Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

Happy Reading

Chapter 24 : Chrysanthemum

.

.

.

( Do Kyungsoon POV )

Do Kyungsoon, itulah namaku.

Hanya berbeda satu huruf dari saudara kembarku. Do Kyungsoo.

Sebenarnya bila bisa memilih. Aku tak ingin terlahir sebagai anak kembar, apalagi kembaran dari seorang Do Kyungsoo. Benar- benar tak menyenangkan sekali.

Rasanya aku ingin mengutuk siapapun orang di dunia ini yang berdoa untuk mendapatkan anak kembar. Aku peringatkan kepada kalian semua, bila nyatanya kalian semua tak akan pernah bisa adil memperlakukan kedua anak kalian, lebih baik tak punya anak saja sekalian.

Aku serius.

Kalian tak tahu bagaimana sakitnya saat selalu dibedakan.

Itulah yang aku rasakan seumur hidupku dengan menjadi kembaran seorang Do Kyungsoo.

Hummmm..

Sejujurnya...

Aku tak membenci Kyungsoo- ekhm -Oppa. Aku hanya iri padanya. Dia memiliki segala hal yang aku inginkan, sejak dulu.

Aku tak membencinya, namun aku juga tak terlalu menyukainya. Dan aku rasa dia juga tak menyukaiku.

Ditambah lagi sifatnya sungguh buruk. Dia pemarah, egois, menyebalkan, kasar, dan selalu ingin menang sendiri. Anehnya, semua orang tetap menyukai Kyungsoo meski dia adalah orang yang kasar dan bermulut pedas seperti itu. Sedangkan aku yang mati- matian menahan semua sumpah serapahku saat kesal, menahan tanganku saat ingin memukul, dan tetap tersenyum saat hatiku sakit. Namun orang- orang tetap tak menyukaiku.

Sebenarnya, kenapa seperti itu?

Itulah yang selalu aku tanyakan pada dunia.

Kenapa?

Kenapa kalian semua selalu lebih menyukai Do Kyungsoo daripada Do Kyungsoon.

Hal ini sudah terjadi sejak dulu. Bahkan dari kami masih kecil. Orang- orang menyukai Kyungsoo yang cakap, tak seperti Kyungsoon yang pendiam. Orang- orang menyukai Kyungsoo yang pandai bercanda, tak seperti Kyungsoon yang kaku. Orang- orang menyukai Kyungsoo yang berbakat, tak seperti Kyungsoon yang hanya terus menghabiskan waktunya menonton Disney Channel.

Baiklah, aku akan menerimanya bila orang lain tak terlalu memperhatikanku dan lebih memilih Kyungsoo. Mereka hanyalah orang- orang tak penting, orang- orang asing. Tapi yang paling menyakitkan adalah.. orangtuaku juga begitu.

Mereka lebih menyukai Kyungsoo daripada Kyungsoon.

Kyungsoo adalah anak emas mereka.

Saat tahu bahwa Kyungsoo mewarisi bakat memasak Ayah dan suara emas milik kedua orangtua kami. Keduanya menjadi fokus kepada Kyungsoo saja. Orang tua kami benar- benar memberikan perhatian mereka kepada Kyungsoo sepenuhnya, mengembangkan dan mengasah bakatnya untuk menjadi investasi masa depan keluarga kami yang benar- benar miskin waktu itu. Sedangkan aku?. Tak ada bedanya dengan bayangan di tembok. Tak di perhatikan sama sekali.

Dan lebih lucunya lagi, diriku sendiri di tuntut untuk mementingkan Do Kyungsoo daripada diriku sendiri.

Aku hanyalah Do Kyungsoon, si bayangannya Do Kyungsoo.

Aku hanyalah pemeran figuran. Dimanapun aku berada.

Sungguh memuakkan.

Sekali lagi aku ingatkan,

aku tak membenci Do Kyungsoo. Aku hanya iri padanya.

Saking irinya, hingga aku muak walau hanya untuk menatap wajahnya. Melihat betapa miripnya kami berdua hanya akan memberikan sebuah kemirisan yang semakin mencekik dadaku. Kami mirip secara fisik namun kenapa kami berdua tak sama dalam hal bakat juga.

Hidup bersama Kyungsoo hanya membuatku merasa rendah diri dan semakin membenci diriku sendiri setiap harinya. Dan itu sungguh menyebalkan.

.

.

Lalu segalanya berubah.

Saat aku bertemu dengan Tuan Muda Byun.

Dia adalah orang paling sempurna, paling baik, dan paling segalanya yang pernah aku temui. Dia jutaan kali lebih tampan daripada Kyungsoo, dan dia jauh lebih berbakat daripada Kyungsoo. Namun tak seperti Kyungsoo, kesempurnaannya tak membuatku merasa rendah dan minder.

Bagaimana bisa Tuan Muda Byun melakukannya?. Itu sungguh menakjubkan.

Dia memiliki segala hal yang lebih daripada yang aku impikan. Namun tak membuatku muak melihatnya, justru sebaliknya... dia justru membuatku selalu ingin bersamanya. Dan ingin, memilikinya.

Aku merasa, bila aku dapat memiliki Tuan Muda, maka... semua orang dan bahkan segala hal didunia ini menjadi tak penting lagi. Karena, sebuah kesempurnaan sudah menjadi milikku.

Di umurku yang baru saja memasuki 5 tahun, aku berkenalan dengannya. Seorang anak laki- laki dengan setelan paling mahal dan rapi yang pernah aku temui. Memperlakukan seluruh pelayan layaknya seorang teman dan keluarga. Berbicara padaku dengan bahasa lembut dan menenangkan. Dan yang lebih utama adalah.. dia adil pada semua orang.

Aku tak pernah merasa dibedakan dengan orang lain bila sudah bersamanya. Itu sungguh menyenangkan.

Saat aku dan Kyungsoo mencoba mengobrol dengannya secara bersamaanpun, dia akan menjawab dengan sangat adil. Hal yang tak pernah aku temui dari orang lain selama ini.

Sebuah keadilan.

Sungguh, aku saat itu tak berkeinginan untuk diutamakan. Aku telah menyerah dan sudah tak berharap untuk melampaui Kyungsoo. Bagiku, menjadi setara dengan Kyungsoo saja sudah cukup. Itu sudah sangat cukup, pada saat itu.

Dan bersama Tuan Muda Byun, hal itu terkabul.

.

.

Lalu tahunpun terus berganti.

Kyungsoo mulai berubah.

Dia menjadi semakin menyebalkan. Dia mulai menganggap dan memperlakukan Tuan Muda seperti miliknya. Kenapa Kyungsoo seperti itu?. Apa dia tak merasa terlalu serakah?. Tuan Muda harusnya milikku.

Dia sudah mendapatkan semua orang, dia telah mempunyai Ayah dan Ibu. Dia telah mempunyai seluruh teman- teman sekolah kami. Dan sekarang, dia menginginkan Tuan Muda?. Yang benar saja?!. Padahal hanya Tuan Muda Byun lah yang aku inginkan.

Baiklah, aku sudah tak peduli pada Kyungsoo dan Orangtua kami yang selalu tak menganggapku ada, mereka tak penting lagi. Aku juga sudah tak peduli pada semua orang yang lebih menyukai Kyungsoo daripada aku.

Tapi aku ingin perhatian Tuan Muda padaku juga. Ini mulai tak adil, Tuan Muda mulai lebih menyukai Kyungsoo daripada aku. Ini semua salah Kyungsoo, kembaranku itu lagi- lagi merusak segalanya. Kyungsoo memang selalu merusak segalanya. Selalu dan selalu saja merebut dan menghancurkan segala hal yang aku inginkan.

Lihatlah, lagi- lagi... aku hanya menjadi bayangan dari seorang Do Kyungsoo. Menyebalkan.

Tuan Muda menjadi lebih akrab bersama Kyungsoo daripada aku.

Hal itu terus, terus, dan terus berlanjut...

Hingga akhirnya pada masa remaja kami, mereka berdua menjauh. Hari itu, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menolak Do Kyungsoo. Dan tentu saja hal ini membuatku semakin menyukai orang tersebut, dia adalah Tuan Muda Byun.

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Kyungsoo mengunci pintu kamarnya selama satu hari dua malam karena patah hati setelah pernyataan cintanya ditolak. Aku sungguh bahagia saat melihat itu. Tentu saja, sesuai yang aku inginkan, Tuan Muda Byun tak akan pernah menerima Do Kyungsoo.

Kyungsoo mendekati Tuan Muda dengan cara yang salah. Seharusnya dari awal mereka tak berteman saja. Karena Tuan Muda, akan terus menganggapnya sebagai seorang teman. Dan aku, tak akan melakukan kesalahan yang sama.

Aku tak akan berteman dan mendekati Tuan Muda dengan cara seperti yang Kyungsoo lakukan.

.

.

Setelah beberapa tahun lagi berlalu, akhirnya aku tahu apa masalah diriku. Aku terlalu pemalu. Aku tak memiliki keberanian seperti Kyungsoo untuk menyatakan perasaan dan pikiranku, bahkan setelah sainganku Kyungsoo pergi. Kyungsoo dan aku telah jarang bertemu sebab Kyungsoo sudah memulai masa trainee nya dan sebentar lagi debut.

Dan aku, tetap tak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku pada Tuan Muda.

Tuan Muda Byun saat berumur 18 tahun amat sangat tampan. Dia pasti menolakku bila aku menyatakan perasaan saat ini bukan?. Aku harus bagaimana?, itulah pertanyaan yang terus- menerus berputar di otakku.

Hingga tanpa sadar aku selalu ke Mansion Byun setiap pulang sekolah. Dan setiap waktu luangku, akan aku luangkan untuk memperhatian setiap hal yang dilakukan oleh Tuan Muda. Dan entah bagaimana, aku mulai memotretnya.

Dan aku,

pernah ketahuan.

Suara blitz kameraku terlalu kencang dan itu membuatku dihampiri oleh Tuan Muda Byun begitu saja. Kemudian dia bertanya, "Kau sedang memotret apa Soonnie?" Tanyanya.

Dan aku menjawabnya dengan suara pelan, "Objek yang indah." Saat itu aku sungguh takut bila aku ketahuan sedang menyembunyikan sesuatu. Menyembunyikan bahwa objek indah itu adalah Tuan Mudaku sendiri.

Kemudian dengan senyum manisnya yang sangat jarang Tuan Muda beri ke orang lain, dia berkata padaku, "Sungguh beruntung bisa memiliki mata yang normal dan bisa memotret hal- hal yang kau sukai. Jika aku jadi kau, mungkin aku akan memotret seumur hidupku. Humm.. walau hal itu tak akan pernah terjadi. Aku baru tahu, ternyata Kyungsoon suka memotret, itu hobi yang hebat."

Aku tertegun mendengarnya saat itu, kemudian bertanya,"Apa yang akan Tuan Muda potret andaikan Tuan Muda bisa?. Apa hal- hal yang Tuan Muda sukai?" Aku bahkan tak tahu diriku mendapat keberanian darimana hingga bisa menanyakan hal itu.

Namun balasan keberanian itu setimpal.

Tuan Muda mengelus rambutku.

"Aku menyukai kalian semua. Seluruh pekerja Mansion Byun beserta keluarga mereka. Kalian adalah yang hal paling berharga dan kalianlah yang paling utama bagiku, kalian semua adalah keluargaku. Alangkah menakjubkannya bisa memotret kalian semua."

Setelah itu, Menjadi Pekerja Mansion Byun adalah Mimpiku.

Menjadi sesuatu yang berharga bagi Tuan Muda. Menjadi yang paling utama bagi Tuan Muda. Menjadi seseorang yang dibanggakan Tuan Muda. Menjadi dekat dan setiap hari bersama Tuan Muda. Melayani Tuan Muda. Dan yang terpenting adalah... menjadi keluarga Tuan Muda.

Bukankah itu menakjubkan?

.

.

Setelah aku lulus sekolah, impianku langsung bisa terkabul. Aku dapat bertemu dan melayani Tuan Muda setiap hari dan setiap waktu. Namun ada yang menyebalkan dari semua ini, kenapa harus ada sistem shift siang dan malam?. Kenapa aku tak bebas memilih kapan aku mau bekerja atau tidak?. Aku tak ingin libur. Aku ingin terus bekerja dan bersama dengan Tuan Muda. Bahkan bila itu hanya dengan menunggu di depan pintu kamarnya, sudah membuatku merasa bahagia.

Aku bisa mendengar banyak hal dengan kegiatan sederhana itu.

Aku bisa mengetahui banyak hal lagi tentang Tuan Muda dengan melakukan itu.

Dan yang aku ketahui selanjutnya adalah, sebuah alasan mengapa aku tak pernah merasa iri pada orang yang sungguh sempurna itu.

Ternyata... kami sungguh sama.

Tuan Muda Byun tak pernah benar- benar merasa bahagia.

Anehnya aku merasa lega setelah mengetahui itu. Seakan sesak didadaku terangkat. Aku merasakan perasaan ringan yang sungguh menakjubkan setelah mengetahuinya. Ternyata aku tak sendiri, aku tak sendiri menganggung rasa membenci diri sendiri dan kesepian yang mengerikan ini. Ternyata Tuan Muda juga. Kami sama. Aku dan Tuan Muda Byun setara. Bukankah itu menakjubkan?.

Sering terdengar Tuan Muda yang berteriak ataupun menangis dalam tidurnya. Sering terdengar Tuan Muda berbicara dan mengumpat sendiri- yang memang kebiasaannya -dari dalam kamarnya. Sering terdengar Tuan Muda memukuli bantalnya dan melampiaskan segala emosinya. Tuan Muda bahkan terkadang mandi dibawah pancuran air berjam- jam hingga demam keesokan harinya. Aku menyaksikan semua itu dalam diam dan hati yang lega setengah mati.

Bahkan bila Ibuku tak menganggapku ada.

Bahkan bila Ayahku tak memperhatikan keberadaanku.

Bahkan bila Kyungsoo semakin hari semakin jauh dariku dan semakin terkenal saja.

Aku merasa baik- baik saja.

Karena... bukan hanya aku yang menderita dan kesepian disini. Tuan Mudaku juga.

Aku memiliki Tuan Muda bersamaku, jadi tak apa. Aku baik- baik saja.

Tenang saja Tuan Muda Byun, kau juga punya aku disini. Aku akan menemanimu setiap malam- malam tanpa tidurmu. Walau aku hanya harus berdiri didepan kamarmu setiap malam.

.

.

Sebulan kemudian setelah aku mulai bekerja di Mansion Byun. Musim Semi Tahun 2011 ini, sepertinya Tuan Mudaku sudah tak tahan lagi dengan penderitaannya. Dia membuat audisi membaca kepada kami semua, tanpa memberitahu untuk apa audisi tersebut.

Dalam hati aku tertawa.. tentu aku tahu, Tuan Muda ingin mencari pendongeng untuk membantunya tidur. Dia sering berbicara kepada dirinya sendiri tentang hal itu dan aku mendengarnya.

Hari itu aku sangat percaya diri, bahwa dari semua orang. Pasti akulah yang lulus. Pasti akulah yang terpilih, tak ada orang lain yang ditakdirkan bersama Tuan Muda selain diriku. Karena akulah yang paling tahu tentang dia, karena akulah yang paling tahu perasaan kesepian yang dia rasakan. Akulah yang paling pantas daripada semua orang didunia ini untuk menghibur hati Tuan Mudaku.

Namun,

"Maafkan saya, tapi Nona Do Kyungsoon, sepertinya anda juga gagal dalam audisi ini."

Itulah kalimat keputusan yang aku dapatkan setelah membacakan satu lembar dari buku berjudul The Fault In Our Star ini. Membuatku meremas buku itu dengan sakit hati. TIDAK!. Ini salah, bukan seperti ini jalan cerita yang aku mau.

Harusnya aku lolos. Kemudian kami akan menjadi dekat setiap harinya. Tuan Muda Byun akan menyatakan perasaan bahwa dia menyukaiku. Baru setelah itu aku akan menjadi Yang Utama dari Pemeran Utama Mansion ini. Aku tak akan menjadi pemeran sampingan lagi. Aku tak akan menjadi bayang- bayang lagi. Aku tak hanya menjadi sekedar maid yang menunggu Tuannya dalam diam lagi.

Harusnya seperti itu!.

Aku amat sangat kecewa dengan kegagalanku saat itu. Membuatku berpikir dengan keras, apa yang kurang dari diriku?. Kenapa Tuan Muda tak menyadari ketulusanku padanya?.

Dan suatu hari aku berani bertanya pada Tuan Muda Byun, "Tuan Muda, apa yang harus diperbaiki dari diri saya?"

Dan Tuan Muda menjawab, "Kyungsoonnie memiliki suara yang sungguh manis. Kenapa tak sering bicara?. Bicaralah, apapun yang kau pikirkan."

Aku menatapnya tanpa berkedip saat itu, dengan pipi yang terasa panas, aku mulai merasa malu. Astaga, Tuan Muda mengatakan dia menyukai suaraku.

Iya, Tuan Muda benar.

Aku akan lebih banyak bicara, aku akan berpendapat dan menyuarakan pendapat dengan baik mulai sekarang.

Karena.. Tuan Muda menyukai suaraku.

.

.

Lalu malam itu, seperti takdir dan seperti di drama atau novel. Tuan Muda akhirnya memanggilku, aku memasuki kamarnya!!.

Tuan Muda tetap tampak sungguh menakjubkan walah hanya memakai baju yang sederhana. Dia ramah sekali padaku, dia memperlakukanku dengan lebih hormat karena aku sekarang adalah Maidnya, benar- benar pria yang menakjubkan, bagaimana bisa dia memperlakukan Maidnya bagai memperlakukan seorang Lady. Dialah pangeran negeri dongeng dalam kisah nyata.

DAN AKU MELAKUKANNYA.

Aku mengungkapkan segala pemikiranku dengan amat sangat terbuka. Dan dia menyukainya!!. Dia menyukai semua yang aku katakan. Tuan Muda tersenyum dengan ramah padaku. Dia kembali mengelus rambutku. Dan kami bahkan bergandengan tangan. Sudah aku bilang, kami memang ditakdirkan bersama. Ini pasti adalah cara Tuhan untuk menghiburku yang kecewa setelah gagal audisi. Pasti seluruh alam semestapun ingin memberiku semangat agar tak menyerah dan berusaha lagi.

Baiklah, aku akan berusaha lagi, apapun caranya.

.

.

Malam itu, aku mengantar Tuan Muda kembali ke kamarnya. Kemudian kembali berjaga di depan kamar Tuan Muda Byun. Sebelum akhirnya Seulgi datang sambil menguap untuk menggantikan shiftku pada jam 2 pagi saat itu.

"Bagaimana kau bisa tetap segar dan berseri bahkan setelah berjaga hampir semalaman?" Tanyanya padaku.

Aku tersenyum ramah padanya. Dia adalah maid yang paling akrab denganku, emm.. lebih tepatnya aku berusaha terlihat akrab dengannya. Seulgi adalah teman yang sedikit menyebalkan, dia tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Tapi aku harus terus terlihat baik padanya, karena dia adalah.. tipe orang yang tak akan segan- segan untuk melaporkan segala hal pada Tuan Muda Byun secara langsung.

"Mungkin karena aku tak bisa tidur dan siklus tidurku yang tak teratur. Bahkan mataku tetap terasa segar saja sekarang, seperti pagi hari." Jawabku padanya.

Terlihat wajah berpikir milik Seulgi.

"Jika kau kesulitan tidur. Maka.. minum obat tidur saja. Aku punya, kau mau?"

Aku terkesima mendengarnya. Ah.. benar, kenapa tak terpikirkan sebelumnya?.

Harusnya aku pakai obat tidur saja untuk membantu Tuan Muda agar bisa tidur. Tuan Muda pasti terlalu penakut untuk memilih obatnya, jadi biarkan aku saja yang memilih obat tidur terbaik yang paling pas untuk Tuan Muda. Dan aku akan memberikannya obat tidur, di hari audisi keduaku. Sehingga Tuan Muda dapat tertidur, dan akupun berhasil lolos audisi.

.

.

Keberuntungan ada di pihakku saat itu. Tuan Muda Byun, Nona Jimin, dan Sekretaris Kim membicarakan tentang pria bernama Park Chanyeol tepat di sofa tempat bersantai para maid di yang terletak di lantai 3, terletak tepat di samping kamarku.

Dan dengan sungguh kebetulannya, aku sedang berada di dalam kamar, beristirahat setelah shift malamku. Aku yang awalnya sedang berpikir keras tentang bagaimana mencari kesempatan untuk audisi kedua kalinya, sekarang aku tak perlu banyak pikir lagi. Aku audisi lebih dulu saja daripada si Chanyeol itu. Iya, aku harus mencuri start sebelum pria itu datang. Dan sekarang aku pasti berhasil, karena... Aku akan memasukkan obat tidur ini ke dalam minuman Tuan Muda.

Aku mendengarkan semua pembicaraan mereka sampai selesai. Sedikit menyerngit saat mendengar kalimat pujian berlebihan dari Nona Jimin tentang pria bernama Park Chanyeol itu. Cih, bila pria itu memang seberbakat itu, harusnya dia sudah menjadi bintang besar sekarang.

Pembicaraan mereka tak berlangsung terlalu lama. Hanya beberapa puluh menit aku sudah mendengar mereka beranjak pergi.

Aku menempelkan telingaku pada pintu, mencoba mendengar apakah mereka masih berada dilantai 3?. Dan setelah tak mendengar apapun, aku yakin mereka telah turun.

Nah.. sekarang waktunya melakukan rencanaku, aku akan memasukkan obat tidur ini ke dalam teh pagi milik Tuan Muda. Dia tak akan menolaknya. Aku yakin itu.

Aku turun ke bawah dengan semangat hari itu. Menyapa semuanya dengan super ramah. Aku bahkan tak merasa mengantuk sama sekali walau tak tidur semalaman. Baiklah, sekarang saatnya bersikap manis.

"Ayah.." Aku memanggilnya pelan. Kemudian wajah tegas ayahku lah yang aku dapatkan. Pria tua bangka ini memang tak pernah berubah, dia membenciku karena aku wanita dan tetap tak memperoleh bakat memasaknya. Tak apa, aku tak peduli dia suka padaku atau tidak, dia tak penting lagi. Tuan Muda Byun lebih penting.

"Ada apa?" Katanya pelan.

Tenang Kyungsoon.. lakukan seperti Tuan Muda Byun, ramah dan sopan. Maka semua orang akan segan padamu.

"Bolehkah saya yang membuatkan teh untuk Tuan Muda pagi ini, Ayah?" tanyaku dengan suara semanis mungkin dan ekspresi wajah sebaik mungkin.

Ayahku terdiam sebentar. Kemudian dia mengangguk.

Bagus!. Satu masalah terlewati.

Dengan lincah aku membuat teh chamomile untuk Tuan Muda. Sungguh pintar bukan?. Teh Chamomile memang terkenal membantu menghilangkan insomnia, jadi.. tak akan ada yang curiga bila Tuan Muda langsung tertidur setelah meminum teh ini.

Dengan menahan langkah kakiku agar tak terlalu terburu- buru, aku melangkah menuju Kantor Tuan Muda Byun pagi ini. Tuan Muda pasti sebentar lagi mengakhiri pertemuan paginya bersama Sekretaris Kim. Waktu yang tepat sekali.

Dengan membawa nampan berisi secangkir teh di tangan sebelah kiri, aku bersiap mengetuk pintu kantor Tuan Muda dengan tangan kananku. Sebelum akhirnya teriakan dari Sekretaris Kim menghentikanku melakukan apapun yang aku inginkan.

"Jadi, kau masih merasa bahwa kecelakaan itu adalah salahmu rupanya?. Dan kau merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan anak dari pria yang menabrak orangtuamu?! dan Orangtuaku?!!. Orang yang sudah membuat kita semua hidup seperti ini?!. BAIK JUGA ADA BATASNYA. KAU TERLALU BAIK BYUN BAEKHYUN. ITULAH KEKURANGANMU."

Apa... Maksudnya.. Itu...

Tak terdengar suara dari Tuan Muda sama sekali. Oh.. aku dengar seluruh orang memang menahan untuk tak membalas berteriak pada Sekretaris Kim saat pria itu sedang emosi. Dia punya trauma pada suara keras dan tinggi.

Tanpa sadar aku hanya terdiam mendengarkan di depan kantor Tuan Muda Byun pagi itu. Keduanya terdengar sunyi, pasti suasana didalam tegang sekali. Aku hampir tak pernah mendengar Tuan Muda Byun dan Sekretaris Kim bersitegang seumur hidupku. Kemudian suara Sekretaris Kim kembali terdengar, kali ini dengan lebih pelan dan sopan. Terdengar profesional seperti biasa aku mendengarnya.

"Baiklah, semuanya terserah pada keputusan anda Tuan Byun. Namun satu nasihat yang saya berikan pada anda hari ini dan saya mohon untuk diingat. Kebaikanpun dapat menyakiti orang lain jika itu diberikan secara berlebihan. Sebaiknya anda beritahu si Park Chanyeol itu akan kebenaran masa lalu kita semua sebelum Chanyeol mendengarnya dari orang yang salah. Baikah, saya pamit, pekerjaan di kantor pasti telah menumpuk. Permisi."

Aku terbelalak, gawat... Sekretaris Kim datang kearahku. Dengan tergesa aku berbalik kemudian berlari ke arah kiri, dan tepat saat Sekrekatris Kim keluar dari Kantor Tuan Muda, aku telah berhasil keluar dari bagian Sayap Kiri Mansion ini menggunakan pintu keluar menuju Taman Bagian Belakang tepat didepan Kamar Tuan Muda.

"Hahh.. Hahh.. Hahh.." Napasku terasa memburu.

Dengan tangan bergetar dan pelan aku terduduk masih dengan membawa nampan berisi secangkir teh dikedua tanganku. Aku bersembunyi dibalik semak dan bunga milik taman ini, yang sedang dengan mekar dengan indahnya di musim semi tahun ini.

Apa ini?

Apa itu tadi?

Apa yang baru saja aku dengar..

Sebentar.. biarkan aku berpikir..

Jadi..

Park Chanyeol itu... anak dari... orang yang menabrak mobil Tuan Byun Senior, 19 tahun lalu?.

Bagaimana bisa?

Astaga, apa yang sedang terjadi sekarang?.

Aku sudah mendengar ceritanya tentang kecelakaan itu, sudah seperti hal wajib yang di ketahui oleh seluruh pekerja di Mansion ini. Tapi.. aku tak tahu kalau pria itu punya seorang putra.

Kakiku terasa semakin lemas. Membuatku terduduk diatas tanah begitu saja. Kemudian aku mendongak, dan pandanganku secara otomatis tertuju pada pohon besar yang merupakan tempat bergantungnya ayunan kesukaan Tuan Muda, yang berjarak sekitar 20 meter dari tempatku berada.

Dan pikiranku... tersambung tersambung begitu saja.

Oh ya.. Pohon itu di kelilingi semak, yang sesungguhnya merupakan bunga yang katanya dipilih langsung oleh Tuan Muda Byun bertahun- tahun lalu.

Dan nama bunga itu... adalah Krisan.

Katanya itu adalah kumpulan Bunga Krisan dengan berbagai macam warna. Namun sekarang adalah musim semi. Jadi, belum ada bunga yang tumbuh dari situ.

Wajar saja.. karena Bunga Krisan sungguh unik. Dia tak mekar saat musim semi. Bunga Krisan justru hanya akan mekar pada Musim Gugur.

Lebih tepatnya lagi, Bunga Krisan akan mekar sempurna di Bulan November. Sehingga bunga Krisan selalu dilambangkan sebagai bunga kelahiran bulan November.

Itu dia kata kuncinya, Kelahiran Bulan November.

Mataku terasa berair karena terlalu lama menatap tanpa berkedip. Dengan menekan seluruh ketegangan, aku menghela napas mencoba untuk tenang. Mencoba mengingat siapa saja yang lahir di bulan November.

Errr?

Aku rasa tak ada. Tuan Muda justru lahir di bulan Mei. Nyonya Sulli lahir di Maret. Emm.. benar- benar tak ada. Bahkan hari pernikahan Tuan Besar dan Nyonya Besar Byun bukan bulan November.

Lalu apa lagi hal penting di bulan November?.

Ah ya.., kapan tanggal kematian Tuan dan Nyonya besar Byun serta Tuan dan Nyonya Xiao?. Ayolah Do Kyungsoon, kau cukup cerdas untuk hal yang menggunakan otakmu seperti ini.

Ah.. benar..

Keempatnya meninggal, pada tanggal 27 November 1992. Bersama istri dari pengemudi yang menabrak mobil Tuan Besar Byun. 19 tahun lalu...

Dan mendengarkan penjelasan Nona Jimin tadi, beberapa saat lalu dia mengatakan Park Chanyeol itu, dia berumur.. 20 tahunan. (19 thn perhitungan inter)

HAH????

Apa ini?

Jadi dia lahir 19 tahun lalu?!. Dan kecelakaan itu juga 19 tahun lalu?!!.

Hah.. Apa maksudnya ini?

Ada korban lain yang selamat?

Seorang bayi?

Jadi istri dari penabrak itu sedang hamil saat kecelakaan itu?. Apa MAKSUDNYA INI?!. JADI DIA SEMPAT SELAMAT DAN MELAHIRKAN SETELAH KECELAKAAN HEBAT SEPERTI ITU?!. GILA GILA GILA!!!. TAK MUNGKIN. MUSTAHIL. AKU TAK BISA PERCAYA INI!!!.

DAN BAYI SELAMAT ITU PARK CHANYEOL?!!!. ANAK DARI PEMBUNUH ITU BERNAMA PARK CHANYEOL?!!!!

LALU... ANAK DARI PEMBUNUH ITU AKAN DATANG KE SINI SORE INI!!. DAN AUDISI DI DEPAN TUAN BYUN!.

DAN TUAN BYUN MEMPERBOLEHKANNYA?!!!.

YANG BENAR SAJA!!!.

Aku meremas nampan yang sedang kupegang dengan erat. Tak akan aku biarkan dia lolos audisi. Aku menatap tajam pada seluruh semak yang mengelilingi pohon dan ayunan kesukaan Tuan Muda.

Jadi itukah arti dari bunga Krisan di sekeliling ayunan kesukaan Tuan Muda Byun selama ini?.

Sebuah ironi

Krisan adalah lambang kematian dan kesedihan disetiap pemakaman di negeri ini.

Namun di saat yang sama.. juga berarti tanda kebahagiaan dan cinta kepada anak yang lahir pada bulan November.

Aku menutup mataku pelan. Seraya mengatur napas dan menjernihkan kepalaku yang terasa penuh sekarang. Baiklah, inilah tugasku untuk melindungi Tuan Mudaku yang baik hati, dia tak boleh dekat- dekat dengan anak pembawa sial itu. Apapun yang terjadi, aku harus lebih dulu lolos audisi daripada si Park Chanyeol itu.

Tak akan aku biarkan Tuan Muda Byun akhirnya dekat dengan anak tak berguna seperti Park Chanyeol. Apalagi bila sampai berteman atau lebih dari itu.

Dari semua orang yang pantas bersanding dengan Tuan Muda Byun, Park Chanyeol lah yang paling tak pantas.

Bila di bandingkan dengan Park Chanyeol, aku justru jauh lebih pantas.

.

.

.

TBC

AN :

Sugar- sugarku yang pintar pasti udah bisa nebak sebelumnya kan?. Makasih udah tutup mulut ya ; ) . Silahkan baca Chapter selanjutnya.