Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 23 : I'm Afraid
.
.
.
Musim Panas, 2011
Di dalam kamar VIP bernomor 2199 di BB Resort and Hotel, terlihat siluet dua orang yang tampak manis dan menggemaskan dengan si mungil yang hanya memakai atasan piama merah maroon kebesaran, sedangkan pria satunya hanya memakai bawahan piama merah maroon tersebut. Keduanya tampak duduk berpangkuan pada kursi goyang di depan jendela besar kamar itu. Membuat kedua orang ini tampak bersinar terang diterpa cahaya matahari tengah hari musim panas.
Xiumin menyandarkan tubuhnya dengan nyaman sambil membaca koran paginya walau ini sudah tak pagi lagi. Merasakan bagaimana punggungnya bertemu dengan dada bidang polos tanpa baju milik pria yang sedang memangkunya. Lalu menikmati hangatnya lengan yang memeluk pinggangnya dari belakang. Itu adalah lengan Chen, yang sedang tertidur dengan nyenyaknya seraya memangku dan memeluk Xiumin diatas kursi goyang dikamar ini. Keduanya ikut bergerak mengikuti kursi kayu yang terus bergerak ke depan dan ke belakang tersebut.
"Kau tidur?" Bisik Xiumin tanpa menoleh pada Chen, masih fokus pada korannya. Sedikit tersenyum saat melihat ternyata berita akan seluruh staff BB Entertainment yang diliburkan tanpa alasan telah masuk ke dalam salah satu rubrik koran pagi ini.
"Hei bangunlah, ada namamu di koran." Xiumin menoleh ke belakang, kemudian menggigit hidung mancung Chen dengan main- main.
Sontak Chen membuka matanya merasakan itu, "Aku bersumpah itu akan menjadi cara membangunkan paling aku sukai mulai sekarang. Kau menggemaskan." Ujar Chen seraya menguap, dan Xiumin tertawa mendengarnya.
Chen tersenyum mendengar itu. Dengan perlahan meraih wajah Xiumin yang sudah menoleh kearahnya, memberikan sebuah kecupan lembut dan penuh pada bibir pria manis kesayangannya, lalu berkata lembut, "Rasanya sudah lama tak mendengarmu tertawa. Aku sangat suka kau banyak tertawa. Banyak- banyaklah tertawa Xiu." Xiumin tak meresponnya, pria mungil itu tak akan menyanggupi hal yang belum tentu bisa dirinya sanggupi. Chen tersenyum melihat bagaimana kuatnya karakter putra kesayangannya.
"Jadi, ada apa hingga kau membangunkan tidur siangku, kucing kecil?" Tanya Chen, seraya menciumi leher Xiumin dengan tak tahu malunya.
Xiumin merasakan bulu romanya meremang geli. Membuatnya kembali menghadap ke depan, fokus pada koran ditangannya, "Hentikan itu Pak Tua, dan lihat ini." Chen menjauhkan wajahnya dari leher Xiumin, lalu menatap bagian koran yang Xiumin tunjukkan padanya.
"Mereka bingung kenapa gedung BB Ent tampak sepi, dan mengatakan bahwa kau tak bisa dihubungi sejak kemarin untuk dimintai keterangan dan penjelasan. Hei Pak Tua, apa kau menolak seluruh telepon dari wartawan itu?" Tanya Xiumin seraya menoleh ke belakang lagi, menatap Chen.
"Entahlah..." Chen justru menjawab asal sembari mengeratkan pelukannya pada pinggang Xiumin, kemudian menyembuyikan wajahnya di ceruk leher si mungil.
Xiumin menghela napas, Chen menghindari topik tentang wartawan, BB Entertainment, atau apapun yang berhubungan dengan pekerjaannya sedari tadi.
"Paman Dae.." Panggil Xiumin pelan, seraya menutup matanya, merasakan geli saat telapak tangan Chen mulai bermain di paha mulusnya yang tak tertutup apapun.
"Kau belum siap mengatakannya pada dunia bukan?" Gerakan tangan Chen berhenti mendengar itu, bibir keduanya tertutup rapat dan sunyi, namun tubuh keduanya tetap terus bergerak mengikuti irama kursi goyang yang sedang mereka duduki bersama ini.
"Wahhh.. sudah lama sekali aku tak memangkumu diatas kursi goyang. Aku rasa terakhir kali kita lakukan saat kau sekolah dasar. Saat itu kau hanya setinggi dadaku." Xiumin menghela napas mendengar itu, Chen mengalihkan pembicaraan mereka.
Baiklah... ayo lupakan dunia luar untuk saat ini, pikir Xiumin menyerah.
"Kau benar. Saat itu aku merajuk padamu karena kau tak datang ke pertemuan orang tua dan tak melihatku tampil bernyanyi didepan semua orang. Aku terus mengatakan, 'Paman Dae jahat.' sepanjang hari. Aku terus meneriakimu dan memukulimu, dan akhirnya kau menggendongku, kemudian memangkuku di atas kursi goyang dirumah kita. Lalu menyuruhku bernyanyi secara eksklusif padamu.. Oh ya, sebenarnya kenapa kau tak bisa datang pada pertemuan orang tua hari itu?." Xiumin memutuskan mengikuti arah pembicaraan Chen saja.
Chen tersenyum lembut.
"Karena pekerjaan tentu saja. Saat itu tahun 2000 bukan?, kau baru berumur 11 tahun. Dan Ayahmu ini sedang mempersiapkan debutnya BoA. Ya ampun, tetap saja aku salah hari itu, karena seharusnya kau tetap lebih penting daripada BoA, dan harusnya aku menyaksikan kau bernyanyi didepan semua orang sambil memamerkan pada orang tua lainnya yang ada disana bahwa kau adalah putraku. Maafkan aku ya.." Xiumin diam mendengarkan itu, sejujurnya dia tak sakit hati lagi akan hal itu, toh sudah lama berlalu.
Chen kembali menciumi leher Xiumin, sepertinya kita dapat menyimpulkan bagian tubuh Xiumin manakah yang menjadi favorit dari pria Kim ini.
"Kau masih menulis lagu Xiu?" Tanya Chen disela ciumannya, Xiumin mengangguk seraya menutup matanya menahan geli.
"Aku kira kau sudah berhenti.." Ujar Chen lagi, lalu meletakkan dagunya pada bahu Xiumin.
Xiumin membuka matanya, menatap ke depan dengan pandangan menerawang. "Bagaimana aku bisa berhenti heh?, aku adalah putra dari Penyanyi dan Penulis Lagu Kim Jongdae yang terkenal, aku hidup dikelilingi musik sejak kecil. Meski aku tak mungkin menuruni bakatmu, setidaknya, adalah hal masuk akal jika aku tertular sedikit." Chen tersenyum menatap siluet samping wajah chubby Xiumin.
"Bisa kau nyanyikan lagu ciptaanmu, yang terbaru?" Pinta Chen, membuat Xiumin terdiam memikirkannya.
"Baiklah.. Tapi jangan terlalu keras mengkritik laguku ya Tuan Chen, aku bukan penulis lagu profesional." Ujar Xiumin dengan nada bercanda dan Chen terkekeh mendengarnya.
"Baiklah.. aku paham, bernyanyilah... aku rindu suaramu." Xiumin mengangguk mendengar itu.
Xiumin menarik napas.. kemudian menghembuskannya lagi.
Menutup mata, lalu memulai nyanyiannya. Memenuhi ruangan hotel sunyi itu dengan suara lembutnya.
Sumanheun soeumdeul meomchwojin bangane, joyonghi nuneul gama. Geurigo saenggakhae neul hamkke issneun... neol. Uhumm..
( Di kamarku, suara-suara yang tak terhitung jumlahnya menjadi berhenti. Aku diam-diam menutup mata. Dan aku memikirkanmu, yang selalu bersamaku. Uhumm..)
Chen tersenyum, sepertinya Xiumin menulis lagu tentang mereka berdua. Dan sepertinya Xiumin menulis lagu ini di dalam kamarnya sambil menghindari suara berisik.
Eotteon saenggagi, nareul honjaman namgil ttae, uril tteoollyeo. I bulbit gadeuk uriui, ongiga nal gamssa ana.
( Setiap kali aku sendirian, aku memikirkan hal ini. Aku memikirkan kita. Dalam cahaya ini, kehangatan kita menyelimutiku )
Suara Xiumin memang tak seindah suara Chen. Namun Xiumin memiliki jenis suara yang bisa masuk ke dalam jiwa orang lain hanya dengan sekali mendengarnya. Karena Xiumin selalu bernyanyi dengan sepenuh hati. Dan hati Chen menjadi sesak mendengar setiap lirik yang Xiumin nyanyikan. Sepertinya ini lagu tentang kerinduan.
Xiumin membuka matanya, kemudian menoleh ke samping, mempertemukan tatapan mereka berdua. Lalu mulai melanjutkan nyanyiannya lagi.
Dagawajullae jogeum deo gakkai, ireohge ne gyeote meomulgo sipeo. Malhaji anhado gwaenchanha. Ne nuneul bomyeon al su isseo da neukkyeojyeo. Barabwajullae nae ane bichnaneun. Deoeopsi areumdaun saram. Neoneun naega geotneun modeun iyu
( Apakah kau akan datang sedikit lebih dekat?. Aku ingin tetap di sisimu, seperti ini. Tak apa-apa, bahkan jika kau tak mengatakan apapun. Saat aku melihat matamu, aku tahu, aku bisa merasakan semuanya. Apakah kau akan melihatku?. Kau bersinar dalam diriku. Tak bisa lebih indah lagi daripada ini. Kau adalah alasan mengapa aku terus berjalan )
Chen yang lebih dulu memutus pandangan keduanya. Mengalihkan tatapannya ke arah depan saat mendengar lirik itu. Xiumin sungguh mengungkapkan seluruh isi hatinya dalam sebuah lagu ternyata.
Terlihat wajah kecewa Xiumin melihat Chen yang tak mau menatap wajahnya lagi. Kemudian kembali melanjutkan bagian kedua dari lagunya dengan suara yang lebih rendah.
Oraedoen iyagi, nanwossdeon useumdeul, gomaun neoui maeum. Neon naboda nal deo, jal aneun geot gata. Singihae
(Kisah-kisah lama, tawa yang kita bagikan. Aku sangat berterima kasih atas hatimu itu. Aku pikir kau mengenalku lebih baik daripada diriku sendiri. Luar biasa)
Eotteon nugunga, neoreul jichige mandeul ttae, uril tteoollyeo. I noraecheoreom neoreul deo, ttaseuhi anajul geoya
(Saat seseorang membuatku lelah. Aku memikirkan kita. Sama seperti lagu ini. Aku akan memelukmu lebih hangat lagi)
Suasana di antara kedua orang ini semakin sunyi senyap. Keduanya menjadi serba salah dan bingung harus berekspresi seperti apa.
Xiumin menghela napas. Memilih mempersingkat lagunya langsung ke bagian akhir saja.
Dagawajullae jogeum deo gakkai. Ireohge ne gyeote meomulgo sipeo. Malhaji anhado gwaenchanha. Ne nuneul bomyeon, al su isseo da neukkyeojyeo. Barabwajullae nae ane bichnaneun. Deoeopsi areumdaun saram. Neoneun naega geotneun modeun iyunikka
(Apakah kau akan datang sedikit lebih dekat?. Aku ingin tetap di sisimu, seperti ini. Tak apa-apa, bahkan jika kau tak mengatakan apapun. Saat aku melihat matamu, aku tahu, aku bisa merasakan semuanya. Apakah kau akan melihatku?. Kau bersinar di dalam diriku. Tak bisa lebih indah lagi daripada ini. Kau adalah alasan mengapa aku terus berjalan)
Eotteon iyudo eopseo, neoreul saranghaneun geon. Dareun saramboda, neol nae maeum gajang keun jaril jugo sipeo ~
(Tak ada alasan untuk mencintaimu... Aku hanya ingin memberimu tempat terbesar di hatiku. Lebih... dari... siapapun~)
Xiumin menyelesaikan nada terakhirnya.
Chen kembali menatap siluet samping wajah putra kecilnya.
"Itu lagu yang indah.." Chen berkomentar.
"Dan menyedihkan.. aku tahu." Ujar Xiumin menimpali, lalu menunduk.
"Semua hal indah memang selalu terasa menyedihkan Xiu. Karena itulah banyak orang menangis saat mendengarkan lagu yang sangat indah, melihat pemandangan yang sangat indah, dan segala momen indah yang terjadi dalam hidup orang- orang, selalu ada air mata didalamnya. Karena keindahan itu... memang menyedihkan." Xiumin kembali mendongak, memikirkan kata- kata dari Chen.
Chen mencoba menampilkan senyum ringan seraya menghela napas. Berusaha meringankan sesak didadanya. Tanpa sadar ternyata hembusan napasnya justru menerpa leher Xiumin, membuat Xiumin berjerngit geli. Chen tersenyum dengan lebar setelah melihat itu, kemudian kembali menciumi leher putih yang sudah dihiasi banyak sekali tanda merah keunguan milik putra angkatnya sendiri.
"Kalau kita pikir lagi, hari ini sungguh mirip dengan hari itu, saat aku tak bisa datang ke pertemuan orangtua dan tak bisa melihatmu bernyanyi. Kau marah, berteriak, dan memukuliku. Hari ini aku menggendongmu kembali ke kamar seperti hari itu. Aku kembali memangku mu diatas kursi goyang, dan kau juga akhirnya bernyanyi untukku. Humm.. Rasanya sudah lama tak mendengarmu bernyanyi.. Aku sempat terkejut mendengar suaramu yang sekarang ternyata indah sekali." Xiumin berdelik mendengarnya, seraya berusaha menjauhkan lehernya dari kecupan bibir Chen yang semakin intens saja.
"Tadi kau mengatakan sudah lama tak mendengarku tertawa, lalu sudah lama tak memangkuku, dan sekarang sudah lama tak mendengarku bernyanyi... wahh, sebenarnya sudah berapa lama kau tak memperhatikan aku yang semakin hari semakin cantik ini heh?" Chen memandang bibir kecil itu dengan gemas, rasanya menyenangkan melihat Xiumin yang cerewet dan berceloteh seperti anak kecil.
Ini dia.. putra kecilnya telah kembali.
"Kau benar... waktu cepat berlalu, dulu saat kau masih kecil, aku bisa dengan santainya memandikanmu. Tapi sekarang, aku rasa bisa lain ceritanya."
Xiumin membuang muka mendengar itu, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah malu.
"Sejak kapan putraku tumbuh menjadi pria semenarik ini heh?. Aku bingung kenapa kau tak pernah dapat kekasih walau sudah menjadi pria seimut ini." Komentar Chen.
Xiumin membuang napas kasar.
"Itu karena kau Pak Tua. Kau menatap garang pada semua teman pria ataupun teman wanitaku yang datang kerumah, bahkan bila mereka datang hanya untuk kerja kelompok saat aku masih sekolah ataupun hanya rekan kerja saat aku sudah bekerja sekarang." Chen tertawa mendengar gerutuan Xiumin. Membicarakan ini membuat Chen teringat akan sesuatu.
"Ngomong- ngomong Xiu, aku dengar Choi Suho anak Pak Choi Siwon pemilik Bank SS yang menyewa seluruh isi gedung besar milik BB di daerah Gangnam, mengajakmu makan malam. Lalu aku dengar kau menolaknya." Xiumin membelalakkan matanya.
"Darimana kau tahu?!" Tanya Xiumin terkejut, lalu detik selanjutnya menampilkan wajah seperti teringat akan sesuatu.
"Ohhh.. pasti Jimin yang memberitahumu." Tebak Xiumin tepat sasaran.
Chen mengangguk menanggapi. "Bagaimana ini Xiumin, kau dalam masalah, kau telah melewatkan seorang pewaris bank besar. Itu kerugian besar untukmu." Ujar Chen dengan nada suara menggoda.
Xiumin menampilkan wajah berpikir, "Setidaknya sekarang aku mendapatkan pewaris sebuah Perusahaan Hiburan yang sungguh besar, jadi tak apa." Xiumin tersenyum kepada Chen saat mengucapkan itu.
Chen tersenyum mendengarnya. Paham bahwa Xiumin sedang membicarakan dirinya.
"Oho.. belum tentu Tuan Muda Byun mewariskan BB Entertainment padaku. Kita tak tahu apa isi dari surat wasiat milik Tuan Muda." Xiumin memutar bola matanya.
"Kau berkata seolah- olah ada orang lain yang akan Baekhyun percayakan saja untuk mengurus agensi kesayanganmu itu." Komentar Xiumin, dan Chen tersenyum tenang menanggapinya.
"Aku memang harus memberikan agensi itu ke orang lain Xiu." Jawabnya.
Xiumin mengerutkan dahinya, "Kenapa begitu?" Tanya Xiumin.
Chen menjawabnya dengan mencium pelipis pria mungil itu terlebih dahulu, baru berkata, "Kenapa kau bertanya bila kau sudah tahu jawabannya kucing kecil..", dan Xiumin terdiam mendengarnya.
"Jangan katakan, itu demi aku?" Xiumin bertanya ragu.
Dan Chen hanya menatap Xiumin dengan senyuman sebagai balasan. Membuat Xiumin bungkam seribu bahasa.
Jadi begitu rupanya, bila Chen ingin memiliki Xiumin. Maka Chen harus melepaskan BB Entertainment.
Pengorbanan besar harus dilakukan untuk sebuah keinginan yang sebanding besarnya.
Pengorbanan yang manakah yang akan Chen berikan. Dan keinginan yang manakah yang akan Chen perjuangkan.
Inilah yang disebut dengan pilihan.
Akan ada salah satu yang harus dikorbankan.
Dan pertanyaannya sekarang adalah..
Yang mana?
.
.
"AAAKHHH!!" Baekhyun berteriak nyaring saat tubuhnya Chanyeol angkat dengan begitu mudah, kemudian pria tinggi itu menghempaskan tubuh Baekhyun begitu saja pada ombak kencang dipantai siang hari ini.
Setelah Baekhyun tercebur pada air, Chanyeol akan melompat kearah kekasihnya itu, ikut menceburkan diri, menciptakan cipratan air yang sungguh heboh disekitar dua orang pria kelewat berenergi ini.
Sudah berjam- jam ini berlangsung, seakan tak ada lelahnya, Chanyeol dan Baekhyun terus bermain air dan berenang di pantai pribadi BB Resort dan Hotel ini. Keduanya terus tertawa sambil bergiliran mendorong tubuh satu sama lain ke air ataupun saling memukulkan percikan air ke wajah satu sama lain. Itu sungguh menyenangkan.
Sesekali Chanyeol akan berenang menuju ke tengah laut dengan Baekhyun yang sudah menggantung bagai koala dipunggungnya.
"Kita berada ditengah laut sekarang.." Ujar Chanyeol memberitahu dengan suara terengah, tubuhnya terus bergerak keatas untuk menolak air, mencoba terus mengambang diatas air dengan beban berat badan Baekhyun dibawanya.
Dengan lembut Chanyeol memindahkan Baekhyun menjadi berada dibagian depan tubuhnya. Kedua lengan ranting Baekhyun otomatis melingkari leher kekasihnya, dan tangan kekar Chanyeol berada dipinggang si mungil.
"Siapa yang mengajarimu berenang Baek?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun tersenyum ke arah Chanyeol, "Chen Ahjussi, aku belajar bersama Xiumin Hyung di kolam renang Mansion Byun." Jawabnya.
Wajah Chanyeol berkilat penasaran, "Saat umur berapa?" Tanyanya lagi.
"Umurku 8 tahun, dan umur Xiumin Hyung 10 tahun saat itu." Jawabnya lagi.
Chanyeol mengangguk paham.
"Kau sering berenang disini?"
Baekhyun menggeleng, "Aku tak pernah berenang disini. Ini pertama kalinya." Jawab Baekhyun pelan.
Dahi Chanyeol mengerut bingung.
"Padahal semua hal disini adalah milikmu, Kenapa kau tak menikmatinya?" Tanya Chanyeol bingung.
Baekhyun tertawa.
"Itu karena mitos tempat ini." Jawab Baekhyun pelan.
Chanyeol tanpa lelah terus berenang melawan ombak, dengan Baekhyun yang bergantung di lehernya.
"Mitos apa?" Tanya Chanyeol penasaran.
"Aku akan menceritakannya bila kau membawa kita ketempat yang lebih dangkal. Kau akan kelelahan, karena cerita ini panjang sekali." Ujar Baekhyun, dan Chanyeol pun menyanggupinya.
Keduanya bergerak menuju lebih dekat ke arah pantai. Hingga keduanya merasakan kaki mereka telah dapat berpijak didalam air.
"Ayo cepat ceritakan apa mitosnya?" Ujar Chanyeol tak sabaran.
"Eoh kau sungguh tertarik ternyata. Aku tak tahu, ternyata kau percaya pada hal seperti ini. Katanya, Resort ini awalnya hanyalah tanah luas dengan sebuah rumah besar menghadap pantai, yang dibeli oleh kakekku dari sebuah keluarga yang mempunyai banyak sekali anak. Lalu, si ayah dan ibu dari keluarga tersebut mengatakan, saat mereka baru saja menikah dan tinggal disini, mereka pernah bertemu dengan Dewa Laut Penunggu pantai ini. Dewa Laut itu ternyata kesepian dan sangat menyukai pasangan suami istri itu yang akhirnya meramaikan pantainya, karena itulah akhirnya Dewa Laut itu memberikan mereka berkat sehingga dikaruniai anak yang banyak sekali. Setiap harinya anak- anak dari keluarga tersebut akan mandi dan bermain di pantai ini, jadinya Dewa Laut tersebut tak merasa kesepian lagi."
Chanyeol berkedip- kedip.
"Itu cerita yang menarik. Lalu, apa hubungannya dengan kenyataan kau yang tak pernah mandi di pantai ini?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun tersenyum cerah.
"Ini dia mitosnya. Aku tak tahu ini benar atau hanyalah mitos yang dibuat oleh seluruh pekerja hotel agar banyak pasangan yang berbulan madu datang kesini. Katanya... bila kau datang bersama orang yang kau cintai ke pantai ini, hubungan kalian akan sampai pada pernikahan, dengan pernikahan yang terus bahagia dan dikaruniai banyak anak, seperti pasangan dalam motos itu. Dewa Laut disini memberi berkat pada semua pasangan yang datang." Chanyeol tersenyum lebar mendengarnya.
"Aku suka mitos itu." Komentar Chanyeol apa adanya.
Baekhyun merengut.
"Aku tak terlalu menyukainya.." Gumam Baekhyun pelan.
Chanyeol menatap wajah serius kekasihnya, "Kenapa?" Tanyanya.
Baekhyun tersenyum kecut, "Orangtuaku kesini saat mereka masih pacaran. Dan lihatlah... mereka bahkan perlu 5 tahun untuk mendapatkanku, dan setelah itu mereka meninggal dalam kecelakaan. Bukankah itu membuktikan bahwa mitos disini palsu?"
Chanyeol terdiam memikirkannya.
"Tapi tetap saja Baek, orangtuamu akhirnya sampai pada pernikahan dan memiliki dirimu sebagai putranya. Pernahkah kau berpikir ini Baek?. Bahwa cinta orang tuamu itu sejati?. Mereka sangat bahagia bersama saat semasa hidupnya, tetap terus bersama dan percaya pada satu sama lain bahkan saat 5 tahun tetap tak dikaruniai anak, dan setelah keduanya melahirkan putra tercantik didunia, keduanya pergi bersama ke surga. Jika itu bukan happy ending, aku tak tahu harus menyebutnya apa." Baekhyun tersenyum cerah kepada Chanyeol. Inilah yang Baekhyun sukai dari kekasihnya, pria tinggi ini positif sekali.
"Lebih tepatnya itu adalah bittersweet ending.." Ujar Baekhyun menambahkan.
Chanyeol membalas senyuman Baekhyun, "Oh ya. kau benar, seperti biasa, Baekhyun sungguh pintar." Chanyeol memuji Baekhyun untuk sebuah hal yang sederhana.
Tiba- tiba sebuah pemikiran melintas dikepala Chanyeol.
"HEY!. Karena mitos itukah kau mengajak aku berenang dipantai ini?. Eoh?" Baekhyun menjadi bungkam, dengan cepat Tuan Muda ini melepas pelukan tangannya dari leher Chanyeol, kemudian berjalan pergi menuju ke pantai.
Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun yang menghindarinya karena malu. Menatap siluet tubuh kekasihnya yang semakin menjauh itu.
"TERIMA KASIH SUDAH MENJADIKAN AKU ORANG PERTAMA YANG KAU BAWA KESINI. AKU AKAN BERUSAHA MENGABULKAN KEINGINANMU AGAR KITA BERAKHIR SAMPAI KE PERNIKAHAN DAN PUNYA ANAK YANG BANYAK!!" Teriak Chanyeol tanpa tahu malu.
Membuat Baekhyun langsung menutup telinganya dengan wajah memerah. Lalu menoleh ke arah Chanyeol, menampilkan wajah kesal yang hanya Chanyeol balas dengan tawa bahagia.
Baekhyun kemudian terdiam. Sebuah pemikiran tiba- tiba terlintas didalam kepala cantiknya.
"Apa Xiumin Hyung berhasil membawa Chen Ahjussi ke pantai ini bersamanya ya... Aku pernah menceritakan tentang mitos ini padanya saat kami belajar berenang dulu, semoga dia masih mengingatnya." Pikirnya.
"Hey Byun Baekhyun, kenapa melamun?" Baekhyun merasakan Chanyeol memeluknya dari belakang.
Baekhyun menampilkan seringaian.
"Aku sedang memikirkan pria lain." Jawabnya singkat, Chanyeol membelalakkan matanya.
"APA KATAMU?!" Teriaknya begitu saja tanpa sadar melepaskan pelukannya.
"Sudahlah, kau berisik. Aku mau makan ice cream setelah ini, jadi ayo cepat kita berbilas." Baekhyun kembali berjalan terlebih dahulu meninggalkan Chanyeol sendiri.
"Bagaimana kau bisa meninggalkan aku dengan perasaan seperti ini. Setidaknya beritahu aku siapa pria lain yang kekasihku pikirkan?!. Dan juga BAEK KAU SALAH JALAN!!."
"Ups.." Terdengar samar Baekhyun berseru malu sambil berbalik arah, yang tadi ke kanan, sekarang ke kiri.
Chanyeol menatap itu dengan kesal. Kemudian mulai berlari mendatangi Baekhyun. Tak perlu waktu lama baginya hingga telah menyamakan langkah mereka dan meraih tangan lentik kekasihnya untuk digenggam. Menuntun arah berjalan keduanya yang ingin kembali ke kamar.
"Katakan siapa pria itu?" Tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun menghela napas kesal.
"Tak usah dipikirkan, aku hanya memikirkan pria penjaga toko ice cream tadi. Jadi cepatlah kita berbilas biar kau tahu bagaimana penampilan pria yang aku pikirkan tersebut." Nah.. cerdik sekali Byun Baekhyun.
Chanyeol merengut.
"Aku juga pernah bekerja di toko ice cream tahu.." Ujarnya tak mau kalah.
"Ohh begitu, tapi kau tak bisa menang melawan penjaga toko ice cream langgananku di Jeju ini Chan. Dia yang terbaik." Chanyeol mendengus kesal mendengarnya.
"SIAPA HEH?! SIAPA YANG BISA MENGALAHKAH SEORANG PARK CHANYEOL?!!" Teriaknya murka.
.
.
Chanyeol menatap tanpa berkedip pada pria didepannya. Pria tinggi itu sama sekali tak bisa berkata apapun. Sedangkan Baekhyun sudah mati- matian menahan tawa sedari tadi, merasakan kekasihnya terdiam mematung.
"Apa yang kau lakukan Chan.. Cepat beri salam." Ujar Baekhyun pada kekasihnya dengan setengah berbisik.
"A-Ah ya.. Se-Selamat siang, bagaimana kabar anda.." Chanyeol membungkuk 90 derajat.
Pria pemilik toko ice cream itu bernama Kim Heechul.
Pemilik toko ice cream yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi dikeluarganya. Dan satu lagi, Kim Heechul bahkan terlihat lebih tua daripada orangtua Baekhyun jika saja keduanya masih hidup.
"Kakek Heechul, anda ingat saya kan?" Tanya Baekhyun dengan suara yang amat sangat sopan.
Wajah kakek itu terlihat amat sangat cerah memandang wajah cantik Baekhyun dengan mata tua dibalik kaca matanya.
"Tentu saja kakek ingat kamu. Namamu Baekho bukan?"
"Pft.." Baekhyun merengut ke arah Chanyeol yang terdengar menahan tawanya.
"Haishh.. Kakek salah menyebut nama saya lagi, nama saya Baekhyun." Ujar Baekhyun kesal.
Terlihat kakek itu tersenyum menyesal.
"Maafkan aku, kau sungguh mirip dengan Baekho." Ujarnya dan membuat Chanyeol dan Baekhyun terdiam, Chanyeol memandang kakek tersebut dengan tatapan sedih.
Lalu Baekhyun mulai bersuara, "Baekho itu nama kakek saya. Saya Byun Baekhyun anak dari Byun Baekbeom dan cucu dari Byun Baekho. Kami bertiga dikatakan memang sangat mirip." Jelas Baekhyun dengan nada suara yang sedikit terasa sedih kepada pria tua didepannya.
"Ohh.. begitu rupanya." Kakek itu bergumam, lalu tersenyum lembut kepada Baekhyun.
"Kalau yang satu ini aku pasti tak salah tebak, jika ada pria manis bernama depan Byun dan bernama tengah Baek. Maka hanya satu yang kalian inginkan di kedai ice creamku. Rasa stroberi bukan?" Tanyanya dengan suara tuanya yang terdengar sangat yakin.
Baekhyun tersenyum cerah, "Sesuai harapan, kakek yang terbaik. Saya pesan yang porsi besar ya. Oh, kau mau ice cream rasa apa Chan?" Tanya Baekhyun pada pria disampingnya yang sedari tadi terdiam.
"Aku?, emm.. aku bingung, menurutmu pisang atau coklat Baek?" Chanyeol meminta pendapat Baekhyun.
"Bagaimana bisa selera ice cream kita sangat berlawanan. Pisang saja. Aku tak pernah mencobanya, jadi aku ingin mencoba punyamu nanti." Saran Baekhyun.
Chanyeol menampilkan ekspresi berpikir.
"Yasudah, pisang saja." Putusnya final.
Singkat cerita keduanya sudah duduk berhadapan di meja bernomor 04 di kedai cafe ice cream bergaya vintage ini. Keduanya duduk manis menunggu pesanan datang.
"Aku tak tahu bahwa ada toko ice cream yang setua ini di Jeju." Komentar Chanyeol.
Baekhyun tersenyum mendengarnya, lebih tepatnya, Baekhyun memang selalu tersenyum kepada Chanyeol setiap kali berbicara dengan pria tinggi tersebut, apapun yang Chanyeol katakan.
"Aku pertama kali datang ke sini tahun lalu, dan Kakek Heechul malah memanggilku Baekbeom. Dia mengiraku sebagai ayahku, dan sekarang dia malah mengira aku adalah kakekku. Sepertinya kepikunan Kakek Heechul semakin bertambah parah saja, kemana cucu- cucu dan anak- anaknya ya, kenapa dia harus menjaga toko ini sendirian. Harusnya Kakek Heechul pensiun saja, dan digantikan oleh anak atau cucunya." Baekhyun mengucapkannya dengan nada khawatir.
Chanyeol mengamati wajah Baekhyun.
"Mungkin dia takut mengubah rasa dari ice creamnya bila anak atau cucunya yang mengambil alih toko ini. Ngomong- ngomong, setua apa dia hingga bisa kenal kakekmu?" Tanya Chanyeol takjub dengan suara berbisik.
Baekhyun tertawa mendengarnya.
"Aku dengar dia lebih tua beberapa tahun dari Kakekku. Mungkin dulu keduanya sudah seperti teman." Baekhyun menjawabnya.
Chanyeol menganggukkan paham sekaligus takjub.
"Baek, apakah seluruh nama anak pria di keluargamu bermarga Byun dan bernama tengah Baek?" Tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun mengangguk.
Dan Chanyeol membelakak meresponnya.
"J-Jadi... selama ini... aku memanggilmu Baek, itu berarti aku juga memanggil ayahmu, kakekmu, dan bahkan mungkin kakek buyutmu!!." Chanyeol berseru tak percaya.
Baekhyun kembali tertawa mendengar ucapan heboh Chanyeol.
"Bisa dibilang begitu.." Ujar Baekhyun santai.
"Hiiiiii..." Chanyeol berjerngit ngeri. Merasa merinding.
"Itu mengerikan Baek. Aku memanggil banyak nama orangtua setiap memanggil namamu. Eh? Aku memanggilmu dengan Baek lagi tadi, nah berarti aku memanggil nama banyak orang tua lagi. Astaga.. aku sudah tak sopan!" Baekhyun menggeleng- geleng maklum mendengar nada putus asa Chanyeol yang terlampau terkejut akan fakta yang baru saja dia ketahui dari keluarga besar Byun.
"Sudahlah Chan. Ice cream kita telah datang.. makan saja. Dinginkan otakmu." Ujar Baekhyun dengan tenang, seraya tersenyum ke arah pria yang Baekhyun ketahui dari aromanya adalah Kakek Heechul.
"Selamat menikmati ice cream kalian." Ujarnya, kemudian berlalu pergi setelah mengantarkan pesanan Baekhyun dan Chanyeol.
"Mangkuk ice cream milikmu di arah jam 5." Ujar Chanyeol memberi tahu dengan akurat, Baekhyun tersenyum mendengar bagaimana pengertiannya sang kekasih, lalu mulai menyendok ice cream strawberry miliknya.
Chanyeol menatap kekasihnya yang memakan ice cream dengan sungguh lahap. Humm.. ice cream di musim panas seperti ini memang yang terbaik. Tapi Chanyeol menjadi tak berselera sekarang.
"Ini tak bisa dibiarkan, aku harus punya panggilan baru untukmu." Ujar Chanyeol dengan nada serius.
"Ohh.. begitu... lalu.." Respon Baekhyun seadanya, masih sibuk memakan ice cream miliknya.
Chanyeol mengangguk hikmat.
Lalu memandang Baekhyun dengan lekat.
"Hyunnie"
UHUK!
Dengan panik Chanyeol langsung berdiri dan berlari menuju dispenser, mengambilkan air putih untuk Baekhyun yang tiba- tiba tersedak.
"Astaga.. ceroboh sekali. Ini." Ujar Chanyeol seraya memberikan segelas air putih itu langsung pada tangan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum kecil setelah menegak habis satu gelas air putihnya.
"Kau mengejutkanku." Ujar Tuan Muda tersebut dengan jujur.
Chanyeol menampilkan senyum lebar mendengar itu, "Hyunnie memang terdengar manis, tapi apa tak terlalu feminim?. Bagaimana kalau Kyungie?." Chanyeol bertanya meminta pendapat.
Baekhyun terdiam sebentar. Lalu berdecih kesal.
"Kyungie?!. Kau sedang memanggilku atau memanggil Kyungsoo heh?" Astaga Baekhyun, sensitif sekali pada segala hal yang berhubungan dengan Idol nya Chanyeol itu.
"Kenapa kau membawa nama Kyungsoo ke sini heh?. Ohh... karena kau memikirkannya hanya karena aku memanggilmu dengan Kyungie padahal aku memikirkan dia saja tidak. Dan tak masuk akal sekali kau cemburu pada Kyungsoo hanya karena aku penggemarnya. Harusnya aku yang lebih cemburu pada Kyungsoo karena kau adalah cinta pertama dia!. Harusnya aku yang lebih cemburu disini karena kekasihku sangat populer!" Chanyeol berceramah panjang lebar, dan hanya satu kalimat yang masuk ditelinga Baekhyun.
"Dengar ucapanmu tadi?!, kau menyebut dirimu sendiri penggemar Kyungsoo. Astaga, tak bisa dipercaya. Baru saja pagi tadi kau bilang sudah tak menggemari dia lagi." Ujar Baekhyun dengan sinis.
Chanyeol merengut tak terima, "Kau tak adil sekali, aku tak pernah membahas kau yang terus mendengarkan lagu Taeyeon Noona saat membaca buku. Kenapa kau tak dengarkan rekaman suaraku saja heh. Aku banyak bernyanyi di rekordermu!. Kekasihmu ini jugalah penyanyi." Teriak Chanyeol protes.
"Haishh.. Aku akan tertidur bila mendengarkannya, bagaimana kau bisa lupakan itu?!"
Tunggu sebentar.
Saudara- saudara sekalian, apakah pasangan ini sedang bertengkar?
Humm..
Ini pertama kalinya.. ( Jika perebutan kaus abu- abu itu tidak dihitung sebagai pertengkaran )
"Kau berteriak padaku?" Tanya Chanyeol dengan suara shock.
Andaikan mata Baekhyun normal, mungkin Tuan Muda ini sudah akan memutar bola matanya jengah.
"Kau yang lebih dulu berteriak padaku Tuan Park." Ujar Baekhyun kesal.
"Bukan aku, tapi kau Byun Baekhyun!"
"Kau Park Chanyeol!"
"KAU!"
"KAU!!!"
"POKOKNYA KAU!!"
Kemudian hening...
Keduanya sama- sama tak bersuara.
Hingga...
"Pftt.. / Pft..."
"AHAHAHAHA..."
Keduanya justru pecah dalam tawa bahagia bersama- sama.
"Astaga.. konyol sekali." Komentar Baekhyun yang tak habis pikir dan tak menyangka dirinya bisa bersikap sekekanakan ini.
"Bagaimana bisa berkelahi denganmu pun dapat membuat bahagia Tuan Byun?" Tanya Chanyeol dengan kalimat cheesy seperti biasanya.
Baekhyun mengangkat bahunya tak tahu.
"Jadi Park Chanyeol, pikirkan saja apa nama panggilan baru yang tepat untukku sambil makan ice cream pisangmu. Cepatlah, rasanya tak enak lagi bila sudah meleleh." Ujar Baekhyun dengan suara tenangnya, beserta senyuman manisnya ke arah Chanyeol.
Chanyeol membalas senyuman itu, menatap Baekhyun yang sudah kembali memakan ice cream strawberry nya dengan lahap.
"Baiklah, Kyeongie."
UHUK
"Haishhh.." Chanyeol menggerutu seraya dengan sigap berdiri kemudian berlari menuju dispenser mengambilkan air putih lagi untuk Baekhyun yang kembali tersedak.
Sementara Baekhyun justru semakin terbatuk- batuk karena pria manis ini justru tertawa saat dirinya sedang tersedak. Tawa yang sungguh bahagia.
.
.
Sehun dan Jimin berjalan dipadang bunga yang entah berada dimana. Keduanya tersesat setelah memutuskan untuk berkeliling pulau Jeju. Lalu berakhir dengan tak peduli akan apa yang terjadi dan memutuskan untuk menikmati pemandangan indah padang bunga yang mereka datangi ini saja.
"Tao sudah menghubungimu lagi?" Tanya Jimin.
Sehun menggeleng kecewa sebagai jawaban.
Jimin pun hanya mengangguk mengerti meresponnya.
"OhSe.." Panggil Jimin pelan.
"Hem?" Dan hanya Sehun jawab dengan gumaman.
"Kenapa kau menyukai Tao?" Tanya Jimin penasaran.
Sehun terdiam sebentar, kemudian menghela napas.
"Aku tak tahu. Saat aku menatap Tao, aku hanya merasa ada yang membisikkan kata, 'Inilah pria yang aku cintai', didalam benakku. Rasanya seperti bernapas, aku melakukannya tanpa sadar dan aku merasa sesak bila dia tak ada. Saat dia ada, aku justru merasa lega sekali." Jimin menatap Sehun dengan tatapan asing.
Gadis mungil itu berjinjit, lalu menempelkan punggung tangannya pada dahi Sehun. "Kau demam?. Kau bukan Sehun kan?. Sehun sahabatku tak akan mengatakan hal semacam itu, kau pasti palsu. Hei.. kembalikan Sehun yang asli." Jimin mengucapkan itu semua dalam sekali tarikan napas.
Sehun berdelik kesal pada gadis didepannya, kemudian menyingkirkan tangan Jimin dari keningnya dengan sedikit kasar.
"Apa- apaan kau ini." Sehun menggerutu.
Membuat Jimin terdiam, lalu tiba- tiba berseru keras, "NAH!!. Itu baru Oh Sehun yang aku kenal." Sehun sedikit terperanjat mendengar seruan itu.
"Aku juga bisa bersikap melankolis ShinJi. Tolong maklumi saja, aku baru putus dari kekasihku." Sehun berkata pelan.
Jimin mempoutkan bibirnya, "Dan itu adalah kalimat yang diucapkan oleh pria yang siang ini ketahuan olehku sedang menggoda pelayan hotel." Komentar Jimin dengan sinis dan dibalas Sehun dengan cengiran tak bersalah.
"Menjadi galau karena putus bukan berarti aku tak boleh mengoda pria manis yang aku temui bukan?. Tak ada peraturan untuk itu." Sehun mengangkat bahunya acuh, dan Jimin menatap itu dengan ekspresi jijik.
"Tuhan, tolong jauhkanlah pria seperti Oh Sehun dari lingkaran asmaraku." Jimin berdoa sambil menyatukan kedua tangannya, tak peduli Sehun mendengar kata- katanya itu, tepat didepannya.
Sehun memutar bola matanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Merasa kesal tapi tak sakit hati sama sekali.
"Ngomong- ngomong, aku melihat Kyungsoon Noona beberapa saat yang lalu, sebelum aku bertemu denganmu." Mendengar nama Kyungsoon, membuat Jimin merespon dengan cepat.
"Kau melihatnya dimana?. Dia sedang apa?. Bersama siapa?. Apa ada Chanyeol Oppa dan Tuan Muda Byun juga disekitar situ?. Cepat jawab OhSe!" Tanya Jimin dengan beruntun.
"Wowowowow.. Tenanglah ShinJi. Sekarang aku curiga bahwa justru kau yang terobsesi dengan Kyungsoon Noona." Ujar Sehun yang terkejut menerima serbuan pertanyaan.
Jimin menghela napas kesal, "Tak usah cerewet, jawab saja." Ujarnya.
"Sadarkah kau bila aku bilang dirimulah yang cerewet disini?. Baiklah ini aku jawab, aku melihatnya masuk ke toko bunga, sepertinya dia tengah berkencan, karena aku melihatnya mengobrol dekat sekali dengan seorang pria sebelum masuk ke toko bunga tersebut. Aku tak dapat melihat wajah pria itu karena dia membelakangi aku, tapi dilihat dari postur tubuhnya, pria itu tampan sekali, dia bahkan sepertinya lebih tinggi daripada aku."
Jimin terdiam mendengar itu semua sambil mengerutkan keningnya, tampak berpikir.
"Dia bersama siapa?, tapi satu yang pasti, itu tak mungkin adalah kencan, Kyungsoon tak akan berkencan dengan siapapun sekarang, gadis gila itu hanya mempunyai satu pria yang diinginkannya." Jimin bergumam serius.
"ShinJi.." Panggil Sehun kepada sahabatnya.
"Hem?" Jimin mendongak untuk dapat menatap wajah Sehun yang jauh lebih tinggi darinya.
"Aku senang melihatmu peduli pada orang lain, aku rasa karena itulah aku betah bersahabat denganmu. Tapi, kapan giliran kau memikirkan dirimu sendiri?" Sehun bertanya serius kepada sahabat mungilnya.
Mendengar itu membuat Jimin kembali terdiam sambil menatap wajah Sehun yang juga menatap ke arahnya.
"Jangan buat aku repot memikirkan dirimu terus- menerus karena kau tak pernah memikirkan dirimu sendiri. Kau merepotkan." Lanjut Sehun dengan suara kesal, kemudian menjentikkan jarinya ke dahi Jimin dengan keras.
"AKH!" Dengan refleks Jimin memegang dahinya yang terasa pedih.
"Siapa juga yang menyuruhmu repot- repot memikirkan aku. Pikirkan saja mantan kekasihmu itu sana!" Teriak Jimin kesal, gadis itu terlihat menghentakkan kakinya, sebelum akhirnya berjalan cepat menghindari Sehun.
Sehun menatap siluet bagian belakang sahabatnya, seraya bergumam.
"Perkataan Xiumin Hyung benar, adiknya sungguh bodoh. Seperti lilin yang menerangi orang lain, tapi menghancurkan dirinya sendiri. Aku hanya ingin menonton semua drama ini dalam diam, tapi lama- lama rasanya tak tahan juga melihatnya. Karena sahabatku, terus menghancurkan dirinya sendiri."
Sehun menarik napasnya.
"Hey ShinJi, jangan menangis sendirian!!" Sehun berteriak keras ke arah Jimin yang sudah berdiri jauh didepannya.
Terlihat samar bagaimana bahu Jimin terperanjat. Kemudian dengan panik gadis itu menghapus air matanya.
"Aku tak menangis!" Balas Jimin berteriak, tanpa menoleh ke belakang.
"Hidungmu akan semakin pesek jika kau terus berbohong.." Sehun tak berteriak, namun suaranya cukup lantang untuk dapat didengar Jimin.
Jimin mendengus kesal mendengar itu. Kemudian berbalik menghadap Sehun dengan berurai air mata.
"Iya aku menangis. Kau puas?. Mataku mengeluarkan air jadi kalau bukan menangis aku tak tahu lagi harus menyebutnya apa. Aku memang menangis, terus kau mau apa heh?!" Jimin memang sungguh menakjubkan, bahkan saat menangispun gadis ini tetaplah cerewet dan berisik.
Sehun yang telah berdiri di hadapan Jimin itu dengan pelan meletakkan kedua tangannya pada bahu gadis didepannya. Kemudian dengan pengertian membalik tubuh sahabatnya untuk kembali membelakanginya. Sehun tahu Jimin tak ingin menampilkan wajahnya yang sedang menangis.
Bahu Jimin naik dan turun mengikuti isakan gadis itu dapat Sehun rasakan karena kedua tangannya masih berada di bahu Jimin.
"Hiks.. Aku ingin merelakannya.. tapi kenapa sakit sekali. Hiks.. Aku bahkan bingung dengan perasaanku sendiri. Aku bahagia melihat mereka bahagia, lalu aku menjadi sakit didetik selanjutnya. Aku bahagia melihat mereka tertawa bersama, lalu aku merasa sakit setelahnya. Aku senang melihat mereka berciuman dan berpelukan didepanku, tapi kenapa sesak itu tetap saja datang. Aku.. Aku yang pertama bertemu dengan Chanyeol Oppa, tapi bukan aku yang menjadi pemenang hatinya. Aku juga selalu peduli dan perhatian padanya, tapi kenapa tak ada seorangpun yang menyadarinya. Aku tak ingin membenci Tuan Byun, tapi aku sungguh merasa iri padanya, ada saatnya dimana aku berharap bahwa posisi Tuan Byun bisa menjadi milikku saja. Tapi.. hiks.. mana bisa... mana bisa aku merebut satu- satunya orang paling penting dalam hidup Tuan Muda. Minseok Oppa memiliki Chen Ahjussi, aku sempat mempunyai keluarga yang utuh dan sekarang aku masih memiliki ibuku, Kyungsoo Oppa bahkan tak kesepian sama sekali. Tapi, Tuan Muda Byun... dia pasti selama ini merasa sungguh kesepian sendirian tanpa seorangpun yang menjadi sandarannya. Mana bisa... mana bisa aku merebut satu- satunya orang yang paling berharga untuk Tuan Byun. Tapi tetap saja, Chanyeol Oppa jugalah orang yang berharga untukku..."
Sehun hanya diam mendengarkan semuanya. Menatap siluet bagian belakang Jimin yang sedang menangis sambil menunduk itu.
"Bahkan saat menangispun kau tetap cerewet.." Komentar Sehun dengan kejamnya, namun Jimin tahu, maksud Sehun itu baik, pria itu sedang menghiburnya dengan caranya sendiri.
Mendengar itu membuat Jimin terkekeh disela tangisannya. "Sampai akhirpun kau tetap tak tahu bagaimana bersikap lembut pada perempuan." Jawab Jimin dengan kalimat sama kejamnya.
Mata Jimin terbelalak di detik selanjutnya. Merasakan Sehun memeluknya dari belakang.
"Ini adalah hadiah karena kau sudah bersikap sebagai gadis yang baik sekali. Kau adalah wanita pertama yang aku peluk setelah ibuku, jadi merasa tersanjunglah.." Ujar Sehun dengan kalimat datarnya.
Jimin memandang datar pada pemandangan indah padang bunga didepannya dengan wajah memerah dan mata membengkak habis menangis.
"Menurutmu persahabatan itu apa OhSe?" Tanya Jimin dengan suara serak.
Sehun menampilkan wajah menerawang, "Mungkin seperti menyikat gigi dipagi dan malam hari. Aku terbiasa melakukannya. Merasa kurang bila tak melakukannya. Aku tahu aku bisa hidup tanpa menyikat gigi, tapi aku juga tahu, hidupku akan terasa lebih baik dengan melakukannya. Persahabatan terasa seperti itu bagiku." Jawab Sehun pelan.
Jimin tertegun mendengar itu.
"Terima kasih OhSe, sudah menjadi sahabatku." Ujar Jimin pelan.
Sehun mengangguk pelan, "Terimakasih juga ShinJi, sudah menjadi sahabatku."
"Aku belum mengatakan ini, selamat atas debutmu, yang akan terjadi dalam hitungan bulan saja lagi." Ujar Jimin dengan tulus.
"Kau juga, semoga berhasil di audisimu yang akan datang. Aku punya firasat baik akan audisimu nanti." Ujar Sehun, dan menciptakan senyuman dibibir sahabat mungilnya.
Jimin berbalik dan otomatis melepaskan pelukan keduanya.
"Aku juga punya firasat yang baik untuk audisiku selanjutnya. Bila aku lolos audisi, kau harus membawakan aku sebuket besar bunga yang sangat cantik ya OhSe!" Jimin berseru semangat.
Dan Sehun tak tega untuk tidak mengiyakan saja keinginan gadis yang baru saja kembali ceria itu. "Kita berdua memang tak beruntung akan percintaan, namun setidaknya kita mempunyai harapan akan mimpi kita berdua." Sehun berujar dengan nada suara seolah- olah sedang meramal nasib keduanya.
"Apa kau cenayang?. Berhentilah mengoceh tentang percintaan dan segala macamnya lagi. Aku akan move on mulai sekarang, dan aku akan menjadi murni seorang fans saja. Dan OhSe, bila kau memang bisa menerawang, cepatlah pikirkan bagaimana cara kita bisa pulang. Astaga, jalan mana yang harus kita tempuh untuk bisa kembali ke hotel?!" Jimin mengucapkan itu sambil berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sehun sendirian.
Sehun menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang sahabat.
"Sampai akhirpun dia tetap cerewet. Hey.. tunggu aku!" Sehun berseru, kemudian berlari mengejar Jimin yang telah berada cukup jauh didepannya.
.
.
Kai menatap Kyungsoo yang berbaring lemas di ranjang mereka. Terlihat tak bersemangat sama sekali. Hal ini sudah berlangsung sejak Kyungsoo kembali mendatangi Kai setelah sebelumnya mendatangi kembaran beda 30 menitnya itu, Do Kyungsoon.
"Sebenarnya apa yang Kyungsoon katakan padamu sampai kau menjadi seputus asa ini?" Tanya Kai dengan suara yang teramat khawatir.
Terlihat Kyungsoo menyeka beberapa tetes air matanya dengan kasar. Kemudian berbalik, tidur dengan memunggungi kekasihnya.
"Bukan hal penting Hyung." Ujar Kyungsoo pelan dengan suara serak sakit hati.
Membuat Kai mengerutkan keningnya bingung sekaligus khawatir. Sebenarnya apa yang sudah Kyungsoon katakan pada Kyungsoo?.
.
.
Seorang gadis cantik berambut hitam panjang sedang duduk disalah satu kursi di bandara dengan sebuah koper berwarna merah didepannya. Terlihat gadis itu menempelkan telepon genggamnya pada telinga, menelpon seseorang.
"Aku akan naik pesawat 15 menit lagi, dan akan sampai ke Seoul 2 jam kemudian. Jadi, lakukanlah di waktu tersebut." Ujarnya pelan.
Pihak di seberang sana sepertinya mengatakan hal yang lucu, hingga berhasil membuat gadis cantik ini tersenyum sumbringah, kemudian berkata.
"Tentu saja berita itu akurat. Kau bisa percaya aku, karena Do Kyungsoo, adalah saudara kembarku."
.
.
- 14 : 45 PM -
Chanyeol dan Baekhyun sedang menikmati pemandangan pantai di sore hari dari atas balkon kamar mereka, ralat, hanya Chanyeol yang menikmati pemandangan tersebut, sedangkan Baekhyun hanya dapat merasakan suasananya. Bersyukurlah akan kekayaan Baekhyun yang berlimpah, keduanya dapat menikmati waktu berdua di kamar terbaik yang terletak di lantai paling atas BB Hotel and Resort ini. Benar- benar sebuah pengalaman hidup yang sebelumnya tak pernah Chanyeol mimpikan akan dirasakan olehnya.
Tak ingin munafik Chanyeol memang menyukai kekayaan milik kekasihnya, namun bukan berarti Chanyeol menyukai Baekhyun hanya karena pria manis itu kaya. Chanyeol mencintai Baekhyun bersama hartanya, tapi tidak bila itu adalah harta Baekhyun tanpa Baekhyunnya.
Begitu juga banyak hal lainnya. Seperti Chanyeol yang menyukai senyum cantik Baekhyun, tapi tidak dengan senyum cantik tanpa Baekhyunnya. Intinya, Chanyeol hanya terlalu menyukai Baekhyunnya.
Kedua pria yang sedari pagi selalu menempel seperti sudah direkat dengan lem ini bersandar pada pagar balkon, sambil meminum teh hangat yang Chanyeol buatkan untuk keduanya.
"Kita sudah mandi di pantai selama berjam- jam, lalu makan banyak sekali ice cream, kau harus minum sesuatu yang hangat sekarang, aku tak ingin kau masuk angin." Baekhyun tersenyum mendengar nada perhatian Chanyeol.
"Bagaimana penampilanku sekarang Chan?" Tanya Baekhyun pada kekasihnya.
Mendengar pertanyaan itu membuat Chanyeol mengobservasi kekasihnya dari atas sampai ke bawah. Baekhyun tampak manis dengan ripped jeans dan kemeja putih bergaris- garis hitam vertikal yang tampak sungguh besar ditubuh Baekhyun.
Eh,
tunggu sebentar.
"Kyeongiku yang cantik, itu kemeja milikku kan?" Tanya Chanyeol dengan suara hati- hati dan perlahan.
Baekhyun mengangguk antusias dengan senyuman manisnya.
Chanyeol memandang wajah kekasihnya yang tampak sungguh bahagia.
Kemudian tawa renyah kembali menghiasi pembicaraan kedua orang ini.
"Astaga, kau membuatku gila.." Komentar Chanyeol seraya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan perilaku kekasihnya.
Baekhyun tampak terdiam sebentar, "Kenapa responmu seperti ini?. Mengecewakan sekali. Aku kira kau akan segera mengangkatku ke pagar balkon ini seperti yang kau lakukan pagi tadi, yang langsung mengangkatku ke meja makan." Baekhyun berucap dengan nada yang terdengar seolah dia tengah kecewa sekali, namun Chanyeol tahu, Baekhyun hanya sedang bercanda.
"Aku sangatttt.. ingin melakukannya Tuan-Penggoda-Byun. Tapi nanti saja, sekarang aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dengan pakaian lengkap dan pikiran yang bersih." Chanyeol mengatakannya dengan santai sekali.
Baekhyun terdiam mendengar itu, lalu berdecih meremehkan.
"Seperti kau bisa melakukannya saja." Komentarnya dengan suara mengejek, dan Chanyeol tertawa mendengarnya.
"Kau benar, sungguh sulit untuk berpikir dengan cara yang benar bila sudah berduaan denganmu seperti ini." Akhirnya Chanyeol mengakuinya.
Baekhyun tersenyum mendengar itu. "Apa sekarang pembicaraan kita terdengar seperti jenis obrolan pengantin baru?" Tanyanya retoris.
Chanyeol ikut tersenyum cerah, "Menyenangkan sekali bila itu memang terjadi." Chanyeol menimpali.
Baekhyun tampak berpikir sebentar, kemudian menggeleng singkat, "Humm.. tidak tidak tidak.. kita berdua terlalu muda untuk membahas tentang pernikahan." Ujarnya tegas.
Chanyeol merengut. "Jadi kau tak ingin menikah denganku?" Tanyanya kecewa.
Baekhyun mengangkat bahunya acuh, kemudian menghirup teh hangatnya dengan pelan. "Aku tidak mengatakan aku tak ingin menikah denganmu. Maksud perkataanku adalah, masih terlalu awal bagi kita untuk membicarakan hal seperti itu. Kita tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."
Chanyeol tampak ikut memikirkannya, "Kau benar, masih terlalu awal bagi kita berdua. Tapi Kyeong -
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol, menunggu pria tinggi itu melanjutkan perkataannya.
- selain denganmu. Aku tak memiliki gambaran untuk menikah dengan siapa lagi."
Baekhyun pun terdiam merona.
Dan Chanyeol tersenyum melihat semburat merah muda dipipi kekasihnya.
"Ternyata Tuan Byun menyukai kata- kata seperti itu." Ujar Chanyeol memecahkan suasana sunyi yang tercipta diantara mereka berdua sebelum berubah menjadi canggung.
KRINGG!
Keduanya terperanjat mendengar suara bel pintu yang tiba- tiba saja mengintrupsi momen keduanya.
Chanyeol terlihat berpikir, "Kau menghubungi room service?" Tanyanya, dan Baekhyun menggeleng sebagai jawaban.
"Biar aku yang buka, kau tunggulah disini." Baekhyun pun mengangguk, kemudian diam berdiri di balkon ini, menunggu kekasihnya kembali sambil menghirup tehnya yang masih terasa hangat dan sungguh nyaman di lidah.
Tak berapa lama Chanyeol pun kembali.
"Itu tukang pos. Kita mendapat kiriman Kyeongie." Ujar Chanyeol seraya mendatangi Baekhyun.
Wajah Baekhyun menampilkan ekspresi penasaran, "Kiriman apa?" Tanyanya, namun setelah Chanyeol semakin mendekat kearahnya, Baekhyun tahu apa kiriman yang telah mereka dapatkan, bahkan tanpa dengan melihatnya. Aromanya terlalu menyengat.
"Bunga." Ujar Baekhyun dengan berbisik bahkan sebelum Chanyeol sempat menjawab pertanyaannya tadi.
Chanyeol tersenyum seraya mengangguk, takjub akan kepekaan indra kekasihnya.
"Kau benar, warnanya kuning cerah, cantik sekali, dan sungguh wangi. Kira- kira nama bunga ini apa ya.. Oh, ada surat didalam buketnya.." Chanyeol mengambil sebuah kartu kecil yang diselipkan didalam buket bunga tersebut. Kemudian berdehem dengan keras, lalu membacakan kata- kata didalam kartu itu kepada Baekhyun.
"Anda tak melihatnya, namun anda pasti tahu maknanya. Krisan kuning akan mengungkapkan segalanya Tuan Muda."
Chanyeol merengut, "Tak ada nama pengirimnya Ba-Baekhyun..." Chanyeol tergagap diakhir kalimatnya, sebab setelah menoleh ke arah Baekhyun, wajah milyarder muda itu tampak pucat sekali.
Dengan sigap Chanyeol mendekati Baekhyun.
"Kau tak apa?" Tanya Chanyeol dengan panik.
Baekhyun tampak sangat shock, tubuh Tuan Muda itu bergetar dengan sangat kuat. Hanya dalam hitungan detik hingga Baekhyun mulai merasakan sesak pada napasnya, kontan saja Chanyeol semakin gelabakan.
"Hey Baekhyun..Byun Baekhyun.. bernapaslah... Baekhyun. Tarik napasmu dengan perlahan.. Baekhyun tenanglah..."
PRANG!!
Cangkir yang Baekhyun pegang telah terlepas begitu saja. Sama sekali tak peduli dengan kondisi cangkir mahal itu yang sekarang telah berubah menjadi serpihan keramik tak berarti, Baekhyun meremat baju pada bagian dadanya, tersiksa merasakan napas yang sulit sekali ditarik.
"Baekhyun.. tenanglah.. tenang.. ada aku disini. Ada aku bersamamu. Tarik napas perlahan.. lalu hembuskan.. kau pasti bisa..." Baekhyun mendengarkan itu dengan seksama, mengikuti segala yang Chanyeol katakan dengan mata yang sudah memerah menahan sakit.
Perlu beberapa menit hingga Baekhyun dapat menjadi tenang dan dapat kembali bernapas dengan normal. Chanyeol menatap itu semua dengan kekhawatiran yang sudah tak dapat dijelaskan lagi bagaimana rasanya.
"Tenanglah... ada aku disini.. tak apa, segalanya akan baik- baik saja." Chanyeol menenggelamkan Baekhyun dalam pelukannya, kemudian terkejut saat merasakan Baekhyun justru membalas pelukannya dengan teramat kuat.
"A-Apapun yang terjadi.. aku mohon jangan tinggalkan aku... Jangan tinggalkan aku..." Baekhyun berkata dengan susah payah ditengah tarikan napasnya yang payah.
Chanyeol tertegun.
Kata- kata itu...
Kalimat yang sering Baekhyun gumamkan dalam tidurnya.
Chanyeol menunduk seraya semakin erat memeluk kekasihnya, "Tenang saja, aku akan selalu bersamamu. Memangnya aku akan kemana lagi." Ujar Chanyeol pelan, dapat Chanyeol rasakan tubuh Baekhyun mulai menjadi tenang dan santai.
Pria tinggi ini menangkap objek yang sudah membuat Baekhyun mendapat serangan panik yang hebat seperti ini. Di sisi kaki mereka berdua, tampak sebuket bunga krisan kuning yang sudah tergeletak begitu saja dilantai, tampak sungguh berantakan terkena tumpahan teh dan pecahan cangkir keramik milik Baekhyun.
Batin Chanyeol bertanya- tanya...
Memangnya ada apa dengan bunga Krisan Kuning?
.
.
.
TBC
Song : YOU by Xiumin EXO
AN :
Hello Sugar~
ChanBaeknya puas banget liburan kayanya ehehe. Btw, authornya kayanya terlalu pusing mikirin jodoh yang tak datang- datang sampe bikin cerita mitos kaya gituan :D. BIARKAN SAYA KE PANTAI ITU JUGA TUAN BYUN T-T . Saya lelah ditanyain kapan nikah, siapa tahu selain bisa bikin pasangan langgeng sampe pernikahan, ternyata bisa bikin saya ketemu jodoh juga T-T.
Oh iya,
Untuk informasi saja, saat menulis tentang Xiumin di FF ini saya selalu membayangkan Xiumin saat EXO benar- benar baru debut. Sungguh imut, menggemaskan, dan gemuk- gemuk gitu ehehe.
Dan untuk Chen Ahjussi, aku sama sekali gak membayangkan Chen EXO di era apapun. Aku cuma bertanya- tanya dalam hati, "Seberapa tampan dan dewasa Chen hyung diumur 40 tahun ya.."
Semoga itu dapat membantu pembaca sekalian dalam memvisualkan pasangan yang susah jadi pasangan ini :)
Kepada :
Hildads, SehunSapiens, elroseline, bbyunee, Cheonsa528, lights88, baekyyeun, Pita388, ameliya13, danactebh, strawbaeki, dan Ryu Cho.
Saya ucapkan terima kasih banyak ya sugar ;)
Terima Kasih juga kepada pembaca lainnya yang dengan setia menunggu, membaca, mengikuti, dan menyukai cerita ini. Perlu diingat semuanya, ini adalah FF pertama saya, jadi mohon kritik dan sarannya. Dan tolong maafkan segala kekurangan.
Be Healthy and Happy.
Sampai jumpa lagi, Lets Love Eri /Bow
