Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 26 : Blind Spot
.
.
.
Dalam sebuah cerita. Selalu ada titik buta yang tak diperhatikan oleh banyak orang. Dan di titik- titik buta itulah biasanya banyak rahasia di sembunyikan. Dan sekarang, mari kita mengulang salah satu hari paling penting dalam cerita ini.
Hari Audisi Chanyeol
Pagi itu Xiumin menatap sepupunya yang sedari tadi sungguh diam dan sunyi. Benar- benar tidak Shin Jimin sekali. Mau tak mau Xiumin mulai mengkhawatirkan Adik Sepupunya itu. Apakah gadis itu sakit? atau apakah dia sedang punya masalah?, adalah pertanyaan- pertanyaan yang sedari tadi Xiumin pertanyakan di dalam kepalanya.
"Ayo makan yang lahap Jimin. Kau harus sarapan agar kuat. Ingat, kau masih dalam masa pertumbuhun." Ujar Xiumin, memecah lamunan Jimin.
Kemudian Jimin membalas tatapan Xiumin. Membuat pria mungil itu terkesiap, Jimin menatapnya dengan sungguh serius.
"Oppa! Aku punya hal yang sangat ingin aku minta darimu." Ujar gadis SMA itu dengan wajah teramat serius.
Xiumin menatap adiknya dengan tatapan asing. Merasa bingung akan perilaku Jimin yang sungguh tak biasa. Gadis ini tak terbiasa meminta.
"Apa itu?" Tanya Xiumin.
Jimin pun tersenyum cerah.
"Aku punya teman. Dia adalah musisi jalanan. Tapi bakatnya sudah setara dengan para artis papan atas. Aku merasa tak adil bila dia tak dijadikan Idol. Bisakah Oppa bantu dia?" Tanya Jimin dengan penuh harap.
Xiumin pun menghela napas antara lega dan canggung. Astaga, aku kira masalah apa, pikir Xiumin.
"Baiklah, akan aku bicarakan dengan Kim Jongdae nanti." Ujar Xiumin hampir tak berpikir, hingga akhirnya dia mengutuk diri sendiri saat ingat bahwa dirinya dan Chen sedang dalam situasi yang tak bagus untuk bertemu.
"Haish... mana sudi aku bertemu tua bangka kejam pematah hatiku itu." Kata hati Xiumin yang ternyata sedang patah hati setelah pernyataan cintanya di tolak sang paman kesayangan.
Terlihat wajah Jimin yang cemberut.
"Bukannn... aku bukan meminta bantuan untuk membuat temanku itu audisi ke Chen Ahjussi, kalau cuma begitu ya aku kan tak perlu minta bantuan Minseok Oppa. Aku ingin, dia audisi didepan Tuan Muda Byun." Suara Jimin mengecil diakhir kalimatnya.
Xiumin menghentikan suapan buburnya.
"Apa yang kau bicarakan ini Jimin." Ujar Nyonya Shin, yang bahkan menjadi ikut angkat bicara setelah tadi memilih untuk membisu mendengarkan percakapan antara putri dan keponakannya.
Xiumin menatap Jimin dengan curiga.
"Dia bukan temanmu kan?. Dia pacarmu kan?" Tanya Xiumin tanpa basa basi.
Jimin membelalakkan matanya dengan wajah memerah.
"Bukan! Dia bukan pacarku. Kami hanya teman." Bantah Jimin dengan tegas.
Menciptakan helaan napas lega dari bibir Xiumin. Dirinya sedikit tak rela saat memikirkan ternyata adik sepupu kesayangannya telah memiliki pria lain untuk disayangi. Perasaan yang wajar, bila dirimu sudah bersama seseorang hampir seumur hidupmu. Mau tak mau, rasa protektif itu pasti ada.
"Lalu dia siapa, sampai kau berani membawanya ke depan Tuan Muda. Sehebat apa dia sampai membuat adik sepupuku ini memperjuangkan audisinya dan mengabaikan audisi milik adikku itu sendiri?. Pria atau wanita?. Siapa namanya?." Tanya Xiumin dengan sikap dinginnya yang sudah mendarah mendaging.
Jimin tersenyum cerah.
"Dia bahkan lebih berharga bagiku dibandingkan pacar. Dia Idolaku!. Dia sungguh berbakat Oppa!, percayalah padaku. Dia pria tentu saja, dan bernama Park Chanyeol."
DEG
Xiumin terdiam.
Aw..
Jangankan untuk memakan bubur di depannya. Untuk melanjutkan satu suap saja, Xiumin seketika tak sanggup. HAHAHA apa dirinya tak salah dengar tadi?, Park Chanyeol?.
Park Chanyeol yang itu?
"B-Berapa umurnya?" Jimin mengerutkan keningnya saat mendengar Xiumin terbata, dan Xiumin pun buru- buru terbatuk palsu untuk menyamarkan suaranya yang gugup.
"Oppa sedang sakit?. Emm.. aku tak tahu pasti, tapi sepertinya dia berumur 20 tahunan. Masih muda sekali." Jimin menatap Xiumin dengan khawatir, lalu menjawab pertanyaan pria itu dengan sesambil lalu.
"Tidak apa. Aku baik- baik saja..." Xiumin pun bergumam samar.
Oh tentu saja itu tak benar.
Karena bila itu sungguh Park Chanyeol yang Xiumin ketahui,
tentunya Xiumin,
tidak baik- baik saja.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, pagi hari, di Mansion Byun
"Ada yang bersedia bercerita?" Baekhyun membuka percakapan.
Sebelum Xiumin dapat menyela. Jimin dengan cepat langsung menceritakan segalanya. Tentang pertemuannya bersama pemuda berbakat bernama Park Chanyeol. Bagaimana tampannya pemuda itu, bagaimana mempesonanya, bagaimana kerasnya hidup yang dijalani selama dua tahun ini, bagaimana kesulitan ekonomi yang sekarang Chanyeol tanggung dan telah diceritakannya kepada Jimin, dan bagaimana mimpi dan bakat pemuda itu.
Jimin bercerita dengan semangat yang membara. Xiumin dan Baekhyun mendengarkan setiap patah kata yang Jimin ucapkan dengan seksama. Tak menyela sedikitpun dan berusaha memahami segalanya. Memikirkannya, mempertimbangkannya, dan mulai memilih keputusan yang mana yang dianggapnya paling tepat. Ketiganya sama sekali tak menyadari bahwa ada telinga lain yang mendengarkan percakapan mereka dari balik dinding disamping mereka.
"Nona Jimin, anda tahu kenapa audisi membaca ini saya buat?" Tanya Baekhyun kepada Jimin dengan tenang.
Sontak Jimin menggeleng, lalu berkata, "Tidak, Tuan Muda."
"Jadi karena anda tidak tahu, otomatis pria tersebut juga tak tahu. Apa saja hadiah yang akan diterimanya bila dia lolos audisi?. Dia juga tak tahu apa saja tanggung jawab yang harus dilakukannya bila dia lolos. Hummm..." Baekhyun mulai berpikir.
"Saya tarik garis besarnya, pria itu mengira, siapapun yang lolos audisi membaca ini, maka akan debut dibawah naungan BB Ent. Sebab dengan kebetulannya itulah impian milik Nona Jimin saat mengikuti audisi kemarin." Xiumin dan Jimin yang paham pun hanya terdiam, keduanya tahu, Tuan Muda Byun hanya sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Itu adalah kebiasaannya saat sedang memikirkan dan memilih keputusan. Keputusan yang sulit.
"Baiklah, saya setuju untuk memberinya kesempatan." Keputusan final Baekhyun.
"Benarkah?!! / Benarkah!" Seru Jimin dan Xiumin bersamaan. Bila seruan Jimin adalah seruan semangat, maka sebaliknya Xiumin justru berseru dengan kecewa.
"Sekretaris Kim, bisakah anda buat jadwal saya hari ini menjadi berakhir di jam 4 sore?" Tanya Baekhyun pada pria satunya diruangan ini.
Baekhyun lebih memilih untuk mengabaikan seruan kecewa Xiumin. Karena dirinya percaya saat pria itu sudah tenang, Xiumin akan setuju bahwa keputusannya ini adalah tepat.
Sejujurnya Xiumin hanya mengkhawatirkan Tuan Byun nya ini. Dirinya adalah salah satu orang yang tahu apa tujuan dari Baekhyun membuka sebuah audisi ini.
Jadi, dirinya juga tahu apa yang akan terjadi kepada peserta yang lolos. Selain pastinya Tuan Byun akan memberikan hadiah penghargaan yang besar. Orang yang lolos audisi itu juga akan menjadi pembaca cerita yang akan terus berada disamping Baekhyun setiap malam.
Terlalu beresiko mempercayakan tanggung jawab itu pada orang yang baru saja dikenal.
Atau bisa dibilang, orang yang sudah dikenal namun tak pernah dipertemukan. Seseorang yang amat sangat terlarang untuk dikenal oleh seorang Tuan Muda Byun Baekhyun.
Tapi mau bagaimana lagi, keputusan Baekhyun sudah bulat.
"Tentu bisa Tuan Muda." Jawab Xiumin mantap kepada Baekhyun.
"Bawa Tuan Park Chanyeol itu kesini sore nanti ya Nona Jimin. Audisinya dimulai jam 4 sore, saya tunggu." Baekhyun beralih kepada Jimin lagi.
"Ya! Ya! Ya! Terima kasih Tuan Muda!!" Jawab Jimin semangat.
"Nah.. pertemuan kita telah selesai. Jika kalian bersedia, bisakah menolong untuk mengantarkan saya kembali ke kantor saya di lantai 1?" Pintanya, dan disanggupi kedua orang didepannya dengan sangat.
Setelah mengantarkan Tuan Byun menuju ruangan kantornya yang berada di Mansion ini. Jimin dengan terburu pergi keluar dan menjauh dari ruang kantor tempat Tuan Byun bekerja tersebut. Meninggalkan Tuan Muda Byun bersama Xiumin berdua dalam ruangan itu.
Setelah memastikan bahwa adiknya telah menjauh. Xiumin menampilkan wajah gelisahnya. Kemudian meletakkan kedua telapak tangannya ke meja kantor Baekhyun. Memukulnya tepat di depan sang Tuan Muda yang tengah duduk di balik meja kebesarannya tersebut, namun tak terlalu keras untuk dapat mengejutkan siapapun, karena kenyataannya Xiumin sendiri tak menyukai suara meja yang dipukul.
"Jangan pura- pura bodoh Byun Baekhyun. Kau tahu dengan pasti siapa Park Chanyeol itu!." Ujar Xiumin dengan nada suara yang sedikit meninggi, tak ingin terlalu berisik dan membuat maid- maid di luar dapat mendengar suara miliknya.
Berbeda dengan Xiumin yang telah menjadi gelisah. Baekhyun justru menampilkan wajah yang amat sangat tenang.
"Tenanglah Xiumin Hyung. Kan belum tentu pasti, bila Park Chanyeol yang ini adalah Park Chanyeol yang itu. Tentu banyak orang bernama Park Chanyeol di Korea Selatan." Ujar Baekhyun dengan tenangnya.
Xiumin menggeleng tak setuju.
"Tidak, aku sungguh yakin. Firasatku tak pernah salah. Dia adalah Park Chanyeol yang kita tahu selama ini. Dia adalah Park Chanyeol anak dari Park Sungjin, anak dari pria yang menabrak mobil orangtua kita. Pria yang membunuh orangtua kita.." Xiumin berucap tajam, mengabaikan seluruh tata krama di depan Tuan Besar pemimpin kerajaan bisnis BB Grub didepannya.
Mereka tengah berbicara bukan sebagai atasan dan sekretarisnya sekarang. Namun sebagai sahabat yang sudah bagaikan saudara. Sebagai dua orang yang mengerti bagaimana kesakitan hati satu sama lain lebih dari siapapun didunia ini.
Keduanya adalah anak selamat dari kecelakaan yang membunuh kedua orangtua mereka berdua. Suatu hal yang membuat tak ada sekretaris lain, yang dapat mengerti Baekhyun lebih daripada Xiumin.
Inilah alasan yang membuat Baekhyun tak dapat mengantikan Xiumin sebagai sekretarisnya dengan siapapun itu. Sebuah alasan yang bahkan Baekhyun tak sanggup untuk mengatakannya, bahkan didalam hatinya. Karena alasan itu terlalu menyakitkan bagi keduanya.
Miris, mereka berdua cocok disebabkan suatu kejadian tragis.
Baekhyun selalu merasa bahwa kecelakaan itu adalah salahnya. Andaikan orangtuanya tak membawa Baekhyun kembali ke Seoul hari itu. Orangtua Baekhyun dan Xiumin mungkin saja masih hidup. Dan... Ibu dari Park Chanyeol itu juga masih hidup sampai sekarang.
Baekhyun menghela napas.
"Keputusanku sudah bulat. Mau dia Park Chanyeol putra dari Park Sungjin itu atau bukan. Aku tetap akan memberikan kesempatan baginya untuk audisi didepanku." Ujar Baekhyun mantap.
Xiumin menampilkan wajah dingin.
"Dan misalnya bila dia lolos audisi itu. Kau sanggup?. Untuk hidup bersama putra dari Park Sungjin?" Tanya Xiumin dengan suara tajam.
Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Bisakah kita berdua berhenti mengaitkan nama Park Chanyeol dengan nama ayahnya?. Kejadian itu adalah murni kecelakaan. Si Park Sungjin itu sendiripun aku yakin, dia juga tak ingin kecelakaan itu terjadi. Dia juga korban. Takdirlah pelakunya disini. Dan bila takdir membawa Park Chanyeol kepadaku sekarang. Aku tak akan melarikan diri atau menghalanginya. Anak malang itu juga korban sama seperti kita." Baekhyun menjawab pertanyaan Xiumin dengan suara mantap.
Xiumin masih menggeleng tak setuju.
"Aku tak sanggup Baek. Aku tak sanggup harus bertemu dengan darah daging pria yang membunuh orangtuaku." Xiumin menggeleng dengan keras, trauma masa kecilnya akan kecelakaan itu lebih berat daripada Baekhyun. Karena Xiumin menyaksikan kecelakaan itu tepat didepan matanya sendiri.
Baekhyun menghela napas.
"Apa kau tak mendengarkan cerita Jimin tadi?. Si Park Chanyeol itu kabur dari rumah. Dan sekarang sedang kesulitan ekonomi dan terancam terusir ke jalanan. Yang artinya dia bukan anak Park Sungjin lagi, dia bahkan melarikan diri dari Ayahnya sendiri. Tegakah kau membiarkan dia menjadi pengemis atau pengamen jalanan tanpa rumah dan makanan?. Apakah itu tak cukup menjelaskan bahwa selama ini hidup dari seorang Park Chanyeol tak sungguh bahagia?. Kecelakaan 19 tahun lalu pastinya juga berpengaruh kepada mereka. Aku tak dapat diam saja melihat kondisi ini." Baekhyun akan menjadi cerewet saat ingin orang lain mengerti akan keputusannya.
Xiumin menghela napas.
"Jadi, kau masih merasa bahwa kecelakaan itu adalah salahmu rupanya. Dan kau merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan anak dari pria yang menabrak orangtuamu?! dan Orangtuaku?!. BAIK JUGA ADA BATASNYA. KAU TERLALU BAIK BYUN BAEKHYUN. ITULAH KEKURANGANMU." Baekhyun terkesiap mendengar teriakan Xiumin.
Xiumin hampir tak pernah berteriak padanya selama ini.
Merasa menyesal telah membentak Baekhyun, Xiumin pun menghela napas pelan, berusaha untuk menetralkan emosinya sendiri, kemudian menegakkan tubuhnya. Xiumin pun kembali menampilkan wajah serius dan profesional. Menatap wajah Baekhyun yang dengan hebatnya masih tampak tenang saja.
"Baiklah, semuanya terserah pada keputusan anda Tuan Muda. Namun satu nasihat yang saya berikan pada anda hari ini dan saya mohon untuk diingat. Kebaikanpun dapat menyakiti orang lain jika itu diberikan secara berlebihan. Sebaiknya anda beritahu si Park Chanyeol itu akan kebenaran masa lalu kita semua sebelum Chanyeol mendengarnya dari orang yang salah. Baikah, saya pamit, pekerjaan di kantor pasti telah menumpuk. Permisi." Dan Xiuminpun berlalu pergi begitu saja.
Meninggalkan Baekhyun diruang kerjanya bersama puluhan berkas- berkas yang sedari tadi memanggil untuk dikerjakan.
.
.
Makan Siang
Semua pekerja Mansion yang sedang makan di ruang makan itu menatap dengan terpesona pada Baekhyun yang baru saja membuka pintu. Pria itu tampak sungguh rupawan, seperti nyata dan tidak nyata disaat yang sama. Dia tampak seperti boneka hidup.
"Auhh.. silau." Terlihat Kyungsoon tersenyum dan ikut tertawa sembari menoleh pada Jeno yang duduk didepannya, dan dengan sungguh berani menggoda sang Tuan Muda.
"Oh! Maaf Maaf Maaf Maaf" Dan semua pekerja menampilkan wajah tersenyum melihat Tuan Muda mereka yang sungguh tak segan untuk meminta maaf pada mereka semua, yang notabene hanyalah bawahan.
"Tuan Muda, mata saya masih sakit karena ternyata anda lebih menyilaukan." Kembali Jeno bersuara, kali ini dengan sungguh lancangnya menggoda Tuan Muda mereka.
"EEEEEYYYYYY HUUUU..." Sontak suasana yang telah heboh semakin pecah di iringi koor suara protes dari puluhan pekerja dan maid yang lain. Beberapa bahkan melempari Jeno dengan makanan. Baekhyun tampak tersenyum tipis, dan Kyungsoon ikut tersenyum melihatnya.
"Jeno, apakah Jaemin menolak ajakan kencanmu lagi sehingga kau terus mencoba membuatnya cemburu?" Tuan Muda Byun itu bertanya dengan suara yang sedikit dikeras- keraskan, ditutup dengan seringaian dibibirnya.
Hanya berselang sedetik kemudian terdengar suara berisik nan heboh dari arah dapur. Seseorang telah memecahkan beberapa piring. Terlampau terkejut akan ucapan sang Tuan Muda, pastinya.
"NA JAEMINNN!!!" Diikuti teriakan murka Tuan Do, kepala Koki Mansion ini.
Sontak suasana kembali pecah dengan derai tawa. Puluhan pekerja dan maid itu silih berganti melemparkan ejekan dan godaan pada Jeno yang telah merona parah.
"Tuan Muda, kenapa anda tega sekali.." Tampak Kyungsoon mengerutkan dahinya tak suka mendengar nada merengek yang Jeno keluarkan, namun hanya berselang sedetik, detik selanjutnya gadis itu kembali mengatur ekspresinya.
Kyungsoon mengalihkan pandangannya kembali kepada Tuan Muda Byun. Menatap dengan gemas ingin membantu Tuan Mudanya itu yang berjalan lambat menuju kursi miliknya.
"Kenapa suasananya hening?" Seluruh pekerja disitu menjadi salah tingkah, sepertinya mereka semua sudah menyinggung Tuan Muda mereka.
"Demi Tuhan itu cuma beberapa meter, aku tak akan kecelakaan ditabrak mobil karena menyeberangi ruang makanku sendiri." Semuanya terdiam sunyi, merasa tak enak hati dan menyesal, Tuan Muda mereka jarang menegur mereka, sepertinya suasana hati Tuan Muda mereka tak terlalu baik hari ini, dan jangan lupakan wajah Tuan Muda Byun yang tampak sungguh pucat itu. Kyungsoon tahu hal itu di sebabkan oleh apa, Tuan Muda Byun itu kurang tidur dan terlalu banyak pikiran.
"Maafkan kami Tuan Muda, kami hanya terlalu peduli pada anda." Kyungsoon akhirnya berani mengeluarkan suaranya, gadis itu bahkan dengan sengaja memilih kursi yang paling dekat dengan Baekhyun hari ini.
"Bukannya kau shift malam Kyungsoonie, kenapa kau tak istirahat dikamarmu untuk tidur siang?" Mata Kyungsoon terbelalak mengetahui Baekhyun yang langsung mengenali suara miliknya, padahal mereka berdua jarang mengobrol.
"Er... hanya saja, makan bersama disini lebih menyenangkan, Tuan Muda." Kyungsoon menjawab dengan wajah memerah, dirinya merasa malu dilihat oleh banyak orang sekarang, dan juga khawatir Tuan Muda Byun curiga bahwa dirinya sengaja makan siang bersama hari ini.
Agar dirinya mempunyai kesempatan untuk memberikan obat tidur pada Tuan Muda Byun Baekhyun. Pagi tadi dirinya gagal.
Setelah beberapa obrolan basa- basi, Baekhyun membuka mulutnya.
"Kyungsoonie, tolong katakan pada Appa mu, aku ingin menu makan siang seperti biasa, ditambah dengan segelas kopi." Pinta Baekhyun pada Kyungsoon dengan suara yang hanya dapat didengar oleh mereka berdua.
Kyungsoon menatap Baekhyun beberapa saat. Merasa rencananya akan hancur bila Baekhyun justru meminum kopi. Tak akan dirinya biarkan.
Gadis itu mengatakan Baik dengan sangat patuh, kemudian berlalu cepat menuju dapur.
Kyungsoon memasuki dapur Mansion Byun yang selalu sibuk saat makan siang seperti ini. Mencari keberadaan sang ayah, dan saat siluet tubuh tegap dengan seragam koki itu tertangkap oleh matanya, Kyungsoon mendekatinya.
"Ayah, Tuan Muda ingin makan siang dengan menu seperti biasanya. Dan... segelas teh chamomile." Ujar Kyungsoon dengan kebohongan besar diakhir kalimatnya.
Koki Do menatap putrinya sebentar, kemudian mengangguk, seraya menjawab, "Aku akan menyiapkannya, tunggu saja." Sama sekali tak ada basa- basi, memang seperti itulah sifat dari Kepala Koki Mansion Byun ini.
Kyungsoon mengangguk dan memilih untuk menunggu di sudut dapur. Agar tak mengganggu kegiatan yang lain, sekaligus merasa itu adalah spot aman untuk dirinya memasukkan obat tidur yang sekarang berada di dalam kantung seragam maidnya ini, ke dalam minuman milik Tuan Muda tanpa ketahuan.
Beberapa menit saja, senampan makan siang milik Tuan Muda Byun sudah siap diantarkan, seluruh koki di Mansion Byun memang sungguh cekatan. Kyungsoon meraih seluruh nampan yang diberikan padanya itu dengan sigap, tersenyum kepada salah satu asisten dapur yang memberikannya, Na Jaemin.
"Nana, tali sepatumu lepas." Ujar Kyungsoon dengan nada pengertian. Terlihat wajah terkejut Jaemin, yang segera menunduk kemudian berjongkok untuk memperbaiki tali sepatunya.
Saat itulah Kyungsoon merasa kondisinya aman, selagi Jaemin tak melihatnya, Kyungsoon memasukkan obat tidur yang memang sangat mudah larut pada air itu ke dalam teh milik Tuan Muda Byun. Dan gadis itu selesai tepat setelah Jaemin kembali berdiri.
"Terima kasih Nana, aku mengantarkan ini sekarang." Pamit Kyungsoon pada asisten dapur yang umurnya sangat muda itu. Dan di angguki Jaemin dengan manisnya. Polos sekali.
Kyungsoon tersenyum menatap sang Tuan Muda. Mendekati Tuan Muda Byun sambil membawa nampan makanan pemuda itu.
"Tuan Muda, ini makan siang anda." Ujar Kyungsoon, lalu menata setiap makanan didepan Baekhyun dengan sungguh rapi dan cekatan.
"Dari kiri ke kanan ya Tuan Muda. Di paling kiri adalah kimchi, lalu ada salad, lalu sup berada disebelahnya, lauk hari ini adalah ikan yang telah dipisahkan dari tulangnya, sosis, dan nugget, lalu disebelahnya adalah rumput laut kesukaan tuan muda, didepan tuan muda adalah mangkuk nasi ayam dengan porsi sedang, dan yang terakhir di sisi paling kanan adalah Teh Chamomile."
Baekhyun mengerutkan dahinya, merasa janggal karena, bukankah tadi dia meminta kopi. Dan Kyungsoon sudah merasakan kepanikan didalam dirinya sekarang.
"Kyungsoon..." Baekhyun memanggil nama Kyungsoon dengan sebuah peringatan, sukses membuat gadis itu memucat. Oh tidak.. rencanaku tak boleh gagal, itulah yang gadis itu pikirkan.
"Maafkan saya Tuan Muda karena tidak menurut sesuai yang anda katakan. Namun saya berpikir apakah anda meminta kopi karena merasakan pusing dan sakit kepala. Dan anda kelihatan sungguh kelelahan dan dalam suasana hati yang tak baik. Karena itulah saya lebih memilih memberikan anda Teh Chamomile yang memang berguna untuk meringankan sakit kepala, saya tak ingin anda semakin kesulitan tidur bila meminum kopi, Maafkan saya Tuan Muda." Kyungsoon mengucapkan itu dengan sangat cepat, sedikit ceroboh sebenarnya, karena secara tak langsung gadis itu memberitahu bahwa dirinya mengetahui Baekhyun menderita insomnia.
Dapat di tebak, Tuan Muda Byun Baekhyun pun terdiam di tengah hingar bingar ocehan para pekerja dan maid yang tak terlalu memperhatikan mereka. Keringat dingin menuruni pelipis Kyungsoon, dirinya sungguh gugup sambil menatap wajah Tuan Muda Byun yang terlihat bagai patung ukiran indah saat terdiam tanpa ekspresi itu. Takut bila Baekhyun curiga.
Lalu Kyungsoon dapat bernapas lega setelah melihat senyum terbit dibibir Tuan Muda Byun Baekhyunnya.
"Terima Kasih Kyungsoonie." Ucap Baekhyun akhirnya dengan suara ramah.
"Apakah kau masih berdiri?. Duduklah kembali Kyungsoon, maaf menyela makan siang mu. Dari mana kau tahu aku sedang sakit kepala?. Kurasa hanya Xiumin hyung yang tahu." Baekhyun bertanya sambil menyeruput teh chamomilenya sedikit, sebelum memulai makan siangnya.
"I- Itu..." Kyungsoon kembali duduk dikursinya yang tadi, dekat dengan Baekhyun. Gadis itu tersipu karena orang nomor satu di mansion ini mengajaknya berbicara bahkan disaat pria itu tengah makan. Suatu hal yang tak pernah Baekhyun lakukan dengan para pekerja yang lain.
Sesungguhnya Kyungsoon sedikit kesulitan untuk fokus akan apa yang Baekhyun katakan. Dirinya terlalu fokus pada teh chamomile yang dirinya berikan tadi ternyata sudah Baekhyun minum sedikit. Itu terlalu sedikit, pasti memerlukan beberapa jam untuk bereaksi, dan reaksinya pasti tak lama.
Baekhyun berhenti mengunyah, lalu menatap kosong dan hampa ke arah Kyungsoon sambil mengangkat sebelah alisnya. Bertanya- tanya kenapa gadis didepannya sulit menjawab pertanyaan sederhana, padahal saat mengobrol malam tadi, Kyungsoon bisa dikatakan cerewet.
"Itu apa?" Tanya Baekhyun sedikit tidak sabar bercampur penasaran.
"Tuan Muda tak seramah biasanya." Jawab Kyungsoon setelah dapat menenangkan hatinya.
"Aku tak merasa seperti itu." Baekhyun tak menemukan kapan dirinya tak ramah.
Kyungsoon menghela napas, baiklah, sekarang saatnya mencari alasan konyol lainnya, "Tuan Muda biasanya akan mengatakan, 'Bisakah kau bantu aku' atau 'Bila kau tak sibuk, mau kah kau bantu aku' , namun tadi Tuan Muda mengatakan, 'Tolong kau', begitulah Tuan Muda, yang membuat saya tahu anda tengah dalam suasana hati tidak baik."
Satu lagi kelemahan Byun Baekhyun.
Dia peka, namun sungguh tumpul bila itu menyangkut tentang para pekerjanya. Baekhyun terlalu percaya dan menyayangi mereka. Tahu istilah Cinta membuat Buta bukan?, begitulah yang Baekhyun rasakan pada semua pekerjanya. Dirinya terlalu sayang dan percaya pada mereka. Tanpa tahu bahwa gadis didepannya ini adalah manusia paling berbahaya untuknya dikemudian hari.
Baekhyun terlihat menelan makanannya, "Aku bahkan tak sadar mengucapkan itu, maafkan aku Kyungsoonie, apakah aku tadi menyinggungmu?"
Kyungsoon pun tersenyum, "Tak apa Tuan Muda, sungguh saya tak tersinggung sama sekali, Tuan Muda masih ramah, walau seperti kata saya tadi, sedikittttt tak ramah daripada biasanya" Ohh.. tentu saja tidak, memangnya apa yang harus disinggungkan dari perkataan Baekhyun yang memang sudah terlalu ramah itu.
Baekhyun pun mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Dan setelah beberapa saat, para pekerja mulai menyelesaikan makan siangnya dan kembali bekerja. Dan agar tak memberikan kecurigaan, Kyungsoon ikut beranjak pergi.
"Saya pergi, terima kasih atas makan siangnya Tuan Muda." Ujar Kyungsoon dengan manisnya.
Terlihat Tuan Muda Byun yang mengangguk mendengarnya, sudah terlalu banyak kalimat serupa yang diterimanya.
Kyungsoon beranjak pergi, namun sebenarnya gadis itu hanya menunggu di balik dinding ruang makan. Berdiri di dinding samping pintu masuk. Menunggu Baekhyun selesai.
"Pukul berapa sekarang?" Terdengar suara Baekhyun bertanya dari dalam.
"Pukul 14:15 Tuan Muda." Ujar salah Maid menyahut pertanyaan Baekhyun.
"Humm.. satu jam setengah lagi akan ada orang bernama Park Chanyeol yang akan datang untuk audisi. Bila dia sudah datang, tolong katakan padanya untuk mendatangi aku di perpustakaan. Terima kasih untuk makan siangnya."
Kyungsoon terbelalak, astaga.. dirinya sungguh ceroboh, Baekhyun akan mencium aromanya bila dirinya menunggu disini.
Dan terlambat,
Baekhyun sudah berjalan keluar dari pintu ruang makan.
Dan dapat ditebak, Tuan Muda itu langsung berbalik menoleh ke arah tempat Kyungsoon berada.
"Kita terlalu sering bertemu hari ini, aku mungkin akan hapal aromamu. Kau Kyungsoonnie, bukan?. Sedang apa kau disitu?" Tanya Baekhyun dengan ramahnya.
Tampak wajah Kyungsoon sungguh gelisah.
"T-Tuan, em.. bisakah saya audisi satu kali lagi?" Tanya Kyungsoon terus terang.
Dahi Baekhyun mengerut, "Audisi membaca maksudmu?, bagaimana ini.. 1 jam-an lagi ada orang lain yang akan audisi." Jawab Baekhyun.
"Tak apa!. Emm.. saya hanya penasaran kenapa saya tak lolos kemarin. Dan ingin mencoba sekali lagi. Mungkin kali ini saya akan berhasil." Ujar Kyungsoon dengan suaranya yang terdengar yakin di akhir, oh tentu saja... karena dirinya sudah memberikan Tuan Mudanya ini obat tidur yang mungkin akan bereaksi beberapa menit lagi.
Terlihat Tuan Muda Byun itu menghela napas dan akhirnya mengangguk. Selanjutnya Baekhyunpun menuju perpustakaan berdua bersama Kyungsoon.
.
.
.
Audisi Kedua Kyungsoon
The Fault In Our Star adalah buku yang Kyungsoon bacakan. Dirinya duduk disalah satu sofa empuk dan nyaman di perpustakaan ini, disampingnya terdapat sebuah nakas dan lampu baca yang tampak sungguh mahal.
Kyungsoon membaca buku itu dengan sebaik mungkin. Namun satu hal membuatnya gelisah, Tuan Muda Byun Baekhyun yang sudah meminun teh berisikan obat tidur didepannya sama sekali tak terlihat mengantuk.
Bagaimana bisa?
Gawat, kalau begitu, Kyungsoon akan gagal lagi.
Dan DIRINYA TAK BOLEH GAGAL!!
Gadis itu sungguh gelisah di dalam hatinya.
Baekhyun tampak duduk dengan bersandar pada sofa coklat didekat Kyungsoon. Tampak menguap beberapa kali, namun tak kunjung jatuh tertidur.
Baekhyun memandang ke arah Kyungsoon dengan wajah menyesal sekali.
"Maafkan aku Kyungsoon. Sepertinya kali inipun kau gagal." Ujarnya dengan suara menyesal yang dalam sekali, membuat Kyungsoon sulit memberikan bantahan sedikitpun.
"Sepertinya... benar begitu.. Tuan Muda." Kyungsoon berujar lemah, tanpa Baekhyun ketahui gadis itu telah meremas seragam maidnya dengan tangan bergetar penuh kekesalan.
Baekhyun tersenyum pada maid itu, "Aku suka suaramu Kyungsoon, sungguh manis didengar. Jangan berkecil hati ya.." Ujar Baekhyun dengan nada menghibur.
Kyungsoon menatap Tuan Mudanya dengan mata berbinar dan pipi merona. Mendengar sang Tuan Muda menyukai suaranya.
"Maafkan aku, tapi, bisakah kau tinggalkan aku sendiri Kyungsoon?" Usir Baekhyun dengan sopan. Kyungsoon mengatakan Iya dengan sungguh patuh.
Kyungsoon meletakkan buku yang tadi dibacanya pada nakas disampingnya, tepat dibawah lampu baca yang ada di nakas itu. Kemudian berdiri, lalu berpamitan pergi pada Baekhyun.
Kyungsoon menutup pintu perpustakaan dengan pelan dan penuh tata krama. Dengan hati penuh kegelisahan gadis itu akhirnya menunjukkan wajah frustasinya. Tanpa sadar gadis itu mengacak rambutnya kesal.
Apa obat tidur itu memang tak bagus?
Apa dosisnya kurang banyak?
Bagaimana ini?!!
Dan ditengah kegundahan hati Kyungsoon, gadis itu melihat siluet pria tinggi yang berjalan ke arahnya, oh... lebih tepatnya ke arah ruangan dibelakangnya.
Gadis itu dengan wajah dingin berjalan cepat berlawanan arah dari pria tinggi yang baru datang tersebut. Semakin lama jarak keduanya semakin menipis, dan Kyungsoon pun menatap pria bertubuh kekar dengan banyak tatto itu dengan mata bulatnya yang menatap sedikit terlalu dalam.
Terlihat Chanyeol- pria itu -melewati Kyungsoon begitu saja. Pria itu tampak lebih fokus mencari ruangan bernama perpustakaan di Mansion ini.
Sedangkan didalam ruangan yang sedang Chanyeol cari, disaat yang bersamaan dengan Kyungsoon yang keluar dari dalamnya tadi.
Baekhyun berjalan sempoyongan menuju bagian terdalam dari perpustakaan miliknya, menuju dinding kaca tempat favoritnya membaca selama ini. Namun hari ini badannya terasa ringan dan goyah.
Ada apa denganku?, pikir Baekhyun sambil terus berjalan dengan menenteng buku Romeo And Juliet versi Braille miliknya.
Baekhyun pikir saat itu dirinya hanya terlalu pusing karena beberapa minggu tak tidur dengan nyenyak.
Tanpa tahu, bahwa dirinya telah meneguk beberapa miligram obat tidur.
Obat yang membuat dirinya dapat tertidur bahkan hanya dengan mendengarkan satu lembar buku yang Chanyeol bacakan.
Namun jangan lupakan sebuah fakta, hari itu... Chanyeol berhasil membuat Baekhyun tertidur dua kali dengan menggunakan puisi yang sama.
Dan pada saat yang kedua,
Baekhyun berhasil tertidur tanpa mimpi buruk.
.
.
Pertemuan
Baekhyun merasakan kerinduan yang tak dapat dijelaskan. Terasa raga dan jiwanya menagih untuk mendengar suara pria didepannya dengan kekuatan yang amat sangat. Baekhyun ingin mendengar suara Chanyeol.
"Anda yang bernama Park Chanyeol?" Tanya Baekhyun dengan diiringi suara jantung yang bertalu.
Namun Chanyeol tetap sunyi.
Merasakan bahwa Chanyeol juga terpaku di depannya. Membuat Baekhyun tersenyum dalam hati. Ternyata bukan dirinya saja yang terpesona disini.
Baekhyun merindukan Chanyeol bahkan sebelum pertemuan mereka kali ini. Dirinya telah menunggu untuk bertemu dengan Chanyeol sudah sejak lama. Sejak dirinya tahu bahwa ada seorang bayi yang lahir bahkan setelah kecelakaan mengerikan seperti itu.
Baekhyun sudah terpesona pada Chanyeol, bahkan sebelum Chanyeol terpesona saat memandang wajah Baekhyun saat ini.
Untuk mengungkapkan isi hatinya, Baekhyun bahkan sudah menyatakan perasaan terlebih dahulu, jauh sebelum Chanyeol menyatakan perasaannya dikemudian harinya.
"Young man's love lies not truly in their heart, but in their eyes." Ucap pria cantik itu.
Kutipan novel klasik Romeo and Juliet dari William Shakespeare menjadi pengungkapnya.
Itulah dia, cinta seorang pria memang bukan dari hatinya, namun dari mata mereka.
Sedangkan Baekhyun telah kehilangan matanya di hari kecelakaan mereka, sekaligus, hari kelahiran Park Chanyeol.
Baekhyun menjadi buta setelah kecelakaan itu, dan ada Chanyeol yang lahir setelahnya.
Membuat Baekhyun selalu merasa takjub akan keberadaan seorang Park Chanyeol didunia ini. Bagaimana bisa ada seorang bayi yang sekuat itu dan tetap lahir bahkan setelah kejadian yang sungguh mengerikan.
Seorang penulis memang boleh menulis dengan makna apapun yang mereka inginkan, namun akhirnya pembacalah yang menentukan makna dari tulisan itu menurut hati mereka sendiri.
Dan untuk kutipan,Young man's love lies not truly in their heart, but in their eyes, akan Baekhyun artikan sebagai...
Cinta Baekhyun mungkin tak sesungguhnya berasal dari hatinya. Mungkin dari mata Baekhyun yang memang tak pernah melihat apapun ini.
Karena selama ini, setiap melihat kegelapan menggunakan matanya, Baekhyun akan mengingat Chanyeol. Dirinya buta karena kecelakaan itu, dan Chanyeol lahir pada kecelakaan itu. Adalah hal yang otomatis tersambung dan tak mudah Baekhyun lupakan.
Hingga semakin lama... semakin hari...
Baekhyun menjadi gelisah dengan kecacatannya ini. Gelisah sebab merindukan seseorang.
Dan juga, gelisah karena merasa bersalah pada semua orang. Semua orang yang juga korban dari kecelakaan itu. Baekhyun merasa bersalah pada semua orang karena dirinya merindukan putra dari tersangka utama kecelakaan yang membunuh kedua orangtuanya.
Sehingga akhirnya...
Inilah harga yang diam- diam Baekhyun berikan pada semua orang dan seluruh alam semesta. Dirinya mengorbankan penglihatannya dan menolak untuk dapat melihat lagi, biarkan saja.
Biarkan saja dirinya selamanya tak dapat melihat.
Namun tolong, izinkan Chanyeol menjadi miliknya.
Bolehkah?
Dirinya tahu ini terlarang, Chanyeol terlarang untuknya, karena itulah Baekhyun tak pernah menemui Chanyeol meski dirinya sungguh ingin. Baekhyun hanya menunggu dan berdoa pada Tuhan agar suatu hari nanti ada keajaiban yang membuat Chanyeol sendiri yang datang padanya.
Dan sekarang, keajaiban itu telah terjadi.
Meski tahu, bahwa kisah mereka berdua tak akan ada bedanya dengan Romeo dan Juliet yang berasal dari keluarga yang terlarang untuk dipertemukan.
Meski Baekhyun tahu, dirinya tak pantas untuk mencintai Chanyeol. Baekhyun tak ubahnya peluru berlapis madu bagi pria polos itu. Memberikan rasa manis yang akan membunuh akhirnya.
Namun Baekhyun tetap memilih untuk bertemu dengan pria yang amat sangat dirindukannya itu.
Meski dirinya tahu,
Chanyeol akan sungguh menderita bila tahu kebenaran masa lalu mereka berdua nanti.
.
.
.
Pagi pertama Chanyeol di Mansion Byun
Baekhyun terbangun. Merasakan kedua tangan hangat memeluk dirinya. Aroma petricor dari luar semerbak masuk sampai ke dalam, dan memenuhi setiap sudut perpustakaan Mansion Byun ini. Bergabung dengan aroma jeruk yang menyengat dari tubuh Chanyeol, si pemeluk dirinya ini.
Dengan hati- hati Baekhyunpun bangkit. Berusaha untuk duduk tanpa harus membangunkan Chanyeol. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar. Meninggalkan Chanyeol sendirian diruangan perpustakaan yang luas itu.
Dirinya perlu menenangkan diri sekarang. Hanya satu tempat yang sampai sekarang selalu sukses membuatnya tenang.
Ayunan kesukaannya.
Baekhyun mengayunkan dirinya dengan pelan. Sambil menikmati suasana pagi yang selalu ramai dan ceria.
Dengan gerakan gesit dirinya melepas sepatu dan kaus kaki miliknya. Ingin merasakan dinginnya embun diatas rumput- rumput taman belakang Mansion Byun ini secara langsung. Kemudian kembali berayun dengan kaki telanjang.
Baekhyun tersenyum tipis.
"Sepertinya aku sudah gila, bagaimana bisa aku tidur bersama Park Chanyeol." Gumamnya kepada diri sendiri.
Kebiasaan Baekhyun saat memikirkan hal yang serius, yaitu dengan menggumankannya kepada diri sendiri.
"Apakah dia makan dengan benar selama ini?. Kenapa badannya sungguh kurus sekali, meski tertutupi otot, namun tak ada lemak sama sekali dibadannya, anak malang, tubuhnya menjadi sungguh kekar seperti itu pasti karena telah banyak bekerja berat. Hidupnya pasti sungguh sulit selama ini. Seharusnya aku menolong dia dari awal. Ah tidak.. seluruh dunia akan mengutukku bila aku mendatanginya." Baekhyun kembali bergumam sambil memikirkan Chanyeol.
Baekhyun kembali terdiam. Mencium aroma petricor, yaitu aroma segar yang dihasilkan tanah basah bekas hujan. Sungguh menyejukkan, sangat ampuh dalam merangsang otak untuk mengingat kembali memori- memori baik yang sudah terjadi dalam hidup siapapun yang menciumnya.
Itulah yang tengah Baekhyun lakukan. Mengingat kembali. Memori mereka berdua.
"Sepertinya dia melupakan pertemuan kami di rumah abu. Aku mengenali suara miliknya walau telah sedikit berubah. Syukurlah, lebih baik dia tak mengingat kejadian hari itu. Apakah tahun ini aku mendatangi makam Ayah dan Ibu sehari lebih lama saja ya. Sekarang aku harus merayakan ulang tahun Chanyeol pada tanggal itu." Bisik Baekhyun kepada dirinya sendiri.
Semilir angin pagi menerpa wajah Baekhyun. Membuat si Tuan Muda ini sedikit menggigil, namun tetap tersenyum dalam ketenangan.
"Apakah aku harus memberitahukannya?. Atau tetap merahasiakannya?" Inilah yang sedari tadi Baekhyun pusingkan.
Apakah dirinya harus memberitahu Chanyeol tentang masa lalu mereka berdua.
Atau tetap menutupnya rapat, mencoba menyembunyian fakta itu sampai akhir. Selama yang Baekhyun bisa.
Dan kita semua tahu,
Baekhyun memilih opsi kedua
.
.
Sekarang kita semua telah melihat seluruh titik buta yang selama ini terabaikan. Menghilangkan bagian gelap yang tak tersorot lampu diatas panggung. Kehidupan memang sungguh menarik, persis seperti panggung opera dan drama. Semua perannya diisi dengan sungguh baik.
Dan pemeran utama kita,
sebentar lagi akan diuji seberapa kuat cintanya.
Masihkah keduanya tetap bersama setelah terkuak nanti bahwa salah satunya terbodohi sejak awal?.
.
.
.
Baekhyun terbutakan akan kebaikan dirinya sendiri. Merasa bahwa dengan bersikap baik dan tulus. Maka semua orang akan bahagia. Maka semuanya akan baik- baik saja. Namun nyatanya tak seperti itu.
Segala hal yang berlebihan didunia ini tentu tak akan baik akhirnya. Bahkan bagi sang kebaikan itu sendiri.
Bagaikan bumerang, kebaikan yang telah Baekhyun berikan kepada Chanyeol selama ini. Akan berubah menjadi ribuan duri yang amat sangat menyakitkan untuk pemuda itu. Dan akan menjadi awal keretakan di antara mereka berdua.
.
.
.
TBC
AN :
Mungkin karena inilah authornya baperan dan sensitif banget pas ada yang bilang FF ini ceritanya banyak bagian yang tak penting kemarin. Karena authornya... sudah memikirkan ceritanya jauh sekali T-T . Setiap bagiannya penting huhuhu. Tapi tak apalah, terserah para pembaca sekalian.
