Tittle : Read My Music
Author : GoodMornaing
Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO
Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc
Genre : Romance , Drama , and BxB
Rated : T - M
Summary :
Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."
.
.
Happy Reading
Chapter 27 : Scandal
.
.
.
Musim Panas, 2011
"Hey"
"Beautiful, beautiful, beautiful, beautiful angel"
Baekhyun tersenyum manis seraya kembali merebahkan kepalanya pada bantalnya. Kembali menenggelamkan diri pada selimutnya yang tebal. Demi Tuhan, ini mungkin masih pagi buta, dan Chanyeol sudah memberinya lagu selamat pagi penuh gombal.
"Kau menciptakannya sambil menatapku semalaman bukan?" Tanya Baekhyun dengan suara serak khas bangun tidurnya. Di dalam selimut yang mereka pakai berdua untuk menutupi tubuh polos mereka ini, Baekhyun mencari keberadaan Chanyeol.
Telapak tangan dingin Baekhyun menyentuh dada telanjang Chanyeol. Mengikuti arah itu, Baekhyun mendekat. Dan dapat ditebak, Chanyeol telah menunggu dan langsung menyambutnya dalam pelukan yang sungguh hangat.
"Maukah mendengar lanjutan lagunya?" Tanya Chanyeol dengan suara pelan.
Baekhyun mengangguk di dalam pelukan Chanyeol, menekan pipi kirinya pada dada pria tinggi itu, hingga suara detak jantung Chanyeol terdengar jelas oleh Baekhyun. Chanyeol tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang manja, kemudian menghadiahkannya beberapa kecupan pada rambut merah muda milik sang kekasih, lalu melanjutkan kembali nyanyiannya.
"Hey Beautiful, beautiful, beautiful, beautiful angel."
(Hai, malaikat yang sungguh cantik)
Love your imperfections, every angle
(Suka ketidaksempurnaanmu, disetiap sudutnya)
Tolong tampar wajah Baekhyun sekarang, dirinya tak bisa untuk tak tersenyum. Terkutuklah Chanyeol dengan seluruh kata- kata manisnya.
Tomorrow comes and goes before you know
(Besok akan datang dan pergi sebelum kau menyadarinya)
So I just had to let you know
(Jadi aku harus memberitahumu)
The way that Gucci look on you, amazing
(Cara Gucci itu terlihat padamu, sungguh menakjubkan)
But nothing can compare to when you're naked
(Tapi tak ada yang dapat menandingi saat kau telanjang)
PLAK!!
"Aw! Hei, aku hanya mengatakan apa adanya." Ujar Chanyeol sambil meringis, responnya setelah merasakan pukulan telapak tangan Baekhyun. Chanyeol kan hanya mencoba jujur dalam lagunya. Kenapa harus dipukul sedangkan dirinya hanya mengatakan kenyataan, pikir pria tinggi itu.
"Lanjutkan." Baekhyun bergumam, dan Chanyeol pun tertawa pelan kemudian menurutinya, seraya kembali mengeratkan pelukan mereka berdua, Chanyeol pun kembali bernyanyi.
Oh my God. Where did the time go?
(Ya Tuhan, kemana waktu berlalu?)
I wished the hours would go slow. How is it 6 AM? .Your touch is heaven-sent...
(Aku berharap jam berjalan perlahan. Bagaimana bisa sekarang jam 6 pagi?. Sentuhanmu adalah kiriman dari surga)
Beautiful, beautiful sight right now
(Pemandangan yang sungguh indah sekarang)
Beautiful, beautiful life right now
(Kehidupan yang sungguh indah sekarang)
Got the angels singing oh-ah right now like...
(Memiliki malaikat yang bernyanyi oh-ah sekarang, seperti..)
Huwo.. uwaa...
Baekhyun kembali memejamkan matanya. Merasakan telapak tangan Chanyeol mulai menepuk- nepuk punggungnya dengan pelan. Memberikan efek menenangkan dan mengantuk seperti biasanya. Chanyeol memberikan beberapa kecupan pada dahi Baekhyun, lalu menaruh dagunya dipuncak kepala pria bersurai pink itu.
This is why we've got to touch
(Inilah kenapa kita harus menyentuh)
Sometimes words are not enough
(Terkadang kata- kata saja tak cukup)
Painted in your golden kiss
(Terlukis di ciuman emasmu)
Honey dripping from your lips
(Madu menetes dari bibirmu)
I thank God and my lucky stars
(Aku bersyukur pada Tuhan dan bintang keburuntunganku)
Darling, don't you know what you are?
(Kasih, tak tahukah siapa dirimu?)
Yeah, baby you are
(Iya, dirimulah sayang)
Hey, Beautiful, beautiful, beautiful, beautiful angel
Love your imperfections every angle
Tomorrow comes and goes before you know
So I just had to let you know
The way that Gucci look on you, amazing
But nothing can compare to when you're naked
Tomorrow comes and goes before you know
So I just had to let you know..
I just had to let you know...
Swear to God you're beautiful...
Lagupun berakhir.
Namun keduanya masih dalam posisi yang sama. Baekhyun merasakan dirinya berada diantara mimpi dan terbangun sekarang. Inikah yang disebut dengan relax and chillin'. Menyenangkan sekali.
"Kenapa tiba- tiba bernyanyi Chan?. Aku bahkan baru saja terbangun." Tanya Baekhyun dengan suara pelan sekali.
Chanyeol memberikan ciuman yang terasa manis sekali dibibir Baekhyun pagi ini. Baekhyun membalasnya dengan sama manisnya, sepertinya kedua orang ini sedang dalam suasana hati yang baik sekarang, berterimakasihlah pada lagu berlirik chessy milik Chanyeol.
"Aku ingin menghiburmu." Ujar Chanyeol setelah melepaskan ciuman keduanya.
Baekhyun tertegun dengan bibir mungilnya yang tampak masih sedikit terbuka.
"Aku perlu sebuah penghiburan?" Tanya Baekhyun tak menyadari betapa tegang dan serius dirinya sendiri sejak kemarin.
Chanyeol bergumam sebagai jawaban iya.
"Aku memang tak peka dan banyak yang mengatakan pikiranku terlalu sederhana dan bahkan bila kau ingin mengatakan versi kasarnya bilang saja aku bodoh. Namun Baek, aku sangat perasa bila itu sudah menyangkut tentang suasana hatimu. Kau gelisah semalaman." Chanyeol mengucapkannya dengan suara yang tenang sekali, sambil menepuk punggung telanjang kekasihnya dengan sayang.
Baekhyun menggeleng, "Kau tak bodoh Chan. Tak ada orang bodoh yang bisa menciptakan sebuah lagu yang bagus hanya dalam waktu semalaman saja." Chanyeol tersenyum merasa terhormat dengan pujian tak langsung Baekhyun. Siapapun akan bahagia saat bakatnya dipuji bukan?.
"Kau menyadarinya..." Baekhyun bergumam dengan sangat pelan sekali, namun Chanyeol tetap mendengarnya.
Chanyeol menarik tubuh Baekhyun agar sedikit naik keatas. Membuat wajah keduanya menjadi berhadapan. Chanyeol menatap mata beriris abu- abu milik Baekhyun dengan tatapan sendu. Baekhyun memiliki mata yang tak dapat tertembus, baik secara tersurat maupun tersirat.
Baekhyun selalu tak terbaca.
"Aku sangat suka bercinta denganmu, namun yang malam tadi tak usah aku hitung saja. Kau seperti orang kesurupan. Apa yang sedang kau coba lupakan?. Kau seperti orang mabuk yang mencari pelampian untuk melupakan masalah. Baiklah, aku akui, aku tetap menyukainya, karena kau seksi sekali. Tapi kepalaku pusing sekarang karena mengkhawatirkan dirimu semalaman. Ada apa denganmu hem?"
Baekhyun tersenyum mendengar nada perhatian Chanyeol.
"Aku hanya benci membayangkan kau pergi dariku." Ujar Baekhyun terus terang.
Chanyeol merengut, "Kenapa aku harus pergi darimu." Tanyanya kesal.
"Apakah aku mengigau lagi Chan?" Tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan, wajah Chanyeol menjadi semakin masam dibuatnya.
"Iya." Namun Chanyeol tetap menjawab pertanyaan itu meski tak suka.
Baekhyun terkekeh, "Kali ini apa yang aku katakan dalam tidurku?"
Chanyeol menatap wajah cantik Baekhyun dengan tatapan yang sungguh dalam, "Kau meminta maaf padaku." Jawabnya.
Baekhyun terdiam lama sekali.
"Kau berbuat salah padaku?" Tanya Chanyeol, pria tinggi ini sedikit berdebar, ini adalah pertama kalinya Chanyeol sungguh jujur tentang Baekhyun dan apa yang pria mungil itu katakan dalam tidurnya.
Baekhyun menggeleng menjawab pertanyaan Chanyeol. Dahi Chanyeol mengerut, "Aku tak mengerti" Gumam Chanyeol kesal akan ketumpulan dirinya.
Namun hati Chanyeol selalu dan selalu terasa lebih baik setelah Baekhyun memberikannya sebuah senyuman manis. "Aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir semalaman. Tenanglah, sekarang aku sudah baik- baik saja." Gumam Baekhyun, seraya bangkit dan memisahkan pelukan keduanya, dengan perlahan menurunkan telapak kakinya ke lantai, menuruni ranjang tinggi dan empuk milik mereka berdua.
"Lalu apa arti bunga itu... krisan kuning. Kau sungguh panik saat menerimanya, dan mulai gelisah setelah bunga itu datang. Siapa pengirimnya?" Tanya Chanyeol yang telah ikut mendudukkan diri diatas ranjang mereka, menatap siluet cantik tubuh polos Baekhyun dari belakang.
Baekhyun terduduk diam di tepi ranjang, sama sekali tak berniat menoleh kearah Chanyeol.
"Bukankah sudah aku bilang jangan sembunyikan apapun dariku lagi Byun Baekhyun?"
Baekhyun terperangah mendengarnya. Chanyeol tak pernah memanggil nama lengkap Baekhyun dengan nada yang seperti itu.
"Kyungsoon yang mengirimnya padaku." Ujar Baekhyun akhirnya.
Chanyeol terbelalak, kemudian langsung bangkit begitu saja. Mendekati Baekhyun, ikut duduk ditepi ranjang.
"Kyungsoonnie?. Untuk apa?. Dan.. dan.. kenapa kau bereaksi seperti itu saat menerimanya?, lalu.. bagaimana kau bisa tahu bahwa Kyungsoon yang mengirimkannya?" Baekhyun mengigit pipi bagian dalamnya, inilah yang sulit dilakukan bila sudah memberi tahu Chanyeol, pria itu tak akan berhenti bertanya sampai rasa penasarannya tuntas.
Chanyeol tak suka rahasia.
Baekhyun berdehem, berusaha menetralkan suaranya.
"Chan, tahukah kau bahwa Kyungsoon sebenarnya menyukaiku?" Tanya Baekhyun dengan suara yang sengaja terdengar cerah dan jenaka. Seakan sedang menggosipkan seorang adik kelas di sekolah yang menyukai dirinya sendiri yang merupakan seniornya.
Terbukti dengan mata Chanyeol bersinar dalam keterkejutan yang sungguh lugu. Pria ini akan selalu termakan semua ucapan Baekhyun bulat- bulat, apapun itu.
"Kyungsoon menyukaimu?!. Sejak kapan?." Tanya Chanyeol yang terkejut sekali.
Baekhyun mengangguk.
"Aku juga awalnya tak tahu. Aku baru tahu beberapa minggu lalu saat kau masih menginap di asrama trainee, beberapa maid melaporkan hal itu padaku. Dia tak pernah mendekatiku secara terang- terangan." Ujar Baekhyun dengan suara yang terdengar pelan sekali di kalimat terakhirnya.
Chanyeol mengangguk- angguk mendengarnya.
"Lalu apa hubungannya dengan bunga yang dia berikan?" Tanya Chanyeol lagi, pria tinggi ini masih memerlukan kejelasan.
"Itu bentuk balas dendamnya padaku." Baekhyun mencoba tersenyum pada Chanyeol, meringankan suasana.
Mata Chanyeol berbinar menangkap fakta baru, "Oh aku tahu!. Itu karena kau menyingunggunya saat kita sarapan kemarin kan?" Tebak Chanyeol dengan percaya dirinya.
Dan Baekhyun justru tertawa dengan cara kerja otak Chanyeol yang ternyata memang sederhana sekali. "Iya, bisa dibilang begitu. Harusnya aku tak menyinggung dan menolaknya seperti itu. Lihatlah, dia berulah sekarang. Aku tak tahu ternyata hatinya sesakit itu karena ucapanku." Ujar Baekhyun di sela tawanya.
"Darimana kau tahu bunga itu dari Kyungsoon, Baekhyun?" Tanya Chanyeol lagi.
Baekhyun tersenyum lembut ke arah kekasihnya.
"Hanya orang yang benar- benar mengenalku yang akan mengirimkan bunga itu padaku, untuk membuatku gelisah Chan." Ujar Baekhyun pelan.
Chanyeol diam mendengarkan, dirinya tahu Baekhyun akan menjelaskan sesuatu.
"Bunga Krisan adalah bunga kesukaanku. Semua orang di Mansion Byun tahu. Namun hanya sedikit yang tahu makna sebenarnya kenapa aku suka bunga itu. Banyak orang tak menyukainya karena Bunga Krisan adalah bunga tanda berduka cita di pemakaman, namun aku tetap menyukainya. Karena bunga itu... mengingatkanku pada orang tuaku. Namun dari seluruh warna bunga Krisan, warna kuning adalah yang terakhir dari daftar yang aku suka. Aku tak menyukai maknanya." Baekhyun mengigit lidahnya setelah mengucapkan seluruh kalimat itu, takut bila Chanyeol menanyakan banyak hal lagi.
Baekhyun tak bisa menjelaskannya lebih dalam lagi.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan dalam. Lalu meraih tubuh mungil kekasihnya dalam sebuah pelukan hangat. Baekhyun membalas pelukan Chanyeol dengan perlahan. Menikmati hangatnya tubuh kekasih tingginya.
"Dasar gadis jahat, dia memberikan bunga yang berhubungan dengan kematian orangtuamu?. Jahat sekali. Aku akan memberi pelajaran padanya nanti. Lihat saja Baekhyun. Aku akan membalasnya, dia sudah membuat kekasihku sedih." Chanyeol menggerutu dengan suara berat miliknya, hampir terdengar seperti sebuah rapp karena Chanyeol mengucapkannya dengan sungguh cepat sekali.
"Ayo kita balas dia hari ini. Kita jitak kepalanya. Haishh... kalau dia tujuannya balas dendam setelah perasaannya ditolak, ini sudah keterlaluan sekali. Oh aku rasa ini tak bisa dibiarkan, Baekhyun, pecat saja dia. Kau bisa lakukan itukan?. Kau kan bos ... nya..." Ucapan Chanyeol terbata, merasakan tubuh Baekhyun terisak.
Chanyeol tertegun sebentar, kemudian memberikan elusan menenangkan dipunggung Baekhyun. Seraya bergumam, "Kekasihku yang malang... sstts.. tenang saja, sekarang kau punya aku. Aku ada disini bersamamu. Aku tak akan pergi lebih dulu seperti orangtuamu. Kau tak akan sendiri.." Ucapan Chanyeol justru membuat Baekhyun semakin terisak.
Pagi itu, Chanyeol habiskan dengan menenangkan Baekhyun yang terus menangis tanpa alasan yang jelas.
Andaikan Chanyeol tahu..
Baekhyun menangisi nasib keduanya nanti. Yang entahlah akan bagaimana.
Bagaimana ini...
Cepat atau lambat, Chanyeol pasti akan tahu kebenarannya.
Dan saat waktu itu datang, Baekhyun harus siap melepaskan Chanyeol pergi. Namun Baekhyun, tak akan pernah merasa siap. Tak akan pernah.
.
.
.
Di ruangan lain, Chen sedang menatap Xiumin dengan senyuman geli. Sambil menikmati kopi paginya, Chen tampak sungguh tampan dengan rambut yang masih basah dan hanya memakai bathrobe menutupi tubuhnya.
Pria berumur 40 an itu masih betah memandangi Xiumin yang sudah membuat kamar mereka menjadi berantakan sekarang.
"Arggggg.." Terdengar teriakan frustasi dari Xiumin, ucapkan terima kasih pada dinding hotel bintang lima ini yang amat sangat tebal hingga menjadi kedap suara.
"Sudahlah Xiu. Kita memang terjebak di kamar ini. Pesan makanan lewat room service saja nanti." Ujar Chen seraya duduk disofa yang ada dikamar tersebut, kemudian mulai membuka koran paginya.
"Tidak bisa, hari ini MT kita harus berlangsung seperti yang sudah di rencanakan, aku harus laporan pada Tuan Muda dua jam lagi." Balas Xiumin sambil membongkar lemari milik mereka.
Namun hanya berlangsung beberapa menit, pria berpipi chubby itu telah kehilangan kesabarannya.
Xiumin berbalik, menatap tajam pada pria yang hidupnya amat sangat santai itu. "Ini semua salahmu!" Seru Xiumin dengan suara teramat kesal.
Chen menaikkan sebelah alisnya mendengar itu, lalu menurunkan koran dari wajahnya, balas menatap Xiumin yang berjarak beberapa meter saja darinya, "Uh huh, apakah salahku itu?" Tanyanya dengan nada santai yang sungguh menyebalkan sekali di telinga Xiumin.
Xiumin kembali menggerang kesal. Kemudian berjalan mendekati Chen dengan langkah menghentak, lalu menunduk untuk menyetarakan wajahnya tepat didepan Chen yang sedang duduk disofa.
Xiumin mendongakkan kepalanya, lalu menunjuk lehernya dengan sungguh dramatis, "Lihatlah!. Semua ini salahmu. Bagaimana bisa kau membuat tanda sebanyak ini. Dapatkah kau berpikir Kim Jongdae, ini adalah musim panas, konyol sekali bila aku memakai syal!." Lalu Xiumin berteriak tepat didepan wajah Chen.
Bukannya takut ataupun panik, Chen justru menjadi gemas melihat Xiumin yang tampak sungguh manis sekali saat marah.
"Baiklah aku yang salah disini. Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Chen dengan tenangnya.
Suatu hal yang akan didapatkan dengan memiliki hubungan bersama pria yang jauh lebih tua adalah, dia akan menghadapi amarah milikmu dengan tenang sekali. Tak mudah terlarut dalam pertengkaran yang sepele. Sungguh pengertian, namun terkadang membosankan.
Baiklah, katakan saja si tua, membosankan, menyebalkan, dan santai Kim Jongdae memanglah tipe yang cocok untuk Xiumin yang memiliki pribadi empat dimensi dan tsundere yang sudah mendarah mendaging.
Xiumin merengut menatap wajah tenang ayah angkatnya.
Kemudian beranjak duduk ke pangkuan Chen seperti kucing yang merangkak pada tuannya, tanpa canggung sama sekali. Dan Chen menyambutnya dengan senyuman.
"Bisa kau belikan aku baju turtleneck?. Aku tak bisa keluar dalam kondisi seperti ini. Aku tak membawa banyak baju untuk perjalanan ini."Ujar Xiumin dengan pelan, sambil melingkarkan tangannya pada leher Chen, menatap pria Kim itu dengan tatapan layaknya kucing meminta sekaleng tuna.
Chen terkekeh melihat betapa menggemaskannya Xiumin. Putranya sama sekali tak berubah, dulu saat kecil Xiumin juga berekspresi persis seperti ini saat meminta Chen membelikannya bola sepak.
"Kau masih punya kebiasaan membawa tas kecil saat berpergian rupanya, dan akhirnya kerepotan saat kekurangan baju. Astaga, tak pernah berubah." Chen bergumam geli, dan Xiumin merengut dibuatnya.
Chen mengecup bibir kucing yang ternyata bisa maju beberapa senti itu.
"Berhentilah merajuk. Maafkan aku yang terlalu bersemangat kemarin. Aku akan membelikannya untukmu, semoga ada yang menjualnya disini. Oh ya, bila aku terlalu lama dan kau lapar, kau sarapan lebih dulu saja." Chen mengucapkan itu sepatah demi sepatah, seolah- olah Xiumin adalah anak umur lima tahun.
Xiumin mengangguk beberapa kali, puas akan jawaban Chen.
Chen kembali tertawa. "Dan sekarang kau harus menyingkir dariku kucing kecil. Aku tak bisa berdiri bila kau terus menduduki pahaku seperti ini. Namun bila lebih lama lagi, aku rasa kau yang menjadi tak bisa berdiri nanti." Ujarnya dengan nada jenaka.
Sontak saja wajah Xiumin berubah menjadi merah. Dan dengan cepat menyingkir dari Chen, kembali berdiri didepan Chen yang sedang duduk di sofa tunggal itu, lalu pria manis itu dengan seenak jidatnya meminum kopi milik Chen, menyeruput kopi super pahit itu dengan santai.
"Astaga, tak pernah berubah." Komentar Xiumin akan rasa kopi buatan Chen, melempar balik ucapan Chen tadi padanya.
Chen terkekeh mendengarnya, seraya bangkit dari duduknya, "Boleh aku minta?." Xiumin mengangguk saja sebagai jawaban, menyodorkan pada Chen cangkir kopi ditangannya.
Namun bukannya meraih cangkir kopi yang Xiumin sodorkan. Chen justru meraih kedua pipi chubby pria manis didepannya, memiringkan kepala, hingga kemudian meraup bibir mungil itu dalam waktu sedetik.
Xiumin menutup matanya dengan refleks, dan membalas ciuman itu dengan baik. Sedikit mengerutkan dahi saat merasakan pahitnya kopi yang telah keduanya sesap sebelum sesapan kopi bersama ini.
Erangan Xiumin tertahan dalam lumatan bibir keduanya, merasakan tangan Chen telah masuk ke dalam baju miliknya, memberikan elusan pada perut pria bermata kucing itu. Rasanya Xiumin ingin mengigit bibir Chen yang menahannya untuk bersuara, dirinya tersiksa tak dapat mendesah sedangkan tangan Chen bergerak dengan semaunya ditubuh Xiumin. Semakin lama ciuman yang keduanya bagi terasa semakin berat dengan napas yang menipis diiringi dengan tangan kasar Chen yang semakin meliar dan naik keatas.
Dengan tangan gemetaran Xiumin meletakkan kopi milik Chen kembali ke atas meja, menahan siksaan nikmat, frustasi akan tangan kasar itu yang sekarang telah merambat menuju tubuh bagian belakangnya. Bergerak lembut ke bawah dan terus ke bawah.
Sepertinya ini sudah terlalu berlebihan untuk dikatakan sekedar morning kiss.
Chen memiringkan kepalanya, memperdalam pagutannya, menelan bibir mungil Xiumin yang baginya pagi ini terasa segar sekali. Xiumin melenguh sebagai respon akan tangan Chen yang kali ini bergerak dibawah sana, meremas dengan gemas dua pipi kembar yang sungguh empuk itu. Dan kesempatan itu justru Chen gunakan untuk mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut Xiumin yang hangat, mengajak si mungil pada sebuah perang lidah yang tak tahu harus dibilang pahit atau manis, jangan lupakan, kedua pria ini baru saja menyesap kopi hitam dengan kandungan gula nol persen.
"Humpt.." Xiumin merasakan kakinya sudah selemah jeli, rasanya sungguh geli sebab Chen menggelitik langit- langit mulutnya, bersyukurlah akan lengan kuat Chen yang dengan sigap menahan pinggangnya.
Jual saja rekaman asmr dari suara kecapan dan helaan napas terengah kedua orang ini. Harganya pasti mahal. Keduanya berciuman sepanas bintang film dewasa.
Semakin menuntut... semakin menuntut...
Dan semakin dalam..
Kepala Xiumin bahkan sampai terdorong ke belakang karena lawan ciumannya pagi ini terus mendorong ke depan untuk memperdalam ciuman yang tak tahu ternyata masih dapat dibuat lebih panas lagi.
Entah bagaimana, Xiumin juga tak sadar sejak kapan dirinya mulai melingkarkan tangannya pada leher Chen, sesekali meremat bathrobe yang pria itu pakai, Xiumin memerlukan sebuah pegangan sekarang.
Dan kemudian...
Berakhir.
Mata Xiumin terbuka dengan otomatis saat Chen melepaskan tautan mereka begitu saja.
Apa?!
Begitu saja?!
Sudah berakhir?!
Xiumin berseru tak terima dengan keras didalam hatinya.
"Owh.. jangan." Chen mejauhkan dirinya saat Xiumin ingin menciumnya lagi.
Xiumin mulai merengek tak terima. Chen menatap wajah manis pria yang paling disukainya itu dengan tatapan dalam selama beberapa saat, namun detik selanjutnya justru menampilkan senyum dan tawa jenaka "Terima kasih kopinya Xiu." Ujarnya, lalu memberikan kecupan sayang pada dahi Xiumin.
Xiumin menatapnya dengan wajah melongo tak percaya. Pria manis itu bahkan masih mempertahankan ekspresi wajahnya saat melihat Chen yang dengan tergesa berpakaian, lalu sekali lagi memberikan Xiumin sebuah ciuman di dahi sebagai tanda berpamitan.
Dan kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Xiumin yang menatapnya dengan ketidakpercayaan yang luar biasa.
Chen meninggalkan pria berdarah Chinese itu dengan napas terengah, bibir membengkak, dan rasa frustasi seksual yang amat sangat menyiksa.
Tega sekali.
"ARGG.. Kau membuatku harus bermain solo. Terkutuklah kau Kim Jongdae." Xiumin menggerutu seraya mulai berjalan ke dalam kamar mandi.
Baiklah, sepertinya kita semua tahu apa yang akan dilakukan Xiumin dalam menghabiskan paginya.
.
.
.
Dan dikamar lainnya, Jimin tampak membuka matanya dengan perlahan, baru saja terbangun dari tidurnya yang entah kenapa malam ini terasa tak nyaman sekali. Tubuhnya terasa berat dan sulit bernapas. Gadis itu mencoba untuk bangkit, namun sesuatu menahannya.
Ini aneh sekali, pikir gadis itu.
Dengan gerakan dramatis Jimin menoleh ke belakang, dan pemandangan paling tak pernah dirinya bayangkan bahkan dalam mimpi terliarnyapun terpampang didepannya.
"AAAAAAAAAH!!!"
Gadis itu berteriak dengan nada tinggi begitu saja. Sekali lagi kita ucapkan terima kasih pada dinding hotel ini yang kedap suara.
TAK!
"Aw!" Dengan refleks Jimin meringis dan memegangi kepalanya yang terkena jitakan Sehun.
"Berisik." Sehun bergumam masih dengan mata tertutup, kemudian kembali tertidur.
Pria itu.. tertidur... dengan... memeluk... Jimin.
Jimin menatapnya dengan mata terbelalak tak percaya.
"Kau tidur lagi?!. Kau gila?!!. HEI! BAGAIMANA BISA KAU ADA DI KAMARKU?!!" Para hadirin, perkenalkan, dia adalah Shin Jimin, makhluk paling berisik yang Sehun kenal.
Terlihat Sehun mengerutkan dahinya terganggu akan suara Jimin.
"Aku takut ShinJi, ada hantu di kamarku." Jawab Sehun dengan suara pelan, sukses membuat Jimin menganga.
Alasan macam apa itu.
"Kau berani berjalan dari lantai 2 sampai lantai 4, tapi kau tak berani tidur sendiri?" Tanya Jimin retoris.
Dan Sehun tak menjawabnya, justru mengeratkan pelukannya pada gadis mungil itu. Merasakan itu membuat Jimin kembali menyadari posisi mereka berdua, dan gadis itu merasakan kedua pipinya memanas.
"O-OhSe, lepaskan.. Kau tak boleh sembarangan memelukku seperti ini." Ujar Jimin kemudian mendorong tubuh Sehun menjauh darinya.
Percuma, Sehun tak menjauh sama sekali, tenaga Jimin kalah jauh jika dibandingkan dengan Sehun.
"Tenang saja ShinJi, aku Gay."
Jimin mendengus kesal mendengar itu. Dan akhirnya berteriak kesal.
"AKU YANG TAK BISA TENANG DASAR OHSE BODOH. KARENA AKU SEORANG STRAIGHT!!. MENJADI GAY BUKAN BERARTI KAU BEBAS MEMELUKKU BEGITU SAJA. PERGI SANAAAAA!!!. AKU BISA MENUNTUT INI SEBAGAI PELECEHAN!!." Gadis ini memang memiliki kekuatan vocal yang luar biasa, dan bahkan dirinya masih memiliki kekuatan untuk memukuli Sehun.
"Aw Aw Aw.. Hey.. Astaga, bisakah kau bersikap seperti seorang gadis satu hari saja. Aku tak heran Chanyeol Hyung lebih memilih Tuan Byun daripada kau, haishhh.. dasar gadis barbar." Sehun mengucapkan seluruh kalimat kejam itu seraya bangkit menjauh dari serangan pukulan Jimin.
Mata gadis itu melotot dengan mengerikan.
"APA KAU BILANG?!." Teriaknya murka.
Terlihat Sehun menutup kedua telinganya dengan tangan, "Auhhh.. Berisik." Gerutunya kesal, namun Jimim lebih kesal.
"Haishh.. sebenarnya apa tujuanmu memasuki kamarku seperti ini?!. Oh!, bagaimana caranya kau masuk kamar ini?. " Akhirnya Jimin bertanya sesuatu yang memang harus ditanyakan.
Sehun merengut, merasa kesal akan kelambanan gadis didepannya. Kemudian dengan manja Sehun memeluk sahabat mungilnya dan mengeluarkan tangisan palsu.
"ShinJiiiiiiii... Taozi menelponku." Rengek Sehun pada sahabatnya, nah.. hanya satu orang yang dapat membuat Sehun bersikap seperti ini, tentu saja pria Qingdao bermata panda itu.
Jimin menampilkan wajah sungguh terkejut, "Wahh.. benarkah, apa katanya?" Tanya Jimin antusias.
Sehun menampilkan wajah patah hati, "Dia bilang, 'Berhenti mengirim banyak pesan padaku, aku sibuk.' ShinJiiii... Itu jahat sekaliiiiii.." Jimin menatap Sehun yang tengah merengek sambil memeluknya itu dengan wajah melongo.
"Ya ampun, itu salahmu sendiri OhSe, aku juga akan kesal jika mantan kekasihku terus mengirimiku pesan. Tapi tetap saja, wahhh.. mantanmu itu terus terang sekali. Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada orang seperti itu." Jimin berkomentar dengan sejujurnya.
Dalam hitungan detik Sehun pun bangkit. Tak ada lagi wajah merengut, tak ada lagi tangisan palsu, dan tak ada lagi pelukan merajuk dan rengekan sedih. Sehun kembali menjadi pria dingin minim ekspresi. Membuat Jimin mengira mungkin sahabatnya memiliki kepribadian ganda.
"Justru itulah yang aku suka dari Taozi, dia tak basa- basi ataupun banyak drama. Aku tak suka sesuatu yang merepotkan." Jimin mengiyakan saja, tak ingin banyak bertanya lagi tentang mantan Sehun itu.
"Kalian mirip." Gumam Jimin dan Sehun angguki setuju.
Jimin menepuk dahinya cukup kuat, "Astaga, aku baru mengingatnya. Hei!!, bagaimana kau bisa ada disini?!!. BAGAIMANA KAU BISA ADA DIKAMARKU!!." Jimin menunjuk Sehun tepat pada wajah pria berkulit pucat itu.
Sehun hanya mengangkat bahunya acuh, "Emm.. malam tadi aku mendatangi resepsionis dan sedikit berakting, dan mereka langsung membantuku membuka kamarmu." Jawabnya dengan suara datar.
Hal itu membuat Jimin menyipitkan matanya, menatap Sehun dengan tatapan curiga.
"Apa ini OhSe?, ada yang mencurigakan dari jawabanmu. Hummm.. akting apa yang kau lakukan didepan resepsionis itu hingga mereka bersedia membukakan pintu kamarku?. Apa yang kau katakan pada mereka?" Tanya beruntun.
Sehun menampilkan cengiran tak bersalahnya, "Ehehehehe.. Aku mengatakan kau akan bunuh diri didalam sini karena putus cinta. Jadinya mereka semua ikut panik dan membukakan pintu ini untukku." Jawabnya dengan suara yang amat sangat menyebalkan bagi Jimin.
Jimin menghembuskan napasnya dengan sangat perlahan. Mencoba untuk sabar. Namun tidak, gadis Shin ini sama sekali tak bisa sabar akan masalah ini.
"AKU TAK AKAN BISA MENIKAH BILA ADA ORANG LAIN YANG TAHU AKU MENGHABISKAN MALAM DENGAN SEORANG PRIA. DASAR BODOH!!. MATI KAU!! MATI SAJA SANA OHSE!!."
Dan pagi itu, Sehun menghabiskan waktunya dengan menerima pukulan bantal dari Jimin.
.
.
.
Pagi ini seluruh anggota keluarga Mansion Byun menghabiskan waktu mereka masing- masing dengan cukup damai. Hampir dari mereka semua tak terlalu peduli dengan dunia luar dan benar- benar terfokus pada liburan mereka yang indah sekarang.
Namun,
di salah satu kamar.
Kai tengah menatap Kyungsoo dengan tatapan khawatir.
Kyungsoo semalaman tak tidur sama sekali. Pemuda dengan wajah tampan dan suara indah itu terus menerus menatap pada layar televisi yang sudah menyala semalaman tanpa henti.
Kai sudah menyerah menyuruh kekasihnya itu untuk tidur, dan berakhir dengan ikut terjaga semalaman. Menatap Kyungsoo yang sedari kemarin hanya duduk dilantai kamar mereka sambil menatap pada benda kotak ajaib pengantar suara dan warna itu.
Pria mungil itu tampak seperti tengah menunggu.
Menunggu sesuatu yang akan menjadi awal dari kehancuran dari kebahagiaan mereka semua selama ini.
Dan penantian Kyungsoo tak sia- sia.
Tepat pukul 7 pagi, berita pagi menyiarkan.
"...Pagi ini kita semua di kejutkan oleh berita dari worldwide Idol dengan 5 juta penggemar, Do Kyungsoo. Idol dan aktor yang dijuluki Adik Kecil Korea selatan ini ternyata telah memiliki seorang kekasih. Hal ini diketahui dari sebuah artikel di salah satu majalah berita online menuliskan tentang kisah Do Kyungsoo bersama kekasih rahasianya selama ini, tak ketinggalan pula foto- foto bukti hubungan Kyungsoo bersama pria tersebut. Berikut adalah foto- fotonya."
Kai menatap layar televisi itu dengan mulut menganga.
Sedangkan Kyungsoo telah memandang semua itu dengan mata mengabur penuh air mata. Membuat pria manis ini menyeka airmatanya dengan kasar.
"Benar sekali, tak diduga sama sekali ternyata Idol Do Kyungsoo memilih untuk memiliki hubungan khusus bersama seorang pria daripada wanita. Walau sebelumnya Idol muda berumur 19 tahun ini tak pernah berterus terang akan ketertarikannya dalam asmara lebih mengarah pada wanita atau pria, namun berita ini tetap saja merupakan kejutan besar bagi jutaan penggemar Do Kyungsoo. Terbukti dengan hebohnya berbagai macam forum online sekarang, dan nama Do Kyungsoo berada diurutan nomor 1 pencaharian hanya dalam waktu beberapa menit saja setelah artikel itu di rilis, dan masih terus berada di pencaharian nomor 1 sekarang, dan diikuti dengan nama dari kekasih dari Kyungsoo berada di urutan kedua, yaitu... Park Chanyeol."
.
.
.
TBC
.
.
.
AN :
Emmmmmm Hai Sugar :D
Jangan gebukin saya :(
Sumpah, aku sudah menulis dan mencoba untuk mempublish FF ini belasan dan bahkan puluhan kali, namun akhirnya terus aku hapus dan terus aku tulis ulang semuanya, berkali- kali. Aku terus merasa tak puas dengan tulisanku sendiri :(
Dan kali ini, aku ambil aja resikonya sekalian. Gak papa kalau kalian gak puas sama cerita FF ini. Katakan saja kalau kalian merasa tak puas pada cerita yang baru saja di post ini.
Tak pernah ketinggalan, terima kasih pada semua pembaca yang sudah menyisihkan waktunya untuk membaca, sudah menyukai, dan sudah mengikuti cerita ini.
Terutama pada pembaca yang sudah memberikan komentar.
ChanBaek09, elroseline, Cheonsa528, SehunSapiens, BaekFlo, Ryu Cho, kenzoev, danactebh, ttalgibaek, Hildads, Pita388, lights88, Chanbeepark, CHANBAEQ, Human Gak Jelas, Bubbleclay, bynbae04, strawbaeki, baekyyeun.
Banyak yang komentar berkali- kali dan komentarnya panjang- panjang. Huhuhu.. seneng banget bacanya pas lagi buntu inspirasi. Makasih ya ;)
Oh ya, mungkin ini akan mengecewakan beberapa dari kalian, tapi.. authornya fangirl ya, bukan fanboy. Cuma emang lebih sering manggil beberapa member EXO pake Hyung daripada Oppa. Jangan tanya alasannya, saya emang aneh aja. Sstt.. authornya jomblo ya, kalau diantara kalian ada yang bisa bikin kopi yang enak, just call me maybe :D. Tenang aja, authornya gak permasalahin gender apapun kok /wink /PLAK :D
Kekekekeke.. becanda, saya gak sejones itu kok. (Reader : TMI Thor!! To Much Information!!)
:D
Jaga kesehatan kalian, terutama yang tinggal di Sumatera dan Kalimantan, jangan lupa pakai masker kalau keluar rumah ya, asapnya udah di tingkat bahaya sekarangkan?,
Bahagia lah selalu,
Lets Love Eri!!! /Bow
