Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Shin Jimin AOA, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
.
Happy Reading
Chapter 9 : Between
.
.
.
Awal Musim Panas, 2011
"Kau percaya itu Baek? Dia memandangku sinis dan bilang, 'sungguh menyebalkan saat Idol juniorku nanti ternyata lebih tua daripada aku, maaf saja, aku tak akan memanggilmu hyung. Akulah seniornya' Begitu Baek!!. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat idolaku berkata begitu langsung tepat didepanku. Arg.. hatiku hancur.." Chanyeol bercerita dengan semangat didepan Baekhyun, dan mengakhiri cerita itu dengan meletakkan kedua tangan di dada dan menjatuhkan badannya kebelakang berakting seolah tertembak, dan jatuh pada sofa empuk yang sedang mereka duduki.
Baekhyun yang mendengarkan itu menjadi tertawa dengan renyahnya.
Keduanya tengah berada di sofa tempat ruang santai di lantai 2 Mansion Byun. Dengan televisi menyala yang menampilkan acara musik dan tengah menampilkan D.O yang bernyanyi dengan indahnya. Comeback musim panas Kyungsoo tampaknya sungguh sukses.
"Syukurlah kau bisa langsung akrab dengannya. Kyungsoo adalah pria lembut dan penyayang. Walau sedikit serius. Aku sungguh dekat dengannya sejak kecil." Komentar Baekhyun.
Chanyeol melebarkan matanya dramatis.
"No No No!! Dia tidak lembut! Dia tidak penyayang! Dan itu tidak hanya SEDIKIT serius, dia sangat seriussss.. Dan jangan lupakan tatapan tajamnya. Dia seperti ingin membunuhku." Chanyeol membantah semua pernyataan Baekhyun.
Dan Baekhyun kembali tertawa. "Chanyeol ah, itu karena Kyungsoo memiliki Astigmatisma pada matanya, makanya dia memandang orang seperti itu. Jangan salah paham."
Begitulah bila Baekhyun tengah bersama Chanyeol beberapa minggu ini. Keduanya akrab dengan sangat cepat. Seperti dua potongan fuzzle yang menemukan pasangannya. Klop sekali.
Baekhyun yang tenang, dan Chanyeol yang ceria.
Baekhyun yang lebih suka dirumah, membawa ketenangan pada Chanyeol yang suka berpetualang.
Chanyeol yang suka pergi kesana kemari, membawa banyak cerita menarik yang akan dibagi kepada Baekhyun.
Hanya Chanyeol yang dapat membuat Baekhyun terus tertawa, apapun lelucon yang pria tinggi itu lontarkan.
Dan hanya Baekhyun yang dapat membuat Chanyeol nyaman tanpa ada canggung yang menyiksa. Sehingga pria itu selalu merasa nyaman bersama Baekhyun.
Kedekatan mereka telah sukses menjadi bahan obrolan para Pekerja Pria dan Wanita di Mansion ini. Semuanya bahagia karena akhirnya sang Tuan Muda membuka pertemanannya kepada orang lain selain mereka saja. Sang junjungan juga menjadi jauh lebih ceria dan suka tertawa.
Tak sedikit pula yang bertanya- tanya apa status hubungan keduanya. Pasalnya bila Chanyeol sudah ada di Mansion, Baekhyun bahkan rela meninggalkan apapun pekerjaan dan kegiatannya hanya untuk duduk mengobrol bersama pria tinggi itu. Dan keduanya kerap menghabiskan waktu semalaman dikamar sang Tuan Muda, yang katanya murni hanya tidur saja.
Namun kedua tokoh utama justru tak terlalu memikirkan hubungan apa yang tengah mereka jalani ini. Mungkin sahabat atau mungkin lebih daripada itu. Keduanya berpikir, untuk menjalaninya saja sekarang, biarkan saja seperti air yang mengalir disungai, nanti kita juga tahu muaranya dimana. Jangan terlalu banyak dipikirkan, asalkan mereka berdua nyaman satu sama lain, bukankah itu sudah cukup?.
.
.
Setelah sarapan pertama Chanyeol di Mansion ini. Pada hari itu juga Chanyeol langsung di tawarkan kontrak yang sudah di impikannya sejak lama. Rasanya Chanyeol sampai sekarang masih tak percaya bahwa hari seperti itu akan datang dalam hidupnya.
Dan dalam kontrak itu menjelaskan bahwa Chanyeol sekarang akan menjadi trainee BB Ent, dan dipersiapkan debut April tahun depan.
Dengan satu syarat.
Chanyeol akan tinggal di Mansion Byun. Untuk membacakan sebuah novel kepada sang Tuan Muda Byun Baekhyun disetiap malamnya, setelah pria itu pulang latihan.
Hari itu juga Chanyeol mengetahui apa alasan sebenarnya Baekhyun membuka audisi itu. Dan sukses membuat Chanyeol menganga akan kenyataan bahwa pria cantik sialan kaya itu bahkan rela memberikan apapun hal berbentuk materi kepada seseorang yang telah berhasil membuatnya tertidur dengan membacakan sebuah buku. Bukankah itu sungguh konyol dan gila. Ada- ada saja.
Apakah ini keberuntungan atau ini kutukan, akan kenyataan hanya Chanyeol lah orang yang berhasil melakukannya. Membuat Baekhyun harus menunaikan janjinya, yaitu memberikan apapun keinginan Chanyeol. Si pria yang telah berhasil.
Dan jika pria itu adalah Chanyeol, keinginan pria tinggi itu tidaklah muluk- muluk. Dirinya bukanlah pria gila harta yang akan menjawab ingin banyak uang. Namun dirinya adalah pria penuh mimpi yang menjawab...
"Keinginanku adalah diriku yang dapat mencapai mimpiku."
AND DEAL!!
Baekhyun membantu Chanyeol dengan membukakan jalan menuju mimpi pria tersebut.
Sedangkan Chanyeol membantu Baekhyun untuk bermimpi indah setiap malamnya.
Win Win Solution
Chanyeol akan debut dan Baekhyun bebas dari insomnianya.
Sungguh perbandingan yang aneh.
Lalu orang gila mana yang akan menolak tawaran seperti itu. Tentunya Chanyeol sama sekali tak berpikir saat membubuhkan tanda dan cap tangannya pada kontrak kerja mereka. Disaksikan oleh Xiumin yang akan mengurus kontrak tersebut dan Chen yang akan menjadi pelatih dan penanggung jawabnya nanti. Dan berakhir dengan dihambur pelukan oleh Jimin yang sangat bahagia akhirnya sang idola bisa debut. Perjalanan karir Chanyeol pun dimulai.
.
.
Ini masih jam 8 malam, cukup sore untuk orang yang terbiasa untuk tidur larut malam atau tidak tidur sama sekali seperti Chanyeol dan Baekhyun.
Keduanya betah bertukar cerita, tak peduli beberapa maid juga ikut mendengarkan cerita kedua anak adam ini, dan sesekali ikut tertawa bersama Baekhyun saat mendengar lelucon Chanyeol.
"Jadi, kau ingin berhenti mengidolakannya?" Baekhyun menelengkan kepalanya pada televisi didepan mereka, yang masih menampilkan Kyungsoo.
"Humm.. dia ternyata bukanlah senior yang menyenangkan. Tapi walau bagaimanapun dia tetaplah Idol yang berbakat dan mengagumkan ehehe.." Jawab Chanyeol lalu diakhiri dengan senyum cerahnya. Andaikan Baekhyun dapat melihat senyum yang mempesona itu.
"Ada cerita lain selama pelatihan?" Tanya Baekhyun, segera membuka percakapan baru, pria cantik rupawan itu paham sekarang, jangan biarkan suasana canggung menyelimuti Chanyeol bahkan hanya sebentar saja, pria itu akan merasa tak nyaman.
"Oh ya, Chen Ahjussi menyuruhku menemui kantornya setelah selesai latihan vocal besok. Sepertinya membicarakan tentang debut dan anggota grupku nanti. Menurutmu aku akan berada diposisi apa bila aku digabung pada sebuah boygroup?" Chanyeol meminta pendapat Baekhyun.
Baekhyun terdiam sebentar berpikir, "Aku tak tahu pasti. Tapi kau bisa menjadi vocalist dan rapper, kau juga pastinya akan ikut bergabung bersama beberapa produser untuk ikut menciptakan lagu kalian. Tapi yang pasti... kau bukanlah Lead Dancer dan pastinya juga, kau akan menjadi si paling tinggi di grup tersebut karena kau memang Trainee pria paling tinggi sekarang." Dia adalah Tuan Muda Byun Baekhyun, yang selalu berkata dengan tepat dan penuh perhitungan. Memangnya kalian mengharapkan jawaban seperti apalagi.
Chanyeol yang mendengar itu berkedip pelan. Menatap wajah cantik pria didepannya dengan terkejut.
"Darimana kau tahu aku payah dalam menari? Aku kan tidak menceritakan itu padamu." Tanya Chanyeol setengah terkejut dan setengah malu.
"Chen Ahjussi yang bercerita padaku, katanya kau terus- menerus dimarahi oleh Pelatih Kai." Jawab Baekhyun sekenanya, sambil menyebut nama salah satu pelatih tari dan koreografer agensi miliknya itu.
Dan menciptakan umpatan- umpatan dari bibir Chanyeol.
"Haishh.. kenapa Ahjussi itu suka sekali membuka aib orang lain. Aku menyesal dulu terlalu hormat padanya." Gurutunya kesal.
Baekhyun tersenyum lebar menahan tawa.
"Kenapa kau tak menceritakannya langsung padaku? Bahkan Chen Ahjussi bilang kau sempat menangis diam- diam di toilet karena malu setelah dibentak didepan semua trainee yang lain." Tanya Baekhyun.
Chanyeol yang mendengar itupun cemberut sebentar, "Mana mungkin aku bisa menceritakannya, demi gitar tua milikku, itu memalukan." Jawab Chanyeol pelan.
Baekhyun tersenyum menenangkan.
Pria mungil itu sedikit meraba, lalu setelah mendapatkannya, Baekhyun langsung menggenggam tangan Chanyeol dengan hangat.
"Masa trainee memang sulit ya... Aku harap kau bisa terus kuat dan semangat. Kau pasti bisa melewatinya, Fighting!"
Oh tidak...
Siapa yang akan tahan bila Baekhyun memberikan Chanyeol ucapan manis itu dibarengi dengan senyum kotaknya yang tak kalah manis. Memperlihatkan gigi kecil- kecil Baekhyun yang lucu dan kedua pipi pria itu terangkat membentuk mochi. Baekhyun sungguh menggemaskan.
Rasanya tenaga Chanyeol langsung menjadi pulih hanya dengan melihat senyumnya.
"Terima kasih banyak, Tuan Muda Byun Baekhyun." Chanyeol dengan sengaja memanggil Baekhyun dengan panggilan formal pria itu. Terdengar sungguh kaku dan tak biasa.
Baekhyun pun tertawa, membuat matanya menghilang dalam lengkungan sabit yang indah.
Chanyeol yang menatap itu menjadi tersenyum.
Diam- diam Chanyeol membalik tangannya, kemudian menyusupkan jari- jarinya yang besar dan kasar kepada jari- jari Baekhyun yang sungguh halus dan lentik. Membuat keduanya mengobrol sambil berpengangan tangan.
Itu hanyalah perlakuan kecil.
Namun entah bagaimana caranya berhasil membuat debaran yang sangat menyenangkan.
"Apa yang kau lakukan hari ini?" Giliran Chanyeol yang bertanya, suara husky Chanyeol mendadak berubah menjadi sungguh lembut nan dalam.
Pria itu juga telah banyak belajar mengenai Baekhyun selama beberapa minggu ini. Baekhyun tak akan menceritakan dirinya kecuali seseorang bertanya terlebih dahulu. Dia pria yang tertutup namun tak menutup kemungkinan untuk orang- orang yang berusaha mengenalnya.
"Seperti biasa, aku mandi, makan, bekerja, membaca buku, bersantai di ayunan, dan lain- lainnya." Baekhyun menjawabnya.
"Aku selalu berusaha untuk bertanya ini tapi.." Chanyeol berucap ragu, dan Baekhyun tersenyum mendengar itu.
"Tak usah takut diriku menjadi tersinggung Chanyeol." Ujar Baekhyun tenang.
Chanyeol tersenyum.
"Bagaimana caramu membaca, menulis, ataupun mengetik?." Chanyeol bertanya penasaran.
"Braille." Jawab Baekhyun singkat.
"Hah? Apa?" Tanya Chanyeol.
"Itu adalah titik- titik yang seperti 6 titik kartu domino yang tersusun membentuk pola-pola, dan dapat menyimbolkan A sampai Z dan 0 sampai 9. Penyandang tunanetra membaca dengan huruf Braille untuk dapat berkomuniskasi secara tulisan."
"Itu cukup mudah. Asalkan rajin mempelajarinya. Aku juga terkadang akan mencetak laporan yang datang dengan printer Braille sehingga aku dapat membacanya langsung tanpa Xiumin yang harus membacakannya. Aku juga terkadang mengetik dengan keyboard Braille, walau sekarang lebih mudah karena ada komputer yang menerima perintah suara. Dan aku membaca buku- buku berhuruf Braille bila tak ada kau yang membacakan aku buku." Chanyeol mendengarkan penjelasan itu dengan seksama.
"Aku jadi ingin mempelajarinya." Ujar Chanyeol kemudian.
Baekhyun tersenyum, "Kapan- kapan aku akan mengajari mu.." jawabnya.
Mata Chanyeol berbinar, "Kau janjikan?!" tuntutnya bersemangat.
Dan Baekhyun hanya menganggukan kepalanya.
"Tapi kau harus janji untuk rajin menulis surat untukku bila kau sudah lancar membaca dan menulis memakai huruf Braille nanti." Sekali lagi, dia adalah Tuan Muda Byun Baekhyun, yang tak akan memberikan suatu hal tanpa sebuah negosiasi yang menguntungkannya. Dasar pembisnis.
Chanyeol berpikir sebentar, "Kenapa aku harus membuat surat untukmu, bila aku sudah tinggal disini dan menemuimu setiap harinya?" tanyanya.
Baekhyun pun ikut berpikir sebentar, "Chanyeol ah, kurasa ini akan menjadi suasana canggung bila aku jawab, karena suratmu lah yang menemaniku saat kau belum datang menemuiku."
Chanyeol tersedak ludahnya sendiri.
"Kau benar, jangan mengatakan itu, atau segalanya akan menjadi canggung." Ujar Chanyeol cepat.
"Aku sudah mengatakannya." Ujar Baekhyun menyampaikan fakta, pria itu tersenyum lebar.
Chanyeol menggeleng cepat, "Kalau begitu jangan mengatakannya lagi." Ucapnya.
Baekhyun tertawa, "Tapi aku ingin mengatakannya lagi." Baekhyun berucap jahil.
Chanyeol memandang Baekhyun dengan mata memincing, "Kau ingin menggodaku lagi bukan?" Tanyanya tepat sasaran, dan dibalas Baekhyun dengan tawa bahagia.
Melihat itu hanya membuat Chanyeol menghela napas pasrah menatap Baekhyun yang sudah tertawa bahagia didepannya, sebab dirinya selalu terpancing dalam jebakan Baekhyun. Meski begitu Chanyeol tak pernah marah, memangnya daya apa yang Chanyeol punya untuk menolak membuat Si Tuan Muda Kesayangan semua orang ini bahagia.
Baekhyun tak pernah bosan untuk menggoda Chanyeol dengan perdebatan- perdebatan konyol tanpa hasil.
Itu sungguh menyenangkan dan menghilangkan stress.
Sekarang Baekhyun berpikir, apakah Chanyeol dapat membuat dirinya tertidur karena pria tinggi itu memang selalu menguarkan aura positif yang membangkitkan kebahagiaan orang lain?. Entahlah.. semua ini masih menjadi tanda tanya.
Sekali lagi, tak usah terlalu dipikirkan, jalani saja.
"Berhentilah mendatangiku kesini!!" Chanyeol dan Baekhyun terkesiap mendengar suara dari arah ujung koridor itu.
Ujung koridor sebelah kanan Lantai 2 , oh.. Itu ruang musik.
Dan tadi jelas sekali suara Xiumin.
"Bagaimana bisa aku tak mendatangimu kesini, bila kau tak pulang kerumah Ibunya Jimin, menolak menemuiku dikantormu, dan menolak semua panggilan dan pesanku. Satu- satunya tempat untuk menemuimu adalah disini." Dan itu adalah suara Chen.
Sepertinya kedua pria itu lupa untuk menutup pintu ruang musik dengan rapat sehingga suara mereka bisa terdengar sampai keluar.
"Aku sudah dewasa dan bebas melakukan apapun yang ingin aku lakukan, jadi berhentilah menganggu hidupku jika kau bahkan sudah menolak hatiku!" Chanyeol sesungguhnya terkejut, dirinya tak pernah mendengar Xiumin menaikkan nada suaranya, pria itu selalu tampak tenang dan pendiam. Dan juga sungguh penyayang kepada Jimin tentunya, Chanyeol kerap melihat Xiumin memanjakan sahabat mungilnya Chanyeol itu.
"Aku akan terus mengganggumu selama kita masih berada dalam kartu keluarga yang sama. Kau masih dalam hak asuhku, aku adalah walimu." Chanyeol dan Baekhyun menjadi sunyi mendengarkan perdebatan itu.
"Kau gila? Aku sudah 22 tahun, tak perlu seorang wali lagi, aku sudah dewasa di mata hukum. Tapi baiklah kalau itu caramu, aku akan mengurusnya secepat mungkin. Aku ingin melepas marga sialan ini dari namaku. Aku tak ingin menjadi anakmu lagi." Kembali suara Xiumin terdengar.
"Aku tahu kau tak akan berani melakukannya Kim Minseok, kau sendiri juga tahu... satu- satunya hal yang membuat aku terikat padamu sekarang adalah ikatan keluarga kita. Kau terlalu takut untuk mengambil resiko dengan melepaskan margamu itu. Bisakah kau berhenti menghindariku sekarang?. Aku lelah bermain kucing- kucingan ini, kembalilah menjadi putraku yang manis dan penurut." Suara Chen selalu terdengar tenang, pria itu sepertinya selalu berusaha untuk bersikap lembut pada Xiumin.
"Aku tak bisa! Aku tak mau! Aku tak akan bisa lagi memandangmu sebagai ayah, kau paham itu?!. Tidak setelah aku tahu kau ternyata juga mencintaiku. AKU TAHU! Kau hanya tak ingin mengakuinya, ayolah Kim Jongdae, berhenti memikirkan hal lain, bisakah kau jujur akan kata hatimu?" Dan sepertinya didunia ini, hanya Chen yang dapat membuat Xiumin berteriak dengan tak sabar. Suara pria itu terdengar sungguh kesakitan dan tersiksa.
Sesungguhnya ini sangat tak terpuji untuk mendengarkan urusan pribadi orang lain.
"Chanyeol, ayo kita turun ke lantai 1, aku ingin tidur sekarang." Baekhyun berbisik pada Chanyeol.
Dan keduanya pun berjalan pergi dan menuruni tangga sambil berpegangan tangan. Memasuki kamar Baekhyun yang bernuansa coklat menenangkan.
Sampainya didalam, Baekhyun mendudukkan dirinya disamping ranjang. Wajahnya terlihat tegang.
Melihat itu membuat Chanyeol berdiri tepat didepannya.
"Kau tak apa?" tanyanya penuh perhatian.
Baekhyun justru menyandarkan dahinya pada perut Chanyeol yang berada didepannya. Pria itu terlihat sungguh banyak pikiran. Dibalik semua canda tawanya bersama Chanyeol, pasti Baekhyun memiliki sejuta masalah yang ditanganinya.
Hey, itu wajar. Bukanlah mudah menjalankan puluhan perusahaan dalam satu waktu. Di tambah lagi, Baekhyun ikut memikirkan masalah kehidupan orang- orang terdekatnya.
Chanyeol pun mengelus lembut rambut Baekhyun yang sedang bersandar pada dirinya.
"Hei.. mau bercerita padaku?" tawar Chanyeol.
Baekhyun menggeleng pelan, membuat Chanyeol sedikit kecewa.
"Nanti saja, kapan- kapan, sekarang aku ingin tidur." Ujar Baekhyun.
Chanyeol mengangguk pasrah.
"Buku apa yang ingin kau dengarkan malam ini?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun tersenyum lemah lalu menjawab.
"Aku rasa puisi Gerobak-Dorong Merah sudah lebih dari cukup untukku malam ini." Jawabnya yang menciptakan kekehan dari Chanyeol.
"Memangnya kau tak bosan dengan puisi itu?" Tanyanya ringan.
Baekhyun menggeleng.
"Tak pernah, sepanjang hariku selalu merindukan suaramu yang membacakan puisi itu."
Chanyeol pun memeluk kepala Baekhyun, begitu pula Baekhyun yang langsung melingkarkan lengannya di pinggang Chanyeol.
"Aku juga tak akan pernah bosan membacakannya padamu." Ujar Chanyeol pelan, dan menciptakan senyum pada bibir Baekhyun.
.
.
.
Di sisi lain, dilantai 3 Mansion Byun yang megah.
Di sebuah kamar paling ujung bernomor 36 dipintunya.
Seorang gadis diam- diam memasuki sebuah kamar yang tengah kosong dan gelap karena lampunya dimatikan sebab sang empunya kamar tengah berjaga didepan kamar Tuan Muda mereka.
Gadis ini sesungguhnya bingung, kenapa sang sahabat yang merupakan pemilik kamar tak pernah membiarkan siapapun masuk kedalam kamar miliknya ini. Sang sahabat juga memilih untuk tinggal sendiri dikamar ini daripada berbagi kamar berdua dengannya.
Padahalkan sekamar berdua itu seru, pikir gadis ini.
Tujuan awal gadis ini sebenarnya sungguh sederhana. Dirinya ingin meminjam hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah dan meneteskan air ke lantai sedari tadi, tapi karena kebetulan sang pemilik kamar juga tak sedang berada ditempat. Kenapa tak sekalian menyelam sambil minum air, pikirnya.
Sekalian untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang hal yang disembunyikan rapat oleh sahabatnya itu dikamarnya.
"Pasti dia menyembunyikan banyak coklat disini, dan dia tak ingin membaginya padaku." Gumam gadis ini dengan wajah kesal.
Klek!
Saklar lampu pun telah gadis ini tekan kebawah. Memberikan cahaya terang sampai keseluruh ruangan. Si gadis menutup matanya, kemudian berkedip- kedip beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya.
Dan saat matanya telah dapat membuka tanpa kesakitan.
Gadis itu melebarkan matanya.
Menatap ke sekeliling dengan keterkejutan yang amat sangat.
Dikamar ini, lebih tepatnya diseluruh dinding kamar ini, bahkan sampai ke langit- langitnya.
Penuh, ah tidak.. SANGAT PENUH dengan tempelan foto seseorang dengan berbagai macam ukuran yang sungguh bertumpuk- tumpuk saking banyaknya.
Ini mengerikan.
Gadis ini bahkan sampai gemetar melihat bagaimana rupa tempat ini.
Tak ada bedanya dengan kamar tidur fans gila yang mengikuti idola mereka dan mengambil gambarnya kapan pun dan dimanapun.
Gadis ini menjadi pusing saat melihat bagaimana semua foto itu diambil tanpa sepengetahuan objek yang berada dalam foto tersebut.
Dengan tubuh gemetar, gadis ini kembali mematikan lampu, kemudian menutup pintu kamar yang dengan cerobohnya tak dikunci oleh pemiliknya hari itu.
Dan bergumam tak percaya akan segala hal yang telah disaksikannya.
"Itu jelas sudah tak lagi normal, ini adalah tindakan kriminal!. Wanita itu sungguh gila dan terobsesi. Astaga.. dia gila!" Ujarnya dan cepat- cepat pergi dari tempat itu. Meninggalkan kamar yang ternyata menyimpan rahasia kelam.
Kekelaman obsesi yang tertutupi alasan bahwa itu adalah sebuah bentuk dari cinta.
Gadis ini pergi, dengan tanpa sadar telah meninggalkan banyak jejak air yang menetes dari rambut basahnya sepanjang tempat gadis ini berjalan.
.
.
.
TBC
AN : Masih ada lagi, silahkan digeser~
