Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 21 : S O R R Y
.
.
.
Musim Panas, 2011
- 08 : 10 AM -
Chanyeol menatap dengan khawatir pada Baekhyun yang berada disampingnya, sambil menggenggam erat tangan lentik sang kekasih yang terasa sungguh dingin sejak tadi. Baekhyun tampaknya tengah gugup. Wah.. ternyata seorang CEO Byun bisa gugup juga, pikir Chanyeol.
Pagi ini, setelah menyelesaikan kasus siapakah pemilik sah dari kaus abu- abu.
Keduanya datang ke kamar Xiumin dan Chen dengan tujuan ingin mengetahui jadwal dan persiapan kegiatan mereka yang seharusnya Xiumin laporkan beberapa menit yang lalu, namun si sekretaris kesayangan Tuan Muda Byun itu tak datang- datang juga. Xiumin bukanlah tipe orang yang menyukai keterlambatan walau hanya semenit, membuat Baekhyun langsung menyimpulkan pasti ada suatu hal yang telah terjadi.
Tepat saja tebakan Baekhyun.
Dan pemandangan wajah pucat Xiumin yang terbaring di ranjang King Size lengkap dengan selang dan jarum IV terhubung ditangan kirinya untuk memberikan nutrisi pada tubuh Xiumin yang sudah sepucat mayat itulah yang Chanyeol saksikan, dan Baekhyun rasakan.
Baekhyun sensitif pada aroma obat dan segala macam hal medis lainnya. Meski tak melihatnya, Baekhyun tahu ada yang sakit disini.
"Apa yang terjadi?" Tanya Baekhyun pelan dengan suara renyahnya.
Chanyeol dapat melihat bagaimana wajah Chen tampak sangat putus asa dan tertekan. Orang penting dari BB Entertainment itu tampak sangat tak berdaya, aura segar dan mempesona yang selama ini selalu ditampilkan tak tampak sama sekali saat ini.
Bukannya menjawab, Chen justru berlalu melewati mereka berdua. Kembali menghampiri Xiumin setelah sebelumnya beranjak pergi dari sisi pria manis kesayangannya itu untuk membukakan pintu kepada Chanyeol dan Baekhyun. Chen kembali duduk di bagian samping ranjang yang Xiumin tempati.
Chanyeol mengamati bagaimana lembutnya Chen meraih tangan kanan Xiumin yang bebas tanpa jarum IV. Kemudian menggenggam tangan itu dengan penuh perasaan, seperti tengah berdoa sambil menggenggam tangan orang yang paling berharga baginya.
"Sekretaris Kim pingsan?. Humm... dia sudah lama tak seperti ini. Apa yang sudah terjadi Tuan Kim?" Tanya Baekhyun lagi dengan suara yang lebih pelan dan lebih sopan.
Baekhyun sedang marah sekarang. Amarah yang timbul dari kekhawatiran. Di dalam hatinya Chanyeol simpulkan, pria ini memang tiada bosannya terus berusaha mengerti kekasihnya.
"Dia marah besar padaku, dia kembali membahas kecelakaan 19 tahun lalu, dan kemudian aku terlanjur membentaknya karena panik ingin menghentikan dia membicarakan hal itu terlalu jauh."
Kronologi yang sungguh singkat, jelas, dan padat.
Chanyeol mengangkat kedua alisnya. Ow.. ini pertama kalinya Chanyeol mendengar Chen berbicara dengan bahasa informal pada Baekhyun.
Baekhyun yang mendengar itupun terlihat menghela napas. Kemudian menjadi sangat bungkam dan bisu. Chanyeol bahkan yakin Baekhyun hampir tak berkedip. Kekasihnya tampak sangat tegang dan pucat.
"Maafkan aku Ahjussi." Chanyeol terbelalak mendengarnya. Kenapa Baekhyun justru mengatakan permintaan maaf.
Hei..
Kenapa Baekhyun harus minta maaf?. Kecelakaan yang mereka bahas ini adalah kecelakaan orangtua Baekhyun dan Xiumin kan?, Baekhyun tak salah apa- apa, tak ada alasan untuk meminta maaf seperti itu. Ada apa ini?.
Chen hanya diam tak mengatakan apapun.
"Apa kata dokter?" Tanya Baekhyun lagi, kali ini Chen langsung menjawabnya meski dengan suara tak bersemangat.
"Dia kelelahan, kurang tidur, kurang makan, terlalu banyak bekerja, dan stress." Jawab Chen.
Baekhyun terdiam sebentar, sebelum akhirnya berkata.
"Hari ini kita tak akan ada kegiatan apapun. Kita mulai kegiatannya besok saja. Tolong kabarkan pada semuanya bahwa mereka bebas untuk liburan dan menikmati fasilitas apapun di Resort selama sehari dan semalam sampai besok. Saya pamit." Chen hanya mengangguk saat mendengar itu, matanya sama sekali tak beranjak dari wajah pucat Xiumin yang sedang dalam keadaan tak sadar.
"Ayo kita pergi Chan.." Ujar Baekhyun berbisik pada Chanyeol.
Chanyeol pun hanya mengangguk dan memulai langkah mereka berdua. Keduanya beranjak pergi sambil bergandengan tangan.
.
.
Chanyeol menghela napas pelan. Merasa gelisah namun tak berani bersuara. Alhasil Chanyeol hanya dapat menggosokkan kedua tangannya canggung. Sesekali pria kelahiran 1992 ini memainkan jarinya diatas tatto dilengannya, berusaha mencari kesibukan di atmosfer yang aneh ini.
Lihatlah Baekhyun sekarang, terdiam tak bersuara, bersandar di dinding samping pintu didepan kamar Xiumin dan Chen. Dan jangan lewatkan ekspresi wajah berpikir yang tampak sungguh kaku itu. 15 menit sudah berlalu dan Baekhyun tetap seperti itu.
Tolong jangan diamkan Chanyeol seperti ini.
Pria itu akan merasa tak nyaman.
Chanyeol akan merasa ketidakberhargaan diri yang mengerikan saat seseorang mendiamkannya, alih- alih menjelaskan padanya apa yang salah disini.
Tolong beri tahu Chanyeol apa yang terjadi.
"Baek... bukankah kau sudah sedikit keterlaluan!." Chanyeol berseru protes pada kekasihnya, sudah tak tahan lagi.
"Aku adalah kekasihmu. Bila ada masalah, ceritakan padaku, kenapa kau sembunyikan sendiri. Lalu aku ini... apa..." Inilah yang Chanyeol benci dari dirinya sendiri, menjadi penggerutu dan kekanakan bila sudah merasa tak nyaman.
Detik selanjutnya Baekhyun terperanjat. Lalu dengan cepat menyambar baju Chanyeol yang berada disampingnya. Pria mungil ini baru tersadar dari lamunannya.
"Oh astaga.. Chan, maafkan aku." Ujar Baekhyun dengan panik saat mengingat apa yang sudah dirinya lakukan tanpa sadar pada Chanyeol.
Giliran Chanyeol yang terbelalak terkejut. Dirinya tak pernah melihat Baekhyun bersikap panik, "T-Tak apa Baek.. kau pasti sedang banyak pikiran.." Chanyeol bergumam sambil terkesima.
"Iya itu benar. Tapi tetap saja, harusnya aku tak mendiamkanmu, dan harusnya aku menjelaskannya padamu. Oh astaga, maafkan aku Chan. Aku berjanji hal seperti ini tak akan terjadi lagi. Aku.. Aku hanya terlalu bingung sekarang. Xiumin Hyung sudah lama tak seperti ini, jadi aku.. aku.."
"Hey.. hey.. hey.. Baek, tak apa.. aku bilang tak apa." Chanyeol dengan cepat memeluk tubuh mungil kekasihnya yang tak biasanya bersikap panik itu.
Chanyeol tertegun.
Tubuh Baekhyun dingin sekali... dan gemetaran.
Baekhyun sedang ketakutan.
Bagaimana bisa Chanyeol tak menyadarinya?
"Baek.. Aku juga minta maaf." Chanyeol bergumam, merasa bersalah akan ketidakpekaan dirinya.
Pasangan ini ternyata masih banyak harus belajar.
Baekhyun menggeleng keras di dalam pelukan Chanyeol. "Kau sudah lebih dari segalanya yang pantas aku dapatkan. Jangan minta maaf, itu membuatku semakin merasa bersalah." Chanyeol melepaskan pelukannya, menatap Baekhyun dengan bingung.
"Kau banyak meminta maaf hari ini?. Dan kenapa kau terus merasa bersalah?. Kau bahkan meminta maaf pada Chen Ahjussi." Tanya Chanyeol bingung.
Mendengar itu membuat Baekhyun terdiam sebentar, sebelum akhirnya senyuman terbit dibibirnya. Baekhyun sedang mencairkan suasana, pikir Chanyeol.
Karena, senyum Baekhyun memang selalu berhasil memberikan letupan di dada Chanyeol. Berdebar namun menenangkan.
"Aku sangat suka saat kau banyak tanya seperti ini." Komentar Baekhyun tiba- tiba, kemudian mengalihkan pandangannya ke samping. Memandang kosong ke arah pintu kamar Xiumin dan Chen.
"Aku merasa bersalah karena diriku bahagia bersamamu. Sedangkan kedua orang itu harus merasakan siksaan hati yang kita semua tak tahu bagaimana sakitnya. Aku merasa bersalah karena aku bahagia bersamamu, sedangkan mereka berdua tak bisa merasakan bahagia yang sama." Chanyeol terdiam lama mendengar itu.
"Hentikan." Ujar Chanyeol dengan suara tegas, pria tinggi ini meletakkan kedua tangannya pada kedua bahu Baekhyun.
Baekhyun terkesiap.
"Bukan salahmu mereka tak bisa bersama Baek. Ini adalah salah mereka sendiri yang terlalu larut pada ego masing- masing. Dan Chen Ahjussi yang terlalu keras kepala." Baekhyun memandang Chanyeol dengan sedih.
"Maafkan aku Chan.." Dahi Chanyeol mengerut.
"Baek, berhenti meminta maaf. Kau membingungkan." Ujar Chanyeol yang bingung akan kekasihnya hari ini. Chanyeol menyerah, Baekhyun terlalu membingungkan untuk ditebak isi kepalanya.
"Maafkan aku karena tak menjelaskan yang sebenarnya padamu. Aku menjelaskannya, namun tak semuanya." Chanyeol terdiam mendengar itu.
Baekhyun berbohong padanya?, Kapan?.
"Tentang apa?" Tanya Chanyeol dengan suara pelan.
"Tentang Chen Ahjussi, Xiumin Hyung, dan kenapa mereka berdua harus melewati jalan yang sulit untuk bersama." Ujar Baekhyun.
"Jadi, apa yang terjadi pada mereka?" Chanyeol bertanya sambil menurunkan tangannya dari bahu Baekhyun. Membuat Baekhyun merasa kehilangan dan tubuhnya mulai menagih Chanyeol untuk kembali mendekat padanya.
Namun sekarang tidak bisa. Baekhyun harus menjelaskan segala hal yang selama ini dirinya sembunyikan dari Chanyeol. Dari awal sampai akhir.
Baekhyun menghela napas memulai ceritanya.
"Sesungguhnya, kecelakaan itu menghantui kami semua. Terutama Chen Ahjussi dan Xiumin Hyung, aku sudah melupakannya karena aku masih bayi saat itu terjadi, namun itu berbeda dengan mereka. Setelah kecelakaan itu, perlu waktu 10 tahun untuk Chen Ahjussi hingga dia berani mengemudi mobil lagi. Dan perlu hampir seumur hidup Xiumin hingga dia terbiasa dengan suara- suara keras. Xiumin saat kecil bahkan akan gemetaran ketakutan bila ada orang yang memukul meja dengan keras disampingnya. Xiumin mulai membaik dan terus membaik setiap tahunnya, tapi terkadang... trauma itu kembali lagi bila ada pemicu kuat, karena itulah aku dan Chen Ahjussi menghindari topik tentang kecelakaan itu didepan Xiumin Hyung. Karena itulah kami semua tak pernah menceritakan luka kami akan kecelakaan itu." Baekhyun menjelaskannya dengan suara pelan menenangkan.
Chanyeol diam mendengar itu semua dengan seksama.
"Hari itu pasti sangat mengerikan untuknya." Chanyeol bergumam pelan, menyesali akan bagaimana bisa dirinya tak memikirkan ini sebelumnya. Xiumin jugalah saksi mata kecelakaan orangtua Baekhyun, dan juga.. orangtua Xiumin sendiri.
"Dia marah besar padaku.."
Chanyeol teringat kata- kata Chen tadi. Oh.. itukah pemicunya. Bila itu karena Xiumin marah kepada Chen, itu artinya.. tak jauh- jauh dari topik Chen yang terus menolak Xiumin.
"Apakah Chen Ahjussi tak akan bisa menerima Xiumin Hyung?" Chanyeol bergumam pelan.
Wajah Baekhyun kembali terlihat keruh.
"Aku rasa hal itu semakin menjadi tak mungkin. Karena hubungan mereka tak lah sesederhana Pernyataan cinta dan Penerimaannya. Chen Ahjussi adalah pria 40 tahun yang pikirannya tak sesingkat itu. Banyak faktor yang membuatnya terus menolak Xiumin dan menolak kata hatinya sendiri." Jawab Baekhyun.
"Jadi, bagaimana... sekarang... mereka.. berdua." Chanyeol sekarang menjadi takut bertanya.
Apakah semuanya akan baik- baik saja?
Baekhyun mendongak ke arah Chanyeol dengan wajah serius dan kaku.
"Sekarang aku beritahu kau Chan, kenapa aku tak pernah bisa memaksa Chen Ahjussi untuk menerima perasaan Xiumin. Chanyeol ah, kau tahu benar siapa itu Kim Jongdae. Pendiri dari agensi kebanggaan kita BB Entertainment. Seseorang yang sungguh berjasa dalam dunia musik Korea Selatan dan ikut dalam barisan awal yang memperjuangkan gerakan gelombang hallyu ke dunia."
"Dia adalah wajah dari BB Entertainment. Jika nama seorang Kim Jongdae rusak, menurutmu apa yang akan terjadi pada BB Ent?"
Chanyeol terkesiap mendengar itu. Kenapa dirinya tak pernah memikirkan ini sebelumnya?.
"Intinya, Chen hancur, maka BB Entertainment juga akan ikut hancur. Dan jika itu terjadi, MAKA... seluruh Idol, Trainee, Staff, dan semua pekerja di situ akan menerima imbasnya. Layaknya kepakan sayap kupu- kupu kecil di dalam hutan bisa menghasilkan angin tornado ke desa yang berjarak ratusan kilometer jauhnya. Butterfly effect yang terjadi bila saja mereka berdua mengumumkan hubungan mereka sangatlah tak terbayangkan."
"Chen Ahjussi hanya ingin melindungi semua orang terutama Xiumin Hyung. Bayangkan ini.. Kyungsoo saja sekarang sudah memiliki 5 juta orang di fanclubnya dengan kerja sama bersama belasan merek pakaian, parfum, kosmetik, perusahaan traveling, dan banyak lagi. Yang bila nama dari agensi tempat Idol D.O bernaung menjadi rusak artinya perusahaan yang bekerja sama itu produknya yang D.O iklankan juga akan menjadi rusak. Bila itu terjadi, maka BB Grub akan mengganti uang finalti yang tak terbayangkan jumlahnya. Dan itu baru dari satu Idol. Belum lagi Idol yang lain. Namun bagiku dan Chen Ahjussi, bukan uanglah masalahnya disini, tapi Xiumin Hyung."
"Kau kira Xiumin akan baik- baik saja melawan banyaknya fans yang marah?. Kau kira Xiumin akan baik- baik saja melawan ratusan staff BB Entertainment yang menjadi pengangguran. Jika pengasuhku saat bayi saja bisa hampir membunuhku, kita tak tahu bagaimana mengerikannya orang- orang itu bisa berubah. Dan satu lagi.. bila Chen hancur, dan BB Entertainment hancur, maka..., Chanyeol ah... kau tak akan bisa debut di agensi itu."
Chanyeol kehabisan kata- kata.
"Kenapa kau tak menjelaskannya dari awal BAEK?!!. Kau bilang awalnya ini hanya untuk melindungi mereka dari gunjingan orang- orang, dan untuk melindungi image Jimin yang akan menjadi Idol!!!"
Baekhyun menutup matanya mendengar Chanyeol berseru keras padanya.
"Astagaaa.. bila begini, aku yang akan ikut merasa bersalah kepada mereka berdua..." Chanyeol kehabisan kata- katanya.
"Baekhyunah... kau.." Chanyeol memanggil nama Baekhyun lirih.
Pria tinggi itu menatap Baekhyun dengan pandangan terluka dan merasa bersalah.
Merasa bersalah entah pada apa dan entah pada siapa.
Pantas saja Baekhyun sampai terdiam ketakutan tadi, Chanyeol bahkan tiba- tiba menjadi pening sekarang.
"Kenapa kau tak pernah memberitahukannya padaku yang lambat ini... pikiranku tak akan pernah sampai ke situ.. harusnya kau jelaskan dari awal..." Baekhyun merasakan sesak di dadanya saat mendengar nada lirih Chanyeol.
"Karena... Karena aku terlalu peduli padamu. Aku tak ingin kau merasa terbebani, karena itulah aku menyembunyikannya darimu. Maafkan aku Chan... maafkan aku... aku sungguh takut kau akan pergi." Chanyeol menatap Baekhyun yang tampak sungguh serba salah.
Astaga,
sejak kapan hubungan mereka berdua seperti ini.
Mereka menjadi merasa bersalah karena mereka bahagia bersama.
Dengan lembut Chanyeol meraih tubuh Baekhyun. Menenggelamkan tubuh mungil itu dalam pelukan tubuh besarnya. Chanyeol melingkarkan tangan kekarnya pada bahu kecil Baekhyun. Kali ini Chanyeol tak terkejut saat merasakan badan Baekhyun yang terasa dingin dan bergetar.
"Ssstt... tenanglah, aku tak akan pergi darimu." Chanyeol berujar dengan nada menenangkan.
"Meski aku tak bisa debut. Meski aku tak bisa menjadi Idol. Aku tetap akan disisimu." Chanyeol sungguh- sungguh mengatakannya.
Yap. Itu serius
Baekhyun mendongak, "Jangan hancurkan mimpimu untukku Chan. Kau lupa apa yang kau katakan sendiri padaku?. Mimpimu adalah hidupmu." Chanyeol menunduk memandang wajah kekasihnya.
Tersenyum sayang sambil memandang wajah Baekhyun. Chanyeol berani taruhan, Chanyeol tak akan mendapatkan orang lain yang peduli padanya lebih daripada Baekhyun diseluruh dunia ini.
"Kau lupa apa yang aku katakan?, aku bermimpi menjadi penyanyi yang bisa orang kenang, bukan penyanyi terkenal." Baekhyun menggeleng menjawabnya, menandakan dirinya tak lupa itu.
Dengan lembut Chanyeol meraih wajah Baekhyun dengan kedua telapak tangannya.
"Mimpiku sudah kau kabulkan sejak lama Tuan Byun. Karena aku memiliki dirimu yang terus mengenang seorang Penyanyi Park bahkan bila aku hanya pergi 30 menit dari sisimu. Aku adalah penyanyi Park yang selalu di cari keberadaannya, oleh dirimu. Mimpiku telah terkabul. Kau yang mengabulkannya."
Mata Baekhyun memerah mendengar itu.
"Aku juga bingung dan merasa bersalah pada Xiumin Hyung dan Chen Ahjussi. Namun, segala hal yang terjadi pada mereka tak sepenuhnya salah kita. Tapi juga tergantung pada keputusan mereka berdua, merekalah pemegang kendali dari hidup mereka sendiri. Aku yakin Tuan Muda Byun yang hebat tak akan menelantarkan para Idol, Staff, Trainee, dan pekerja lainnya dari Agensinya bila saja agensi itu hancur. Aku juga tak keberatan bila tak menjadi Idol di BB, aku bisa berjuang lagi audisi ditempat lain. Kembali lagi... apakah Chen Ahjussi dan Xiumin cukup egois untuk berhenti mengalah kepada kita semua, kemudian memperjuangkan cinta mereka."
Baekhyun tersenyum mendengar itu semua, "Sekarang aku paham kenapa orang bilang punya kekasih itu menyenangkan. Aku punya teman berdiskusi dari masalahku."
"Cih.. kau baru tahu ternyata." Pria kekar penuh tatto itu kembali menenggelamkan kekasihnya ke dalam pelukannya.
"Untuk selanjutnya, jangan sembunyikan apapun dariku. Jelaskan semuanya.. katakan semuanya..." Ujar Chanyeol dengan suara merajuk.
Baekhyun tertawa mendengarnya.
Lalu dengan nada jahil menjawab, "Aku tak bisa janji."
"Haishhhh.." Chanyeol menggerutu, dan hanya Baekhyun jawab dengan tawa renyahnya.
.
.
"OPPA!! CHANYEOL OPPA!"
Sebuah teriakan kekanakan mengintrupsi moment kedua pria ini. Sontak keduanya menoleh ke arah suara. Chanyeol mendapati Jimin yang berlari kencang ke arah mereka. Dengan perlahan keduanya memisahkan diri.
"Min- Hahhh... Hahhhh.. Minseok Oppa bagaimana?. Apa yang terjadi?" Sepertinya Chen sudah mengumumkan sesuai dengan yang Baekhyun perintahkan, kemudian memberi tahukan alasan ditiadakannua kegiatan hari ini kepada Jimin si adik sepupu Xiumin.
Tak seperti Chanyeol yang bingung harus menjawab apa agar Jimin menjadi tak terlalu khawatir.
Baekhyun justru dengan cepat langsung menampilkan senyum tenang yang teramat manis. Menakjubkan bagaimana pria mungil itu dapat menghadapi situasi mendesak dengan sangat sigap.
Baekhyun mengangkat tangannya pelan, Jimin yang melihat itupun langsung paham. Kemudian gadis bermarga Shin ini dengan imutnya memposisikan kepalanya tepat dibawah telapak tangan Baekhyun. Memudahkan Baekhyun yang ingin mengelus rambutnya.
"Tarik napas dulu.. tak apa Nona Jimin, dia hanya kelelahan bekerja. Ada Chen Ahjussi yang merawatnya sekarang. Eh, tapi kau tak boleh mendatangi mereka. Kita semua tak boleh mengganggu mereka. Kita berikan dua orang itu waktu berduaan hari ini." Baekhyun memberikan nada jenaka diakhir kalimatnya.
Jimin terdiam sebentar mendengar itu, kemudian balas tersenyum kepada Baekhyun meski tahu, Baekhyun tak akan melihat senyumnya.
"Jadi, Oppaku sungguh tak apa?" Tanyanya lagi memastikan.
Baekhyun mengangguk, kemudian melepaskan tangannya dari kepala Jimin.
Terlihat oleh Chanyeol bagaimana Jimin menghela napas lega. "Astaga.. aku tak bisa memikirkan apapun saat Chen Ahjussi mengatakan Oppaku pingsan, aku tak sadar justru berlari turun dari lantai 4 menggunakan tangga darurat bukannya pakai lift." Ujar gadis mungil ini dengan polosnya.
"Kau sudah tenang sekarangkan?" Tanya Chanyeol pada Jimin, dan dibalas dengan anggukan.
Chanyeol berdehem tak enak hati.
"Aku rasa kau harus memperbaiki riasanmu." Ujar Chanyeol dengan sungguh pelan, merasa takut menyinggung Jimin.
Jimin pun menatap Chanyeol dengan bingung. Kemudian dengan sigap merogoh ponsel genggam miliknya dari kantung hotpantsnya, dan segera menghidupkan kamera bagian depan untuk bercermin.
Mata Jimin terbelalak menatap pantulan wajahnya sendiri.
Rambut yang acak- acakan dan kentara sekali hanya disisir dengan tangan. Alis yang sama sekali tak simentris dan rapi, eyeliner yang telah luntur karena keringat dan meleleh bagaikan mata hantu dibagian bawah matanya, kemudian jangan lupakan lipstick yang sudah tampak seperti Harley Quinn. Sebenarnya apa yang Jimin lakukan sambil berlari menuruni tangga sebanyak 2 lantai.
"HUAAA... CHANYEOL OPPA SUDAH MELIHAT AIBKU!!." Jimin langsung berteriak dengan suara tangisan palsu.
Jangan ditanya dimana gadis itu sekarang. Saat menyadari situasinya, Jimin langsung mengambil langkah seribu. Berlari pergi secepat mungkin menjauh dari Chanyeol dan Baekhyun.
"Ingat jangan pakai tangga lagi, pakai lift saja!. Kau sedang pakai heels!" Chanyeol berteriak mengingatkan sahabat mungilnya itu.
Sontak Baekhyun dan Chanyeol tertawa bersama, seolah- olah sebelumnya tak terjadi pembicaraan yang memusingkan diantara mereka berdua. Astaga Shin Jimin... ada- ada saja. Sekhawatir apa dia hingga menjadi seperti itu.
"Dia sungguh imut." Komentar Baekhyun, dan Chanyeol berdehem menyetujui.
"Aku harap dia bertemu dengan pasangan yang baik. Tapi siapapun itu, aku rasa sulit untuk mendapatkan Jimin. Karena pria atau wanita itu harus lebih dulu lolos seleksi ketat dari aku, Xiumin Hyung, dan Chen Ahjussi. Kami sedikit terlalu protektif padanya, apalagi Xiumin Hyung." Chanyeol memandang wajah kekasihnya saat Baekhyun mengatakan itu.
"Kau terdengar seperti seorang ayah yang tak rela melepaskan putrinya." Komentar Chanyeol.
Baekhyun tertawa pelan mendengarnya.
"Terimakasih sudah ikut mengalihkan fokus Jimin dari topik kondisi Oppanya. Xiumin Hyung pasti tak ingin terlihat seperti itu di depan adik sepupunya." Ujar Baekhyun kepada Chanyeol.
Chanyeol pun hanya tersenyum maklum, kemudian mengangguk.
"Jadi kita free hari ini kan?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun, dan dibalasi dengan anggukan dari orang nomor satu BB Grub itu.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Chanyeol pada sang kekasih.
Baekhyun tampak tersenyum lembut. "Ayo kita pikirkan sambil sarapan, aku lapar setelah bertaruh bersamamu." Chanyeol tersenyum cerah mendengarnya, kemudian dengan sigap menggandeng tangan Baekhyun, membawa keduanya berjalan menuju lift untuk turun ke lantai 1, tempat BB Restaurant berada.
"Tuan Muda Byun.. seingatku, kau sangat ingin memakai kaus berwarna abu- abu hari ini. Kenapa sekarang memakai kaus yang lain?" Tanya Chanyeol dengan amat menyebalkannya mulai menggoda Baekhyun.
Baekhyun memukul pelan bahu Chanyeol.
"Diam!." Serunya kesal, dan dibalas dengan tawa puas oleh Chanyeol yang telah sukses menggoda kekasihnya.
Keduanya kompak melangkah menuju arah lift berada, namun terhenti sebentar, saat Chanyeol melihat ada orang lain didepan mereka.
Terlihat seorang gadis cantik sedang memperbaiki rambut dan bajunya disalah satu cermin yang ada di dinding koridor hotel ini.
"Siapa?" Tanya Baekhyun kepada Chanyeol dengan bisikan.
"Kau sudah cantik apapun yang kau pakai Kyungsoon ah. Selamat pagi." Chanyeol berujar ramah kepada gadis itu, dan secara tak langsung memberitahu Baekhyun siapakah gadis yang bersama mereka.
Tampak wajah Kyungsoon yang terkejut dan menoleh dengan cepat menatap Chanyeol dan Baekhyun yang sekarang bergabung dengannya.
Berselang sedetik, wajah terkejut itu berubah menjadi senyuman hangat.
"Terimakasih. Selamat pagi juga Chanyeol Oppa.. Tuan Muda.." Ujar Kyungsoon dengan ramah.
"Tidurmu nyenyak malam tadi?" Tanya Chanyeol basa- basi.
Kyungsoon tersenyum, kemudian mengangguk.
"Bagaimana dengan Oppa?" Tanya Kyungsoon balik, dengan sopan dan penuh tata krama membalas basa- basi Chanyeol.
Chanyeol justru tersenyum sangat cerah. "Tidurku tak terlalu nyenyak,namun malamku selalu menyenangkan." Jawabnya penuh keambiguan dan tentunya hanya dapat di mengerti oleh dirinya sendiri.
Baekhyun yang sedari tadi terdiam pun menoleh kepada Chanyeol.
"Apa maksudmu?" Tanya Baekhyun penasaran.
Dengan senyuman lebar Chanyeol menoleh kepada Baekhyun.
"Kau mengigau." Jawabnya jujur.
Mata Baekhyun terbelalak, aw.. jarang sekali kita bisa melihat ekspresi terkejut Baekhyun. Lihatlah bagaimana Kyungsoon menatap setiap ekspresi yang Baekhyun tampilkan dengan tatapan antusias dalam diamnya.
"Benarkah?!" Tanya Baekhyun tak menyangka.
"Apa yang aku katakan dalam tidurku?" Tanya Baekhyun lagi.
Chanyeol menggigit bibirnya, ragu.
"Tak terlalu jelas. Kau hanya bergumam, merintih, dan merengek seperti anak anjing selama 40 menit nonstop. Dan itu imut sekaliiii..." Nah, kali ini Chanyeol tak jujur, dan pria tinggi itu mencubiti kedua pipi Baekhyun dengan gemas sebagai pelampiasan gugupnya yang telah menyembunyikan sesuatu dari Baekhyun.
Baekhyun tertawa geli.
"Hentikan Chan.. sakit. Tapi, aku sungguh mengeluarkan suara seperti itu saat tidur?" Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol yang ada dipipinya.
Chanyeol mengangguk bersemangat.
Baekhyun mengalihkan fokusnya pada arah gadis yang sedari tadi hanya diam menonton mereka berdua.
"Seingatku, sore kemarin aku mengumumkan, kamar lantai 2 khusus pria dan kamar lantai 4 khusus wanita, jadi... sedang apa kau disini Kyungsoonnie?" Tanya Baekhyun dengan suara ramah dan sopan.
Kyungsoon menatap wajah Baekhyun dengan cukup lama.
"Saya ingin mengajak Kyungsoo Oppa sarapan, Tuan Muda." Jawabnya dengan suara lembut yang sopan sekali.
Chanyeol menatap Kyungsoon dengan semangat.
"OH! Kami berdua juga!. Ingin bergabung bersama kami saja?. Ayo kita sarapan bersama.." Ajak Chanyeol tanpa pikir panjang.
Kyungsoon terlihat berpikir, tampak ragu. Sedangkan Baekhyun justru menoleh ke arah Chanyeol dengan cepat.
"Kenapa kau jadi semangat sekali setelah mendengar nama Kyungsoo?" Tanyanya dengan suara menyelidik.
Ow
Chanyeol telah salah bersikap.
"Aha aha hahaha.. Kau tahukan Baek. Saat kau sudah bersikap atau menyukai sesuatu terlalu lama. Hal itu menjadi kebiasaan."
Baekhyun membuang mukanya dari Chanyeol.
"Akui saja bahwa kau memanglah Fans Do Kyungsoo luar dalam." Ujarnya sinis.
"Haishhh.. aku sudah tak mengidolakannya lagi!" Chanyeol berseru tak terima, namun Baekhyun mengabaikan itu dan justru tersenyum kearah Kyungsoon didepan mereka.
"Tak usah ajak Oppamu. Kau saja yang sarapan bersama kami ya.." Baekhyun mengajak Kyungsoon dengan ramah.
Tampak mata Kyungsoon terbelalak terkejut, kemudian menampilkan wajah ragu seraya menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian.
"Apakah saya tak akan menganggu Tuan Muda dan Tuan Park?. Saya rasa lebih baik saya bergabung bersama maid yang lainnya saja." Ujar Kyungsoon menolak dengan bahasa yang otomatis menjadi formal bila sudah berbicara dengan Bos Besarnya.
"Aku bersikeras. Ayo, kita sarapan bersama saja Soonie, kau ingin sarapan bersama kami?" Baekhyun kembali bertanya.
Chanyeol hampir saja tertawa.
Kau bertanya seolah- olah ada saja pekerja Mansion Byun yang berani menolak permintaanmu, pikir Chanyeol tertawa geli melihat Baekhyun yang sedang bermain- main dengan otoritasnya.
Dan Kyungsoon?
Tentu saja akhirnya gadis itu mengangguk setuju, tak mungkin gadis itu menolak bila sang Tuan Muda sudah bersuara.
Humm...
Bagaimanakah sarapan hari ini akan berlangsung?
.
.
.
.
TBC
AN :
uhuk uhuk uhuk (batuk palsu)
Maaf ya reader... karena sudah menyembunyikan fakta baru di atas dengan sangat lama. Saya mikirnya, gak seru aja kalau langsung di ungkapkan kemarin :D
Silahkan dibaca Chapter selanjutnya.
