Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Shin Jimin AOA, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : Teen to Mature
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 4 : Meet U
.
.
.
Musim Semi, 2011
Chanyeol melangkah perlahan namun mantap. Beberapa maid yang melewati Chanyeol terlihat menatapnya dengan penasaran. Dan pria dengan banyak tatto ini sungguh tak perduli dengan semua itu.
"Oh ini dia." Ujarnya saat menemukan pintu kayu coklat dengan label perpustakaan didepannya.
Chanyeol mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali. Berusaha sopan dan memberikan kesan pertama yang baik.
Namun tak terdengar tanggapan apapun dari dalam.
Chanyeol pun kembali mengetuk pintu tersebut. Dan kembali tak mendapat respon apapun. Menghela napas beberapa kali, lalu pria tinggi ini memutuskan untuk membuka sendiri pintu tersebut, memilih menjadi pria kurang ajar yang memasuki sebuah ruangan sebelum mendapat izin dari pemiliknya.
"Permisi.." Chanyeol mengucapkannya saat telah berada didalam ruangan beraroma kertas dan tinta tua tersebut.
Selalu mengejutkan dan memukau. Bahkan perpustakaan mansion ini pun sungguh luas dan memanjakan mata untuk dilihat. Chanyeol sungguh penasaran berapakah jumlah total semua buku yang seakan tak terhitung banyaknya ini.
Pria tinggi itu melangkah, melewati beberapa rak buku. Hingga sampailah Chanyeol pada ujung perpustakaan yang ternyata menjadi tempat paling terang dari ruangan ini. Terdapat kaca besar yang tingginya mencapai langit- langit sampai ke lantai, yang menghadap ke taman diluar. Itu bukanlah lagi hanya sebuah jendela, tapi dinding kaca.
Namun Chanyeol tak memperdulikan taman diluar. Tatapan Chanyeol justru terpaku pada seseorang yang duduk bersandar pada dinding kaca tersebut. Untuk sejenak Chanyeol merasa dirinya hanya berhalusinasi. Membayangkan bahwa ada malaikat sedang tertidur disitu.
Namun setelah melihat dada yang naik turun menandakan napas yang menjadi penunjang kehidupan makhluk didepannya, Chanyeol menyadari bahwa dia adalah manusia.
Seakan terhipnotis, Chanyeol mendekati orang tersebut. Orang itu tampak sungguh rapuh dan indah disaat yang sama. Dengan rambut hitamnya yang jatuh menutupi mata karena menunduk. Tubuhnya yang bersandar pada kaca itu tampak sungguh tak nyaman. Kaki yang di selunjurkan tampak menyilang dengan kedua tangan berada dipangkuan.
Chanyeol berjongkok untuk dapat menatap wajah itu lebih jelas. Bias cahaya dari dinding kaca super besar ini terlalu menyilaukan. Membuat mata Chanyeol menyipit dan tak fokus. Serta membuat orang didepan Chanyeol tampak seakan menguarkan cahaya.
"Anda yang bernama Park Chanyeol?" Chanyeol hampir saja tersentak mundur saat suara renyah bagai karamel diantara biskuit itu sampai ditelingamya dan keluar dari bibir manis berbentuk ceri itu.
Chanyeol terpaku, terdiam, dan tak dapat berkutik.
Dirinya bagai pemotong kayu yang ketahuan mencuri selendang peri di dalam dongeng anak- anak. Malu dan entah kenapa merasa berdosa.
Sebelum Chanyeol dapat menjawab, seseorang didepannya yang tadinya Chanyeol kira sedang tidur itupun mendongak. Membebaskan sebagian wajahnya yang tertutupi poni dikening, kemudian mata itu membuka.
Tatapan matanya sungguh datar dan hampa.
Saat Chanyeol bertatapan langsung dengan bola mata berwarna abu- abu itu. Chanyeol merasa dirinya terjebak dalam pusaran angin yang membawanya berputar- putar hingga pusing dan melupakan bahwa dia masih berpijak di bumi.
Perasaan apa ini?. Seakan ada yang bermain- main dengan organ dalamnya.
Memompa jantungnya menjadi lebih cepat, menekan paru- parunya hingga tak dapat bernapas, dan meremas usus dan lambungnya hingga perutnya terasa melilit.
Lalu, seakan tak mengerti bahwa Chanyeol telah berada dalam batas nyawanya, pria didepannya ini malah tersenyum, pria yang amat sangat cantik, luar biasa menggemaskan, sungguh rupawan dan entah bagaimana lagi Chanyeol harus memilih pujian yang tepat, itu tersenyum!.
Dia tersenyum dengan sialan INDAHNYA!. Sungguh mematikan saraf motorik siapapun yang memandang.
Matanya membentuk bulan sabit beserta bibirnya yang terbuka menampilkan gigi kotak- kotak kecil yang sungguh menggemaskan.
"Young man's love lies not truly in their heart, but in their eyes." Ucap pria cantik itu.
Otak Chanyeol terlalu beku sekarang untuk menerjemahkan Bahasa Inggris apapun. Dia tetap membisu dan tak dapat berpikir apalagi berbicara.
"Yang artinya, Cinta seorang pria tak benar- benar terletak dihati mereka, namun dimata mereka. Dari novel klasik Romeo and Juliet, William Shakespeare."
Chanyeol tersentak hebat. Seakan baru saja terjatuh di bumi setelah lama terbang diatas awan.
Apakah kata- kata tadi bertujuan untuk menyinggung nya?. Apakah sekarang Chanyeol tengah mengalami hal tak masuk akal bernama Cinta Pada Pandangan Pertama. Omong kosong macam apa itu. Chanyeol menggeleng kuat untuk mengusir segala pemikiran konyol tersebut. Tidak.. Tidak.. Dia tak sedang jatuh cinta kepada orang asing sekarang. Itu menggelikan.
Chanyeol terus menolak semua bisikan dari cupid- cupid yang berterbang mengelilingi kepalanya.
"Anda Tuan Park Chanyeol kan?" pertanyaan itu terlontar lagi, dan sekarang Chanyeol merasa bersalah karena sedari tadi tak menjawab semua pertanyaan dari pria - cantik - tersebut.
Chanyeol berdehem untuk menetralkan suaranya, mendadak saja tenggorokannya menjadi kering.
"Iya benar, saya Park Chanyeol." Jawabnya.
"Baiklah Tuan Park, saya mohon jangan tersinggung dengan ucapan saya tadi. Saya hanya sudah terlalu terbiasa dengan orang- orang yang terdiam sambil menatap saya selama beberapa saat. Tenang saja, itu bukanlah cinta. Cinta pada pandangan pertama itu mustahil, saya tak akan mempercayainya dan saya harap anda juga tidak."
Chanyeol mengigit bagian dalam pipinya, merutuki dirinya sendiri yang sungguh memalukan sekarang.
Chanyeol mengalihkan pandangannya kemanapun, ke segala arah selain mata kecil dengan iris abu- abu itu. Mata itu membuat Chanyeol merasa sedikit aneh, rasanya seperti ditatap dan tidak ditatap disaat yang sama. Terlalu datar, dingin, dan kosong.
"Anda hanya terpesona Tuan Park, itu wajar. Bukan salah anda menyukai hal yang cantik bukan?. Dan... bila cinta pria memang berasal dari mata seperti yang dikatakan pada ungkapan William Shakespeare tadi, berarti saya tak akan pernah jatuh cinta selama hidup saya."
Chanyeol mendengarkan semua patah kata dari suara semanis caramel dan serenyah biskuit itu. Suaranya membuat nostalgia. Membuat ketagihan dan rindu pada hal yang bahkan tak Chanyeol kenal.
"Karena saya memiliki mata yang tak dapat memandang apapun."
Untuk sekian kalinya Chanyeol tersentak. Jelas sudah, sekarang Chanyeol mengetahui apa kejanggalan dari mata abu- abu sedingin es itu.
Mata itu menjadi kosong dan sepi karena memang tak dapat dimasuki oleh cahaya. Lucunya, mata itu dimiliki oleh seseorang yang tampak selalu diselimuti cahaya.
"Jadi Tuan Park, bisakah kita mulai audisinya?" Mata Chanyeol membelalak.
"J-Jadi.. Anda adalah Tuan Byun?" Chanyeol menjadi terbata.
"Panggil saja Baekhyun bila anda mau, sesungguhnya tak ada aturan untuk memanggil saya dengan terlalu formal." Jawab Baekhyun santai.
Berbanding terbalik dengan wajah tegang Chanyeol, yang baru menyadari bahwa dirinya tengah berhadapan dengan Milyarder termuda Korea Selatan. Si Big Boss yang duduk dibelakang meja CEO dari kerajaan bisnis BB Grub. Chanyeol sungguh, bahkan dalam imajinasi terliarnya, dirinya tak pernah membayangkan bahwa Putra Pewaris Tunggal dari BB Grub ternyata secantik ini.
.
.
.
Sesungguhnya Baekhyun telah mendengar ketukan pintu yang Chanyeol lakukan. Namun Tuan Muda Byun kita lebih memilih untuk menunggu dalam diam, membiarkan Chanyeol masuk sendiri.
Baekhyun juga mendengar sekaligus merasakan bagaimana langkah kaki itu menggema di lantai marmer dingin yang didudukinya. Dapat ditebak dari langkahnya yang mantap. Pria ini sungguh tinggi dan kekar.
Di jarak dua meter darinya, pria yang Baekhyun duga adalah Park Chanyeol itu berhenti. Padahal Baekhyun rasa Chanyeol pasti telah melihatnya dengan jelas dari jarak segitu. Kenapa tak menyapa atau memberi salam padanya?.
Lalu langkah pria itu dengan lambat dan hikmat mendekatinya. Oh... pria ini pasti mengira dirinya tengah tidur.
Aroma jeruk kuning, nilam, jeruk mandarin, dan cedar memasuki indra penciuman Baekhyun. Anehnya semua aroma itu bersatu dengan sungguh lembut. Memberikan aroma segar seperti embun pagi bercampur dengan rumput segar yang baru dipotong ditengah hutan. Sungguh segar dan natural.
"Unik sekali." pikir Baekhyun.
Namun pria dihadapan Baekhyun itu tetap saja tak bersuara sama sekali. Baekhyun telah membayangkan bagaimana rupanya, telah menghirup wangi tubuh yang menguar dari pria tersebut. Dan sekarang Baekhyun ingin mendengar suaranya.
"Anda yang bernama Park Chanyeol?" Baekhyun langsung bertanya. Mengharapkan jawaban yang artinya mendengar suara dari pria asing ini.
Namun tetap tak ada jawaban, pria itu tetap ada disana. Tetap diposisinya berjongkok didepan Baekhyun, mereka berjarak hanya beberapa puluh senti meter, Baekhyun bahkan sesekali merasakan aroma napas pria itu menguar ke wajahnya. Beraroma kayu manis yang hangat.
Baekhyun terdiam memikirkan kenapa pria ini seakan terpaku. Otak jeniusnya berputar memikirkan segala hal. Hingga satu kesimpulan membuat kedua sudut bibirnya tertarik berlawanan. Membentuk senyuman.
Ini rekor, Baekhyun tak pernah tersenyum dengan cerah kepada orang asing secepat ini. Dalam kecepatan nano detik sebuah ungkapan dari buku yang baru saja dia tamatkan langsung terlintas diotaknya. Hingga tanpa sadar Baekhyun mengucapkan ungkapan itu dengan suara yang cukup keras untuk didengar.
Young man's love lies not truly in their heart, but in their eyes - Romeo and Juliet by William Shakespeare.
Baekhyun menyadari pria didepannya sedang terpesona. Sayang sekali Tuan Park, kau terpesona padaku yang bahkan tak tahu apa itu keindahan visual. Jangan bodohi dirimu sendiri untuk jatuh pada pria yang bahkan tak tahu arti dari kata cantik dan indah. Pikir Baekhyun.
.
.
.
Keduanya telah berada di ruang baca diperpustakaan ini. Dipenuhi dengan sofa- sofa yang nyaman dengan berbagai macam ukuran.
Baekhyun berjalan dengan anggun namun tegas menuju salah satu sofa. Sesekali pria cantik itu mengulurkan tangannya untuk meraba benda didepannya. Chanyeol yang melihat itu menggigit bibir bawahnya karena gemas. Baekhyun menguarkan aura yang membuat orang lain ingin melindunginya, ingin disampingnya, dan ingin menemaninya. Hampir mustahil untuk menolak daya tarik tersebut jika hal itu diselimuti dengan wajah cantik nan rupawan yang dilengkapi dengan tubuh indah bak boneka.
"Apakah dia sungguh manusia?" pikir Chanyeol.
Baekhyun pun berhasil sampai ditempat duduknya. Memposisikan dirinya senyaman mungkin di sofa besar berwarna coklat yang sungguh empuk.
"Silahkan duduk Tuan Park, dimanapun yang membuat anda merasa nyaman." Dengan patuh Chanyeol pun duduk, Pria jangkung itu memilih duduk di sofa tunggal disamping sofa besar yang Baekhyun duduki.
"Karena anda tidak seperti para pekerja dan maid di mansion ini, anda juga tidak seperti Jimin yang sudah saya kenal sejak kecil. Jadi sebelum kita mulai, bisakah anda ceritakan sedikit tentang diri anda. Berapakah usia anda Tuan Park?" Baekhyun bertanya dengan sungguh sopan, membuat Chanyeol sedikit salah tingkah, dirinya tak terlalu terbiasa dengan tata krama ningrat seperti ini.
"Saya berumur 20 tahun, Tuan Muda." Jawab Chanyeol, suaranya pelan dan dalam.
Baekhyun tersenyum sopan, "Waw, kita seumuran, seharusnya kita mulai melunturkan bahasa formal ini. Bolehkah aku panggil kau dengan Chanyeol saja? Sehingga kau juga bisa memanggilku Baekhyun saja" tanya Baekhyun.
Ada perasaan mengelitik di perut Chanyeol saat Baekhyun memanggil namanya dengan begitu santai nan akrab. Bagaimana Baekhyun melakukannya?. Membuat hati orang lain menjadi hangat hanya dengan memanggil nama orang tersebut.
"Bagaimana Chanyeol?" Baekhyun kembali bertanya.
"Baik- Maksudku- Iya, Baekhyun..." Suara Chanyeol mengecil saat memanggil nama Tuan Muda sekaligus Tuan Besar Byun tersebut.
Baekhyun tersenyum riang.
"Apa cita- cita mu Chanyeol?" sesungguhnya Baekhyun telah mendengarnya dari Jimin, namun Baekhyun ingin mendengar langsung dari pria didepannya.
"Aku ingin menjadi pemusik yang karyanya di ketahui semua orang, aku ingin menjadi pemusik yang mana karyaku tak pernah mati bahkan saat raga ku telah mati. Bila itu terwujud, aku merasa bahwa aku menjadi orang yang abadi, selalu hidup dalam jiwa orang- orang yang menyayangiku. Bagiku... dibandingkan ingin menjadi terkenal, aku lebih ingin menjadi seseorang yang dikenang." Seperti yang Baekhyun duga, seseorang pasti akan menjadi semangat saat membicarakan tentang mimpi dan harapannya. Tak terkecuali Chanyeol.
Salah satu hal didunia ini yang Baekhyun suka, seseorang yang memiliki mimpi didalam hatinya. Tak perlu mimpi yang besar, mimpi kecil pun sama berharganya. Karena sesungguhnya tak ada mimpi yang besar ataupun kecil. Semua mimpi itu berharga.
"Itu adalah mimpi yang indah Chanyeol. Aku harap aku bisa menjadi salah satu orang yang terlibat dalam perjuangan meraih mimpi mu. Namun tentu saja kau harus berjuang lebih keras untuk keberhasilan mimpi tersebut, bukan mimpi namanya bila dapat diraih dengan mudah bukan?" Baekhyun berkata dengan suara renyahnya yang sungguh nyaman didengar.
Obrolan pun berlanjut kepada hal- hal lain. Seperti jenis musik apa yang Chanyeol sukai. Apa saja bakatnya yang lain selain memainkan gitar dan bernyanyi. Dan semuanya terfokus kepada Chanyeol.
Chanyeol mengira dirinya akan ketakutan dan gugup setengah mati dalam audisi penting seperti ini. Namun kenyataannya, Chanyeol sungguh rileks dan tenang. Rasanya seperti berhadapan dengan teman lama. Tuan Muda Byun Baekhyun yang berada didepannya ini, sungguh berhasil membuat suasana menjadi nyaman bagi siapapun.
Bahkan bila mereka berdua hanya melontarkan kalimat basa- basi, itupun tak akan pernah terasa basi. Baekhyun selalu merespon dengan antusias pada hal yang bahkan tak penting sekalipun. Sungguh teman bicara yang menyenangkan.
Tak seperti orang- orang kaya lainnya yang mana keberadaan mereka selalu mengintimidasi orang lain, Baekhyun justru sebaliknya. Dia bagai bunga yang menarik semua lebah yang membutuhkan madu nektar untuk memenuhi dahaga, dan dilengkapi aroma manis serta keindahan khas bunga yang sungguh nyaman dipandang.
.
.
.
Obrolan terus dan terus berlanjut. Chanyeol melirik jam tangannya, terhitung sudah dua jam mereka mengobrol. Dirinya sudah bertanya- tanya, kapankah audisinya dimulai. Baekhyun seolah- olah terus menuntutnya untuk menceritakan tentang dirinya. Mereka sudah membicarakan banyak hal tidak penting, seperti bagaimana kondisi flat Chanyeol, apakah nyaman tinggal disitu, bagaimana keamanannya, apakah pembayaran perbulannya sungguh mahal, terkadang Baekhyun banting stir topik menjadi bagaimana Chanyeol mendapatkan inspirasi dari lagu- lagunya, siapa penyanyi kesukaan Chanyeol, lagu apa saja yang sering Chanyeol dengarkan, bila Chanyeol sungguh menjadi pemusik yang terkenal siapakah yang ingin di ajaknya berkolaborasi, dan masih banyak lagi.
Chanyeol bingung. Namun dia tak berani bertanya. Sedangkan Baekhyun tak menampilkan gerak- gerik ingin mengakhiri obrolan mereka.
Batin Chanyeol sudah berteriak tak sabar, kapankah audisinya dimulai. Entah mengapa obrolan ini malah membuatnya gelisah.
Tanpa sadar Chanyeol menggoyangkan kakinya tak sabar, yang tentu saja disadari oleh Baekhyun yang sungguh peka dengan suara.
Baekhyun tersenyum lembut.
"Anda lolos audisi tahap pertama Tuan Park." Ujar Baekhyun dengan bahasa koreanya yang kembali menjadi formal.
Chanyeol terbelalak.
"A-Aku, ah maksudku saya... apa?" Keajaibanlah yang membuat Chanyeol masih dapat berkata- kata sekarang.
"Apa maksudnya ini?!" Jerit hati Chanyeol tak mengerti.
"Saya mengatakan, anda lolos audisi tahap pertama." Baekhyun mengulanginya dengan nada yang sama.
"Tapi, kapan audisinya dimulai?" Chanyeol masih tak mengerti.
"Sejak kita mulai mengobrol. Saya sudah dari awal menunggu, anda akan menyela obrolan yang menarik ini untuk sekedar bertanya kapankah audisi yang sebenarnya dimulai Tuan Park. Dan ternyata anda lebih sabar dan sopan daripada yang saya duga. Anda gelisah dan penasaran namun terlalu sopan untuk menyela pembicaraan kita hingga berlangsung selama kurang lebih dua jam bukan?. Itu sungguh baik sekali. Itulah audisi tahap pertamanya, bersabar. Dan selamat, anda lolos."
Chanyeol menganga mendengar itu.
Sebenarnya orang seperti apakah Tuan Muda Byun Baekhyun didepannya ini. Dia tampak simple dan tenang. Namun seakan menyimpan banyak hal rumit dan komplek. Tak ada yang tahu bagaimana Baekhyun didetik selanjutnya. Jalan pikirannya sungguh tak tertebak. Apakah inilah salah satu hal yang membuatnya terus sukses seperti sekarang. Sepertinya memang begitu.
.
.
.
Baekhyun sesungguhnya gugup.
Dari awal pria didepannya mengucapkan sesuatu. Baekhyun merasakan perasaan... tenang.
Tak seperti suara Xiumin yang lembut.
Tak seperti suara Jimin yang kekanakan.
Tak seperti suara Kyungsoon yang manis.
Tak seperti suara pekerja dan maid lainnya yang terdengar nyaman ditelinganya, namun tak menyentuh hatinya.
Suara pria ini seperti kopi.
Yeah right.
He sounds just like coffee.
Yang dapat membuatmu rileks hanya dengan mencium aroma nya. Suaranya pahit dan sungguh jantan. Disaat bersamaan suara Chanyeol sungguh keras dan dalam. Namun menjanjikan ketenangan bagi siapapun yang mencicipinya, seperti kopi.
Namun ada satu masalah. Bila suara pria ini seperti kopi. Maka artinya, dia berlawanan dari keinginan Baekhyun. Baekhyun memerlukan seseorang dengan suara yang dapat membuatnya tertidur, namun kopi adalah zat berkafein yang adiktif, dan akan terus membuat Baekhyun terjaga.
Baekhyun bimbang.
Baekhyun ingin terus mendengar suara Chanyeol. Namun Baekhyun takut, dirinya takut bila ternyata suara Chanyeol tak seperti yang dia harapkan. Dirinya bahkan sengaja membuat audisi yang menyimpang seperti ini hanya untuk dapat mendengar suara Chanyeol lebih lama lagi. Sesungguhnya hal ini juga berguna untuk menguji kesabaran pria didepannya, karena pada dasarnya orang yang bekerja bersama Baekhyun haruslah memiliki tingkat kesabaran yang tinggi.
Apakah aneh bila Baekhyun mengakui ini?
Bila Baekhyun sendiri justru takut bahwa Chanyeol bukanlah suara yang dirinya butuhkan.
Baekhyun takut bila Chanyeol gagal.
Baekhyun mengigit pipi bagian dalamnya. Menahan dirinya untuk tak mulai berbicara pada dirinya sendiri. Tak ingin menampilkan kebiasaan anehnya saat memikirkan sebuah keputusan dihadapan Chanyeol. Lihatlah Byun Baekhyun!, kau bahkan mencoba menjaga sikap dihadapan pria ini, ini sungguh aneh. Batin Baekhyun berteriak.
"BAIKLAH!! AMBIL SAJA RESIKONYA BYUN BAEKHYUN!!" Baekhyun meyakinkan dirinya sendiri didalam hatinya.
.
.
.
Chanyeol menatap Baekhyun yang anehnya malah menjadi terdiam. Chanyeol bahkan mengira pria itu tertidur, oh.. Chanyeol yang malang, andaikan kau tahu seberapa sulit usaha yang Baekhyun lakukan hanya untuk dapat tidur.
"Tuan Park, bisakah anda ambilkan buku bercover biru diatas meja kecil samping anda?" Ujar Baekhyun.
Chanyeol pun otomatis menatap meja kecil yang diatasnya terdapat lampu baca tersebut. Bagaimana bisa dirinya tak sadar bahwa ada buku disitu, sedari tadi bahkan sudah ada sebelum dirinya datang ke perpustakaan ini.
"Kita mulai audisinya, bacalah... dari halaman 331. Saya menyukai puisi dan akhir dari Bab itu, pada buku tersebut." Ujar Baekhyun dan tentunya Chanyeol menurutinya.
Chanyeol bahkan membuka buku tersebut tanpa melihat judulnya. Terlalu bersemangat untuk memulai audisi yang sebenarnya. Tipikal Chanyeol sekali.
Chanyeol pun mulai membacanya.
Dia memandangku. Matanya berenang- renang di dalam rongga matanya. "Kau berjanji."
Dia mengangguk lemah, lalu matanya terpejam, kepalanya berputar dilehernya.
"Gus," kataku. "Tetaplah bersamaku."
"Bacakan sesuatu," katanya ketika ambulans keparat itu meraung persis melewati kami. Jadi, sementara menunggu mereka memutar dan menemukan kami, aku mendeklamasikan satu- satunya puisi yang bisa kuingat, "Gerobak-Dorong Merah" karya William Carlos Williams.
begitu banyak yang bergantung
pada
gerobak- dorong
merah
berlapis air
hujan
di samping ayam- ayam
putih.
William adalah seorang dokter. Bagiku tampaknya ini puisi seorang dokter. Puisinya sudah selesai, tapi ambulans itu belum juga berhenti, jadi aku meneruskannya.
Dan begitu banyak yang bergantung, kataku kepada Augustus, pada langit biru yang dibuka oleh dahan- dahan pepohonan di atas. Begitu banyak yang bergantung pada selang-G transparan yang menyembul dari perut bocah laki- laki berbibir biru. Begitu banyak yang bergantung pada pengamat alam semesta ini.
Dengan setengah sadar, Gus melirikku dan bergumam, "Dan kau bilang kau tidak menulis puisi."
.
.
.
"Ini buku yang sedih." Pikir Chanyeol
Lembar terakhir dari Bab itu selesai Chanyeol baca. Dirinya bingung harus melanjutkan atau tidak. Membuatnya mendongak untuk bertanya pada Baekhyun.
Namun Chanyeol terdiam dengan mulut setengah terbuka yang awalnya bersiap untuk bersuara.
Mulut Chanyeol menutup dengan perlahan. Menelan kata- kata yang tadi ingin diucapkannya. Dirinya justru menjadi terdiam saat melihat pria cantik didepannya.
Baekhyun tampak sungguh rapuh,
namun damai,
saat pria cantik itu,
tertidur.
.
.
.
TBC
.
.
AN :
MAAFKAN AKUUUUU!!!!!!
SUMPAH MAAF BANGET UPDATENYA TELAT BANGET. Awalnya ku selalu berusaha untuk selalu update chapter baru selambat- lambatnya dalam sepuluh hari. Tapi ini bahkan udah setengah bulan. Ku berusaha menebusnya dengan update 2 chapter sekaligus.
Aku boleh curhat dikit gak?. Makasih kalau ada yg mau baca curhat ini.
Kucing ku sakit parah kemarin T-T . Kami harus bolak balik dokter hewan. Dia gak mau makan dan terus- terusan diare. Bener- bener bikin hati tersiksa liat dia kesakitan gitu.
Dan hal tersebut berimbas pada FF ini. Aku sungguh berusaha mengetik FF ini tanpa memasukkan suasana hati ku. Tapi kayanya tetap aja ya... ku bingung harus bagaimana karena feel ff ini jadi suram banget T-T. Hiks, ku sudah berusahaaa.
Ku bahkan udah pasrah dan silahkan benci aku kalau FF ini bikin kalian kecewa.
PS : Buku yang Chanyeol baca itu berjudul The Fault In Our Star by John Green. Pasti banyak yang udah tahu karena karya fenomenal itu famous banget.
.
.
And never forget,
My Special Thanks for My Special People :
ChanBaek09 , jungkkhope , dan Guest
Terima kasih juga untuk yang udah Favorite dan Follow cerita ini.
Semoga kalian berbahagia selalu. Semoga puasanya lancar bagi yang melaksanakan. Semoga kita cepet ketemu lagi. Lets Love Eri! /Bow
