Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 22 : Secret Love Song
.
.
.
Musim Panas, 2011
- 08 : 10 AM -
Di waktu yang sama di saat Chanyeol dan Baekhyun sedang mendatangi kamar Xiumin dan Chen.
Kedua gadis di tangga darurat lantai 4 ini justru menampilkan aura permusuhan yang sungguh pekat. Gelap sekali.
"Katakan sebenarnya.. apa yang sedang kau rencanakan." Ujar gadis bermata kucing yang tampak sudah cantik dengan riasan lengkapnya di pagi hari.
Gadis berambut lurus hitam di depannya terlihat menampilkan wajah bingung.
"Apa maksudmu Jimin ah?. Rencana apa?" Tanyanya dengan nada seolah- olah ada yang menanyakan pertanyaan paling sulit didunia kepadanya.
Jimin memutar bola matanya.
"Berhenti menampilkan wajah palsumu dasar rubah!" Teriaknya kesal.
"Jimin, sekedar mengingatkan saja, aku lebih tua darimu, sopanlah sedikit. Tuan Muda Byun pasti sudah mengajarkanmu sopan santun." Ujar gadis berambut hitam lurus itu.
Jimin berdelik, "Aku hanya akan menghormati orang yang pantas di hormati. Iya, Tuan Muda sudah mengajariku sopan santun, tapi ingat ini... Tuan Muda juga tak pernah mengajarimu untuk menjadi penggemar gilanya, DO KYUNGSOON-SSI" Tampak wajah Kyungsoon berubah tersinggung.
"Apa maksudmu?"
"OH! Kau tahu benar apa maksudku." Suara menghina Jimin terdengar menyebalkan sekali ditelinga Kyungsoon.
"Tidak.. aku tak mengerti." Ujar Kyungsoon dengan wajah angkuh.
Membuat Jimin tertawa jahat.
"HA! Lihatlah, kau akhirnya menampilkan wajah aslimu." Ujarnya puas.
Dan Kyungsoon sudah terlalu kesal untuk kembali menampilkan topengnya.
"Sebenarnya apa maumu?" Tanya Kyungsoon dengan suara yang sangat dingin, tak ada kesan ramah sama sekali.
Jimin menatap takjub sekaligus jijik pada gadis didepannya. Bagaimana bisa ada manusia yang hidupnya amat sangat palsu, pikirnya.
"Aku hanya mau tahu tentang apa yang sedang kau lakukan dan apa yang kau rencanakan?, jika kau mengerti maksudku." Tanya Jimin dengan santai sambil melipat tangan didepan dadanya.
"Memangnya kau siapa ingin tahu apa yang aku lakukan?. Apapun yang aku lakukan, tak ada hubungannya dengan dirimu." Kyungsoon menjawab dengan nada dingin, kemudian beranjak ingin pergi.
"Tunggu sebentar maid cantik.." Jimin menahan tangan Kyungsoon.
"Kau tanya aku siapa kan?. Aku Shin Jimin, fans dari Park Chanyeol." Jimin berucap dengan bangga.
Mendengar nama Chanyeol dibawa- bawa, kilatan tertarik terlihat dari mata Kyungsoon. Intuisi gadis pintar namun licik ini sungguh berjalan dengan akurat.
"Ohhhh.. ternyata kau menyukai pria itu, seleramu rendah sekali. Yah... aku rasa itu cocok untukmu." Kyungsoon berujar meremehkan.
Bukannya tersinggung, Jimin justru tertawa keras hingga terpingkal, membuat Kyungsoon jengah melihatnya. Merasa ditertawakan.
"Kau tak penasaran kenapa aku tertawa?" Jimin bertanya dengan suara geli setelah menyelesaikan tawanya.
Kyungsoon hanya diam. Terlalu gengsi untuk bertanya ataupun menjawab.
"Kau mengatakan seleraku rendah hanya karena menyukai Chanyeol Oppa. Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Byun Baekhyun?. Chanyeol Oppa bahkan sudah menjadi kekasihnya."
Mata Kyungsoon terbelalak menatap Jimin, dan Jimin balas dengan seringai puas.
"Apakah secara tak langsung kau mengatakan bahwa selera Tuan Muda Byun kita rendahan, Kyungsoon eonni?" Jimin tampak puas melihat ekspresi panik dan kesal Kyungsoon.
"Bukan begitu maksudku.." Suara Kyungsoon mengecil diakhir kalimatnya, kemudian mendengus kesal sambil berdelik menatap Jimin.
"Ohh.. memang begitulah maksudmu." Dan tentu sudah menjadi tugas Jiminlah untuk tak mempercayai apapun yang Kyungsoon katakan.
Kyungsoon menggeram kesal.
"Sebenarnya apa maumu heh?!. Kenapa kau repot sekali mengurusi hidupku?" Tanyanya kesal.
Jimin berdelik jenaka.
"Menyebalkan bukan?" Tanyanya, dan Kyungsoon hanya memandangnya dengan tajam.
"Rasanya kau ingin menarik rambutku bukan?" Tanya Jimin lagi memanasi.
Jimin mengibaskan rambut coklatnya dengan anggun dan sedikit berlebihan. Dirinya sudah berdandan dengan sangat baik dan bahkan sampai mengatur rambutnya dari subuh tadi, jadi Jimin sudah merasa cantik sekali.
Saat berperang, senjata dan pelindung adalah hal yang paling utama.
Begitu juga dengan perkelahian antar wanita, wajah yang cantik dan penampilan adalah perlindungan utama, kemudian otak yang pintar dan kata- kata tajam adalah senjatanya.
Jimin sudah memenuhi syarat itu, jadi ayo kita menangkan pertarungan ini.
"Itulah yang membuat aku penasaran. Sebenarnya apa maumu Do Kyungsoon. Kenapa repot sekali mengurusi hidup Tuan Muda Byun dan kekasihnya?" Jimin bertanya dengan suara yang terdengar menyebalkan sekali, seolah- olah Kyungsoon hanyalah hama yang menganggu tanaman.
Kyungsoon memandangnya kesal.
Jimin mengangkat bahunya seolah tak acuh, "Baiklah.. ayo kita lewatkan saja bagian itu. Tak penting juga mencari tahu alasanmu, tentang kenapa kau berkelakuan seperti ini. Ayo kita bahas hal yang lebih menarik." Jimin menyeringai.
"Kau tahu kenapa Tuan Muda Byun tiba- tiba memanggilmu begitu saja saat di kapal kemarinkan?. Wahh.. bagaimana bisa Tuan Muda tahu bahwa kau disitu." Kyungsoon tampak menggepalkan tangannya, namun tak bersuara sedikitpun.
Sebelah alis Jimin terangkat saat melihat reaksi itu.
"Ohhh.. kau sudah tahu ternyata, astaga, kau sudah tahu dan masih saja mengikuti Tuan Muda Byun layaknya orang terobsesi. Dimana urat malumu, sudah putus?"
Waw... itu kasar sekali.
"Diam kau." Kyungsoon berdesis seperti ular.
Dan tentunya itu tak akan mempan untuk orang secerewet Jimin.
"Ow ow ow.. itu sungguh ilegal bila kau menyuruh orang yang suka bicara untuk diam tak bicara. Lagipula aku baru mulai." Jimin mengibaskan tangannya santai, kemudian terkekeh geli.
"Astaga Do Kyungsoon, kau sudah tahu, bahwa Tuan Muda Byun menyadari bahwa selama ini kau yang mengikutinya dan memotretnya setiap hari, Seulgi Eonni sudah memberitahunya beberapa minggu lalu. Tuan Muda Byun juga tahu bahwa kau selalu berusaha mengambil shift orang lain untuk bisa berjaga malam di depan kamarnya, dan pastinya masih banyak lagi hal gila lainnya yang kau lakukan. Tuan Muda sudah menyadarinya, aku dan Oppaku juga sudah menyadarinya, Oppamu juga, kami semua diam karena Tuan Muda yang menyuruh kami diam, namun ternyata kau sudah tahu, tapi bagaimana bisa kau masih saja punya muka untuk terus mengikuti Tuan Muda Byun?" Tanya Jimin.
"Kau setidak tahu malu itu ya?. Kalau aku jadi kau, aku akan memohon maaf pada Tuan Muda dan kemudian pergi sejauh mungkin darinya karena sudah tak memiliki wajah lagi untuk aku tampilkan di Mansion miliknya. Bagaimana kau bisa tetap berjalan dengan wajah tegak heh?."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan hingga terus menunggui kamar seorang pria saat malam- malam. Apa kau berharap dia akan menidurimu?"
PLAK!!
Panas Jimin rasakan dipipi kirinya, dan wajahnya terasa kaku menghadap ke kanan karena tamparan keras itu.
"Sudah aku bilang tutup mulutmu, kau tak tahu apa- apa. Kau bertanya kenapa aku masih melakukannya heh?. Bukankah sudah jelas?. Karena Tuan Muda Byun saja tak keberatan dengan hal itu." Kyungsoon berkata dengan suara yang amat sangat dingin.
"IYA! DIA TAHU!. Tapi apa dia melarangku melakukannya?. Tapi apakah setelah tahu itu dia memarahiku?. Tidak bukan?, menurutmu kenapa?. Ya, karena dia juga menyayangiku. Dia membiarkan aku melakukannya, dia tak pernah memarahiku ataupun melarangku, dia membebaskan aku mengikutinya ataupun memotretnya. Aku melakukannya hanya karena aku menyukainya, dan dia juga menyukaiku!. Yang aku lakukan hanyalah seperti itu, aku tak pernah menyakiti ataupun membahayakan Tuan Muda."
Jimin tertawa geli seperti orang gila.
"Kau sungguh tak waras ternyata. Baiklah.. baik.. anggap saja seperti itu. Lalu kau kira Tuan Muda akan diam saja setelah dia tahu ternyata kau menganggu Chanyeol Oppa kemarin?" Kyungsoon sempat menampilkan wajah panik, namun gadis itu segera mengendalikan ekspresinya.
"Aku tak pernah menganggu Park Chanyeol." Ujarnya.
Jimin berdelik kesal.
"Mengaku saja rubah sialan!. Kau suka melihat Chanyeol Oppa menderita bukan?!" Jimin berseru kesal.
Kyungsoon hanya menampilkan wajah angkuh.
"Dia pantas menderita."
Jimin menatapnya garang.
"Aku peringatkan ya kau Do Kyungsoon. Aku tak sebaik Tuan Muda Byun yang diam saja meski tahu ada gadis gila selalu mengikutiku. Aku juga paling benci saat ada orang lain menganggu orang yang aku sayangi. Sekali lagi kau mengusik Chanyeol oppa. Maka aku akan membakar rambut arang mu ini!!!" Jimin mengibas rambut Kyungsoon perasaan jijik.
Terlihat wajah tersinggung Kyungsoon yang sudah memerah karena marah. Hanya perlu sedetik hingga gadis itu menyerang rambut Jimin dengan kedua tangannya. Menarik rambut coklat sebahu milik gadis Shin itu dengan kekuatan penuh.
"AKHHHHH HEY!!" Dan tentunya Jimin akan membalas dengan cara yang sama.
Dan perkelahian ala kaum hawa yang telah dilestarikan selama berabad- abad itupun terjadi.
Keduanya berkelahi layaknya dua kucing liar, sungguh berantakan sekali. Umpatan, pukulan, cakaran, dan jambakan terjadi begitu saja. Puluhan menit itu berlangsung dan sepertinya tak akan berakhir jika saja suara ponsel keduanya tak berdering keras, membuat kedua gadis ini sama- sama beranjak menjauh dari satu sama lain.
Keduanya dengan kompak merogoh telepon genggam milik masing- masing. Kyungsoon dari kantung rok tennisnya, sedangkan Jimin dari hotpants putihnya. Style musim panas, saat- saat dimana pakaian pendek bisa dipakai.
Keduanya mendapatkan kabar yang sama. Tentang kegiatan hari ini dibatalkan dan semua peserta MT dibebaskan liburan dan menikmati fasilitas hotel.
"Sebenarnya ada apa.." Jimin tentu tahu hal ini tak mungkin terjadi kecuali ada masalah yang terjadi, membuat Jimin langsung berdelik kearah Kyungsoon dengan curiga.
"Aku tak melakukan apapun." Ujar Kyungsoon dengan cepat setelah merasakan tatapan curiga Jimin kepadanya.
Jimin mendengus, "Lebih tepatnya, kau belum melakukan apapun. Kau akan.. melakukannya."
Baru saja Kyungsoon ingin protes, Jimin sudah lebih dahulu membekap mulutnya dengan tangan kanan, dan memegang ponsel yang ditempelkan pada telinganya sendiri dengan tangan kiri.
"Minseok Oppa apa yang - eh? Ini Chen Ahjussi?. Kenapa acara hari ini batal, ada masalah apa?. Emm.. oh.. ya.. APA?!. Kamar kalian dia lantai berapa?!!. Aku akan kesana sekarang!!" Jimin telah melupakan segalanya, gadis itu langsung mematikan panggilan, kemudian berlari menuruni tangga darurat ini menuju ke lantai bawah, meninggalkan Kyungsoon sendiri tanpa menoleh ke arah gadis itu sama sekali.
Kyungsoon menatap kepergian Jimin dengan kesal.
"Selalu terasa menyebalkan walau hanya dengan melihat wajahnya, Shin Ji Min. Si gadis beruntung kesayangan semua orang. Harusnya kau jangan menyukai Park Chanyeol sedalam itu. Kau akan menyesalinya..." Gumamnya pada Jimin yang sudah tak terlihat lagi, kemudian dengan sedikit tergesa ikut menuruni tangga, mengikuti Jimin.
"Tuan Muda Byun pasti bersama Sekretaris Kim sekarang." Ujar Kyungsoon didalam hatinya.
.
.
.
- 09 : 00 AM -
"Sirup mapel berada di arah jam 10, puding labu di jam 11, susu stroberi di arah jam 1, air putih di jam 3, garpu dan pisau di arah jam 5 , dan pancake porsi besar kesukaanmu di arah jam 6. Selamat menikmati menu sarapan kesukaanmu Baekhyunnie."
Baekhyun mengangguk paham, lalu mulai memakan sarapannya dalam diam. Chanyeol tersenyum lebar melihat itu.
Chanyeol merasa cukup bangga pada dirinya sendiri untuk hal kecil seperti berhasil menjelaskan letak makanan kepada Baekhyun. Membuat Chanyeol terus memandangi Baekhyun yang tengah makan pelan- pelan. Membuat Kyungsoon yang berada dihadapan mereka berdelik tak suka kepada Chanyeol yang dianggapnya telah lancang melakukan itu.
"Kau sedang menatapku kan?" Tiba- tiba Baekhyun bersuara.
Chanyeol tersentak terkejut, kemudian tergagap panik, menyadari apa kesalahannya. Di depan mereka, Kyungsoon tampak menunduk, seolah tengah melihat piring makanannya, padahal gadis itu tengah diam- diam tersenyum senang karena tahu Chanyeol sebentar lagi akan dimarahi.
"Kau sedang menatapku kan tadi Chan?" Tanya Baekhyun lagi, karena tak ada tanggapan.
Chanyeol menghela napas menyesal.
"Iya.. Maafkan aku." Jawab Chanyeol jujur kemudian meminta maaf.
Tampak Baekhyun hanya mengangguk, kemudian kembali mengiris pancakenya dengan potongan yang berantakan dan memakannya dengan perlahan seperti biasa. Chanyeol merengut lucu, tak suka dengan sikap diam Baekhyun.
"Baek.. kau marah?" Tanyanya pelan.
Baekhyun mengunyah sebentar, kemudian menelan makanannya. "Tidak.. kenapa aku harus marah padamu?" Baekhyun justru bertanya balik.
"Karena aku terus menatapmu saat makan. Sedangkan aku tahu kau tak suka itu." Jawab Chanyeol.
Baekhyun terdiam sebentar.
"Aku memang tak terlalu menyukainya, tapi bila itu orang lain, kalau itu kau... aku tak akan marah."
Mata Chanyeol bersinar penasaran sekaligus tersanjung. Namun hanya sebentar, kemudian raut bingung itu kembali terpampang seperti biasanya saat pria itu penasaran akan sesuatu.
"Lalu kenapa kau menanyakan aku sedang menatapmu atau tidak?" Tanya Chanyeol bingung.
Kemudian Baekhyun menoleh kepada Chanyeol yang berada di sampingnya, lalu tersenyum manis pada sang kekasih, mata Baekhyun tampak melengkung dengan indah.
"Aku takut kau justru memandangi Kyungsoon yang berada di depan kita. Aku dengar Kyungsoon wajahnya cantik sekali, banyak pekerja pria Mansion yang ingin mendekatinya, tapi sayangnya si Kyungsoon tak tahu."
Chanyeol shock mendengar itu.
"Hanya karena itu?!!"
Chanyeol merengut lucu.
"Hey! Kau sudah menakutiku!. Aku kira tadi aku sudah menyinggung hatimu. Oh ya ampunnn.." Chanyeol mengelus dadanya lega.
Baekhyun tertawa kecil, sebelum akhirnya kembali melanjutkan makannya. Chanyeol menggeleng maklum melihat itu, pikirnya Baekhyun pasti tengah menggodanya lagi.
Namun perkataan Baekhyun membuat Chanyeol beralih memandang gadis yang ikut sarapan bersama mereka.
"Karena kau kembaran Kyungsoo jadi kau juga baru lulus SMA tahun inikan Kyungsoon?" Tanya Chanyeol.
Kyungsoon menjawab itu dengan anggukan yang ditutup dengan senyuman ramah.
"Melihat kau yang tak berencana kuliah dan sekarang bekerja di tempat yang sama dengan ayahmu. Apakah kau tipe gadis yang suka menikah muda, mempunyai suami baik, dan hidup sejahtera menjadi ibu rumah tangga?" Tanya Chanyeol blak- blakan kepada Kyungsoon.
"Kau terlalu blak- blakan Chan." Baekhyun memperingatkan namun dengan nada lembut pengertian.
Chanyeol menepuk dahinya, baru saja ingat bahwa dirinya kembali berlaku tak peka.
"Oh.. maafkan aku. Apakah aku tak apa menanyakan hal semacam itu Kyungsoon?. Aku tentu tak keberatan bila kau tak ingin menjawabnya dan membahas hal lainnya saja." Ujar Chanyeol pada Kyungsoon.
Gadis itu menggeleng ringan, "Tak sama sekali Chanyeol Oppa, tanyalah apa yang ingin kau tanyakan, aku sama sekali tak keberatan." Ujarnya.
Chanyeol mengangguk senang mendengarnya. Kemudian berdelik jenaka pada Baekhyun disampingnya.
"Kau dengar itu Baek. Dia tak keberatan, kaulah yang berlebihan sekarang." Chanyeol mendorong bahu Baekhyun dengan main- main. Kyungsoon berdelik diam- diam melihat bagaimana Chanyeol berlaku sungguh kasar menurutnya. Padahal Chanyeol sama sekali tak menyakiti Baekhyun.
Dan Baekhyun justru membalas Chanyeol dengan memukul bahu pria itu dengan pelan. Namun Chanyeol mengaduh palsu seolah- olah itu adalah pukulan yang sangat keras.
"Aku tahu. Jangan ganggu aku makan. Dan berhenti bersikap berlebihan.."
Chanyeol merengut tak suka, merajuk palsu pada kekasihnya. Benar- benar tak sesuai dengan bentuk badan.
"Dasar pria membosankan." Nah.. ternyata sekarang Chanyeol sudah berani mengejek Baekhyun.
Baekhyun menghentikan kegiatan mengiris pancakenya.
"Dasar pria lugu." Balas Baekhyun tak mau kalah.
"Kau pendek." Dan Chanyeol juga tak mau kalah.
"Setidaknya IQku lebih tinggi darimu."
"Kau sensitif seperti anak perempuan."
"Kau saja yang terlalu tak peka Chan."
"Haishh.. kenapa kau tak mau kalah sekali."
"Kau yang tak mau kalah. Lagipula dari awal aku hanya menjawab apa yang kau katakan. Aku hanya menyeimbangkan keadaan."
Nah.. itu ada benarnya juga.
Ya ampun.. Sudahlah..
Chanyeol menghela napas pasrah, percuma saja mengajak Baekhyun berdebat. Tak akan ada kata menang untuk dirinya. Hanya ada satu cara untuk mengalahkan seorang Byun Baekhyun, Chanyeol menyeringai dalam hati.
Namun aku tak mungkin melakukan itu sekarang, pikir Chanyeol lagi.
Eh?
"Haishh.. aku bahkan sampai lupa tentang apa yang aku bicarakan dengan Kyungsoon tadi." Gumam Chanyeol sambil menepuk dahinya.
"Kyungsoonnie, melihat kau yang tak berencana kuliah dan sekarang bekerja di tempat yang sama dengan ayahmu. Apakah kau tipe gadis yang suka menikah muda, mempunyai suami baik, dan hidup sejahtera menjadi ibu rumah tangga saja?. Apakah kau sudah mendapatkan seorang calon yang menurutmu sempurna sekarang?"
Dengan santainya Baekhyun mengulang setiap kata yang Chanyeol ucapkan tadi dengan akurat seakan sudah menghapalnya, ingatan Tuan Muda ini sungguh kuat.
Chanyeol menjentikkan jarinya bahagia.
"Nah, itu dia!. Eh?? Tapi aku tak menanyakan pertanyaan terakhir itu Baek..." Ucapan Chanyeol berubah menjadi gumaman setelah menoleh ke arah Baekhyun dan mendapati wajah Baekhyun tampak sungguh dingin dan kaku.
Lalu tatapan Chanyeol beralih kepada gadis di depan mereka. Chanyeol terkejut melihat bagaimana pucatnya Kyungsoon sekarang. Gadis itu memandang wajah Baekhyun dengan mata bersinar cemas, keringat dingin bahkan terlihat dipelipisnya.
"S-Saya sudah selesai makan. Permisi. Terimakasih makanannya." Dengan cepat gadis itu beranjak pergi, Chanyeol berani bersumpah bahwa dirinya melihat tangan Kyungsoon bergetar kuat sekali saat meletakkan sendok dan garpunya, kemudian tergesa pergi.
Chanyeol memandang itu semua dengan bingung dan serba salah.
Suasana ini terlalu canggung.
Chanyeol mulai merasa tak nyaman.
"Apakah kita berdua sudah menanyakan hal yang sangat menyinggung dia Baek?. Dia sensitif membicarakan tentang pernikahan dan calon suami ya?. Astaga, apakah aku benar- benar tidak peka sekali?. Sepertinya aku harus minta maaf padanya setelah ini, sebelumnya aku juga pernah menyinggung Kyungsoon dengan menanyakan kenapa dia hanya jadi Maid sedangkan Oppanya adalah Idol dan aktor terkenal." Ujar Chanyeol.
Baekhyun dengan santainya kembali memakan pancake kesukaannya. Kemudian meminum susu stroberi yang juga kesukaannya.
"Tenang saja, dia tak tersinggung dengan pertanyaannya, tapi lebih kepada penanyanya." Ujar Baekhyun setelah menelan beberapa teguk susu.
"Ohh.. dia tersinggung padamu?. Kau juga pernah menyinggungnya sebelumnnya?" Tanya Chanyeol dengan polosnya.
Baekhyun tersenyum manis.
"Tak pernah. Aku tak pernah menyinggung Kyungsoon sekalipun dan itulah kesalahannya, kesalahanku. Mulai sekarang aku akan sering menyinggungnya." Jawab Baekhyun.
"Kenapa?. Kyungsoon membuatmu kesal?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun mengangguk.
"Kenapa?" Chanyeol bertanya lagi.
Baekhyun terdiam sebentar, "Karena dia pernah menyinggungmu." Ujar Baekhyun pelan.
Chanyeol memutar otaknya, untuk mengingat kapan Kyungsoon pernah menyinggung dirinya.
"Aku rasa tak pernah." Jawab Chanyeol dengan ringan.
Baekhyun menghela napas sabar. Astaga, sebenarnya Nyonya Park makan apa saat hamil hingga melahirkan seorang putra yang selain hatinya yang bersih, otaknya pun jauh dari kata prasangka buruk. Chanyeol sungguh tak pernah curiga bahwa orang lain punya niat jahat padanya ya. Benar- benar pria yang positif sekali.
"Saat di kapal Chan, dan kau mengurung diri di kamar, aku mencarimu karena kau menghilang, dan Jimin memberitahuku tentang apa yang sudah terjadi. Katanya Kyungsoon sudah mengatakan hal yang mengada- ngada tentang aku dan Kyungsoo kepadamu." Baekhyun mengingatkan.
Chanyeol pun membuat mulutnya jadi berbentuk O.
"Ohhh.. saat itu. Jadi Kyungsoon mengada- ngada, kenapa dia melakukannya?. Apakah dia sengaja mengerjaiku, dan senang melihatku cemburu. Haishh.. aku tak tahu maid Mansion Byun ternyata bisa jahil juga." Gumamnya pada diri sendiri.
Baekhyun mengangguk mengiyakan saja pemikiran Chanyeol itu, "Lain kali jangan mempercayai ucapan orang lain tentang aku, tentang kita, dan bahkan tentang dirimu sendiri kecuali itu memang berasal dari mulutku langsung ya. Ingat itu." Baekhyun mengucapkannya dengan perlahan disetiap katanya, seolah ingin membuat Chanyeol benar- benar mengingat hal ini.
Chanyeol mengangguk paham.
"Oke.. aku akan menanyakannya padamu saja mulai sekarang." Ujar Chanyeol mantap.
Baekhyun mengangguk puas mendengarnya.
"Pertanyaan pertama, apa benar kau dan Kyungsoo terjebak friendzone dan harusnya kalian bisa jadian bila saja aku tak ada?" Tanya Chanyeol dengan suara sakit hati, karena inilah hal yang paling menyakitinya kemarin.
Baekhyun menghela napas, merasa menyesal karena kekasihnya harus mendengar hal seperti itu. Pasti sangat menyakitkan, terlebih bila itu adalah Chanyeol, pria yang bahkan akan resah bila ada orang yang menolak jabatan tangannya atau sapaan paginya, karena merasa seolah tak diperlukan.
Apalagi bila harus mendengar bahwa ternyata kekasihnya kemungkinan menjadi kekasih orang lain andaikan saja dirinya tak ada. Itu kejam sekali.
"Aku dan Kyungsoo bisa dibilang memang terjebak friendzone, namun lebih tepat lagi disebut cinta sepihak karena aku si pihak sahabat dan hanya Kyungsoo yang pihak mencinta, kurasa begitu. Aku dan Kyungsoo bukanlah sepasang sahabat yang saling mencintai dan takut menyatakan perasaan masing- masing dengan alasan tak ingin merusak persahabatan yang sudah terjalin lama. Aku dan dia tak pernah seperti itu, dan juga bukanlah tipe orang yang seperti itu. Kyungsoo sudah pernah menyatakan perasaannya padaku." Baekhyun menjelaskannya dengan sangat jelas.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan penuh antisipasi.
"Dan jawabannya?" Tanyanya penasaran.
"Ehhhh tunggu.. tunggu... biar aku yang menebaknya." Baru saja Baekhyun ingin menjawabnya, Chanyeol sudah lebih dulu menghentikan Tuan Muda itu.
Baekhyun menjadi terdiam, membiarkan Chanyeol menebaknya.
Chanyeol berdehem sebentar.
"Berdasarkan ciri khas seorang Tuan Muda Byun Baekhyun yang baik hati, kau pasti menjawabnya seperti ini, 'Terima kasih atas perasaan tulus anda Tuan Do. Tapi maafkan saya, karena saya tak dapat memberikan kembali kasih sayang dalam bentuk yang sama, bila anda tak keberatan, apakah anda masih bersedia bersahabat bersama saya?', kau menjawabnya begitu bukan?"
Sontak saja Baekhyun tertawa dengan renyahnya.
"Wah! Bagaimana kau bisa menebaknya.. kau bahkan mengucapkannya dengan nada yang sama persis." Baekhyun memukul bahu Chanyeol dengan pelan sambil tertawa.
Mendengar itu membuat Chanyeol ikut tertawa sambil bertepuk tangan heboh.
"Wahhhh.. Baekhyun, kau kejam sekali... itu penolakan yang mengerikan.."
Keduanya larut dalam tawa bahagia, tanpa menyadari bahwa meja makan di belakang mereka ada seseorang yang tengah merengut kesal dan berdelik marah.
"Sudahlah Soo.." Kai dengan senyum geli menepuk kepala Kyungsoo pelan.
"Mereka membicarakan masa kelamku.. hueeeee.. buang aku ke rawa- rawa sekarang jugaa..." Rengek Kyungsoo yang berakhir dengan pria mungil itu menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya di meja, terlalu malu untuk menampilkan wajahnya lagi.
Dan Kai hanya menatap gemas pada kekasihnya yang pagi ini tiba- tiba menjadi out of character setelah mendengar Tuan Muda Byun Baekhyun yang disayanginya menceritakan masa lalu mereka berdua.
Kyungsoo dan Kai sudah mendengarkan semua pembicaraan yang terjadi di meja makan di depan mereka. Membuat Kai berpikir, apakah Kyungsoo setidak peduli itu pada kembarannya hingga sama sekali tak khawatir pada Kyungsoon yang sudah Baekhyun singgung dengan keras.
Sekali dengarpun Kai langsung tahu, maksud perkataan Baekhyun pada Kyungsoon adalah; Banyak yang menyukaimu, pria yang kau anggap sempurna ini mengharapkanmu mencari pria lain saja. Baekhyun terlalu lembut menolak gadis itu, meski tetap saja, pasti terasa menyakitkan.
"Padahal Kyungsoon sudah sering membawakanmu makan siang dan lain- lainnya ke Agensi. Kenapa kau tak memikirkannya sama sekali, apa kalian sungguh saudara kembar?" Tanya Kai karena merasa janggal.
Sontak Kyungsoo bangkit dan duduk tegak setelah mendengarnya.
"Justru karena kami kembarlah aku tahu bahwa semua perilakunya itu tak tulus. Ada yang sedang dia cari di Agensi, dan aku tak tahu apakah itu..." Kyungsoo bergumam pelan, sedikit mengkhawatirkan kelakuan dari saudara kembarnya.
Kemudian pria bernama panggung D.O itu menatap wajah tertawa bahagia Baekhyun yang ada di depannya.
"Aku tak bisa memarahinya karena Tuan Muda Byun melarang kami melakukannya. Sepertinya Tuan Muda Byun memutuskan untuk membiarkan Kyungsoon mengekspresikan cintanya yang menurut Kyungsoon benar. Aku rasa sekaranglah saat dimana adik kembarku itu menerima gilirannya untuk merasakan bagaimana sakitnya cinta di tolak."
Kai mengangguk paham mendengar itu.
"Aku rasa pemikiran Tuan Byun sangatlah unik. Daripada menghentikan orang yang berencana melakukan sesuatu yang mungkin jahat padanya. Dia lebih memilih untuk menunggu dan mengamati dengan tenang apa yang akan terjadi. Sembari mempersiapkan diri untuk melawan dan menyelesaikannya. Dia tak membenci saudara kembarmu, sebaliknya, Tuan Byun justru peduli padanya. Tuan Byun baik sekali. Dia sama sekali tak membedakan seluruh pekerjanya bagaimanapun sifat kalian." Kai ikut berkomentar.
Kyungsoo menatap Kai dengan takjub.
"Eoh? Kau bisa menebak Tuan Byun." Gumam Kyungsoo dengan wajah tak percaya.
Kai tersenyum tenang.
"Semakin lama diamati, Tuan Byun ternyata tak serumit yang orang kira. Cukup mudah menebaknya, dia sepertinya tipe orang yang bertindak dulu baru bicara, karena itulah orang- orang bingung dengan hal yang dia lakukan. Justru, Kyungsoon lebih aneh daripada Tuan Byun. Kenapa adikmu sifatnya seperti itu?"
Dan sepertinya Kai adalah tipe orang yang tenang dan diam, namun banyak tahu.
"Sesungguhnya Kyungsoon itu awalnya polos dan manis. Dia mulai berubah akhir- akhir ini. Entahlah apa yang sudah terjadi, meski kami berdua cuek satu sama lain, tapi kami tak pernah merugikan orang lain. Baru kali ini dia... seperti itu." Kyungsoo mengangkat bahunya.
"Keluarga kalian hanya kurang komunikasi saja." Kai berkomentar dengan terus terang.
Kyungsoo tersenyum pahit.
"Kau benar. Harusnya aku lebih peduli pada adikku. Ini adalah salahku." Gumam Kyungsoo.
Kai mengacak rambut Kyungsoo dengan sayang.
"Dan salah Kyungsoon juga yang tak berbicara padamu terlebih dahulu. Kita terkadang tak perlu harus ditanya dulu baru mengungkapkan isi hati kita. Mengungkapkan isi hati tanpa harus diminta merupakan bentuk dari sebuah kepercayaan. Kyungsoon belum mempercayaimu. Itu juga karena kau tak mempercayainya. Sudah aku bilang, kalian berdua kurang komunikasi."
Kyungsoo menatap Kai dengan dalam.
"Lalu aku harus bagaimana Hyung?"
"Kau ingin bagaimana?" Tanya Kai balik.
Kyungsoo menampilkan wajah berpikir.
"Emm.. aku akan mengajaknya bersantai berdua kemudian mengajaknya bicara saja, mumpung sekarang kita tengah liburan."
Kai mengedipkan sebelah matanya menggoda sang kekasih.
"Kalau begitu lakukanlah.. Sana..." Kai berkata dengan sungguh ringannya.
Kyungsoo tersenyum lebar, membuat bibirnya menampilkan bentuk hati yang selama ini selalu sukses melelehkan hati penggemarnya. Kemudian mencium pipi Kai dengan cepat sebagai tanda terima kasih.
"Aku mencintaimu Hyung... Dadah.." Dan akhirnya beranjak pergi dengan cepat, mulai mencari dimanakah keberadaan sang adik beda 30 menitnya.
Kai menatap kepergian Kyungsoo dengan senyuman tenang, seraya balas bergumam.
"Aku juga mencintaimu.."
Pandangan Kai kemudian beralih menjadi menatap pria tercantik yang pernah di lihat oleh Kai sepanjang hidupnya. Jangan salah, bagi Kai, Kyungsoo memanglah yang terindah. Namun Baekhyun memang memiliki kecantikan yang amat sangat sulit untuk dipungkiri, Kai hanya memberikan komentar secara objektif.
Daripada terpesona dengan wajahnya. Kai lebih terpesona pada cara berpikir dari Bos Besarnya itu. Contohnya sekarang, sepertinya Baekhyun teramat peka untuk menyadari bahwa orang- orang terdekatnya sedang mempunyai masalah masing- masing dan masalah kepada satu sama lain. Sehingga dia mengatur acara ini, memberikan semua orang sebuah ruang dan waktu.
Sesungguhnya hal termahal yang Baekhyun berikan pada pekerjanya bukanlah uang atau fasilitas mewah disini.
Tapi waktulah yang diberikan olehnya. Baekhyun memberikan waktu kepada semua orang.
Untuk menyadari bahwa dirinya berharga dan dicintai seperti Chanyeol.
Waktu untuk mengungkapkan perasaan terpendam seperti Jimin.
Untuk memberikan waktu kepada Sehun dalam usahanya merelakan sang mantan tersayang.
Untuk memberikan kesempatan kepada Kai yang sangat ingin berduaan dengan kekasihnya di depan khalayak ramai.
Memberikan waktu kepada Kyungsoo untuk lebih memikirkan orang di sekitarnya karena pria itu terlalu cuek akan sekitar.
Baekhyun tak membedakan sama sekali, dia bahkan memberikan Kyungsoon waktu untuk menikmati dan mengekspresikan obsesi serta kecemburuannya.
Lalu memberikan waktu untuk Xiumin dalam mengungkapkan seluruh isi hati dan amarahnya yang telah menumpuk.
Dan terakhir, memberikan waktu untuk Chen, agar pria 40 tahun itu kembali memikirkan apakah tindakan yang selama ini dilakukannya adalah keputusan yang terbaik, atau tidak.
.
.
.
Chen masih dalam posisi yang sama. Mengenggem tangan Xiumin yang tak sadarkan diri. Sudah berjam- jam dan Xiumin masih juga belum membuka matanya. Chen sama sekali tak beranjak dari sisi Xiumin sedari tadi kecuali menunaikan perintah Baekhyun untuk menghubungi seluruh peserta acara mereka, dan sesekali ke kamar kecil, selain itu Chen akan selalu menghabiskan waktunya sambil menatap kucing kesayangannya ini.
Chen tak ingin Xiumin sendirian saat bangun nanti.
"Satu hal yang paling aku syukuri dalam hidupku adalah... saat aku membujukmu untuk ikut bersamaku saja, daripada ikut bergabung dengan orangtuamu di perjalanan menuju Seoul hari itu. Terimakasih sudah menerima tawaranku hari itu." Chen bergumam.
"Kau memiliki kebiasaan bicara pada orang yang sedang tak sadar ya?" Chen terbelalak mendengar Xiumin membalas kata- katanya.
"Kau sudah sadar!" Chen berseru tak percaya, menatap mata Xiumin yang sekarang telah terbuka dan memandang langit- langit kamar hotel ini dengan pandangan kosong.
"Bagaimana perasaanmu?. Kau pusing?. Ada yang sakit?" Tanya Chen dengan beruntun.
Xiumin tak menjawabnya, justru memilih berbalik dengan pelan, mengalihkan pandangannya dari Chen. Berbalik memunggungi ayah angkatnya itu. Hati Chen melengos melihatnya.
"Hei... Xiu, katakanlah sesuatu.. Lihat aku." Chen mendekatkan dirinya, duduk di bagian ranjang tepat disebelah Xiumin, menarik bahu pria berpipi chubby itu agar kembali menoleh ke arahnya.
Xiumin masih diam seribu bahasa.
"Ada yang sakit?" Tanya Chen lembut, seraya mengelus rambut Xiumin.
"Sudah tak terasa sakit lagi.." Xiumin berkata lirih.
Kemudian menatap mata Chen dengan tatapan sayu.
"Aku sudah mati rasa."
Rasanya sungguh sesak melihat pria yang selama ini sangat pantang menyerah dan seakan tak kenal lelah bisa tampak selemah ini.
"Aku tak mengantuk bahkan saat sudah larut malam. Aku tak merasa lapar bahkan saat aku ingin makan. Aku tak lelah bahkan saat sudah bekerja seharian dan semalaman. Dan aku tetap tak membencimu bahkan setelah kau berlaku jahat sekali... aku bertanya- tanya.. apakah sekarang aku sudah tak dapat merasakan apapun."
Chen menggigit lidahnya untuk menahan nyilu hati saat mendengar itu.
"Berhentilah mengatakan hal seperti itu.. itu tak benar." Chen masih mengelus rambut Xiumin.
Xiumin tersenyum lemah.
"Kalau begitu buktikan.. buktikan bahwa itu tak benar." Ujar Xiumin tegas ditengah suaranya yang terdengar sangat lemah.
"Bagaimana?. Apa yang harus aku lakukan untukmu?" Tanya Chen, dirinya tahu Xiumin memiliki suatu hal yang dirinya ingin Chen lakukan untuknya.
Bukannya menjawab, Xiumin justru menarik kerah piama Chen yang tak pernah berganti sejak malam tadi.
Chen mengerjap saat merasakan napas Xiumin terhembus di dalam mulutnya, kemudian kembali mengerjap saat merasakan bibir mungil Xiumin mulai bergerak pada bibirnya.
Mata Chen terbelalak saat menyadari apa sebenarnya hal yang Xiumin inginkan darinya.
Dengan sentakan kuat Chen menjauh dari Xiumin.
"Ya ampun, tidak Xiu.. aku tak bisa melakukannya denganmu." Chen berujar panik.
Xiumin menggigit bibir bawahnya, mata itu memandang Chen dengan lemah dan berkaca- kaca.
"Jadi, kau juga akan menolakku, bahkan bila aku menawarkan tubuhku... kau menerima banyak jalang diluar sana, tapi kenapa aku tidak.."
Adakah yang lebih memilukan daripada itu.
Seputus asa apakah Xiumin sampai benar- benar menurunkan harga dirinya hingga seperti ini.
Chen ikut menatap Xiumin dengan frustasi.
"Karena kau lebih berharga daripada itu, apakah kau tak mengerti juga. Tidak, jangan buat aku menjadi penghancur putraku sendiri." Chen masih menjadi keras kepala.
"Aku bukan putramu.. tidakkah kau mengerti itu juga?" Balas Xiumin.
Pria berwajah imut bagai kucing itu bangkit dari duduknya dengan lemah. Kemudian mendekati Chen yang juga tengah duduk diranjang yang sama dengannya. Jarak keduanya dekat sekali.
"Tidakkah kau juga menginginkan aku?" Xiumin memainkan kancing piama Chen, sedikit menyerngit karena merasakan sakit sebab menggunakan tangan kirinya yang masih tersambung dengan IV.
Jika saja Chen dapat menjawabnya, Chen akan meneriakkan, AKU SANGAT MENGINGINKANMU, tapi apalah daya... Chen tak bisa, bukan tak mau.
"Sekarang aku berpikir, dapat memiliki tubuhmu walau tak memiliki hatimu sepertinya tak buruk juga. Setidaknya aku tak akan kau tatap sebagai anak kecil atau putra kecilmu pada saat seperti itu." Xiumin mengatakannya sambil menunduk dan memainkan kancing piama Chen, sudah tak mempunyai muka lagi untuk ditampilkan pada si ayah angkat. Xiumin merasa rendah sekali sekarang.
Dirinya merasa seperti jalang yang tengah merayu untuk ditiduri ayah angkatnya sendiri.
"Anggap saja hal ini terjadi karena salahku. Akulah yang memaksamu. Akulah yang menjadi penanggung dosanya. Aku yang melecehkanmu dan kau dapat menuntutku setelahnya. Aku yang sungguh ingin melakukannya, dan semua ini terjadi karenaku.. jadi.. maukah kau-
Xiumin tak dapat melanjutkan perkataannya, mata kucingnya terbelalak merasakan tangan Chen yang membekap bibirnya, kemudian mendongak menatap Chen yang sekarang tengah menatapnya dengan sorot mata asing yang selama ini Xiumin tak pernah lihat.
Itu adalah tatapan marah.
Dan Chen tak pernah marah pada Xiumin, sampai hari ini.
"Berhenti.. berhenti merendahkan dirimu. Dan bila ada orang yang harus disalahkan disini. Bila ada pemaksaan disini. Bila ada yang harus dituntut karena melakukan pelecehan. Dan bila ada yang harus menanggung dosa besar karena melakukannya, katakan pada semua orang nanti,... akulah orangnya"
DEG
Mata Xiumin terbelalak lebar.
Jadi,
beginikah rasanya dicium terlebih dahulu oleh orang yang kau cintai.
Bagaimana bisa rasanya semembahagiakan ini?. Hati Xiumin sampai terasa sesak karena menanggung letupannya.
Dengan menahan air mata bahagia, Xiumin menutup matanya. Kemudian membalas setiap kecupan dan lumatan memabukkan yang Chen berikan.
Rumor itu tak berbohong.
Chen adalah playboy yang dapat mencium seseorang dengan sialan baiknya.
Meski ini bukan ciuman pertama mereka, namun inilah pertama kalinya Chen sungguh- sungguh mencium Xiumin tanpa embel- embel untuk sekedar menghormati perasaan Xiumin saja.
Sekarang bukan Xiumin yang mencium Chen.
Namun Chen yang mencium Xiumin.
Melupakan sejenak apa sebab dari hal yang dilakukannya ini.
Melupakan sejenak apa akibat dari hal yang dilakukannya ini.
Biarkanlah Chen, sekali saja, dalam hidupnya, mengungkapkan segala hal yang dirinya ingin ungkapkan. Mengungkapkan dengan tersirat segala hal yang tak dapat diungkapkan dengan tersurat.
Sekali saja..
Biarkan Chen sekali saja... melupakan bahwa mereka adalah ayah dan anak.
Bisakah dunia menerimanya?.
Xiumin merengek saat Chen mengangkat tubuh lemahnya ke atas pangkuan pria itu masih sambil menciumnya dengan irama seolah tak ada hari esok. Membuat bagian bawah tubuh keduanya bergesekan lembut, dan jangan tanya bagaimana nikmatnya friksi yang diberikannya. Kepala Chen terasa pening dan kosong dibuatnya. Napas pria itu terasa sangat memburu berhembus dileher Xiumin, Chen menyusuri leher putih itu dan merasakan aroma Xiumin yang memabukkan.
Chen menciumi setiap jengkal leher Xiumin bagaikan pecandu narkoba bertemu heroin.
Xiumin menutup matanya rapat dan tanpa sadar membuka mulutnya untuk mengeluarkan lenguhan merespon kuatnya Chen yang mulai menghisap dan menjilat lehernya bagai vampire, tak peduli apakah itu akan meninggalkan bekas atau tidak. Xiumin terlalu masa bodoh untuk itu.
Sambil memeluk kepala Chen yang sekarang berada didepan lehernya, sambil meremat rambut Chen dengan pelan, Xiumin menarik kepala Chen dengan perlu sedikit paksaan untuk memberi jarak diantara keduanya.
Mata Xiumin terbuka, begitu pula dengan Chen yang balas menatapnya.
Xiumin tersenyum lembut sambil menatap Chen dengan mata berkaca- kaca.
"Pelan- pelan saja.. aku tak ingin ini cepat berakhir." Xiumin mengucapkan itu dengan sangat lembut.
Chen hanya mengangguk membalasnya.
Xiumin kembali membuka mulutnya untuk berkata, "Aku mencintaimu.. Paman Dae. Dari hari kelahiranku, hingga sekarang. Aku mencintaimu.", dan raut wajah gelisah adalah apa yang Xiumin dapatkan sebagai balasan.
"Sttss..." Xiumin menenangkan Chen dengan mengelus dahi pria 40 tahun itu yang tampak mengerut tegang.
"Tak apa, tak usah dijawab, aku tahu.."
Xiumin terbelalak melihat airmata meleleh menuruni pipi pria pujaannya.
Dengan panik Xiumin menyeka air mata Chen yang seakan tak mau berhenti itu.
Pria itu memandang Xiumin dengan penuh pujaan, dambaan, dan ribuan jenis cinta yang sayang beribu sayang tak dapat terungkapkan. Pasti selama ini berat... sungguh berat bagi Chen yang harus menahannya seorang diri.
"Pria tua ini menangis saat diranjang, sungguh tidak seksi sekali.." Xiumin sontak tertawa setelah mendengar itu.
"Dan aku adalah pasien yang menggoda seseorang bahkan dengan selang infus ditangannya. Sungguh tak seksi sekali." Balas Xiumin.
Chen menggeleng.
"Kau sangat seksi Xiu.. jauh lebih seksi daripada yang pantas aku terima.."
Xiumin tersenyum mendengar itu, seraya menahan tubuhnya dengan menggantungkan lengan kanannya pada leher Chen, saat pria Kim itu kembali mengangkat tubuh Xiumin untuk kemudian direbahkan dengan lembut pada kasur empuk ini.
Di saat Xiumin merasakan Chen menduduki perutnya.
Di saat Xiumin merasakan Chen mulai melepaskan kancing piamanya satu persatu.
Di saat tangan hangat itu dengan lembut mulai berani menyentuhnya dengan lebih jauh lagi.
Xiumin merasakan itu dengan menutup matanya.
Seraya berdoa,
Semoga ini bukanlah mimpi yang akan hilang begitu saja saat dirinya membuka mata.
Mata Xiumin tampak berkilauan menatap Chen yang berada diatasnya. "Kenapa?" Chen bertanya pada Xiumin yang terdiam memandangnya.
Xiumin menggeleng malu dan tersenyum.
"Aku hanya bersyukur ternyata ini bukanlah mimpi."
Chen balas tersenyum. Kemudian berkata,
"Aku juga." Seraya kembali memangut bibir ceri yang sudah menjadi candunya itu,
ralat,
bibir saja tak cukup.
Segalanya dari Xiumin adalah heroin bagi Chen. Xiumin bagaikan narkoba baginya. Terlarang.. namun terlalu nikmat untuk dilewatkan dan terlalu kuat untuk dilepaskan.
Tolong biarkanlah Chen menikmati kecanduannya hingga puas saat ini.
Tolong..
Biarkanlah..
.
.
.
.
TBC
AN :
Why can't you hold me in the street?~
Why can't I kiss you on the dance floor?~
I wish that it could be like that~
Why can't we be like that?~
CAUSE I'M YOURSSSSSSSSSSSS!!!!!!!! HUWOOO UOOO~
Readers : Thor berhenti nyanyi thor, suara kamu gak enak.
Author : Yaelahh... kan pengen nyanyi lagu Secret Love Song karena chapter ini terinspirasi dari lagu itu. Meski udah jarang nempelin bagian lagu atau bagian buku di ff ini, pokoknya konsep READ my MUSIC nya itu gak boleh hilang. POKOKNYA FF INI HARUS KAYA LAGU YANG DIBACA DAN BACAAN YANG DI LAGUIN!.
Readers : Kami gak mau tahu itu thor, kami mau tahunya kenapa kamu lama update thor?
Author : Ohhhhhh.. itu, Masalah Wifi. Itulah masalahnya :D. Sorry ya, udah bikin kalian kangen, kangen sama cerita ini maksudnya :D . Kalian mah gak ada yang kangen sama aku hiks : ( /canda :D
Terima Kasih Kepada :
Chanbeepark, elroseline, CHANBAEQ, ameliya13, ChanBaek09, BaekFlo, SehunSapiens, kekei-chan, Cheonsa528, strawbaeki, Pita388, myut, danactebh, baekyyeun, byuncyxx, jungkkhope, kenzoev, Guest, dan alifiyahfarah.
Terima Kasih juga kepada reader lain yang sudah membaca, menyukai, dan mengikuti FF yang ceritanya sungguh memusingkan ini ehehe.
Inget yaaa... Jaga kesehatan semuanya~
Sampai bertemu di Chapter selanjutnya. Lets Love Eri /Bow
