Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

Happy Reading

Chapter 17 : Film And Parody

.

.

.

Musim Panas 2011

Baekhyun merentangkan kedua tangannya dengan antusias, menikmati kuatnya angin laut menerpa. Tuan Muda kesayangan kita ini tengah berdiri di haluan kapal pesiar berlogo BB Grub yang sedang membawa mereka semua ke tempat indah berjulukan Hawainya Korea Selatan, Pulau Jeju.

Baekhyun perkirakan kapal ini telah berada di setengah perjalanan pada tujuannya, itu artinya 2 jam lagi mereka semua sampai. Pada akhirnya Baekhyun memang memilih membawa rombongan keluarga besar Mansion Byun untuk menggunakan kapal saja menuju destinasi mereka. Sungguh pilihan transportasi yang sesuatu sekali.

Tahukah kalian?

Semua ini berawal dari rekomendasi Sekretaris kesayangannya Tuan Muda kita, Kim Minseok.

"Bisakah kita naik kapal saja?, si tua bangka itu akan mabuk laut dan aku punya lebih banyak kesempatan untuk berdua dengannya. Dan jika dia mulai membuat batas antara ayah dan anak lagi, aku punya alasan untuk merawatnya, karena aku adalah putranya. Ayolah Baekhyun..."

Itulah yang Xiumin ucapkan pada Baekhyun sebelum berpamitan pulang menuju rumah bibinya, sehari sebelum keberangkatan mereka ini.

Baekhyun pun telah memikirkannya. Dan merasa bahwa ide Xiumin sungguh bagus sekali.

Perjalanan menggunakan kapal tentu terasa lebih menakjubkan daripada hanya duduk diam di dalam pesawat.

Sehingga saat itu Baekhyun pun menjawab, "Kau benar, aku juga ingin MT ini berkesan dari awal hingga akhir. Dan duduk diam di pesawat sungguh membosankan. Kita naik kapal saja, tolong persiapkan semuanya Xiumin Hyung."

Memangnya kapan lagi para pekerjanya bisa menikmati pemandangan laut biru seluas mata memandang kecuali saat liburan seperti ini?

Dan bagi Baekhyun, kapan lagi dirinya bisa mencium aroma asin bercampur garam laut yang sungguh khas, dan menakjubkannya suara gemuruh air laut yang menghantam dinding luar bawah kapal sebab terbelah paksa saat kapal melaju cepat kedepan. Sudah cukup lama Baekhyun tak merasakan suasana alam seperti ini. Maklumi saja, dirinya adalah anak rumahan.

"Jangan membuatku tergoda untuk memparodikan film Titanic bersamamu Baek. Walau aku tak setampan Jack Dawson, setidaknya pasanganku ini jauh lebih cantik daripada Rose DeWitt Bukater." Chanyeol yang sedari tadi berdiri di sebelah Baekhyun pun berucap jenaka. Pria tinggi itu bersandar pada pagar pembatas kapal sambil memandang wajah sang kekasih yang tampak sungguh bersinar cerah dibawah sinar matahari musim panas.

Baekhyun terdiam mendengar itu. Kemudian menurunkan tangannya yang tadi terentang.

"Memangnya apa yang terjadi di film Titanic?" Tanya Tuan Muda itu dengan polosnya.

Giliran Chanyeol yang terdiam.

"Kau belum menonton film Titanic?. Salah satu film terkenal sepanjang masa itu." Tanya Chanyeol dengan suara terkesima tak percaya.

Baekhyun tersenyum ringan, "Aku belum pernah menonton film apapun. Karena aku memang tidak dapat menontonnya."

Chanyeol dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Merasa bersalah. Bagaimana dirinya bisa melupakan hal ini lagi. Untuk kesekian kalinya.

Ada orang yang mengatakan... Suatu hal akan mudah terlupakan saat kau menganggap hal itu tak penting.

Sebaliknya, suatu hal akan selalu kau ingat saat kau menganggap hal itu amat sangat penting.

Lalu yang terakhir, suatu hal akan terus kau ingat meski kau ingin melupakannya, karena hal itu memang pernah menjadi penting.

Mungkin itulah yang terus membuat Chanyeol melupakan hal ini.

Karena,

dirinya,

tak pernah,

menganggap hal ini,

adalah suatu hal yang penting.

Selama ini Chanyeol memang tak pernah mempermasalahkan keistimewaan Baekhyun. Bagi Chanyeol, kekasihnya tidaklah berbeda dari manusia lainnya di dunia ini, bahkan jauh lebih baik dari jutaan orang di luar sana. Chanyeol tak pernah menganggap Baekhyun itu berbeda.

Byun Baekhyun adalah Baekhyun Byun.

Baekhyun Byun adalah Byun Baekhyun.

Baekhyun ya Baekhyun.

Dari depan, dari belakang, dari atas, dari bawah, dari sisi kanan dan kiri, dari semua arah mata angin pun Baekhyun adalah BAEKHYUN SAJA bagi Chanyeol. Tidak ada bagian yang aneh dari kekasihnya.

Mau Baekhyun bisa melihat atau tidak, memangnya itu penting?.

Karena hal itu memang bukanlah penghalang bagi apapun. Chanyeol tetap mencintai Baekhyun bagaimanapun rupa kekasihnya itu. Bagaimanapun.

Itu serius.

Awalnya Chanyeol memang membanggakan kecantikan dan kesempurnaan kekasihnya. Dan semua perasaannya juga berawal dari keterpesonaannya pada wajah rupawan Baekhyun.

Namun sekarang, tidak lagi.

Bahkan Chanyeol merasa, alangkah baiknya bila Baekhyun berubah menjadi buruk rupa saja. Jadi aku tak akan punya saingan sebanyak ini, pikir Chanyeol tak tahu diri.

Satu lagi keuntungan yang telah Chanyeol pikirkan dari keistimewaan Baekhyun. Kekasihnya tak akan pernah terpesona oleh pria tampan dan wanita cantik yang lain. Baekhyun hanya akan terpesona pada seorang Park Chanyeol, pikir Chanyeol lagi dengan amat sangat tak tahu dirinya.

Namun,

tetap saja. Dirinya salah. Seharusnya Chanyeol mengingat hal itu agar bisa menjadi seseorang yang pengertian untuk Baekhyun. Karena.. mau bagaimanapun. Baekhyun memanglah seseorang yang melihat dengan cara yang berbeda.

"Maafkan aku." Ujar Chanyeol menyesal karena telah sering melupakan keistimewaan kekasihnya.

Baekhyun hanya tersenyum tenang menanggapi kalimat itu.

"Aku penasaran, kenapa kau tak menonton film bahkan disaat kau mempunyai Mini Home Theater di mansion megah milikmu itu sendiri Baek?." Tanya Chanyeol.

Sepertinya obrolan santai dan tak penting dari pasangan baru yang masih dalam masa mengenal lebih dalam itupun kembali berlanjut. Maklumi saja, mereka berdua jadian terlalu cepat. Jadi, saat masa pacaran pun. Tetap terasa seperti sedang pendekatan.

Baekhyun tersenyum cerah mendengar pertanyaan tak terduga Chanyeol, khas Baekhyun sekali, yang tersenyum akan apapun yang Chanyeol katakan, mau itu penting ataupun tidak.

Sepertinya pribadi tenang dan damai dari Tuan Muda Byun kita telah kembali. Hebat sekali Park Chanyeol, dapat mengubah seorang Byun Baekhyun dalam sekejap. Dan mempengaruhi mood Tuan Muda itu berdasarkan ada atau tidaknya dirinya.

Baekhyun menggeleng maklum pada Chanyeol.

"Kau tak perlu minta maaf Chan. Dan aku juga tahu bahwa kau tak terlalu menyesal saat meminta maaf akan hal itu.. ahehehe." Baekhyun terkekeh saat menebak bahwa Chanyeol pasti tengah cemberut sekarang.

Yaps, tebakan Tuan Muda kita pasti benar, Chanyeol tengah cemberut sekarang. Kesal dan malu akan kepekaan kekasihnya sendiri.

"Kan aku tak mengira bahwa kau tak pernah menonton film. Dan ternyata membahas film bisa menyinggungmu."Ujar Chanyeol beralasan.

Baekhyun mengangguk mengerti. Pria mungil namun memiliki pengaruh besar ini amat sangat paham. Bahwa kekasihnya tak pernah berniat jahat padanya.

"Dan pertanyaanmu satunya itu... hemm.. bagaimana ya menjelaskannya. Ayo kita contohkan saja. Misalnya kita tengah menonton Titanic sekarang. Bisa kau jelaskan bagaimana rupa seorang Rose itu padaku?."

Chanyeol mengangguk.

"Tentu saja, itu mudah. Dia berambut keriting berwarna Ginger Red. Wajahnya kecil sekali dan kulitnya pucat. Memakai baju abad entah ke berapa itu yang sungguh banyak lapisannya, yang didalamnya memakai korset super ketat. Karena peran dia adalah gadis kaya dan tunangan dari pria kaya juga. Penampilan Rose selalu mewah dan glamor, oh! Dia sering menggunakan gaun berwarna maroon. Dan em..." Awalnya Chanyeol menjelaskan itu dengan bersemangat. Namun semakin lama pria ini semakin ragu.

Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Dannnn..?" tanyanya tak sabar.

Chanyeol pun menjadi salah tingkah.

"Er... bisakah kita beralih membahas pemeran Jack Dawsonnya saja?" Chanyeol justru berusaha mengalihkan topik.

Membuat Baekhyun semakin curiga tentang apa yang sedang Chanyeol sembunyikan.

"Tidak, tetap lanjutkan penjelasan tentang Rose DeWitt Bukater." Ujar Baekhyun tegas.

Chanyeol pun menghela napas pasrah.

"Dan dia memiliki bentuk tubuh yang indah.." Chanyeol mengucapkan itu dengan amat sangat pelan.

Baekhyun terdiam sebentar.

Sebelum,

"Pft... AHahahahahhaha... kau canggung dan malu membahas tentang wanita telanjang padaku. Astaga Tuan Park, memangnya berapa umurmu?" Chanyeol merengut melihat bagaimana Baekhyun tertawa sambil mengejek dirinya.

"Aku bukannya malu karena membahas itu!" Seru Chanyeol tak terima.

Baekhyun yang telah menyelesaikan tawanya itupun tersenyum dengan sungguh lebar dan bahagia. Oh... betapa rindunya Baekhyun akan suasana ini. Mengobrol bersama Chanyeol, dan menertawakan beberapa sikap lugu dan tak terduga dari sang kekasih.

"Kalau bukan malu, lalu karena apa kau menjadi segan membahasnya didepanku?" Baekhyun menuntut alasan.

Chanyeol pun terdiam sambil memutar bola matanya. Dirinya mengumpat dalam hati, karena sesuatu yang diucapkannya nanti justru lebih memalukan.

"Aku takut kau cemburu."

Giliran Baekhyun yang terdiam.

"Aku takut kau marah dan merasa tak senang saat tahu ternyata aku menonton film yang ada wanita lain sedang membuka bajunya. Karena itulah, aku ingin kita tak usah membahasnya saja. Aku takut kau marah padaku." Chanyeol berujar dengan tulus dan lugunya.

Tuhan yang baik, sekarang Baekhyun harus bagaimana. Pria depannya ini terlalu polos untuk dunia.

"Aku bahkan tak peduli andaikan kau ketahuan menonton video porno diam- diam dibelakangku Chan. Ya ampun, kita berdua pria dewasa, jadi tak mungkin aku marah untuk hal seperti itu..." Baekhyun menjawabnya dengan senyum geli.

Chanyeol menatap Baekhyun terkejut.

"Oh kau ternyata tidak marah dengan hal seperti itu." Ujarnya takjub.

Baekhyun tertawa geli.

"Sudah aku bilangkan, aku hanya akan marah dan membencimu bila kau tiba- tiba meninggalkanku saja." Lalu Baekhyun mengangkat bahunya acuh.

Chanyeolpun menganggukkan kepalanya paham.

"Lalu, kita kembali ke topik awal. Apa tujuanmu membuatku menjelaskan tentang Rose di film Titanic itu?" Tanya Chanyeol sambil menyingkirkan beberapa helai rambut pink Baekhyun yang menutupi wajah menggemaskan itu akibat terbawa angin.

Baekhyun menghela napasnya.

"Tentu saja itu untuk menjawab pertanyaanmu tentang kenapa aku tak pernah menonton film, bahkan di saat aku memiliki Mini Home Theater di Mansion milikku sendiri. Apa kau belum paham juga?. Aku tak bisa melihat. Sehingga yang bisa aku nikmati dari sebuah film hanyalah audionya saja. Sehingga, aku memerlukan orang lain untuk menonton bersamaku. Dan orang itu, harus menjelaskan padaku bagaimana seluruh visual dari film tersebut. Dan lihatlah, kau bahkan sempat merasa malu dan tak nyaman saat menjelaskan penampilan satu tokoh saja. Bagaimana bila harus menjelaskan semua tokoh dan latar film itu. Aku tak mau merepotkan orang lain."

Perlahan namun pasti, penyesalan yang teramat sangat merasuki Chanyeol. Menyesalkan dirinya yang sungguh tak peka, dan malah membahas tentang menonton film ke kekasihnya. Meski Baekhyun tak menunjukkannya, seharusnya Chanyeol tahu. Bahwa Baekhyun pastinya tersinggung akan masalah itu. Chanyeol menyinggung sisi kekurangan dari Tuan Muda Byun ini.

Baekhyun saja yang terlalu sopan dan terlalu sayang kepada Chanyeol sehingga tak memarahi pria tinggi itu.

"Humm aku tak keberatan untuk direpotkan olehmu, bagiku hal itu justru tak merepotkan sama sekali. Dan... Sudah aku bilang, aku tak malu membahasnya kan?!. Aku hanya takut kau marah!. Karena kau sungguh mengerikan saat marah..." Suara Chanyeol mengecil di akhir kalimatnya. Terdengar takut- takut.

Baekhyun tertawa terbahak- bahak mendengarnya. Ya ampun, sepertinya Baekhyun sudah terlalu sering memukuli kekasihnya sendiri.

Sesungguhnya Chanyeol tengah mengalihkan rasa bersalahnya. Namun dimata Baekhyun, Chanyeol tampak seperti sedang berusaha menutupi keluguannya, yang justru makin terlihat lugu. Dan itu adalah hiburan tersendiri untuk Baekhyun.

Terkadang, sifat lugu dan tak pikir panjang milik Chanyeol terasa seperti tempat istirahat bagi Baekhyun yang selalu memikirkan banyak hal di setiap menitnya.

Baekhyun sedikit iri dengan cara berpikir Chanyeol yang sungguh sederhana.

Baekhyun menghela napas untuk meredakan tawanya. Kemudian menolehkan dirinya untuk menghadap ke arah Chanyeol berdiri.

"Aku senang kau tak pernah membedakan aku dengan orang lain Chan. Namun untuk selanjutnya, aku harap kau dapat memaklumi kekuranganku. Tak seperti saat kau mengencani orang lain. Aku tak bisa ke bioskop bersamamu. Aku tak bisa ke taman hiburan ataupun game center. Aku hanya pria membosankan yang selalu ditemani buku- buku milikku." Baekhyun berujar dengan nada suara yang amat sangat ramah, meminta pengertian.

Chanyeol menghela napas serba salah.

"Tak perlu mengatakan itu, karena aku tak peduli kita bisa ke bioskop atau tidak. Tapi, kau sekarang tak sedang marahkan?" Tanya Chanyeol hati- hati, karena merasa ada yang janggal dari suara Baekhyun.

Baekhyun menggeleng.

Dan Chanyeol merengut.

"Lalu kenapa aku merasa tak enak hati padamu?. Aku merasa seperti, kau seharusnya memarahiku. Namun tidak." Tanya Chanyeol.

Baekhyun tersenyum lembut.

"Aku hanya marah pada diriku sendiri." Baekhyun menjawab dengan ambigu, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya.

"Kenapa begitu?" Tanyanya.

"Aku merasa tak pantas untuk dirimu, kau adalah seseorang yang sempurna fisik maupun jiwa. Sedangkan aku tidak." Ujar Baekhyun pelan.

Chanyeol membelalak marah.

"Hey! Justru akulah yang selama ini selalu merasa tak pantas bersanding bersamamu. Apa kau tak sadar akan betapa sempurnanya dirimu?" Chanyeol tanpa sadar tertawa, merasa geli akan kelakuan mereka berdua. Sama- sama bodoh bila sudah menyangkut topik siapa yang paling pantas mendampingi siapa.

Baekhyun menggeleng dengan frustasi. Tak tahu harus berekspresi seperti apalagi.

Kemudian Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku Chan."

Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek."

Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata; "Aku suka mendengar tawamu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

Chanyeol terdiam sebentar.

"Kalau begitu lihatlah.." Ujarnya dengan nada suara ringan.

Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Kau bercanda?" Tanya Tuan Muda itu dengan suara ragu.

Chanyeol mendekati Baekhyun hingga tak ada jarak di antara mereka. Merengkuh Baekhyun dalam pelukan yang amat hangat. Kemudian mengangkat pinggang ramping Baekhyun dengan mudahnya. Mengangkat si mungil hingga terduduk pada pagar pembatas kapal yang hanya setinggi pinggang orang dewasa.

Baekhyun yang merasakan dirinya terduduk pada pagar teralis besi itupun menyerngit ngeri. Ditambah lagi dengan dirinya yang mendengar gemuruh air di belakangnya. Membuat Tuan Muda ini mengencangkan rematan tangannya pada kedua bahu Chanyeol yang tengah berdiri didepan Baekhyun, berdiri diantara dua paha Baekhyun yang terbuka.

"Hey.. Tuan Park, aku ingin melihat wajahmu. Bukannya ingin mati. Jangan bunuh aku." Ujar Baekhyun dengan suara tegang.

Menciptakan kekehan dari bibir Chanyeol saat mendengar itu.

"Lepaskan tanganmu dari bahuku." Pinta Chanyeol singkat.

"Kau gila?. Aku akan jatuh." Baekhyun tentu menolaknya. Menciptakan decakan dari bibir Chanyeol.

"Tenang saja Tuan Muda Byun. Kau berada di dalam rangkulan tangan teraman di dunia. Aku tak akan membiarkan kau mati semudah itu." Chanyeol berusaha meyakinkan Baekhyun.

Berusaha meyakinkan diri dan mempercayai Chanyeol, Baekhyun pun dengan perlahan melepaskan rematan tangannya pada kedua bahu Chanyeol. Terlalu beresiko, andaikan Chanyeol melepaskan rengkuhan tangannya pada pinggang Baekhyun, maka Baekhyun akan jatuh dari atas kapal ini.

Ide jahil terlintas dikepala Chanyeol. Kemudian..

"HUAAAA...!!" Dengan panik Baekhyun langsung memeluk leher Chanyeol, dan dibalasi dengan tawa nyaring oleh sang pelaku kejahilan. Chanyeol tadi dengan sengaja mendorong pelan tubuh Baekhyun kebelakang, sehingga Baekhyun merasa seperti akan jatuh dari kapal.

BUK! BUK! BUK!

Baekhyun memukuli punggung Chanyeol dengan kepalan tangannya. Terlihat seperti anak anjing yang sedang mengamuk lucu pada tuannya. Ralat, anak anjing bersurai pink.

"Kau gila?!. Mati saja sendiri. Jangan bawa aku." Ayo tepuk tangan semua hadirin, Chanyeol dapat membuat Tuan Muda Byun yang tenang berubah menjadi panik dalam sekejap.

"Enak saja, aku akan membawamu bahkan di hari kematianku hohoho. Oke, abaikan saja, dan sekarang.. rabalah." Kembali Chanyeol memberikan Baekhyun intruksi.

"Raba apa?" Tanya Baekhyun, karena gelisah dan takut jatuh, Baekhyun menjadi susah untuk berpikir cepat.

Chanyeol tersenyum cerah, "Bukankah kau tadi bilang ingin melihat wajahku saat sedang tertawa. Jadi, rabalah." Ujarnya.

Baekhyun pun tertegun.

Kemudian kekehan keluar dari bibir mungilnya.

"Kau kira ini sebuah novel atau film?. Dimana ada adegan seseorang yang buta meraba wajah kekasihnya?. Hei, kembalilah ke realita, aku tak terlalu nyaman menyentuh seluruh wajah orang lain." Ujar Baekhyun.

Chanyeol merengut.

"Haishh.. lakukan saja. Ayolah, ini adalah salah satu hal yang aku impikan untuk bisa aku lakukan bersamamu." Kata Chanyeol dengan antusias.

Baekhyun pun menggeleng tak percaya.

"Kau memimpikan hal super mello seperti ini karena kekasihmu adalah seorang Tuna Netra?. Astaga... sungguh tak dapat dipercaya." Baekhyun berdecak, namun tak tersinggung sama sekali.

Sebelum akhirnya Tuan Muda itu menghela napas pasrah. Bagi Baekhyun, memangnya apa yang tak bisa dirinya lakukan untuk Chanyeol.

"Baiklah, aku rasa kau tak akan berhenti memaksaku. Sebelum akhirnya rasa penasaranmu ini tersalurkan." Ujar Baekhyun, dan Chanyeol hanya bisa menyengir cerah mendengarnya.

"Kyungsoon, bisakah kau kesini dan tolong aku..." Tiba- tiba Baekhyun memanggil gadis yang sedari tadi hanya berdiri beberapa meter dari mereka berdua, sehingga hanya dengan sedikit berteriak, gadis itu akan mendengar panggilan Baekhyun.

Chanyeol terkesiap, kemudian menoleh ke belakang. Aku bahkan tak sadar bahwa ada Kyungsoon di situ, ujar Chanyeol dalam hati dengan polosnya.

"Darimana kau tahu ada Kyungsoon disitu Baek?. Kau bahkan tak dapat melihatnya." Ujar Chanyeol dengan takjub.

Giliran Baekhyun yang menampilkan cengiran kepada Chanyeol.

"Karena aku tahu lebih banyak hal daripada dirimu." Ujar Baekhyun singkat, dan Chanyeol tentu tak mengerti apa maksudnya.

Tak berapa lama Kyungsoon telah berada disamping mereka berdua.

"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" Ujarnya ramah.

Baekhyun tersenyum sopan. Tak memperdulikan posisinya yang tengah menempel erat didalam pelukan Chanyeol. Dan ditambah lagi, Baekhyun dengan sengaja memposisikan kedua tangannya diatas kepala kekasihnya, memainkan rambut Chanyeol dengan santai.

"Bisakah kau ambilkan aku sebotol air mineral?. Tolong cepat ya.." Baekhyun bahkan mengatakan itu tanpa menoleh ke arah gadis cantik itu.

"Dengan senang hati Tuan Muda." Ujar Kyungsoon dengan suara yang masih terdengar ramah, kemudian dengan cepat melesat pergi, melakukan permintaan sang Tuan Muda.

Chanyeol mengerutkan keningnya.

"Kau haus?. Kenapa tak bilang padaku saja?" Ujar Chanyeol.

Baekhyun menggeleng keras.

"Lalu untuk ap -

"Ini Tuan Muda."

Ucapan Chanyeol terputus sebab Kyungsoon telah berada disamping mereka berdua dengan sebotol air mineral ditangannya.

Baekhyun mengulurkan tangannya untuk menerima botol tersebut. Karena tak mungkin Chanyeol yang menerimanya, bila tangan pria tinggi itu saja sudah terlalu sibuk menjaga tubuh sang kekasih agar tak jatuh.

"Terimakasih Kyungsoonie. Kau jangan pergi dulu ya, tunggu disini sebentar." Ujar Baekhyun penuh kesopanan.

Maid bernama Kyungsoon itupun mengangguk seraya mengucapkan kata baiklah dengan sungguh patuh.

"Lalu untuk apa air mineral ini Baek?" Tanya Chanyeol penasaran.

Baekhyun mengecup bibir Chanyeol dengan cepat. Mengabaikan ada sepasang mata lain yang sedang berdiri tepat disamping mereka berdua, yang mau tak mau harus menonton adegan romantis pasangan ini.

"Diamlah cerewet. Tak mungkin aku menyentuh wajah seorang calon Idol dengan tangan kotor. Nanti kulitmu rusak." Ujar Baekhyun dengan berbisik tepat didepan wajah Chanyeol, sebelum menutup kalimat itu dengan satu kecupan lagi.

Sukses membuat pria tinggi itu terdiam membeku. Kemudian memperhatikan bagaimana telatennya Baekhyun mencuci tangannya sendiri dengan air mineral yang Kyungsoon bawakan. Setelah merasa bahwa tangannya telah bersih, Baekhyun pun kembali menutup botol plastik tersebut. Dan memberikannya kepada Maid cantik yang sedari tadi hanya terdiam membisu disamping Baekhyun dan Chanyeol.

"Tolong terima ini Kyungsoonie. Dan tolong buang ke kotak sampah dengan benar ya.." Pinta Baekhyun dengan sopan, memberikan botol air mineral yang nyaris kosong tersebut kepada Kyungsoon.

Diangguki patuh oleh Maid cantik itu, lalu berlalu pergi meninggalkan pasangan itu dengan wajah yang sungguh keruh.

Chanyeol tak mengerti dengan suasana yang entah mengapa terasa dingin ini. Hanya bisa menatap wajah Baekhyun dalam diam.

"Ayo.. kita kabulkan salah satu impianmu. Tutup matamu Tuan Park. Scanning wajah akan dimulai." Baekhyun mengibaskan beberapa tetes air yang masih tersisa ditangannya ke wajah Chanyeol.

Membuat pria tinggi itu tertawa geli, di ikuti Baekhyun yang ikut tertawa.

Chanyeolpun mulai menutup matanya. Dan Baekhyun mulai meletakkan jari- jarinya dengan lembut diatas wajah Chanyeol.

"Woah.. dahimu sungguh bagus. Pasti banyak orang yang memuji dan terpesona pada dahi ini." Baekhyun bergumam.

"Tak terhitung." Chanyeol balas bergumam.

Baekhyun terkekeh geli mendengar ucapan narsis kekasihnya.

"Humm.. matamu lebar. Apa warna matamu Chan?" Tanya Baekhyun.

"Hitam pekat." Jawab Chanyeol.

Baekhyun terdiam, "Tanpa warna coklat sama sekali?" Tanyanya memastikan.

Chanyeol mengangguk pasti.

"Woah.. mata hitam pekat itu amat sangat jarang terjadi." Komentar Baekhyun.

Jari- jari lentik itu kembali berjalan, menyusuri kedua alis tebal Chanyeol, lalu turun kebawah untuk menyusuri hidung milik kekasih Baekhyun ini.

"Humm.. kau memiliki bentuk hidung yang tinggi." Baekhyun bergumam dengan suara rendah tepat didepan Chanyeol.

Jarak wajah keduanya sungguh dekat sekali, Chanyeol bahkan dapat merasakan aroma pasta gigi stroberi yang berhembus ke wajahnya dari mulut Baekhyun. Membuat Chanyeol menahan napas saking gugupnya.

Baekhyun yang menyadari itupun terkekeh geli.

"Hei.. kenapa hidung ini tak mengeluarkan atau menarik udara sama sekali. Apa sudah tak berfungsi?" Singgung Baekhyun dengan nada mengejek.

Otomatis Chanyeol mendengus kesal lewat hidungnya, setelah mendengar ejekan itu.

Dibalasi tawa bahagia Baekhyun yang selalu merasa puas bila sudah berhasil menggoda kekasihnya.

"Oke.. ayo kita lanjutkan.." Baekhyun kembali bergumam tepat didepan wajah Chanyeol, seraya menyusuri kedua pipi Chanyeol dengan jari- jari dan telapak tangannya.

Dahi Baekhyun mengerut serius, tampak imut sekali.

"Coba tampilkan wajah tersenyum Chan." Pintanya.

Chanyeol pun membuka matanya, kemudian menurut pada permintaan Baekhyun, pria tinggi itu menampilkan wajah tersenyum ala iklan pasta gigi yang biasa dilakukannya.

"Oh! Kau punya lesung pipi di sebelah kiri pipimu. Aku baru tahu.." Chanyeol semakin tersenyum cerah mendengar bagaimana Baekhyun terlihat sungguh antusias akan segala hal baru yang dia dapatkan dari wajah Chanyeol.

Acara raba- meraba itupun berlanjut. Sekarang napas Chanyeol kembali tertahan saat jari lentik Baekhyun telah mendarat dibibirnya. Namun perbedaannya, kali ini bukan Chanyeol saja yang menahan napas gugup. Baekhyun pun juga.

Semburat pink dari pipi Baekhyun terlihat berkilauan saat wajah putih pucat itu dilihat dari bawah terpaan cahaya matahari yang sungguh cerah ini. Berbahaya, kecantikan Baekhyun sungguh memabukkan. Chanyeol bahkan sampai merasa pening hanya dengan memandangnya saja.

"Bibirmu... lembut." Ujar Baekhyun dengan suara memberat.

Keduanya merasakan napas masing- masing yang terasa memburu, silih berganti menerpa wajah satu sama lain dengan hangat.

"Chan..." Bisik Baekhyun dengan suara berat, saat pria mungil ini merasakan wajah Chanyeol semakin tak berjarak dengan dirinya.

"Humm..?" Dan hanya Chanyeol tanggapi dengan gumaman yang entah mengapa terdengar seperti harimau yang tengah menggeram didepan mangsanya.

"Kau belum menjawab... Apa yang ingin kau parodikan dari film Titanic?" Tak perlu bersuara keras, hanya dengan kalimat berbisik lembut itu saja Chanyeol sudah dapat mendengar suara Baekhyun dengan amat jelas.

"Mudah untuk menjawabnya, karena inilah yang terjadi di adegan film itu..." Jawab Chanyeol, seraya menutup jarak terakhir dari mereka berdua.

Baekhyun menutup matanya erat di ikuti oleh Chanyeol. Chanyeol menghirup kuat aroma napas mulut Baekhyun, sebelum akhirnya menutup jalur napas itu dengan bibirnya sendiri. Membawa keduanya dalam alur pagutan yang terasa sedikit asing hari ini. Apakah ini karena mereka berciuman di ujung haluan kapal yang sungguh berbahaya, sehingga letupan degup jantung keduanya terasa lebih intens.

Mengabaikan angin yang membuat rambut berantakan, toh rambut Chanyeol justru menjadi lebih berantakan akibat jari lentik Baekhyun yang mengacak dan menariknya gemas disetiap iringan kepala keduanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri.

Mengabaikan posisi tubuh Baekhyun yang berbahaya, toh pria mungil itu telah mengalungkan kedua tungkai kakinya ke pinggang Chanyeol, dan dekapan tangan Chanyeol pada pinggang Baekhyun sudah lebih dari kata cukup untuk menjadi standar keamanan.

Mengabaikan puluhan pasang mata yang menatap keduanya bagaikan tontonan paling menarik dari perjalanan ini. Dengan tak tahu dirinya, Jack Dawson dan Rose DeWitt Bukaternya Kapal BB Grub itu berciuman panas seperti hanya mereka berdualah penghuni kapal ini.

Meski peran mereka sama seperti film Titanic, si cantik kaya bertemu dengan seniman miskin.

Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol adalah si cantik kaya yang bertemu dengan musisi miskin.

Kita semua berharap, kisah cinta kedua tokoh utama ini tak berakhir sama seperti film yang mereka tirukan.

.

.

.

My heart was pounding the whole time. It was the most erotic moment of my life. Up until then, at least. - Rose D. Bukater at Titanic

.

.

.

TBC

AN :

Hello Sugar~

Awalnya pengen nyerah aja nulis ini.

Aku ngerasa gak berbakat gitu, tulisan aku malah makin hancur bukan makin bagus. Tapi akhirnya sadar, itu hanyalah bisikan setan yang terkutuk disisi tergelap diriku sendiri, dan kalau dipercaya, tulisan ini malah semakin jelek aja bukannya membaik.

Komentar kalian semua juga menjadi bahan bakar semangat yang paling hebat untuk mendorong aku menulis FF ini dengan berusaha lebih baik dan lebih baik lagi. Makasih ya Sugar. Udah sabar menunggu.

Di tinggal pergi selamanya membuat author melankolis ini jadi lupa bagaimana caranya berkata- kata indah. Semuanya jadi terasa gelap dan menyedihkan.

Oh ya!!!, siap- siap semuanya. Kita bakalan mulai masuk dalam gerbang konflik hidup yang terus berkelanjutan. Namanya juga hidupkan?. Adaaa.. aja masalahnya. Adaaaa.. aja orang- orang sirik. WKWKWK.

Tapi tenang, keluarga Mansion Byun liburan dulu. Authornya juga perlu pengalihan diri dari masalah HAHAHA. (Reader : curhat mulu elu thor, OOT banget sih lu. Author : iya iya maap)

ALL RIGHT!!

THANK YOU SOOOOOO MUCH!!. Pada manusia- manusia berhati indah dibawah ini :

ameliya13, ChanBaek09, Byun Bitchi, baekyyeun, Cheonsa528, jungkkhope, SehunSapiens, Bubbleclay, CHANBAEQ, KimAyrra99, elroseline, danactebh, and myut.

THANK YOU SO MUCH juga pada pembaca lainnya yang sudah menyisihkan waktu untuk baca, menyukai, dan mengikuti FF ini.

Terima kasih juga kepada Quotesnya Jack Dawson di film Titanic yang sudah membuat aku kembali melanjutkan FF ini, siapa sih penulis naskahnya?, ada yang tahu?, hebat banget sih bisa bikin saya semangat dengan sekali dengar aktor tampan Leonardo DiCaprio pas masih muda bilang kalimat itu HAHAHA.

Penasaran apa quotesnya?, Jack bilang ; "Promise me you'll survive. That you won't give up, no matter what happens. No matter how hopeless."

Jaga kesehatan ya semuanya dan teruslah bahagia. Ayo bertemu lagi di chapter selanjutnya, teruslah tunggu kelanjutan FF ini, masih banyak cerita CEO Byun dan Penyanyi Park yang ingin aku bagi kepada kalian semua. Lets love Eri!! /Bow