Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

Happy Reading

Chapter 16 : Jealousy or Inferiority

.

.

Musim Panas 2011, Pelabuhan Incheon, Korea Selatan

Sepanjang hidupnya, Chanyeol tak pernah merasakan kejutan yang sampai membuatnya tak dapat berkutik sebab terlampau terkejut. Sungguh, semuanya tak pernah semengejutkan ini, biasa saja.

Kemudian, disebabkan minimnya pengalaman akan suatu hal yang membuat terkejut itu. Jadi janganlah menyalahkan Chanyeol saat pria itu tak mampu untuk membendung keretakkan hatinya.

Pada awalnya Chanyeol bingung.

Apa maksudnya ini?. Kenapa Kyungsoo menghampiri diriku dengan senyuman cerah, oh ternyata dia menghampiri Baekhyun. Lalu mengapa dia menghampiri Baekhyun, oh iya mereka mereka adalah sahabat. Lalu kenapa sekarang Kyungsoo memeluk Baekhyunku!?, teriak Chanyeol dalam hati dengan mata terbelalak saat mendapati kejutan itu tepat didepan matanya.

Lalu yang kedua, Chanyeol menjadi marah.

Marah kepada orang- orang yang tak memberitahukan bahwa beginilah Kyungsoo kepada Baekhyun. Marah kepada Baekhyun yang menerima perlakuan lembut dan manis Kyungsoo padanya begitu saja. Kemudian marah kepada Kyungsoo yang tak menghargai Chanyeol sama sekali sebagai kekasihnya Baekhyun. Dan yang terakhir, Chanyeol marah kepada dirinya sendiri yang tak berkutik lalu hanya menatap diam semua itu dan mengumpat dalam hati.

Sahabat iya Sahabat, tapi bisakah skinship terlalu intim yang menyakiti mata itu di minimalisir?. Aku rasa orang- orang mulai salah paham bahwa Kyungsoo lah kekasih Baekhyun disini, lihatlah bagaimana terbiasanya semua orang melihat Kyungsoo sedari tadi memeluki Baekhyun. Lalu aku ini apa?, apakah aku ini cuma batu dipinggir jalan sekarang?, sungguh tak dianggap sama sekali, pikir Chanyeol sakit hati.

Lalu yang terakhir, saat Chanyeol mengetahui sebuah fakta, segalanya berubah menjadi kecemburuan dan rasa rendah diri.

CEKREK!

Chanyeol yang sedang berjalan sendiri menaiki kapal mereka, sambil mengikuti Baekhyun dan Kyungsoo yang tengah berjalan sambil berangkulan tangan itu terkejut mendengar suara bidikan kamera.

Sontak Chanyeol menoleh, kemudian mendapati Kyungsoon tengah memotret Baekhyun dan Kyungsoo dengan bibir tersenyum manis.

Chanyeol cemberut.

"Kau memotret mereka?" Terlihat oleh Chanyeol tubuh Kyungsoon menegang terkejut, sebelum menurunkan kamera miliknya, yang tadi menutupi setengah wajahnya.

Tampak Kyungsoon tersenyum manis.

"Hallo Tuan Park, bolehkah saya panggil anda memakai Oppa saja saat liburan seperti ini?" Tanya Kyungsoon.

Chanyeol membalas senyum itu dengan sopan. "Oh.. tentu saja, panggil aku apa saja yang membuatmu nyaman. Dan kita bisa mulai menggunakan bahasa santai satu sama lain." Jawab Chanyeol.

"Kalau begitu harusnya aku panggil kau apa heh?. Pria tak berguna?, lintah tak tahu diri?, perusak cerita?, pencuri kesempatan?, penikung?, oh.. mungkin yang paling nyaman bagiku adalah dengan memanggilmu Brengsek Park." Kyungsoon bersumpah serapah didalam hatinya.

Namun dengan mengerikannya dari luar tampak memberikan senyum terbaik kepada Chanyeol, sama sekali tak memberikan celah bagi Chanyeol untuk mengetahui apapun isi hatinya, lalu gadis itu berucap.

"Aku panggil Chanyeol Oppa ya.." Dengan suara manis khas gadis- gadis idaman para pria, yang dengan lugunya Chanyeol angguki tulus.

"Oh ya, tadi kau memotret Baekhyun dan Kyungsoo?" Tanya Chanyeol.

Kyungsoon mengangguk mantap. Kali ini gadis itu mengangguk dengan antusias layaknya anak polos yang bersemangat, atau setidaknya Kyungsoon ingin terlihat seperti itu. Dirinya harus tampak yakin dan tulus agar orang lain tak mencurigai dirinya, mencurigai bahwa Kyungsoon hanyalah memotret Baekhyun. Gadis itu sesungguhnya tak peduli pada orang lain bahkan kepada kembaran lebih tua 30 menit darinya itu, si Do Kyungsoo Oppa.

"Iya Chanyeol Oppa, tidakkah kau berpikir mereka menggemaskan. Mereka sudah sedekat itu bahkan semenjak kami masih kecil. Aku tak tahan untuk tak memotret mereka. Liburan seperti ini sangat sayang bila setiap momennya tidak diabadikan." Chanyeol terbelalak mendengar itu.

"Mereka seperti itu sejak dulu!?. Maksudmu dekat itu, dekat yang seperti itu?!" Tanya Chanyeol terkejut.

Kyungsoon pun mengangguk (sok) polos.

"Oppa tidak tahu?. Oh ya... Oppa kan orang baru, tentunya banyak yang tak Oppa ketahui tentang Tuan Muda Byun. Termasuk siapakah sahabat paling dekatnya. Sahabat paling dekatnya Tuan Muda Byun itu Oppaku, Do Kyungsoo. Mereka sudah bersahabat sekitar 15 tahun. Woah.. waktu yang lama bukan?" Ucapan dengan suara manis Kyungsoon itu justru terasa seperti minyak yang dicurahkan diatas api.

Didalam sudut tergelap hatinya, gadis itu tertawa dengan heboh. Gadis ini sesungguhnya pintar, dirinya tahu titik lemah dari lawannya. Sayangnya, kepintaran itu bercampur dengan kelicikan yang mengerikan. Kyungsoon menggunakan saudara kembarnya sendiri untuk membuat mental lawannya jatuh ke tanah. Kemudian menyerang titik tersakit dalam diri Chanyeol. Tega sekali.

"Kelemahan seorang Park Chanyeol adalah, pria ini menjadi rendah diri saat merasa tak diperlukan. Terutama bila itu berhubungan dengan Tuan Muda Byun. Ayo kita lihat apa yang terjadi padamu, saat kau tahu bahwa kau sungguh tak berguna dibandingkan idola yang kau puja didepan kekasihmu sendiri." Pikir Kyungsoon menganalisa.

"A-Apa lagi yang tak aku ketahui tentang mereka berdua?" Tanya Chanyeol dengan raut wajah yang telah menggelap. Sinar mentari pagi disekeliling Chanyeol sepertinya telah berubah menjadi awan mendung. Bagaimana bisa tak sedikitpun ada iba di hati Kyungsoon saat melihat raut wajah sedih dan tertekan itu.

Gadis itu justru semakin bahagia saat Chanyeol tersiksa.

"Emm.. apa ya.. Oh, Aku ingat!. Tuan Muda Byun adalah cinta pertama Oppaku. Dan tentunya Tuan Muda tahu hal itu, sayangnya mereka terus terjebak dalam friendzone, padahal dulu kami semua mengira Kyungsoo Oppa lah yang akan terpilih menjadi kekasih Tuan Muda Byun. Dan tanpa diduga, Chanyeol Oppa datang, ternyata takdir itu sulit ditebak ya ahaha.. "

Kyungsoon tertawa dusta diakhir kalimatnya. Gadis itu mengucapkan segalanya dengan raut wajah polos tanpa dosa. Seolah tak paham bahwa ucapannya telah membakar orang lain. Dan menyakiti orang didepannya.

Chanyeol terdiam, lama sekali. Hati dan pikiran pria itu telah menjadi blank dan tertutupi kabut hitam menyesakkan. Bahkan dirinya tak sadar bahwa kapal yang dinaikinya ini telah berangkat.

Dirinya tak sadar bahwa Kyungsoon sudah pergi diam- diam sambil tersenyum penuh kemenangan, meninggalkan Chanyeol sendirian yang telah menelan semua perasaan tak berharga yang sudah Kyungsoon berikan tersirat di setiap kalimat yang terucap dari gadis itu.

Chanyeol berjalan memasuki kabin kapal dengan linglung dan pandangan kosong. Kemudian dirinya memasuki asal salah satu kamar di kabin kapal yang besar dan mewah ini.

Dirinya tak sadar apapun yang terjadi sekarang, otaknya tengah bekerja keras untuk dapat menerima kejutan kejam ini.

Oh.. Tentunya Chanyeol paham inti dari kalimat yang Kyungsoon ucapkan tadi, yang bila semuanya di rangkum akan membuat kalimat.

Seharusnya Kyungsoo adalah kekasih Baekhyun jika saja Chanyeol tak hadir diantara mereka berdua.

Kita semua tahu, apa hal yang paling menyebalkan dari dunia ini bagi Chanyeol.

Kecanggungan, menjadi tak berharga, tak dianggap ada, dan... menjadi pemisah orang yang berjodoh, seperti yang terjadi pada ayah dan ibunya.

Dirinya muak menjadi seseorang yang seakan hanyalah cadangan, mengisi tempat yang seharusnya milik orang lain.

Chanyeol sungguh sulit menerima itu.

Hal itu membuat Chanyeol putus asa dan merasa berdosa lagi bersalah. Membuatnya merasa tak pantas berada disini. Membuatnya merasa seharusnya dirinya tak berada disini. Dan juga, membuat Chanyeol merasa... seharusnya dirinya tak dilahirkan.

Ternyata,

trauma yang dibawa seorang anak semenjak kecil memang tak dapat kita remehkan. Sungguh mengerikan bagaimana hal itu terus berlanjut bahkan hingga anak itu dewasa. Terkutuklah para orang tua yang memberikan luka dan kecacatan pikiran kepada anaknya sendiri. Karena rasa sakit itu akan dipikul sang anak, seumur hidupnya.

DUK! DUK! DUK! DUK!

Chanyeol tersentak saat suara gedoran itu menyadarkan dirinya dari gelembung lamunan menyakitkan.

"CHANYEOL OPPA?! Kau didalam?! Cepat keluar!" Chanyeol memandang pintu itu dengan samar. Oh ya... gadis dibalik pintu itulah yang membawa Chanyeol masuk ke dalam ruang lingkup Mansion Byun.

Shin Jimin.

Chanyeol yang tak sadar sudah mengunci pintu pun kembali membukanya, kemudian membuka pintu tersebut. Mendapati wajah panik Jimin berubah menjadi lega.

"Syukurlah kau ternyata disini. Hey!!, kau tahu bagaimana khawatirnya Tuan Muda Byun saat kau tak kunjung mendatanginya?!. Kami semua mengira kau tertinggal di pelabuhan!. Ada apa denganmu hari ini?, kau sakit?, tumben kau tak menempel pada Tuan Muda seperti permen karet." Serentetan kalimat itu diucapkan dengan cepat dan tanpa jeda, khas Jimin sekali.

Chanyeol berkedip- kedip cepat.

"Baekhyun mencariku?" tanyanya dengan suara gamang.

Dahi Jimin mengerut, "Tentu saja, memangnya kapan Tuan Muda tidak mencari- cari dirimu saat kau tak ada. Dia selalu gelisah saat tak tahu kau berada dimana. Meski Tuan Muda selalu berusaha menutupinya, harusnya kita semua sudah tahu itu bukan?."

Chanyeol terdiam memandang Jimin, kemudian kembali bergumam.

"Meskipun Baekhyun tengah bersama sahabat dekatnya sekarang?. Dia tetap mencariku?. Kenapa dia tak datang sendiri saja padaku, kenapa menyuruh orang lain yang mencariku?" Giliran Jimin yang terdiam menatap wajah Chanyeol.

Jimin pun menghela napas.

"Sepertinya memang ada yang salah denganmu hari ini. Apakah kau masih tak paham juga, atau karena kau memang melupakannya. Chanyeol Oppa.., Tuan Muda Byun itu, tak bisa melihat."

DEG!

Sebuah hantaman keras terasa didada Chanyeol.

"Kalau kau ingin berada disampingnya, langsung hampiri saja. Dia bukan tak ingin mendatangimu, tapi dia hanya TAK BISA!. Tuan Muda Byun terbiasa menunggu orang yang bersedia untuk mendatanginya dan selalu berada disampingnya. Kau kira dia membuat kita semua liburan ini tujuan utamanya untuk apa?. Ya untuk dirimu, Bodoh!!. Tuan Muda Byun ingin kau selalu bersamanya selama liburan ini karena selama ini kau selalu sibuk. AUGHH.. AKU FRUSTASI AKAN KEBODOHANMU!. Apakah itu belum cukup untuk membuktikan bagaimana arti dirimu untuknya?. Kau berharga baginya!!" Sepertinya Jimin memang berbakat menjadi seorang rapper.

Seperti ada yang membuka pikiran Chanyeol dengan sebuah gedoran keras. Akhirnya Chanyeol dapat berpikir jernih.

Wajah Chanyeol sungguh mudah dibaca oleh Jimin.

"Nah.. sudah sadar apa kesalahanmu?. Kau yang bodoh disini karena memberikan Kyungsoo kesempatan untuk menempati tempat yang sudah menjadi milikmu. Bila kau ketakutan tempat itu di ambil, maka rebut saja lagi!. Jangan malah mengunci diri didalam kamar ini seperti idiot. Ayo kita keluar!" Jimin pun menarik Chanyeol keluar dari kamar. Kemudian mendorong tubuh besar itu menuju jalan keluar dari kabin kapal yang seluas rumah ini. Menuju bagian depan kapal.

Jimin menatap tubuh tegap Chanyeol yang berjalan semakin jauh darinya itu dengan pandangan khawatir.

"Seharusnya aku langsung mencegah kau terlibat dalam obrolan bersama Kyungsoon Eonni tadi. Awas saja kau Do Kyungsoon, selama ini aku memang diam saja. Namun sekarang kau sudah menyakiti hati Idolaku. Kau akan mendapat balasan dariku nanti. Aku bahkan tak akan mau mati sebelum dapat membalas semua perilaku busukmu. Chanyeol Oppa sungguh lugu, dirinya tak sadar betapa ucapan menyakitkan darimu itu sungguh disengaja. Namun.. kau tak bisa membohongi aku, kita sudah kenal terlalu lama. Terlalu lama hingga aku dapat mengenalmu terlalu dalam. Terlalu lama untuk membiarkan kau menikmati obsesimu. Terlalu lama untuk berpura- pura tak tahu hal ini, beruntungnya dirimu karena permintaan Tuan Muda Byun, kami semua hanya dapat diam dan melihat. Untuk pertama kalinya, aku akan melanggar permintaan Tuan Muda, aku tak bisa hanya diam saja melihat kegilaanmu." Ucap Jimin dalam hati, dengan penuh dendam.

Disisi lain, pandangan mata Chanyeol pun telah kembali berubah menjadi hitam pekat dan tajam. Bersemangat untuk berperang.

Jimin benar, dirinya belum kalah disini. Bodohnya, dirinya menjauh dari Baekhyun dan membuat Kyungsoo menarik kekasihnya kesana kemari. Terus menempeli KEKASIHNYA CHANYEOL. Chanyeol sendirilah yang memberikan kesempatan kepada Kyungsoo.

Bodohnya lagi, dirinya justru menyerah sebelum berperang.

Berkabung dalam trauma masa lalu yang selalu merasa rendah diri dan menganggap dirinya sendiri tak berharga. Hingga lupa bahwa, seorang Byun Baekhyun tentu berbeda dengan Ayah Chanyeol. Baekhyun selalu menunggu dirinya, selalu mengandalkannya, dan selalu menerimanya.

Dirinya tak boleh menyerah dulu. Sekarang, perang baru saja dimulai.

.

.

.

Mulai hari ini,

menit ini,

dan detik ini!.

CHANYEOL BUKAN LAGI FANBOY DARI SEORANG DO KYUNGSOO!!

Chanyeol sedari tadi menguarkan aura mengerikan. Menatap tajam pemandangan jauh didepannya dengan mata memanas perih sebab jarang berkedip. Mata hitam kelam itu dengan awas terus menerus memperhatikan seluruh gerak gerik Kyungsoo dengan pandangan tajam menusuk.

Memperhatikan bagaimana Kyungsoo membenarkan poni rambut Baekhyun.

Memperhatikan bagaimana Kyungsoo menggendeng tangan Baekhyun saat mereka berdua berjalan.

Memperhatikan bagaimana Kyungsoo memperbaiki eyeliner Baekhyun yang sedikit luntur, membuat Chanyeol mengutuk stylist Baekhyun yang tak memberikan eyeliner waterproof kepada kekasihnya Chanyeol itu. Sudah tahu ini musim panas, kenapa dia memberikan Baekhyun eyeliner murahan yang luntur terkena keringat, pikir Chanyeol marah akan hal sepele.

Kemudian Chanyeol membelalakkan matanya dengan maksimum. Ditambah lagi pria tinggi ini merasakan napasnya macet ditengah jalan, tak bisa masuk ataupun keluar.

KYUNGSOO

MENCIUM

PIPI

BAEKHYUN!!

"Hufhhh... tenang Chanyeol tenanggg... ayo hitung sampai sepuluh. Kau akan memenangkan pertarungan ini, kaulah kekasihnya Baekhyun, sekarang ayo kita pikirkan bagaimana cara memisahkan kedua orang itu. Ayo membuat strategi paling ampuh untuk membunuh pinguin itu."

"Dasar pencemburu." Suara lembut disebelah Chanyeol mengejutkan pria tinggi ini.

Chanyeol berdelik pada pria mungil disebelahnya.

"Aku tidak cemburu. Hanya kesal karena milikku sedang diganggu oleh orang lain." Bantahnya.

Xiumin memutar bola matanya, "Akui saja Trainee Park. Kau cemburu." Xiumin memang paling tidak suka pada orang- orang yang mengingkari kata hatinya sendiri.

Chanyeol menekuk bibirnya kebawah.

"Lalu.. bila aku memang cemburu. Apa itu salah?. Jadi aku yang salah disini?" Tanya Chanyeol dengan suara menantang.

Xiumin menatap Chanyeol dengan sedikit lama.

"Memangnya apa yang kau cemburui dari mereka?. Kita semua tahu Baekhyun adalah kekasihmu. Dan Kyungsoo adalah kekasih Kai. Mereka tak punya hubungan apapun selain sahabat yang sudah berbulan- bulan tak bertemu. Wajar saja mereka seperti itu sekarang. Untuk informasi saja, aku juga pernah mencium pipi Baekhyun." Ujar Xiumin.

Berbeda dengan adik sepupunya yang memberikan nasihat kepada Chanyeol untuk mengumumkan perang saja. Xiumin adalah pribadi yang tenang, sehingga menyarankan Chanyeol untuk tak berekspresi berlebihan pada hal ini.

Tanggapi saja dengan biasa dan tenang. Toh Baekhyun tetap milik Chanyeol, pikir Xiumin.

Chanyeol menghela napas, kemudian bersuara dengan pelan.

"Jadi kau juga pernah mencium kekasihku..." Gumam Chanyeol pelan dengan mata tajam, sedang mode danger and beware ternyata.

Xiumin memutar bola matanya. Tatapan mengerikan Chanyeol tidaklah mempan padanya, kecuali bila Chen lah yang menatap Xiumin dengan pandangan seperti itu. Maka lain ceritanya.

Chanyeol cemberut saat melihat reaksi biasa Xiumin.

"Aku tahu itu. Mereka memang tak punya hubungan apa- apa. Tapi bukan berarti mereka tak pernah terjadi apa- apa. Rasanya hampir gila saat memikirkan apa yang sudah terjadi diantara mereka bahkan bila itu kejadian sebelum Baekhyun mengenal diriku. Rasanya seperti kekasihku sedang bertemu dengan mantan pacarnya. Perasaan ini menyebalkan. Itulah satu- satunya yang aku cemburui dari hubungan mereka berdua. Mereka punya masa lalu yang tak ada aku didalamnya."

Xiumin tersenyum lembut mendengar itu.

"Kau sesuka itu pada Baekhyun ya?" Tanyanya jenaka.

Chanyeol pun merengut tak suka diberikan candaan seperti itu.

"Memangnya perlu dipertanyakan lagi ya?" Chanyeol menjawab dengan balas bertanya kesal.

Xiumin menatap Chanyeol dengan senyuman miring.

"Aku rasa tidak. Semuanya tampak jelas dari pandangan matamu. Kau seperti ingin melempar Kyungsoo ke tengah laut sekarang." Ujar Xiumin.

Chanyeol membelalakkan matanya.

"Dari mana kau tahu?!, kau bisa baca pikiran?. Bagaimana kau bisa tahu jika aku ingin melempar pinguin itu ke laut sana supaya dimakan ikan paus ataupun hiu?!!" Seru Chanyeol terkejut pada Xiumin.

"Excuse you, trainee Park, pinguin yang ingin kau lempar itu kekasihku." Suara bass lain bergabung dalam obrolan diantara mereka.

Chanyeol dan Xiumin pun menoleh. Mendapati Kai yang ikut menatap Baekhyun dan Kyungsoo dari kejauhan bersama mereka. Pelatih tari dari BB Ent itu tampak sungguh tampan dengan baju kemeja pantai berwarna hijau lumut dengan motif siluet pohon kelapa.

Kai tampak sungguh tampan dan dewasa. Aura pria ini memang selalu menguarkan kedewasaan yang khas. Wajar saja, sudah berumur seperempat abad. Dengan cara yang khas, ketenangan sikap pria Kim ini justru memberikan kesan misterius dan seksi.

"Bila kau merasa ingin melempar Pinguin disana. Aku justru ingin melempar Puppy perebut perhatian itu agar dimakan hiu lautan ini saja sekalian." Ujar Kai dengan wajah tenang. Waw psyco sekali, sekarang terungkaplah bagaimana pria ini sungguh cocok dengan Kyungsoo si pemarah dan kasar. Kai itu ternyata diam- diam mengerikan. Meraka adalah pasangan yang serasi.

Membuat wajah Chanyeol dan Xiumin mengernyit ngeri.

"Hey! Puppy lucu itu kekasihku, kau jangan macam- macam!" Seru Chanyeol tak terima.

Kai tersenyum tenang.

"Aku kan hanya bercanda." Ujarnya tanpa dosa.

Chanyeol terbelalak, "Kalau begitu ucapkan dengan nada bercanda!. Aku sungguh ketakutan mengira kau memang ingin melempar Baekhyunku kelautan!. Oh sialan, sepertinya itu memang kemungkinan terjadi. Hey Trainer Kim Kai, keep your mufuckin' grubby hands away from my cinnamon apple , the light of my life, the essence of my happiness, the apple of my eyes, the peanut butter to my jelly, the apple to my pie, the straw to my berry, the -

"Hey! Hey! Hentikan!!" Xiumin berseru keras. Tak sanggup lagi mendengarkan seluruh kalimat chessy Chanyeol.

Kai terkekeh geli.

"Kau kira hanya dirimu yang cemburu Chanyeol?. Aku juga... selama ini aku bahkan sulit membuat Kyungsoo tertawa. Namun lihatlah sekarang, Kyungsoo tertawa bahagia dengan apapun yang Tuan Byun ucapkan." Kai mengucapkan itu dengan kalimat yang sungguh tenang.

Membuat Chanyeol dan Xiumin bingung bagaimana menanggapinya.

"Kalau kau cemburu, ekspresikan kecemburuanmu itu Pelatih Kai. Bagaimana bisa kau tenang sekali?" Tanya Chanyeol yang sudah gemas dengan ketenangan Kai.

Kai mengangkat bahunya tenang.

"Aku hanya memilih untuk membiarkan kekasihku bersantai bersama temannya. Aku tahu bagaimana Kyungsoo menyayangi Tuan Byun. Namun jangan lupakan bahwa akulah pemenang hati Kyungsoo akhirnya. Sebuah kebanggaan tersendiri bagiku, bahwa aku dapat memenangkan hati Do Kyungsoo, bahkan disaat Tuan- Sempurna- Byun adalah lawanku." Kai tersenyum bangga pada dirinya sendiri.

"Kyungsoo adalah orang yang sangat serius. Bahkan lebih serius daripada Xiumin, walau tak sependiam Xiumin. Banyak yang sulit menerima sifat keras, pemarah, dan menyebalkannya. Membuatnya menjadi tak punya teman. Meski aku adalah kekasihnya, pasti Kyungsoo tetap memiliki hal yang sulit di ungkapkan padaku dan lebih mudah membicarakannya kepada teman. Kau tahu kan?, seperti melakukan curhat tentang kekasih masing- masing kepada temanmu. Itu tak mungkin dilakukan pada kekasih sendiri, pastinya harus dibicarakan pada temanmu. Dan sekarang... aku membiarkan Kyungsoo bersantai bersama satu- satunya sahabatnya."

Kai tersenyum lembut sambil menatap Kyungsoo yang sedang tertawa didepan sana, "Jadi, walau aku cemburu karena bukan diriku lah pencipta senyum Kyungsoo sekarang. Setidaknya aku bukanlah perusak dari senyumnya."

Chanyeol terdiam.

Akhirnya otak Chanyeol dapat menghubungkan apa yang tengah terjadi disini.

"Tunggu.. Tunggu.. Tunggu.. Tunggu sebentar. Aku rasa, aku paham apa yang sedang kalian lakukan sekarang." Ujarnya dengan nada terburu- buru.

Xiumin dan Kai pun menatapnya penuh perhatian, dan juga Chanyeol dapat melihat Jimin dan Sehun menatapnya dari kejauhan.

Lalu jangan lupakan beberapa maid dan pekerja lain yang sesekali menatap Chanyeol dengan tatapan khawatir.

Tak berapa lama, tawa Chanyeol pun meledak.

Oh astaga, dirinya tak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi ini. Seumur hidupnya, hal seperti ini tak pernah terjadi. Ini adalah salah satu kejutan yang tak pernah dirinya duga akan terjadi dalam hidupnya.

"Hei! Jadi.. kalian semua, sedang menghiburku?" Tebak Chanyeol dengan suara geli, menatap Kai dan Xiumin bergiliran.

Kai dan Xiumin pun berpandangan, kemudian tersenyum penuh arti.

"Oh astaga.. tebakanku benar.." Gumam Chanyeol tak percaya akan hal yang telah dia dapatkan.

Seluruh pekerja Mansion Byun ternyata tengah mengkhawatirkan dirinya. Dan mereka semua bergiliran berusaha membuat hati Chanyeol menjadi tenang. Menghiburnya dengan kalimat- kalimat yang membuat pikiran Chanyeol terbuka, dan membuatnya melupakan perasaan bahwa dirinya...

... tak berharga.

Mata Chanyeol menjadi berkaca- kaca. Seumur hidupnya, dirinya tak pernah dipedulikan oleh orang lain sampai seperti ini. Seumur hidupnya, Chanyeol tak pernah dikhawatirkan orang sebanyak ini.

Hangat.

Mansion Byun dan penghuninya adalah orang- orang berhati hangat.

Chanyeol tak bisa untuk tak lebih dari bersyukur daripada sekarang, akan takdir yang membawanya bergabung bersama orang- orang Mansion Byun.

"Ekhm.. Jadi, apa sekarang kau sudah siap untuk menghampiri kekasih kita masing- masing. Dan bertanya apa yang keduanya bicarakan dengan seru sedari tadi?" Kai berdehem, memecahkan rasa haru Chanyeol kepada semua orang.

Chanyeol mengangguk mantap, kemudian Kai dan Chanyeol pun melakukan high five yang sungguh jantan sekali. Kemudian keduanya melangkah mendatangi Kyungsoo dan Baekhyun didepan sana.

Xiumin menatap itu dalam diam. Dirinya ditinggal sendirian sekarang. Oh.. Tentunya kesendirian itu tak akan berlangsung dengan lama, sebab...

"Maafkan aku terlambat, apa kau sudah menunggu lama?. Tolong maklumi pria tua ini, kau tahu sendiri, aku mudah mabuk laut." Karena ada Chen yang akan selalu tiba- tiba datang dan langsung merangkul bahu Xiumin.

Xiumin tersenyum miring.

"Kau tak pergi selambat itu, dan maaf tak menemani mu ke toilet tadi, aku tahu kau akan malu untuk muntah didepanku. Dan ini... aku menunggumu untuk memberikan ini..." Jawab Xiumin sambil memberikan sesuatu langsung ke tangan Chen yang sedang merangkul bahunya.

Chen menarik tangannya, kemudian menatap benda yang Xiumin berikan padanya itu.

Senyum hangat tercipta dibibir pria 40 tahun ini.

Itu adalah Dramamine, obat penghilang mual, muntah, dan pusing.

"Woah.. kau kucing yang pintar. Kapan kau mempersiapkan ini?" Tanya Chen dengan wajah cerah walau tampak bibirnya sungguh pucat, pria ini masih mabuk perjalanan.

Xiumin melenggang pergi begitu saja sambil berucap, "Pikir saja sendiri, cepatlah minum itu, kemudian tidur di salah satu kamar disini Pak Tua. Anggap saja ini adalah bentuk balas dendam karena kau memasukkan obat tidur kedalam minumanku." Pria mungil itu berjalan mendahului Chen.

"Aku tak akan meminumnya kecuali kau menemaniku tidur!!" Teriak Chen pada Xiumin yang sudah menjauh.

"Aku tak mendengar apapun!" Balas teriak Xiumin dengan kalimat seolah tak peduli.

Chen tertawa geli akan sikap Xiumin. Bagi Chen, Xiumin tampak sungguh menggemaskan dengan sikap Tsundere nya yang sudah mendarah mendaging itu.

Xiumin adalah gunung es yang hangat.

Sedangkan Chen seperti petir yang selalu datang tiba- tiba dan tak pernah bosan untuk selalu datang menyambar gunung es itu.

Namun mirisnya,

kita semua tahu,

Xiumin takut pada petir.

.

.

.

Jimin dan Sehun menatap semua drama itu dengan duduk tenang sambil meminum es lemon tea mereka. Kedua anak SMA yang memegang status jomblo ini merasa sepi berada dikapal indah ini, tanpa pasangan sambil menonton drama percintaan pasangan- pasangan dihadapan mereka.

"Jimin, kau mau jadi pacarku?" Tanya Sehun datar dan tanpa drama.

Jimin menatap Sehun dengan jijik.

"Maaf saja, kau bukan tipeku. Lagipula, kau kan tak sanggup membayar denda bila melanggar kontrak, dengan berkencan di 2 tahun awal karier mu." Jimin menjawab cepat tanpa ragu sedikitpun.

Sehun menghela napas.

"Andaikan kekasihku Tuan Byun saja, jadinya dia yang akan membayar denda pelanggaran kontrak itu." Gumam Sehun.

"Sayangnya, pesonamu tak sehebat Chanyeol Oppa." Ujar Jimin dengan semangat membanggakan idolanya itu.

Sehun tersenyum miring, "Kau benar, tapi jangan lupakan, kau juga tak secantik Tuan Byun." Balas Sehun sambil menatap datar pada Jimin.

Membuat gadis mungil itu menutup bibirnya rapat.

Keduanya berpandangan penuh arti.

"Darimana kau tahu?" Tanya Jimin dengan suara pelan

"Tahu apa?. Tahu bahwa kau adalah Shin Jimin, gadis bodoh yang jatuh cinta pada pria asing yang kau temui di halte bis. Dan lebih bodohnya lagi justru mempertemukan pria asing itu dengan jodohnya, secara tak langsung kaulah yang membuat mereka menjadi memiliki takdir untuk bertemu. Bagaimana kau bisa tetap ceria bahkan saat nasibmu semiris itu?" Sifat blak- blakan Sehun terkadang sungguh mengerikan.

Jimin menghela napas kemudian menampilkan wajah berpikir.

"Emm.. memangnya aku harus bersedih?" tanya Jimin santai.

Sehun mengangkat bahunya acuh.

"Biasanya gadis- gadis akan meraung dan menangis saat pria yang disukainya menjadi kekasih orang lain." Jawab Sehun.

Jimin tertawa geli.

"Kata siapa aku tak menangis?. Aku juga menangis. Banyak sekali. Aku tak bisa tidur sama sekali saat tahu bahwa Chanyeol Oppa menghabiskan sepanjang malam tidur bersama Tuan Byun diperpustakaan. Aku sampai tak sanggup untuk datang ke Mansion Byun saat masa- masa pendekatan mereka berdua, beralasan bahwa aku sibuk les dan segala macam. Dan juga hari itu, saat tengah malam aku dijemput oleh Chen ahjussi dari perpustakaan tempatku belajar, kami berdua menuju Mansion Byun. Aku juga menangis saat tak sengaja lewat didekat kamar mereka, dan mendengar bagaimana keduanya terus saling mengungkapkan perasaan dan mengobrol manis. Aku menangis sampai tak sanggup bernapas saat selanjutnya yang aku dengar adalah suara desahan pasangan yang sedang jatuh cinta. Aku wanita, dan harga diriku rasanya robek saat menyadari, bahwa aku hanyalah Tinkerbell yang membuat Peterpan bertemu dengan Wendynya. Aku hanyalah pemeran sampingan." Sehun menatap Jimin penuh perhatian saat mendengarkan curahan hati Jimin.

"Lalu setelah merasakan sakit itu, kau memilih untuk menyerah begitu saja?. Bagaimana bisa?" Tanya Sehun.

Jimin tersenyum ringan. Gadis ini sungguh memiliki hati yang sederhana. Sungguh baik dibalik kecerewetannya. Chen, Baekhyun, dan Xiumin sepertinya sungguh berhasil dalam mendidik dan membesarkan gadis kecil ini. Membentuknya menjadi gadis dengan hati yang cantik.

"Aku memang mencintai Chanyeol Oppa, namun aku juga menyayangi Tuan Byun, walau bentuknya berbeda namun besarnya sama. Kau ingat saat Tinkerbell terbutakan oleh kecemburuan?, itu justru berakhir dengan mencelakakan Peterpan dan Wendy, aku tak ingin seperti itu, aku adalah Tinkerbell yang baik." Jawab Jimin.

Sehun tersenyum tulus.

"Kau tahu, kau lebih baik daripada Tinkerbell. Kau juga Wendy, hanya saja belum menemukan Peterpan yang tepat." Hibur Sehun, namun seluruh kalimatnya sama sekali tak ada kebohongan.

Jimin mengangguk menerima ucapan Sehun, "Terima kasih OhSe." Ujar Jimin.

Sehun ikut mengangguk, "Lalu apa rencanamu sekarang?" Tanya Sehun, kemudian menghirup Lemon Tea nya yang sudah tak dingin lagi.

Jimin tersenyum misterius, "Untuk sekarang, aku ingin membunuh seorang Tinkerbell jahat yang terobsesi menjadi Wendy untuk Peterpannya orang lain. Kau mau ikut?. Ini akan menyenangkan." Ajak Jimin pada Sehun.

Sehun menatap Jimin dengan skeptis.

"Maaf saja, aku lebih suka menonton daripada terlibat dalam drama kalian." Jawab Sehun cepat.

Giliran Jimin yang mengangkat bahunya acuh.

"Yasudah kalau begitu..." Jimin berucap acuh.

"PARK CHANYEOL!!, BERANINYA KAU MENCIUM BAEKHYUN DIDEPANKU! HENTIKAN HENTIKAN HENTIKAN!!, KAU BEDEBAH!, HEY KAI HYUNG LEPASKAN AKU!!, PARK CHANYEOL!!. AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!!"

Jimin, seluruh pekerja Mansion Byun, serta para awak kapal sontak menatap asal suara teriakan itu, terlihatlah pertunjukan yang sungguh menarik didepan mereka.

Di ujung kapal, tampak Baekhyun yang kewalahan membalas ciuman Chanyeol yang sungguh tanpa kata ampun, seakan ingin memakan seluruh wajah si mungil, serta meremukkan tubuh mungil Baekhyun dalam pelukannya.

Hanya berjarak satu meter dari pasangan itu, terlihat Kyungsoo yang sudah berteriak heboh dengan menampilkan wajah marah yang mengerikan, dan jangan lupakan sumpah serapah dan tatapan membunuh yang diberikannya kepada Chanyeol.

Kyungsoo tampak meronta dengan sekuat tenaga untuk lepas dari Kai yang menahan dan memeluknya dari belakang.

Semuanya memandang itu dengan pandangan beragam.

Ada yang tertawa, ada yang takjub karena pertama kali melihat Tuan Muda Byun mereka dicium seperti itu oleh orang lain, ada pula yang tersenyum haru melihat kebahagiaan yang telah Tuan Muda mereka dapatkan.

Namun Sehun justru lebih memilih untuk melihat ekspresi gadis disebelahnya.

Sehun tertegun melihat bagaimana ekspresi Jimin sekarang. Gadis itu tersenyum cerah dan tulus. Sungguh kebahagiaan dengan nol persen kepalsuan.

Bagaimana bisa dia tetap bahagia bahkan saat hatinya sakit?, pikir Sehun dalam hati.

Kemudian Sehun mendapati ekspresi Jimin berubah menjadi serius penuh dendam. Namun ternyata objek yang Jimin perhatikan pun juga berubah.

Sehun mengikuti arah pandang Jimin. Mendapati di ujung sana, seorang gadis cantik dengan rambut hitam lurus panjang sedang menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan senyuman manis dan ceria, yang sungguh palsu.

Itu adalah Do Kyungsoon.

Sehun kembali tertegun.

Yang satu ini bahkan lebih membingungkan. Bagaimana bisa gadis itu tersenyum manis dan ceria, disaat dirinya bahkan tak bahagia?, pikir Sehun pusing.

Sehun membuang napas lelah.

"Hufhh.. aku lebih memilih berpacaran dengan pria saja. Wanita terlalu rumit." Gumamnya lelah.

Jimin tertawa terbahak- bahak mendengarnya dan dibalasi dengan kekehan tanpa dosa dari Sehun.

.

.

Beginilah perjalanan Keluarga Besar Mansion Byun menuju Pulau Jeju. Diisi dengan terungkapnya beberapa isi hati dan ungkapan hati mereka tentang seberapa berartinya seseorang yang mereka sayangi.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

( Peterpan by EXO )

When I'm beside you my heart flies up to the clouds

My only princess, you're cuter than Wendy or Cinderella

- EXO to EXO-L

AN :

Hei Sugar~

Benar, chapter ini terinspirasi dari lagu Peterpan EXO. Aku dengerin lagu itu berpuluh- puluh kali dengan versi Hug, versinya EXO-M , kangen suara abang- abang alumni EXO yang udah lulus. Kangen juga sama abang yang lagi mencari nafkah di negeri seberang. Lalu kangen sama abang- abang yang lagi mengabdi kepada negara tercinta. Lah... saya malah jadi curhat :D

Lanjut aja curhatnya ah~

Sebenarnya aku penasaran, adakah yang keberatan dengan bagaimana lambatnya alur dari FF ini?. Aku tuh merasa, cerita FF ini terlalu padat dan takutnya bikin mual para pembacanya.

Meski tokoh utamanya ChanBaek, sesungguhnya, gak ada peran yang gak penting dalam FF ini. Semuanya berhubungan, seperti sarang laba- laba.

Aku bilangin dari sekarang aja kali ya.. aku tuh orang yang melankolis dan suka berekspresi berlebihan akan segala hal. Aku rasa udah terlihat sekali dengan bagaimana aku menulis sebuah cerita selama ini. Jadi, tolong terima saya dan cerita saya apa adanya ya. Seperti Tuan Byun yang selalu menerima Penyanyi Park apa adanya :D

Terima Kasih Banyak Kepada:

cb610429, Bubbleclay, bbaekhyunfans, ameliya13, elroseline, SehunSapiens, jungkkhope, Cheonsa528, and Byun Bitchi,

yang sudah menyisihkan waktunya untuk memberikan review.

Terima kasih juga kepada pembaca yang lain, yang sudah bersedia membaca, menyukai, dan mengikuti cerita ini.

Jangan lupa jaga kesehatan kalian dan berbahagia selalu. Semoga kita dapat bertemu di Chapter selanjutnya sampai Ending. Lets Love Eri!! /Bow