Read My Music By GoodMornaing
.
.
.
Happy Reading
Chapter 31 : CHAOS
.
.
.
(Chapter Sebelumnya)
Hari ini, tepat disaat yang sama, serta di waktu yang sama.
Jimin memeluk Sehun setelah melewati audisinya.
Dan Baekhyun memeluk Chanyeol setelah melewati jalanan sulit yang sama sekali tak dikenalinya.
Keduanya dengan kompak mengatakan hal yang sama disaat yang sama,
"Aku berhasil."
Namun bedanya,
Sehun membalas pelukan Jimin dengan sama eratnya.
Sedangkan Chanyeol, melepas pelukan itu, lalu pergi meninggalkan Baekhyun begitu saja.
.
.
.
Musim Panas, 2011
Chanyeol melepaskan pelukan Baekhyun begitu saja. Berbalik pergi, dan berjalan menjauh dari Baekhyun dengan langkah tergesa.
Hal itu membuat sang kekasih panik. Baekhyun terus berusaha mengejar Chanyeol. Mencoba menarik dan menahan baju si yang lebih tinggi. Namun Chanyeol tak membuat Baekhyun menghalanginya sedikitpun, pria Park itu terus berjalan dengan langkah tergesa dan kentara sekali pria itu sedang sangat marah.
Baekhyun telah hampir menangis sekarang.
"Chan.. tunggu aku.. Chan.." Baekhyun berusaha terus menarik baju bagian belakang Chanyeol. Namun Chanyeol dengan cepat menjauh dari jangkauan Baekhyun.
"Jangan dekati aku sekarang Baek." Baekhyun menggigit bibirnya dengan keras mendengar bagaimana dinginnya suara Chanyeol terdengar sekarang.
Namun Baekhyun tetap tak ingin menyerah. Dia masih terus menarik baju bagian belakang Chanyeol untuk menahan pria itu agar berhenti melangkah pergi.
Tiba- tiba saja Chanyeol mulai berlari. Baekhyun semakin panik dibuatnya. Baekhyun menahan baju Chanyeol dengan keras kali ini. Dan rasanya hati Baekhyun tenggelam di lautan darah yang berada di dasar perutnya.
Chanyeol melepaskan genggaman Baekhyun begitu saja. Dengan... sungguh.. kasar.
Demi Tuhan, Baekhyun sungguh ingin menangis sekarang. Namun pria mungil ini menahannya,menelan semua sesaknya, lalu menarik semua napas yang dapat diraihnya. Sebelum akhirnya berteriak sekuat yang dirinya bisa.
"TUNGGU AKU!! TUNGGU AKU PARK CHANYEOL. JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRI! PARK CHAN-"
PLAK!!!
Baekhyunpun menjadi hening seketika.
Atau bisa dibilang semua orang dan bahkan semua makhluk hidup disitu tak dapat bersuara setelah menyaksikan hal yang baru saja terjadi di hadapan mereka.
Semuanya menjadi beku.
Apa itu tadi?!
Apa yang terjadi tadi??
.
.
.
DEMI TUHAN!! BENARKAH ITU TERJADI?!
CHANYEOL MENAMPAR KYUNGSOON!!
SEKALI LAGI, PARK CHANYEOL MENAMPAR DO KYUNGSOON!!
.
.
.
- Kembali ke beberapa saat yang lalu, namun dari sudut pandang Chanyeol -
Saat akhirnya Baekhyun berhasil meraih dirinya dalam sebuah pelukan yang terasa senyaman dan sehangat seperti yang beberapa hari ini Chanyeol rindukan. Semua orang pastinya mengira dirinya dan Baekhyun akan terfokus dalam permasalahan mereka saat berdua saat ini. Lalu mengabaikan seluruh keadaan di sekitar mereka.
Namun kenyataannya tidaklah begitu...
Chanyeol menyadari bahwa Kyungsoon mulai melangkah pergi saat Baekhyun, Kyungsoo, dan Kai serta banyaknya bodyguard mulai mendekati mereka. Pria itu baru saja ingin menahan gadis itu agar tak kabur, namun pelukan Baekhyun menghalangi Chanyeol. Dan Kyungsoon pun berhasil berlari pergi selagi semua orang terpaku dan fokus pada diri Chanyeol dan Baekhyun.
Dan hal itu membuat Chanyeol dengan cepat melepaskan pelukan kekasih tersayangnya.
Chanyeol berbalik dari Baekhyun, menuju arah Kyungsoon yang sekarang berjalan menjauh dengan sungguh cepat.
Amarah memenuhi Chanyeol sekarang. Melihat bagaimana menderitanya Baekhyun saat berlari kearahnya dan bagaimana sakit hatinya sekarang. Mengetahui fakta tentang orangtuanya dari orang yang seharusnya tak usah peduli ataupun mengurusi kehidupan dirinya dan keluarganya. Membuat Chanyeol muak. Chanyeol rasanya ingin membunuh gadis itu.
Beraninya gadis itu bermain- main dengan hal ini. Membuat kasus kecelakaan yang di sebabkan Ayahnya dan kematian orangtua Baekhyun sebagai bagian dari seluruh rencana busuk dan kekanakannya.
Chanyeol tak akan membiarkan gadis itu masih dapat membuka mata dan menikmati senja hari ini.
"Chan.. tunggu aku.. Chan.." Chanyeol hampir saja berdccak, merasakan Baekhyun yang terus menarik baju bagian belakangnya dan mengikuti setiap langkahnya dengan kecepatan yang sama. Baekhyun tak boleh mendekatinya sekarang, karena Chanyeol takut Baekhyun akan terluka tanpa sengaja karena diri Chanyeol sendiri, yang sekarang sedang berada di tingkat amarah paling tinggi.
"Jangan dekati aku sekarang Baek." Ujar Chanyeol bermaksud untuk melindungi kekasihnya.
Namun sepertinya hal itu gagal. Baekhyun justru semakin keras menahan dirinya. Dan rengekkan Baekhyun telah membuat Kyungsoon berbalik menatap mereka dari ujung sana. Dan saat itulah gadis itu menyadari bahwa Chanyeol sedang mengejarnya, dengan tatapan yang tingkat menakutkannya setara di bandingkan dengan seorang godfather mafioso berdarah dingin kepada musuh bebuyutannya.
Pernahkah kalian semua melihat murka seseorang yang sering bercanda?
Berharaplah kalian tak pernah menyaksikannya. Karena Kyungsoon yang selama ini tak pernah merasakan takut semacam apapun, untuk pertama kalinya, merasakan seluruh tubuhnya menggigil ketakutan. Untuk pertama kalinya, dirinya benar- benar merasakan... bagaimana rasanya akan dibunuh oleh seseorang.
Merasa bahwa nyawanya sungguh terancam. Dengan sangat serius.
Dengan mata yang terbelalak ngeri dan wajah yang memucat. Kyungsoon mulai berlari dengan sekuat tenaga. Dan rasanya seluruh tubuh gadis ini membeku merasakan aura dingin yang sungguh tajam dan pekat dari Chanyeol yang mengejarnya bagaikan singa harus darah.
Kedua orang ini terus berkejaran dan mengabaikan teriakan Baekhyun yang memohon agar kekasihnya tak meninggalkannya pergi.
GREB
Mata Kyungsoon terbelalak merasakan sebuah tangan besar mendarat pada bahu kanannya. Kejadian itu sungguh cepat, tarikan Chanyeol amat sangat kuat. Tubuh Kyungsoon terasa seperti terbang, tertarik dengan sungguh kuat hingga menjadi berbalik paksa menghadap kearah Chanyeol. Dan dalam waktu seperkian detik Kyungsoon yang dengan paksa menoleh ke belakang itu, bertemu dengan sebuah tamparan keras di pipi kanannya.
PLAK!!!
Tubuh lemah seorang gadis 19 tahun itu limbung lalu terhempas jatuh ke tanah, di sertai dengan pipi kanan yang terasa panas dan tampak telah sangat memerah.
Kyungsoon merasa pandangannya langsung menjadi putih, dan dalam waktu sekejap semua langsung menjadi hitam seakan telah ada yang mematikan lampu di dalam sebuah ruangan tertutup. Gadis itu pingsan dengan hanya satu kali tamparan dari seorang pria yang selama ini selalu berjanji untuk tak pernah menyakiti seorang wanita.
Chanyeol menatap dingin gadis yang teronggok tak berdaya di depannya itu. Well... janji itu tampaknya telah terlanggar hari ini.
"APA YANG KAU LAKUKAN PARK CHANYEOL!!!" Dan teriakan Baekhyun yang berlari mengejar arah suara tamparan keras tadi memecah keheningan yang memenuhi seluruh padang bunga ini.
Dan seketika semuanya ikut tersadar akan apa yang baru saja terjadi.
Di ujung sana, wajah Kyungsoo tampak memucat dengan sungguh cepat. Otaknya memutar kejadian yang di saksikannya tadi dengan mata kepalanya sendiri berulang- ulang seperti kaset rusak. Tak berapa lama hingga wajah pria Do itu menjadi merah disaat dirinya telah tersadar akan apa yang baru saja terjadi, dan saat pandangannya tertuju pada keadaan sang adik kembarnya yang teronggok tak berdaya di ujung sana, tak perlu menunggu lama hingga akhirnya wajah Idol papan atas itu menjadi biru.
"Kyungsoo! Kyungsoo jangan! Ja-"
Terlambat Kai, Kyungsoo telah berlari kencang menuju dimana Chanyeol berada.
Dan... BUGH!!!
Satu bogem mentah Chanyeol terima dengan suka rela.
Dan sepertinya... BUGH!!. Satu lagi.
"Do.. DO KYUNGSOO!!!" Dan itu adalah teriakan Baekhyun yang menyadari situasi mereka dan dengan canggungnya berjalan lebih cepat melewati semak belukar yang terus menghalangi langkah kakinya, menuju ke arah suara perkelahian Chanyeol dan Kyungsoo.
Chanyeol hanya berekspresi kosong saat Kyungsoo menarik kerah bajunya dengan sungguh kuat.
"KEPARAT!! AKU BAHKAN SELAMA INI TAK PERNAH MEMBIARKAN SEEKOR NYAMUK MENGIGIT KULIT ADIKKU!!" Lalu Kyungsoo berteriak tepat didepan wajah Chanyeol.
Dan... BUGH!!
3 pukulan dengan kekuatan seorang kakak laki- laki yang murka, untuk menebus sakitnya sebuah tamparan, yang bahkan sebenarnya tak sampai seperempat dari kekuatan asli si pria sakit hati, kepada seorang adik perempuan yang jahat.
Dan sepertinya itu masih saja belum cukup.
Kyungsoo tampak akan melayangkan satu tinjuan keras lainnya sebelum akhirnya gagal karena Kai datang menghalanginya. Pria itu memeluk Kyungsoo dari belakang, lalu mengangkat tubuh si kakak kembar Kyungsoon itu pergi menjauh dari Chanyeol.
"LEPASKAN AKU KAI!! SI BRENGSEK ITU HARUS DIBERI PELAJARAN!! ADIKKU MEMANG SALAH NAMUN KAU TAK HARUS MENAMPARNYA SEPERTI ITU!! DENGAR ITU BRENGSEK!! KAU ORANG PALING BODOH YANG PERNAH AKU KENAL!! AARGGG LEPASKAN AKUUUUUuUuuuuuu.. ARRRGGGG..." Dan suara teriakan Kyungsoo terdengar menjauh seiring dengan Kai yang membawanya pergi dengan paksa.
Kacau... semuanya sungguh kacau...
Chanyeol terduduk di atas tanah dengan bunga- bunga yang mengelilinginya, serta tubuh lemah Kyungsoon yang terbaring tak sadarkan diri di sisinya. Pria Park ini menunduk sambil menyeka darah yang mengalir dari hidungnya, pukulan Kyungsoo sungguh tak main- main. Dalam hati terdalamnya Chanyeol merasa dirinya pantas untuk itu, mungkin mendapatkan beberapa pukulan lagi juga pantas. Dan Chanyeol sekarang telah menyesali bagaimana dirinya dirasuki oleh emosi beberapa saat lalu.
Kyungsoo benar, tak seharusnya dirinya seperti itu. Semarah apapun, Chanyeol tak boleh memukul seorang perempuan. Meski Chanyeol berdalih bahwa dirinya sendiri bahkan tak memakai banyak tenaga saat menampar Kyungsoon tadi, tetap saja itu keterlaluan untuk seorang gadis 19 tahun yang tak memiliki kekuatan fisik sama sekali. Dari awal sudah jauh perbandingan kekuatan mereka berdua.
Langkah kaki canggung milik Baekhyun terdengar mendekat kearahnya, membuat Chanyeol mendongak.
Hati pria dengan tubuh kekar dan bertatto inipun rasanya mencair, meleleh, dan mengembun serta menguap ke udara dengan cepat. Melihat Baekhyun yang berjalan canggung sambil meraba udara kosong di depannya, mencari keberadaan Chanyeol.
"Aku disini Baek." Ujar Chanyeol lemah, dan dirinya tahu Baekhyun masih dapat mendengarnya. Terlihat bagaimana Baekhyun langsung berjalan lurus dengan sungguh yakin dan akurat menuju ke arah suara Chanyeol berada.
Tak berapa lama hingga akhirnya Baekhyun berdiri menjulang di hadapan Chanyeol yang sekarang tengah menunduk, menatap sepatu Baekhyun di depannya.
"Aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa Chan. Aku tak suka kau memukulnya, namun aku mengerti perasaanmu. Aku tak suka Kyungsoo yang memukulmu, namun aku mengerti perasaannya." Ujar Baekhyun pada kekasihnya dengan suara pelan tak bertenaga.
Sekali lagi, semuanya teramat kacau hari ini.
Tak berapa lama terdengar Chanyeol terkekeh. Membuat Baekhyun membisu mendengar suara tawa pengalih stress itu. Otak mempunyai sistem pertahanannya sendiri, disaat kau tegang memikirkan masalahmu, maka otak akan memberikan pertahanan dirinya dengan membuatmu tertawa. Karena tertawa.. dapat membuat pikiran menjadi lebih rileks.
Lalu disaat rileks, Chanyeol dapat berpikir dengan lebih tenang.
Chanyeol merebah tubuhnya pada kumpulan bunga di belakangnya. Menatap bagaimana indahnya langit berwarna orange dan pink di senja hari ini.
"Aku juga marah akan kenyataan bahwa kau menyembunyikan fakta tentang orang tua kita Baek. Tapi... aku mengerti perasaanmu. Lalu sekarang aku sangat marah pada Ayahku yang tak pernah mengatakan hal itu padaku, tapi... aku mengerti perasaannya." Ujar Chanyeol sebagai balasannya.
Baekhyun menjadi terdiam mendengar bagaimana kalimatnya sendiri sekarang berbalik menyerangnya.
"Aku selama ini selalu merasa kekasihku sangat sempurna. Namun ternyata aku salah, dirinya mempunyai sebuah kekurangan yang sangat besar yaitu..."
Chanyeol memandang sungguh dalam pada wajah Baekhyun dari posisinya sekarang. Menghela napas berat sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Yaitu... mencintai diriku."
Baru saja Baekhyun akan membantahnya, Chanyeol telah lebih dahulu memotongnya, "Jangan katakan apapun sekarang. nanti saja." Ujar Chanyeol sambil bangkit dari posisinya.
Pria tinggi itu mendekati tubuh Kyungsoon yang berada disebelahnya. Lalu mengangkat gadis itu dengan hati- hati. Menggendongnya dengan tanpa kesusahan sama sekali.
Chanyeol tersenyum lemah kepada Baekhyun yang sekarang berada disampingnya. Meski tahu bahwa Baekhyun tak akan melihat senyum itu, "Nanti aku akan mendengarkan seluruh penjelasanmu Baekhyun. Sekarang kita harus mengurus gadis nakal ini."
Baekhyun diam sebentar, lalu tak berapa lama mengangguk setuju.
Chanyeol memberikan sebuah kecupan manis pada ubun- ubun pria cantik didepannya, lalu memandang Baekhyun dengan tatapan dalam lainnya.
Dengan rambut merah muda berantakan yang tampak sungguh kotor penuh debu serta tanah.
Dengan makeup kacau serta eyeliner luntur yang membuat garis di bawah mata Baekhyun mengikuti arah air mata, yang mana sepertinya Baekhyun sempat menangis tadi.
Dengan setelan mahal yang sekarang terlihat sungguh compang- camping tertutupi lumpur dan tanah.
Dan jangan lupakan, dengan jari- jari cantik Baekhyun yang sekarang telah berhias banyak lecet dan luka penuh darah hasil sayatan duri dan ranting bunga disini.
Benar sekali. Dengan kondisi paling kacaunya itu, Baekhyun masih tetap sukses mempesona seorang Park Chanyeol. Rasa debaran dan luapan hati menanggapi kenyataan bahwa kekasih yang dirindukannya telah berada dihadapannya sekarang, masih jelas Chanyeol rasakan.
"Kau sungguh cantik Baekhyun. Aku merindukanmu, sampai gila rasanya." Mata Baekhyun berkilau mendengar kalimat yang Chanyeol ucapkan.
Chanyeol tersenyum penuh arti. Karena sekarang dirinya tahu. Ternyata dirinyalah yang Baekhyun pikirkan setiap mendengarkan lagu kesukaannya itu. Dari dulu... hingga sekarang.
"Dia sudah mendengarkan MP3 milikku." Ucap Baekhyun di dalam hatinya.
Air mata mulai menetes silih berganti menuruni pipi Baekhyun. Membuat Chanyeol menatap itu dengan sorot mata kesakitan yang sama. Baekhyun menunduk sambil terisak pelan.
Dan bagaikan penyakit menular mengerikan, melihat mata memerah serta airmata Baekhyun berurai tepat dihadapannya, membuat Chanyeol ikut merasakan matanya memanas.
"Baek.. jangan menangis, tanganku sedang sibuk jadi aku tak bisa memelukmu atau mengusap air matamu." Ujar Chanyeol dengan suara yang mulai ikut menjadi serak.
Mendengar itu membuat Baekhyun menjadi terkekeh disela tangisannya.
Baekhyun kembali mendongak, sambil mengusap airmatanya, "Aku juga rindu padamu dan segala kalimat cheesy mu itu." Ujar Baekhyun membalas penyataan Chanyeol padanya.
Chanyeol ikut terkekeh sekarang.
"Sekarang peganganlah padaku. Aku akan menuntun kita menuju taksi sekarang." Baekhyun menurut, dengan langsung meraba canggung ke arah Chanyeol, lalu meraih bagian pinggang baju kekasihnya itu.
Dalam keheningan... Baekhyun dan Chanyeol beserta Kyungsoon yang dibawa dalam gendongannya, berjalan perlahan menuju taksi yang akan membawa mereka kembali ke BB Hotel hari ini.
Mereka berjalan membelakangi matahari yang dengan sendirinya mengucapkan salam perpisahan untuk mengakhiri perkerjaannya menyinari orang- orang di siang hari.
Tak peduli akan di lepaskan dalam senyuman atau tangisan.
Tak peduli apapun permohonan orang- orang untuk menahannya.
Tak peduli bagaimana kacaunya keadaan orang-orang yang berada di bawah sinarnya, matahari tetap akan pergi di saat waktunya pergi.
Malam tetap akan datang. Dan hidup memang tak selamanya harus terus hangat dan bersinar terang seperti Siang. Ada saatnya kita akan merasakan gelap dan dinginnya Malam di hidup kita.
Karena semua ini, hanyalah masalah waktu.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author Note :
(Warning sangat panjang karena saya kangen kalian semua)
PERTAMA- TAMA : Maafkan saya karena chapter di atas menunjukkan sebuah adegan kekerasan pada wanita. Jujur aja saya sendiri pun tak suka, namun kita harus mengerti hal seperti itu memang bisa terjadi dalam plot cerita seperti ini. Dan.. si tokoh yang ditulis serta si author yg menulis juga sudah sangat menyesali perbuatannya.
LALU YG KEDUA..
Ekhm... ehehe (Ketawa nervous)
Ini lama banget ya? (Readers : LAMA BANGET INI UPDATE NYA THOR!!)
Ya maap. Aku punya alasan kok... (Readers : BANYAK ALASAN THOR. BILANG AJA UDAH GAK NIAT LANJUTIN TULISAN INI. UDAH UPDATENYA LAMA, EH SEKALI UP MALAH CHAPTERNYA CUMA SATU TRUS PENDEK LAGI. NIAT NULIS GAK SIH.)
HUEEEEEE MAAFKAN AKUUUUUUU.
Oke, semoga dapat di terima alasan saya dibawah ini :
1. Laptopnya jadi ikutan stress kaya saya, gak tau juga apa masalah nih laptop. Kenapa MWord nya gak bisa dibuka hueeee.. Pwese deh MWord kalau mau ngerajuk itu jangan sama saya yang buta teknologi ini dong, saya cuma bisa pake doang gak bisa perbaikinnyaaa. Jadi selama waktu yang panjang tanpa kabar ini saya selalu berusaha nulis pake HP saudara- saudara. Dan rasanyaa... wahhh.. WAW '-'
2. Authornya sekarat wkwk. Karena kecanduan kopi yang amat sangat parah (tidak usah di sebutkan berapa kebutuhan kafein saya perharinya), authornya menjadi punya masalah lambung yang ekhm.. cukup serius. Author fokus menghilangkan kecanduan parah ini dan menyelamatkan kondisi lambung yang ternyata... wahhh... untung aja masih sempat '-' . Note untuk kalian semua, jangan tiru saya, JANGAN MINUM KOPI BERLEBIHAN. BAHKAN BAIKNYA JANGAN PERNAH MULAI.
3. Otak authornya gak bisa kerja tanpa kopi. Sebenarnya!!!, nih FF udah di ketik sampe akhir. Sampe ending saudara- saudara... tapi masalahnya, itu bahkan terasa seperti bukan tulisan milik saya lagi. Amat sangat hancur. Sampai saya sendiri bahkan gak kenal tulisan milik sendiri. Jadi, saya kembali menghapus dari chapter 31 yg telah di tulis sebelumnya hingga chap ending yang telah tertulis itu. Dan sekarang, memutuskan untuk memulainya dari awal.
4. Sibuk dengan masalah kerjaan. Dengan berhentinya minum kopi berpengaruh banget untuk keseharian saya. Dan akibat dari kecanduan minum kopi SANGAT berpengaruh dalam pekerjaan saya. Kerjaan menjadi hancur semua. (Oke cukup, ini gak ada sangkut pautnya sama kalian semua dan FF ini. Karena itu semua murni kesalahan saya sendiri.) Hubungannya hanyalah, bahwa waktu saya menjadi full dihabiskan untuk mengerjakan hal lain.
5. FF ini dari awal tercipta dengan diiringi secangkir atau dua cangkir kopi. Jadi, saat menulisnya tanpa itu... rasanya beda. Percayalah... saya harus mencurangi dokter saya untuk menulis satu chapter di atas. Karena aku gak bisa nulis sama sekali kalau tanpa kopi hueee.. kaya hilang gitu semua feel dan inspirasinya. Tiba- tiba jadi orang yang gak bisa bikin satu paragraf dengan benar.
Oke sip, semua itu adalah alasan- alasan yang semoga dapat diterima. Bulan Oktober sampe November penuh kejutan banget tahun ini ya ehehe.
FF ini akan berlanjut sampai akhir kok. Saya telah berjanji untuk menyelesaikannya sampai akhir. Dan saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menepatinya. Saya juga akan fokus kepada satu FF ini aja sampe Ending dulu baru mungkin memulai FF baru.
Ngomong- ngomong... sumpah, kangennnnnnnn banget sama kalian semua. Kabar kalian gimana? Masih bisa napas dengan benar setelah semua moment ChanBaek yang berhamburan di Era Obsession ini? wkwk.. Atau gak baik banget karena pengen bakar jetibisi yang ngeCut ChanBaek moment di Knowing Brother? :D
Aku harap kalian semua baik. Jangan sakit yaa.. sakit itu gak enak.
Aku minta maaf sebesar- besarnya karena gak bisa menuliskan nama- nama kalian di bagian author note kali ini. Di Update selanjutnya aku akan menebusnya. Mohon dimaklumi banget yaaa.. Walau begitu kalian semua tahukan? Gimana aku bersyukur dan berterima kasih akan semua apresiasi kalian untuk cerita ini. Terima Kasih semuanya.
Kalian kayanya bakalan bosen baca kalimat ini, tapi tetap aja bakalan aku bilang... Maafkan akuuuuuu... aku akan update dengan lebih cepat mulai sekarang.
i LOVE you ALL
I wish you always healthy and happy
Lets Love OBSESSION ERI. GO GO GO STREAMMM!!!!!
/Bow
