Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

.

Happy Reading

Chapter 18 : Honeymoon Training

.

.

.

Musim Panas 2011

Kai memandang wajah cemburu Kyungsoo dengan tatapan geli. Keduanya tengah duduk berdampingan di salah satu bangku di kapal ini. Berjarak beberapa belas meter dari pasangan Chanyeol dan Baekhyun yang tengah menikmati waktu berdua di ujung haluan kapal.

"Bisakah kau hentikan memandang mereka seperti itu?" Pinta Kai dengan tenang, kemudian mengacak rambut hitam Kyungsoo dengan gemas.

Kyungsoo pun menjadi kesal di perlakukan seperti itu. Seperti anak kecil, pikirnya.

Plak!

Dan pukulan keraslah yang Kai dapatkan pada punggung tangannya. Membuat pria 25 tahun ini tertawa geli. Sifat kasar kekasihnya memang sudah tak tertolong lagi, sudah mendarah mendaging.

"Ternyata kekasihku sungguh protektif kepada sahabatnya. Aku baru tahu bila kau punya sisi menggemaskan seperti ini. Apakah lagu- lagumu yang dulu itu kau ciptakan untuk Tuan Byun?" Kai bertanya pada Kyungsoo yang bahkan masih menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan mata membulat awas, bagai burung hantu yang mengincar mangsanya.

Kyungsoo mengangguk acuh tak acuh.

"Kalian pernah menjadi sepasang kekasih?" Tanya Kai penasaran.

Kyungsoo menggeleng acuh tak acuh.

"Kenapa?" Tanya Kai lagi.

"HAISH.. Kau banyak tanya Hyung. Apa masih kurang jelas?, tentu saja aku di tolak oleh Tuan Muda Byun Baekhyun yang menggemaskan itu." Mau tak mau Kyungsoo menjadi kesal bila sudah membahas ini.

Mata Kai terbelalak sebentar.

"Waw, kau pernah menyatakan perasaan padanya?" Tanya Kai dengan suara terkejut.

Kyungsoo mengangguk pelan.

"Itu lebih dari 3 tahun yang lalu. Tuan Byun berumur 17 tahun dan aku 16 tahun. Hari itu untuk pertama kalinya aku mengetahui bahwa orientasi seksual Tuan Byun ternyata lebih tertarik kepada pria daripada wanita. Saat itulah aku merasa seperti memiliki harapan untuk bisa memenangkan hati Tuan Byun. Dan yah... kau tahu akhir ceritanya bagaimana, aku ditolak. Dan kami kembali menjadi sahabat." Kyungsoo bercerita masih sambil menatap Chanyeol dan Baekhyun di ujung sana.

"Lagipula, dari awal perkenalanku bersama Tuan Byun, memang sudah sulit untuk menyetarakan diri dengannya. Umur kami memang hanya terpaut satu tahun. Namun, terkadang aku merasa seperti sedang berbicara dengan Chen Ahjussi bila sudah berbicara bersama Tuan Byun. Mungkin itulah alasan Tuan Byun menolakku, aku terlalu kekanakan dibandingkan dirinya yang saat umur 17 tahun bahkan sudah mendapatkan gelar Magisternya, serta telah memimpin BB Grub sejak usia 15 tahun." Kai mengerutkan keningnya bingung.

"Aku rasa Tuan Byun menolakmu bukan karena hal itu. Lihatlah, sifat Chanyeol bahkan lebih kekanakan daripada dirimu. Namun Tuan Byun menerimanya. Aku rasa Tuan Byun tidak memilih pasangan berdasarkan sifat ataupun pendidikan orang tersebut. Berdasarkan pendapatku yang sok tahu ini, si Tuan Byun, dia bahkan tak memikirkan hal seperti pantas atau tidaknya seseorang untuk dirinya sendiri. Banyak yang mengatakan orang yang terlalu pintar sungguh sulit mencari pasangan yang sesuai dengan dirinya. Karena mereka terlalu sering menggunakan otak, bukan perasaan mereka. Sepertinya Chanyeol berhasil mengetuk sisi perasaan Bos besar kita. Itulah yang membuatnya menjadi pemenang diantara banyak orang." Komentar Kai dengan sungguh objektif, yang mau tak mau Kyungsoo jadi ikut memikirkannya juga.

"Ow.. Aku rasa kau benar Kai Hyung. Di lihat dari cara Chanyeol dan Baekhyun berinteraksi, sungguh kentara bahwa Baekhyunlah yang selalu berusaha menyetarakan alur pembicaraannya dengan Chanyeol, bukan Chanyeol yang menyetarakan diri dengan Baekhyun. Saat melihatnya langsung seperti ini, akhirnya aku merasakan sendiri bagaimana pentingnya Chanyeol bagi Baekhyun. Baekhyun tampak selalu berusaha membuat Chanyeol merasa nyaman. Dia tak pernah menyinggung rumitnya pekerjaannya. Dia tak pernah membicarakan bagaimana rencana bisnisnya kedepannya. Baekhyun tak pernah memberikan kesan bahwa seorang Baekhyun dan Chanyeol hidup dalam dunia yang sungguh jauh berbeda. Dia hanya selalu berusaha agar Chanyeol merasa nyaman didekatnya. Auhh.. sebenarnya apa yang Baekhyun sukai dari si Park Chanyeol itu. Apa yang Chanyeol miliki sedangkan aku tidak?" Kai menaikkan alisnya, mendengarkan Kyungsoo yang sepertinya sudah terlalu emosi hingga tanpa sadar menanggalkan panggilan sopannya kepada Tuan Byun.

"Dilihat dari perilakumu sekarang, sepertinya kau belum seratus persen move on.." Kai terkekeh geli melihat wajah Kyungsoo yang tampak tersinggung akan godaannya.

"Enak saja. Hanya kau yang ada dihatiku sekarang!." Teriak Kyungsoo tanpa ragu.

Mau tak mau Kai tersenyum lebar mendengarnya. Siapa yang tak akan bahagia saat mendengar pernyataan cinta yang amat terus terang dari kekasih sendiri seperti itu.

"Benarkah?. Aku meragukan itu bila dilihat bagaimana kau bersikap sekarang. Kau bahkan hampir tak menatap wajahku sama sekali." Sepertinya Kai masih ingin membicarakan hal ini hingga tuntas.

Kyungsoo menghela napasnya lelah.

"Aku sudah bersama Tuan Byun Baekhyun sejak berumur 5 tahun. Kau tahu sendiri, di rumah keluarga Do itu seluruh anggotanya punya sifat yang sebelas dua belas denganku. Ibu yang suka mengomel, ayah yang sungguh tegas, adik kembar yang acuh tak acuh. Dan diriku yang keras kepala dan suka marah- marah. Kami berempat walau sayang kepada satu sama lain, tapi kami terasa seperti hidup di dunia milik kami sendiri- sendiri. Sampai akhirnya aku bertemu Tuan Byun yang sungguh lembut, ramah, pengertian, sopan, dan CANTIK!. Tak mungkin aku tak terpesona padanya. Sejak saat itu dia menjadi kesayanganku. Belasan tahun hal ini berlangsung, Tuan Byun adalah pengisi masa kecil dan remajaku. Aku selalu merasa tak rela bila Tuan Byun memberikan perhatian kepada orang lain, bahkan bila itu untuk Kyungsoon, adik kembarku sendiri. Anggap saja ini seperti obsesi gila yang di rasakan fans kepada idolanya. Namun setelah penolakan dari Baekhyun, dan setelah kami dapat hidup kembali sebagai sahabat tanpa halangan sedikitpun..." Kyungsoo akhirnya menatap Kai, sambil menggantung kalimatnya.

Kai balas menatap kekasihnya itu dengan antusias.

"...Kai Hyung, ada yang mengatakan, bila kau tetap bisa menjadi sahabat dengan mantanmu. Itu berarti hanya ada 2 kemungkinan. Antara perasaan itu masih ada, atau perasaan itu dari awal memang tak pernah ada. Aku memikirkannya terus menerus. Hingga suatu hari akupun menjadi sadar, 'Woah... ternyata perasaan ini bukan cinta. Ini hanyalah obsesiku yang haus akan sikap lembut dari orang lain'. Setelah itu hatiku mulai terasa ringan dalam menjalani hari- hariku karena lebih mencintai diriku sendiri, kemudian mengikuti minat dan bakatku untuk menjadi idol. Dan akhirnya bertemu denganmu di hari pertama latihan dance saat masa Trainee. Si Pelatih tari yang bahkan lebih tampan daripada anggota member boygroup." Kyungsoo mengakhiri kisahnya dengan senyuman yang teramat manis.

Kai terdiam terpesona menatap senyuman itu.

Kyungsoo pun mengerutkan keningnya bingung menatap wajah melongo Kai.

"HEY! KAU TAK APA?!" Kai terkesiap, kemudian mengerjap beberapa kali. Balik menatap Kyungsoo yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.

"Ekhm.. saat pertama kali bertemu dengan Tuan Byun, ada hal yang membuatku terkejut, namun lama- lama justru membuatku bertanya- tanya.." Kai berdehem memulai ucapannya.

"Apa?" Tanya Kyungsoo singkat.

"Awalnya aku terpesona akan kecantikannya dan umurnya yang ternyata muda sekali. Lalu aku terkejut akan kenyataan bahwa ternyata Big Boss yang selama ini membuat semua orang penasaran bagaimana wajahnya ternyata adalah seorang penyandang Tuna Netra. Lalu lama- lama aku menjadi penasaran. Kenapa Tuan Byun tak menerima donor mata saja, dia kan kaya?" Pertanyaan di akhir kalimat Kai itu terucap dengan sungguh pelan dan ragu.

Wajah Kyungsoo pun menggelap. Sedikit banyak membuat Kai menyesal telah bertanya.

"Itu karena Tuan Byun terlalu baik." Kyungsoo mengucapkannya dengan nada suara kesal.

"Maksudnya?" Tanya Kai tak mengerti.

Kyungsoo berdehem pelan, kemudian mendekatkan wajahnya pada Kai. Dan pelatih tari BB Entertaiment itu ikut mendekatkan wajahnya pada kekasih mungilnya. Lalu Kyungsoo mulai berbicara dengan suara pelan.

"Apa kau tahu?. Berapa jumlah antrian penerima donor mata di satu rumah sakit saja?."

Kai menggeleng tak tahu menahu masalah seperti itu.

"Sekitar 700 orang." Kai menggeleng- geleng tak percaya akan banyaknya jumlah tersebut.

"Untuk satu rumah sakit saja?. Jumlahnya antriannya segitu?. Lalu bagaimana dengan jumlah pendonornya?" Kai bertanya pada Kyungsoo.

"13.000 an." Kai terkesiap.

"Bukankah itu jumlah donor mata yang sungguh banyak?. Lalu apa masalahnya?" Kai menjadi bingung sekarang.

Kyungsoo menghela napas lelah. Menjelaskan hal ini memang sedikit rumit.

"Aughh.. Kau jenius dalam menari tapi kenapa hal ini saja tak tahu?. Donor mata itu tak seperti donor darah yang bisa di ambil setiap waktu. Mata hanya bisa di donorkan bila pendonornya sudah meninggal tidak boleh dari mata orang yang masih hidup, ini bukan drama di televisi. Dan berapa umur rata- rata manusia?. 60 - 80 tahun bukan?. Jadi setidaknya kita harus menunggu 60 - 80 tahunan sebelum salah satu dari 13.000 orang itu meninggal. Lalu bila ada satu orang pendonor yang sudah meninggal, kita akan bersaing dengan 700 orang sebelumnya yang telah mengantri untuk menerima donor mata tersebut." Kepala Kai terasa berputar mendengarkan penjelasan ini.

"Lalu... ditambah lagi, Tuan Muda kami korneanya rusak saat usianya masih teramat muda. Dan untuk mendapatkan kornea anak- anak itu puluhan kali lebih sulit daripada mendapatkan kornea mata orang dewasa yang bahkan sudah sulit. Sehingga Tuan Byun menunggu dirinya dewasa. Operasi donor Kornea lebih tinggi kemungkinan keberhasilan dan kecocokannya bila umur dari pendonor dan penerima itu tak terlalu jauh. Akan bahaya bila ternyata terjadi penolakan oleh mata Tuan Byun kepada kornea barunya." Kyungsoo menghela napas lelah, membicarakan ini hanya membuat dirinya kesal akan ketidakadilan nasib Tuan Byun Baekhyun kesayangannya.

"Kenapa berpaku pada satu rumah sakit saja?. Kenapa berpaku pada satu negara kita saja?. Tuan Byun sungguh kaya raya, dia seharusnya dapat membeli kornea mata dari luar negeri bahkan dari luar planet ini karena uangnya memang sungguh berlimpah." Kai jadi ikut kesal sekarang, sehingga mengatakan hal yang berlebihan dan tak masuk akal sekali.

Kyungsoo menghela napas.

"Aku juga tak mengerti dengan jalan pikiran Tuan Byun. Oh.. lebih tepatnya semua orang didunia ini memang tak mengerti bagaimana cara otak Tuan Byun berjalan. Dia itu hanya terlalu baikkkkkkkkk saja. Dia hanya mendaftar kepada satu rumah sakit di negara ini. Dan menunggu giliran dengan sabar. Jadi, jangankan untuk mencari pendonor kornea ke pasar gelap tubuh manusia, dia bahkan tak mencari pendonor dari rumah sakit luar negeri. Katanya, 'Aku memberikan kesempatan untuk orang lain yang lebih membutuhkan penglihatannya daripada diriku.' Bisa kau percaya itu?!. Dia terkesan seperti tak ingin mendapatkan penglihatannya kembali dengan cepat- cepat. Tuan Byun tak memiliki motivasi untuk cepat- cepat bisa melihat. Seperti ada suatu hal yang menahannya untuk terus mempertahankan kecacatan dirinya. Sebenarnya apa yang dia tunggu dan rencanakan?. Aughh.. Aku rasa istilah Perbedaan antara Jenius dan Gila itu hanyalah setipis kertas, itu benar adanya." Kyungsoo bercerita dengan wajah yang menampilkan sikap gemas dan emosi.

Kai menampilkan senyum tenang khas miliknya lagi, kemudian mengacak rambut hitam Kyungsoo dengan gemas.

"Itu adalah hidup miliknya, dan dia punya pilihan sendiri. Dia pasti sudah memikirkannya dengan amat sangat jauh, lebih jauh daripada kita semua. Jadi percaya saja padanya. Oh My, kau menggemaskan sekali saat mengkhawatirkan sahabatmu. Imutnyaaaa." Ujarnya seraya mengacak rambut Kyungsoo dengan semakin kuat.

Kyungsoo yang paling anti pada hal seperti ini pun kembali memukuli tangan Kai.

"Hentikan! Hentikan! Hentikan! Aku tidak imut!." Ujarnya sambil mendorong tubuh Kai menjauh dari dirinya.

"DENG! Kau salah. Kau itu imuttttt sekali." Dan Kai justru menyerang Kyungsoo dengan pelukan yang sungguh erat hingga si korban pelukan menjadi sulit bergerak.

Waw, sepertinya kita semua tengah menyaksikan adegan seekor beruang yang memeluk seekor pingun kecil.

"Se- Sesak!. Lepassssss..." Kyungsoo meronta dalam pelukan Kai.

Kai menggeleng keras sambil tertawa bahagia.

"Ini balas dendam karena kau terus memeluk Tuan Byun di depanku sedari tadi." Jangankan untuk melonggarkannya, Kai justru semakin mengeratkan pelukannya.

Kyungsoo pun berhenti meronta. Wajahnya terbenam dalam dada Kai, dan pelukan erat ini terasa seperti akan meremukkan tulangnya. Namun tak dipungkiri, terasa hangat.

"Oh!. Kau sedang cemburu." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dari Kyungsoo.

Kai terkekeh pelan.

"Akhirnya kau menyadarinya." Kai menutup matanya, seraya menaruh pipi kirinya pada puncak kepala Kyungsoo.

Diam- diam Kyungsoo tersenyum kecil. Karena ini adalah pertama kalinya Kai cemburu pada orang lain yang dekat dengan Kyungsoo. Selama ini, di umur hubungan mereka berdua yang sudah mencapai angka tahunan, kekasihnya selalu tampak tenang bahkan disaat mereka berdua tengah beradu pendapat dengan sengit soal orang ketiga.

Tak seperti Kyungsoo yang bahkan akan menjambak rambut gadis- gadis back dancer yang mencoba mendekati Kai.

Kai justru bersikap tenang bahkan terkesan acuh tak acuh dengan siapapun yang dekat dengan Kyungsoo. Hei, Kyungsoo itu seorang Penyanyi dan Aktor. Dirinya adalah D.O si Idol papan atas yang sudah banyak membintangi drama dan film sebagai pemeran utama, yang secara otomatis akan terlibat kontak fisik yang terkadang juga terkesan intim demi tuntutan peran.

Disaat 5 juta anggota fans club Kyungsoo sudah kacau balau karena patah hati melihat idola mereka melakukan adegan ciuman yang panas, disisi lain Kai yang merupakan KEKASIH dari Kyungsoo sendiri pun hanya tersenyum tenang dan mengatakan, "Kau sudah bekerja keras, aktingmu bagus sekali.", respon yang menyebalkan sekali.

Jadi sekarang, Kyungsoo akan menikmati saat- saat Kai cemburu padanya. Cemburu itu tanda cinta bukan?.

"Aku baru tahu bahwa kau adalah tipe orang yang akan terus menempeliku dan bersikap romantis padaku bila sedang cemburu. Apa ini sungguh Kai Hyung yang aku kenal. Kenapa manja sekali?" Gumam Kyungsoo seraya membalas peluk kekasih tersayangnya.

Kai terkekeh pelan.

"Kau tak punya gambaran Kyung, bagaimana aku ingin memelukmu seperti ini setiap harinya. Namun aku sadar diri, mengencani seorang Idol membuatku harus selalu menjaga sikap dimanapun aku berada. Bahkan disaat aku ingin mengumpati penulis naskah film dan sutradara yang menyuruhmu untuk beradegan intim dengan aktris- aktris cantik itu. Aku tak bisa marah, karena dimata dunia, aku hanyalah pelatih tarimu. Aku bersyukur kita liburan sekarang, dan berada di atas sebuah kapal dan jauh dari kamera dan dunia, sehingga aku menjadi bebas memelukmu didepan semua orang yang ada disini tanpa harus khawatir akan menciptakan skandal." Kyungsoo merasakan matanya memanas. Membuatnya menarik napas kuat, kemudian menolehkan kepalanya ke kanan, menekan telinganya kedalam dada Kai, mendengarkan detak jantung pria Kim itu.

Selama ini Kai tak pernah sekalipun mempermasalahkan bagaimana sulitnya hubungan rahasia mereka. Tak pernah sekalipun Kai mengeluhkan padatnya jadwal Kyungsoo. Dan Kai sama sekali tak pernah menuntut Kyungsoo untuk cepat- cepat mengumumkan pada dunia tentang kebenaran hubungan mereka berdua. Kai amat sangat sabar.

Padahal, Kai lah yang membayar denda jutaan Won kepada BB Entertainment untuk pelanggaran kontrak yang keduanya lakukan, yaitu Kyungsoo yang berkencan di 2 tahun awal kariernya.

Jadi, jangan tanyakan lagi bagaimana bisa Kyungsoo akhirnya jatuh pada pria yang lebih tua 6 tahun darinya ini. Kai memberikan suatu kelembutan dan kesabaran hati yang selama ini Kyungsoo dambakan dari orang lain. Suatu hal yang Kyungsoo harapkan bisa didapatkannya dari Baekhyun, yang ternyata Tuhan telah menyiapkan orang lain untuknya sedari awal.

"Aku sudah tak mencintai Tuan Byun lagi, tenanglah.. Seluruh laguku telah menceritakan semuanya. Sekarang aku hanya menulis tentang dirimu." Ujar Kyungsoo dengan suara acuh tak acuh khas dirinya.

Namun berhasil menciptakan kelegaan hati yang amat sangat kepada kekasihnya. Kai tersenyum lembut mendengar itu, kemudian mengangguk menandakan dirinya mengerti.

"Oh, berciuman." Gumam Kyungsoo tiba- tiba.

Mata Kai terbelalak, dengan refleks melepaskan pelukan mereka berdua.

"Kau ingin aku menciummu?!" Serunya tak percaya.

Kyungsoo memutar bola matanya.

"Bukan bodoh!. Lihat itu!. Mereka berciuman lagi." Ujar Kyungsoo dengan jengkel sambil menunjuk ke arah Chanyeol dan Baekhyun di ujung sana, membuat Kai juga ikut menoleh ke arah yang Kyungsoo tunjukkan.

Kedua orang ini menatap Chanyeol dan Baekhyun dengan cukup lama. Sebelum kembali memandang wajah satu sama lain.

Dan seperti telah mengerti satu sama lain hanya dengan tatapan mata. Keduanya kompak tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" Tanya Kai disela tawanya.

"Mana aku tahu." Jawab Kyungsoo sambil tertawa.

"Ya ampun, kau imutttt sekali." Kai kembali memeluk sayang kekasihnya.

Dan Kyungsoo tetaplah Kyungsoo, yang akan memukul kekasihnya sendiri dan mengatakan.

"Aku tidak imut!!"

.

.

.

Setelah melewatkan satu jam tidur ternyenyaknya dalam satu tahun ini. Chen dapat kembali ceria, bersemangat, dan mempesona seperti biasanya.

Ayah dari seluruh Idol dan Trainee BB Entertainment ini sedang bersandar pada headbed sambil menatap pria mungil yang ikut tertidur bersamanya di salah satu kamar di dalam kapal super mewah ini.

"Aku yang mabuk laut hingga harus minum obat, dan malah kau yang tidur lebih nyenyak. Inilah alasan aku menyuruhmu untuk menemaniku tidur Xiu, bahkan dirimu sendiri tak sadar bila tubuhmu kelelahan. Luhan Hyung dan Sohee memang suka bekerja, tapi tidak sekeras dirimu. Kenapa putra mereka malah terlahir dengan sifat segila kerja ini. Tak habis pikir." Chen bergumam sambil menatap putra kesayangannya itu.

Raut wajah Xiumin yang sedang terlelap sungguh mirip dengan mendiang Ibunya, seperti copypaste begitu saja. Namun Xiumin juga memiliki aura pria rupawan dari sang ayah.

Chen pun menatap wajah Xiumin dengan tatapan yang sungguh dalam. Bagi Chen, terkadang rasanya sulit untuk menatap wajah Xiumin. Selalu mengingatkannya akan mendiang kedua sahabatnya.

"Kau tahu Xiu, tak pernah sedetikpun, aku tidak merindukan kedua orangtuamu setelah hari itu. Kau adalah hadiah terindah yang mereka berikan padaku. Dan sampai sekarang, aku bahagia saat semua orang memanggilku Chen. Nama mandarin yang Ayahmu berikan padaku." Chen berbicara sendiri.

"Saat aku mati nanti dan bertemu dengan Luhan Hyung dan Sohee disana. Maka, akulah yang akan berlutut dan memohon ampun kepada mereka. Karena telah membuatmu terjebak dalam perasaan terlarangku. Kau amat sangat sempurna. Kau adalah putra impian semua orang. Kau pintar, kau baik, kau tampan, dan kau mapan di umurmu yang bahkan sangat muda. Aku tak ingin menjadi cela dari kesempurnaanmu Xiu. Aku tak ingin kau hancur hanya karena Pak Tua ini."

Chen menghela napas.

"Jika aku nekat membawamu melewati garis batas ini maka semua orang di dunia ini akan mulai membalikkan punggungnya dan berbisik dibelakang kita. Kemudian semua orang akan melempari kita semua batu seraya mengatakan, 'Xiumin itu sungguh sempurna, tapi... kenapa suaminya sungguh tua sekali, kenapa jarak umur mereka jauh sekali, kenapa dia tak punya malu menikahi ayah angkatnya sendiri'. Mereka akan mengatakan kita berdua menjijikan, mengerikan, dan tak bermoral. Dan itu semua karena diriku. Aku bukanlah pria yang dapat kau banggakan saat aku bersanding bersamamu. Aku hanya akan menjadi aib untukmu. Aku akan menjadi titik lemah dari putraku Xiumin yang sudah tumbuh menjadi pria sempurna. Jangan Xiu, jangan buat aku menjadi penghancur putraku sendiri."

Chen menoleh kepada Xiumin yang tentunya masih larut dalam mimpi.

"Aku tahu Xiu, pasti kau yang telah merekomendasikan teleportasi kapal ini kepada Tuan Byun. Karena bila Tuan Byun yang mencetuskannya dari awal, kau pasti akan membuat Tuan Byun membatalkannya karena memikirkan diriku yang mudah mabuk laut. Namun bila kau sendirilah yang memintanya, Tuan Byun pasti menerima ide ini begitu saja. Apa yang sedang kau rencanakan?, kenapa tiba- tiba menjadi baik sekali?" Chen kembali menoleh pada Xiumin yang masih tertidur dengan nyenyak.

Tersenyum kecil karena merasa konyol pada dirinya sendiri yang sedari tadi berbicara kepada orang yang bahkan tak akan mendengarnya dan tak akan menjawab pertanyaannya.

Chen pun menghela napas.

Dirinya terlalu pengecut untuk mengatakan ini langsung kepada Xiumin bila saja pria bermata kucing itu dalam keadaan sadar. Chen terlalu takut untuk membuat Xiumin terluka.

Dengan perlahan tapi pasti, pria 40 tahun ini mendekatkan wajahnya pada wajah Xiumin yang sedang terlelap.

Kemudian menyingkap rambut yang menutupi dahi Xiumin, dengan gerakan yang teramat pelan lagi lembut.

Kembali...

Chen kembali menatap Xiumin dengan tatapan khas yang hanya akan Chen berikan kepada Xiumin.

"Bila dengan mencintaimu hanya akan menyakitimu. Maka aku tak mencintaimu." Ujar Chen dengan berbisik, sebelum menutup perkataannya dengan memberikan sebuah ciuman yang sungguh dalam pada dahi putra kecilnya.

Kemudian, dengan gerakan sangat pelan dan hati- hati, Chen beranjak dari tempat tidur mereka. Beranjak pergi pula dari kamar tersebut. Menutup pintu kamar itu dengan sangat pelan, meninggalkan Xiumin didalamnya yang masih terlelap itu sendirian.

.

.

Beberapa anak buah kapal dan pekerja Mansion Byun yang berpapasan dengan Chen di koridor kabin kapal lantai 2 ini menunduk sopan pada pria yang sudah seperti Paman Kandung dari Tuan Muda Byun Baekhyun itu.

Dan hanya Chen balasi dengan senyuman singkat, yah... kecuali kepada pelayan atau maid yang cantik, Ahjussi 40 tahunan ini tetap tak akan bisa menghilangkan sifat playboy dan gemar tebar pesonanya, jadi maklumi saja bila dirinya terkadang akan memberikan kedipan mata dan senyuman andalannya pada Maid- maid cantik yang lewat. Dasar Kim Jongdae, ada.. saja kelakuannya.

Dengan luwes Chen menatap jam tangan Rolex dipergelangan tangan kirinya. Mengetahui waktu yang telah menunjukkan pukul dua belas siang lewat beberapa menit, yang artinya 2 jam telah berlalu dari jam keberangkatan mereka. Menyisakan 2 jam lagi untuk dilalui hingga sampai pada tujuan mereka semua.

Perjalanan menggunakan kapal memang mengasyikkan, namun mempunyai waktu yang harus diberikan sebagai bayarannya.

Mereka berada di atas kapal yang tengah melaju cepat, sehingga di bawah sinar matahari tengah hari pun tetap tak terasa panas sebab angin yang bertiup kencang membuat suasana menjadi sungguh sejuk. Sepertinya mereka semua memilih waktu liburan yang pas sekali.

"Oh astaga, dasar anak muda, lakukanlah di tempat yang lebih sepi. Merusak pemandangan saja. Memangnya apa gunanya banyak kamar di kapal ini." Chen berdecak dan menggeleng tak percaya menatap Chanyeol dan Baekhyun yang masih saja memakan wajah satu sama lain. Kemudian menatap Kai dan Kyungsoo yang masih berpelukan dengan erat seakan sudah terekatkan lem paling kuat.

Terdengar tawa cerah dari arah belakang Chen karena telah mendengar perkataan pria itu. Membuat Hot Ahjussi ini menolehkan kepalanya. Kemudian mendapati Jimin yang tersenyum padanya.

Chen pun membalas senyuman itu.

Pagi tadi Chen tak sempat memperhatikannya karena terlalu fokus pada Xiumin. Namun kali ini Chen akhirnya sadar, Jimin sungguh manis sekali hari ini.

Rambut coklat pendeknya diikat satu, membuat wajah bulat mungilnya tampak menggemaskan. Tubuh mungil itu terlihat sungguh imut saat memakai kemeja kotak- kotak biru putih yang dipadukan dengan rok berwarna kuning nanas.

"Kau terlihat seperti jus nanas yang dicampur air dan es batu." Jimin menatap Chen dengan wajah jengkel.

"Pujian macam apa itu?!" Teriaknya tak terima, dan dibalasi tawa bahagia Chen.

Jimin pun menggeleng maklum.

"Mau kemana Jimin?" Tanya Chen, Jimin pun hanya mengangkat bahunya.

"Aku sedang mencari Sehun yang menghilang, sepertinya anak itu bertemu dengan pelayan atau maid cantik kemudian mengikutinya. Dasar OhSe." Jawab Jimin sekenanya, dan Chen hanya menganggukkan kepalanya paham.

"Mana Oppaku?" Tanya Jimin tanpa basa- basi.

"Tidur." Jawab Chen dengan singkat.

Kemudian keheningan menyelimuti mereka berdua. Keduanya lebih memilih menikmati pemandangan laut luas yang jarang mereka temui sehari- hari.

"Dia bahkan menyiapkan kaus kaki untukmu. Sungguh Kim Minseok sekali." Gumam Jimin.

Chen tersenyum cerah mendengarnya.

"Putraku lah yang paling paham diriku didunia ini." Komentar Chen.

Jimin menghela napas.

"Dia adalah putramu, tapi sekalipun tak pernah memanggilmu ayah." Ujar Jimin dengan nada suara dingin.

Chen mengerutkan keningnya.

"Langsung ke intinya saja, apa yang ingin kau katakan gadis kecil?" Jimin tersenyum kecil menatap Chen, ternyata sungguh sulit untuk mencoba menasehati orang tua yang sudah berpengalaman. Mereka tak mudah terjebak. Sepertinya Jimin harus mengganti strategi.

"Intinya, aku ingin mengatakan, Oppaku tak pernah menganggapmu Ayahnya. Sekalipun dan sesaatpun, seumur hidupnya." Ujar Jimin dengan suara kekanakannya yang ceria.

Chen tersenyum kecil.

"Aku tahu itu." Jawabnya singkat.

Jimin pun menghela napas.

"Lalu sampai kapan kalian akan bermain peran rumah- rumahan ini?. Sebagai ayah dan anak?. Kenapa tak bermain peran sebagai pasangan yang sudah menikah saja?" Jimin mengucapkannya seolah- olah dirinya hanya anak kecil yang memang sedang membicarakan tentang permainan rumah- rumahan.

Membuat Chen tertegun.

WOW

Inikah yang biasa orang sebut, bahwa terkadang kita perlu belajar tentang kehidupan kepada anak kecil?.

"Menurutmu kami terlihat seperti sedang bermain?" Tanya Chen dengan pembawaannya yang santai pada gadis mungil disebelahnya.

Jimin pun mengangguk antusias.

"Kalian terkadang terlihat seperti sedang bermain rumah- rumahan. Terkadang kalian terlihat seperti bermain petak umpet. Dan terkadang kalian terlihat seperti bermain tarik tambang." Jimin menjawabnya dengan suara yang sungguh ceria.

Yang artinya,

Terkadang Chen dan Xiumin terlarut dalam masalah status keluarga mereka.

Terkadang Chen dan Xiumin terlarut dalam perasaan sendiri- sendiri sehingga memilih untuk bersembunyi dan menghindari satu sama lain.

Dan terkadang Chen dan Xiumin terlihat seperti penarik tambang yang bergiliran menarik dan mengulur hubungan mereka.

Chen tertegun.

Jimin sungguh pintar. Dia memberikan nasihat tanpa harus terdengar menggurui. Bahkan cenderung terdengar kekanakan, namun memiliki arti yang dalam.

Chen menatap Jimin dengan tatapan terharu. Sedikit melankolis, namun Chen tetap ingin mengatakan ini, "Rasanya baru kemarin aku dan Xiumin menatapmu dari balik kaca ruang bayi baru lahir di rumah sakit." Jimin terkikik mendengarnya.

"Jadi, Chen Ahjussi... Tolong beritahu aku nanti siapa yang memenangkan permainan kalian ya. Karena Minseok Oppa adalah Oppaku, aku berharap dia yang menang." Chen mengacak rambut keponakan angkatnya ini dengan gemas.

Yang artinya, Jimin ingin Chen menurunkan egonya dengan memutuskan hubungan keluarganya bersama Xiumin, mengatasi ketakutannya dan membuka pada dunia tentang kebenaran perasaan mereka tanpa harus bersembunyi lagi, dan mengulurkan tali tambang pengikat hatinya dan Xiumin agar tali itu tak berakhir dengan putus. Membiarkan Xiumin yang menarik tali itu, dan membuat Chen mendekat kearah Xiumin karena telah memegang salah satu ujung talinya.

Sehingga kemenangan adalah milik Xiumin.

Chen menghela napas.

"Sayang sekali, aku tak pernah kalah dalam permainan apapun." Jawab Chen dengan mantap.

Dibalasi dengan tatapan kesal yang sungguh kekanakan dari Jimin.

"Kenapa keponakanku ini masih jomblo saja hemm?. Hei.. jangan membuat wajah cantikmu menjadi sebuah kesia- siaan. Kau ingin aku kenalkan pada salah satu member boygroup?. Tinggal kau pilih saja yang mana. TVXQ? SuJu? SHinee? EXO? NCT?. Anak asuhannya Sooman Hyung itu dekat semua denganku, karena SM sering membeli lagu ciptaanku. Tenang saja, bisa diatur. Oh, sayangnya belum ada Boygroup di BB Ent, yeah.. saat ChanHun debut nanti, kita akan punya Boygroup." Chen berujar dengan senyum ramahnya, berusaha mengalihkan pembicaraan.

Terlihat kentara sekali raut wajah Jimin berubah menjadi jengkel.

"Haishh.. kenapa Ahjussi singgung masalah status kejombloanku?. Tak perlu kau kenalkan aku pada Oppa- Oppa dan Ahjussi rasa Oppa dari semua Boygroup itu. Aku ingin menjadi Idol nanti bukan untuk mencari pacar, dan aku tak ingin punya skandal apapun. Oh!! Aku baru ingat, sepertinya aku akan mulai belajar menjadi Rapper sekarang." Nah, sifat cerewetnya Jimin kembali lagi. Menjadi serius dan dewasa sungguh tak sesuai untuk gadis ini.

Terlihat wajah Chen yang berpikir keras. Kalau masalah seperti ini, Chen tak pernah main- main.

"Suaramu unik, aku rasa itu bisa menjadi ciri khas dari rapp milikmu. Bisa kau lakukan didepanku sekarang?. Aku akan mencoba menilainya."

Jimin mengangguk semangat.

Dan sisa 2 jam perjalanan itupun Chen dan Jimin habiskan dengan melatih bakat baru milik Jimin yang baru saja mereka temukan.

.

.

.

Sementara di ujung sana.

"C-Chan.. H-Hummpt.. Hentikan..." Baekhyun berusaha berbicara disela- sela pagutan bibir Chanyeol yang memenuhi mulutnya.

Tak seperti biasanya, Chanyeol kali ini menurut dengan sangat patuh. Melepaskan ciuman memabukkan itu, meski sangat berat di hati.

Dengan napas terengah Chanyeol merengkuh sebelah pipi Baekhyun yang telah basah karena keringat, dengan salah satu tangannya. Sementara lengannya yang lain tetap menahan dan menjaga tubuh Baekhyun agar tak terjatuh.

Musisi tampan ini masih sempat- sempatnya memberikan sebuah kecupan basah pada bibir Baekhyun yang sudah bengkak dan mengkilap. Membuat kekasih mungilnya terkesiap menerima kecupan singkat yang sungguh dalam itu, sebelum Chanyeol berkata, "Ada apa?" Dengan napas terengah.

Terlihat wajah berpikir Baekhyun yang tampak sungguh lucu.

Membuat Chanyeol kembali gemas ingin menciumnya.

"Wow wow wow wow.. tunggu dulu." Baekhyun berujar panik seraya menutup bibir Chanyeol dengan telapak tangannya, merasakan pria tinggi itu kembali mendekatkan jarak mereka berdua.

Chanyeol pun menarik napas panjang. Kemudian menghembuskannya dengan pelan. Mencoba meredam segala gejolak dalam dirinya. Oke fine!, dirinya harus sabar.

"Ada apa hem?" Tanya Chanyeol lagi, kali ini dengan lebih lembut.

Dasar Chanyeol, kalau sudah situasi seperti ini dan memang lagi ada maunya, seprai mailop pun kalah lembut dibandingkan kata- kata dari mulut musisi ini.

Baekhyun menggigit bibirnya, sedang dalam mode berpikir.

Namun hal itu justru menjadi sebuah siksaan nyata bagi pria di depan si Tuan Muda yang entah kenapa hari ini menjadi sungguh lamban dan tidak peka ini.

"Oh ayolah Baek, tak perlu malu. Katakan saja." Nah kan, sifat aslinya akhirnya keluar juga, tak sabaran. Semakin lama Baekhyun mengenal pria Park ini, semakin Baekhyun tahu, bahwa kesabaran Chanyeol diawal pertemuan mereka ternyata hanyalah topeng penjaga image.

Baekhyun berdelik kesal.

"Aku sedang memikirkan kalimat apa yang tepat untuk mengajakmu ke kamar, Tuan-Tidak-Sabaran." Baekhyun berucap jengkel.

Ow...

Begitu rupanya.

"Hei, jangan tersenyum.." Baekhyun kembali menutupi bibir Chanyeol dengan salah satu telapak tangannya.

Bahkan tanpa melihatnya pun Baekhyun tahu bahwa Chanyeol tengah tersenyum lebar sekarang. Dengan wajah memerah malu dan serba salah Baekhyun menutupi bibir Chanyeol dengan lima jari lentiknya, yang justru berakhir dengan menarik kembali jarinya itu, sebab justru dijilati dan digigit oleh pria tinggi didepannya.

"Tidak bisa. Sungguh sulit untuk menahannya.." Ujar Chanyeol seraya menurunkan tubuh Baekhyun dari tempat semula pria mungil itu Chanyeol dudukkan, menjadi berdiri didepannya.

Tubuh keduanya masih menempel dalam pelukan hangat, ralat, terlalu hangat.

"Tuan Park, itu pantatku, bukan pinggangku. Peluk aku dengan benar, kita sedang dilihat oleh banyak orang." Tegur Baekhyun yang ternyata masih memikirkan image teladan, contoh, dan junjungan para pekerjanya sebagai atasan, yang sekarang pasti sudah hancur berceceran. Hancurlah sudah reputasi Tuan Muda Byun Baekhyun didepan para pekerjanya sendiri.

Chanyeol tertawa sebelum memindahkan tangannya kembali ketempat yang benar, menurut Baekhyun.

"Aku hanya memeriksa apakah bekas permainan kita malam tadi masih bersisa sakit untukmu. Aku tak mau melakukannya jika itu amat menyakitimu."

Tahu bagaimana bentuk es krim yang dibiarkan berada diluar kulkas?

Anggap saja bagian dalam diri Baekhyun sudah berubah menjadi seperti itu sekarang. Meleleh, lumer, lebur, hancur, cair dan tak berbentuk lagi. Namun tetap terasa manissss...beresiko diabetes.

Baekhyun berdehem keras, berusaha menetralkan suaranya, menjadi terdengar sungguh normal.

"Aku baik..."

LUPAKAN SAJA! TAK ADA HARAPAN!

Normal apanya, mendekatipun tidak, suara Baekhyun tak ubahnya seperti puppy yang sedang merengek minta di sayang. Well, secara teknis memang itulah yang sedang terjadi sekarang.

Chanyeol sedikit menggelengkan kepalanya yang terasa pening sebab tak tahan melawan batapa menggemaskannya Byun Baekhyun.

"Kalau begitu ayo... Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi." Ujar Chanyeol seraya menggandeng tangan Baekhyun, kemudian menuntun Baekhyun berjalan dengan cepat melewati seluruh bagian depan kapal ini, melewati orang- orang yang memperhatikan mereka, dan dengan tergesa masuk kedalam bagian kabin kapal pesiar yang sungguh luas ini. Mencari kamar terdekat.

Pasangan Kai dan Kyungsoo yang tadi dilewati Chanyeol dan Baekhyun dengan begitu saja, menatap geli pada pasangan yang baru saja berlalu itu.

"Kyung, sebenarnya ini adalah acara Membership Training atau acara Honeymoon Training untuk mereka berdua." Tanya Kai dengan kekehan jenaka.

"Hummm.. " Kyungsoo memperlihatkan wajah sok berpikir.

Kemudian keduanya berpandangan, sebelum mengucapkan kata yang sama disaat yang sama.

"Aku rasa tak ada bedanya."

Lalu keduanya larut dalam tawa bahagia.

.

.

.

Sedangkan di tempat lain,

terlihat seorang pria mungil sedang menangis dalam diam. Menciptakan bentuk basahan pada bantal yang sedang ditidurinya.

"Awas saja kau Kim Jongdae. Aku tak akan memaafkanmu.. Aku tak akan memaafkanmu. Aku tak akan memaafkanmu..."

Itu adalah Xiumin, yang ternyata tidaklah tidur sedari awal, dan mendengar semua yang Chen ucapkan padanya.

Ketakutan Chen justru telah terjadi, membuat Xiumin tersakiti dengan kata- katanya sendiri.

Kalian tahu apa yang akan seekor kucing lakukan saat ada orang menginjak ekornya?. Kucing manis akan berubah menjadi mengerikan dan mencakarmu tanpa ampun saat kau menyakiti mereka.

Sepertinya sekarang, ada seekor kucing kecil yang sedang marah dan mempersiapkan balas dendam.

"Bila dengan mencintaimu hanya akan menyakitimu. Maka aku tidak mencintaimu."

"HAHAHAHA.. LUCU SEKALI." Tawa bercampur tangis itu sungguh mengerikan saat Xiumin yang melakukannya.

Wajar saja pria mungil ini sakit hati.

Perkataan Chen tak ubahnya sebuah tali gantungan bunuh diri yang membunuh Xiumin secara perlahan. Chen tak menolaknya, namun Chen juga tak menerimanya.

Chen hanyalah pria pengecut yang tak bosannya menggantungkan hubungan mereka berdua.

.

.

.

TBC

.

.

.

AN :

BEST COUPLE AWARD SAYA BERIKAN KEPADAAAAA~

.

.

DUGUN DUGUN DUGUN DUGUN DUGUN~~~

.

.

BAEKSOO!!!

AHAHAHHAAHA EHEHEHEE.

(natap cerita di atas)

Reader : Thor, Kyungsoonnya kamu kemanain?, lah konfliknya mana?, ChenMin mulu yang menderita.

Author : Kyungsoonnya ada aja tuh, gak usah jauh jauh dicari. Pasti deket aja dimanapun Baekhyun berada. Dasar sasaeng, D.O! Ajarin dong adek kamu gimana caranya sadar diri untuk lepasin jodohnya orang dan cari jodoh punya sendiri. Dasar ikatan batin anak kembar, kok bisa terobsesi sama orang yang sama duhhh.

Konfliknya?, jangan ketakutan gitu sama konflik dong.. kita punya Tuan Byun, yg gak bakalan biarin masalah tanpa bisa terselesaikan. Dan masalah ChenMin nih, mereka mah masalah internal yang tak ada habisnya. Sampe salah satu ada yg ngalah, baru tuh dua orang bisa Happy atau Sad Ending. Kalian Team siapa? Saya mah #team Xiumin, ayo berjuang Umin ah!! Buat Chen nyatain perasaan ke kamu!!!. Meski cinta bisa dilihat dari perlakuan tapi juga perlu di ungkapkan, biar dunia tau!! yegak? yegak?.

Reader : Lahh.. semangat amat thor. Bukannya lagi berduka?

Author : Oh tidakkkkk... kenapa kamu ingetin~ . Saya mah ingin melepaskan yang sudah pergi untuk pergi, biar dia tenang disana. Toh nanti juga bakalan ketemu lagi. Sabar aja nunggu giliran dipanggil Nya.. (walau kaya ada yg nyucuk didada gituh ehe ehe ehe ehe). Udah berbulan- bulan juga, masa iya saya galau mulu. Kuat ayo kuat... menjadi sekuat Tuan Byun!!. Kan saya punya kalian semua yang nemenin.. /peluk satu- satu

Reader : Nah mulai curhat. Mulai OOT.

Author : Upsi~

Terima Kasih kepada orang- orang yang bahkan bisa mengetik kata- kata yang lebih manis daripada ketikanku :

CHANBAEQ, SehunSapiens, Cheonsa528, strawbaeki, KimAyrra99, Pita388, ChanBaek09, elroseline, baekyyeun , ameliya13, baekhyuneeelove, BaekFlo, dan danactebh

Terima Kasih pada pembaca yang lainnya, yang sudah menyukai dan mengikuti cerita ini.

AKU AKAN BERUSAHA MENGETIK DENGAN KECEPATAN SUPER DI KEMUDIAN HARI!!

Jaga kesehatan semuanya... Jangan lupa bahagia. DAN SELAMAT DATANG BULAN KELAHIRAN EXO-L. Bunga yang menjadi lambang kelahiran bulan Agustus adalah bunga Gladiol atau Gladiolus, salah satu bunga kebun tercantik yang dijuluki sword lily. Yang dalam bahasa bunga dapat diartikan sebagai kenangan, ketulusan, kemurahan hati, pendirian yang teguh, kekaguman, rasa hormat, dan cinta yang tak terbalas.

Bunga Gladiol mengatakan ini kepada orang yang menerima bunga tersebut.

"Kamu adalah satu-satunya"

dan,

"Matahari selalu bersinar ketika aku bersamamu"

Gladiol biasanya diberikan oleh seorang wanita kepada pria yang dikaguminya.

Selain aku mau berikan bunga ini ke 12 member EXO, aku juga pengen berikan bunga ini ke Pahlawan- Pahlawan Indonesia, karena jangan lupakan Bulan Agustus jugalah Bulan Kemerdekaan Kita, /tebar bunga virtual.

OOT lagi :)

Lets Love Eri!! /Bow