Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
.
Happy Reading
Chapter 19 : That Is Mine
.
.
.
Musim Panas 2011, BB Resort and Hotel, Jeju- Korea Selatan.
( Chanyeol POV )
Aku menatap jam tanpa suara detik yang berada di nakas meja samping tempat tidur kami. Angka cantik, pukul 23 lewat 23 waktu setempat.
Sudah berselang 3 jam sejak Baekhyun terlelap setelah aku membacakan sebuah buku fiksi bergenre fantasi dengan judul Hunger Games karya penulis bernama Suzanne Collins. Aku sungguh tak tahu kenapa Baekhyun memilih buku penuh darah seperti ini, bahkan sampai membawanya ke Jeju.
Baekhyun tak memiliki sedikitpun kemiripan dengan karakter Katniss Everdeen yang penuh emosi membakar, sehingga dijuluki Girl On Fire. Dan tentunya Baekhyun jauh lebih cantik daripada Katniss.
Baekhyun juga tak terlalu mirip dengan Peeta Mellark yang penuh dengan sifat mengalah dan ketidakegoisan. Dan satu lagi, Baekhyun tak pandai memasak seperti Peeta.
"Humm.. namun Baekhyun dan Peeta sama- sama memiliki ketulusan tanpa syarat. Aih.. tapi Baekhyun tak akan menjadi sebodoh Peeta." Aku bergumam pelan.
Entahlah apa yang membuat Baekhyun terus menyuruhku untuk membaca buku yang sejauh aku baca sebanyak 290 halaman ini terhitung sudah membunuh sekitar 18 orang. Mengerikan membayangkan hidup dan mati seseorang tergantung hanya pada sebuah permainan dan lebih mengerikannya lagi hal itu disiarkan ke seluruh negeri layaknya hanya sebuah reality show. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Suzanne saat menulis buku ini?. Ckckck.
Namun bukan masalah keseharian membacakan dongeng untuk Baekhyun yang sedang ingin aku bicarakan sekarang.
Ada hal lain.
Ada hal yang ingin aku bagi bersama kalian semua malam ini. Sesuatu yang imut namun terkadang juga membingungkan.
Suatu hal yang selalu membuatku betah untuk terjaga hampir sepanjang malam, menunggu Baekhyun tidur dengan sangat nyenyak.
Yaitu.. kebiasaan tidur Baekhyun.
"Chanyeol..."
Dengar!
Mau tak mau aku merasakan kedua sudut bibirku tertarik berlawanan arah. Inilah yang disebut senyum tanpa sadar. Bagaimana aku bisa menahannya, Baekhyun mengigaukan namaku, atau bisa dibilang, dia memang selalu mengigaukan namaku.
Itu manis sekali.
Dia tetap mencariku bahkan di dalam tidurnya.
Namun hal ini juga membuatku frustasi, penasaran akan apa yang sedang di mimpikannya?. Aku pernah membaca, katanya seseorang yang Tuna Netra mempunyai mimpi yang sedikit berbeda daripada orang- orang dengan mata yang normal. Jadi, apakah Chanyeol versi mimpi Baekhyun tetap mempesona?. Ehehehe.
Andaikan aku bisa masuk ke dalam kepala Baekhyun dan menyelam ke dalam lautan pikiran dari CEO BB Grub yang terkenal dengan jalan pikirannya yang tak tertebak ini. Baekhyun penuh dengan misteri.
"Humm kenapa Baek?" Jawabku dengan konyolnya kepada orang yang sedang tidur.
Respon yang Baekhyun berikan setelah itu biasanya beragam. Terkadang dia akan tersenyum, terkadang wajahnya justru menjadi sungguh serius, terkadang tak ada respon sama sekali, terkadang dia justru menangis dalam tidurnya, dan malam ini... Baekhyun,
memelukku.
Tubuhku menerima pelukan hangat itu dengan teramat natural. Dapat kurasakan seluruh sel dalam badanku menyambut pelukan hangat Baekhyun dengan sangat antusias. Bahkan tubuhku lebih terbiasa dengan keberadaan Baekhyun daripada diriku sendiri. Memeluk Baekhyun selalu terasa baru bagiku, rasanya selalu persis dengan pertama kalinya. Rasa debar namun familiar itu selalu aku rasakan saat berada didekat Baekhyun. Baekhyun selalu memberikan rasa hangat.
Hmmm.. Baekhyun memang selalu terasa hangat. Secara tersurat maupun tersirat.
"Chanyeol..." Baekhyun kembali memanggil namaku.
Aku terkekeh tanpa suara, bisakah pria kecil ini berhenti membuatku gila, bagaimana bisa dia tetap sukses menggoda orang lain bahkan disaat sedang tidur?. Misteri lainnya dari seorang Byun Baekhyun.
Kalau sudah begini tak ada pilihan lain selain memeluknya balik bukan?. Ini bukan kemauanku ya... tapi situasinya yang membuat diriku harus seperti ini. Baekhyun yang terlebih dahulu memelukku. Ingat itu.
Ingat!, aku tak sedang mencari kesempatan!.
Hey!
Kenapa kalian semua tak percaya?!.
Haish..
"Dan sekarang aku berkelahi dengan benakku sendiri." Gumamku entah pada siapa.
"Terlalu lama.." Adalah salah satu hal yang sering Baekhyun katakan pada percakapan tak sadarnya.
"Apa yang terlalu lama Baek?" Tanyaku.
Tentu saja tak akan ada balasan dari pertanyaan itu selain napas teratur Baekhyun yang menandakan kekasihku ini masih dalam keadaan terlelap. Membuatku menghela napas.
"Aku rasa perlu lebih dari semalaman hanya untuk memecahkan misteri tentang sebenarnya apa yang kau mimpikan berulang- ulang itu. Kau tak pernah menceritakannya padaku saat sadar." Aku memandang wajah Baekhyun yang tampak seperti sedang berpikir keras. Humm.. dia bahkan memikirkan banyak hal didalam tidurnya. Sebenarnya kapan Baekhyun bisa benar- benar istirahat.
"Chan... aku mencintaimu..."
Uhuk
Aku tersedak ludahku sendiri.
Lagi dan lagi senyum itu tak dapat tertahankan. Pasti wajahku terlihat seperti idiot dengan senyum lebarnya sekarang.
Tuhan yang baik, bolehkah aku melakukan selebrasi sekarang?
Kenapa Baekhyun imut sekali..
Jangan salahkan aku yang tak ada daya untuk melakukan hal lain, selain semakin erat memeluk baekhyun yang terasa lembut dan hangat dipelukanku ini karena sungguh bahagia.
Baekhyun mencintaiku bahkan di saat tidurnya.
"Tenang saja Baek, aku juga mencintaimu." Balasku pelan sambil menguap.
Astaga, jam berapa sekarang?. Oh ya.. tengah malam.
Harusnya aku tidur dan mempersiapkan stamina untuk MT yang dimulai besok. Untung saja Tuan Muda Byun ini terlalu baik hati hingga menyuruh kami semua istirahat saja dari sore hingga malam pertama kami sampai di Pulau Jeju.
Kira- kira besok ada kegiatan apa ya?
Aku tak pernah ikut MT saat SMA, oh tentu saja, biasanya kegiatan seperti inikan hanya dilakukan dalam perkuliahan dan perkantoran. Sedangkan aku tak termasuk dalam keduanya.
Baiklah..
Harusnya aku mulai tidur.
"Malam Tuan Baekkie.." Ujarku dengan suara berbisik pada Baekhyun, takut membangunkannya.
Kemudian melepas pelukan kami berdua dengan amat perlahan. Membenarkan letak selimut Baekhyun yang mudah kedinginan. Dan selanjutnya aku memilih untuk tidur membelakangi Baekhyun.
Eh?. Kalian merasa ada yang janggal?
Kecewa karena aku tak langsung tidur dengan memeluk Baekhyun saja?
Hey..
Kembalilah ke kenyataan.
Memeluk Baekhyun memang menyenangkan, namun bila harus tidur dengan memeluknya sepanjang malam. Tak akan memberikan manfaat lain bagi kami berdua selain tubuh yang pegal- pegal. Pasangan yang terus berpelukan semalaman saat tidur itu... MITOS!.
Ingatlah bagaimana malam pertama kami tidur berdua di perpustakaan, auhhh.. paginya seluruh tubuhku terasa kaku, dan walau tak mengatakannya, Baekhyun pasti bangun dengan keadaan tubuh lebih pegal daripada aku setelah malam itu.
Justru, pasangan yang bebas bereskpresi tidur dengan gaya apapun di depan pasangannya, itulah yang menunjukkan kedekatan hubungan yang sebenarnya. Lagipula aku tak sebebas itu untuk dapat menyentuh Baekhyun yang sedang tidur. Dia sungguh sensitif pada sentuhan dan suara bahkan disaat sedang dalam keadaan tak sadar. Aku tak akan menyentuhnya kecuali Baekhyun yang lebih dulu menyentuhku saat tidur.
Kita semua tahu... sebuah tidur berkualitas adalah hal yang rela Baekhyun beli dengan harga berapapun dan dapatkan dengan cara apapun. Aku tak setega itu untuk mengganggunya, kecuali bila memang sudah saatnya Baekhyun di bangunkan. Meski aku tahu, Baekhyun tak akan marah padaku bahkan bila aku mengganggu tidurnya yang berharga.
Sekarang aku berusaha untuk menjadi kekasih yang pengertian.
Selamat malam dunia, Chanyeol yang tampan dan lebih tua sehari dari hari ini akan terbangun dengan tetap tampan keesokan harinya.
"Karena itu.. jangan pergi Chan."
"Apapun yang terjadi.."
"Tetaplah bersamaku."
Mataku kembali terbuka dengan otomatis begitu saja.
Kemudian berbalik menatap Baekhyun yang kembali mengigau. Apakah kebiasaan Baekhyun yang mengigau ini sudah mulai bisa disebut penyakit?. Aku tak sepintar Baekhyun jadi aku tak tahu. Apakah kami harus mulai menanyakannya pada dokter hemm..
Tapi kalau kami mengobatinya, nanti Baekhyun akan berhenti memanggil namaku dalam tidurnya.
Oh tidak.
Apalagi yang akan menjadi hiburanku di malam hari?
Baiklah, Park Chanyeol.. jadikan ini rahasia kecil milikmu saja.
Selamat tidur.
.
.
.
- 07 : 45 AM -
Tanpa memakai baju dan dengan hanya memakai celana training aku membongkar seluruh isi koperku. Haish.. dimana kaus abu- abu itu?. Kenapa sebuah baju selalu sulit ditemukan bila sedang diperlukan?.
Aku tahu kaus abu- abu kesukaanku itu harganya murah saja. Tapi yang penting bukan harganya, tapi kenangannya.
Aku membelinya dengan gaji kerja paruh waktu pertamaku. Jadi, kaus itu spesial sekali. Aku ingin memakainya hari ini.
"Chan.. sedang apa?. Kenapa berisik sekali sedari tadi?. Umpatanmu bahkan terdengar sampai kamar mandi." Tanya Baekhyun dari arah belakangku, nah.. Baekhyun yang selalu mandi lama saja bahkan sudah menyelesaikan mandinya, dan kaus sialan itu belum juga aku temukan.
"Maafkan aku Baek, aku sedang mencari ka -
Kata- kataku terhenti saat menatap Baekhyun yang dengan cantiknya berdiri di depan pintu kamar kami sambil menatap kosong ke arahku.
"ITU DIA!!" Teriakku dengan spontan seraya menunjuk Baekhyun.
"Apa?" Tanya Baekhyun dengan tenang seolah tak bersalah sama sekali, tak bergeming bahkan setelah mendengarku berteriak padanya. Benar- benar penguasaan diri yang menganggumkan.
Aku menghela napas kesal.
Astaga..
"Baekhyunnieku yang cantik... kaus yang kau pakai itu milikku." Ujarku dengan penuh penekanan, Baekhyun harus tahu aku sedang marah sekarang. Suaraku tadi sudah terdengar kesalkan?.
Wajar aku kesal. Aku sudah mencari kaus itu berjam- jam. Setengah khawatir bila kaus itu hilang. Dan ternyata kaus itu dipakai oleh kekasihku sendiri.
Ok fine, aku tak mempermasalahkan dia yang memakai bajuku.
Tapi kenapa tak bilang- bilang dulu?.
Meski terdengar aneh bila harus mengatakan bahwa Baekhyun telah mencuri kausku. Tapi tetap saja, apa sebutan yang tepat untuk mengambil barang orang lain tanpa izin?. Meski barang itu milik kekasihmu sendiri.
Dan Baekhyun... justru menampilkan senyum malaikatnya.
Wahh.. cantik sekali.
Eih.. Tidak! Tidak! Tidak!. Jangan terpesona dulu Park Chanyeol!. Kau sedang dalam mode kesal. Ingat.. kau sedang kesal sekarang. Hump!.
"Kaus itu milikku Baek." Aku mengulangi pernyataanku.
Dan dengan santainya Baekhyun berlalu pergi dari kamar kami, menuju bagian dapur dan ruang makan dari Presidential Suite Room Hotel yang kami tempati ini, seraya berkata.
"Tidak lagi. Mulai sekarang milikku."
Secara spontan aku merengek mendengarnya.
"Ayolah Baek.. kau punya banyak baju. Kenapa harus baju punyaku?." Protesku sambil mengikutinya.
"Bajumu sangat nyaman dipakai." Jawab Baekhyun seraya berhenti di mesin pembuat kopi, woah.. bagaimana bisa dia sudah hapal semua letak ruang dan benda dari tempat ini padahal aku hanya menjelaskannya sekali saja kemarin.
"Karena alasan yang samalah aku suka memakainya juga, jadi tolong kembalikan, aku mau pakai itu hari ini. Kau mau kopi?" Aku masih mendebat kepemilikan baju ini, dan Baekhyun mengangguk menjawab tawaranku diakhir.
Dengan keahlian seseorang yang sudah pernah bekerja paruh waktu di kafe yang hari- harinya selalu menyeduh kopi. Aku membuatkan dua cangkir kopi untuk kami berdua.
Kemudian dengan lembut memberikan satu cangkir langsung ke tangan Baekhyun. Dan satu cangkir lagi untukku.
"Terima Kasih kopinya. Kau setidak rela itu ya menyerahkan kaus ini, tidak seperti biasanya. Hufh.. begini saja, aku akan membayarnya. Bagaimana?" Ujar Baekhyun menawarkan sebuah negosiasi sambil menghirup pelan kopi hangatnya.
Membuatku tersenyum tersinggung tanpa Baekhyun ketahui, sungguh tipikal Baekhyun sekali. Membayar sesuatu yang diinginkannya dan mendapatkan bayaran akan sesuatu yang telah dilakukannya. Give and Take. Bukan sifat jelek, tapi terkadang terasa menyebalkan. Tapi tak apa, hal ini dapat aku maklumi karena memang begitulah sifat kekasihku.
Sekarang ayo cari cara agar mendapatkan kembali kaus itu, tanpa harus terjadi bayar membayar.
Aku menatap wajah Baekhyun sedikit lama, kemudian menatapnya dari atas sampai kebawah. Menjilati bibirku yang tiba- tiba terasa kering setelah menyadari bagaimana menggiurkannya pemandangan didepanku ini.
Wow
Kenapa aku tak menyadarinya tadi?
Baekhyun tampak imut sekali.
Sudah tertebak, kaus itu tampak sungguh kebesaran di tubuh Baekhyun. Jadi bayangkan saja bagaimana menggemaskannya dia terselimuti kaus kebesaran berwarna abu- abu pucat itu. Lengan kaus yang biasanya hanya menutupi setengah lengan atasku, namun justru dapat menutupi lebih dari siku Baekhyun saat si mungil ini memakainya. Dan panjang baju yang biasanya hanya mencapai pinggangku, justru dapat menutupi hingga setengah paha Baekhyun.
"Kau tidak memakai celana?" Tanyaku sangsi, menatap paha mulus itu terpampang jelas didepanku, menahan jeritan hati untuk menarik kaus itu keatas saja, agar bagian tertutup dapat lebih terekspos.
Baekhyun menggeleng, "Aku memakai boxer, apakah tak kelihatan?. Woah.. Chanyeol, bajumu sungguh besar. Triple XL?" Baekhyun berujar takjub sambil meraba kaus milikku yang sedang dipakainya.
Sabar Chanyeol.. Sabar... Ini ujian dadakan di pagi hari. Punya pacar cantik itu memang begini resikonya. Sabar...
Aku menyilangkan tanganku didepan dada. Mencoba untuk bersikap sedikit mahal hari ini.
"Aku akui kaus itu tampak bagus padamu. Namun tetap saja. Kembalikan kausku. Aku mau pakai itu hari ini." Ujarku tegas.
Baekhyun terdiam sebentar, kemudian terlihat menghela napas dengan mulutnya. Oh.. dia juga ikut kesal?. Sesuka itukah dengan kaus milikku heh?.
"Tidak." Jawab Baekhyun dengan suara tak kalah tegas dari milikku.
Okey... Tuan Muda Byun.
Aku juga tak akan kalah.
"Kembalikan Baek." Ujarku.
"Tidak Chan." Jawabnya.
Haishh...
"Memangnya penawaran apa yang dapat kau berikan untukku?" Tanyaku menantang. Habis sudah kesabaran untuk menghadapi situasi ini tanpa kata ada bayar membayar.
Terlihat Baekhyun terdiam sebentar. Sama sekali tak tertebak apa yang sedang dipikirkannya. Bagaimana bisa pria kecil ini selalu dapat membuat orang lain menjadi no clue akan apa hal yang ada dikepalanya?.
"Lama- lama kau terdengar seperti diriku Chan. Meminta sesuatu saat memberikan sesuatu." Dan justru hal inilah yang dikatakannya, mengatakan sifat menyebalkan miliknya sendiri dengan kata- kata yang tenang.
Membuatku tertawa malu setelah mendengar itu. Kami berdua ternyata sama saja.
"Ehehehe.. Bukankah banyak yang bilang pasangan menjadi mirip dari hari ke hari.." Aku memberikan alasan.
Baekhyun membalas itu dengan senyuman manis, kemudian mengangguk setuju. Tampak manis sekali.
Eh,
Tunggu sebentar..
DIA MENGALIHKAN PEMBICARAAN!.
HAISH!!.
"Aih.. hampir saja aku tertipu. Baek, lepaskan kaus itu sekarang juga!" Aku berseru padanya.
Baekhyun mengangkat kedua alisnya, sambil menatap kosong ke arahku. Membuatku balik menatap mata beriris abu- abu milik Baekhyun. Cukup menarik bagaimana kami terlihat saling berpandangan, namun kenyataannya hal ini hanya terjadi pada satu arah saja.
"Ekhm.. " Baekhyun berdehem, kemudian melangkah pelan mendekatiku.
"Kau yakin?" Tanyanya dengan nada suara yang sedikit aneh.
Eh?, yakin apa?. Oh, yakin menyuruhnya melepaskan baju itu?.
"Tentu saja!" Aku berseru penuh keyakinan.
"Baiklah.. aku akan melepaskannya.." Ujar Baekhyun pelan, kemudian memainkan bagian ujung bajunya.
Aku terbelalak melihat itu.
Tak perlu waktu lama hingga alarm tanda bahaya berdenging nyaring di kepalaku. Gawat, aku salah kata.
"Eh?!. Tunggu tunggu tunggu Baek." Ujarku menahannya yang sudah bersiap melepaskan kaus itu.
Baekhyun justru menyeringai.
"Jadi kau sungguh ingin aku melepas kaus ini sekarang juga hem?. Disini?. Didepanmu?. Sekarang.."
Sialan Baek, jangan suara bernada rendah dan lembut itu.
Glub
Kenapa meneguk liurpun terasa sulit sekali?.
Baekhyun itu cantik dan seksi, itu tak diragukan lagi. Jadi, jangan remehkan dia saat mulai menggunakan senjata andalannya. Baekhyun bisa menjadi berbahaya.
Tarik napas Chanyeol!. Tarik napas!!.
Haaaaaa... Hufhhhhh...
"Baek, jangan menggodaku, ini masih pagi, dan sebentar lagi kegiatan MT kita harus dimulai." Ujarku memperingati.
Benar Chanyeol!, seperti itu!. Jangan terjebak dalam perangkapnya. Kau harus tegas. Harus cool!.
Terlihat olehku bagaimana Baekhyun terdiam, nampak memikirkan sesuatu. Suatu hal menyebalkan adalah, bagaimana Baekhyun sungguh sulit ditebak isi kepalanya. Sedangkan Baekhyun dengan amat sangat mudah dapat menebakku, bahkan dengan tanpa melihat.
"Chanyeora.."
HOLY SHIT!
APA- APAAN PANGGILAN ITU?!!.
DAN APA- APAAN JARI BAEKHYUN YANG SUDAH MEMBENTUK GARIS LURUS DI DADAKU INI.
Jari lentik super cantik milik Byun Baekhyun itu menyusuri tubuh bagian depanku yang sedang toples tanpa baju ini!!!.
"Baek, hentikan.." Ucapku dengan nada serius.
Baekhyun merengut lucu, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku akan berhenti saat kaus ini sudah resmi menjadi milikku." Ujar Baekhyun dengan suara teramat rendah, nyaris berbisik.
"Kaus itu tetap milikku." Ujarku tegas.
Baekhyun merengut bagai puppy.
"Berikan ini untukku Yeol.." Ujar Baekhyun pelan, kemudian menaruh telapak tangannya didadaku.
"Maafkan aku, tapi bisakah kau jangan menyentuhku." Ujarku dengan salah tingkah menjauhkan tangannya dariku.
KARENA DEMI TUHAN, AKU PERLU BERPIKIR JERNIH.
"Chanyeol ah.." Nah.. dia mulai memanggil namaku lagi.
"Hem?" Tanyaku dan kemudian Baekhyun tersenyum ke arahku.
"Saranghae.."
Aku menutup mataku, mencoba menahan gejolak hati. BAEKHYUN IMUT SEKALI!!.
"Maafkan aku."
Maaf Baek, untuk sekarang aku tak bisa menjawabnya. Aku ingin kaus itu kembali.
Baekhyun menampilkan wajah sedih. Kemudian kembali menggerakkan telapak tangannya menyusuri permukaan dadaku.
"Aku bilang aku mencintaimu."
Tahan Chanyeol.. tahan.. Jangan goyah.
"Maafkan aku Baek." Ujarku seraya menjauhkan tangannya dari badanku.
"Aku mencintaimu."
"Maafkan aku Baek."
Baekhyun tampak merengut kesal. Kemudian menekan jari telunjuknya ke bagian tengah dadaku, tepat didepan jantung berada.
"Aku bilang aku mencintaimu. Jawablah. Kenapa kau tak bisa menjawabnya?"
"Hey.. jawablah.."
"Bilang, kau mencintaiku, aku adalah orang yang kau cintai."
"Kenapa kau tak bisa mengatakannya.. Hey.. katakan cepat."
Aku menutup mataku. Seraya menarik napas, kemudian mengeluarkannya lagi dengan perlahan.
Ini harus di hentikan sebelum terlambat. Hanya ada satu cara untuk menaklukkan seorang Byun Baekhyun.
( Chanyeol POV END )
.
.
Baekhyun terkesiap merasakan tangan besar Chanyeol yang menangkap tangannya dengan cepat. Pria cantik ini merasakan bagaimana tangan besar dan kasar itu meremas tangannya dengan cukup kuat.
Tolong di ingat hal ini.
Chanyeol tak pernah sekalipun kasar pada Baekhyun.
Jadi ini adalah yang pertama kalinya. Ini dapat di catat sebagai sejarah.
Humm.. Apakah Baekhyun sudah keterlaluan bercandanya?. Seharusnya Baekhyun tak terlalu menahan kaus abu- abu itu terlalu lama. Padahal Baekhyun sendiri diam- diam tahu, itu kaus kesukaan Chanyeol.
Baekhyun, kau akhirnya mendapatkan bayaran atas kejahilanmu, pikir Baekhyun didalam otak cantiknya.
"Chan.. bisakah kau lepas tanganku?. Ini mulai terasa sakit." Ujar Baekhyun dengan suara pelan, sedikit takut Baekhyun akui. Karena Chanyeol tampak diam sekali, tak biasanya.
Namun Chanyeol telah terlalu bosan bermain tarik ulur sekarang. Pria tinggi ini tidaklah sesabar Baekhyun, dan Baekhyun telah bermain- main dengan kesabarannya.
Bukannya melepaskannya, Chanyeol justru mengeratkannya. Kemudian menarik tangan berjari lentik itu dengan kuat, membuat Baekhyun tertarik ke depan dalam sekali sentak.
Tubuh keduanya langsung menjadi tak berjarak. Wajah Baekhyun menabrak dada Chanyeol yang sekarang toples tanpa sehelai benangpun.
Dengan wajah dingin dan serius, Chanyeol meletakkan cangkir kopi yang tadi berada ditangan kirinya yang bebas, ke atas pantry dibelakangnya. Kemudian merebut cangkir yang berada di tangan kiri Baekhyun, dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya pada cangkir miliknya.
Kali ini Chanyeol menahan kedua tangan Baekhyun dengan kedua tangannya.
"Ayo kita berhenti bermain- main Tuan Muda Byun yang memiliki segalanya namun pagi ini tiba- tiba dengan kekeuh mempertahankan kaus murahan kesayanganku." Baekhyun merasakan bulu kuduknya meremang saat Chanyeol berbisik rendah dengan suara huskynya tepat didepan wajah Baekhyun yang mendongak, membuat Baekhyun sesekali berkedip saat udara napas Chanyeol menerpa matanya. Namun Baekhyun tetap diam, tak bergeming sedikitpun.
Baekhyun masih ingin mempertahankan kaus milik Chanyeol. Tak menyerah sama sekali.
Jadi, pemenang dari kepemilikan kaus abu- abu ini masih belum ditetapkan.
Chanyeol menghela napas. Sampai akhirpun Baekhyun tetap diam dan tak mau mengembalikan kaus itu padanya.
"Fine.. ayo kita buat taruhan saja." Ujar Chanyeol yang akhirnya mendapatkan jalan keluar. Nah.. daripada bayar membayar, taruhan saja.
Benar- benar menyelesaikan masalah tanpa solusi, pikir Chanyeol yang ternyata juga mempunyai jiwa sarkastik.
Baekhyun menaikkan kedua alisnya. Tampak tertarik.
"Taruhan apa?" Tanya Baekhyun, dan Chanyeol tersenyum mendengar itu.
Kita sepertinya telah mendapatkan kesamaan dari dua orang ini. Berjiwa kompetitif dan ambisius.
"Bila kau memang sesuka itu dengan kaus milikku. Baiklah, pakai saja. Itu akan jadi milikmu." Ujar Chanyeol dengan enteng, membuat dahi Baekhyun mengerut curiga.
"Tapi?" Tanya Baekhyun lagi, Baekhyun terlalu pintar untuk tahu bahwa ada harga yang harus dirinya bayar untuk hal itu.
"Tapi.. bila kau tetap memakainya seharian ini meski kaus itu telah berbau keringat dan semerbak bau hal lainnya."
Baekhyun tak dapat membalas perkataan Chanyeol setelah itu, sebab sebuah ciuman panas sudah lebih dahulu dirinya dapatkan tepat di detik dirinya membuka mulut untuk bicara.
"Humpt.. Hey.. Hentik - an.. Chan.." Semakin Baekhyun berusaha bicara maka Chanyeol semakin kuat menghisap bibir malang Baekhyun yang pagi ini terasa seperti kopi yang baru diminumnya.
"Hahhh.. Hahh.. K- kau sudah gila.. beberapa puluh menit lagi pembukaan acara MT kita." Ujar Baekhyun dengan terengah saat Chanyeol melepaskan pagutan bibir keduanya.
"Aku tahu.." Namun Chanyeol tak peduli, dirinya terlalu sibuk mengangkat tubuh Baekhyun hingga terduduk diatas meja makan.
"Dasar licik, jadi ini maksudmu dengan kaus ini akan berbau keringat dan lainnya heh.. Gila saja aku bila tetap memakainya seharian setelah ini." Ujar Baekhyun yang sekarang telah Chanyeol rebahkan diatas meja makan.
Chanyeol terkekeh mendengarnya.
"Sudah aku bilangkan?. Pasangan menjadi mirip dari hari ke hari, kau lah yang mengajariku untuk berpikir dengan cara seperti ini. Dan Tuan Byun, kau jugalah yang dari awal tak mau melepaskan kaus itu. Jadi, jangan pernah lepaskan baju itu, sampai kita selesai. Bersiaplah.." Adakah yang mengatakan bahwa murkanya orang yang suka bercanda itu mengerikan?.
Ternyata membercandakan orang yang suka bercanda itu akhirnya jadi tak baik juga.
Jadi, jangan salahkan Baekhyun yang telah menciut sekarang.
Dan saat Baekhyun merasakan permukaan tangan kasar Chanyeol telah menarik turun celana boxernya ke bawah. Tuan Muda Byun ini telah tahu, tentang siapa yang akan menjadi pemenang dari taruhan ini.
Tak ada pilihan lain bagi Tuan Muda Byun ini selain menghela napas dan pasrah menerima bayaran akan hal yang sudah dilakukannya.
Namun, tak ada yang tahu..
Di dalam hati kecilnya..
Di dalam otak cantiknya yang tak tertebak..
Sesungguhnya Baekhyun tengah tertawa bahagia, dan menggumamkan -
"Aku akan mencuri kaus miliknya lagi lain kali."
- didalam sudut hatinya.
.
.
.
TBC
.
.
.
AN : Dear Kyungsoo, kamu salah nak, Chanyeol juga selalu berusaha mengerti Baekhyun kok. Mereka selalu berusaha mengenal dan mengerti satu sama lain, meski terkadang memang ada kekeliruan, wajarkan mereka pasangan baru. Kamu gak tahu seberapa menyebalkannya Baekhyun karena gak pernah Baekhyun jahilin aja. Ya jelas dong, sifat kekanakan, tanpa jaga image, dan bersikap santai dan bercanda layaknya umur 20 an, tanpa embel- embel Tuan, CEO, dan Boss dibalik namanya, itu hanya bisa Baekhyun lakukan didepan Chanyeol. Jenius atau engga, Baekhyun jugalah manusia.
