Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Shin Jimin AOA, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : Teen to Mature

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

Happy Reading

Chapter 3 : The Day of Audition

.

.

Musim Semi, 2011

Baekhyun memijit pelipisnya. Kemudian melepas earphone dari kedua telinganya, jangan salah, Tuan Byun kita sedari tadi tidaklah sedang mendengarkan lagu. Seluruh playlist dalam rekorder yang Baekhyun dengarkan adalah rekaman yang berisi laporan- laporan dari seluruh bisnis yang berada dibawah naungannya.

Dan semua rekaman itu berasal dari suara lembut Xiumin yang dengan baik hatinya akan selalu membacakan setiap laporan- laporan untuk Baekhyun. Xiumin bahkan dapat menjelaskan seluruh grafik saham dan tabel laporan keuangan lebih baik daripada siapapun. Membuat Baekhyun berpikir apakah seharusnya Xiumin dijadikan akuntan saja bukannya sekretaris. Tapi tidak, sejauh ini tak ada sekretaris yang mengerti Baekhyun lebih daripada Xiumin.

Baekhyun juga memiliki alasan lain yang membuatnya tak dapat mengantikan Xiumin dari sisinya dengan siapapun. Sebuah alasan yang bahkan Baekhyun tak sanggup untuk mengatakannya, bahkan didalam hatinya.

Kembali ke kondisi Baekhyun yang sekarang meletakkan kepalanya di lipatan tangan diatas meja. Kepalanya sungguh berat. Inilah efek samping yang Baekhyun dapatkan bila tidurnya tak pernah nyenyak dan parahnya sering tak dapat tidur sedetikpun sepanjang malam.

Baekhyun memerlukan secangkir kopi untuk membuat matanya kembali segar dan pusingnya berkurang.

"Apakah ada orang diluar?" Baekhyun berucap cukup keras.

Lalu hening

Baekhyun menghela napas, berarti tak ada yang berjaga didepan ruang kerjanya. Serta Xiumin telah pergi berjam- jam yang lalu untuk berada di meja CEO Kantor Pusat BB Grub. Xiumin sangat sibuk karena dia adalah pengganti atas ketidakhadiran Baekhyun di lapangan. Baekhyun tak akan tega untuk menyuruh Xiumin berada disampingnya setiap waktu, sudah terlalu banyak tanggung jawab yang Xiumin pikul.

Baekhyun mengangkat wajahnya, lalu mengedarkan tangan kanannya di atas meja kerja yang telah dia hapal walau tanpa melihatnya.

Klik

Baekhyun menekan tombol pada jam digital yang sungguh canggih disamping kanan atas mejanya.

Tak berapa lama terdengar suara lembut namun kaku khas komputer dari Jam tersebut.

"Sekarang jam 12 lewat 56"

Baekhyun menghela napas. Pantas saja tak ada yang berjaga di depan pintunya. Baekhyun telah menjadwalkan kepada seluruh pekerja di Mansion ini untuk beristirahat, dilarang bekerja, dan menikmati makan siang yang tenang tanpa dikejar waktu dimulai dari pukul 12 hingga 2 siang.

Mirip dengan jam makan siang siswa di sekolah.

Untuk apa?

Karena Baekhyun menyukainya, se simple itu.

Meski Baekhyun tak pernah merasakan sekolah formal. Namun semua orang mengatakan padanya bahwa waktu makan siang adalah waktu yang sungguh ditunggu- tunggu disekolah. Waktu yang paling membahagiakan. Waktu santai dimana kau dapat mengobrol bersama sahabatmu dan bahkan satu- satunya waktu dimana kau dapat memperhatikan pujaan hati mu. Dan Tuan Muda Byun suka membuat para pekerjanya bahagia.

"Sepertinya aku harus kedapur sendiri dan ikut makan siang bersama mereka." Gumam Baekhyun pada dirinya sendiri.

Baekhyun pun berjalan dengan tenang. Melewati meja kerjanya dengan tangan yang menyusuri ujung meja tersebut. Lalu berjalan lurus kedepan, sedikit meraba mencari daun pintu, kemudian memutar daun pintu tersebut saat menemukannya.

"kanan." pikir Baekhyun.

Mari kita mengenal denah Mansion megah nan luas ini sebentar.

Terdiri dari tiga lantai dan puluhan kamar dan ruangan.

Namun lebih mudah mengenalnya seperti ini.

Lantai 1.

Terdiri dari ruangan- ruangan paling penting, yaitu :

Bagian depan adalah ruang tamu seluas lobi hotel, lalu di ruang tamu tersebut terdapat tangga spiral yang menjadi jalan menuju lantai dua dan tiga.

Bagian kiri belakang lantai 1 adalah wilayah khusus Tuan Muda Byun Baekhyun. Disitulah Ruang Tidur Utama Mansion ini, yang juga ditempati oleh Baekhyun sendiri, di samping kamar Baekhyun adalah kantor tempatnya bekerja, lalu disampingnya lagi terdapat perpustakaan peninggalan Nyonya Sulli. Dari lantai 1 sayap kiri Mansion ini pula terdapat pintu yang langsung ke taman dan tepat 20 meter dihadapan pintu itu adalah Pohon besar dan ayunan tempat favorite Tuan Muda Byun kita menghabiskan waktu senggangnya.

Bagian kanan belakang lantai 1 adalah dapur yang sungguh luas dan ruang makan yang dapat menampung 30 orang. Seringnya di gunakan para pekerja dan pelayan Mansion Byun untuk 'waktu makan siang' mereka, namun setengahnya memilih untuk menikmati 'waktu makan siang' tersebut untuk beristirahat di kamar mereka yang berada di lantai 3.

.

Lantai 2

Lantai dua adalah surga

Itulah yang dikatakan para pekerja dan maid disini.

Karena dilantai 2 lah berbagai macam hiburan akan kau dapatkan.

Ruang Keluarga tempat kau bersantai dan menonton TV, Ruang musik yang berisi berbagai macam alat musik yang lengkap, ruang gym, ruang melukis, ruang membuat keramik, dan Mini Teater. Lalu ada beberapa kamar kosong di lantai 2, yang merupakan kamar tamu penting dimansion ini, tentunya lebih sering kosong daripada dihuni oleh orang lain.

Meski Tuan Muda Byun Baekhyun mereka tak pernah melarang untuk menikmati fasilitas yang ada di lantai dua. Namun para pekerja dan maid lebih memilih untuk tak menggunakan semua hal itu. Mereka datang dan tinggal di Mansion ini adalah untuk bekerja, itulah satu- satunya tujuan mereka, dan akan terus seperti itu. Yang sukses membuat Tuan Muda Byun Baekhyun yang sangat cantik menjadi kesal karena menganggap dirinya gagal menyenangkan hati pekerjanya.

.

Lantai 3

Lantai dengan kamar terbanyak. Bila kau sampai di lantai tiga maka kau seakan tengah masuk kedalam asrama sekolah. Totalnya 36 kamar ada dilantai tersebut dan lebih dari setengahnya terisi.

Untuk apa?

Tentu saja untuk pekerja dan maid di Mansion Byun.

Untuk informasi saja, menurut perhitungan yang terbaru, jumlah pekerja dan pelayan di Mansion ini adalah 60 orang. Terdiri dari 10 orang tukang kebun, 5 orang satpam penjaga gerbang dan CCTV, 5 orang pengurus kolam renang dan kolam ikan, 25 orang maid, 5 orang koki, dan 10 orang bekerja dibagian pencucian piring dan pakaian.

Dan Tuan Muda Byun Baekhyun, mengingat mereka semua, satu persatu.

Meski kamar di lantai tiga lebih dari cukup untuk menampung mereka semua, namun sepertiganya lebih memilih untuk tinggal di rumah masing- masing dan pulang dari Mansion Byun disaat waktu bekerjanya habis. Sebagian besar alasan adalah mereka telah berkeluarga dan lebih nyaman bila tinggal dirumah bersama keluarga mereka. Meski tentunya Tuan Muda Byun Baekhyun mereka tak keberatan untuk menampung keluarga mereka sekalian.

Baiklah, semoga itu memberikan kita semua gambaran akan kemegahan istana dari kerajaan kecil kita, yang dipimpin oleh Tuan Muda Byun Baekhyun yang baik hati.

.

.

Baekhyun terus berjalan lurus menuju ke bagian kanan lantai satu Mansion. Sejujurnya Baekhyun telah hapal seluruh bagian dari Mansion ini. Dirinya dapat berjalan- jalan tanpa harus di tuntun oleh orang lain. Masalahnya hanya satu, bila Baekhyun sedikit bingung arah mana yang sedang ditujunya, entah didepannya menuju bagian kanan atau bagian kiri, entah depan atau belakang, entah berada dilantai satu, dua, atau tiga. Saat itulah Baekhyun memerlukan bantuan orang lain, setidaknya untuk memberitahunya tentang dilantai dan ruang manakah Baekhyun berada.

Wilayah khusus Tuan Muda Byun ditempatkan dilantai satu juga untuk kemudahan Tuan Muda kita ini. Agar Tuan Muda Byun Baekhyun tak perlu naik turun tangga menuju kamarnya.

Tak berapa lama Baekhyun mendengar kicauan riang beberapa puluh orang beradu dengan berisiknya dentingan piring dan sendok. Membuat Baekhyun tersenyum, rasanya memang seperti mendengar siswa sekolah menengah diwaktu makan siang.

Baekhyun membuka pintu masuk ruang makan itu dengan kedua tangannya, mendorong kedua sisi pintu hingga membuat kedua tangan Baekhyun terentang. Membuat pintu dua sisi itu terbuka lebar, membawa serta cahaya matahari dari luar masuk kedalam dibelakang Baekhyun.

Menyuguhkan pemandangan indah bagi para pekerja dan Maid yang sedang makan di ruangan tersebut. Tuan Muda mereka tampak bagai malaikat dengan wajah cantik rupawan disertai sinar terang cahaya matahari dibelakangnya.

"Auhh.. silau." ujar salah satu pemuda dikursi ujung dengan nada main- main.

"Oh! Maaf Maaf Maaf Maaf" Baekhyun pun bergegas masuk dan menutup kembali pintu masuk ruang makan.

"Tuan Muda, mata saya masih sakit karena ternyata anda lebih menyilaukan." Kembali pemuda itu bersuara.

"EEEEEYYYYYY HUUUU..." Sontak suasana yang telah heboh semakin pecah di iringi koor suara protes dari puluhan pekerja dan maid yang lain. Beberapa bahkan melempari pemuda tersebut dengan makanan.

Baekhyun tersenyum tipis, sudah terlampau biasa dengan mulut manis pemuda yang satu ini.

"Jeno, apakah Jaemin menolak ajakan kencan mu lagi sehingga kau terus mencoba membuatnya cemburu?" Baekhyun bertanya dengan suara yang sedikit dikeras- keraskan, ditutup dengan seringaian dibibirnya.

Hanya berselang sedetik kemudian terdengar suara berisik nan heboh dari arah dapur. Seseorang telah memecahkan beberapa piring. Karena terlalu terkejut dengan ucapan Tuan Muda Byun, pastinya.

"NA JAEMINNN!!!" Diikuti teriakan murka Tuan Do, kepala Koki Mansion ini.

Sontak suasana kembali pecah dengan derai tawa. Puluhan pekerja dan maid itu silih berganti melemparkan ejekan dan godaan pada Jeno yang telah merona parah.

Untuk informasi saja, seluruh ruangan di mansion ini, semuanya tidak kedap suara kecuali ruang musik. Hal itu dilakukan untuk kenyamanan Tuan Muda Byun pastinya. Karena Baekhyun tak memiliki kemampuan visual, maka dirinya harus benar- benar leluasa dengan panca indra yang lain. Bila Baekhyun tak dapat mendengar apa yang terjadi disekitarnya, Baekhyun akan menjadi resah.

"Tuan Muda, kenapa anda tega sekali.." nah, tadi menggoda dan sekarang malah merengek.

Baekhyun hanya tersenyum tipis dan berjalan dengan langkah anggun namun tegas menuju kursi utama meja makan. Tak ada yang berani membantu, Tuan Muda Byun Baekhyun kita memang tak meminta bantuan. Namun semua mata tertuju padanya, mengawasi setiap langkah tuan muda mereka yang cantik tersebut, khawatir bila terjadi apa-apa.

"Kenapa suasananya hening?" Baekhyun bertanya setelah berhasil duduk di kursi miliknya.

Seluruh pekerja dan maid disitu menjadi salah tingkah.

"Demi Tuhan itu cuma beberapa meter, aku tak akan kecelakaan ditabrak mobil karena menyeberangi ruang makan ku sendiri." Meski nadanya bercanda, semua orang yang berada disitu tahu, bahwa itu adalah teguran.

"Maafkan kami Tuan Muda, kami hanya terlalu perduli pada anda." Ucap salah satu maid yang paling dekat dengan Baekhyun.

Oh Baekhyun mengenali suaranya, itu Kyungsoon.

"Bukannya kau shift malam Kyungsoonie, kenapa kau tak istirahat dikamar mu untuk tidur siang ini?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan, dan Kyungsoon lah korbannya.

Seluruh mata langsung menatap gadis itu dengan tatapan bercampur antara penasaran, iri, dan bahkan curiga. Bagaimana bisa Tuan Muda Byun mereka mengetahui shift dari maid baru seperti Kyungsoon.

"Er... hanya saja, makan bersama disini lebih menyenangkan, Tuan Muda." Jawab Kyungsoon dengan wajah memerah.

Baekhyun tersenyum tipis, "Kau benar.. makan bersama kalian sungguh amat menyenangkan."

"Awwwwwww... Tuan Muda baik sekali"

"Itu sungguh imuttttttt."

"Kami mencintai mu!"

"Huee.. aku mimpi apa semalam sampai bisa mendengar itu."

"Aku tak akan mencuci telingaku hari ini."

Dan si Tuan Muda hanya dapat menggelengkan kepalanya maklum akan para pekerjanya yang suka menggoda. Baekhyun telah salah menilai, mereka tak seperti Siswa Sekolah Menengah tapi lebih tepatnya seperti Murid Taman Kanak- Kanak.

Suasana meja makan itu kembali seperti semula. Di isi dengan canda tawa dan obrolan- obrolan yang bersahutan dari satu orang ke orang lainnya. Mereka larut dalam obrolan dan berusaha santai seakan Baekhyun tak ada disana. Setiap harinya memang seperti itu, Baekhyun tak terlalu suka diperhatikan saat makan.

"Kyungsoonie, tolong katakan pada Appa mu, aku ingin menu makan siang seperti biasa, ditambah dengan segelas kopi." Pinta Baekhyun pada Kyungsoon.

Gadis bernama Kyungsoon itu pun memandang wajah Baekhyun selama beberapa saat yang sedikit agak lama, sebelum mengatakan Ne, dan pergi ke dapur.

Sementara Kyungsoon pergi, Baekhyun larut dalam obrolan bersama pekerja, dan sesekali memberikan komentar pada beberapa topik. Para pekerja dan Maid juga antusias mengobrol dengan Tuan Muda mereka yang jarang ikut dalam obrolan meja makan tersebut.

Tak berapa lama, Kyungsoon pun kembali dengan nampan ditangan. Lalu para pekerja dan maid yang lain otomatis berpaling dari Tuan Muda Byun mereka.

"Tuan Muda, ini makan siang anda." Ujar Kyungsoon, lalu menata setiap makanan didepan Baekhyun dengan sungguh rapi dan cekatan.

Setelah segalanya siap, Baekhyun pun mengambil sumpitnya yang selalu berada ditempat yang sama sejak dia kecil. Sudah hapal diluar kepala.

"Dari kiri ke kanan ya Tuan Muda. Di paling kiri adalah kimchi, lalu ada salad, lalu sup berada disebelahnya, lauk hari ini adalah ikan yang telah dipisahkan dari tulangnya, sosis, dan nugget, lalu disebelahnya adalah rumput laut kesukaan tuan muda, didepan tuan muda adalah mangkuk nasi ayam dengan porsi sedang, dan yang terakhir di sisi paling kanan adalah Teh Chamomile."

Baekhyun mengerutkan dahinya, bukankah tadi dia meminta kopi.

"Kyungsoon..." Baekhyun baru saja memanggil namanya dan Kyungsoon sudah memucat dan memotong ucapan Baekhyun.

"Maafkan saya Tuan Muda karena tidak menurut sesuai yang anda katakan. Namun saya berpikir apakah anda meminta kopi karena merasakan pusing dan sakit kepala. Dan anda kelihatan sungguh kelelahan dan dalam suasana hati yang tak baik. Karena itulah saya lebih memilih memberikan anda Teh Chamomile yang memang berguna untuk meringankan sakit kepala, saya tak ingin anda semakin kesulitan tidur bila meminum kopi, Maafkan saya Tuan Muda." Kyungsoon mengucapkan itu dengan sangat cepat saking gugupnya.

Baekhyun pun terdiam di tengah hingar bingar ocehan para pekerja dan maid yang tak terlalu memperhatikan mereka, masih berisik dan sibuk dengan diri mereka sendiri. Lebih tepatnya, semuanya selalu berusaha untuk mengabaikan Baekhyun saat Tuan Muda mereka itu tengah makan, tak ingin mengganggu.

Keringat dingin menuruni pelipis Kyungsoon, dirinya sungguh gugup sambil menatap wajah Tuan Muda Byun yang terlihat bagai patung ukiran indah saat terdiam tanpa ekspresi itu.

Lalu Kyungsoon dapat bernapas lega setelah melihat senyum terbit dibibir Tuan Muda Byun Baekhyun nya.

"Terima Kasih Kyungsoonie." Ucap Baekhyun.

"Apakah kau masih berdiri?. Duduklah kembali Kyungsoon, maaf menyela makan siang mu. Dari mana kau tahu aku sedang sakit kepala?. Kurasa hanya Xiumin hyung yang tahu." Baekhyun bertanya sambil menyeruput teh chamomile nya sedikit, sebelum memulai makan siangnya.

"I- Itu..." Kyungsoon kembali duduk dikursinya yang tadi, dekat dengan Baekhyun. Gadis itu tersipu dan gugup karena orang nomor satu di mansion ini mengajaknya berbicara bahkan disaat pria itu tengah makan. Suatu hal yang tak pernah Baekhyun lakukan dengan para pekerja atau Maid yang lain.

Baekhyun berhenti mengunyah, lalu menatap kosong dan hampa ke arah Kyungsoon sambil mengangkat sebelah alisnya. Terlihat sungguh cute dengan pipi menggembung karena mulut penuh makanan.

"Itu apa?" Tanya Baekhyun sedikit tidak sabar bercampur penasaran.

"Tuan Muda tak seramah biasanya." Jawab Kyungsoon setelah dapat menenangkan hatinya, sedangkan Baekhyun kambali mengunyah makanannya, sambil memutar ulang memori di otak jeniusnya, mencari disaat kapan dirinya tak ramah.

"Aku tak merasa seperti itu." Baekhyun tak menemukannya.

Kyungsoon menghela napas, "Tuan Muda biasanya akan mengatakan, 'Bisakah kau bantu aku' atau 'Bila kau tak sibuk, mau kah kau bantu aku' , namun tadi Tuan Muda mengatakan, 'Tolong kau', begitulah Tuan Muda, yang membuat saya tahu anda tengah dalam suasana hati tidak baik."

Oh, pantas saja otak jenius Baekhyun tak dapat menemukan saat dimana dirinya tak ramah. Sedangkan standar ramah atau tidak bagi orang- orang memang sungguh subjektif. Kita sering merasa bahwa perkataan kita tak ada salahnya, namun tanpa sadar telah menyinggung orang lain dan memberikan luka yang dalam dihati orang tersebut.

Baekhyun menelan makanannya, "Aku bahkan tak sadar mengucapkan itu, maafkan aku Kyungsoonie, apakah aku tadi menyinggung mu?"

Kyungsoon pun tersenyum, "Tak apa Tuan Muda, sungguh saya tak tersinggung sama sekali, Tuan Muda masih ramah, walau seperti kata saya tadi, sedikittttt tak ramah daripada biasanya"

Baekhyun pun mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Suasana ruang makan itupun masih berisik seperti tadi. Namun semakin banyaknya piring yang telah kosong, semakin banyak pula pekerja yang pergi untuk kembali melanjutkan tugas mereka masing- masing, mau tak mau suasana ruangan yang awalnya ramai menjadi semakin sepi.

Hingga akhirnya tinggal Baekhyun sendiri, bersama beberapa Maid yang telah menyelesaikan makannya dan bersama- sama membersihkan meja makan. Dan beberapa maid yang berjaga dibelakang kursi Baekhyun.

Entah sudah berapa puluh kali Baekhyun menerima kalimat, "Terima kasih atas makanannya. Saya kembali lebih dulu, Selamat makan siang Tuan Muda." dari para pekerja dan Maid yang telah menyelesaikan makan siang.

"Pukul berapa sekarang?" Baekhyun bertanya setelah menghabiskan saladnya. Menu penutup yang Baekhyun makan hari ini.

"Pukul 14:15 Tuan Muda." Ujar salah Maid yang berdiri dibelakang Baekhyun, menunggu perintah jika Tuan Muda nya memerlukan sesuatu.

Setelah mendengar itu, Baekhyun pun melap bibirnya dengan serbet makan berwarna seputih kapas. "Humm.. satu jam setengah lagi akan ada orang bernama Park Chanyeol yang akan datang untuk audisi. Bila dia sudah datang, tolong katakan padanya untuk mendatangi aku di perpustakaan. Terima kasih untuk makan siangnya."

Baekhyun pun melangkah pergi dari ruang makan tersebut. Menuju perpustakaan.

.

.

Mari kita semua pergi dari Mansion mewah Tuan Muda Byun. Ke tempat yang telah kita tahu sebagai flat bernomor 061. Tempat tinggal Chanyeol.

Berbanding terbalik dengan Mansion Byun yang selalu ramai dan sibuk dengan para pekerja dan maid yang hilir mudik. Maka suasana tenang cenderung terlalu tenang adalah hal yang kita jumpai di flat ini sekarang.

Di depan sebuah televisi tua, terdapat Chanyeol yang tertidur di sofa tak kalah tua dari televisi tadi. Terdapat gitar akustik tua (juga) bersandar di lengan sofa tersebut, dan puluhan kertas- kertas berhamburan diruangan. Sepertinya Chanyeol tertidur saat tengah membuat lagu.

Hari ini adalah hari Minggu.

Seperti jutaan orang didunia, Chanyeol adalah manusia pencinta hari berwarna merah di kalender tersebut.

Tentu ada alasannya.

Pasalnya pada hari minggu Chanyeol hanya akan bekerja dari jam 4 subuh hingga jam 7 pagi, untuk mengantar susu dan koran di banyak tempat. Setelahnya Chanyeol akan menikmati waktu bebas tanpa pekerjaan apapun. Itu adalah jadwal terpendek dari seseorang yang gila kerja seperti Chanyeol.

Pada hari minggu biasanya Chanyeol akan menikmatinya dengan tidur selama yang dia mau dan membuat lagu selama yang dia inginkan. Sungguh kenikmatan kecil yang berimbas pada kebahagiaan yang besar bagi diri Chanyeol yang sederhana.

DUK DUK DUK DUK

DUK DUK DUK DUK

Ketukan terlalu keras hingga dapat dikategorikan sebagai gedoran itu membangunkan Chanyeol dari mimpi indahnya. Oh ayolah, padahal Chanyeol tadi sedang bermimpi bertemu dengan pria cantik bermata sipit. OKE LUPAKAN.

Dengan langkah terseret, rambut merahnya acak- acakan dan berminyak, wajah masam, aroma kecut, dan penampilan acak- acakan. Apakah sudah lengkap daftar diatas untuk mendeskripsikan seseorang yang belum mandi?. Ya, Chanyeol terlihat sungguh mengerikan. Istilah cantik dan tampan bahkan saat belum mandi itu hanyalah mitos. Harap jangan membantah fakta itu.

Chanyeol pun melangkah ke asal suara berisik tadi.

"CHANYEOL OPPA!! BUKA!! Oh Astaga.. apakah kau sungguh pingsan didalam?. Jangan pingsan sekarang Oppa, kau harus audisi dulu, baru boleh pingsan!!!"

Raut kosong sehabis bangun tidur Chanyeol tadi langsung berubah menjadi raut jengkel saat mendengar suara kekanakan Jimin yang berisik nan melengking. Chanyeol tak habis pikir, bagaimana bisa ada gadis memiliki suara se ultrasonic itu, jangan salahkan Chanyeol bila tetangga nya akan marah- marah karena terganggu dengan teriakan Jimin.

"HEY ANAK SMA!! AKU AKAN MEMANGGIL SATPAM UNTUK MENGUSIRMU KALAU KAU TERUS BERISIK SEPERTI ITU!!" Itu adalah suara Ahjussi tetangga Chanyeol.

Nah... kan, Chanyeol bilang juga apa.

Chanyeol tersenyum geli seraya berjalan menuju pintu. Terdengar olehnya suara Jimin yang meminta maaf berulang- ulang kepada tetangga Chanyeol. Dan pemandangan Jimin yang tengah membungkukan badan pada salah satu penghuni flat ini adalah yang Chanyeol lihat setelah membuka pintu.

Sontak Jimin menegak saat mendengar pintu flat Chanyeol terbuka. Senyum nya mengembang bersemangat untuk bertemu dengan sang idola.

Namun.. senyum gadis langsung lenyap saat menatap penampilan Chanyeol sekarang.

"What the actually fxxx" Jimin mengumpat dalam hati.

"APA- APAAN PENAMPILAN MU ITU?!!!" Teriak gadis itu tanpa sadar.

"BERISIK!!!!!!!!" dan malangnya kembali mendapat teguran tak mengenakkan dari tetangga Chanyeol.

"Haishhhh.." Gadis mungil itu mendorong Chanyeol masuk kedalam flat nya, membawa keduanya masuk kedalam.

Gadis itu langsung mengobservasi penampilan Chanyeol dari atas sampai kebawah lalu ke atas lagi.

"Kemana kau hilangkan Chanyeol yang tampan kemarin?"

"Hah?" Chanyeol memandang Jimin dengan wajah tanpa dosanya, membuat gadis itu rasanya ingin mengoyak wajah itu saking kesalnya.

"KEMANA KAU HILANGKAN CHANYEOL OPPA KU YANG TAMPAN BERKARISMA YANG AKU TEMUI DI - " Ucapan gadis itu terputus karena Chanyeol menutup mulutnya.

"Ssttts.. diamlah, astaga kenapa kau selalu berteriak. Tetanggaku sudah beberapa kali menegurmu, aku tak mau ada satpam yang datang kesini dan mengusirmu. Paham?" Chanyeol mengucapkan itu dengan tangan masih membekap mulut Jimin.

Jimin pun mengangguk paham, baru setelah itu Chanyeol melepaskan bekapannya.

"Jadi, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Chanyeol

"Untuk menjemputmu, memangnya apalagi." Jawab Jimin santai.

"Ini terlalu awal daripada janji temu kita Jimin."

Jimin pun menganga, lalu menunjuk kepada jam dinding dibelakang Chanyeol. Chanyeol pun memandang mengikuti arah yang Jimin tunjuk.

"Terlalu awal kau bilang. Lihatlah! Sudah jam setengah 3 sore! Kau harus berangkat ke Mansion Byun jam setengah 4 Oppa, agar kau tepat berada disana sebelum jam 4. Jadi waktu kita bersiap hanyalah satu jam!" Jimin menjelaskannya dengan menggebu- gebu, sebenarnya yang akan audisi itu siapa, Chanyeol jadi bingung sekarang.

Tak menghiraukan wajah kosong Chanyeol, Jimin pun mendorong badan besar dan tinggi Chanyeol itu menuju ke kamar mandi. Sesungguhnya pemandangan itu terlihat lucu, bagaimana gadis mungil itu kesulitan mendorong tubuh besar Chanyeol.

"Iya iya iya.. Aku tahu.. Aku tahu.. Aku bisa berjalan ke kamar mandi dan tentunya mandi sendiri Jimin, tenang saja." Chanyeol membalik badannya. Memegang kedua bahu gadis mungil itu. Memberikan sekali pijatan yang menenangkan.

"Aku akan bersiap dan aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tenang aja, oke?. Relax.. " Chanyeol mengatakan itu dengan suara rendah menenangkan. Membuat kedua bahu kaku Jimin menjadi santai. Jimin sendiri bahkan tak sadar bahwa dirinya terlalu tegang menghadapi audisi Chanyeol, padahal kan yang akan di audisi bukan lagi dirinya.

"Nah, aku akan bersiap, kau bersantailah di sofa itu, ambil apapun yang kau inginkan di kulkas, meski pilihannya tak terlalu banyak." Chanyeol menjelaskan dan Jimin mengangguk sebagai tanggapan.

Saat Chanyeol berbalik dari gadis itu, menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti karena Jimin menarik ujung kaus usangnya, menahan langkah Chanyeol.

"Kau harus mandi dengan bersih. Dan pakailah Cologne yang beraroma nyaman jangan terlalu menyengat. Dia tak perduli baju apa yang kau pakai, namun dia sungguh perduli dengan aroma badanmu." Gadis itu berbicara dengan suara yang amat sangat pelan. Sangat tidak Jimin sekali.

Dahi Chanyeol menyerngit bingung namun memilih untuk tak bertanya. "Baiklah." ujarnya sebelum menutup pintu kamar mandi tepat di depan wajah Jimin.

.

.

.

Keduanya, Chanyeol dan Jimin telah sampai mansion Byun.

Chanyeol menganga melihat semua ini.

"Apakah ini masih di Korea Selatan?" Pikir Chanyeol dengan polosnya.

Siapapun akan memikirkan hal itu bila telah memasuki gerbang tinggi dan masuk ke halaman Mansion. Melewati taman bunga yang dihiasi dengan sungai kecil buatan berisi banyak ikan yang cantik.

"Kolam ikan yang sungguh unik kan Oppa?." Tanya Jimin saat melihat arah mata Chanyeol.

Chanyeol hanya mengangguk.

"Ayo Oppa!" Jimin berjalan mendahului Chanyeol dengan langkah riang menuju bangunan berwarna putih tulang yang sungguh megah tersebut.

Sambil memanggul tas gitarnya, Chanyeol berjalan mengikuti Jimin. Pintu utama yang besar itu dibuka oleh dua Maid yang berjaga dipintu dengan sikap yang kaku namun sopan saat mereka datang.

"Eonni, ini adalah Park Chanyeol yang akan audisi dengan Tuan Byun hari ini." Jimin melaporkan itu kepada salah satu Maid dengan wajah khas Chinese.

Maid Chinese itu memandang Chanyeol. Chanyeol pun memandangnya balik kemudian memberikan senyuman berlesung pipi yang sungguh manis kepada maid tersebut. Menciptakan semburat merah dipipi si maid.

Jimin yang menyaksikan itu hanya memutar bola matanya.

"Eonni!!." teriaknya, dan pelayan tadi menjadi tersadar dari beberapa saat nyawanya telah terhanyut dalam pesona seorang Park Chanyeol. Oh, jangan salahkan dia, Park Chanyeol memang mempesona.

"Iya, Tuan tadi telah mengatakannya pada kami dan beliau sudah menunggu di perpustakaan. Silahkan langsung saja menemuinya disana." Jawab Maid itu dengan bahasa Korea berdialek Mandarin yang masih kental.

"Okeeee.. AYO!." dan Jimin berteriak lagi.

Keduanya pun masuk. Dan kali ini, meski terkagum- kagum akan interior dalam mansion ini, Chanyeol berusaha untuk tak menampilkan ekspresi kagum pada wajahnya. Tak mau bersikap kampungan untuk saat ini.

"Dimana perpustakaannya Jimin?" Chanyeol bertanya pada gadis mungil disebelahnya.

Namun tak ada jawaban.

Chanyeol pun menoleh pada gadis disebelahnya. Detik selanjutnya Chanyeol melebarkan mata melihat wajah Jimin sudah seputih Geisha Jepang. Sungguh pucat tanpa darah.

"Kau baik- baik saja?" Chanyeol bertanya panik.

Jimin menggeleng, "Apakah aku boleh pingsan sekarang?"

"Aku berusaha menahannya dari tadi, namun setelah memasuki Mansion ini aku menjadi tak tahan lagi. Oppa! Aku tak akan sanggup untuk menyaksikannya, aku terlalu gugup. Aku menunggu disini saja." Jimin menarik rambutnya dengan jari- jari yang sungguh kentara terlihat bergetar.

Chanyeol menatapnya dengan tatapan khawatir sekaligus kerlingan geli. Sungguh lucu melihat ada orang lain yang gugup untuk audisi yang akan Chanyeol lakukan. Seakan itu adalah audisi miliknya sendiri.

"Baiklah, beritahu aku, dimana perpustakaannya?" Ujar Chanyeol.

"Itu mudah, Oppa tinggal ke bagian sayap kiri belakang, lalu ada tulisan perpustakaan didepan pintunya." Jimin menjelaskan.

Chanyeol pun mengangguk, kemudian menyatukan kedua tangan dan menutup kedua matanya, mengepalkan tangan dan berdoa didalam hati, sekali lagi mengharapkan keberuntungan berada dipihaknya.

"Baiklah Park Chanyeol, inilah saatnya, keberuntungan tak akan pernah datang dengan sendirinya. Fighting!" Chanyeol menyemangati dirinya sendiri dan melangkah dengan semangat membara. Sungguh tipikal Chanyeol sekali.

Setiap langkah Chanyeol bergema di atas lantai marmer yang dingin dan berkilat ini. Entah gagal atau berhasil, Chanyeol tak mau memikirkannya terlebih dahulu. Yang penting dia telah mencobanya.

Jangan berharap berhasil bila tak berani gagal, adalah kalimat yang Chanyeol tanamkan dalam hatinya setelah merasakan banyaknya kegagalan selama ini.

Dan untuk kali ini, Chanyeol yakin dirinya akan berhasil.

.

.

.

TBC

AN:

Jangan hujat saya karena TBC disini, masih ada chap lain lagi kok, silahkan di geser ehehe.