Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Shin Jimin AOA, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

.

Happy Reading

Chapter 8 : First Morning

.

.

Akhir Musim Semi, 2011

Suasana pagi di Mansion Byun selalu sama setiap harinya. Sungguh ramai dan sibuk. Namun diselingi dengan canda dan tawa. Semuanya menguarkan aura bahagia yang meliputi bangunan besar nan megah itu.

Pada pagi seperti ini banyak yang dapat kita nikmati dalam satu waktu, yaitu..

Semerbak aroma lezat makanan yang dimasak dari arah dapur mansion.

Aroma segar bunga dari para pekerja kebun yang menyirami dan memupuki tanaman.

Suara mesin cuci yang sedang menggiling pakaian beradu dengan tangan- tangan terampil para pencuci baju dengan tangan.

Suara langkah- langkah kaki Maid- maid yang bekerja kesana kemari di dalam Mansion, yang diiringi suara kicauan mereka yang sedang mengobrol dan bercanda sambil bekerja.

Lalu kau juga akan merasakan angin pagi berhembus dan membuat berantakan rambutmu. Membuat efek mengigit sedikit menyapa kulitmu.

Serta embun pagi pada rumput taman yang sungguh segar dapat di rasakan bila kau berdiri tanpa alas kaki diatasnya.

Ada juga aroma kopi para pekerja dan maid yang suka mengonsumsi minuman berkafein itu terlebih dahulu sebelum memulai aktifitas.

Serta suara sentakan kertas halaman koran yang dibalik, menciptakan suara yang sungguh khas.

Namun yang paling Baekhyun sukai adalah, aroma petrichor. Aroma semerbak khas tanah yang dibasahi oleh air hujan. Sungguh khas dan tak tergantikan. Aroma yang sungguh menenangkan dan merangsang otak untuk mengingat segala memori baik yang pernah di alami.

"Apa yang sedang dia lakukan?" Chanyeol bergumam sambil menatap Baekhyun yang berada kurang lebih 20 meter darinya.

"Tuan Muda sedang melihat." Chanyeol terperanjat, pemuda itu terkejut karena ada yang menjawab gumamannya.

Dilihatnya seorang gadis bermata bulat dengan tinggi sekitar 160 cm dan berambut hitam lurus terurai.

"Maksudmu apa?" Chanyeol bertanya, setelah selesai mengobservasi gadis didepannya.

Bukannya menjawab, gadis itu justru kembali memandang Baekhyun yang dengan cantiknya duduk tenang pada ayunan favorite Tuan Muda kesayangan semua orang itu.

Baekhyun tampak sungguh menggemaskan dengan rambut berantakan khas bangun tidur, kemeja putih yang sudah keluar dari dalam celana kain hitamnya. Dilengkapi dengan kaki telanjang tanpa sepatu menjuntai bergantung setinggi 10cm dari atas tanah, dan sesekali kedua kaki itu bergoyang- goyang bergiliran kedepan dan kebelakang. Sungguh pemandangan yang tak akan dilewatkan oleh siapapun yang lewat.

Untuk informasi saja, Tuan Muda kita bahkan belum mandi ataupun mencuci wajahnya. Pria cantik rupawan itu telah menghancurkan istilah tak ada seseorang yang cantik dan tampan saat sebelum mandi.

Sungguh pesona yang melawan hukum alam.

Chanyeol terkesima memandangnya. Baekhyun seperti lukisan yang semakin dipandang maka semakin kau terpesona. Chanyeol bahkan sampai merasa percaya tak percaya bahwa dirinya baru saja menghabiskan waktu tidur semalaman bersama pemuda itu.

"Maksud saya, Tuan Muda sedang melihat namun dengan caranya sendiri." Chanyeol kembali terperanjat, astaga.. bahkan Chanyeol sampai melupakan bahwa dia sedang tak sendiri di ambang pintu bagian sayap kiri mansion menuju ke taman belakang ini.

"Bagaimana caranya?" tanya Chanyeol kemudian, segalanya tentang Baekhyun sekarang adalah hal yang selalu membuatnya penasaran.

Baekhyun adalah pria yang ramah dan lembut. Namun Chanyeol baru menyadari bahwa pria itu sungguh tertutup. Saat audisi Chanyeol saja, Baekhyun justru terus fokus untuk bertanya tentang Chanyeol tanpa sedikitpun memberikan informasi tentang dirinya sendiri.

"Entahlah, hanya Tuan Muda yang tahu, kami semua menebak Tuan Muda pasti suka mengobservasi seluruh aroma, suara, rasa, dan lain- lain dari segala hal yang ada di Mansion ini. Jangan ganggu Tuan Muda Byun bila dia sedang melakukan itu kecuali kau benar- benar di panggil olehnya ya Tuan Park. Itu adalah salah satu hal yang membuatnya tenang. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan olehnya." Chanyeol terdiam memandang gadis didepannya.

Tadi Chanyeol tak terlalu memperhatikan, namun setelah diperhatikan lagi. Gadis ini sungguh cantik. Wajahnya bulat kecil dengan mata double eyelid menggemaskan, dan dibingkai dengan rambut hitam legam yang terurai panjang. Salah satu ciri khas kecantikan oriental Asia Timur yang terkenal.

Chanyeol telah melihat beberapa Maid disini, dan beberapa dari mereka berseragam dan beberapa tidak. Sepertinya gadis ini adalah salah satu dari maid yang melepas seragamnya hari ini.

Gadis itu memakai kaus kebesaran berlengan pendek berwarna putih yang dimasukan kedalam rok tutu panjang berwarna baby pink. Sungguh fashion yang manis. Gadis- gadis Korea Selatan memang selalu tampil modis dan cantik pada musim semi seperti ini.

Namun kecantikan gadis itu sama sekali tak mempengaruhi Chanyeol. Dirinya masih yakin akan orientasinya yang memang tak bisa menyukai kaum hawa. Gadis ini mencuri perhatian Chanyeol hanya karena wajahnya yang terlihat sungguh familiar.

"Kau sungguh mengenalnya." Itu adalah sebuah pernyataan.

Maid itu tersenyum lembut. "Itu hal yang biasa bila anda tumbuh besar berdampingan bersama seseorang."

Chanyeol cemberut mendengar itu, "Pasti sungguh menyenangkan bisa tumbuh dan besar bersamanya." Gumamnya iri.

Keduanya menjadi terdiam canggung.

Dan Chanyeol tak menyukainya.

"Siapa namamu?" Chanyeol pun bertanya hal dasar dan aman.

Gadis itu justru terkejut dan tergagap.

"O-Oh! Maafkan saya karena lupa memperkenalkan diri saya Tuan Park. Nama saya Do Kyungsoon, Maid disini dan sungguh kehormatan dapat melayani Tamu dari Tuan Muda Byun" Ujar Kyungsoon dengan amat sangat sopan dan diakhiri dengan bungkukan 90 derajat.

Chanyeol dengan canggung membalas bungkukan itu. Nah, apalagi ini, dirinya sungguh tak biasa dengan kehidupan para konglomerat ini.

"Lalu sedang apa anda disini?" Dan Chanyeol jadi ikut menggunakan bahasa formal.

"Anda tak perlu menggunakan bahasa formal pada saya Tuan Park. Dan saya disini untuk memanggil anda bergabung bersama tamu lain untuk sarapan. Mari ikuti saya menuju ruang makan."

Chanyeol menjadi bingung dengan situasi ini. Namun akhirnya pria tinggi itu mengikuti Maid yang katanya bernama Do Kyungsoon tersebut.

Eh tunggu..

"APA?! Do Kyungsoon!!."

Chanyeol menghentikan langkahnya tiba- tiba. Dan menatap gadis didepannya dengan mata membulat.

Merasakan Chanyeol berhenti mengikutinya, membuat Kyungsoon berbalik, dan sedikit terkejut saat mendapati mata kelereng Chanyeol menatapnya seperti bola mata itu ingin keluar dari tempatnya.

"Ada apa Tuan Park?" dengan kalem Kyungsoon bertanya.

"Kau! Kau Do Kyungsoon?!." Chanyeol bertanya dengan nada suara percaya dan tidak percaya.

Kyungsoon mengerutkan keningnya. "Iya itu benar Tuan Park. Ada masalah dengan nama saya?"

Chanyeol menggeleng cepat.

"Astaga! Kau Do Kyungsoon!!, adik perempuan, oh bukan, lebih tepatnya saudara kembar Do Kyungsoo!, atau D.O . Idol dan aktor termuda di BB Entertaiment sekarang, yg bahkan debut dua tahunan lalu saat umurnya masih 18 tahun dan saat itu belum lulus sekolah. Pantas saja wajahmu sungguh familiar." Chanyeol menjabarkan itu semua dengan sungguh semangat.

Kyungsoon mengedipkan matanya beberapa kali, sedikit terkejut dengan semua perhatian tak terduga itu. Lalu gadis lembut ini pun tersenyum.

"Anda benar Tuan Park." Ujarnya membenarkan.

Giliran Chanyeol yang menganga.

"Oppa mu adalah Idol dan Aktor terkenal sekarang. Mengapa kau justru menjadi Maid?" tanya Chanyeol terheran.

Sesungguhnya itu pertanyaan wajar dan sederhana, semua orang pasti akan terheran dengan pilihan hidup Kyungsoon. Namun tentu saja itu menyakiti Kyungsoon, karena Chanyeol berkata seperti itu seolah- olah Maid adalah pekerjaan yang lebih rendah daripada Idol dan semacamnya. Walau bagaimanapun bentuknya ini adalah mimpi Kyungsoon.

Dan Kyungsoon tetaplah seorang Kyungsoon. Gadis yang akan mengemukakan semua pendapatnya.

"Ada masalah dengan menjadi Maid? Tuan Park?" Chanyeol terkejut dengan perubahan suara Kyungsoon yang menjadi dingin.

"O-Oh.. Maafkan aku, kurasa aku menyakitimu. Astaga diriku sungguh keterlaluan, maukah kau memaafkan ku?. Ya, aku tadi dengan bodohnya berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Kau benar, tak ada yang salah dengan menjadi seorang Maid. Apalagi Maid didalam Mansion megah ini, pasti sungguh menyenangkan." Chanyeol buru- buru memperbaiki kesalahannya.

Mendengar itu Kyungsoon pun tersenyum memaafkan.

"Maaf saya mencuri dengar. Namun karena saya berjaga didepan pintu perpustakaan malam tadi membuat saya mendengar ucapan Tuan Muda Byun, sepertinya beliau benar. Tak seperti penampilan dan aura anda yang mengintimidasi, anda sesungguhnya adalah pria yang lugu. Maafkan saya yang terlalu sensitif tentang masalah tadi." Ujar Kyungsoon yang sedikit banyak membuat rasa bersalah Chanyeol terangkat. Meski dirinya sedikit tak rela disebut lugu. Chanyeol tetap merasa dirinya tak selugu itu. Menurut dirinya.

"Ayo kita bergegas ke ruang makan untuk sarapan, Tuan Park." Keduanya pun kembali berjalan beriringan.

Dan diisi dengan hening yang canggung.

Sekali lagi, Chanyeol tak akan tahan dengan suasana seperti ini.

"Kau tau... sebenarnya aku terkejut saat mengetahui kau adalah adik D.O itu karena aku adalah fans Oppa mu." Giliran Kyungsoon yang menghentikan langkahnya.

Kemudian Kyungsoon menatap Chanyeol dengan berbinar seolah- olah memenangkan undian jutaan miliyar.

"Benarkah itu Tuan Park?!" Senyum berbentuk hati yang persis seperti milik D.O itu pun terpampang didepan Chanyeol.

Chanyeol mengangguk semangat.

"Iya! Aku juga mengatakan pada Baek-

Chanyeol menghentikan perkataannya saat Kyungsoon menatap pria itu dengan terkejut sebab berani memanggil nama belakang sang Tuan Muda.

-Maksudku Tuan Byun. Bahwa bila aku bisa menjadi penyanyi dan penulis lagu nanti, aku ingin bisa berkolaborasi bersama Do Kyungsoo." jelas Chanyeol.

Kyungsoon mengangguk dengan semangat.

"Jadi impian anda menjadi penyanyi dan penulis lagu? Solo atau Group?" Kyungsoon bertanya sambil melanjutkan perjalanan mereka.

Chanyeol menggelengkan kepala, "Aku tak peduli, asalkan diriku bisa debut saja." Dan menutup perkataannya itu dengan sebuah cengiran lebar, menunjukkan deretan gigi rapinya yang benar- benar bisa dipampang di meja dokter gigi sebagai contoh gigi rapi sempurna.

"Tipikal jawaban seseorang yang putus asa untuk debut." Komentar Kyungsoon apa adanya.

Chanyeol tak tersinggung karena memang begitulah adanya. Dirinya telah berada di ambang batas putus asa dalam meraih mimpinya ini. Sehingga dirinya rela melakukan wawancara pintas ini. Padahal sebelumnya Chanyeol adalah tipe orang yang selalu kesal akan orang- orang yang memiliki koneksi.

"Yah.. setidaknya aku sungguh di audisi disini bukan?. Walau audisinya sungguh berjalan dengan cara yang aneh." Pikir Chanyeol berusaha mencari pembenaran dalam tindakannya.

"Saya ingin mengucapkan satu patah dua patah kata untuk anda ingat Tuan Park. Anda keberatan?" Chanyeol menggeleng, menandakan dirinya tak keberatan.

"Jika anda telah menjadi penyanyi terkenal nanti. Tolong jangan anggap staff dan pekerja dibelakang panggung adalah posisi yang lebih rendah daripada penyanyi yang berdiri diatas panggung. Kedua hal itu adalah sebuah simbiosis yang sama- sama membutuhkan dan menguntungkan satu sama lain. Itu adalah hubungan yang setara." Kyungsoon mengucapkan sebuah petuah dengan suara yang manis.

"Oppa saya sering mencurahkan keluh kesahnya, mengatakan bahwa dirinya sedih karena para staff dibelakang panggung tidak mendapat apresiasi dan terima kasih yang lebih pantas diterima mereka. Kyungsoo Oppa bilang, bila sebuah konser sukses, yang dipuji selalu Idolnya. Dan bila konser terdapat kesalahan, yang disalahkan adalah staffnya. Itu tak adil." Chanyeol tertegun.

Dirinya tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.

"Waw.. itu sungguh dalam. Oppa mu ternyata memanglah Idol dengan kepribadian yang baik. Dan kau juga, gadis yang baik Kyungsoon. Terima kasih, aku akan mengingatnya." Komentar Chanyeol tulus, dan dibalas dengan senyum dan ucapan terima kasih dari Kyungsoon.

Keduanya sudah mendekati ruang makan disayap kanan Mansion Byun. Dan disitu mereka bertemu dengan Chen di beberapa meter sebelum pintu masuk ruang makan.

Terlihat Chen baru saja memasukan telepon genggamnya ke dalam kantung celana piama sutranya, rupanya tadi pria berumur 40 tahun ini sedang melakukan panggilan. Kemudian berbalik dan tersenyum setelah melihat muda dan mudi itu yang berjalan menuju ke arahnya.

"Selamat pagi Kyungsoon." Salamnya ramah.

"Selamat pagi Tuan Kim." Jawab Kyungsoon dengan sopan.

"Ya ampun, kau semakin cantik saja. Kau berdandan hari ini?. Tak ada niat mengikuti jejak oppa mu untuk menjadi Idol?. Hubungi saja aku kalau kau berminat, aku akan membuat dirimu menjadi Idol besar. Yah.. tetap saja kita perlu audisi dulu, bagaimanapun aku perlu bakat yang sebenarnya bukan?, hummmm bahkan Jimin saja tetap aku tolak pada audisi tahun lalu karena kemampuan gadis itu masih dibawah standar dan perlu banyak belajar lagi. Aku tak bisa pilih kasih meski kau cantik, benarkan Kyungsoon." Kyungsoon tersenyum manis dengan wajah sedikit memerah, menanggapi candaan khas pria 40 an ini.

"Ohhh... dan ini, kau pasti yang bernama Park Chanyeol kan?" Kini perhatiannya teralih pada pria disamping Kyungsoon.

Chen melihat Chanyeol dari atas sampai kebawah. Pria ini sedikit kesal kenapa Chanyeol lebih tinggi darinya. Walaupun pria ini merasa dirinya tak kalah tampan dari Chanyeol. Yah.. Walau dia tampan, aku lebih tampan, pikir Chen dengan konyolnya.

"Humm.. Kau memang orang yang tumbuh besar menjadi seseorang yang tampan. Gen dari lahir." Komentar Chen.

Chanyeol yang sedari tadi terdiam gugup, langsung menunduk 90 derajat.

"Selamat Pagi Tuan Kim." Chanyeol memberi salam dengan sungguh sopan.

"Astaga! Tak usah seformal itu, aku jadi merasa telah tua -walau aku memang sudah tua- tapi tetap saja, jangan seperti itu." Seru Chen dengan setengah tertawa.

Chanyeol tetap menatap Chen dengan tatapan kagum. Dalam hati dia bergumam, apakah di Mansion ini memang berkumpulnya orang- orang terkenal dan orang- orang yang memiliki hubungan dekat dengan orang terkenal.

"Bagaimana bisa saya bersikap santai, saya sungguh menghormati anda. Pendiri BB Entertaiment dan ketua Divisi Manajemen dan Bidang Pengembangan Bakat BB Entertaiment. Anda sudah seperti Ayah dan Paman bagi Idol- Idol dan Trainee di BB." Chanyeol menerangkan itu dengan penuh kekaguman dan respek.

Chen tersenyum lebar.

"Iya itu benar... tapi aku lebih suka di kenal sebagai penyanyi lawas yang pensiun dan masih tampak tampan sampai sekarang. Benarkan Kyungsoon?" Chen menjawab dengan nada santai setengah bercanda, membuat Kyungsoon yang mendengar namanya disebut- sebut lagi hanya dapat tertawa dengan manis.

Dan Chanyeol tersenyum lebar mendengarnya. Ternyata rumor itu benar, pria Kim ini sungguh berhati lembut, ramah, suka bercanda, dan... playboy, pikir Chanyeol.

"Kalian juga ingin ke ruang makan kan? Ayo, aku juga." ujar Chen mengajak kedua muda mudi itu.

"Maaf tapi saya sudah sarapan Tuan Kim. Dan saya sekarang ingin ke lantai 3 untuk beristirahat, saya sudah berjaga hampir semalaman karena memiliki shift malam. Tugas saya pagi ini hanya mengantarkan Tuan Park untuk sarapan paginya." Tolak Kyungsoon sopan.

"Ohhh.. baiklah kalau begitu." Jawab Chen.

Kyungsoon pun berpamitan kepada mereka lalu berjalan menjauh, berjalan melewati koridor yang panjang kemudian tak terlihat lagi setelah berbelok disalah satu tikungan koridor.

Kedua pria beda 20 tahun itu terdiam menatap kepergiaannya. Lalu ekspresi mereka berganti saat orang lain muncul dari pintu penghubung sayap kanan mansion dengan taman belakang. Itu Baekhyun.

Chen tersenyum cerah dan Chanyeol... seperti biasa, terlalu terpukau untuk berekspresi.

"Dia cantik kan?" Tanya Chen dengan nada jahil setelah memergoki tatapan mata kagum Chanyeol kepada Baekhyun.

"Itu tak diragukan lagi." Jawab Chanyeol mantap.

Chen terlihat berpikir sebentar, "Kau menyukainya?" tanya nya To The Point.

Chenyeol mengerutkan darinya, "Memangnya ada orang didunia ini yang tak menyukainya?" Tanya Chanyeol dengan polosnya.

Chen terkekeh, "Bukan itu maksudku Boy, tapi perasaan suka yang lebih dalam. Kau menyukainya?"

Chanyeol terdiam, pemuda berambut merah itu terlihat berpikir. Sambil menatap Baekhyun yang berjalan perlahan ke arah mereka sambil meraba dinding dengan satu tangannya, mengikuti arah dinding tersebut untuk menuju ke ruang makan.

"Mungkin belum, masih sebatas kagum, aku seperti melihat sebuah karya seni indah. Dia adalah orang pertama yang dapat membuatku melupakan musik untuk sesaat. Tapi... aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan melawan pesonanya." Jawab Chanyeol yang diakhiri dengan senyum penuh makna.

Chen merespon itu dengan kerlingan khasnya.

"Kisah cinta anak muda memang selalu menarik untuk diikuti. Tak seperti kisah Pak Tua ini yang terlalu banyak perkara yang tak ada habisnya." Ujarnya lalu manggut- manggut sendiri.

"Kau hanya belum mengenalnya lebih dalam Chanyeol. Bila kau ingin mengenalnya, tanya saja langsung padanya, dia akan menjawab segalanya. Tuan Muda Byun Baekhyun kami seperti Kotak Penuh Cinta yang bisa kita gali kapanpun, dan bisa kita datangi disaat hati kita kosong kekurangan kasih sayang. Dia selalu menjadi pelipur lara dan tempat bergantung semua orang yang mengenalnya. Bisa kau percaya itu? Dia menjadi tempat curahan hati ternyaman bagi puluhan pekerja disini berbagai macam usia dan karakter." Jelas Chen dengan suara santai namun kebapakan, seperti seorang ayah yang sedang memamerkan putra kebanggaannya pada orang lain.

"Tapi nak Chanyeol, ingat ini..." Chanyeol menoleh ke arah Chen karena merasa nada suara Chen menjadi serius, sungguh berlawanan dengan nada santai khas pria ini tadi.

"Dia selama ini hidup berdiri dengan kakinya sendiri. Lihat saja sekarang, dia bahkan tak mau memakai tongkat dan dia hanya meminta kami menuntunnya saat merasa dia benar- benar tak sanggup lagi berjalan sendiri. Baekhyun kami tak pernah menceritakan sakit dan laranya ataupun bergantung pada orang lain. Jadi, si Kotak Penuh Cinta itu selalu mengisi ulang cintanya dengan usahanya sendiri. Dia juga selalu berusaha memperbaiki kerusakan kotaknya juga sendiri. Jadi, kami selalu bertanya- tanya siapakah yang beruntung untuk menjadi sumber pengisi ulang Si Kotak Penuh Cinta yang kami banggakan itu. Bahkan bisa dibilang seluruh pekerja disini mengharapkan merekalah orang yang beruntung itu." Chen berucap dengan kalimat penuh metafora.

Chanyeol mendengarkannya tanpa menyela. Dirinya memang tipe pendengar yang baik. Dan dirinya heran mengapa semua orang memberinya petuah pagi ini.

"Dan bila kau adalah si beruntung itu. Bersiaplah untuk mendapatkan beberapa perilaku menyebalkan dari orang- orang yang iri padamu." Bolehkah Chanyeol mengatakan dirinya tak mengerti sekarang. Baru saja Chanyeol ingin bertanya tentang perilaku menyebalkan apa yang Chen maksud, suara renyah bagai biskuit karamel mengintrupsinya.

"Aroma kuat cologne yang sungguh bukan tipe saya, dan aroma jeruk yang sudah seperti tumpah dari kebun jeruknya. Chen Ahjussi sejak kapan anda berada disini? Anda ternyata sudah bertemu dengan Chanyeol. Kebetulan sekali." Chen dan Chanyeol kompak menatap Baekhyun yang sudah berjarak kurang dari dua meter didepan mereka.

"Saya datang sore kemarin Tuan Byun, namun -bukan maksud menyinggung- saya kesini bukan untuk menemui anda." Jawab Chen dengan nada santai yang sungguh menyenangkan.

Chanyeol jadi bingung, bagaimana bisa mereka terlihat dekat bahkan dengan menggunakan bahasa formal yang kaku.

Baekhyun terdiam sebentar, lalu tersenyum penuh arti.

"Saya mengerti, anda hanya ingin bertemu dengan seseorang yang kemungkinan akan menemui saya. Cerdik sekali dan sungguh bodoh disaat yang sama." Komentar Baekhyun penuh isyarat.

Chen tentu mengerti maksudnya.

Sedangkan Chanyeol, dirinya telah menggaruk kepalanya tak paham. Dan menyanyikan lagu kebangsaan Korea Selatan untuk menghibur diri yang mendadak posisinya seperti batu jalan yang tak di anggap.

"Ayo Chanyeol ah, kita sarapan." Ujar Baekhyun.

Direspon Chanyeol dengan anggukan dan direspon Chen dengan wajah terkejut, si Tuan muda melunturkan sikap formalnya kepada Chanyeol. Sungguh tak biasa.

Baekhyun berjalan lurus, melewati mereka berdua dengan santai.

"Untuk sementara saya tak peduli dengan masalah kalian. Tapi saran saya, cepatlah selesaikan, saya khawatir sekretaris kesayangan saya itu akan pingsan karena kurang istirahat dan terus bekerja." Setelah mengakhiri petuah singkatnya pada Chen, Baekhyun membuka kedua sisi pintu ruang makan dengan lebar.

Pemandangan ruang makan berinterior mewah memasuki pandangan Chanyeol. Ruang makan itu memiliki meja makan berbentuk persegi panjang yang sungguh... besar. Astaga.. berapa banyak orang bisa makan disitu?, Chanyeol bertanya- tanya sendiri.

"Selamat pagi Tuan Muda.." Seru beberapa Maid yang sedang menyiapkan hidangan sarapan dimeja makan.

"Selamat pagi Tuan Muda, Chen Ahjussi, dan Chanyeol oppa." Itu adalah Jimin yang berseru kekanakan, gadis itu memakai piama bergambar kelinci yang lucu, serta masih memakai roll an rambut di poni nya.

"Selamat pagi..." Jawab Baekhyun sambil berjalan menuju kursinya yang biasa. Kursi utama di ujung depan meja makan.

"Oppa! Chanyeol oppa! Duduklah disebelahku." Seru Jimin memanggil Chanyeol, sedikit banyak membuat pria 185 cm itu lega, karena dirinya menjadi tak terlalu asing dengan orang- orang yang ada disini.

Chanyeol pun duduk disebelah Jimin, yang mana gadis itu tengah duduk disisi kanan meja, paling ujung, dan paling dekat dengan Baekhyun.

Sedangkan sisi kiri meja, paling ujung, dan juga paling dekat dengan Baekhyun. Tepatnya berhadapan dengan kursi Jimin. Terlihat Xiumin yang sedang memakan salad dalam diam.

Chanyeol memandang pria itu penasaran, karena pria itu adalah wajah baru yang tak dikenalnya.

Chanyeol pun duduk disamping Jimin, seraya mengucapkan selamat pagi sebagai balasan salam gadis itu tadi.

Sementara Chen tampak masih berdiri, menatap Xiumin dengan tatapan dalam, berharap pria berpipi chubby itu akan menatap kearahnya lalu mengucapkan selamat pagi. Seperti dulu.

Dan saat ekspektasi tak sesuai dengan realita, perasaan kesal menyelubunginya. Membuat Chen menarik kursinya dengan kuat dan kasar.

Suara kursi yang ditarik sungguh kuat itu menciptakan suara decitan dilantai yang sungguh nyaring dan menyakiti telinga siapapun yang mendengar. Jimin sontak menutup telinganya, Baekhyun hanya terdiam, Xiumin -tetap- tak peduli, dan Chanyeol mengerutkan wajahnya.

"Chen Ahjussi, bisakah ahjussi menarik kursi dengan sedikit lembut. Telingaku sakit." Ujar Jimin kesal pada pria yang sekarang telah duduk disamping Xiumin itu.

Baekhyun tertawa dikursinya.

"Biarkan saja Nona Jimin, dia hanya sedang ingin menarik perhatian seseorang." Ujar Baekhyun lembut penuh pengertian.

Sontak ruangan itu menjadi sunyi,

lagi senyap.

Tak ada lagi dentingan piring hasil dari Maid yang silih berganti membawa piring- piring berisi makanan yang tak ada habis- habisnya.

Tak ada lagi suara langkah para Maid yang berjalan kesana kemari, mengisikan air minum dan mengambil piring yang telah kosong.

Chen menatap Baekhyun dengan dalam.

Xiumin menghentikan suapan saladnya.

Dan Jimin, sudah menutup mulut menganganya dengan kedua tangan.

Lalu Chanyeol?, diam menatap semua ini dengan bingung. Everything right here are freaking new for him. Dirinya hanya tak terbiasa.

What's wrong?, pikir Chanyeol.

"A-Anda tertawa..." Itu suara Xiumin yang sedari tadi membisu.

Baekhyun terdiam bingung. "Ada yang salah dengan itu?" tanyanya.

"Tentu saja tidakkk.. astaga, saya senang sekali!!" Terlihat Xiumin yang menatap Baekhyun dengan sungguh bahagia, hingga Chanyeol mengira pria itu akan menangis terharu, namun tidak.. Xiumin hanya tampak sungguh bahagia, tanpa menangis.

Berbeda dengan Jimin yang sedari tadi sudah mengusap air mata yang tak mau berhenti keluar dari matanya.

Chen menatap Baekhyun dengan hangat, "Sering- seringlah tertawa Tuan Muda Byun, Anda tampak lebih bersinar saat tertawa." Ujarnya.

Chanyeol menjadi bingung sendiri. Pikirnya bertanya- tanya. Apakah Baekhyun sesulit itu untuk tertawa?. Tapi pemuda itu sering tertawa bersamanya, malam tadi.

"Anda sedang bahagia Tuan Muda?" Xiumin kembali bersuara.

Baekhyun tersenyum menanggapi.

"Saya hanya merasa jauh lebih baik setelah dapat tertidur dengan nyenyak. Tentunya kita harus berterima kasih pada seseorang." Ujar Baekhyun dan setelah itu semua mata langsung tertuju pada Chanyeol.

"Perkenalkan semuanya, walaupun kalian sudah mengenalnya kurasa, pria ini bernama Park Chanyeol." Baekhyun memperkenalkan Chanyeol pada semua orang disitu.

Jimin mengangguk sopan pada Chanyeol, dan pria itu balas dengan senyuman geli, karena Jimin bersikap seolah- olah mereka adalah orang asing yang baru berkenalan.

Chen mengangguk sopan pada Chanyeol, "Kita belum berkenalan secara resmi, perkenalkan saya Chen."

Terdengar suara berdecih dari pria disebelahnya. Membuat semua orang mengalihkan perhatian kepada pria disebelah Chen, itu Xiumin.

"Kenapa? Ada masalah dengan nama saya Sekretaris Kim?" tanya Chen dengan nada menantang namun terdapat ejekan diakhir kalimatnya.

Xiumin mengangkat bahu acuh tak acuh. "Saya hanya berpikir apakah nama anda sudah diresmikan ke dinas kependudukan Korea Selatan Tuan Kim?" Jawab Xiumin tanpa menatap Chen.

Bukannya tersinggung, Chen justru tersenyum lebar. Dirinya bahagia saat Xiumin mau berbicara dengannya walaupun itu bukanlah percakapan yang baik.

Mengabaikan senyum bodoh -menurut Xiumin- Chen, Xiumin menganggukan kepalanya sopan pada Chanyeol.

"Salam kenal Tuan Park. Saya Xiao Minseok, anda bisa menyingkatnya menjadi Xiumin." Walau bingung karena tadi Chen memanggil pria bernama Xiumin itu Sekretaris Kim, dan justru memiliki marga Xiao, Chanyeol tetap membalas anggukan itu dengan sopan.

Kali ini justru Chen yang berdecih mendengar ucapan Xiumin. Terlihat Xiumin menatap tajam pria disebelahnya, "Ada masalah?" tanyanya singkat.

"Tidak.. hanya saja, saya berpikir, apakah anda sudah meresmikan nama anda tersebut ke dinas kependudukan Korea Selatan?" Chen membalik perkataan Xiumin tadi dengan suara santai yang sungguh menyebalkan.

Terlihat oleh Chanyeol bagaimana Xiumin memegang garpunya dengan erat. Seolah- olah ingin menusuk mata Chen dengan benda tersebut.

Dan suara tawa Baekhyun memecah suasana yang sedikit menengang.

"Bisakah kalian berhenti bermesraan bahkan didepan meja makan?. Ayo kita mulai sarapannya." Ujar Baekhyun.

"Mungkin anda masih mengantuk Tuan Muda, tapi anda jangan salah paham / Mungkin anda sangat lapar sekarang Tuan Muda, tapi anda jangan salah paham."

Chen dan Xiumin berucap bersamaan.

Lalu berpaling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.

"Kami tidak bermesraan / Kami tidak bermesraan." Dan kembali mengucapkan hal yang sama di waktu yang sama.

Keduanya mengerutkan kening.

"Kenapa kau mengikutiku? / Kenapa kau mengikutiku?" Dan sekali... lagi keduanya berucap bersamaan.

Chanyeol menatap itu dengan alis terangkat satu. Apalagi ini?, tanyanya dalam hati.

"Nona Jimin, bisakah anda beritahu posisi makanan didepan saya?" Pinta Baekhyun, mengabaikan Chen dan Xiumin yang sepertinya telah memulai perdebatan yang lain.

Jimin tersenyum manis kepada Baekhyun meski pemuda itu tak dapat melihatnya.

"Tentu bisa Tuan Muda Byun. Sebenarnya ini adalah menu kesukaan anda Tuan Muda. Sirup mapel berada di arah jam 10, puding labu di jam 11, susu stroberi di jam 1, air putih di jam 3, garpu dan pisau di arah jam 5 , dan pancake porsi besar anda di arah jam 6. Dan didepan kita semua ada roti tawar, beberapa selai, potongan- potongan buah, sereal, bubur, telur gulung, kimchi, nasi, tahu, ikan, ayam, beberapa sayur mayur yang saya tak tahu namanya, mohon dimaklumi Tuan Muda, saya tidak bisa memasak." Jimin menjelaskan semua itu layaknya seorang profesional walau bersamaan dengan suara kekanakannya yang ceria sekali.

Baekhyun tersenyum dan bergumam terima kasih, lalu memulai sarapannya.

Setelah itu Jimin langsung berpaling ke arah Chanyeol.

"Oppa mau sarapan apa? Tak usah sungkan. Atau Tuan Byun akan marah karena kau tidak sarapan." Jimin pun memulai obrolan dengan Chanyeol. Sambil mendekatkan beberapa menu makanan pada pria itu.

Chanyeol memakan roti didepannya dengan perlahan. Chanyeol itu seorang pengamat, dalam waktu singkat seperti ini dirinya telah menyimpulkan banyak fakta.

Dirinya dapat melihat Chen dan Xiumin yang telah kembali mendiamkan satu sama lain, namun sesekali mencuri pandang ke satu sama lain. Jelas sekali ada sesuatu diantara mereka.

Maid yang sudah berdiri di belakang Baekhyun sambil menunduk, bersiap sedia untuk memberikan bantuan pada pria itu. Namun tak melakukan apapun untuk membantu Baekhyun kecuali Baekhyun yang memintanya.

Dan jangan lupakan bagaimana semua orang menggunakan bahasa formal saat Baekhyun terlibat pembicaraan dengan mereka, dan kembali berbahasa informal saat berbicara dengan yang lain.

Serta satu hal yang paling janggal, mengapa Jimin langsung berpaling padanya setelah menjelaskan letak makanan milik Baekhyun tadi. Bukannya menjadi mengobrol dengan Baekhyun. Lebih tepatnya lagi, tak ada satupun yang mengajak Baekhyun berbicara.

Chanyeol tersentak karena tiba- tiba tangan Jimin menarik wajahnya untuk menghadap gadis itu, dan membuat Chanyeol berpaling dari Baekhyun.

Lalu dengan berbicara tanpa suara, gadis itu memberi isyarat pada Chanyeol.

J-A-N-G-A-N T-A-T-A-P D-I-A S-A-A-T M-A-K-A-N

Seperti psikologi terbalik, saat seseorang menyuruh kita untuk jangan melihat, dan kita justru menjadi semakin penasaran untuk melihatnya. Chanyeol pun justru menatap Baekhyun terus menerus.

Dan pemandangan itu membuatnya terdiam.

Meski pria cantik itu sudah makan dengan perlahan, tetap saja ada beberapa kekacauan yang dibuatnya. Seperti beberapa tetesan sup mapel di sekitaran meja. Dan bagaimana dengan canggungnya Baekhyun mengambil teko sirup mapelnya, dan mengembalikan lagi pada posisi semula yang sedikit tidak tepat.

Chanyeol mengigit bibirnya.

Merasa sesuatu mengganjal dalam hatinya saat melihat itu. Sebuah fakta baru dia dapatkan lagi dari seorang Byun Baekhyun. Sebuah fakta yang entah bagaimana membuat pria cantik itu tampak lebih manusiawi.

Ternyata Tuan Muda Byun Baekhyun yang selalu tampak memukau, juga memiliki kekurangan yang malu untuk dia perlihatkan pada orang- orang.

"Mengapa dia malu akan hal sepele seperti itu? Aku bahkan merasa dia terlihat cute saat makan berantakan." Batin Chanyeol bertanya- tanya.

Sebelum akhirnya pria itu berpaling dari Baekhyun. Mencoba ikut menghormati sang Tuan Rumah itu. Sungguh menakjubkan bagaimana semua orang di Mansion ini mencoba memahami Baekhyun yang tak suka ditatap saat makan namun tetap suka makan bersama, padahal pemuda itu tak akan tahu bila ada seseorang yang berani menatapnya. Namun tak ada satupun -kecuali Chanyeol tadi- yang mengingkari hal tersebut.

Beginilah pengamatan singkat Chanyeol yang menghabiskan rutinitas pagi pertamanya di Mansion Byun.

.

.

.

TBC

.

.

.

AN : Yaps benar, jika SM punya Lee Sooman, maka BB punya Kim Jongdae ehehe. Oke! Lanjut!! Silahkan digeser~