Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

.

Happy Reading

Chapter 20 : Ice Mountain

.

.

.

(Silahkan skip jadwal di bawah ini bila terlalu malas membacanya)

Jadwal Membership Training Mansion Byun Family

DAY 1 : TEMA OLAHRAGA

06:00 s/d 08:00 - Breakfast, Ket : Bertempat di BB Restourant, BB Hotel and Resort

08:00 - Pembukaan MT Mansion Byun Family (Pidato dari Tn. Byun Baekhyun), Ket : Bertempat di BB Stadion, BB Hotel and Resort

09:00 - Lomba Futsal ( Diikuti oleh Butler, Driver, dan Security Mansion Byun), Ket : Bertempat di BB Futsal Center, BB Hotel and Resort

10:00 - Snack Time

11:00 - Volly Pantai (Para Maid dipersilahkan membentuk Anggota Tim sendiri kemudian mendaftarkan timnya kepada Kim Minseok A.K.A Wakil Panitia MT Mansion Byun Family), Ket : Bertempat di BB Private Beach, BB Hotel and Resort

12:00 - Lari Maraton (Ket : Seluruh peserta yang ingin mendaftar di persilahkan mendaftarkan diri kepada Kim Minseok A.K.A Wakil Panitia MT Mansion Byun Family), Ket : Rute Lari mengelilingi lingkungan BB Hotel and Resort, Start dan Finish di BB Stadion

14:00 - Lunch, Ket : Bertempat di BB Restaurant, BB Hotel and Resort

15:00 s/d 18:00 - Free Time

18:00 s/d 20:00 - Dinner, Ket : Bertempat di BB Restaurant, BB Hotel and Resort

DAY 2 : TEMA KESENIAN

06:00 s/d 08:00 - Breakfast, Ket : Bertempat di BB Restaurat, BB Hotel and Resort

08:00 s/d 10:00 - Mini Concert, Performance by D.O feat Chanyeol, Solo Kai, Solo Chen, and ChanHun. Ket : Bertempat di BB Ballroom, BB Hotel and Resort

10:00 - Snack Time

11:00 s/d 14:00 - Pentas Seni, Ket : Bertempat di BB Ballroom, BB Hotel and Resort

14:00 s/d 15:00 - Lunch, Ket : Bertempat di BB Restaurant, BB Hotel and Resort

15:00 s/d 18:00 - Free Time

18:00 s/d 20:00 - Dinner, Ket : Bertempat di BB Restaurant, BB Hotel and Resort

20:00 s/d Selesai - Penutupan MT Mansion Byun Family

DAY 3 : SAYONARA

Struktur Panitia MT Mansion Byun Family

Ketua Panitia : Byun Baekhyun

Wakil Ketua Panitia : Kim Minseok

(KET : Tak perlu Seksi- Seksi karena keberlangsungan acara akan dibantu oleh seluruh staff BB Resort and Hotel)

.

.

.

Musim Panas , 2011

- 06:20 AM -

Chen menatap lembar jadwal itu dengan sebuah tatapan tak percaya bercampur kedipan yang lama. Kemudian mendongak menatap wajah manis pria didepannya.

"Kau yang membuat ini?" Tanya Chen dengan suara ragu, berusaha keras agar kalimatnya tak akan terdengar menyinggung.

Xiumin mengangguk santai.

"Kenapa?. Ada masalah?" Tanya Xiumin blak- blakan.

Chen berdehem, berusaha menetralkan suaranya agar tetap terdengar santai seperti biasa.

"Kau rela begadang hampir tak tidur hanya untuk hal seperti ini?"

Xiumin berdelik kesal, "IYA. Lalu itu masalah?"

"Xiu, kita sedang MT, bukan sedang kemah anak sekolah menengah ataupun makrab mahasiswa. Kenapa jadwalnya seperti ini?, bahkan kau membuat daftar nama panitia. Wahh.. aku bahkan tadi sempat mengira aku telah terlempar ke lorong waktu lalu kembali ke zaman masa sekolahku yang walau sempat putus ditengah jalan. Benar- benar deja vu yang mengerikan." Komentar Chen yang ikut blak- blakan pada Xiumin.

Xiumin yang mendengar itupun sama sekali tak menyembunyikan dengusan kesalnya. Kemudian dengan kasar merebut kertas jadwal yang diketiknya dadakan malam tadi dari tangan Chen.

"Justru itulah konsepnya. Aku ingin membuat kita semua merasa seperti kembali ke zaman sekolah dan kuliah. Aku ingin KAU KEMBALI MERASA MUDA DAN BERHENTI BERPIKIR TENTANG KUBURAN. DASAR TUA BANGKA. AUHH... MENYEBALKAN!!" Chen terbelalak terkejut mendengar Xiumin yang tiba- tiba berteriak padanya.

Lalu menatap dengan bingung kearah Xiumin yang telah beranjak pergi dari kamar mereka dengan masih menggumamkan banyak sumpah serapah. Chen menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tak gatal.

Dia sensitif sekali, pikir Chen.

"Kau mau kemana Xiu?. Ini masih terlalu pagi, kau bisa masuk angin." Chen berseru sambil ikut beranjak dan mengikuti Xiumin keluar.

Namun Xiumin terus berjalan melewati koridor lantai 2 dari BB Hotel ini, kemudian lebih memilih menuruni tangga darurat daripada menggunakan lift, tak ada alasan khusus, Xiumin hanya merasa aneh saja bila harus menunggu lift lalu menggunakannya padahal lantai dasar hanya dibawahnya saja.

Xiumin tak menoleh ke belakang sama sekali, namun pria manis ini tahu, Chen pasti mengikutinya. Sepanjang jalan.

Keduanya berjalan beriringan terus seperti itu bahkan sampai di bagian luar Hotel. Hingga keduanya sampai di tengah pantai pribadi yang masih merupakan bagian dari BB Resort dan Hotel ini.

Xiumin menunduk saat berjalan melewati pasir putih yang sungguh lembut ini. Menatap bagaimana kaki beralaskan sandal hotelnya masuk ke dalam pasir itu di setiap langkahnya.

Akhirnya Xiumin berhenti tepat di ujung pantai. Hanya berjarak beberapa sentimeter dari bagian luar pantai yang terus terkena gelombang.

Xiumin mendongak, memandang lurus ke laut lepas yang masih berwarna gelap. Hanya terlihat sedikit sekali warna jingga di ufuk timur, tampaknya matahari masih belum siap menampilkan wajah pertamanya hari ini.

Xiumin memandangi laut yang tampak biru dan dingin itu dengan cukup lama. Membuat Xiumin berpikir.. Apakah air laut pagi di musim panas tetap memberikan sensasi dingin bagaikan es saat menyentuhnya.

Sedangkan Chen justru memandangi gunung es miliknya sendiri, Chen memandangi Xiumin.

"Berhenti memandangiku seperti itu." Ujar Xiumin pelan, bahkan dengan tanpa balas menatap Chen, pria pemilik dua marga itu tahu bahwa si Kim disampingnya sedang menatapnya.

"Memangnya aku memandangmu seperti apa?" Tanya Chen dengan senyuman tenang sambil menatap Xiumin.

Xiumin menoleh untuk menatap Chen, kemudian membalas senyum pria Kim itu. Seraya menjawab; "Kau selalu memandangku dengan mata yang meneriakkan.. 'Aku sungguh ingin mencintaimu', tidakkah menurutmu itu sangat kejam?" Tanya Xiumin dengan suara datar, sekaligus melunturkan senyuman diwajahnya.

Chen membuang muka setelah mendengar itu, mengalihkan pandangan dan membuat giliran sekarang dirinyalah yang memandang lautan sedangkan Xiumin yang memandanginya. Tak sanggup mengakui isi hatinya yang dapat Xiumin tebak bahkan hanya dengan melihat matanya. Memiliki seseorang yang terlalu kenal dirimu nyatanya tak selalu berdampak baik.

Ternyata begitulah pandangan khas seorang Kim Jongdae saat menatap Kim Minseok

Chen menghela napas.

"Dan kau tahu bagaimana matamu saat memandangku?" Tanya Chen pada Xiumin.

Xiumin sendiri menggeleng tak tahu.

Chen menoleh kepada putra kesayangannya itu dengan senyuman sayang. Kemudian menatap lurus langsung kepada mata kucing Xiumin yang tampak berkilau di tengah remangnya cahaya dini hari.

"Harapan." Ujar Chen singkat.

Xiumin terdiam.

"Senin, 26 Maret 1990. Hari itu aku menatap seorang bayi kecil yang masih merah di keranjang ayun di Vila keluarga Byun dengan perasaan aneh." Xiumin mengigit bibirnya gelisah mendengar itu, namun Chen tetap melanjutkan ceritanya.

"Aku yang saat itu sangatlah muda tak pernah menyangka bahwa ternyata melihat bagaimana perut seorang ibu hamil yang semakin membesar dan membesar setiap bulannya didepan mataku sendiri terasa sungguh mendebarkan. Aku terlalu tak sabar untuk bertemu denganmu bahkan sebelum kau lahir ke dunia."

"Aku yang saat itu adalah anak berandalan dan bahkan tak punya sedikitpun kasihan saat memukuli orang lain, tak tahu bahwa dengan mendengar suara tangisan bayi yang pertama kalinya datang ke dunia dapat membuatku menitikkan airmata karena terlalu indahnya."

"Aku yang saat itu benar- benar tak tahu aturan, tak punya mimpi, tak punya cinta, tak punya cita- cita, tak punya tujuan, dan bahkan tak punya masa depan, namun hanya dengan kekuatan sebanding lemahnya kelopak mata bayimu terbuka didepanku hari itu, dan pertama kalinya aku melihat dua bola mata lucu yang sungguh jernih tanpa dosa dan lara, aku akhirnya memiliki harapan... sebuah harapan untuk mendapatkan segala kebahagiaan yang selama ini aku impikan. Kau adalah harapan yang membawa perjuangan Xiu. Sungguh dirimu sekali, kau tak pernah menyerah dan sangat berani. Benar- benar pekerja keras." Chen tersenyum jenaka diakhir kalimatnya.

Xiumin merasakan matanya memanas, kilau matanya menjadi berkaca- kaca. Kemudian pria manis ini dengan cepat mendongak, dan berkedip- kedip menghalau airmatanya sambil berusaha mengalihkan pandangannya kemanapun asalkan jangan ke arah pria yang paling disayanginya itu. Dirinya tak ingin menjadi cengeng lagi, yang kemarin... harus menjadi air mata terakhirnya yang jatuh untuk ayah angkatnya ini.

"Aku bukan orang baik Xiu. Dari awal aku dilahirkan, masa kecilku, masa remajaku, kau tahu sendiri bagaimana kisahnya.. benar- benar hancur lebur. Saat menjadi orang dewasapun aku sama saja, tetap membuat perusahaan pusing menutupi seluruh skandal yang aku lakukan. Sampai sekarang memasuki usia 40 pun aku tetap membuat banyak masalah juga. Tak ada yang dapat di banggakan dengan menjadi seorang Kim Jongdae bila sudah membahas kelakuan, namun bila melihat dirimu, segalanya menjadi berbeda.. seburuk- buruknya aku, aku telah berhasil membesarkan seorang putra hingga tumbuh besar menjadi sehebat ini. Kau tak punya gambaran bagaimana aku bangga sekali padamu, kucing kecilku." Chen mengelus rambut Xiumin pelan, layaknya Xiumin memanglah seekor kucing lucu.

Xiumin membiarkan Chen melakukan apapun yang ingin pria itu lakukan pada rambutnya. Kemudian menghela napas dengan berat. Tak sanggup lagi menahan uneg- uneg hatinya yang sudah tertahan sejak kemarin.

Cukup sudah acara Chen yang memamerkan dirinya sebagai orangtuanya ini. Chen selalu memanfaatkan tentang kenangan saat Xiumin masih bayi sebagai senjata utamanya. Karena dengan begitu, Xiumin akan menyadari seberapa jauhnya jarak umur mereka berdua.

18 tahun itu hanyalah angka, pikir Xiumin meremehkan.

BAIK.

Mari kita bahas hal yang sama, namun dengan cara yang berbeda. Dengan versi dari Kim Minseok.

Xiumin menatap Chen dengan cukup lama, membuat Chen ikut memandangnya, menunggu Xiumin mulai bersuara.

"Kaulah segalanya bagiku, Paman Dae."

Sontak mata Chen terbelalak mendengar panggilan itu. Terakhir kali Xiumin memanggilnya seperti itu adalah saat Xiumin berumur 12 tahun. Xiumin sudah mulai berbicara dengan bahasa informal padanya sejak umur 13 tahun, tepat di umur remaja Xiumin dimulai.

Xiumin tak mengindahkan tatapan terkejut Chen padanya ataupun tangan Chen yang masih mengelus rambutnya. Wajah Xiumin tampak sungguh dingin dan tak terbaca.

"Kau menemani ibuku saat mengandung diriku. Melihat aku lahir. Merawatku saat bayi. Kau melihat aku yang mulai tengkurap dan merangkak. Kaulah yang mengajariku berjalan, berlari, bicara, bernyanyi, bersepeda, berenang, menulis, membaca, mengancing baju, mengikat tali sepatu, Taman Kanak- kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Akhir, kuliah, dan aku bahkan pertama kali minum alkohol bersamamu!!!." Chen menurunkan tangannya dari kepala Xiumin, memandang wajah putih Xiumin yang tampak memerah setelah mengucapkan sederet kalimat itu dengan sungguh menggebu.

Xiumin sekarang menatap Chen dengan tatapan yang sungguh tajam. Ow.. Chen mulai menyadari dirinya tengah berhadapan dengan seekor kucing yang sedang bersiap untuk mengamuk sekarang.

"Kau tahu apa artinya itukan?. Kaulah hidupku. Bagaimana bisa aku mengakhiri perasaan ini bila sudah seperti itu Tuan Kim Jongdae sialan?" Hilang sudah sopan santun ataupun panggilan manis.

"Kau bukanlah pria asal kenalku di kantor yang mungkin baru aku temui beberapa bulan atau tahun, yang bila saja aku jatuh cinta kemudian ditolak oleh mereka, aku hanya akan merasa sakit sebentar kemudian aku akan melupakan mereka beberapa minggu kemudian. Karena apa? KARENA KENANGAN YANG DIBERIKAN JUGA TAK SEBERAPA. NAMUN BILA ITU DENGANMU, AKU HARUS BAGAIMANA KIM JONGDAE!!" Xiumin mulai meledak.

Salah satu hal yang mengerikan dari dunia ialah.. murkanya orang pendiam.

BUK! BUK! BUK! BUKBUKBUKBUK!!!

Dengan kepalan tangannya dan dengan kekuatan yang semakin keras disetiap pukulannya Xiumin memukuli dada Chen tanpa ampun.

Dan Chen?,

pria itu hanya dapat menerima semuanya dalam diam. Menerima semua pelampiasan sakitnya hati Xiumin yang mana Chen sendirilah yang telah menorehkan luka itu. Dengan sangat dalam.

BUK! BUK! BUK! BUKBUKBUK!!!!

"ARRGGG!!! BICARALAH BRENGSEK!!"

BUK!

"Aku harus bagaimana bila setiap detiknya hidupku adalah dirimu... Aku harus bagaimana bila hati ini hanya ingin dirimu... Aku harus bagaimana dengan perasaan ini bila ternyata kau bahkan tak ingin mencintaiku. Bila kau yang bersamaku disetiap detik hidupku saja sudah menolakku, lalu aku harus bagaimana?!!. Bagaimana Kim Jongdae?!!. KATAKAN! KATAKAN PENGECUT!. CEPAT KATAKAN KAU JUGA MENCINTAIKU!. KATAKAN KAU MENCINTAIKU!!. AKU TAK PEDULI APA KATA DUNIA. AKU TAK PEDULI BAHKAN BILA DUNIA MELUDAHIKU DAN MENGATAIKU JALANG YANG MERAYU AYAHNYA SENDIRI. AKU TAK PEDULI BILA KARIRKU HANCUR KARENA SEKARANGPUN AKU SUDAH MERASA HANCUR LEBUR DI DALAM SANA. KAU DENGAR ITU PAK TUA?, AKU TAK PEDULI!!!. Aku hanya ingin kau..." Xiumin meremat kuat kerah piama Chen, suaranya menjadi sangat pelan dan serak diakhir kalimatnya yang sudah terlalu banyak berteriak tepat didepan wajah Chen.

Tidak...

Xiumin tetap tak menangis.

Sesuai janjinya, Xiumin tak akan menangis lagi untuk seorang Kim Jongdae si ayah angkatnya.

Air mata tak akan bisa menyelesaikan masalah mereka berdua sekarang.

Xiumin sudah tak mendapatkan Chen saat Xiumin memintanya. Xiumin tak mendapatkan Chen saat Xiumin merajuk dan tak ingin menemuinya. Xiumin tak mendapatkan Chen saat Xiumin baik dan lembut padanya.

Dan sekarang; "Maafkan aku Xiu..."

Xiumin tetap tak mendapatkan Chen saat Xiumin marah besar padanya.

Dengan kedua tangannya, Chen meraih kedua tangan Xiumin yang sedang meremat kerah baju miliknya. Mengelus punggung tangan itu pelan dengan kedua jempolnya. Mencoba memberikan efek menenangkan pada hati Xiumin yang sebentar lagi -

"... kau selamanya tetap putraku. Seperti yang seluruh dunia tahu."

- kembali dipatahkan.

Mata Xiumin tampak memerah, namun pria manis itu tetap sekuat tenaga menahan untuk tak menangis. Mata merah Xiumin menatap garang tepat dan lurus kepada mata Chen yang memandang Xiumin dengan sungguh dalam.

"Lucu sekali..." Xiumin berdesis sedingin es.

"Bisa kau berkaca sekarang?. Kau kembali menatapku dengan tatapan itu!!, matamu meneriakkan, kau sungguh ingin mencintaiku. Tapi mulutmu justru mengatakan hal sebaliknya. Astaga.. kejam sekali. Kau sungguh kejam. Kau mengerikan." Xiumin menarik tangannya kasar dari genggaman tangan Chen, kemudian meremat rambutnya dengan kuat, kepalanya sungguh terasa pusing dan sakit sekarang, tekanan hati karena cinta memanglah penyebab stress paling mengerikan yang bahkan sampai sekarang tak ada obatnya.

"Maafkan aku Xiu.."

"Berhenti minta maaf!. AKU MUAK MENDENGARNYA!" Xiumin membentak Chen begitu saja sambil menutup kedua telinga dengan kedua tangannya.

"Daripada meminta maaf, harusnya kau beritahu aku bagaimana caranya menghilangkan sakit hati ini?!. Daripada minta maaf harusnya kau beritahu aku bagaimana caranya menghilangkan perasaan sialan ini?!. Daripada minta maaf harusnya dari awal jangan biarkan aku mengenalmu!!. Terlambat sudah untuk minta maaf bila segalanya sudah begini, harusnya dari awal kau tak pernah melihatku saat bayi, harusnya dari awal kau tidak merawatku dan membesarkanku, harusnya dari awal BIARKAN SAJA AKU MATI BERSAMA ORANGTUAKU. Harusnya aku mati saja di kecelakaan itu daripada kau besarkan aku hanya untuk kau buang di kemudian hari!!. AKU HARUS BAGAIMANA BILA SETELAH KECELAKAAN ITU HIDUPKU HANYALAH UNTUKMU?!!. KENAPA JUSTRU KAU TOLAK AKU SEKARANG?!" Xiumin berteriak pada Chen seperti orang gila, keduanya bahkan tak peduli dengan pemandangan indah matahari di ufuk timur yang dengan tragisnya tetap saja terbit tak peduli bila akan disambut dengan senyum ataupun tidak.

"Jangan membahas kecelakaan itu Xiu." Ujar Chen dengan suara yang hebatnya masih tetap terdengar ramah dan nyaman didengar, sungguh lembut dan merdu, Chen selalu berusaha untuk jangan sampai bersuara keras pada Xiumin dalam situasi apapun.

Namun hal itu justru membuat emosi Xiumin semakin memuncak. Pria manis itu seakan ingin meledak. Sepertinya inilah puncaknya dari seluruh luka hati Xiumin.

"Kau yang lebih dulu membahasnya!, kau membahasnya kemarin, di kapal saat perjalanan kesini. AKU MENDENGAR SEGALANYA!!"

Mata Chen terbelalak terkejut, dan Xiumin menampilkan senyum sakit hatinya melihat ekspresi itu.

"KENAPA?. TAK BOLEH?. KENAPA KITA SELALU MENGHINDARI MASALAH ITU?!. KECELAKAAN ITULAH YANG MENGHANCURKAN SEGALANYA. KAU YANG MENJADI TAKUT DARAH. AKU TAKUT PETIR. DAN TUAN BYUN YANG MENJADI TAK BISA MELIHAT. LALU KEMATIAN TUAN DAN NYONYA BESAR BYUN, KEMATIAN ORANG TUAKU, LALU... LALU.. KAU DAN AKU MENJADI ANAK DAN AYAH!!, SEMUANYA KARENA KECELAKAAN ITU. KENAPA SEMUA INI TERJADI PADA KITA?!!. TAK ADIL SEKALI!!. SEMUA INI TAK AKAN TERJADI ANDAIKAN SAJA ORANG ITU TAK PERNAH--

"CUKUP!!. HENTIKAN KIM MINSEOK!!" Teriakan murka Chen menghentikan Xiumin dari sikap hilang kontrolnya, menghentikan Xiumin berkata- kata sebelum segalanya menjadi terlambat dan semakin runyam.

Xiumin bungkam dengan badan bergetar kuat.

Tampak pucat pasi bagai patung es dan hanya dalam hitungan detik hingga tubuh itu rebah ke belakang, yang untung saja Chen lebih sigap bergerak hingga dapat menangkap Xiumin sebelum pria manis itu jatuh.

Dan sekarang Xiumin pingsan di dalam pelukan pujaan hatinya.

Inilah alasan Chen dan Baekhyun tak ingin membahas kecelakaan 19 tahun. Inilah alasan Chen selalu berusaha bersikap dan berkata lembut, tenang, dan santai apapun yang terjadi, dan inilah yang membuat Chen tak mengungkapkan kebenaran hubungan mereka berdua kepada dunia.

Xiumin itu seperti gunung es.

Kokoh... namun dapat pecah kapan saja.

Dapat pecah karena pukulan kenyataan, dapat pecah karena tekanan emosi, dan dapat pecah bahkan hanya karena gema suara yang keras.

Tak seperti Baekhyun yang masih bayi saat kecelakaan naas itu terjadi, sehingga tak mengingat apapun dari kejadian tersebut selain dari hasil cerita semua orang.

Xiumin dan Chen merupakan saksi mata nyata yang masih hidup dari semua kejadian mengerikan itu. Kecelakaan itu terjadi tepat di depan mata mereka. Merasakannya langsung tentu jauh berbeda dengan hanya mendengarnya melalui cerita.

Mata jernih Xiumin yang baru berumur 2 tahun adalah saksi hidup yang menatap dengan jelas bagaimana mobil yang membawa kedua orangtuanya tertabrak dan kemudian terseret sepanjang jalan dengan brutal hingga akhirnya jatuh ke jurang.

Itu adalah kejadian yang terlalu luar biasa untuk dapat di lupakan Xiumin yang saat itu bahkan baru berumur 2 tahun meskipun pria ini sangat ingin melupakannya sekarang. Terkadang tubuh lebih ingat daripada otak.

Xiumin tak hanya sekedar takut petir. Namun trauma yang Xiumin dapatkan membuat pria manis ini tak bisa menerima suara keras dan mengejutkan. Seperti petir, suara tembakan, kembang api, sirine ambulance, dan bahkan suara bentakan orang lain yang sungguh keras tepat didepannya. Segalanya terasa seperti suara tabrakan mobil yang keras bagi Xiumin. Pria mungil yang selama hidupnya tak pernah mau menonton film perang dan horor itu selalu menghindari tempat ramai macam apapun.

Dengan tangan kekarnya Chen memeluk dan menahan tubuh Xiumin di dalam pelukannya. Tanpa seorangpun ketahui, cairan hangat itu menuruni pipi Chen dengan perlahan. Pria yang sudah merasakan hidup selama 40 tahun ini membenamkan tangis pilu tanpa suara diatas bahu Xiumin yang terkulai tak sadar dipelukannya.

"Maafkan aku.. Maafkan aku karena membentakmu.. Xiu, maafkan aku." Suara Chen terdengar bergetar disela tangisnya.

Hal ini juga menyakitkan untuknya.

Andaikan ada kata yang lebih dalam daripada 'mendamba', maka akan Chen gunakan untuk ditempeli dan ditulisi dalam setiap bagian diri Xiumin untuknya. Akuilah, menolak hal yang paling didambakan tepat di depan matamu, adakah yang sanggup melakukan itu?. Apalagi hal yang didambakan dengan suka rela dan bahkan memaksa untuk di terima. Entahlah..

Namun yang pasti, rasanya.. pasti sialan sakit untuk dilakukan.

Tapi Chen akan menahannya, dirinya akan terus menahannya. Dirinya tak akan mau bila Xiumin harus menerima hujatan seluruh negeri karena hubungan mereka,

karena Xiumin,

tak akan sanggup menahan suara sekeras itu.

Biarkanlah Chen menjadi seekor buaya yang terus kelaparan karena justru memilih menjaga Xiumin si Kucing, alih- alih memakannya.

"Maafkan aku Xiu. Kau terlalu imut untuk dunia ini..."

.

.

.

.

TBC

AN :

(usap air mata)

#MasihTeamXiumin #UminPastiKuat #GakNyangkaTernyataXiuminPunyaPenyakitMentalYangCukupParah #AkuMohonHappyEndingForChenMin

#SilahkanDiGeserKeChapterSelanjutnya