Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun ku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

.

Happy Reading

Chapter 13 : Pillow Talk with Chanyeol

.

.

(Warning : Chapter ini memiliki percakapan dan narasi yang panjang. Bacalah dengan perlahan. Semoga dapat menghibur. Terima Kasih)

.

.

Awal Musim Panas, 2011

Chanyeol terdiam cukup lama, dirinya tak pernah menceritakan ini pada siapapun. Sedikit ragu memulainya. Sebelum akhir menarik napas, bersiap memulai cerita miliknya.

"Itu karena..."

Detik selanjutnya Baekhyun terdorong kebelakang hingga terhempas tidur diranjang besar miliknya. Bukannya menjawab, Chanyeol justru menerjang Baekhyun dalam sebuah ciuman panas.

Mata Baekhyun membelalak karena mendapatkan serangan yang sungguh tiba- tiba. Pria mungil itu mau tak mau menerima dan mencoba membalas perlakuan Chanyeol padanya.

Pria tinggi itu telah mengurung si mungil berada dibawah kungkungan tubuhnya. Chanyeol mencium Baekhyun dengan ciuman yang sungguh keras, cepat, dan menuntut. Hingga Baekhyun merasakan bibirnya seakan tengah dikunyah gemas oleh seseorang. Chanyeol seakan- akan ingin menelan habis bibir malang Baekhyun.

Kepala Chanyeol bergerak kekanan dan kekiri seiring memperdalam ciuman yang mulai basah diantara mereka berdua, untuk membuat ciuman ini menjadi semakin intim dengan mencari posisi dengan rasa terbaik dari bibir Baekhyun. Yang dilemanya setiap sudut bibir Baekhyun memiliki rasa yang fantastis.

Manis

Baekhyun selalu merasakan manis dalam ciuman mereka. Mau bagaimanapun mereka membawa alurnya, manis adalah rasa yang selalu dia dapatkan.

Dengan kepala yang terasa kosong, Baekhyun mulai rileks dan melingkarkan lengannya pada leher pria yang berada diatasnya ini. Lalu dengan mata tertutup mulai membalas lumatan renyah Chanyeol pada bibirnya. Berbagi hisapan yang memabukkan dan membuat ketagihan. Dan terbawa alur gurihnya gigitan lembut yang sesekali pria tinggi itu berikan. Sungguh fakta aneh bila kita berpikir mengapa manusia selalu terlena saat berbagi saliva dengan orang yang mereka sayangi. Terdengar menjijikan dan menggairahkan disaat yang sama. Itulah yang namanya nafsu.

"Hmpt akh.." Baekhyun melenguh saat Chanyeol menghisap bibirnya dengan sungguh kuat. Ditambah dengan tangan kasar khas pemain gitar milik Chanyeol yang Baekhyun rasakan telah mulai berpetualang ditubuh telanjang bagian depannya.

"Hey! Hey! Hey! ByunBaek! Sadarlah! Dia sedang mengalihkan perhatianmu!!!" Otak Baekhyun berteriak menyadarkan akal sehat Baekhyun yang sempat terlena.

Setelah menyadari situasi ini. Baekhyun pun berusaha menghentikan Chanyeol yang sekarang bahkan sudah menghisapi lehernya bagai vampire haus darah.

Pria mungil itu mencoba menjauh serta mendorong tubuh Chanyeol darinya yang hanya menciptakan perlawanan yang tiada hasilnya.

"Chan.. h-hentikan.." Baekhyun pun mulai berusaha berbicara.

Namun Chanyeol mengabaikannya, dan bahkan pria tinggi itu dengan kurang ajarnya memilih untuk membungkam bibir Baekhyun kedalam ciuman panas yang lain.

Baekhyun pun membuka matanya dengan kesal.

"Baiklah bila kau tak mau berhenti." Bisik hati Baekhyun dengan amat sangat kesal.

Dengan kekuatan sedang Baekhyun menendang perut Chanyeol dengan lututnya.

BUGH!

"ARGGG BAEK!!!"

Chanyeol menggerang kesakitan dengan badan terlempar kebelakang dan seketika membuat dirinya menjauh dari tubuh Baekhyun yang tadi sedang asik dijamahnya.

"Awwww.. perutku..." Chanyeol memegangi perutnya sambil menggerang kesakitan yang sesungguhnya terdengar berlebihan.

Baekhyun pun bangkit, kemudian duduk diatas ranjang itu dengan berekspresi datar. Pria mungil itu bukannya pria bodoh yang tak tahu bahwa Chanyeol sesungguhnya tak terlalu kesakitan. Karena Baekhyun menendang Chanyeol tidaklah sekuat itu.

Chanyeol pun menghentikan erangan pura- puranya, kemudian menampilkan ekspresi cemberut yang tak seorangpun dapat melihatnya diruangan gelap gulita ini, kemudian duduk bersila di atas ranjang yang mereka tempati ini.

"Tega sekali kau menendangku!" Chanyeol berucap dengan nada yang sungguh berlebihan kearah Baekhyun.

Mendengar itu membuat Baekhyun semakin kesal. Oh.. tega katanya, pikir Baekhyun.

Dengan kecepatan cahaya dan kesal yang bertumpuk, Baekhyun mendekati Chanyeol lalu..

"Aw! Aw! AAAA! SAKIT BAEK! AW HENTIKAN! AWWW! Iya aku salah! Aw! AwW!".

"Rasakan! Rasakan! Dasar mesum pencari kesempatan! Rasakan! Nah ini baru yang namanya tega!!. Rasakan!"

"AW!! Baek!! Ampuni aku!! AAA!!!"

Dan adegan yang sungguh mirip dengan seorang ibu memukuli anaknya bertubi- tubi dengan tapak tangan sakti lagi melegenda karena sang anak ketahuan melakukan hal nakal itupun terjadi pada kedua orang ini.

"Rasakan!!"

"aWww!"

Setelah beberapa menit panjang yang menghasilkan banyak pukulan oleh Baekhyun yang diiringi teriakan kesakitan dari Chanyeol disetiap tapakan tangan Baekhyun ditubuhnya itupun berhenti.

Chanyeol menggosoki badannya yang masih terasa panas dan pedih. Oh astagaa.. Baekhyun mengerikan saat kesal.

Sedangkan Baekhyun menghela napas lelah. Persis seperti seorang ibu yang masih kesal akan kelakuan anaknya, namun menyesal telah memukulinya. Meski sejujurnya itu hanyalah pukulan sayang yang bekas dan sakitnya mungkin akan hilang dalam waktu lima menit.

"Angkat tanganmu." Perintah Baekhyun tegas, terdengar lucu sebenarnya karena diiringi dengan suara renyah bagai biskuit karamel milik Baekhyun.

Dengan polos dan lugunya Chanyeol mengangkat kedua tangannya keatas dengan telapak tangan mengepal. Persis seperti anak TK yang sedang dihukum oleh gurunya, ralat, guru cantiknya.

"Sudah jera?" Baekhyun bertanya.

"Iya..." Chanyeol menjawab patuh.

"Tahu apa salahmu?" Baekhyun kembali bertanya.

Astaga, apakah kita memang sedang menonton adegan guru TK dan muridnya sekarang.

"Iya..." Chanyeol kembali menjawab dengan suara serak khas miliknya.

"Berani mengulangi lagi?"

Chanyeol menggeleng cepat, dan Baekhyun merasakan pergerakan itu. Pria mungil itu tersenyum puas.

"Janji tidak akan mengulangi lagi?" Pertanyaan yang sungguh familiar yang biasa diberikan orangtua kepada anak balita agar tak memakan permen diam- diam itupun terucap diantara mereka.

"Yes Sir!" Jawab Chanyeol mantap.

"Good boy.." Baekhyun pun mengelus rambut Chanyeol sambil mengucapkan itu dengan nada sungguh bangga.

Lalu hening.

Keduanya terdiam selama beberapa detik.

"Pft.."

"AHAHAHAHAHAA..."

Sebelum tawa yang heboh pecah diantara mereka. Keduanya merasa konyol dengan diri mereka masing- masing.

"AHAHAHAA.. Aku sungguh gila." komentar Baekhyun disela tawanya.

Chanyeol pun sudah berguling- guling diranjang itu sambil tertawa dan memegangi perutnya. Keduanya larut dalam tawa yang cukup lama hingga membuat perut sakit dan napas terengah.

"Kita sama- sama gila Baek.." Ucap Chanyeol yang baru saja berhenti tertawa. Dan tidur telentang dengan napas terengah hasil tawa yang sungguh hebat tadi. Dengan Baekhyun yang sedang duduk disampingnya.

"Kau benar." Jawab Baekhyun sambil menyeka air mata dipipinya yang keluar karena banyak tertawa.

Baekhyun terdiam sebentar, kemudian bertanya pada Chanyeol dengan suara yang serius.

"Mengapa kau menghindari pertanyaan itu? Mengapa kau sampai kabur dari rumah?"

Chanyeol terdiam, memandang kearah langit- langit kamar Baekhyun yang tak terlihat sekarang karena kamar itu terlalu gelap.

"Karena aku malu untuk menjawabnya." Jawab Chanyeol, sepertinya karena telah banyak tertawa, pria tinggi ini menjadi lebih santai dalam membuka kisah tak mengenakkan dalam hidupnya.

Baekhyun diam, menunggu Chanyeol melanjutkan.

"Bisakah kau cium aku dulu, aku perlu kekuatan." Pinta Chanyeol dengan sungguh manja. Hey.. manja kepada kekasih sendiri itu sah- sah saja, pikir Chanyeol.

Baekhyun terkekeh, sebelum menunduk bersiap memberikan ciuman pada bibir Chanyeol.

"Power!" seru Baekhyun kemudian memberikan banyak sekali kecupan dibibir Chanyeol. Sekali lagi menciptakan tawa renyah diantara mereka.

"Kau tidak akan membenciku kan? Bahkan setelah mengetahui kebenaran tentangku?" Tanya Chanyeol, pria tinggi ini rupanya benar- benar malu dan takut akan masa lalunya sendiri.

"Aku tak akan membencimu, kecuali kau meninggalkanku begitu saja." Jawab Baekhyun singkat.

Chanyeol menghela napas berat.

"Baek sebenarnya, aku adalah seorang... pembunuh."

DEG!

Kebekuan tercipta diantara mereka selama beberapa saat.

"Jelaskan." Ucap Baekhyun singkat, dirinya mempercayai Chanyeol dengan seluruh hidupnya, jadi.. meski Chanyeol telah membunuh orang pasti ada alasan dibalik hal tersebut. Cinta Memang Buta. Terkhusus untuk Baekhyun, pribahasa itu memang benar secara tersurat maupun tersirat.

"Aku membunuh ibuku sendiri, dia meninggal saat melahirkanku." lanjut Chanyeol dengan suara sendu penuh rasa bersalah.

Mendengar itu membuat Baekhyun menghela napas lega sekaligus prihatin. Dirinya lega ternyata ini bukanlah pembunuhan yang dibayangkannya. Namun juga prihatin akan nasib malang Chanyeol. Oh.. kekasih Baekhyun yang malang.

"Ayahku bernama Park Sungjin dan Ibuku bernama Lee Youngmi. Keduanya sudah berpacaran sejak kuliah. Kemudian keduanya memutuskan untuk berhenti kuliah dan membuka restauran makanan Italia lalu menikah. Hingga akhirnya ibuku mengandungku."

Baekhyun tersenyum, sebuah kisah cinta dengan alur yang singkat namun hangat. Sungguh imut saat memikirkan tentang Campus Couple yang akhirnya berhasil sampai ke jenjang pernikahan.

"Mereka pasti amat sangat mencintai satu sama lain." Komentar Baekhyun.

Chanyeol menyetujui itu dalam hati.

"Sangat." Ucapnya.

"Sayangnya, anak merekalah yang justru menjadi pemisah pasangan serasi itu Baek." Ujar Chanyeol dengan nada suara yang terdengar amat sangat merasa bersalah.

"Katanya, ibuku mengalami pendarahan yang hebat saat melahirkanku. Dan tepat setelah aku terlahir. Ibuku pergi." Baekhyun mulai mengambil posisi berbaring disamping pria tinggi itu, kemudian memberikannya pelukan penguat.

"Baekhyun ah, Ibuku tak akan meninggal misalnya aku tak pernah terlahir didunia ini. Aku mengambil nyawa ibuku sendiri demi kehidupanku."

"Dan akupun mendapat hukuman yang pantas. Pria didunia ini yang paling mencintai Ibuku, Ayahku sendiri membenciku. Dia tak pernah benar- benar menatap mataku lebih daripada 5 detik. Aku dibesarkan oleh pengasuh anak, dan tak pernah sekalipun Ayahku menggendongku saat kecil. Sepertinya, ah bukan sepertinya lagi, tapi kenyataannya dia memang membenciku karena telah membunuh istrinya. Aku anak yang tak diharapkan."

"Kami berdua amat sangat canggung untuk berinteraksi kepada satu sama lain. Seperti orang asing yang bersikap hati- hati kepada orang yang tak dikenal. Saat aku TK dan SD, aku selalu diantar jemput oleh pengasuhku. Saat aku SMP dan sudah tak memiliki pengasuh lagi, aku lebih sering sendirian dirumah karena sepertinya Ayah lebih senang menghabiskan waktunya di restoran kami. Dan saat Ayah ada dirumah, aku yang akan memilih pergi. Kami tak pernah tahan berada ditempat yang sama dalam waktu yang cukup lama. Kecanggungan akan mencekik kami dengan sungguh mengerikan."

Baekhyun mendengarkan itu dengan hati yang ikut sesak. Ternyata inikah alasan yang membuat Chanyeol selalu resah saat berada dalam suasana canggung dengan siapapun, pikir Baekhyun.

"Dia tak akan peduli saat peringkat sekolahku adalah yang tertinggi. Dia juga tak peduli saat peringkatku adalah yang terendah. Dia tak peduli saat aku memenangkan penghargaan lomba ataupun olimpiade. Dia juga tak peduli meski aku masuk keruang konseling karena terlibat dalam perkelahian saat sekolah. Aku bahkan yakin, dia sama sekali tak peduli saat aku pergi dari rumah dikelas 2 SMA dulu, dan tak kembali lagi. Dia tak pernah mencariku Baek, aku bahkan tak pindah sekolah, namun dia tetap tak pernah mendatangiku."

Chanyeol menghela napas, membahas orang yang entah masihkah pantas disebut Ayah oleh Chanyeol itu selalu menjadi tombol penekan titik luka yang selama ini Chanyeol sembunyikan.

"Kau tahu, itu menyakitkan." gumam Chanyeol.

"Aku selalu merasa aku pantas diperlakukan seperti itu karena Ayahku membenciku dan marah kepadaku. Karena aku adalah anak yang tak diharapkan. Aku adalah pembunuh istrinya. Tapi aku merasa bila dia memukuliku, menyiksaku, mengumpat kepadaku, meneriakiku itu jutaan kali lebih baik daripada didiami seperti itu. Segala kekerasan fisik jauh lebih baik daripada tak dianggap ada oleh orangtua kita sendiri."

Baekhyun mengeratkan pelukannya pada Chanyeol. Pria mungil itu menjadi sunyi senyap, tak sanggup berbicara.

"Dia bahkan selalu meninggalkan uang saku ku diatas meja makan. Kemudian berangkat ke restoran pagi- pagi sekali. Selama hidupku tinggal bersamanya, kami tak pernah sekalipun makan bersama. Ya.. aku tak pernah merasakan makan bersama keluarga Baek."

"Astaga.. aku sungguh terdengar seperti anak manja kurang kasih sayang sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu aku masihlah anak- anak, sangat membutuhkan perhatian orangtua. Saat itu aku barulah berumur belasan tahun, sedang pada masa remaja dan mencari jati diri. Masa- masa yang paling memerlukan dan membutuhkan bimbingan orang tua. Namun aku merasa hidupku bahkan lebih sepi daripada anak yatim piatu. Aku tumbuh dan besar sendirian."

Baekhyun menepuk- nepuk pelan dada Chanyeol dengan telapak tangannya. Kemudian Chanyeol merespon itu dengan memberikan lengannya sebagai bantal kepala Baekhyun.

"Lucunya, aku mempelajari segala hal dengan mengamati keluarga lain. Aku senang pergi ke taman bermain atau kebun binatang sendirian. Melihat bagaimana keluarga- keluarga lainnya berinteraksi. Dan berusaha membayangkan bahwa aku adalah salah satu dari anak yang beruntung itu." Chanyeol terkekeh pahit setelah mengucapkan itu, menciptakan nyeri dihati mereka berdua.

"Aku kosong, aku tersesat, dan aku benar- benar tak punya tempat yang dituju sebagai rumah dan pegangan dalam hidup Baek. Rasanya sungguh hampa seperti aku memang tak pantas lahir kedunia ini. Karena aku juga tak memiliki guna apapun bagi dunia. Mungkin bila aku tak pernah lahir saja, Ayah dan Ibuku sudah menjadi pasangan suami istri paling bahagia sekarang." Baekhyun menggeleng cepat dalam diam saat mendengar ucapan Chanyeol, pria mungil itu tak setuju.

"Suatu hari saat aku SMA, akupun memutuskan untuk bunuh diri. Aku berpikir, toh tak ada yang mengharapkan aku tetap hidup."

DEG!

Baekhyun melebarkan matanya, namun tak berani bersuara.

"Jadi hari itu aku ingin menikmati hidupku untuk terakhir kalinya. Aku mengikuti dan mencoba semua lomba, permainan, dan makanan disebuah festival sekolahku. Mengobrol seakan tak ada masalah bersama teman- teman SMA yang sesungguhnya tak sungguh akrab denganku. Mencoba menikmati hari terakhir hidupku itu. Lalu akupun mendengar nyanyian dari panggung besar di festival. Itu Kyungsoo, sepertinya dia artis bintang tamu di festival itu."

Chanyeol tersenyum lemah saat menceritakan pertemuan pertamanya bersama sang idola.

"Kalau tidak salah beberapa lirik lagu yang Kyungsoo nyanyikan saat itu seperti ini.."

Pada hari yang panjang dan melelahkan. Saya bersama-sama dengan hati saya yang dipenuhi dengan kelelahan

Hari ini dan besok, saya akan bangun lagi. Dan hidup selalu melalui hari berganti hari

Harapan samar-samar, tawa kering. Mereka berubah seiring berjalannya waktu

Hati sedih dan bekas luka jelas. Mereka tidak akan hilang

Dapatkah Anda mendengar tangisan sedih saya?. Saya memendamnya dan bertahan melalui ini tanpa henti

Bahkan ketika kegelapan sambil berjalan di jalan yang jauh ini. Kita berpegangan tangan dan selalu bersama

Di ruangan gelap, sinar cahaya datang melalui jendela. Beberapa hari, saya berharap ini akan bersinar terang

Jika saya berharap dan berharap, itu akan terpenuhi. Itulah yang saya percaya, dan saya menunggu

Pada hari yang panjang dan melelahkan. Saya bersama-sama hati saya, yang dipenuhi dengan hati yang lelah

Hari ini dan besok, saya akan bangun lagi

Dan hidup begini saja berganti hari

"Lirik sedih yang menyebalkan.." Komentar Chanyeol sambil tertawa sesak.

"Tapi dengan kurang ajarnya menyinggung hatiku sampai ke sudut terdalam. Aku menjadi sadar bahwa. Wah... apakah selama ini aku menangis dalam hati. Wah.. apakah aku ingin mati karena hatiku sudah lelah. Wah.. benarkah selama ini aku berharap ada orang yang mendengar jeritan hatiku kemudian memegang tanganku menuntun kearah cahaya.Wah.. rupanya aku selama ini hanya menunggu seseorang, hanya seseorang. Aku hanya membutuhkan seseorang, yang percaya padaku dan membuat diriku merasa penting dan diharapkan kehadirannya."

Suara Chanyeol mulai tercekat, sepertinya pria itu mulai menangis. Baekhyun tersenyum sambil ikut merasakan bahwa matanya juga mulai memanas. Sepertinya Baekhyun tak salah pilih kekasih, Chanyeol bahkan sungguh percaya untuk menangis dihadapan pria mungil itu, menampilkan sisi terlemah dari dirinya. Sungguh pria berhati lembut nan lugu yang diselimuti wajah tampan dan tubuh besar. He is such a giant baby.

"Dan.. Dan.. aku telah memilih bahwa itu adalah hari terakhirku. D-Dan... aku tak akan terbangun lagi esok hari dan menjalani hari- hari yang begini- begini saja. Hari- hari kosong yang baru kusadari ternyata berharga."

Chanyeol menyeka lelehan air matanya dengan sedikit kasar. Pria tinggi ini sungguh malu karena telah menangis dihadapan kekasihnya. Namun tentunya Baekhyun tak keberatan dengan itu. Baekhyun tetap diam, dirinya tak mengucapkan sapatah katapun, hanya semakin mendekat kearah pria tinggi itu, kemudian memainkan telinga lebar sang kekasih dengan jarinya. Sambil sesekali Baekhyun menarik hingusnya lucu, yeah... diam- diam Baekhyun ikut menangis saat sang kekasih mulai menangis.

Mereka pasangan yang lucu.

Tadi berbagi tawa

dan sekarang berbagi tangis

"Lucu ya Baek, hari- hari kosongku terasa berharga saat aku sudah menetapkan bahwa hari itu adalah hari terakhirku didunia."

Lelehan air mata Baekhyun semakin menjadi deras. Pria mungil itu ketakutan akan kenyataan bahwa rasa kesepian dalam hidup Chanyeol telah memberikan depresi yang sungguh mendalam hingga pria tinggi itu ingin mengakhiri hidupnya. Baekhyun ketakutan mengetahui kenyataan bahwa Chanyeol hampir saja mati bahkan sebelum mereka bertemu.

"Lalu aku mulai kagum kepada para penyanyi dan penulis lagu yang ternyata karyanya dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Aku yang awalnya hanya menyanyi begitu saja dan memainkan alat musik hanya karena bosan, serta melihat pekerjaan Idol hanya sebagai penghibur. Mulai menatap segala hal itu dalam sudut pandang lain. Ternyata, dengan sebuah lagu, kita dapat terus dikenang dan membantu banyak orang. Itu pekerjaan yang hebat."

Baekhyun tersenyum bangga dalam tangisnya saat mendengar itu.

"Saat itulah aku mulai memiliki pegangan hidup. Sebuah tujuan. Sebuah mimpi. Aku mulai merasa bahwa hidupku tidaklah sebuah kesalahan dan memiliki alasan untuk tetap berada didunia ini. Aku tak pernah bercanda saat mengatakan, mimpiku adalah hidupku , dan hidupku adalah mimpiku Baek. Aku bermimpi menjadi seorang penyanyi yang akan orang kenang. Aku ingin ada orang yang tahu bahwa ada penyanyi bernama Park Chanyeol didunia ini, Aku -

Chanyeol terisak.

- ingin dianggap ada." lanjutnya.

Dan diakhiri dengan tangisan pecah Baekhyun yang memeluk leher pria tinggi itu dengan sungguh pilu.

"Hiks.. Chanyeol ah... Hiks... kekasih ku yang malang. Hiks.. syukurlah kau hidup... Hiks.. aku senang kau hidup.. Hiks Terimakasih Tuhannnnn..." Baekhyun bersusah payah bicara disela isakannya.

Chanyeol justru tertawa mendengar itu. Dengan mata yang masih berair, Chanyeol mengecup dahi Baekhyun dengan cukup lama dan sarat akan kasih sayang.

"Aku juga senang kau masih hidup Baek.. Terima Kasih telah bertahan selama ini dan menjawab panggilan hatiku. Tenang saja, sekarang penantianku akan seseorang itu telah berakhir, aku telah menemukannya, aku memiliki mu..." Chanyeol pun memeluk tubuh mungil Baekhyun dengan gemas, merasa lucu akan kenyataan sang kekasih tak menangis saat menceritakan hidupnya sendiri, namun menangis keras untuk cerita hidup Chanyeol.

"Astaga... kau seperti bayi." Komentar Chanyeol jahil, dan dibalasi dengan tapakan sakti tangan Baekhyun pada punggung pria tinggi itu.

Chanyeol pun mengaduh dibuatnya.

"Hiks.. kau juga bayi.." Jawab Baekhyun dengan suara serak dan isakan lucu.

"Baiklah... kita sama- sama bayi." Putus Chanyeol mengalah, sambil menepuk- nepuk punggung Baekhyun dengan sayang, bagai menghentikan bayi yang tengah menangis.

Setelah itu acara pillow talk pasangan baru itupun berlanjut dengan obrolan yang ringan dan tak penting.

"Apa lagu kesukaan mu Baek?" tanya Chanyeol.

"Taeyeon - Missing You Like Crazy." Jawab Baekhyun singkat.

Chanyeol mengerutkan dahinya, "Kau fans Taeyeon?" tanya Chanyeol sedikit tak suka, lebih tepatnya cemburu.

"Kenapa? Ada masalah? Aku bahkan tak mempermasalahkan akan kenyataan kau sungguh mengagumi Kyungsoo sebagai Idol kesukaanmu." Jawab Baekhyun dengan sinis.

Chanyeol tertawa, "Okee.. kurasa kita sekarang akan membebaskan dengan siapapun kita mengidolakan seseorang. Aku tak akan perduli lagi meski kau mengagumi Taeyeon sedalam apapun, asalkan kenyataannya kau tetap milikku." Baekhyun tersenyum kemudian mengangguk puas.

"Apakah aku kekasih pertamamu Chan?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tersenyum, "Kau yang kedua." Jawabnya singkat.

Baekhyun terkejut, "Aku bukan yang pertama?! Tak bisa dipercaya! Ditengah kesedihan hidupmu itu kapan kau bisa berpacaran?" Well, apakah kita harus memberikan ucapan selamat kepada Chanyeol karena telah berhasil membuat Baekhyun menjerit.

"Hey Baek, hidupku memang sungguh mellow, karena itulah aku berusaha mencari kekasih untuk mendapatkan cinta. Hingga akhirnya aku menembak salah satu siswi dikelas yang sama denganku saat SMA karena aku tahu dia menyukaiku. Aku tak pernah menyukainya dari awal, aku hanyalah bajingan mellow kurang kasih sayang." Jelas Chanyeol dengan cepat.

Baekhyun tetap diam, penjelasan itu masih kurang baginya.

"Karena itulah akhirnya aku menyadari orientasiku yang tak menyukai perempuan. Karena aku tak pernah tertarik pada kekasih perempuanku sendiri bahkan saat dia menggodaku dengan baju setengah bahan. Setelah itu aku memutuskannya, berencana bunuh diri, kemudian akhirnya tak jadi bunuh diri, lalu setelah itu kabur dari rumah dan selanjutnya terlalu sibuk mencari uang dan menggapai mimpi daripada memulai hubungan yang lain lagi Baek. Astaga.. mau aku jelaskan selengkap apa lagi.."

Baekhyun menganggukkan kepalanya puas. Nah.. itu baru penjelasan yang cukup.

Chanyeol menghela napas lega, "Jadi, aku yang pertama bagimu?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun.

Baekhyun menganggukkan kepala, "Kau pertama dalam segalanya." Mendengar itu membuat Chanyeol tersenyum bangga.

Dengar itu kalian semua?. Baekhyun hanya akan memilih Chanyeol. Begitu juga sebaliknya. Sebuah kenyataan yang tak terbantahkan.

"Warna kesukaanmu apa Baek?" Tanya Chanyeol yang memilih pertanyaan ringan.

Tanpa Chanyeol duga, Baekhyun justru menggeleng.

"Aku tak tahu warna apapun. Aku hapal semua nama warna tapi aku tak pernah melihat warna apapun selain gelap." Chanyeol tertegun.

"Kau bisa menjelaskan pembentukan warna mata dengan sungguh akurat. Namun ternyata kau sendiri tak tahu warna itu seperti apa. Sungguh hebat. Hey.. Warna tak harus dilihat Baek, bisa kau rasakan." Ucapnya, dan Baekhyun terlihat tertarik dengan itu.

"Bagaimana caranya?" nada penasaran sungguh kentara dari suara Baekhyun.

"Warna apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Chanyeol balik.

"Emm.. Jingga." Jawab Baekhyun asal memilih warna.

"Jingga itu warna yang hangat. Jingga dapat dirasakan di hangatnya matahari pagi." Baekhyun tersenyum membayangkan itu.

"Lalu hijau?" Dan sepertinya Baekhyun ketagihan ingin mengetahui lebih banyak warna lagi.

"Hijau warna yang natural. Kau bisa mencium aromanya pada daun- daun pohon. Tapi hijau muda itu aromanya seperti daun pandan." Penjelasan Chanyeol sungguh menarik, Baekhyun sudah tersenyum cerah sekarang.

"Em.. Kalau biru?"

"Biru itu menyegarkan. Banyak hal yang terasa seperti biru. Seperti air hujan atau air kolam ikan berbentuk sungai buatan milikmu didepan mansion itu." Baekhyun menganggukkan kepalanya paham.

"Putih?"

"Putih seperti kapas, sungguh lembut."

"Coklat?"

"Coklat itu terasa seksi, itu warna yang sungguh seksi. Seperti coklat cair hangat, seperti lumpur basah yang licin, dan seperti... kulit seorang pria dominan." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun dengan cepat setelah menjawab itu. Terlihat Baekhyun menampilkan ekspresi kesal karena lagi- lagi Chanyeol mencari kesempatan untuk menggodanya.

Dengan suara kesal Baekhyun lanjut bertanya, "Kalau merah?"

Mendengar itu Chanyeol hanya menyeringai. Great, pilihan warna yang bagus Baek, pikirnya.

"Merah itu warna yang panas dan membakar. Karena itulah aku mewarnai rambutku memakai warna itu. Dan bila kau ingin mengerti bagaimana rasa warna merah -

Chanyeol menindih tubuh mungil Baekhyun dengan cepat.

- maka cukup lakukan ini."

Ucap Chanyeol sebelum akhirnya membawa Baekhyun kepada bisnis panas lainnya untuk mengisi setiap jam malam ini. Malam ini sepertinya Chanyeol sungguh sukses membuat Baekhyun mengerti arti dan rasa dari warna merah itu baik luar maupun dalam.

.

.

.

Disisi lain, di salah satu kamar tamu di lantai 2 Mansion Byun. Terlihat seorang pria mungil dengan wajah imut bagai kucing tengah sibuk bekerja disalah satu meja kantor yang khusus dipersiapkan oleh Maid untuk tempat bekerja pria workaholic ini.

Pria yang terus mengabaikan perintah sang atasan untuk jangan bekerja lembur.

Ruangan itu penuh dengan kertas- kertas laporan dan berkas- berkas yang bertumpuk sudah membentuk gunung.

Berbanding terbalik dengan suasana kamar Baekhyun yang sekarang dipenuhi aura cinta yang sungguh pekat. Kamar ini justru terkesan dingin, kaku, dan sepi. Sungguh kamar yang dalam sekali lihatpun kita akan tahu bahwa pemiliknya mempunyai banyak pikiran dan tanggungan.

Xiumin melepas kacamata bacanya dengan iringan napas berat. Kemudian melihat kearah jam dinding dikamarnya.

Jam 1 malam.

Sudah dini hari.

Dan Chen tak mendatangi Xiumin malam ini.

Benar- benar aneh, saat pria itu datang, Xiumin selalu merasa kesal dan selalu ingin meneriaki dan mengusirnya. Namun saat pria itu tak datang, Xiumin justru merindukannya.

"Kau hanya terlalu mencintainya.." Bisik hati Xiumin.

"Aku tahu.." Ucap Xiumin menjawab kata hatinya sendiri.

Pria pemilik dua marga itu meletakkan kepalanya pada meja kerja miliknya ini. Sudah berminggu- minggu dirinya seperti ini.

Kurang tidur dan kurang makan.

Kurang liburan dan kurang hiburan.

Yang Xiumin lakukan hanyalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Saat tubuh dan otaknya terus sibuk, untuk sementara Xiumin akan melupakan luka hatinya, dan akan bisa mengabaikan bisikan- bisikan rindu yang menghasutnya untuk berlari kearah pria tua bangka pemilik hatinya itu.

"Cinta ini sungguh menyebalkan." Bisiknya kesal.

"Aku lelah.." Gumamnya lagi.

"Aku lelah Kim Jongdae.. Aku juga lelah bermain kucing- kucingan seperti ini. Bukan aku yang menghindar darimu. Tapi kau lah yang menghindar dari hatimu sendiri. Aku cuma perlu kau mengakuinya. Itu sudah lebih dari cukup." Bisik Xiumin pada udara dingin kamarnya.

BRAKKKK!!

Pintu kamar Xiumin didobrak begitu saja dengan sungguh keras.

Dengan terkejut Xiumin seketika bangkit dari posisinya, kemudian menatap kedepan, kearah pintu kamarnya.

Terlihat olehnya seseorang dengan kostum buaya berwarna hijau yang sungguh konyol sedang memegangi lututnya dan mengatur napasnya.

"Oh astaga, kenapa mempersiapkan Idol debut sungguh rumit sekali. Aku bahkan harus bekerja sampai jam segini." Ucap orang itu dengan napas terengah.

Xiumin menatapnya dalam.

Chen pun menegakkan tubuhnya. menampilkan wajah cerah penuh keringat karena berlari tak sabar dari pintu masuk Mansion lalu menaiki tangga untuk kemudian menemui Xiumin. Pria mungil yang beberapa hari ini terus menginap disini.

"Maafkan aku yang terlambat. Sudah lama menungguku?. Oh astaga.. harusnya kau sudah tidur dari berjam- jam yang lalu. Kau akan menjadi kucing aneh bila memiliki mata seperti panda." Dengan cepat Chen mendatangi Xiumin lalu berdiri disamping kursi kerja Xiumin, dan menunduk untuk memeriksa mata kucing pria kesayangannya itu.

Xiumin tertegun. Chen selalu meminta maaf saat pria itu mendatanginya di waktu cukup larut, seolah- olah mereka sudah mempunyai janji temu padahal tidak. Chen selalu datang dengan sendirinya. Chen mengatakan itu karena pria berumur 40 tahun itu tahu, Xiumin selalu menunggunya datang.

Dan dia selalu datang kepada Xiumin, apapun yang terjadi.

"Nah kan matamu sudah berkantung.. hey, aku adalah buaya darat yang lebih suka kucing daripada panda. Jadi tidurlah yang cukup, lalu makan yang banyak. Aku buaya yang suka makan kucing dengan daging empuk yang banyak." Sebuah kalimat perhatian dengan metafora lucu yang konyol, khas Kim Jongdae sekali.

"Bagaimana.. Aku buaya darat yang tampan kan?" Ucap pria itu mengabaikan sikap diam Xiumin, kemudian memamerkan kostum buayanya.

Xiumin menatap itu dengan pandangan kosong. Dirinya cukup pintar untuk mengetahui bahwa pria ini melakukannya untuk balasan atas perkataan Xiumin yang menyebut Chen sebagai buaya darat. Pria itu melakukan aksi protes yang sungguh lucu, untuk menghibur si Xiumin yang sungguh pendiam dan kaku.

Begitulah Chen. Dia akan menjadi sosok pria yang panas dan gentle saat Xiumin lemah dan perlu pertolongan. Dia akan menjadi sosok abang yang lembut saat Xiumin perlu dimanja. Dia akan menjadi sosok ayah yang perhatian lagi konyol saat Xiumin memerlukan sandaran dan hiburan. Chen terlalu mengerti Xiumin.

Cukup menyebalkan saat kau mencintai dan dicintai oleh pria yang bahkan tahu tanggal berapa kau pertama kali bicara dan pertama kali berjalan.

Xiumin bangkit dari duduknya. Kemudian berdiri menatap wajah Chen dengan amat sangat lama. Tiba- tiba saja mata Xiumin terasa memanas. Sesungguhnya tadi Xiumin takut bahwa Chen tak akan mendatanginya lagi.

"Tuhan.. aku sungguh mencintai pria ini." Bisik hatinya pilu.

Senyum menenangkan Chen langsung luntur saat melihat lelehan air mata Xiumin. Berganti cepat dengan tatapan khawatir dan panik.

"Ada apa? Hei.. kau sakit? Mana yang sakit? Xiu, Kau tak apa?" tanyanya panik penuh perhatian yang justru membuat air mata Xiumin semakin deras.

"Hiks.. Aku kucing jelek yang membuat Buaya darat tak bernapsu untuk memakannya. Hiks.. buaya itu akan pergi, dan kucing jelek ini takut buaya itu akan pergi. Dengan terlarangnya, si kucing justru mencintai Buaya.. si kucing hanya terlalu mencintainya.." Xiumin pun ikut mengungkapkan isi hatinya dengan istilah Kucing dan Buaya.

Chen menatap pria mungil yang sudah bagai dunia baginya itu dengan tatapan khas yang hanya Chen berikan saat menatap Xiumin.

"Buaya tak akan pergi... meski dia mati kelaparan tak bisa makan. Dia tak akan pergi. Kau tenang saja. Kucing itu terlalu imut untuk ditinggalkan pergi. Buaya menolak memakannya karena kucing itu terlalu lucu bagi dunia ini." Ucap Chen dengan lembut, kemudian membawa Xiumin kedalam pelukannya.

Menyediakan bahunya untuk menjadi tempat tumpahan air mata sang kucing. Mau sampai kapan aku terus membuatmu menangis, pikir Chen yang terus merasa menyesal karena membuat Xiumin yang selalu kuat menjadi terus menitikkan air mata.

Luka hati memang sangat menyakitkan.

Namun Chen tetap dalam keputusannya. Biarkan saja dirinya yang sakit menahan keinginan hati. Asalkan kucing kesayangannya ini hidupnya terus nyaman dan tenang tanpa cemoohan orang, Chen akan menjadi aib bagi hidup Xiumin, bila pria itu nekat mengungkapkan pada dunia apa sebenarnya arti diri Xiumin bagi dirinya.

.

.

Malam ini, Mansion Byun dipenuhi akan hujan airmata dan terungkapnya luka- luka hati yang ditahan oleh orang- orang yang hidup dibawah naungannya.

.

.

.

TBC

.

.

Song : Scream Indo Ver by D.O EXO

.

.

AN :

(menghela napas)

Harusnya nih FF aku ganti jadi genre Angst aja kali ya. Tokohnya kok miris semua. Maafkan aku Baek, Chan, Xiu, Chen. Ku membuat hidup kalian seperti ini hueee T-T .

Semoga Double Updete ini gak mengecewakan untuk kalian. Oh Ya! Tanggal berapa sekarang? Juni 14, 2019!!

HAPPY614EVERWITHCHANBAEK

Anggap saja FF ini hadiah untuk semua CBHS yang ada disini. Akhirnya aku bisa memberikan sebuah karya dihari penting sahabat seperjuangan Believer ChanBaek Is Real.

Ada yg kecewa kerena adegan ranjang nya selalu setengah- setengah?. Aku sudah memutuskan dari awal membuat FF ini, bahwa menaruh Rated M itu berarti NC17. Yakan?, rated Not Children Under 17 itu ya sebatas itu doang adegannya. Kalau aku menulis adegan yang sampe udah sekelas Fifty Shades Of Grey, itu udah masuk NC25. Yang aku sendiri gak yakin bahwa pembaca ff ini bahkan baru masuk umur 20 atau belum. Dan jika banyak yang umur 20 tahun keataspun aku tetap dalam keputusan ini, karena pasti ada remaja diantara kita semua. Aku tahu kok kalau aku juga nista dan kotor, tapi rasanya sungguh gak tega nistain anak orang lain. Membayangkan anak orang berfantasi seksual dan otaknya terpolosi karena tulisan aku tuh rasanya berdosa banget. Nah.. ternyata aku inget dosa juga. Benar- benar sok suci ya ehehe. Aku harap para pembaca sekalian dapat berlapang hati menerima keputusan aku, bahwa kita tidak akan mendapatkan adegan detail dari bisnis ChanBaek : )

Maafkan aku bila FF ini mengecewakan, Typo yang terus aja ada dan bertebaran, cerita yang memusingkan, dan EYD serta diksi yang memaksakan. Harap dimaklumi, Author Amatir.

Thank You So Much For The Apple of My Eyes:

pyeoli61, chanyeoru, ChanBaek09, jungkkhope, Bubbleclay, Cheonsa528 , CHANBAEQ, elroseline, wiwikfirelight12, ameliya13, danactebh, baekkiecookie, SehunSapiens, ewfzy, and Guest.

Terima Kasih juga pada pembaca yang udah Baca, Favorite, dan Follow cerita ini.

Eri-ya, ILYSM!!

Semoga kalian semua terus sehat dan bahagia. Semoga kita bisa bertemu lagi di chapter selanjutnya. Lets Love Eri!! /Bow