SKET DANCE by Kenta Shinohara

Walau aku tau fandom Sket Dance sudah sepi (lol) selamat membaca!

WARN : OOC, Bahasa Informal, gajelas


Himeko menyendiri di ruang Sket Dan. Jam di mejanya menunjukkan pukul 3.56 sore, yang mana dua orang anggota Sket Dan seharusnya sudah berkumpul sejak 20 menit lalu. Tapi dua orang itu tak menunjukkan batang hidungnya sampai detik ini.

"Permisi,"

Himeko menoleh seiring pintu ruang klubnya terbuka.

"Ooh? Katou Kiri?"

.

.

.

Katou Kiri. Perawakannya tinggi. Rambutnya di cat warna terang. Dia adalah siswa kelas 1 SMA yang terlatih sebagai ninja karena keluarganya. Himeko ingat pertama kali ia melihat Katou, ia merasa dirinya mirip dengan bocah kelas 1 itu.

Sekarang, pemuda itu duduk di sebrang tempat Himeko duduk di tatami dekat jendela. Dengan teh hangat yang ada di meja, Himeko memulai pembicaraan.

"Jadi? Ada apa?"

"Langsung saja ke intinya. Ketua akan ulang tahun pada hari sabtu minggu, 11 November."

Himeko memutar ingatannya.

Oh iya, lusa Tsubaki ulang tahun. Kalau Tsubaki ultah, berarti Bossun juga..

"Jadi aku ingin memberikannya hadiah ulang tahun. Tapi aku tidak tahu apa. Karena terlalu memalukan untuk bertanya ke anggota OSIS yang lain..."

Wajahnya memerah dan ia mengalihkan pandangannya. Himeko bingung, tapi ia menganggap adik kelasnya itu lucu. Gadis itu lalu tersenyum.

"Dah, dah. Kau mau aku bantu cari apa yang mungkin ia suka?"

"M-mungkin akan lebih baik kalau kau bantu aku mencarinya bersama.." kata Katou.

Oh, cari kado bareng, ya?

Kalau dipikir, aku juga harus cari kado buat Bossun.

"Boleh tuh," kata Himeko. "Kalau besok, gimana? Kan besok Jum'at tuh. Pulang sekolah?"

"Baik," kata Katou. "Kalau begitu, aku permisi," pemuda itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada Himeko. Kemudian ia membuka pintu ruang klubnya dan menemukan Bossun sudah ada di depan pintu.

"Hm?,"

Katou kiri menatapnya sesaat. Entah apa yang dipikirkannya, ia lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dan pergi dari ruang itu.

Bossun mengalihkan pandangannya pada Himeko. Ia lalu masuk ruangan Sket Dan dan menutup pintunya, lalu duduk si sofa dekat meja Switch dan Himeko.

"Dia minta bantuan apa?" Tanya Bossun.

"Hm? Tidak, ia hanya ingin aku membantunya mencari sesuatu,"

"Cari apa?"

"Cari barang untuk dibeli." Kado ulang tahun kembaranmu sih, sebenarnya.

"Iya, apa?"

"Ya kami belum tahu? Pokoknya aku juga ingin beli barang,"

"Kapan?"

"Besok, pulang sekolah,"

"Kenapa tidak hari Sabtu saja sekalian?"

"Telat, aku janjiannya besok,"

"Sama siapa? Kau dan dia saja?"

Himeko kesal, "Banyak nanya nih, kenapa sih?"

Raut wajahnya berubah. Bossun mengalihkan pandangannya dan menatap lurus ke jendela. Ia tak melanjutkan pertanyaannya. Himeko bisa mendengar helaan nafasnya dengan samar. Itu membuatnya tidak nyaman, tapi karena gadis itu sudah terbiasa dengan sifat kekanakan Bossun, ia tak ingin ambil pusing.

"Jadi? Anak kelas 2-C itu gimana?"

"Inozuke Koutaro, pokoknya dia ingin kita ketemu di stasiun Hoshimidai hari Sabtu jam 11 pagi," katanya sambil melipat kedua tangannya.

"Oke, terus rencananya?"

"Rencana apa?"

"Ya... ini double date, kan? Aku tidak mau kalau nanti kita malah menghancurkan kencan pertamanya si anak kelas dua itu karena acting kita jelek banget,"

Bossun menyenderkan kepalanya di bantalan sofa. Ia terdiam sesaat sambil melirik ke arah Himeko.

"Kau siapkan diri saja,"

Sore itu, setelah kegiatan Sket Dan selesai, Himeko berjalan beberapa meter di belakang Bossun. Gadis itu merasakan ada yang aneh pada Bossun. Enggak biasanya wajahnya merengut begitu. Saat ia berpisah jalan pulang, Bossun juga hanya melihatnya tanpa berkata apapun. Yang jelas, Bossun terlihat murung setelah Himeko bilang ia akan pergi dengan Katou besok sore.

Masa sih? Ga mungkin lah cemburu cemburuan.

Hari ini udara semakin dingin. Himeko dengan cepat melangkah pulang ke rumah.


Bel pulang sekolah berbunyi. Himeko bergegas memberesi bukunya dan keluar ruangan kelasnya. Switch, yang duduk di belakang Himeko, merasakan ada yang tidak beres antara Himeko dan Bossun. Pemuda itu lalu bangkit dari bangkunya dan berjalan ke bangku Bossun yang sedang menopang dagunya sambil memainkan pulpen.

"Hm? Oh, Switch, kau boleh pulang, hari ini ibuku nyuruh aku jaga rumah," kata Bossun.

"Himeko kemana?"

Bossun melihat ke arah Switch dengan sinis, "Gak tau, pacaran kali?"

Kan.

"Sama siapa?"

"Itu, anak buahnya Tsubaki itu, siapa namanya?"

"Katou Kiri?"

"Nah, iya itu. Dia bilang mau keluar ana tu anak," kata Bossun. Ia lalu memberesi barangnya dan berdiri. Saat ia mau beranjak, jalannya dihalangi Switch.

"Awas,"

Switch diam saja melihat ke arah Bossun.

"Awas njir, lu ngapain dah?" Tanya Bossun.

"Cemburu, ya?"

?????

"HAAAA??"

Seruan Bossun itu cukup mengejutkan beberapa warga kelas 3C yang masih ada di kelas. Bossun segera meminta maaf dengan singkat kalau suara kerasnya mengganggu mereka.

"Kenapa bisa nyimpulin kek gitu?" Bossun berjalan ke luar Kelas, diikuti dengan Switch.

"Kau kelihatan kesal," ujar Switch. "Wajahmu mana bisa bohong, lagi aku sudah jadi temanmu selama dua tahun terakhir. Aku tahu apa yang kau rasain, walau kau sendiri ga sadar," kata Switch.

Bossun menghela nafas. Ia tak pernah memikirkan apa yang ia rasakan. Cuma masalahnya, ia sudah terbiasa dengan Himeko yang selalu melakukan kegiatan kesehariannya di sekolah dengan Bossun. Kalau melihat Himeko tiba-tiba dengan cowok lain, seperti di depan matanya saat ini...

Langkahnya terhenti saat ia melihat Himeko bercanda sambil tertawa ketika berjalan di samping Katou Kiri. Switch juga berhenti, memperhatikan apa yang dilihat oleh dua bola mata Bossun saat itu.

Ya, biasanya Himeko yang tertawa dan bercanda begitu ada di samping Bossun. Ia kesal, ia tahu apa arti cemburu, tapi ia tak mau mengakuinya, bahkan tak pernah menganggap perasaan itu ada. Sekarang ketika kekesalannya memuncak, ia jadi bingung harus berbuat apa.

Karena dari awal Himeko adalah temannya. Mereka hanya sebatas teman.

"Ya, fix banget sih,"

Bossun berdecak kesal, "Bacot, ah. Balik yuk.."

Switch mengikuti langkah Bossun untuk pulang ke rumah.

"Ingat kau punya jadwal kencan dengannya besok pagi,"

"Hm,"

"Jangan kau tunjukkin kalau kau kesal. Atau kau bakal bikin dia, antara marah atau nangis, sih," kata Switch. "Intinya kau gabakal pengen liat dia sedih, kan?"

"Berisik lu kek emak gue aja dah, iya!! Gua tau kok,"

"Haruskah aku ikut? Kau mau pakai in ear lagi gak?"

"Gak perluuu udah deh diem aja ngapa,"


'Test, test. Himeko, Bossun, dengar?'

Akhirnya mereka pakai in-ear, lagi. Sebenarnya ide bodoh ini diusulkan Switch, awalnya Bossun ingin semuanya berjalan natural dengan dirinya dan Himeko yang biasa menjadi partner bercandaan—tapi karena mood Bossun sedang kacau kalau berurusan dengan Himeko, jadi mereka terpaksa memakai in ear dan menunggu komando Switch yang berada di suatu tempat tersembunyi sekarang.

'Sst Bossun. Puji penampilan Himeko sekarang,'

Ngapain anjrit?! Orang clientnya aja belom dateng!

'Buru!'

LO BISA DENGER SUARA HATI GUE? KEREN AMAT NI ALAT?!

Padahal customer Sket Dan dan pacarnya belum muncul dari dalam stasiun Hoshimidai, namun Bossun sudah diberi instruksi oleh Switch lewat in ear yang ia pakai. Secara tek is, pekerjaannya belum di mulai, tapi karena Himeko daritadi hanya diam, Switch tidak tahan dengan keadaan mereka yang seperti ini.

"Hi..Himeko.."

Himeko menoleh, "Ya?"

Gabisa anjrit awkward banget!!

'Berusahalah!!!'

Himeko mengenakan dress sabrina panjang selutut warna coklat susu dan tas kecil di tangannya, rambutnya dikuncir satu karena sudah agak memanjang, mengingatkannya akan Himeko yang dulu ia kenal galak dan kejam.

"Kali ini kita gak pakai baju couple kayak dulu ya? Haha!"

"Tidak, dan aku gak mau juga sih," kata Himeko.

"Tapi kau cantik kok, begitu. Dikuncir satu kayak pas kelas 1 dulu,"

Hal itu berhasil membuat wajah Himeko merona. Ia tak membalas perkataan Bossun dan mengalihkan pandangannya.

'Good job'

Good job palalu peyang, gue ga biasa muji cewek anjrit!

'Tapi yang tadi alami banget. Liat Himeko juga kayaknya rada tenang,'

Himeko lekas memeriksa jam tangannya. "Inozuke lama banget, kemana sih?" Tanyanya.

Bossun memeriksa ponselnya. Ternyata terdapat beberapa pesan dari Inozuke yang belum sempat di baca dan beberapa telepon tidak terangkat.

To : Bossun-senpai

Subject : maaf!!!

Mohon maaf, senpai! Pacarku katanya demam, jadi ia tak bisa keluar rumah. Aku mohon maaf, aku janji akan menemuimu hari senin dan memberikanmu sesuatu sebagai permohonan maaf!!!

...

Bossun terdiam. Yang bener nih? Udah berdua sama Himeko begini baru di sms kayak gini?

"Dia.. batalin kencannya.."

"EEEH??? Terus gimana?"

Bossun melihat ke arah Himeko, begitu juga dengan gadis itu.

"Kalian kencan aja. Aku tinggal gapapa kan?"

"APANYA?!"

Sesaat kemudian, Switch mematikan sambungannya.

"Kau mau jalan, atau mau pulang?" Tanya Bossun.

...

"Ayo jalan, mumpung di luar."


Gapapa apanya?

Himeko dan Bossun sekarang berjalan di pusat perbelanjaan. Kali ini, tanpa tekanan seperti peristiwa kencan yang dulu. Tak ada pura-pura menjadi pacar, semua bisa berjalan secara alami. Jangan khawatir bila salah satu ada yang bilang ingin berpisah, jangan takut merasa aneh bila salah satu tak ingin melanjutkan acara kencan di hari sabtu ini.

Padahal hari ini ulang tahunnya Bossun...

"Katanya hari ini bakal turun hujan, kau ga dingin?" Tanya Bossun.

"Hm? Enggak... cuma aku ga bawa payung lagi,"

"Haaah, kau ini gimana sih! Yaudah, nanti aku antar pulang lagi,"

Mereka berdua sama sama terdiam. Himeko tetap berjalan di samping Bossun, terkadang bisa merasakan bahunya yang saling menyentuh dengan bahu Bossun. Itu membuatnya aneh, ia jarang berjalan dengan Bossun sedekat ini.

"Jadi?"

"Hm?"

"Kalau kencan biasanya ngapain aja?" Tanya Bossun.

"H-ha?? Kok tanya aku sih?!"

"Ya iya, kan kau pernah kencan?!"

"Aku kencan juga denganmu saat itu, kan! Aaah kau membuatku mengingatnya lagi!!!!" Seru Himeko sambil memukul bahu Bossun.

"Bukannya kemarin kau kencan?!"

"Dengan siapa?!"

"Itu si ninja kelas 1 itu!!!"

Himeko terdiam dengan seruan Bossun. "MANA ADA AKU KENCAN DENGAN KATOU KIRI?!"

"BUKTINYA KEMARIN KAU JALAN BERDUA DENGANNYA!!"

"AKU TIDAK PACARAN DENGANNYA, DAN AKU TIDAK KENCAN DENGANNYA!!"

"BUKTINYA KAU DEKAT DENGANNYA!!!"

Mereka saling sahut sahutan hingga menarik perhatian umum—Bossun yang menyadarinya langsung menarik pergelangan tangan Himeko san membawanya ke taman yang sepi pengunjung.

Taman gajah. Ia ingat taman ini.

"Dengar ta, Bossun, kalau alasanmu seharian kemarin cuek denganku karena aku pergi dengan Katou, aku akan memukulmu. Aku tak punya hubungan apapun dengannya, lagipula kenapa kau bertingkah begitu?!"

..

Bossun terdiam sambil melihat Himeko di hadapannya. Rasanya sangat kekanakan kalau ia pikir Himeko akan terus berada di sampingnya selama ia hanya menganggapnya teman. Ia sayang padanya, ia tentu merasa Himeko lebih dari teman untuknya, namun saat ini ia ingin dekat dengan Himeko seperti teman pada umumnya. Seperti dirinya dan Himeko selama ini.

"Kau.."

Aku...

"Kau cocok dengannya..?"

Aku tidak suka kau bersamanya.

"Kau terlihat begitu menikmati waktu dengannya,"

Aku sangat tidak ingin melihatmu menghabiskan waktu dengannya.

Himeko menatap Bossun dengan tatapan kecewa. Ia merasa sesak di benaknya. Sejenak ia mengambil dan menghembuskan nafasnya. Rasanya sesak, kesal, marah bila mendengar kalau kau lebih cocok dengan orang lain, apalagi kau mendengar hal itu dari mulut orang yang kau suka sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi. Bossun memang kekanakan.

"Ini," Gadis itu menunjukkan tas kecil yang daritadi ia pegang. "Kemarin aku pergi dengan Katou untuk membeli hadiah ulang tahun untuk Tsubaki, dan sekarang juga ulang tahunmu. Aku pergi membeli barang ini dengan memikirkanmu," kata Himeko.

".."

"Aku tak mau bilang padamu karena ini hadiah ulang tahunmu,"

"Himeko.."

Bossun ingin menangis, raut wajahnya berubah dan ia jadi ingusan. Ia menarik Himeko dan memeluknya dengan erat, membuat gadis itu sulit bernafas.

"EEeeh-Bossun!!!!"

"Maafkan akuuuuu!!!! Aku memang cemburu kau jalan sama Katou!!! Huhu, abisnya kau diam saja sih!!!"

"Heeh ingusmu kena bajuku ih!!!!!!!!"

"HIMEKOOOOOOO"

"Diaam!!!!!"

Tapi dengan tangisan jelek itu, Himeko menghela nafas lega. Ia memeluk Bossun kembali dan menepuk pundaknya perlahan. Anak ini emang bego, tapi Himeko tahu ia sebenarnya sayang padanya. Sayang dalam arti kata, mereka berdua saling mengikat, dan tak ada yang bisa masuk sembarangan ke hubungan mereka berdua. Pasti akan sulit, dan mereka paham itu.

"Himeko..."

Panggilannya yang kedua membuat Himeko merinding. Jantungnya berdegup cepat, suara itu seakan langsung memompa darahnya ke sekujur tubuh.

"Terima kasih.."

Himeko tersenyum.

"Selamat ulang tahun,"


"Hm? Bossun kenapa?"

"Entah, bukannya tiap hari dia begitu?"

"Tapi kayaknya yang ini keliatan... he? Apa jangan-jangan mereka.."

"Uh? MASA SIH?"

"Yaa, wajar sih, tiap hari kan emang nempel mulu..."

Hari ini kelas 3C diramaikan oleh Bossun yang menggandeng lengan Himeko. Tentu gadis itu menghiraukanny, malah justru memarahi Bossun sepanjang jalan karena kelakuannya yang tak bisa dimengerti itu.

"Lepasin!!! Malu anjir diliatin orang!"

"Hari ini aku mau jadi istrinya Himeko! Apapun yang kau mau aku turuti!!!" Jawab Bossun sambil terus menggandengnya dengan nada riang.

"Jangan ngaco! Kalau mau jadi istriku tolong lepasin gandengan ini!!!" Seru Himeko.

"HAHAHAHA! Kecuali lepasin gandenganmu!!"

Himeko menghela nafas. Asli dah ni bocah gue rasa kudu minum parasetamol.

"Jangan pedulikan, dia emang bego." Kata Himeko kepada semua anak kelas 3C yang melihat kelakuannya Bossun yang seperti anak kecil pada Himeko.

Mereka memang maklum dengan sikap Bossun. Mereka mengenal bagaimana Bossun bersikap. Ia kadang menjadi pemimpin yang tegas, walau tidak sekeren Tsubaki. Ia kadang menjadi orang yang penuh semangat dan selalu memberi dukungan, kadang berubah menjadi anak kecil yang sering merajuk. Seisi kelas 3C pun sadar, kalau ia sebenarnya memiliki perasaan pada Himeko. Begitu juga gadis itu pada Bossun.

Seantero sekolah sadar.

Seisi dunia tahu.

Hanya mereka yang tidak tahu.

Atau mereka tahu, dan hanya menganggap perasaan itu tidak pernah ada.


"Eh.. itu Fujisaki sama Onizuka, makin hari makin nempel, ada apa sih?"

Kembarannya yang bernama Fujisaki Yusuke, Tsubaki Sasuke itu bertanya pada Switch.

"Mereka tiap hari kayak begitu, gaada bedanya,"

Atau mungkin gegara gue tinggalin berdua kemarin ya.