bantuin anak kelas 2 itu aja. Ya? Hari sabtu, plis, gue beliin Pelocan deh," lanjutnya.
Dah deh, Himeko. Ngalah aja. Lagi ini kan permintaan customer, bukan karena Bossun ngajak dengan tulus.
Ya, ini cuma permintaan.
"Satu boks."
"SIAP LAKSANAKAN!!!"
Di tengah hujan, aku berpikir.
Kencan waktu itu memang kacau balai, kocak, Bossun juga terluka parah gara-gara aku tonjok keras.
Tapi kalau diberi kesempatan,
Kalau memang ini jalannya,
Sehari lagi dengannya, gak ada salahnya kok.
