Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Shin Jimin AOA, etc
Genre : Romance , Drama , Little bit Hurt, BxB, and I'm trying so hard to make this fic being so fluffy.
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 7 : Just With You
.
.
The Red Wheelbarrow
William Carlos Williams
so much depends
upon
a red wheel
barrow
glazed with rain
water
beside the white
chickens.
.
.
Musim Semi 2011
Ditengah malam diakhir musim semi. Hujan mengguyur sebagian wilayah Korea Selatan. Membuat tidur orang- orang yang berada dibawah awan dan rinai hujan itu menjadi semakin nyenyak.
Pria berambut merah bernama Park Chanyeol adalah salah satunya. Dengan ditemani suara lembut hujan yang sungguh menenangkan, Chanyeol memasuki fase tidur yang semakin dalam.
Chanyeol merasa tidurnya sungguh nyenyak malam ini. Dikelilingi aroma buku, beralaskan tikar yang entah mengapa sungguh nyaman dan lembut, dan jangan lupakan guling yang amat sangat nyaman untuk dipeluk, serta menguarkan aroma stroberi yang sungguh manis.
Chanyeol sungguh menyukai guling ini. Pria 20 tahun itupun semakin mengeratkan pelukannya pada guling tersebut.
Berbeda dengan Chanyeol yang tidurnya justru semakin nyenyak. Sedangkan Baekhyun -si guling Chanyeol- justru terbangun karena mendengar guyuran hujan mengelilingi mereka.
Dia adalah pria yang sensitif dengan suara. Begitulah adanya.
Aroma napas Chanyeol menerpa ujung atas rambut Baekhyun. Tangan kiri pria tinggi itu menjadi bantal kepala Baekhyun, sedangkan tangan kanannya mendekap Baekhyun dengan sungguh erat. Jangan lupakan kaki Chanyeol yang sudah melilit tubuh Baekhyun disana sini.
"Ohh.. sungguh lancang sekali." Komentar Baekhyun sambil tertawa didalam hatinya.
Jika saja Chanyeol dalam keadaan sadar. Mungkin pria itu justru terkena serangan jantung karena terlampau gugup, sebelum dapat mengurung seorang Milyader Termuda Korea Selatan bernama Byun Baekhyun itu didalam rengkuhannya.
Meski sesak, Baekhyun justru menikmati seluruh perilaku Chanyeol padanya. Suhu udara semakin turun sebab hujan lebat yang mengguyur diakhir musim semi ini. Membuat Baekhyun sedikit mengigil, alhasil, Flower Boy yang dijuluki CEO Jenius BB Grub itupun justru menyerahkan dirinya sendiri untuk meringkuk lebih dekat didalam pelukan seorang Park Chanyeol.
Pria cantik rupawan itu mencoba memejamkan matanya. Untuk kembali ikut tidur menyusul Chanyeol.
Namun,
Lucunya dan sekaligus ironisnya, Baekhyun justru tak bisa tidur sekarang. Kita tak bisa melupakan fakta bahwa Baekhyun perlu mendengarkan seseorang membacakan sesuatu kepadanya agar dirinya dapat tertidur.
Dan yang dapat melakukan itu hanyalah Park Chanyeol seorang.
Aneh memang, namun bilang kenyataannya memang begitu, Baekhyun mau bagaimana lagi.
Baekhyun tersenyum sendiri, mengingat bagaimana bisa dirinya dua kali tertidur disebabkan Puisi Gerobak-Dorong Merah. Dan akhirnya Tuan Muda Baekhyun sungguh tertawa dengan geli karena mengingat fakta itu terus- menerus.
"Kau tahu, saat tengah malam ada seseorang yang tertawa tanpa alasan, itu dapat membuat orang lain menjadi merinding ketakutan." Suara husky Chanyeol terdengar sungguh serak saat mengatakan itu, khas seseorang baru bangun tidur. Pria itu berbicara dengan masih menutup matanya.
Suara Chanyeol yang berpadu dengan suara hujan diluar, hummm.. itu sungguh perpaduan yang tak biasa.
"Kau terbangun?. Tidurlah lagi.." Ujar Baekhyun ramah.
Mendengar itu Chanyeol merasakan sebuah hantaman menuju dadanya. OH ASTAGA, adakah suara lain yang lebih menggemaskan daripada suara bangun tidur Baekhyun. DIAM KALIAN SEMUA, Chanyeol akan memerangi siapapun yang berani mengatakan ada.
"Apa yang kau tertawakan?" Chanyeol bertanya, pria tinggi itu mencoba -sekuat tenaga- bersikap seakan- akan dirinya tak sadar dimanakah kaki dan tangannya bertandang sekarang.
"Gerobak-Dorong Merah." Jawab Baekhyun.
Chanyeol tetap diam, dia tahu Baekhyun akan melanjutkan penjelasannya. Entah mengapa Chanyeol merasa mereka berdua pernah bertemu entah dimana. Chanyeol merasakan perasaan nostalgia akan segala hal tentang Baekhyun. Mereka berdua terasa akrab dan dekat.
Entah ini hanya ilusi Chanyeol yang merasa bahwa dirinya sungguh akrab dengan Tuan Muda Byun ini tanpa harus berkenalan lama, atau ini hanyalah salah satu pesona Byun Baekhyun? Dapat membuat orang lain menjadi sungguh nyaman dan terbuka pada pria mungil tersebut. Chanyeol tak tahu, yang pasti dirinya hanya ingin terus berada didekat pria didalam dekapannya ini.
"Kurasa aku tak akan bisa melupakan akan fakta bahwa diriku dua kali tertidur karena puisi tentang gerobak dorong. Sepertinya disepanjang sisa hidupku nanti, seluruh gerobak didunia ini akan membuatku ingat pada hari ini. Itu sungguh lucu, karena itulah aku menertawakannya" Jelas Baekhyun, tunggu sebentar, mari kita semua mengingat kembali, sejak kapan Tuan Muda Byun Baekhyun secerewet, sesantai, dan seterbuka ini.
Chanyeol menepuk- nepuk pelan punggung Baekhyun. Chanyeol berkesimpulan Baekhyun akan menyukai perlakuan seperti itu, dan tentunya itu benar. Terbukti dengan makin merapatnya Baekhyun padanya. Semakin mendekat bahkan disaat tubuh mereka memang sudah tak berjarak sama sekali.
Chanyeol pun membuka matanya. Melihat bagaimana dirinya yang tengah tidur dengan posisi menyamping sambil memeluk Baekhyun. Chanyeol pun merendahkan kepalanya, membuatnya sejajar dengan wajah Baekhyun.
"Kurasa, aku juga akan terus mengingat saat ini bila melihat gerobak merah manapun di dunia ini. Saat- saat pertama kali kita bertemu" Ujar Chanyeol, menimpali ucapan Baekhyun tadi.
Baekhyun tersenyum.
Chanyeol yang melihatnya juga ikut tersenyum, meskipun Baekhyun tak akan dapat melihat senyum pemuda jangkung itu.
"Apakah kau memang seperti ini?" Tanya Chanyeol, dan Baekhyun mengerutkan kening tak mengerti.
"Seperti apa?"
"Seperti ini, mudah tersenyum, ramah, dan amat sopan kepada orang lain, sehingga orang- orang menjadi tak bisa untuk tak menyukaimu." Ujar Chanyeol.
Dan tanpa diduga, justru membuat Baekhyun terdiam. Cukup lama hingga membuat Chanyeol merasa bersalah dan ingin menarik kembali ucapannya.
"Maafkan ak-"
"Tak apa." respon Baekhyun cepat, sebelum Chanyeol dapat berkata.
"Kurasa aku memang seperti itu. Ada wanita jahat yang dulu sungguh membenciku karena perilaku ku terus menyinggungnya tanpa aku sadari. Kurasa sejak saat itu aku selalu berusaha untuk menyenangkan hati orang lain dan menghindari mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti dan menyinggung hati orang lain." Nah kan... Tuan Muda Byun berubah menjadi cerewet, bila berhadapan dengan Chanyeol tentunya.
"Itu... wanita yang ada dimimpimu?" Chanyeol bertanya dan Baekhyun mengangguk sebagai jawaban.
"Dia menakutkan?" Chanyeol kembali bertanya.
Baekhyun menghela napas berat, membicarakan Lee Sunmi adalah topik yang sangat tak bisa disebut menyenangkan.
"Lebih daripada itu, wanita itu mengerikan." Jawab Baekhyun seraya menutup kedua matanya, lalu balik memeluk pinggang Chanyeol, membuat yang lebih tinggi menjadi terdiam bagai patung.
"Ayo kita berhenti membicarakannya, bacakan aku sesuatu agar aku bisa tidur, besok adalah hari yang sibuk untuk kita." Baekhyun berucap pelan, mengabaikan tubuh Chanyeol yang menjadi menegang saat dipeluk olehnya.
Setelah berhasil menguasai dirinya, Chanyeol mencoba untuk bangkit. Ingin mengambil salah satu dari ribuan buku di perpustakaan ini. Namun ada sebuah tangan halus yang menahan pinggangnya.
"Kau mau kemana?" Ini hanya imajinasi Chanyeol, atau dirinya sungguh mendengar nada posesif dari suara Tuan Muda Byun didepannya ini.
Pasti hanyalah imajinasi ku, batin Chanyeol berkilah.
"Mengambil buku untuk kubacakan pada mu." Jawab Chanyeol kemudian.
Baekhyun terdiam sebentar, lalu perlahan melepaskan pelukannya, "Baiklah." Ujarnya singkat, seraya ikut bangkit, mendudukan dirinya di atas permadani.
Keduanya pun berhadapan dengan posisi duduk dilantai.
Baekhyun menatap kosong kearah Chanyeol. Sedangkan Chanyeol memandang Baekhyun dengan tatapan dalam.
Pria jangkung itu penasaran, sebenarnya saat kapan Baekhyun akan terlihat jelek. Bahkan dalam keadaan kemeja acak- acakan, celana kain hitam nya kusut, makeup yang berantakan dengan eyeliner luntur mengelilingi sekitaran mata sipit lucu itu, dan jangan lupakan rambut sehitam arang itu yang sungguh jauh dari kata rapi. Baekhyun masih tampak sungguh indah bahkan disaat paling berantakan sekalipun.
Dan yang lebih menakjubkan adalah, Baekhyun sama sekali tak berusaha untuk tampak indah, pria itu memang -sialan- cantik dari sananya.
"Kau pasti sudah bosan dipuji cantik." Ya, itu adalah Chanyeol yang berucap tanpa sadar.
"Sangat." Jawab Baekhyun singkat dan tegas, suaranya terdengar tanpa ragu sedikitpun.
"Dan faktanya -bukan maksud menyombongkan diri- sudah banyak orang yang rela mati untuk melindungi si cantik ini, dan si cantik ini juga pernah hampir mati karena kecantikannya." Sepertinya Tuan Muda kita tak akan pernah bisa melupakan kenangan mengerikan yang pernah dialaminya saat batita dulu.
Ini bukan salah Chanyeol, namun entah mengapa dirinya merasa bersalah, pada hal yang bahkan dirinya tak paham. Sepertinya Baekhyun adalah tipe orang yang tak nyaman mendengar pujian. Entah Baekhyun sadar atau tidak, pria itu seperti menahan amarah lalu melontarkan kalimat- kalimat yang akan membuat seseorang yang memujinya menjadi mati kutu.
Suasana tiba- tiba menjadi canggung. Dan sebuah kecanggungan adalah hal yang selalu membuat Chanyeol merasa tak nyaman.
Baekhyun benci pujian.
Dan Chanyeol benci kecanggungan.
Great, mereka sama- sama aneh.
"Kau tidur hampir semalaman dengan pakaian formal seperti itu, kau bahkan masih menggunakan sepatu kulit. Pasti tak nyaman sekali." satu- satunya pilihan Chanyeol adalah mengalihkan pembicaraan.
Tanpa dia duga, perkataan itu justru membuat Baekhyun tersenyum manis. Oh... Chanyeol paham sekarang, Tuan Muda Byun ini lebih menyukai sebuah perhatian daripada sebuah pujian. Dua hal yang terkadang sungguh mirip namun nyatanya berbeda.
"Lalu, apa kau bersedia membantuku mengganti baju, Tuan Park?"
Pertanyaan itu membuat Chanyeol gelagapan, Oh No... Baekhyun bahkan sampai kembali memakai bahasa formal kepadanya.
"TIDAK! Bukan! Er... Maksudku, em.. Maksud saya..." Telinga Chanyeol menjadi memerah karena malu, dan bersyukurlah Chanyeol karena Baekhyun tak dapat melihatnya.
"Pft.. Hahaha.."
Suara tawa Baekhyun membuat Chanyeol menghentikan perkataan apapun yang sedang dia coba utarakan. Chanyeol menatap pria mungil didepannya dengan cemberut, merasa dipermainkan. Oh.. jangan salah, dirinya suka melihat Baekhyun tertawa, namun sedikit menyebalkan bila itu karena Baekhyun menjadikannya sebagai lelucon.
"Kau puas?" Owwww.. ada Giant Baby sedang merajuk.
Baekhyun juga sedikit terkejut, karena ini adalah pertama kalinya Baekhyun mendengar nada suara seperti itu dari Chanyeol.
"Kau marah?" tanyanya.
"Tidak." jawab Chanyeol, berlawanan sekali dengan nada suaranya. Tentunya Baekhyun menyadari itu.
Ternyata Chanyeol adalah pembohong yang buruk, pikir Baekhyun. Menciptakan tawa jahat di dalam hati Baekhyun.
"Kau iya." Sepertinya Baekhyun masih belum puas untuk menggoda Chanyeol.
Dengan wajah semakin menekuk Chanyeol menjawab, "Aku tidak!" dengan suara tegas.
"Ahahaha... Kau iya!" Tak ada kata menyerah bagi Baekhyun.
"Sudah kubilang tidak!. Berhenti menertawakan aku." Begitu pula bagi Chanyeol.
"Nahh.. benarkan, kau marah."
Chanyeol sampai menutup matanya untuk menahan kesal. Rasanya Chanyeol ingin kabur saja.
"Tidak." Jawabnya.
"Iya."
"tidak."
"Iyaaaa.."
"tidakkkk.."
"Iya iya iya iya"
"Tidak tidak tidak tidak"
" Iya, kau tidak marah Park Chanyeol."
"Tidak, aku marah Byun Baekhyun."
Segalanya menjadi hening.
Chanyeol berkedip beberapa kali.
"Eh?" Chanyeol menjadi blank, dirinya tadi bilang apa?
Sedangkan Baekhyun sudah melebarkan senyum kemenangannya.
"Kau sudah mengakuinya.." Baekhyun berucap itu dengan penuh kebanggaan pada diri sendiri.
"Apa?! Tidak!! Aku tak pernah mengaku aku marah!, kau curang!." Chanyeol membantah dengan panik.
"Oh.. jadi kau memang marah, tapi tak ingin mengaku saja?"
"Iya! eh? Maksudku tidak!. emm.. maksudku iya.., Eh.. aku sekarang jadi bingung apa perbedaan Iya dan Tidak." Chanyeol menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Luar biasa bingung.
Baekhyun bukan lagi tertawa geli. Pria cantik itu bahkan tertawa terbahak- bahak hingga memegangi perutnya.
"Ahahahhahahha!! Bagaimana bisa ada pria selugu dirimu di abad 21 seperti ini." Suara tawa Baekhyun memenuhi setiap sudut ruang perpustakaan ini, bahkan mungkin terdengar sampai keluar.
Chanyeol menghela napas kesal, harga dirinya sebagai pria paling cool satu komplek apartemen seperti telah terbanting ke tanah. Dirinya tak bisa menerima ini.
"Aku tidak lugu." Ujar Chanyeol kesal.
Yang justru semakin membuat Baekhyun tertawa.
"Kau iya." Baekhyun menjawab sambil tertawa.
Chanyeol menggertakkan giginya kesal, "Haishh aku tidak!"
"Oh tidakk... kumohon jangan mulai perdebatan yang lain lagi. Aku akan mati karena tertawa." Baekhyun berucap disela tawanya.
Chanyeol mendengus melihat itu, "Aku baru tahu ternyata kau sungguh menyebalkan. Apakah kau aslinya memang selalu seperti ini?" Tanya Chanyeol sinis.
Tak diduga, Baekhyun justru menggeleng.
"Tidak... aku seperti ini hanya padamu."
Chanyeol terdiam.
Baekhyun ikut terdiam.
Hujan diluar pun ikut berhenti, mendukung dalam menciptakan suasana sunyi.
Bahkan nyamuk perpustakaan pun tak berani bersuara.
Rona merah merambati wajah keduanya dengan sungguh cepat. Hanya dalam waktu beberapa detik saja wajah keduanya sudah menjadi merah padam.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun merasakan wajah dan tubuh mereka menghangat sebab aliran darah dibawah kulit mereka yang sungguh cepat menuju kepermukaan. Membuat kedua anak adam itu salah tingkah dan tak tenang ditempat duduk masing- masing.
"Ekhm.. hahaha... kurasa aku harus mencari buku yang bagus untuk kubaca." Chanyeol berdehem dan tertawa palsu yang Demi Tuhan sungguh terdengar canggung, dirinya bangkit lalu kabur dari suasana canggung yang dapat membuatnya mati karena malu jika duduk lebih lama lagi di hadapan Baekhyun, bahkan bila itu hanya sedetik.
Sedangkan Baekhyun, pria mungil itu telah menundukkan kepala sambil memegangi kedua pipi dengan kedua telapak tangannya.
"Hangat..." Gumamnya dengan sungguh pelan dan hanya dapat didengar oleh Byun Baekhyun seorang. Entah itu ditujukan pada kedua pipinya ataukah ditujukan pada relung hatinya. Biarlah hanya Baekhyun dan Tuhan yang tahu kebenarannya.
.
.
Tanpa keduanya ketahui atau mungkin sebenarnya salah satunya tahu, hanya saja tak mengingat fakta ini sekarang. Diluar pintu perpustakaan, terdapat dua maid yang bertugas untuk berjaga didepan pintu tersebut, meski biasanya mereka berjaga didepan kamar Tuan Byun saat malam hari, malam ini sedikit spesial karena sang Tuan Muda justru tidur didalam perpustakaan.
Keduanya berada disitu untuk siap siaga bila dipanggil Tuan Muda mereka jika saja Tuan Byun memerlukan bantuan, dan malam ini tambahan satu Maid untuk berjaga jika Tamu Tuan Muda mereka juga memerlukan bantuan.
Dan satu lagi hal yang pasti, keduanya telah mendengar sebagian besar canda tawa Tuan Muda mereka bersama pemuda bernama Park Chanyeol didalam sana.
Ohh.. tenang saja, menjadi Maid di Mansion Byun membuat mereka paham akan sebuah ungkapan.
Biarkan Pohon di Dalam Rumah Kaca
Yang artinya, bagaimanapun indahnya tanaman di dalam rumah kaca. Kita harus tetap membiarkan tanaman itu didalam. Jangan mengeluarkannya atau tanaman itu akan mati dan membusuk. Lalu baunya akan menyebar kemana- mana dan masalahpun semakin membesar.
Singkatnya, itu adalah pribahasa yang menegaskan Maid untuk tutup mulut, seberapa indah pun cerita didalam Mansion ini.
"Kau dengar itu? Mereka berdebat seperti anak sekolah dasar. Manisnya.." Bisik Maid yang rambutnya disanggul dengan rapi.
Sedangkan Maid dengan rambut lurus diurai disampingnya, hanya tersenyum menanggapi.
Tak ada aturan dalam berpenampilan di Mansion ini. Jika pekerja dan maid ingin berseragam silahkan, dan jika tidak juga silahkan, mereka juga bebas untuk menata rambut mereka sesuai kehendaknya. Penampilan mereka cukup bebas. Asalkan tetap sopan, tidak terlalu mencolok hingga menyakiti mata, intinya sewajarnya saja, yang membuat diri mereka nyaman dan percaya diri.
"Aku bersyukur memiliki shift malam untuk hari ini. Aku jadi dapat mendengar suara tawanya, astaga.. Tuan Muda sungguh manis, kau tahu.. ini adalah pertama kalinya aku mendengar suara tawanya. Sebelumnya aku hanya mengetahui itu dari cerita ibuku yang menjadi Maid disini saat Tuan Byun masih kecil." Ujar Maid berambut hitam lurus yang telah disanggul rapi.
Keduanya berbicara dengan suara berbisik. Diingatkan sekali lagi, tak ada ruangan kedap suara di Mansion ini kecuali ruang musik. Sehingga, kedua Maid ini tak mau suara mereka terdengar sampai kemana- mana.
"Aku juga bersyukur karena telah bertukar shift dengan Hani Eonni malam ini." Ujar Maid satunya yang lebih memilih untuk mengurai rambut lurus dan hitam legam nya.
"Itu karena kau terlalu baik Kyungsoon ah, ckckck.. kenapa para maid senior sungguh suka menukar shift malamnya dengan shift siang yang dimiliki maid junior, kita harus melaporkan ini pada Tuan Muda." Ujar Maid bersanggul rambut itu kepada Kyungsoon.
Kyungsoon menggeleng.
"Biarkan saja, aku menikmati pekerjaan ini." Gadis itu tersenyum tulus.
"Kau memang aneh. Hei, ini bukan hanya tentang dirimu. Banyak Maid Junior lain yang menjadi kurang tidur karena shift siang mereka terus ditukar paksa dengan shift malam maid- maid senior." Kyungsoon menatap gadis didepannya.
"Kau sungguh tegas dan berani Seulgi ah" Ujarnya kemudian dengan suara yang amat pelan.
Seulgi hanya tersenyum manis.
"Itu karena aku ingin berkencan saat malam hari dan saat shiftku kosong, tapi terus tak bisa sebab mendapat shift malam berturut- turut."
Kyungsoon memutar bola matanya.
"Aku tarik lagi pujianku, dasar kau rubah licik. Siapa lagi yang kau kencani sekarang?." Tanya Kyungsoon mencemooh.
Sepertinya hubungan kedua Maid ini sungguh akrab. Seulgi menampilkan senyumnya yang manis.
"Aku tak tahu, kurasa aku akan memilihnya dari salah satu koleksiku nanti. Tergantung moodku"
Kyungsoon menganga.
"Kau kira kekasih itu seperti sepatu dilemari?. Bisa kau pilih yang mana saja untuk di ajak jalan. Lalu kau lepas begitu saja saat sudah pulang kerumah. Lalu memakai sepatu yang baru lagi besoknya tergantung mood mu."
"Berhenti mengkhawatirkan kisah cintaku." Ujar Seulgi kesal.
"Oh.. seperti ada cinta saja di antara kau dan belasan kekasih mu itu."
Seulgi hanya mendengus kesal. Tak dapat membantah karena perkataan Kyungsoon memang benar. Namun gadis itu tak benar- benar bisa marah pada Kyungsoon, mungkin beberapa jam lagi keduanya kembali mengobrol dengan santai.
Bagaimanapun begitulah interaksi sahabat dekat bukan?. Lagipula Seulgi sudah terlampau biasa dengan semua hal tajam yang keluar dari mulut Kyungsoon. Gadis itu terlalu berterus terang.
Ow... ada yang terkejut? Karena ternyata Kyungsoon yang manis didepan Tuan Byun dapat berbicara kejam seperti itu?. Janganlah kalian terkejut. Bagaimanapun dia adalah putri Tuan Do dan Adik Perempuan dari Do kyungsoo yang keduanya juga terkenal memiliki mulut pedas.
Buah selalu jatuh tak jauh dari pohonnya. Sungguh menakjubkan bagaimana nenek moyang kita dapat menciptakan pribahasa yang bahkan masih dapat digunakan hingga abad 21 seperti sekarang.
"Menurutmu, apakah Park Chanyeol itu akan menjadi sahabat Tuan Muda?" Dibilang juga apa, lihat... Seulgi kembali memulai percakapan untuk mereka berdua.
Kyungsoon tersenyum menanggapi hal tersebut.
"Semoga saja." Jawab Kyungsoon.
"Iya.. semoga saja." Dan Seulgi ikut menimpali dengan senyuman manisnya.
"Semoga saja mereka tak lebih dari sekedar teman." Lanjut salah satu dari kedua gadis ini, dan tentunya hanya didalam hati terdalamnya.
.
.
Malam ini sepertinya memang sungguh spesial. Lantai 2 Mansion Byun yang biasanya sepi dan hanya di isi dengan hilir mudik Maid yang membersihkannya saja. Namun malam ini Lantai 2 justru sungguh ramai dihuni oleh tamu- tamu si Tuan rumah.
Jimin, Xiumin, dan Chen ternyata memilih untuk menginap di Mansion megah milik Tuan Muda tersayang mereka. Percayalah, jangankan untuk marah, Tuan Muda Byun justru akan sangat senang bila mengetahui bahwa orang- orang terpercayanya memilih untuk tidur didalam rumah nya. Yang sesungguhnya sudah sering Xiumin dan Jimin lakukan sejak kecil.
Xiumin tak bisa tidur malam ini.
Ingin tahu alasannya?
Oke, tapi Xiumin mohon untuk jangan tertawa.
Alasannya adalah..
...Xiumin takut petir.
Jangan tertawa!
Begitulah kenyataannya. Sesungguhnya Xiumin malu mengakui ini. Wajar saja, dia adalah pria dewasa berumur 22 tahun dan masih saja takut petir. Anak SD pun akan mengatakan bahwa itu sungguh pengecut.
Alhasil, inilah yang Xiumin lakukan. Masuk kedalam ruang musik lantai 2. Ruangan ini adalah satu- satunya ruangan yang kedap suara di mansion ini, sehingga Xiumin tak akan mendengar suara rintik hujan dan petir diluar.
Sedari tadi yang Xiumin lakukan hanyalah duduk di kursi kecil didepan Grand Piano, dan meletakkan kepalanya pada bagian tuts piano yang tertutup itu. Dulu... dirinya sering bermain piano bersama seseorang yang memiliki suara sungguh indah.
Suara yang bahkan telah Xiumin rindukan sekarang, padahal dirinya baru saja mendengarnya sore tadi.
"Akhirnya ketemu, aku mencari mu kemana- mana dan ternyata kau disini. Anak pintar, kau memilih ruangan yang kedap suara." Mata Xiumin membelalak mendengar suara itu.
Suara yang baru saja dikenangnya.
Xiumin bangkit dari posisinya, lalu berbalik untuk melihat kearah pintu ruang musik. Kemudian mata kucingnya menangkap pemandangan yang dapat Xiumin pastikan wanita dan pria manapun ingin menggantikannya untuk dapat menyaksikan ini.
Di ambang pintu.
Xiumin melihat Chen yang hanya memakai piama dengan model atasan kimono tidur pria berwarna hitam dan dilengkapi celana panjang dengan warna yang sama, yang Xiumin yakin itu terbuat dari kain sutra yang sungguh lembut. Chen adalah tipe pria yang senang berpenampilan mewah, glamor,
dan... panas.
Xiumin memalingkan wajahnya. Kembali menatap kedepan, membelakangi tempat Chen berada.
Wajah pria manis ini sedikit memerah setelah kembali mengingat wajah penuh keringat serta rambut Chen yang terlihat basah dan lengket. Dan jangan lupakan bagaimana otot dada yang sungguh liat itu mengintip dari balik piama kimono nya yang tak terikat dengan rapi. Xiumin menutup matanya, kemudian menghembuskan napas dengan pelan, berusaha untuk menenangkan diri.
"Apa tadi dia berlari mengelilingi Mansion luas ini untuk mencariku?" Pikir Xiumin kemudian.
"Maafkan aku yang terlambat. Harusnya aku tadi langsung kesini, dan bodohnya aku justru berlari tanpa arah setelah mendapati kamar yang kau tempati kosong. Aku panik, okey?" Chen kembali bersuara, Xiumin dapat mendengar bahwa pria itu mendekat.
Xiumin mendengus.
"Memangnya apa pedulimu Ahjussi playboy." Umpatnya dalam hati.
"Bisa kau bergeser?" Xiumin sedikit terperanjat saat tahu bahwa Chen telah berada disampingnya.
Sesungguhnya Xiumin tidak mau. Sungguh!.
Xiumin tidak ikhlas kalau harus berbagi kursi kecil ini bersama Ahjussi playboy itu, Xiumin tidak sudi harus berdekatan dengannya lalu mencium aroma cologne yang sungguh maskulin dari si tua bangka itu, Xiumin tak akan mau bila harus menghabiskan waktunya dengan pria tanpa hati yang dengan teganya menolak penyataan cinta tulusnya seminggu yang lalu. Xiumin sesungguhnya tidak ikhlas!.
"Seperti tidak ada kursi lain saja." Chen tersenyum lebar mendengar sindiran itu, sungguh tak mempan bila kenyataannya Xiumin justru bergeser ke kiri untuk memberi ruang tempat duduk bagi Chen.
"Xiao Min Seok! Kenapa tubuhmu menghianati otakmuuu.." Xiumin berteriak heboh dengan memanggil nama terlengkapnya sendiri.
Sadarkah kau Xiumin, tubuhmu tidak sedang menghianati otakmu. Namun mereka hanya memilih untuk menuruti perintah hatimu. Keinginan sang hati yang dengan malangnya selalu Xiumin tampik keberadaannya.
"Kau sempat tertidur tadi? Tidurmu nyenyak?" Mengabaikan sikap sinis dan bisu Xiumin, Chen menanyakan berbagai macam pertanyaan dengan nada yang sungguh perhatian kepada pria berpipi penuh disebelahnya.
Xiumin masih dalam mode diamnya.
"Aku menanyakan kabarmu pada Ibunya Jimin. Dan dia bilang kau terus bekerja bahkan setelah pulang kerumah, dan kau tetap berangkat ke kantor bahkan saat akhir pekan. Apa kau sedang menyiksa dirimu sekarang?" Meski nadanya sungguh santai bahkan terkesan sungguh ringan untuk didengar, seakan sedang membicarakan topik seringan cuaca besok cerah atau tidak. Namun, nada perhatiannya terasa sungguh dalam. Siapapun yang mendengarnya akan merasakan itu.
Xiumin tetap diam.
Chen yang melihat itu menghela napas.
"Bisakah kau menjawabku?" Chen bertanya dengan nada sedikit menuntut.
Xiumin tetap mengabaikannya.
"Sekali lagi kau mengabaikan aku, aku akan mengajarimu fungsi lain dari bibir lembutmu itu selain untuk bicara. Sepertinya berbicara bukanlah kegunaannya lagi." Ancam Chen dengan kalimat penuh keambiguan.
Mata Xiumin membelalak, kemudian menoleh cepat kepada pria disamping kanannya. Mendapati wajah Chen yang menatapnya dengan senyum miring menggoda.
Lalu pria awal umur paruh baya namun tetap terlihat muda dan gagah itu mengedipkan sebelah matanya kepada Xiumin. "Seperti belajar seruling atau terompet misalnya. Alat musik itu ada disinikan?" Lanjut Chen sambil melebarkan seringaiannya.
"ARG!! Dia mempermainkan aku!" Xiumin berteriak histeris didalam pikirannya.
"Kenapa wajahmu terlihat kecewa. Apakah kau memikirkan kegunaan bibir yang lain?" Rasanya Xiumin ingin mencakar- cakar wajah sok polos tanpa dosa yang Chen tampilkan.
Xiumin mendengus kesal, sedangkan Chen justru tertawa bahagia melihat wajah terganggu Xiumin. Memang dasarnya Chen itu aneh, bagi pria itu mendapati wajah kesal Xiumin jutaan kali lebih baik daripada hanya ditatap datar oleh seseorang yang paling dikenalnya itu.
Hubungan kedua orang ini rumit. Sesungguhnya sedikit melelahkan bila kita menjelaskan bagaimana kedua orang ini bisa memiliki benang merah takdir.
"Kenapa kau datang kesini?" Akhirnya Xiumin berbicara, dan ucapannya benar- benar tertuju pada Chen.
Xiumin bahkan berbicara dengan bahasa informal pada pria yang 18 tahun lebih tua darinya.
"Karena hujan, dan aku tahu kau takut petir." Jawab Chen dengan nada santai yang sudah menjadi ciri khas nya.
"Itu juga termasuk, namun yang aku tanyakan disini adalah, kenapa kau datang ke Mansion ini?. Jangan membuat alasan konyol dengan mengatakan bahwa kau memiliki janji temu dengan Tuan Muda bila kenyataannya aku telah hapal diluar kepala akan seluruh jadwal dan janji temu Tuan Muda byun setiap harinya." Xiumin berucap itu dengan nada sungguh tajam, dan mata mono eyelidnya menatap langsung kepada mata Chen.
Chen menatap Xiumin agak lama.
"Karena aku merindukan seseorang. Seseorang yang tengah bersamaku sekarang." Jawab pria kepala empat itu.
"Omong kosong!" respon Xiumin cepat.
"Aku sungguh merindukan mu Kim Minseok!" Untuk pertama kalinya malam ini, Chen meninggikan suaranya. Dan Chen langsung menyesalinya, pria ini selalu berusaha untuk tak meninggikan suara kepada Xiumin.
Badan Xiumin melemas dan bergetar, dirinya merasa ingin menangis karena tak sanggup lagi menahan seluruh emosi yang dirinya simpan rapat selama seminggu ini. Kepercayaan dirinya, ketulusan hatinya, cinta polosnya, dan bahkan harga dirinya terasa patah dan koyak sesaat setelah pria paling diinginkannya ini menolaknya begitu saja.
"Tutup mulut mu.." Xiumin berdesis.
"Dan jangan panggil namaku dengan marga itu lagi." lanjutnya.
Chen menatap Xiumin dengan tatapan terluka.
Namun Xiumin merasakan luka yang lebih sakit.
Beberapa detik lagi sepertinya pria pendiam itu akan meledak.
"Aha aha hahahha"
Xiumin justru tertawa pahit. Tawa yang sungguh dipaksakan. Sungguh miris untuk didengarkan.
"Apa kau bilang? Kau merindukan aku? APALAGI HAK MU UNTUK MERINDUKAN DAN PEDULI PADAKU TUAN KIM?!"
Chen ikut terbawa emosi, "Aku berhak!"
"Tentu saja aku memiliki hak untuk merindukan dan peduli kepada putraku sendiri! Aku Ayahmu!!"
"TUTUP MULUT MU KIM JONGDAE! Kau bukan ayahku..." Teriakan Xiumin mengecil saat matanya bersibobrok dengan mata Chen.
Chen menatap Xiumin dengan sungguh terluka. Saat Xiumin sakit, Chen akan ikut sakit melihatnya. Namun mirisnya, Chen sendirilah yang membuat Xiumin merasakan kesakitan.
"Aku tak akan memakai marga mu dalam namaku lagi. Kau bukan dan selamanya tetap bukan ayahku." Dengan menekan segala sesak didada, Xiumin tetap berucap, sambil menatap mata Chen dengan dalam.
"Karena-
Mata Chen terbelalak.
Telinganya terasa berdenging. Tak dapat mendengar apapun selain detak jantungnya sendiri.
Kepala Chen terasa kosong saat merasakan bagaimana bibir lembut Xiumin mendorong kuat bibir miliknya, dan mulai bergerak dengan irama yang sedikit kasar sarat akan emosi.
Kedua lengan Xiumin melingkari bahu lebar Chen dengan erat, sesekali meremat piama sutra yang Chen pakai. Menarik tubuh tegap Chen untuk semakin mendekat padanya.
Dengan perlahan tubuh menegang Chen mulai melemas dan rileks. Tak perlu usaha banyak bagi pria beraura sungguh seksi itu untuk membalik keadaan, hingga dirinyalah yang menguasai irama ciuman diantara mereka.
Lengan berotot Chen beralih memeluk pinggang pria manis didepannya. Menarik tubuh Xiumin semakin mendekat hingga kemudian menempel erat padanya.
Chen merasakan tangan Xiumin mulai berpindah ke kepalanya, menarik pelan rambut hitam miliknya dengan jari- jari bergetar penuh hasrat dan emosi. Chen pun membalas itu dengan mengelus lembut pinggang Xiumin, menenangkan.
Lumatan demi lumatan terasa semakin dalam dan semakin intim disetiap detiknya.
Pagutan demi pagutan bibir keduanya berebut dan berlomba untuk mendapatkan rasa terbaik dari bibir lawan didepannya.
Menciptakan hawa panas menguap pekat didalam ruang musik yang kedap suara ini.
Chen menyesap bibir Xiumin dengan sungguh kuat, sangat haus bersama hasrat hati ingin merasakan bagaimana manisnya rasa bibir mungil yang sesungguhnya selalu berada diposisi teratas didalam urutan mimpi terliarnya. Menciptakan lenguhan pelan dari si pemilik bibir yang Chen sesap kuat ini.
Namun bukannya manis yang Chen rasakan, justru asin lah yang menjumpai indra pengecapnya.
Namun bukanlah lenguhan yang Xiumin keluarkan, melainkan isakan yang keluar dari mulutnya.
Chen memutus ciuman sarat emosi itu dengan seketika.
Mata Chen membuka lebar.
Mendapati wajah memerah Xiumin yang berurai air mata. Perhatian, yang kita bicarakan sekarang adalah Xiumin, pria mungil tangguh yang sangat pantang untuk menangis, dulu.
Terkutuklah Chen yang telah menghancurkan hati Xiumin dengan sungguh dalam.
"Karena seorang ayah tidak akan pernah mencium putranya seperti itu, seolah- olah aku adalah kekasihnya. Sadar dirilah Kim Jongdae, kau hanya ayah angkat."
Xiumin pun beranjak pergi.
Meninggalkan Chen yang terdiam. Memandang kosong bagian tempat duduk yang Xiumin tempati tadi.
Setelah Xiumin meninggalkan ruangan itu, Chen pun bergumam.
"Ini salahku, salahku lah yang lebih dulu jatuh cinta kepadamu. Kemudian membuatmu ikut mencintaiku. Maafkan aku Luhan hyung, maafkan aku Sohee, aku telah mencintai sekaligus menyakiti putra kalian." Gumam Chen pada udara kosong yang memenuhi ruang musik yang sepi.
Malam akhir musim semi ini, sepertinya Mansion Byun hanya diisi dengan satu pasang bunga yang mekar. Sedangkan pasangan bunga yang lain, sedang berjuang mati- matian melawan derasnya air hujan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author note yang sangat berharap untuk dibaca :
Hello Sugar~
Tau gak sih? Ku agak lama ngetik ini karena ini adalah Chapter terberat sejauh ini untuk diketik, karena aku adalah pengidap Ombrophobia, dan bahas tentang hujan selalu buat aku... yahh begitulah. RIGHT, apasih yang engga buat kalian semua. Ku akan mengatasi semua ketakutan iniiii.. fighting!!.
Aku ngomong apasih kemarin?. Aku bilang bakalan bikin alur waktunya rada cepetan kan?. Lahh... kok masih lelet aja ya ehehe. Setelah saya pikir, gak papa lamban asalkan selamat ya. Asalkan manis, asin, pahit, dan asamnya pas, gak papa kalau prosesnya agak lama~ Asalkan kalian semua gak boring aja sih baca cerita ini.
Oh ya, aku mau ngomongin sesuatu. Tentang Silent Reader nih. Aku mau bilang, kalau kalian tiba- tiba pengen komen tapi takut malu ketahuan selama ini jadi Silent Reader, ku bilangin ya.. gak papa, komen aja, bahkan walau itu cuma satu katapun aku tetap seneng minta ampun sampe jingkrak- jingkrak dan senyum bego bacanya.
Tapi kalau kalian tetap pengen jadi Silent Reader, ku juga gak mempermasalahkan. Gak bisa dipungkiri bahkan diriku sendiripun kadang terlalu malas untuk komentar ff yang ku baca. Kita sebagai manusia emang jahat banget ya wkwkwk.
Big Special Thanks To My Vitamins :
ChanBaek09, alyshava, CHANBAEQ , chanyeoru, Cheonsa528, Bubbleclay, elroseline, baejunyi , danactebh, byuncyxx, dan semua Guest.
Terima Kasih banyak juga pada Reader lain yang udah bersedia meluangkan waktunya untu baca, Favorite, dan Follow FF ini.
Ku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada Readers yang merayakan. Maafkan aku yang memberikan kita semua ff penuh dosa ini ya ehehe. Semoga kalian semua terus sehat dan bahagia. Semoga kita dapat bertemu lagi di chapter selanjutnya. Lets Love Eri!! /Bow
