Tittle : Read My Music

Author : GoodMornaing

Cast : Park Chanyeol EXO and Byun Baekhyun EXO

Other Cast : Kim Minseok EXO, Kim Jongdae EXO, Do Kyungsoo EXO, Oh Sehun EXO, Kim Jongin EXO, Shin Jimin AOA, Do kyungsoon OC, Lee Sunmi, etc

Genre : Romance , Drama , and BxB

Rated : T - M

Summary :

Baekhyun berkata, "Segalanya gelap bagiku." Mendengar hal itu hanya membuat Chanyeol tertawa, "Itu karena kau terlalu bersinar Baek." Baekhyun pun tersenyum mendengarnya, lalu berkata, "Aku suka mendengar tawa mu, namun aku lebih menginginkan untuk dapat melihatnya."

.

.

Happy Reading

Chapter 30 : Believer

.

.

.

Musim Panas, 2011

Nal moreunayo

(Tidakkah kau tahu?)

Naega yeogi inneun iyuneun geudaende

(Alasan aku ada disini adalah dirimu)

Nuni siryeowa

(Mataku tidak bisa melihat)

Mareul hal su eomneyo

(dan aku seperti tidak bisa berkata- kata)

Honjaseo baraman bolppun

(hanya diam memandang dalam kesendirian)

Ireoke gaseum kkeuchi apado

(Meskipun lubuk hatiku sakit seperti ini)

Ireoke sonkkeuchi tteollyeodo, geudae saenggangman najiyo

(Meskipun ujung jariku gemetar seperti ini,yang bisa aku pikirkan hanyalah dirimu)

Michige bogo sipeun saram

(Orang yang aku rindukan sampai rasanya gila)

Michige deutgo sipeun neoui hanmadi

(Satu kata darimu yang ingin aku dengar sampai rasanya gila)

Saranghae saranghaeyo, geudaeneun eodinnayo

(Aku mencintaimu, Aku mencintaimu, dimanakah dirimu?)

Gaseum gipi bakhin geuriun saram

(Seseorang yang kurindukan dan sudah melekat dihatiku)

Geudae yeongwonhi ganjikhallaeyo

(Aku akan melindungimu selamanya)

Eotteokhanayo?

(Aku harus bagaimana?)

Chagawotdeon geudaega

(Kau begitu dingin padaku)

Geuraedo bogosipeoyo

(Tetapi aku tetap merindukanmu)

Naege mal haejwoyo nal ganjik handago

(Tolong beritahu aku, kau akan menyayangiku)

Hayahke jiumyeon andwaeyo

(Kau tidak akan melupakan diriku)

Nae jeonbuinikka

(Kau adalah segalanya bagiku)

The person I miss like crazy

One word from you that I want to hear like crazy

I love you, I love you - where are you?

The person I long for, who is deeply stuck in my heart

I'm going to cherish you forever

Love you

I love you

.

.

Langkah kaki Chanyeol ikut berhenti, bersamaan dengan lagu yang didengarkannya dari MP3 pemberian Baekhyun itu berhenti. Dalam hati pria Park ini telah berkecamuk dan penuh dengan umpatan penyesalan. Astaga, kenapa tak terpikir sebelumnya? Sungguh pendek sekali pikiran Chanyeol, dirinya sendiri menyesalkan kenapa tak bisa menebak dari awal bahwa lagu Taeyeon yang Baekhyun dengarkan terus di MP3 Player ini pastinya adalah lagu yang ini, lagu kesukaan Baekhyun.

"Missing You Like Crazy." Bisik Chanyeol menyebutkan judul lagu yang baru saja didengarkannya.

Benar sekali, harusnya Chanyeol mengingatnya. Baekhyun pernah mengatakannya di malam pertama mereka menjadi sepasang kekasih. Pria Byun itu dengan jelas mengatakan lagu ini merupakan lagu kesukaannya.

"Haishh.. Harusnya aku dapat menebaknya tepat didepan Baekhyun, dia pasti akan terkesan padaku." Pria jangkung ini menjadi menggerutu.

Memutuskan kembali memutarsatu- satunya lagu yang ada didalam MP3 Player ditangannya itu, kemudian memasukkan MP3 itu ke dalam kantung celananya, lalu kembali memasang earphone ke telinganya. Dan kembali melanjutkan perjalanannya.

Diam- diam Chanyeol tersenyum.

"Seperti biasa, dia selalu menyukai buku dan lagu yang sedih. Sebenarnya siapa yang dia rindukan sampai segila itu, seperti lagu ini, emmm.. mungkin orang tuanya." Kembali pria tinggi ini bergumam sambil memikirkan siapakah orang yang Baekhyun pikirkan saat mendengarkan lagu kesukaannya itu.

Terlihat Chanyeol menghela napas dengan berat dan kasar.

"Hufhhh... aku merindukannya..." Chanyeol bergumam.

"...sampai gila rasanya." Sambungnya, sambil terus berjalan menyusuri jalan- jalan sepi di Pulau Jeju pagi buta seperti ini.

Andaikan kau tahu Chanyeol, lagu itu Baekhyun dengarkan sambil memikirkan dirimu. Bahkan sebelum seorang Park Chanyeol mengenal seorang Byun Baekhyun didunia ini.

Byun sudah lebih dulu merindukan Park seumur hidupnya.

.

.

.

Sementara itu, keadaan di BB Hotel sudah kacau balau sekarang. Karena si bintang utama yang sedang seluruh orang jaga sudah menghilang.

"BAGAIMANA BISA TAK ADA SATUPUN DARI KALIAN MELIHATNYA PERGI?!. DEMI TUHAN, DIA SETINGGI 185CM!!" Dan itu adalah teriakan murka Kyungsoo pada seluruh pekerja di BB Hotel yang telah menunduk takut.

"APA KALIAN TAHU BAGAIMANA INI BISA MENGANCAM HIDUP KALIAN SEMUA?!. JIKA ADA APA- APA DENGAN PARK CHANYEOL, MAKA KITA SEMUA TAK AKAN BISA HIDUP NORMAL LAGI!. TUAN BYUN AKAN MEMBUNUH KITA SEMUA!!" Kyungsoo kembali berteriak, sungguh tak peduli lagi dengan imagenya sebagai Idol.

"Kyungsoo tenanglah.." Kai menaruh telapak tangannya pada bahu Kyungsoo yang sedari tadi memarahi siapapun yang ditemuinya.

Kyungsoo meremas rambut hitam arangnya dengan frustasi, "Tenang?!. Bagaimana aku bisa tenang?!!. Tuan Byun akan membunuhku!!" Penyanyi dengan suara setinggi tiga oktaf ini kembali mengeluarkan teriakannya.

Kai hanya dapat menghela napas, melihat Kyungsoo yang sudah tak dapat di kendalikan. Tak ada pilihan lain, selain membiarkan dia meledak- ledak begitu saja sampai puas. Menyuruhnya tenang hanya akan membuatnya semakin runyam.

Sesungguhnya Kai telah menekan kuat lidahnya untuk tak mengatakan kepada Kyungsoo, bahwa salah satu alasan Chanyeol pergi pastinya karena sikap Kyungsoo sendiri yang tak membuat nyaman. Memangnya siapa yang suka dimarahi oleh idola sendiri setiap waktu, tentunya si kekanakan Chanyeol tak berada dalam list itu.

"CCTV!!. Kita harus memeriksa CCTV sekarang!. Siapa yang bertanggung jawab akan CCTV di Hotel ini!!" Beberapa pria dengan seragam pegawai menghampiri Kyungsoo.

Dan setelah itu Kyungsoo dan Kai menjadi sibuk mencari dimanakah keberadaan seorang Park Chanyeol.

.

.

.

- 12: 30 KST, Seoul, Korea Selatan -

Sementara itu di Seoul, Baekhyun tengah berkutat dengan pekerjaan yang bila seluruh dokumen itu di susun akan membentuk tumpukan setinggi gunung. Jarinya menyusuri kertas- kertas berisi huruf braille itu dengan kecepatan menganggumkan dan sesekali mengetik sesuatu pada komputer berkeyboard braillenya dengan kecepatan mengetik yang bahkan lebih baik daripada orang- orang bermata normal. Komputer canggih Baekhyun bahkan sampai kewalahan untuk membacakan semua kata yang Baekhyun ketikkan.

Pria mungil ini bekerja seperti orang kesurupan. Baekhyun bahkan memilih untuk tidur dan makan di ruang kerjanya saja. Dirinya ingin menyelesaikan semua pekerjaan ini secepat mungkin. Dirinya tengah berperang dengan waktu sekarang. Baekhyun harus secepatnya bertemu dan memberitahu Chanyeol. Tentang segalanya.

"Aku mohon sempat... aku mohon sempat..." Bisik Baekhyun dalam hatinya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Baekhyun tak mensyukuri akan banyaknya perusahaan yang dimilikinya ini. Lihatlah sekarang, satu perusahaan bermasalah, maka semua terkena batunya.

Telepon kantor di sebelah Baekhyun mengeluarkan suara dering khas yang mengartikan ada yang ingin tersambung kepada Baekhyun sekarang. Membuat Tuan Muda ini dengan sigap mengangkatnya.

"Bicaralah." Ujar Baekhyun tanpa basa- basi.

Tak terdengar apapun dari seberang sana, hingga akhirnya seluruh dunia Baekhyun terasa runtuh saat mendengar sebuah kalimat dari sekretarisnya diseberang.

"Park Chanyeol menghilang sejak pagi tadi."

Oh Shit

Baekhyun telah berdiri, sambil menempelkan telepon ke telinganya.

"Handle semua pekerjaan memuakkan ini untukku. Aku ke Jeju sekarang." Suara Baekhyun terdengar tak dapat dibantah.

Namun Sektetaris Kim bukannya tak ada alasan hingga akhirnya terpilih menjadi Sekretaris si Bos Besar Byun Baekhyun. Xiumin itu spesial, karena...

"Tunggu Baekhyun, bagaimana bisa kau ke Jeju sendiri." Pria Kim ini bisa membantah atasannya.

"Kau meragukanku?" Tanya Baekhyun balik.

"Siapa juga yang meragukanmu. Tapi aku tak setuju kau pergi sekarang."

"Kau sendiri yang mengatakan Chanyeol menghilang Xiu." Balas Baekhyun kesal pada Xiumin yang justru menahan dirinya.

"Tenanglah, mereka akan menemukannya sebentar lagi. Kau tahukan, keberadaanmu sungguh penting untuk perusahaan sekarang. Iya sekarang perusahaan bisa dibilang baik-baik saja, tapi kau jugalah yang paling tahu. Keadaan sekarang sedang rawan, banyak yang telah bersiap menyerang kita dari segala arah. Kita salah langkah sedikit maka semuanya hancur. BB Grub akan hancur tanpamu Baek. Tolong lindungi perusahaanmu!" Xiumin bahkan telah berteriak diseberang sana.

Baekhyun diam cukup lama.

Hingga akhirnya,

"Maafkan aku Xiu. Bangkrut tidaklah lebih buruk daripada kehilangan dia." Ujar Baekhyun dengan suara dingin, dan bersiap untuk menutup sambungan telepon itu, sebelum akhirnya Xiumin berteriak pada Baekhyun.

"17.000!!!."

"17.000 pegawai yang nasibnya ada ditanganmu Baek. Apakah satu Chanyeol sebanding dengan 17.000 kepala keluarga beserta anak istri yang mereka tanggung?. Kau mengorbankan banyak orang hanya untuk satu orang Park Chanyeol." Xiumin masih berusaha menghentikan Baekhyun. Bukan maksud Xiumin kejam kepada Baekhyun, namun memang inilah tugasnya, membantu agar Baekhyun tak bangkrut.

Hening melanda dua orang ini cukup lama, hingga akhirnya Baekhyun memecahnya.

"Kau benar, Chanyeol tak sebanding dengan orang sebanyak itu." Jawab Baekhyun akhirnya.

Xiumin menghela napas lega di seberang sana.

"Baiklah, jadi aku ingin melaporkan tentang..."

"Chanyeol lebih berharga daripada 17.000 orang itu, ataupun 7 miliar orang di dunia ini, mereka tak sebanding. Aku berangkat." Ujar Baekhyun memotong ucapan Xiumin begitu saja.

"TUNGGU!!. BAEKHYUN!! BYUN BAEKHYUN!!!"

Percuma Xiumin berteriak seperti apapun. Baekhyun telah pergi dengan tergesa, bahkan tak sempat menutup sambungan teleponnya.

Hari ini, Tuan Muda Kesayangan seluruh pegawainya itu, untuk pertama kalinya, menomorduakan para pekerja yang selama ini selalu diutamakannya.

Apapun itu bandingannya, bagi Baekhyun... Chanyeol lebih penting.

.

.

"LAY, PERUBAHAN RENCANA. AKU KE JEJU SEKARANG!!. SI BODOH PARK ITU DATANG SENDIRI UNTUK MEMBERIKU KESEMPATAN, SEKARANGLAH SAATNYA TANGANKU SENDIRI KOTOR." Teriak Kyungsoon yang ternyata mendengarkan percakapan Baekhyun dan Xiumin sedari tadi.

Benar sekali, gadis gila ini telah menaruh penyadap di ruang kerja Baekhyun entah sejak kapan.

Pertarungan waktu sudah dimulai.

Sekarang, tergantung siapakah yang menemukan Chanyeol lebih dulu, maka dialah yang menang.

Dan Kyungsoon, yang sempurna secara fisik daripada Baekhyun. Tentu dapat bergerak lebih cepat.

.

.

.

Sementara Baekhyun dan Kyungsoon tengah bertaruh akan waktu. Ditempat lainnya, dua remaja sedang bertaruh akan nasib yang menentukan masa depan salah satu dari mereka.

"OhSe, aku gugup." Ujar Jimin yang berdiri di depan Sehun yang tengah bersandar pada dinding.

Sehun memperhatikan wajah gugup serta tubuh yang tak bisa diam sahabatnya itu. Persis seperti cacing kepanasan.

"ShinJi, tenanglah. Kau akan menghancurkannya bila kau terlalu gugup." Ujar Sehun asal.

Dan detik selanjutnya remaja Oh ini menyesali perkataan tajam dirinya sendiri. Jimin tambah ketakutan setelah mendengar itu.

"Kau benar OhSe, aku akan menghancurkannya. Astaga, bagaimana ini!!" Sehun memutar bola matanya kesal.

"Sini.." Ujar Sehun pelan.

Jimin mengerutkan dahinya bingung, "Sini apa?"

Tanpa banyak bicara lagi Sehun menarik tubuh mungil sahabatnya itu ke dalam pelukannya. Sukses membuat tubuh gemetar Jimin menjadi diam dalam sekejap. Gadis itu bahkan merasa kepalanya tiba- tiba telah kosong kelompong sekarang, disertai hawa panas yang menjalar dari leher ke telinga dan pipinya.

"Ulangi setelah aku." Titah Sehun dengan suara tanpa nadanya.

"Aku Shin Jimin." Lanjut Sehun lagi, menciptakan senyuman di bibir sahabatnya.

"Aku Shin Jimin."

"Sudah berlatih mati- matian selama ini."

"Sudah berlatih mati- matian selama ini."

"Tak ada yang berlatih sekeras aku."

"Tak ada yang berlatih sekeras aku."

"Aku akan berhasil dan mengalahkan mereka semua."

"Aku akan berhasil dan mengalahkan mereka semua."

Pelukan hangat itu menjadi lebih nyaman, daripada tadi yang masih terasa sedikit kaku dan canggung. Jimin menjadi lebih santai dan dapat tersenyum lagi.

"Sepertinya berhasil." Ucap Sehun seraya melepaskan pelukan mereka berdua, dibalasi dengan anggukan serta senyuman oleh Jimin.

Namun detik selanjutnya Jimin merengut menatap wajah datar sahabatnya, "Aku sudah bilang bawakan aku sebuket besar bunga bukan?" Tanya Jimin kesal menatap sahabatnya itu yang datang dengan tangan kosong.

Sehun mengedikkan bahunya acuh, "Akan aku bawakan jika kau benar- benar lolos di audisi kali ini." Ujarnya.

"Janji?" Tanya Jimin memastikan, Sehunpun memutar bola matanya.

"Iya iya aku berjanji. Puas?" Ujar Sehun dengan nada kesal.

Jimin tersenyum pada sahabatnya, "Terima Kasih sudah datang OhSe." Ucap Jimin dengan tulus.

"Tak masalah, tapi.. sebenarnya kau nomor urut berapa? Kita harus menunggu berapa lama lagi?" Tanya Sehun kesal, karena sudah lelah berdiri sedari tadi.

Mendengar itu hanya membuat Jimin menampilkan cengirannya, "Mungkin sekitar 2 jam lagi."

Sontak saja Sehun menampilkan wajah kesal kuadrat, tampak sungguh mengerikan.

"A.. Akh.. Akhhhh." Jimin berteriak heboh sebab sang sahabat mencubit kedua pipinya dengan keras.

.

.

.

- 15:00 KST -

Chanyeol tengah duduk sambil memandang laut biru didepannya dari atas tebing yang didepannya tampak seperti jurang yang akan membuat dirinya dapat tenggelam dilaut hanya dengan meloncat dari atas sana. Melihat bagaimana bunga- bunga tumbuh dengan indah memenuhi tebing ini membuat Chanyeol teringat tentang cerita Jimin, bahwa gadis itu sempat tersesat dengan Sehun disebuah padang bunga.

"Sepertinya padang bunga inilah yang Jimin maksud. Dan.. sekarang giliran aku yang tersesat sekarang."

"Aku harusnya membawa Baekhyun kesini, anginnya nyaman sekali. Hufh..." Gumamnya sendiri.

"Kau benar, di sini anginnya sungguh nyaman." Sontak Chanyeol menoleh ke belakang, dan terbelalak melihat siapakah yang menghampirinya.

Do Kyungsoon

.

.

.

"Nomor urut 1001, 1002, 1003, dan 1004 bersiaplah." Teriak salah satu staff kepada peserta audisi yang menunggu di luar.

Jimin terbelalak mendengarnya, "OhSe, itu nomor urutku." Ujarnya dengan spontan.

Dengan tergesa Jimin merapikan rambut dan seluruh penampilannya lagi. Lalu bergumam menyenandungkan nada pertama dari lagu yang telah dirinya persiapkan.

Kemudian Jimin berdiam diri sebentar, menutup matanya sambil menyatukan kedua genggaman tangannya. Seperti biasa, berdoa untuk kelancaran dan kesuksesan audisinya. Sehun tanpa sadar tersenyum melihat kebiasan sang sahabat, kemudian mengikuti Jimin, Sehun pun menyatukan kedua tangannya merekapun berdoa bersama.

Beberapa menit kemudian keduanya dengan kompak membuka mata, lalu melempar senyum ke satu sama lain.

"ShinJi..." Panggil Sehun dengan suara pelan.

Jimin balas menatap wajah sahabatnya itu, tentunya dengan sedikit mendongak, perbedaan tinggi 23cm antara dua orang ini membuat satunya harus mendongak dan satunya harus menunduk bila ingin bertatapan.

Tanpa kata dan tanpa basa basi Sehun meraih tangan kiri Jimin. Gadis itu diam saja melihat Sehun yang melingkarkan sebuah gelang ke tangannya.

"Ini adalah gelang yang kau berikan padaku di hari audisiku. Dan akhirnya aku berhasil hari itu. Sejak hari itu aku selalu menganggap ini adalah gelang keberuntungan."

Jimin terbelalak memandang gelang yang sekarang melingkar di pergelangan tangannya, Sehun telah menyimpannya selama ini.

"Sekarang aku kembalikan padamu. Dan aku berharap kau kali ini juga berhasil. Semangat Shin Jimin." Ujar Sehun pelan.

Jimin merasakan matanya memanas memandang gelang murah dan sederhana yang satu tahun lalu dirinya beli untuk audisi sahabatnya. Dan sekarang telah berada di tangannya sendiri. Ternyata istilah kebaikan itu selalu berbalik kepada diri kita sendiri sungguh benar adanya.

"Oh Sehun.." Panggil Jimin pelan. Sehun pun berdehem sebagai jawaban.

Kemudian sang pria terbelalak saat tubuhnya terdorong ke belakang sebab, gadis mungil itu menubruk dirinya dengan sebuah pelukan keras.

"Kau sahabat terbaik. Aku mencintaimu!!!" Seru Jimin dengan suara penuh syukur dan terima kasih.

Gadis itu melepaskan pelukannya dengan wajah cerah bercahaya. Kemudian berbalik dan berjalan menuju ruangan audisinya. Meninggalkan Sehun yang terpaku dan mematung di tempatnya.

Kedua remaja ini menggumankan kalimat yang sama di benak mereka.

"Kenapa aku berdebar?"

.

.

.

Chanyeol memandang tak suka pada gadis yang dengan seenaknya mengambil posisi duduk disebelahnya ini. Kyungsoon yang bertemu pandang dengan tatapan tak suka Chanyeol pun menampilkan tawa cerah yang sungguh manis untuk didengar. Namun kita tentu tahu bahwa tawa manis itu berbalut kepalsuan yang mengerikan.

"Tahukah kau, aku sudah terbiasa ditatap dengan tatapan seperti itu." Ujar Kyungsoon disertai senyuman manisnya.

Chanyeol berekspresi dingin.

"Kalau begitu artinya banyak yang membencimu." Ujar Chanyeol terus terang, dan Kyungsoon respon dengan anggukan ringan.

"Dan kau salah satunya." Ujar Kyungsoon dengan nada pengertian.

Chanyeol merasakan muak yang entah bagaimana bisa timbul saat berdekatan dengan gadis ini.

"Langsung ke intinya saja, apa tujuanmu mendatangiku?" Tanya Chanyeol dengan suara kesal, dirinya langsung tak menyukai gadis disampingnya ini, setelah dirinya tahu apa yang telah Kyungsoon lakukan pada Baekhyun.

Mengirimkan bunga krisan kuning yang membuat Baekhyun teringat akan kedua orangtuanya adalah perilaku jahat yang tak termaafkan bagi Chanyeol. Well... andaikan Chanyeol tahu bahwa gadis ini tak hanya sekedar mengirimkan bunga, bayangkan saja bagaimana Chanyeol akan lebih membencinya.

Tampak Kyungsoon tersenyum simpul.

"Aku hanya ingin mengatakan tak masalah kau membenciku, karena aku juga membencimu." Ujar Kyungsoon dengan tenang.

Chanyeol menampilkan seringaian yang sangat jarang ditampilkannya, tampak tampan dan menakutkan disaat yang sama.

"Karena aku adalah kekasih Baekhyun?" Tanya Chanyeol retoris.

Kyungsoon membalasnya dengan senyuman tenang(palsu). Menyembunyikan perasaan jengkelnya setelah mendengar nada percaya diri pada suara Chanyeol.

"Bukan, tapi karena kau telah mengambil tempatku." Dan senyuman Kyungsoon telah menghilang entah kemana, digantikan dengan wajah dingin dan tatapan jijik seakan Chanyeol tak lebih baik daripada serangga.

.

.

.

Jimin menatap semua juri yang tampak sungguh profesional di depannya ini dengan menekan segala rasa gugup di dada.

"Selamat sore, saya Shin Jimin, 18 tahun dan ingin menjadi seorang rapper wanita yang terkenal." Kalimat perkenalan diri itu berhasil Jimin lakukan dengan lancar menggunakan suaranya yang terdengar sungguh kekanakan.

Salah satu juri membenarkan kacamatanya untuk menatap wajah Jimin dengan lebih jelas, sukses memberikan tekanan gugup lainnya kepada gadis berponi ini, "Rapper heh?. Sungguh tak biasa. Apalagi untuk gadis yang berpenampilan dan bersuara seperti boneka seperti dirimu. Barbie Girl." Dan belum apa- apa kalimat bernada meremehkan itu telah terlontar.

Jimin menahan kesal di hati. Juri yang suka meruntuhkan kepercayadirian peserta seperti ini memanglah yang paling menyebalkan.

"Apa salahnya dengan penampilan dan suara miliknya Juri Song? Aku tak merasa dia seburuk itu, justru lebih ke unik yeah... dia punya pesona, lagipula kita belum melihat pesona apalagi yang akan dirinya tampilkan. Baiklah Nona Shin, tampilkan penampilan terbaikmu, keluarkan semuanya." Ujar salah satu Juri yang lainnya memberikan semangat lagi kepada Jimin.

Jimin tersenyum lalu mengangguk. Menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Mempersiapkan dirinya. Ruangan itu menjadi sunyi senyap menunggu Jimin memulai nyanyiannya.

First things first

I'mma say all the words inside my head

I'm fired up and tired of the way that things have been, oh ooh

The way that things have been, oh ooh

Seluruh juri dan peserta yang telah tampil sebelum Jimin pun ternganga mendengar bagaimana kuat dan berkarakternya vocal dari gadis kecil berumur 18 tahun itu saat bernyanyi.

Tak hanya itu, penjiwaan dan ekspresi yang Jimin tampilkan saat menyanyi sungguh berbanding 180 derajat dengan bagaimana gadis itu memperkenalkan dirinya tadi. Jimin si gadis imut telah menghilang. Semua orang yang ada diruangan ini merasa seperti melihat orang yang berbeda.

Siapa gadis di depan mereka ini?. Kemana gadis menggemaskan tadi?

Jimin tak hanya sekedar bernyanyi, namun sedang mengekspresikan seluruh jiwanya.

Second thing second

Don't you tell me what you think that I can be

I'm the one at the sail, I'm the master of my sea, oh ooh

The master of my sea, oh ooh

.

.

.

"Apa maksudmu aku mengambil tempatmu?" Tanya Chanyeol begitu saja. Oh Chanyeol, kau salah langkah, sekarang kau telah memakan umpan yang Kyungsoon lemparkan.

Kyungsoon balik menatap Chanyeol dengan wajah dingin.

"Kau kira, kaulah yang terpilih diantara banyak orang untuk Tuan Byun heh?. Kau kira kaulah yang berhasil membuatnya tidur hari itu di perpustakaan heh?. Kau kira kau menang memang karena murni usahamu heh?. Kau tak akan berada di sini jika tidak ada campur tanganku." Chanyeol diam mendengarkan seluruh perkataan Kyungsoon.

Kyungsoon menampilkan seringaian yang tak ubahnya seperti iblis wanita dihadapan mangsanya.

"Kau tak akan berhasil hari itu jika bukan karena aku. Akulah yang memasukkan obat tidur ke dalam minuman Tuan Muda di hari audisimu!! Kau tak akan lolos audisi tanpa campur tanganku. Harusnya akulah yang lolos hari itu. Kau menghancurkan segalanya!!"

Mata kelereng Chanyeol menatap Kyungsoon dengan mata jernih terbelalak. Shock menerima kenyataan yang tak pernah dirinya duga. Mata beriris hitam pekat itu terlihat telah memerah di sekitar bagian putih matanya.

"K-Kau..." Chanyeol telah terbata.

Kyungsoon tersenyum puas melihat bagaimana wajah Chanyeol berubah menjadi pucat.

"Dan kau tahu kenapa aku melakukan itu Chanyeol? Alasan aku melakukan itu adalah, karena aku tak ingin kau lolos audisi itu pastinya. Sebab, kaulah yang terburuk." Kyungsoon diam sebentar, menikmati wajah pucat dan ekspresi hancur Chanyeol.

"Kau dengar itu? Kau lah, terburuk dari segala yang terburuk untuk bersanding dengan Tuan Byun." Dengan keterus- terangan yang tak ada bandingannya Kyungsoon sungguh tega mengatakan itu, tepat... didepan... Chanyeol.

"Ingin tahu kenapa kau adalah yang terburuk?" Tanya Kyungsoon diiringi tawa setan di dalam hatinya.

.

.

.

Di sisi lain Jimin hampir memasuki bagian bertempo cepat di lagunya.

I was broken from a young age

Taking my sulking to the masses

Write down my poems for the few

That looked at me, took to me, shook to me, feeling me

Semuanya semakin ternganga mendengar bagaimana Jimin berhasil menyanyikan bagian itu tanpa terhela napas sama sekali.

Pantas saja gadis ini ingin menjadi rapper.

Singing from heartache from the pain

Taking my message from the veins

Speaking my lesson from the brain

Seeing the beauty through the...

Jimin memberikan jeda sedetik dalam lagunya.

.

.

Kyungsoon tersenyum manis pada Chanyeol lalu mengatakan sebuah kalimat paling terlarang untuk diucapkan kepada Chanyeol. Kalimat terlarang yang telah Baekhyun haramkan bagi siapapun untuk mengucapkannya, kecuali bagi Baekhyun sendiri.

"Karena kau adalah anak dari Park Sungjin yang sudah membuat Tuan Byun menjadi yatim piatu dan kehilangan penglihatannya."

.

.

PAIN!!!!

YOU MADE ME A, YOU MADE ME A BELIEVER, BELIEVER!

.

.

"B-Bohong..." Bisik Chanyeol tak percaya, namun wajah puas dan penuh kepercayaan diri Kyungsoon membuat Chanyeol tahu bahwa gadis di sampingnya ini tak berdusta sama sekali.

Fakta itu benar adanya.

.

.

PAIN!

YOU MADE ME A, YOU MADE ME A BELIEVER, BELIEVER!

PAIN!

YOU BREAK ME DOWN, YOU BUILD ME UP, BELIEVER, BELIEVER..

.

.

"Aku tak berbohong dasar Park Chanyeol putra Park Sungjin, percayalah padaku. Kalau kau tetap tak percaya... tanyakan saja pada kekasihmu yang kita berdua percaya dan sayangi itu. Dialah orang yang paling tahu hal ini dibandingkan siapapun, ah... selain Ayahmu sendiri tentunya, karena hanya mereka berdualah korban yang selamat."

Kyungsoon beranjak dari tempat duduknya, berbalik ingin pergi. Merasa puas karena segala hal yang ingin dilakukannya setelah sekian lama, akhirnya telah berhasil.

Dan mata Kyungsoon kembali berbinar, setelah melihat siapa yang baru saja datang, "Oh, kebetulan sekali, Chanyeol... pangeranmu telah datang."

Chanyeol ikut bangkit dan berdiri setelah mendengar itu. Dan pandangannya langsung tertuju pada Baekhyun yang baru saja turun dari taksi, dari kejauhan pun terlihat, Baekhyun dengan tergesa serta keras kepala berjalan sendirian ke arah Chanyeol berada, mengabaikan dan bahkan mendorong Kyungsoo yang mencoba menuntunnya berjalan.

.

.

OH.. LET THE THE BULLETS FLY, OH LET THEM RAIN

.

.

MY LIFE, MY LOVE, MY DRIVE, IT CAME FROM...

PAIN!!!

.

.

Chanyeol menatap dengan datar dan ekspresi kosong pada Baekhyun yang terus tersandung dan terjatuh sebab tak dapat melihat jalan yang sedang ditempuhnya untuk menuju Chanyeol.

Baekhyun terlihat tak peduli dirinya telah kesakitan. Baekhyun tak peduli bagaimana kondisi dirinya sekarang. Dengan seluruh kepekaan indranya, dengan mencari seluruh jejak aroma Chanyeol berada, dengan seluruh harapannya yang hanya tinggal setipis kertas. Baekhyun ingin mencapai pria yang paling berharga baginya itu dengan kekuatan dirinya sendiri.

Sedangkan Chanyeol, telah menatap Baekhyun dengan tatapan terluka.

.

.

PAIN!

YOU MADE ME A, YOU MADE ME A BELIEVER, BELIEVER!

.

.

.

Hari ini, tepat disaat yang sama, serta di waktu yang sama.

Jimin memeluk Sehun setelah melewati audisinya.

Dan Baekhyun memeluk Chanyeol setelah melewati jalanan sulit yang sama sekali tak dikenalinya.

Keduanya dengan kompak mengatakan hal yang sama disaat yang sama,

"Aku berhasil."

Namun bedanya,

Sehun membalas pelukan Jimin dengan sama eratnya.

Sedangkan Chanyeol, melepas pelukan itu, lalu pergi meninggalkan Baekhyun begitu saja.

.

.

.

TBC

.

.

Song :

- Missing You Like Crazy by Taeyeon

- Believer by Imagine Dragon

- Beautiful by Bazzi feat Camila Cabello (Chap 27)

.

.

AN :

Sugarku tersayang, mulai hitung mundur semuanya, Read My Music mulai menuju ke gerbang ending.

Authornya lagi bingung mau bahas apa di Author Note ini. Hingga akhirnya author memutuskan untuk membuka QnA aja. Silahkan bagi yang ingin dan bersedia bertanya, tanyalah apapun dan sebanyak apapun yang anda inginkan di kolom komentar. Akan saya jawab di Chapter selanjutnya :)

Terima Kasih Kepada :

skyofbbh, kenzoev, Hildads, ChanBaek09, elroseline, Cheonsa52, SehunSapiens, Ryu Cho, bynbae04, amara elraish, akhtarHabib, ffayyy, KimAyrra99, Chanbeepark, Pita388, danactebh, Heyyowmie, strawbaeki, mariamnullang.

Kementar- komentar kalian emang selalu jadi sumber energi terbaik :D

Terima kasih juga bagi yang udah baca, love, and favourite cerita ini. Bahkan ada yang ngirim cinta pake JNE hueee.. T-T biaya ongkirnya berapa kemarin?. Biar aku ganti. Ehehehe.

Inget ya, Be Happy and Be Healthy

Love You and See You

Lets Love Eri!! /Bow