Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

.

Happy Reading

Chapter 12 : Pillow Talk with Baekhyun

.

.

(Warning : Chapter ini memiliki percakapan dan narasi yang panjang. Bacalah dengan perlahan. Semoga dapat menghibur. Terima Kasih)

.

.

Awal Musim Panas, 2011

Pria mungil itu menjatuhkan dirinya menjadi telentang diatas ranjang besar miliknya ini. Seraya mengatur napasnya sendiri yang sungguh berantakan.

"Wow. I mean... wow." Baekhyun mengucapkan itu dengan suara bisikan rendah dan terengah.

Chanyeol yang mendengar itu hanya menyeringai seraya menarik pria mungil itu kedalam pelukannya.

"Yeah.. I know, aku sungguh hebat, dan tadi sungguh menakjubkan." Ujarnya dengan suara yang sangat kentara sedang membanggakan diri, dan menutup itu dengan sebuah kecupan manis di pipi Baekhyun.

Baekhyun pun mendengus mendengarnya. Namun si mungil hanya diam tak membantah. Tak mau berbohong karena tadi memang sungguh menakjubkan, namun terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.

Baekhyun menutup matanya, mencoba tertidur -meski dia tahu itu tak akan bisa- setelah bisnis panas, di atas kasur berantakan, dan tubuh penuh peluh yang sekarang sungguh lengket akan keringat yang menguarkan aroma bekas percintaan yang khas, serta jangan lupakan pria tinggi tak tahu diri yang sekarang terus menempel padanya.

"Bisakah kau berhenti memelukku Chanyeol?. Disini gerah." Baekhyun meminta Chanyeol menyingkir dengan kalimat yang sopan lagi lembut.

Chanyeol pun menjadi bingung, "Kau mulai berbicara sopan lagi padaku. Ada apa denganmu?" Tanya pria tinggi itu keheranan.

Dan Baekhyun justru terdiam.

"Aku tadi berbicara sopan?" Tanyanya, tak sadar akan ucapannya sendiri.

"Ya, kau berbicara sopan!. Kau biasanya mungkin akan mengatakan, 'Chanyeol ah, menyingkirlah' atau 'Chan, jauh- jauh dariku' , kita sudah menanggalkan kalimat sopan seperti 'Bisakah' ataupun 'Tolong aku' dari beberapa minggu kemarin Baek." Baekhyun mengerutkan keningnya, itu penjelasan yang sedikit rumit, dan juga, kenapa Chanyeol menjelaskan itu pada Baekhyun seolah- olah pria tinggi itu kenal dirinya lebih daripada diri Baekhyun sendiri.

"Kurasa aku memiliki... trauma." Jawab Baekhyun dengan suara pelan.

Baekhyun tersenyum sedih, dan pria mungil itu bersyukur Chanyeol tak dapat melihatnya sekarang karena kamar ini pasti sungguh gelap.

Pria mungil itu mendekatkan wajahnya kearah Chanyeol lalu memberikan kecupan singkat pada bibir cerewet pria tinggi itu.

"Chanyeol ah, ayo kita lakukan pillow talk sepanjang malam." Dan Chanyeol pastinya setuju- setuju saja, pillow talk setelah making love, hummm.. bukankah itu terdengar sungguh seksi, pikir pria tinggi ini dengan kurang ajarnya.

Chanyeol mengangguk dan Baekhyun merasakan gerakan pria tinggi itu. Kemudian, dengan suara rendah penuh keraguan Baekhyun mulai bercerita.

"Saat aku berumur 3 tahun, aku pernah diculik -

Baekhyun menghentikan ucapannya karena merasa tubuh Chanyeol menengang terkejut.

- dan dipukuli oleh pengasuhku sendiri." Lanjut Baekhyun akhirnya. Chanyeol menjadi sunyi senyap, dan diam- diam pria itu mengeratkan pelukannya pada Baekhyun, berusaha memberikan Baekhyun kekuatan untuk bercerita dan kekuatan untuk dirinya sendiri dalam mendengarkan.

Bagi Chanyeol, membayangkan ada suatu hal sialan yang menyakiti Baekhyun sungguh tak dapat diterima pada sisi manapun dalam kewarasan otak dan hati nuraninya. Sepertinya ketakutan Chanyeol bertambah satu dari dunia ini. Melihat Baekhyun kesakitan.

Baekhyun yang menyadari usaha yang Chanyeol lakukan untuk menguatkan dirinya itupun tersenyum.

"Ingat saat aku bermimpi buruk di perpustakaan?. Itu karena aku memimpikannya. Tak jelas mengapa dia sungguh membenciku hingga segitunya. Tapi saat masih kecil setelah kejadian itu, diriku sendiri membuat kesimpulan. Lee Sunmi -nama wanita itu- setelah kami berdua menjadi dekat, dia terus-menerus merasakan sakit hati karena harus berbicara dengan kalimat sopan pada diriku yang masih berumur 3 tahun. Dan dia sakit hati karena aku memiliki banyak orang yang menyayangiku namun aku tak menghargai mereka. Katanya, bila dirinya adalah diriku, dia akan memperlakukan hartaku dan orang- orangku dengan lebih baik, lebih baik daripada diriku sendiri memperlakukan mereka." Chanyeol mencoba menatap Baekhyun ditengah gelapnya kamar ini, namun percuma, terlalu gelap untuk melihat apapun.

"Itu kesimpulan tak masuk akal Baek. Bahkan bagi kita sekarang, sesakit apapun hati kita akan perilaku seorang anak umur 3 tahun, itu tak memberikan alasan untuk kita memukuli mereka. Bila kau dan aku berada diposisi Sunmi, apakah kau tega untuk memukuli seorang anak berumur 3 tahun?. Pastinya tidak. Wanita itu yang salah disini. Dan kau adalah korban yang sebenarnya, mengapa kau menyalahkan dirimu sendiri atas tindakan wanita itu." Komentar Chanyeol tak setuju.

Terdengar Baekhyun menghela napas.

"Kau benar. Sepertinya meski aku memiliki IQ yang tinggi, tetap saja aku memiliki banyak pemikiran bodoh. Chanyeol ah, aku mungkin memang pintar dalam berbisnis dan memiliki banyak pengetahuan. Tapi aku terlalu bodoh dalam memahami perasaan manusia. Manusia sungguh rumit." Ujar Baekhyun.

Chanyeol mengangguk, berusaha mengerti hal ini dari sudut pandang Baekhyun, "Baiklah, lanjutkan.." Ujarnya, Baekhyun pun melanjutkan ceritanya.

"Setelah kejadian itu, aku dirawat dirumah sakit Seoul selama 6 bulan. Lalu aku melanjutkan pengobatan ke Jerman. Dan baru kembali lagi ke Korea Selatan saat aku berumur kurang lebih 5 tahun. Aku ingat hari itu, seluruh Koki memasakkan makanan paling enak yang mereka bisa, seluruh Pekerja dan Maid menyambutku dengan antusias, dan bahkan beberapa anggota keluarga mereka dirumah juga datang ke Mansion ini untuk menyambutku. Itu adalah pesta besar- besaran." Baekhyun sedang tersenyum, Chanyeol mengetahui itu dari nada suaranya yang terdengar sungguh terharu dan bahagia.

"Saat itulah aku menyadarinya, bahkan seluruh tokoh penting didunia atau bahkan presiden Korea Selatan pun, tak berarti apa- apa bagi diriku."

"Siapapun didunia ini, semuanya kalah berharganya dengan seluruh pekerja di Mansion ini dan pegawai- pegawai di seluruh perusahaan milikku. Mereka memasak untukku, menjaga Mansion ini tetap aman, merapikan dan membersihkan Mansion ini, mencucikan bajuku, mereka merawatku dari bayi dengan keloyalan mereka kepada keluarga ini, kepada Keluarga Byun, dan jangan lupakan para pegawai ikut menjalankan perusahaan- perusahaan bersamaku."

"Mereka merawatku, menyayangiku, peduli padaku, memikirkanku, mengkhawatirkanku, dan para guru- guruku dahulu lah yang mengajariku banyak hal. Bila kita pikir lagi, bukankah semua itu sudah lebih dari cukup untuk mendeskripsikan keluarga?."

Baekhyun memberikan jeda sedikit dari ceritanya, sambil memainkan alis Chanyeol yang tebal dengan jari- jarinya yang lentik.

"Jadi, mulai saat itu. Seluruh pekerja dan pegawai yang berada dibawah naunganku adalah orang- orang nomor 1 dihidupku. Mereka yang terpenting bagiku. Aku mulai berusaha untuk terus memahami mereka, menghargai mereka, membahagiakan mereka, dan selalu berusaha keras untuk menjadi si Tuan Muda Byun Baekhyun yang kaya raya sehingga aku dapat terus menanggung kehidupan mereka."

"Dan entah bagaimana aku memulai ini, setelah itu.. aku mulai berbicara dengan bahasa yang amat sangat sopan pada orang- orang yang berusaha aku bahagiakan, Chanyeol ah. Aku berusaha sebaik mungkin agar tak ada satupun yang tersinggung lagi dengan ucapanku. Seperti Sunmi Noona." Chanyeol mendengarkan itu dengan seksama, sambil dalam hati bergumam, Oh.. itukah alasan dibalik semua ini.

"Dan karena aku menggunakan bahasa yang sopan pada mereka. Mereka semua justru semakin kaku, dan terus menggunakan bahasa yang sungguh sopan juga padaku. Oh! kecuali Xiumin sebenarnya, diam- diam Xiumin sering menggunakan bahasa santai dan singkat saat hanya sedang berdua denganku. Alasannya, dia adalah orang yang terlalu sibuk untuk menggunakan kalimat sopan yang panjang- panjang. Tidak efisien waktu katanya." Baekhyun tertawa geli diakhir kalimatnya.

Chanyeol mengerutkan keningnya bingung saat suatu pemikiran terlintas dikepalanya.

"Tapi kau tak menggunakan bahasa yang sopan padaku. Bahkan dipertemuan pertama kita, kau sempat memintaku untuk melunturkan kesopanan kita hanya karena kita seumuran. Kenapa kau membingungkan seperti ini?. Ya ampunnn.. aku tak percaya telah mencintai pria yang sungguh rumit. Apa ini artinya aku tak termasuk dalam orang- orang yang ingin kau bahagiakan?."

Mengabaikan kata, mencintai, mencintai dan mencintai yang tadi Chanyeol katakan. Dan terus terngiang ditelinga Baekhyun. Pria mungil itu dengan santai menjawab kebingungan Chanyeol.

"Chanyeol ah, apakah akan canggung bila aku mengatakan, alasannya ialah karena aku tak mau mengulur banyak waktu dengan menggunakan kalimat yang panjang- panjang saat bersamamu? Aku ingin waktu kita sungguh digunakan dengan efisien. Sebab aku selalu merasa waktu kita sungguh sedikit, dan pembicaraan kita selalu kurang banyak. Walau tetap saja terkadang kebiasaan berbicara sopan itu tetap keluar juga. seperti tadi." Chanyeol terdiam, sepertinya pria tinggi itu merona.

"Jangan mengatakan itu, atau segalanya akan menjadi canggung." Jawab Chanyeol cepat.

Baekhyun tertawa, "Tapi aku sudah mengatakannya." Dan Chanyeol mendengus kesal, oh astaga... mau sampai kapan dirinya terus terperosok dalam jebakan Baekhyun.

"Nah.. kau kembali menjadi menyebalkan." Komentar Chanyeol dan dibalasi dengan kekehan geli tanpa dosa dari Baekhyun.

"Sebenarnya aneh meminta maaf untuk hal ini. Tapi, maafkan aku karena menggunakan bahasa sopan padamu Chanyeol ah, kau pasti merasa tak nyaman dan canggung. Aku melakukannya tanpa sadar." Ujar Baekhyun dan Chanyeol pun hanya menggeleng dan kembali mengeratkan pelukannya pada Baekhyun.

"Tak apa." Jawab Chanyeol.

"Aku paham sekarang. Kau hanya sedikit lebih rumit daripada orang lain diluar sana. Caramu mencari ketenangan hati dan kebahagiaan memang sedikit unik dan tak biasa. Menurutku itulah daya tarikmu. Kau tak hanya cantik diluar, namun juga didalam. Kau aneh dengan cara yang indah. Sungguh mustahil untuk tak mencintaimu. Walau akhirnya aku jatuh mencintaimu bukan karena kecantikan ataupun kebaikanmu, aku justru jatuh bertekuk lutut padamu hanya karena senyum antusiasmu saat aku mendatangimu setiap sore dan malam. Aku jatuh untukmu hanya karena kau memerlukan aku dan mencariku di menjelang tidurmu. Itulah yang aku sukai darimu. Kau menerima apa adanya diriku. Aku bahagia saat diriku merasa dibutuhkan, dan kau dapat memberikan rasa itu padaku. Kurasa ini adalah salah satu dari jutaan alasan pembentuk alasan Cinta yang kita bicarakan beberapa saat lalu. Oh jangan salah, meski suatu hari nanti kau tak lagi menyambutku dengan senyuman, aku tetap akan mencintaimu, selama cinta itu terus ada diantara kita, aku akan terus mencintaimu. Kau benar, kita mencintai bukan untuk mencari alasan dan bukan karena sebuah alasan. Perasaan cinta terlalu rumit untuk dijelaskan. Tapi sungguh jelas dirasakan." Itu Chanyeol yang berucap.

Baekhyun terdiam, menahan rasa memalu karena merasa Chanyeol sedang menelanjangi dirinya. Walau sebenarnya itu memang sudah terjadi baik secara tersurat maupun tersirat. Baekhyun merasa, baik luarnya maupun dalamnya, Chanyeol sudah menguak itu semua.

Baekhyun merasa rentan dan tak nyaman. Sebab ini adalah hal baru baginya, dirinya tak pernah seterbuka ini. Tapi Baekhyun akan mencoba terbiasa untuk terbuka, setidaknya kepada Chanyeol.

Kemudian Baekhyun tersenyum jahil.

"Jangan mengucapkan itu, atau segalanya akan menjadi canggung." Ujar Baekhyun yang berusaha meniru kalimat yang sering Chanyeol ucapkan itu.

"Eh?" Chanyeol dengan lugunya terkejut, kemana perginya pria bermulut manis yang handal membuat hati meleleh tadi.

Menciptakan tawa renyah dari Baekhyun. Chanyeol pun hanya tersenyum mendengar suara tawa Baekhyun. Lalu mengusak rambut lembut Baekhyun yang sungguh basah akan keringat. Ini aneh, mengapa aroma Baekhyun masih saja -bahkan lebih- memabukkan disaat berkeringat begini. Chanyeol meneguk ludahnya kasar. Mencoba memutar otak untuk memikirkan hal lain selain aroma tubuh Baekhyun. Ternyata benar, saat satu indra mu tak kau fungsikan, maka indra yang lain akan menjadi lebih sensitif. Chanyeol bahkan dapat mendengar suara detak jantung Baekhyun ditengah gelapnya ruangan ini.

"Kau sungguh dekat dengan Xiumin. Oh bukan hanya dia, tapi juga Jimin, Chen Ahjussi, Kyungsoo dan adik kembar perempuannya Kyungsoo itu, si Kyungsoon." Ucap Chanyeol akhirnya menemukan sebuah topik.

Baekhyun berpikir sebentar, "Ya.. aku dekat dengan mereka semua, terutawa Xiumin, Jimin, dan Chen Ahjussi mereka sudah seperti keluarga. Sedangkan Kyungsoo dan Kyungsoon mungkin bisa disebut sahabat, aku dan si kembar tidak terlalu identik itu sudah kenal sejak kecil, sejak aku baru pulang dari Jerman."

"Tapi percayakah kau? Kami semua rela memberikan segalanya untuk satu sama lain bahkan nyawa kami, namun kami tak pernah mengobrol dengan dekat seperti kau dan aku sekarang. Oh! Mungkin Chen dan Xiumin juga sering mengobrol seperti kita berdua, tapi itu dulu sebelum situasi mereka menjadi seperti sekarang." Chanyeol terkejut.

"Heh?, itu aneh dan membingungkan Baek. Bagaimana kalian bisa menyayangi satu sama lain, mengenal dan mengerti satu sama lain, tapi tak pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati?. Dan juga, astaga.. sudah lama aku penasaran, kenapa Chen Ahjussi dan Xiumin Hyung selalu berkelahi bila bahkan rumput bergoyangpun akan tahu bahwa dua orang itu sungguh peduli kepada satu sama lain." Chanyeol sungguh kebingungan sekarang.

Mansion Byun dan orang- orangnya memang seperti sarang laba- laba, berjaring kesana kemari dan terhubung- hubung. Membuat pusing dan bingung.

Baekhyun justru terdiam cukup lama. Pria mungil ini memanglah pemikir ulung yang selalu berpikir dahulu sebelum bicara.

"Karena kami dengan bodohnya takut menyakiti satu sama lain. Itulah jawaban yang pas untuk kedua pertanyaanmu." Giliran Chanyeol yang terdiam mendengarkan itu.

"Chanyeol ah, apa kau keberatan jika malam ini aku memberikan cerita yang lebih panjang lagi?." Tanya Baekhyun dengan sungguh sopan.

Walau Baekhyun tak melihatnya, Chanyeol justru menjadi cemberut, "Lihat.. lihat.. Lihatlah! kau menggunakan kata- kata yang sopan lagi. Kalau mau cerita ya cerita saja Byun Baekhyun. Kau tahu aku akan terus mendengarkan semua hal yang kau katakan. Tak perlu meminta izin terlebih dahulu." Protes Chanyeol, yang menciptakan tawa dibibir Baekhyun. Diam- diam Baekhyun tahu, Chanyeol hanya menutupi keresahannya akan kecanggungan yang dia rasakan saat seseorang terlalu sopan padanya.

Mungkin Baekhyun nanti akan bertanya mengapa pria itu sungguh benci akan suasana kaku dan canggung. Tapi nanti dulu, sekarang Baekhyun ingin menceritakan kisah yang menarik.

Baekhyun menarik napas, memulai ceritanya.

"Sesungguhnya di Mansion ini, selain kisah cinta Chen dan Xiumin sekarang, sebenarnya kisah cinta dari orangtua Xiumin juga terkenal diantara maid- maid. Bahkan kisah cinta Ayah dan Ibuku si pemilik Mansion justru tak terlalu dibicarakan." Baekhyun mengucapkan itu dengan nada yang ceria, mencoba mencairkan suasana diantara mereka berdua.

"Dulu, Ayah dan Ibuku sulit untuk mendapatkan anak bahkan setelah 5 tahun pernikahan mereka. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjalani bulan madu kedua dan melakukan program bayi, sehingga untuk sementara tinggal di Bucheon, setidaknya udaranya lebih bersih daripada di Seoul dan disitu adalah pegunungan. Dan juga, katanya Ayahku juga lahir disana." Baekhyun memulai cerita yang lain lagi, dan Chanyeol betah mendengarkan. Bahkan bila Baekhyun bercerita semalaman pun Chanyeol tetap akan mendengarkannya dengan antusias, yeah.. everybody being a fool in front of someone they love, right?. Termasuk Chanyeol.

"Mereka tinggal di vila milik kami di Bucheon. Mereka hanya membawa sedikit sekali maid, koki, bodyguard, dan supir dari sini. Mereka sungguh ingin menikmati waktu yang privasi."

Baekhyun menghela napas, menceritakan ini membuatnya merindukan kedua orang tuanya. Orang tua yang tak pernah dia lihat rupanya dan tak pernah dia dengar suaranya.

Chanyeol kemudian dengan telapak tangannya menggosok pelan punggung telanjang Baekhyun dengan gerakan memutar. Menyadari bahwa ternyata ini adalah cerita yang berat untuk diceritakan maupun untuk didengarkan.

Baekhyun yang mulai merasa ringan untuk berceritapun kembali melanjutkan.

"Nah.. saat di Bucheon itulah orangtuaku bertemu dengan remaja bernama Kim Jongdae. Benar! Itu adalah Chen Ahjussi yang kita kenal. Dan saat itu dirinya baru berumur kurang lebih 17 atau 18 tahun. Astaga.. sungguh aneh rasanya membayangkan Chen Ahjussi muda. Kau tahu? Menurut cerita, dia sungguh nakal saat muda. Dia adalah pembully yang dikeluarkan dari sekolah karena telah memukuli banyak siswa lain, serta ikut banyak perkelahian dan tawuran. Benar- benar tak tahu aturan." Chanyeol menganga.

"Dia... saat muda... seperti itu?" Tanyanya tak percaya.

Baekhyun tertawa mendengar nada tak percaya dari Chanyeol. Membuat suasana diantara mereka sungguh mencair.

Kemudian Baekhyun menggulingkan tubuh mereka berdua, hingga membuat posisi mereka menjadi Baekhyun yang berada diatas tubuh Chanyeol. Dan karena Chanyeol tahu, posisi Baekhyun akan menjadi tengkurap diatas tubuhnya, yang pastinya itu tak nyaman bagi Baekhyun untuk berada di posisi seperti itu sambil bicara. Pria tinggi itupun bangkit, dengan Baekhyun masih diatas tubuhnya. Membuat dirinya sendiri duduk menyadar di kepala ranjang, sedangkan Baekhyun duduk dipangkuannya.

Pria tinggi itu melingkarkan tangannya pada pinggang telanjang Baekhyun, kemudian mengecup bibir Baekhyun dengan cepat, "Lanjutkan." ucap Chanyeol setelahnya.

Mengabaikan bagaimana intimnya mereka berdua sekarang. Baekhyun melanjutkan ceritanya.

"Orangtuaku bertemu dengannya saat si remaja Chen mencoba menjambret tas ibuku. Dan saat itulah Chen justru harus melawan beberapa bodyguard keluarga kami. Dan kau tahu? Semuanya dapat dikalahkan olehnya. Bukankah itu hebat?" Baekhyun berseru tak percaya diakhir kalimatnya.

Chanyeol mengangguk mengakui, "Sepertinya dia memang hebat bela diri dari muda, pantas saja tubuhnya masih bagus sampai sekarang. Lalu?"

"Emm.. lalu setelah itu Ayahku justru tertarik untuk memperkerjakannya. Bukankah lebih aman dengan membuat musuhmu berada didekatmu bukan?. Sepertinya itulah yang Ayahku pikirkan saat itu. Chen menjambret yang artinya pria itu perlu uang. Sehingga, ayahku justru menawarkan pekerjaan sebagai pengawal keluarga kami saat itu. Tentunya dengan bonus makanan dan tempat tinggal, diluar gaji pokoknya."

"Dan Chen setuju. Dirinya masih sangat muda, masih dibawah umur, dan pastinya sulit mencari pekerjaan. Aku akan tak heran mengapa Chen bisa menerima tawaran ayahku dengan sungguh cepat."

Chanyeol mengangguk, "Aku paham perasaannya." Ujarnya ikut bersimpati, karena Chanyeol pernah merasakan berada didalam situasi itu. Kesulitan mendapatkan uang dan pekerjaan, disaat dirinya sendiri kelaparan. Tuntutan perut terkadang memang sungguh kejam. Jangankan mencuri seperti Chen, bahkan ada beberapa orang didunia ini yang rela membunuh hanya untuk makan.

"Apakah Chen yatim piatu?" Tanyanya pada Baekhyun.

Lalu Chanyeol merasakan Baekhyun menggeleng. "Dia diusir dari keluarganya. Yeah.. kau tahu, layaknya drama berjudul anak nakal yang tak diharapkan jadi ayo kita buang saja." Terdengar nada sedih dari suara Baekhyun, meski Baekhyun sudah berusaha mengucapkannya dengan nada bercanda.

"Nah... beberapa bulan setelah itu. Orangtuaku bertemu dengan orangtua Xiumin. Dan tebak berapa umur orangtua Xiumin saat itu..."

"Emm.. berapa?" Tanya Chanyeol.

"Ayah Xiumin berumur 19 tahun dan Ibu Xiumin berumur 18 tahun."

Chanyeol mengerjap bingung. "Lalu masalahnya apa?" tanyanya.

"Masalahnya adalah mereka sudah mengandung Xiumin, dan saat itu sedang dalam status kawin lari."

Chanyeol terkesiap, "APA??!!" teriaknya tanpa sadar.

Baekhyun tertawa cerah. "Mengejutkan bukan?. Kurasa cerita ini terlalu gila untuk dipercaya bahwa semua ini nyata dan sudah terjadi bahkan sebelum kita lahir didunia ini." Komentarnya pada ceritanya sendiri.

Chanyeol menggelengkan kepalanya prihatin.

"Bukankah itu lucu Chan? Pasangan yang sedang berusaha mendapatkan anak yang tak kunjung datang, bertemu dengan pasangan muda yang diberikan anak bahkan disaat tak mengharapkan karunia itu datang. Dunia memang penuh dengan kejutan." Baekhyun menggeleng tak percaya, kemudian melanjutkan ceritanya.

"Bukan karena prihatin, orangtuaku memilih untuk mempekerjakan suami istri remaja itu justru karena merasa salut akan keberanian mereka. Ckck.. orangtua ku memang aneh."

"Mereka salut akan keputusan Luhan dan Sohee yang memilih untuk bertanggung jawab akan Xiumin yang saat itu masih dalam kandungan. Mungkin remaja lain akan menggugurkannya begitu saja dengan tak bertanggung jawab. Namun Xiao Luhan dan Shin Sohee, Ayah dan Ibu Xiumin, justru memilih meninggalkan sekolah mereka, masa depan mereka, keluarga mereka, dan segalanya untuk mempertahankan keberadaan Xiumin. Mereka memang salah dan berdosa, tapi setidaknya mereka tahu untuk tak membunuh darah daging mereka sendiri yang masih suci. Mereka lebih memilih membunuh impian masa depan mereka. Benar- benar suatu pengorbanan besar yang harus dilakukan setelah melakukan dosa besar."

Suara Baekhyun sungguh nyaman didengar, Chanyeol tarik lagi ucapannya, dirinya tak hanya sanggup mendengarkan suara Baekhyun selama semalaman, namun sepanjang malam selama hidupnya pun dia sanggup, eh? bukankah itu terdengar seperti lamaran.

"Diamlah kau kata hati sialan.." Desis Chanyeol didalam hatinya.

"Lalu pertemuan antara Paman Luhan, Bibi Sohee, dan Jongdae Ahjussi pun tak terhindari. Sepertinya karena seumuran, karena sama- sama berjuang tanpa orang tua, dan karena sama- sama merasa bahwa mereka tak diterima dimanapun selain keluarga Byun, yaitu Ayah dan Ibuku lebih tepatnya. Mereka menjadi cepat akrab, kemudian menjadi sahabat."

"Sungguh menyenangkan memiliki sahabat seperjuangan pada saat sulit dihidup kita." Itu Chanyeol yang berucap iri.

Baekhyun mengangguk, "Kau benar Chan."

"Kurang lebih setahun setelah itu Xiumin lahir. Suasana Vila Byun yang memang diharapkan cepat- cepat diisi dengan tangisan bayi ternyata berhasil dikabulkan. Tapi bukan bayi dari sang pemilik Vila. Kau tahu fakta hebatnya?" Baekhyun bertanya dengan nada seperti penggosip handal.

Dasar Chanyeol dan Baekhyun, sadarkah mereka berdua sekarang bahwa benar- benar tak terpuji membicarakan kisah hidup orang lain. Great, untuk saat ini sepertinya Baekhyun tak ingin mempedulikan tata krama terlebih dahulu. Semua ini harus diceritakan dengan jelas, toh cerita ini bahkan sudah seperti kisah legenda yang diceritakan terus- menerus dari Maid senior ke Maid Junior. Sudah menjadi rahasia umum di dalam Mansion ini.

Chanyeol menggeleng antusias. Baekhyun menyeringai.

"Kabarnya, Chen bahkan jatuh cinta pada Xiumin semenjak Xiumin baru lahir."

Mata Chanyeol membelalak, "Itu gila, dia seorang pedo?" Gumamnya tak percaya.

Baekhyun menggeleng kuat, "Jangan sebut dia menderita pedofilia, karena bahkan setelah aku lahir 2 tahun kemudian setelah Xiumin. Chen justru tetap lebih menyayangi Xiumin daripada aku. Jika Chen adalah seorang pedofil, seharusnya dia sudah tak mencintai Xiumin yang telah dewasa sekarang. Dia akan mencari anak kecil lainnya. Ya... Chen hanya mencintai Xiumin. Si Gila itu jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya dan sepanjang hidupnya hanya kepada bayi yang baru lahir dan telah dia rawat sejak umur 18 tahun sampai sekarang. Okey... kurasa itu memang terdengar gila. Tapi dia adalah seorang Kim Jongdae, jadi kita maklumi saja kegilaannya." Baekhyun menggeleng maklum.

"Xiumin juga yang membuat semua orang tahu apa bakat Jongdae yang sesungguhnya selain berkelahi. Pria itu ternyata jenius dalam bermain musik dan menciptakan lagu, hal itu berawal dari bagaimana semua orang mendengar merdunya suara Chen saat menyanyikan lullaby kepada Xiumin yang masih bayi. Hal itu juga yang membuat Ayahku memutuskan untuk memberikan home schooling kepada Chen, Luhan, dan Sohee. Mencari bakat kedua remaja yang dituntut dewasa sebelum waktunya itu."

Chanyeol tersenyum, "Ayahmu sungguh baik -

Dan Baekhyun pun mengangguk setuju.

- persis seperti putranya." Lanjut Chanyeol.

Dan Baekhyun pun merona.

Chanyeol menyeringai saat merasakan napas Baekhyun yang tercekat dan pria itu mematung.

"Ekhm.. s-selanjutnya.. Disaat umurku sudah 6 bulan, ibuku merasa dia kuat untuk menempuh perjalanan kembali ke Seoul." Chanyeol menahan tawa mendengar suara Baekhyun yang terbata, sungguh membahagiakan membuat pria mungil itu merona.

Namun setelah itu Baekhyun justru terdiam dengan amat sangat lama.

Chanyeol bersabar menunggu Baekhyun melanjutkan ceritanya. Namun Baekhyun tetap terdiam.

"Lalu?" tanya Chanyeol lembut, sambil memijat bagian belakang leher Baekhyun. Chanyeol merasa Baekhyun sungguh tegang dan kaku sekarang.

"Hari itu adalah hari keberangkatan kami. Hari yang indah dimusim gugur, semua jalan yang kami lewati diisi dengan daun jingga yang berjatuhan, itu yang diceritakan Maid yang menjadi saksi kisah ini padaku. Katanya, rombongan kami menggunakan 3 mobil, 1 mobil dikendarai supir keluarga kami berisi para pekerja lainnya, 1 mobil dikendarai oleh ayahku sendiri berisi dirinya bersama ibuku dan orangtua Xiumin, serta aku yang berada dalam gendongan ibuku tentunya. Dan 1 mobil lagi yang hanya berisi Xiumin yang dikendarai oleh Chen. Chen menggunakan mobil terpisah karena mobil lain sudah terlalu penuh, dan sudah bisa ditebak.. si anak umur 2 tahunan bernama Xiumin yang akrab dengan Chen Ahjussinya lebih daripada orangtuanya sendiri, lebih memilih ikut bersama paman kesayangannya itu." Suara Baekhyun memberat.

Chanyeol merasakan hatinya ikut tak nyaman mendengarkan nada suara Baekhyun.

"Kemudian kedua orangtuaku dan kedua orangtua Xiumin tak pernah mencapai perjalanannya ke Seoul. Mobil kami berada paling depan dari rombongan. Dan dari arah kanan sebuah mobil lain melaju dengan cepat. Menabrak serta menyeret mobil kami sampai keluar pembatas jalan dan jatuh ke tebing jurang. Hanya aku yang selamat, karena Ibuku berhasil melemparku keluar dari mobil didetik terakhir sebelum mobil jatuh. Dan begitulah, nyawaku selamat... namun aku harus mengorbankan penglihatanku, dan mengorbankan nyawa orangtuaku dan orangtua Xiumin." Suara Baekhyun semakin mengecil dan mengecil diakhir kalimatnya.

"Hey hey hey hey Baekhyun ah, sudah kubilang, berhenti menyalahkan dirimu untuk suatu hal yang bukan salahmu. Itu adalah kecelakaan, siapapun tak akan mau itu terjadi. Dan jika kau menginginkan suatu hal yang harus disalahkan, salahkan lah pada pengemudi mobil yang mengemudi dengan kecepatan tinggi dan menabrak kalian. Apakah dia sudah dipenjara?" Chanyeol mengatakan semua itu sambil menangkup kedua pipi Baekhyun dengan kedua telapak tangannya, dan berbicara sungguh dekat dengan wajah pria mungil itu.

Baekhyun menggeleng.

"Chen Ahjussi adalah salah satu saksi dari segala kejadian itu. Dan dia yang mengurus segalanya setelahnya, pencarian mayat orangtuaku dan orangtua Xiumin, acara pemakaman dan kremasi mereka, operasiku dan rawat inapku, operasi dan rawat inap pria yang menabrak kami, dan... pemakaman serta kremasi istri dari pria yang menabrak kami. Chen sepertinya tak menuntutnya karena tahu ini hanyalah murni kecelakaan dan berpikir bahwa pria itu juga pasti terpukul setelah kehilangan istrinya sendiri karena kecerobohannya."

Chanyeol menganggukan kepalanya mengerti. Pasti segalanya sangat kacau saat itu, Chen pastinya terlalu berduka setelah kehilangan sosok yang sudah seperti orangtua baginya dan kedua sosok sahabatnya, pastinya pria itu terlalu terpukul untuk memberikan tuntutan dan membuka persidangan untuk si pengemudi ceroboh yang menyebabkan semua kejadian na'as itu terjadi.

"Jadi, kau... tak buta sejak lahir?" Chanyeol akhirnya membuka percakapan tentang mata Baekhyun.

Sejauh ini, mereka berdua tak pernah membicarakannya.

Baekhyun mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol, "Ya.. aku terlahir dengan panca indra lengkap sebelumnya." jawabnya santai.

"Lalu mengapa matamu berwarna abu- abu?" Sungguh pertanyaan polos nan lugu.

Baekhyun tersenyum.

"Karena mataku memang berwarna abu- abu. Yah.. meski diriku sendiri tak tahu abu- abu itu seperti apa. Tapi memang banyak yang mengatakan warna mataku adalah abu- abu." Jawabnya.

"Aku tak mengerti." ucap Chanyeol terus terang.

Baekhyun pun menghela napas, sepertinya ada hal lain yang harus dijelaskan.

"Begini Chanyeol ah, meski korneaku telah rusak, bukan berarti dibelakang iris dan stogma mataku tak memiliki pigmen melanin atau lipchrome lagi. Melanin yang membuat mata menjadi coklat gelap, dan lipchrome yang membuat mata menjadi kuning terang. Semua manusia didunia memiliki jumlah pigmen yang berbeda- beda. Dan saat pigmen malanin pada iris dan stogma mata mampu menangkap gelombang cahaya, itulah yang menciptakan warna mata."

"Warna mata orang- orang menjadi beragam, ada yg coklat, hitam, hijau, biru, ungu, dan lain- lain tergantung berapa banyak jumlah pigmen melanin yang mereka miliki. Dan untuk mataku, menjadi berwarna abu- abu. Karena aku memiliki pigmen melanin yang sungguh sedikit." Baekhyun menjelaskan dengan sesederhana mungkin.

Dan hebatnya Chanyeol langsung paham dengan penjelasan itu. Ini Chanyeol yang memang pintar atau karena si jenius Baekhyun yang memang hebat dalam menjelaskan. Namun yang pasti, keduanya memang selalu klop dan mudah mengerti satu sama lain.

"Apakah kau memiliki garis keturunan eropa sehingga memiliki gen mata berwarna abu- abu yang langka?" Tanya Chanyeol, benar- benar pria yang penuh rasa penasaran.

Baekhyun menggeleng, dan Chanyeol yang merasakan gerakan itu menjadi terkejut dan bingung.

"Lalu bagaimana bisa?" tanya Chanyeol masih penasaran, sepertinya sebelum segala hal ini tuntas, Chanyeol tak akan berhenti bertanya.

"Awalnya mataku berwarna coklat terang seperti milik ibuku. Namun setelah pergi ke Jerman selama kurang lebih dua tahun untuk pengobatan dan pemulihan. Sepertinya produksi pigmen melanin pada mataku mengalami penurunan drastis, sehingga warna mataku berubah karena mengikuti atmosfer disana. Itu sangat mungkin terjadi Chan. Apalagi saat itu aku masih amat sangat muda. Warna mata manusia belum menjadi permanen saat kita masih kecil." Baekhyun sungguh sabar menjawab semua pertanyaan Chanyeol.

Chanyeol akhirnya mengangguk paham. Tak ada pertanyaan lagi.

Baekhyun menghela napas, bersiap menyampaikan penutup dari cerita miliknya ini.

"Kecelakaan itu terus menjadi trauma bagi kami semua, Chanyeol. Tak ada yang ingin membicarakan kisah itu, karena hanya akan menyakiti satu sama lain. Xiumin dan aku kehilangan orangtua dan Chen kehilangan segalanya kecuali Xiumin dan Aku. Kami bertiga terjebak dalam rasa bersalah yang sama, rasa bersalah karena kami selamat, sedangkan orangtua kami tidak."

"Karena itulah kami tak berbicara kepada satu sama lain tentang bagaimana duka hati kami, karena tanpa perlu bicara, kami sudah mengerti dan merasakan hal yang sama. Membicarakannya hanya akan menambah luka."

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan sedih. Jadi, apakah dirinya adalah orang pertama yang mendengar keluh kesah dan luka hati Baekhyun, pikir Chanyeol.

Baekhyun kembali melanjutkan ceritanya yang sebentar lagi berakhir.

"Katanya, hari itu di pemakaman orangtuaku dan Xiumin. Ibunya Jimin mendatangi Xiumin, dia adalah adiknya Ibu Xiumin dan baru mendapat kabar bahwa kakaknya telah meninggal karena itulah dia datang. Dia sungguh muda saat itu, dan bahkan belum menikah. Namun karena dia tahu bahwa Xiumin adalah keponakannya, dia ingin membawa Xiumin untuk diasuh olehnya. Dan kau tahu? Chen Ahjussi adalah orang yang paling keras menentang itu semua. Namun dimata hukum, bibi Shin lebih berhak dalam mengasuh Xiumin daripada Chen Ahjussi karena ikatan darah mereka."

"Pastinya Chen Ahjussi tak mau lagi seseorang dibawa pergi darinya. Karena itulah Chen Ahjussi langsung mengurus hak asuh Xiumin menjadi miliknya. Sejak hari itu Xiumin menjadi anak angkat Chen Ahjussi dan memakai marga Kim didepan namanya, dan Ibunya Jimin pun harus mengalah, wanita itu akan terus menerima Xiumin kapanpun Xiumin ingin ikut dengannya. Namun wanita itu juga bersyukur karena ternyata Xiumin memiliki orang lain yang menyayanginya. Ibunya Jimin pun pergi, setelah itu menikah dengan seorang pria setahun kemudian, dan mempunyai Jimin setahun setelah pernikahan mereka. Xiumin sering mengunjungi mereka setelah itu."

"Ayah Jimin sebenarnya adalah orang yang sakit- sakitan. Dan akhirnya meninggal saat Jimin berusia 11 tahun, dan Xiumin berusia 15 tahun. Semenjak itu, Xiumin merasa bertanggung jawab pada Bibi dan Sepupunya. Xiumin mulai menjadi pendiam dan pekerja keras. Hanya Chen yang dapat membuat Xiumin tetap menjadi anak- anak tanpa dituntut harus menjadi dewasa menerima semua keadaan."

"Dan seiring beranjak dewasanya Xiumin. Status ayah dan anak diantara Chen dan Xiumin perlahan- lahan menjadi kutukan diantara mereka berdua. Kami semua di mansion ini adalah saksi bagaimana Chen memperlakukan Xiumin bagaikan orang yang paling berharga didunia, dan bagaimana Xiumin selalu mengagumi dan bergantung pada pria itu. Dimulai sejak Xiumin remaja, kami mulai merasakan bagaimana Xiumin mencintai Chen diam- diam namun tak berani mengungkapkannya, tanpa tahu bahwa pastinya Chen memiliki perasaan yang sama. Dan sepertinya sekarang, saat sudah berumur 20an dan bisa lepas dari Hak Asuh Chen, Xiumin mulai menyatakan perasaannya pada Chen Ahjussi."

Seketika itu juga otak Chanyeol dapat menghubungkan benang merah dari segalanya, dan langsung mengerti akan masalah dari hubungan Chen dan Xiumin sekarang.

"Dan Chen Ahjussi menolak Xiumin Hyung karena Chen Ahjussi adalah seorang publik pigur?" tebak Chanyeol tepat sasaran.

Baekhyun mengangguk seketika.

"Kau cepat mengerti ternyata." Baekhyun tersenyum singkat.

"Hampir seluruh orang di Korea Selatan tahu bahwa dia adalah Kim Jongdae, penyanyi yang sukses pada masanya, dan orang yang mendirikan BB Ent, aku hanyalah pemberi modal, sedangkan Chen Ahjussi lah yang merintis Agensi itu dari awal hingga sebesar sekarang. Dia sungguh terkenal, dan semenjak Xiumin kecil, keduanya sering tertangkap kamera dan masuk majalah sebagai sosok Ayah dan Anak idaman. Menurutmu, apa kata dunia bila ada kabar mereka berkencan atau bahkan menikah tersebar?"

Chanyeol tercekat.

"Itu... bencana!!. Mereka akan mendapatkan hujatan dari seluruh orang di negeri ini." Jawab Chanyeol.

Baekhyun menghela napas.

"Dan jangan lupakan impian Jimin adalah menjadi Idol. Chen dan Xiumin tentu tak mau bila mereka berdua membuat skandal yang akan merugikan masa depan Jimin saat adik kesayangan Xiumin itu menjadi Idol nanti. Namun sesungguhnya Xiumin tak peduli jika dirinya dan Chen punya status hubungan atau tidak, dirinya hanya ingin Chen mengakui bahwa pria itu juga mencintainya, tapi si keras kepala Chen terus bungkam. Sungguh rumit dan melelahkan. Mereka berdua sama- sama keras kepala." Baekhyun menutup ceritanya.

Keduanya terdiam cukup lama.

Kemudian sama- sama menghela napas.

Terdiam sambil mencoba meresapi segala hal yang sudah Baekhyun bagi untuk mereka berdua.

"Itu cerita yang sungguh pribadi, terima kasih banyak sudah menceritakannya padaku Baek. Sekarang rasanya aku lebih mengerti dirimu, dan tentunya beberapa orang di Mansion ini." Ucap Chanyeol.

Namun Baekhyun justru tersenyum miring.

"Kau kira itu gratis? Aku pastinya akan meminta bayaran. Sekarang adalah giliranmu yang bercerita. Kau tak sadar bahwa dirimu lebih banyak menyimpan rahasia daripada aku." Ucap Baekhyun dengan nada sungguh menuntut dan dibalas dengan erangan protes oleh Chanyeol.

"Oh astagaaa... harusnya aku sudah menduga ini."

Baekhyun tertawa mendengar keluhan itu.

"Baiklah Mr. Park.. ayo kita mulai interview riwayat hidup anda."

Chanyeol menghela napas pasrah.

"Apa pertanyaan pertamanya Mister?" Tanya Chanyeol.

"Pertanyaan pertama, mengapa kau memilih kabur dari rumah?" tanya Baekhyun penasaran.

Chanyeol terdiam cukup lama, dirinya tak pernah menceritakan ini pada siapapun. Sedikit ragu memulainya. Sebelum akhir menarik napas, bersiap memulai cerita miliknya.

"Itu karena...

.

.

.

TBC

.

.

.

AN : lanjutttt!!! (kalau mau sih)