Kento Nanami ternyata tidak seburuk dugaan Yūji Itadori.
Yūji baru menyadarinya beberapa saat setelah menyelesaikan misi bersama.
Walaupun kesan pertama:
'Wah kami tidak akan cocok! Sungguh orang yang sulit dimengerti!'
Juga oleh pengakuan si salaryman-sorcerer sendiri, 'Mengenyam pendidikan di Jujutsu High membosankan! Begitupula saat menjadi pekerja kantoran!', membuat Yūji sempat berpikir kelam sekali hidup teman Gojō-sensei ini.
Nyatanya tidak sekelam dan sedatar itu.
Yūji kian penasaran.
Mungkin dari sisi percintaan Nanamin akan lebih berbeda.
Beberapa adegan dari film-film rekomendasi Pak Gojō membuatnya teringat 'Bagaimana cinta mengubah seseorang.' Mengenai satu sisi tersembunyi setiap orang.
Sehingga tanpa sadar pertanyaan,
"Nanamin… Apa anda pernah jatuh cinta?"
terlontar.
Saat itu mereka tengah makan malam bersama.
Makan malam seadanya ala chef Yūji di kondo Kento—sebagai balas jasa atas pengarahan, teknik dan ilmu serta ceramahan dan segala sesuatu yang telah diajarkan.—
Walaupun sebelumnya ada sedikit kesalahpahaman…
Sekitar pukul 17 waktu setempat,
Bel tempat kediaman Kento berbunyi.
Saat pintu terbuka, yang muncul adalah Yūji. "Nanamin, selamat malam!"
Awalnya Kento tidak mengenalnya. Penglihatannya sedikit kabur karena kelilipan serangga nyasar. "Itadori-kun ya? Apa yang membawamu kemari?"
"Aku ingin ucapkan terima kasih! Dan maaf sebelumnya kalau sudah mengganggu tidur anda!"
"Terima kasih lagi? Bukannya yang kemarin-kemarin sudah?" Kento menggeleng setelah matanya tidak lagi perih. "Tidak juga. Aku baru saja bangun."
"Ucapan terima kasih yang tulus harus diiringi perbuatan tentunya!" Yūji berteori. "Karena itu izinkan aku melakukan sesuatu sebagai balas jasa!"
"Balas jasa? Baiklah…" Kento tidak protes. Dia bergeser mempersilahkan remaja itu masuk. "Apa yang kau rencanakan?"
"Aku bisa memasak!" Yūji menyengir seraya mengikuti mantan mentornya dari belakang. "Jika Nanamin mengizinkan, boleh aku menggunakan dapur?"
"Gojō-san pernah cerita. Katanya kau mahir dalam banyak hal." Kento kini mempersilahkan Yūji duduk.
"Benarkah?" Yūji mendudukkan tubuhnya pada salah satu sofa panjang di dalam ruangan. "Gojō-sensei terlalu melebih-lebihkan! Aku tidak begitu mahir!"
"Karena kau murid favoritnya. Aku mengerti kenapa beliau menomorsatukanmu."
"Menurut Nanamin bagaimana? Apa aku juga spesial?" Yūji mencoba mengusili.
Nanamin diam sebentar. "Ya. Kaupun spesial. Akan selalu begitu!"
"Nanamin juga! Akan selalu spesial dan spesiaaal sampai kapanpun! Aku akan selalu mengingatmu! Maaf selama ini sudah kurepotkan!" Aku Yūji sambil tersenyum lebar.
Kento Nanami tahu betul Yūji Itadori adalah seorang yang jujur! Namun kalau keterusan bisa-bisa…
Sekali lagi Kento terdiam. Pria yang masih berdiri itu mengangguk dan membungkuk pelan untuk menyembunyikan wajah terpukaunya. "Kuhargai itu, Itadori-kun."
Yūji mengulas senyuman lain dan balas membungkuk. "Oh aku lupa! Aku buru-buru kemari sampai lupa memastikan kalau-kalau Nanamin sudah ada janji makan malam dengan orang lain?"
Kento menggeleng. "Tidak. Aku memang berencana makan di luar tapi kau sudah di sini dan aku tertolong." Dia mengambil tempat di sebelah Yūji. "Sedari kemarin aku kepikiran ingin makan old bay sausage shrimp. Mungkin sedikit dibanyakkan rasa lemonnya. Apa kau bisa membuatnya?"
"Anda ingin makan udang?" —Yūji is a culinary expert yang juga bisa memasak. Name it, he'll serve it for you right away!— "Maksudnya udang saus old bay 'kan ya? Aku pernah dengar tapi belum pernah kucicipi. Tapi untuk Nanamin dimintai apapun akan kulakukan!"
Berkat kehadiran Yūji Itadori, Kento tidak lagi merasa bosan. Dia terhibur. Namun entah harus bersyukur atau kesal, remaja ini terlalu jujur dan tidak akan sadar kalau perkataannya bisa bermakna ganda. Benarkah akan melakukan apa saja? Pengakuan itu membuat pikiran Kento sedikit menyimpang. Diapun menarik nafas kemudian bergeser mencari posisi nyaman—sekaligus menenangkan pikiran—yang tanpa sengaja menyenggol lengan Yūji. Melipat tangannya, Kento bergeser mendekat. Kedua lengan mereka kini saling bersandar.
"Kalau begitu kulihat dulu bahan-bahannya." Itadori juga tidak bergeser melainkan menyandarkan kepalanya pada lengan Kento. Sambil mencari resep, dia kembali membuka percakapan, "Ngomong-ngomong… Apa Nanamin juga selalu serapih ini?"
"Dimana saja aku selalu seperti ini."
"Anda benar-benar suka kebersihan ya!" Yūji tertawa pelan. Jarinya mengotak-atik ponselnya. "Kuharap saat dewasa nanti aku bisa sepertimu! Selalu rapih, selalu menjaga kebersihan dan selalu tampan dimanapun aku berada! Mulai sekarang aku akan mencontohmu!"
"…" Nanami tidak menjawab. Yūji Itadori juga suka sesuka hati mengaku tanpa tahu arti kata-katanya yang membuatnya terlihat manis! Bukannya Kento tidak ingin berbagi cerita. Dia cemas kalau-kalau dia akan tanpa sadar memeluk Yūji. Pria pirang itu lalu menyandarkan pipinya pada kepala anak didiknya.
Selang beberapa saat, "Sudah kutemukan resepnya! Aku akan keluar berbelanja!"
"Mau kutemani?"
"Tidak perlu repot-repot! Aku bisa sendiri!" Yūji menyengir.
"Sebentar…" Kentopun beranjak bangun menuju kamarnya.
Meninggalkan Yūji yang menatapnya dengan '?' besar.
Sekembalinya, Kento menyodorkan kartu hologram yang membuat mata Yūji sedikit melebar. "Nanamin ini…"
"Pakailah. Ini jarang sekali kupakai."
"T-tapi…"
"Itadori-kun, aku tidak pernah setuju kau harus membeli bahan-bahannya. Aku setuju kau memasak. Memasak bukan mengeluarkan uang!" Tegas Kento. "Kau seorang siswa dan belum bekerja. Kau belum punya cukup tabungan."
Dada Yūji seperti ditikam tombak. Tepat sekali ucapan Nanamin! Bocah sepertinya mana punya uang simpanan. Remaja itu lalu menggaruk lehernya yang tidak gatal karena lagi-lagi diceramahi.
"Lagipula orang dewasa mana yang mau ditraktir bocah? Kau bukan bocah tapi aku yang bertanggungjawab di sini. Ambillah. Kau tentu tahu cara memakainya." Tegas Kento sekali lagi seraya memberitahu kode transaksi kartu kreditnya.
Yūji tidak bisa membantah. Nanamin adalah pria dewasa yang bertanggungjawab. Nanamin tidak mungkin memanfaatkannya. Nanamin juga bukan orang yang suka memamerkan kekayaan tapi tetap saja meminjamkan atm ber-member platinum sedikit berlebihan. Apalagi saat mengecek saldonya yang membuat Yūji melongo. Kartu yang jarang digunakan saja saldonya sudah sebanyak ini apalagi yang sering digunakan?
Menakutkan sekali berurusan dengan orang kaya!
Begitulah sedikit kesalahpahaman diselesaikan dan mereka bisa makan malam dengan tenang.
Kento mendahului dengan mengambil satu potong udang. Saat potongan daging tersebut menyentuh lidahnya matanya melebar. "Itadori-kun, ini enak!" Pujinya karena seperti sedang menikmati makanan restoran berbintang. 'Anak berbakat! Padahal semua dikerjakan sendiri!' "Aku percaya Gojō-san mengatakan yang sesungguhnya tapi tidak kusangka akan seenak ini!"
"Aku senang Nanamin menyukainya!" Yūji menggaruk pipi. Nanamin pernah bilang dia tidak memuji ataupun menghina orang tapi tahu-tahu dipuji. Senang rasanya! Ini sudah kesekian kalinya dia dipuji!
"Rotinya juga seenak buatan toko! Kau berbakat, Itadori-kun!"
"Aku sejujurnya…"
"Ya?"
"Aku hanya tinggal bersama kakekku. Orang tua itu sering keluar-masuk rumah sakit jadi aku melakukan semuanya sendiri. Sekarang beliau sudah tiada dan aku harus tetap terbiasa."
"Yūji, aku turut—"
"—Lagipula ada Nanamin di sisiku! Aku yakin aku bisa! Aku bersyukur kita bertemu!"
Kento dapat menangkap semburat merah pada pipi Yūji yang membuatnya ikut merona. Dia meneguk air minum. The cuteness of the teen membuat tenggorokannya mendadak kering.
Tidak sampai di sana.
Pertanyaan,
"Nanamin… Apa anda pernah jatuh cinta?"
Membuatnya hampir tersedak makanannya.
Kento menopang dagunya selama beberapa saat. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan raut wajah serta suaranya. Walaupun dari dalam rasanya sudah hampir stroke ringan!
Itadori sendiri terlihat panik karena tanpa sadar bertanya begitu. 'Gawat! Aku malah jadi menanyakannya! Terlalu menyinggung privasi tahu!' Buru-buru meminta maaf atas kekonyolannya, "Ma-maaf! Nanamin! Bu-bukannya saya—"
Nanami menarik nafas panjang. Panjang sekali sampai membuat Itadori kaku di seberang meja. "—Sejujurnya aku tidak pernah peduli tapi kalau untuk dijawab ya, pernah."
Yūji yang menunduk kini membisu. Menyiapkan diri karena pasti akan diceramahi habis-habisan sebentar lagi.
"Itadori-kun, setiap orang pernah jatuh cinta. Kaupun pasti pernah." Jelas Kento. Kondisinya tidak berbeda jauh dengan Yūji tapi bisa dia tutupi. "Jadi niatmu kemari sebenarnya untuk mendapatkan love advice?"
Pertanyaan lain membuat Yūji mulai salah tingkah. Benar 'kan dia akan diceramahi! "Saya sungguh menyesal!" Remaja itu membenturkan keningnya pada permukaan meja keramik dengan cukup keras. Beruntung makanan mereka tidak tumpah.
"Tidak apa. Aku tidak marah." Kento meneguk air minum. Akting kekalemannya berhasil mengelabui anak didiknya . "Aku tidak terlalu berpengalaman soal cinta jadi maaf. Aku tidak bisa membantu."
"Tolong dilupakan saja! Tadi itu hanya terlintas di kepalaku karena…" Yūji berbisik. Sedikit bersyukur karena tidak jadi diceramahi. "…Karena… Nanamin ternyata tidak seburuk yang selama ini kuduga!"
Kento jadi ingin mencari tahu. "Buruk dalam konteks aku ini orang yang tak bisa diajak bercanda?"
"A-aye! Tapi ternyata anda tidak sepenuhnya begitu! Anda orangnya sangat baik dan pengertian!" Yūji mengangkat muka dan menyengir, lebih lebar dari biasanya. "Saya jadi semakin menyukai anda! Ingin rasanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama anda!" Rona merah di pipinya merambat sampai ke telinganya atas pengakuannya. Semakin dikenal, semakin disayang. Dia jadi semakin mengagumi Kento Nanami.
Kento yang mendengar semua itu menelan suapan terakhir santap malamnya dengan cepat. Setelah memejamkan mata beberapa saat, Kento akhirnya menyerah. "Itadori-kun… Maukah kau menginap malam ini?" Ada yang sudah kehilangan kendali diri rupanya! Padahal dia bukan ABG kasmaran dan umur mereka terpaut jauh. Who would've thought remaja berusia duabelas tahun lebih muda darinya sanggup membuat hatinya berhenti berdetak. Kento yakin Yūji mengaku begitu karena mengaguminya bukan memiliki perasaan khusus. Salahkan kemanisan remaja itu! Kento jadi merutuk dalam hati, 'Shit! I'll protect him at all cost!'
"Malam ini?" Yūji merenung sebentar seraya mengusap keningnya yang sakit karena terbentur tadi. "Hm… Tidak ada kegiatan malam ini jadi ya, tentu saja! Dan jika Nanamin mengizinkanku menggunakan salah satu guest room… "
"Tidak! Kau tidur di kamarku! Temani aku malam ini!"
"Jika Nanamin tidak keberatan…"
"Sama sekali tidak!"
Yūji kembali tersenyum lebar.
Kento merutuk dalam hati untuk kedua kalinya. 'Double shit! I'll protect him for all eternity!'
Di dalam kamar, Yūji masih saja terpesona dengan kemewahan ruangan tersebut. Dekorasi dan kebersihannya membuatnya tanpa henti tersenyum dan memandang sekeliling. 'Selalu sebersih Nanamin! Senang sekali bisa kemari lagi!'
"Aku aka—" Yūji yang hendak berujar dia akan tidur di sofa sedikit bergeming melihat Kento yang tengah melepas pakaian di hadapannya. Menanggalkan blazer, menyisakan kemeja santai slim-fit semi transparan dan sweatpants. Lengan dan otot-otot perut orang dewasa yang membuat Yūji sedikit iri.
Dan tiba-tiba,
"Kemari, Yūji. Kita berbagi satu ranjang."
Dadanya berdesir mendengar nama depannya dipanggil. Ini bukan pertama kalinya tapi kali ini nada suara Nanamin—somehow—membuat dadanya bergemuruh.
"Nanamin aku… Tubuhku cepat berkeringat… Kau pasti akan terganggu! Sebaiknya aku tidur di—"
"Kemarilah."
Satu permintaan Kento membuat Yūji menelan ludah dan dengan langkah sedikit goyah menaiki king-sized bed si pemilik kamar yang sudah berada di bawah selimut.
"Kau mencemaskan hal itu? Aku takkan terganggu." Kento setelah Yūji menyusulnya menyapu pelipis si remaja yang berkeringat. "Aku akan membuatmu merasa nyaman."
Yūji mengangguk dan menutup mata. Meresapi kehangatan sentuhan Kento yang turun ke pipinya sebelum akhirnya melingkarkan satu tangannya pada lengan pria di hadapannya itu. Merapatkan tubuh mereka dalam pelukan. Bisikan dan nafas hangat yang menyapu wajahnya membuat rasa gugupnya berangsur-angsur hilang. Benar kata Nanamin, nyaman rasanya. Berpelukan dengan seseorang ternyata sehangat ini.
Keesokan harinya di dalam mobil asisten manager Ijichi…
Yūji akhirnya sadar yang terjadi semalam adalah yang biasa dilakukan orang dewasa. 'Benar! Semalam kami tidur bersama dan saat bangun kami berpelukan! Nanamin ternyata sangat hangat!' Khususnya kegiatan sepasang kekasih—Menginap, makan malam sambil berbagi cerita, saling mendekap dan terbangun bersama di satu ranjang—Hatinya mulai berdetak. Dia menyukai semua itu. Menyukai kebersamaan dan kehangatan mereka dan rasanya tidak ingin lepas dari semua itu. Lebih dari itu, Yūji menyukai cara Nanamin menatapnya. 'Apa aku jatuh cinta?'
Manajer Ijichi dari kaca spion menangkap raut wajah scarlet Yūji dan dengan cemas bertanya. "Itadori-kun, apa kau baik-baik saja?"
"Huh aku? Ya! Ya! Aku baik-baik saja! Hanya sedikit mual karena kebanyakan makan udang!" Terpaksa berbohong karena tidak mungkin Yūji jujur kalau semalam mereka peluk-pelukan!
"Apa perlu saya belikan obat mual?"
"Tidak perlu, Ijichi-san! Sebentar lagi juga baikan!" Yūji tersenyum.
"Jangan khawatir, ada aku yang menjaganya." Sahut Kento. Dia balas tersenyum ke arah Yūji di sampingnya. 'Cinta itu hal yang rumit karenanya aku bohong. Tapi jangan cemas, aku akan lebih sering menunjukkannya. Kuharap kaupun menyadarinya, Itadori-kun. Dan juga maaf karena sudah mencuri satu ciuman darimu!'
Dua tangan mereka tanpa sadar sudah saling menggenggam.
April 9 2022
JJK © Akutami Gege
NANAMI SAYANG ITADORI, YŪJI SAYANG KENTO #enoughsaid
