Read My Music By GoodMornaing
.
.
.
Happy Reading
Chapter 32 B : Byun Baekhyun
.
.
.
Musim Panas, 2011
Baekhyun memekik kaget tepat didetik setelah dirinya memasuki kamar. Sedangkan si yang lebih tinggi, justru terkekeh geli. Karena dirinyalah tersangka utama yang telah mengejutkan Baekhyun dengan cara langsung mengangkat tubuh si mungil itu tepat saat kekasihnya itu memasuki kamar mereka berdua.
Dengan refleks Baekhyun melingkarkan kedua lengan rantingnya di leher sang kekasih, dan dibarengi dengan kedua kaki sintalnya memagut erat pinggang Chanyeol. Baekhyun tampak persis seperti koala yang menggantung pada Chanyeol sekarang. Rasanya pipi Baekhyun mulai memanas dibarengi dengan detakan jantung yang mengencang, merasakan bagaimana lengan- lengan kuat Chanyeol semakin erat melingkari tubuh miliknya. Menahan tubuh mungil Baekhyun agar tak jatuh.
"Kau mengejutkanku... Akh.." Gumam Baekhyun, dan kembali tersentak saat Chanyeol membuatnya bersandar pada pintu yang telah tertutup dibelakangnya.
"Baekhyun.. kau wangi.." Bisik Chanyeol tepat beberapa inchi dari leher Baekhyun, sebelum akhirnya mengecupi pelan pipi putih sang kekasih. Baekhyun menutup rapat matanya, sambil mengeratkan kedua kakinya dipinggang Chanyeol membuat tubuh keduanya semakin menempel erat.
"Hei.. kenapa kau seperti ini.. ha..ack!" Baekhyun meremat rambut Chanyeol, sebagai pelampian rasa geli merasakan lehernya mulai digigiti kecil tepat dititik sensitif nya.
Lalu tiba- tiba Chanyeol menghentikan aktifitasnya begitu saja. Memilih untuk menyandarkan kepalanya pada bahu kanan kekasih mungilnya yang sekarang tengah bersandar pada pintu sambil digendong olehnya.
Chanyeol tersenyum pelan, menikmati dengan sangat bagaimana keintiman dirinya dan Baekhyun sekarang. Dirinya dapat menghirup aroma vanila dan stroberi yang menguar dari tubuh kekasihnya. Dirinya dapat merasakan setiap helaan napas Baekhyun yang memburu. Dirinya bahkan dapat mendengar bagaimana kuatnya detak jantung Baekhyun melalui nadi dileher kekasihnya itu.
Dengan perlahan Chanyeol memasukkan tangan kanannya ke dalam kaus bagian belakang sang kekasih. Chanyeol menikmati bagaimana tubuh Baekhyun selalu merespon dengan terkejut setiap dirinya memberikan kontak fisik. Seperti sekarang, Baekhyun tanpa sadar mengeratkan lagi lingkaran kakinya di pinggang Chanyeol saat merasakan telapak tangan Chanyeol mulai menelusuri tulang belakangnya secara perlahan dari atas ke bawah.
Baekhyun menahan napasnya tanpa sadar, menahan geli akibat Chanyeol yang mulai memberikan elusan lembut pada punggungnya tanpa penghalang apapun. "Bernapaslah Baekhyun.." Bisik Chanyeol, lalu mencium pipi kanan Baekhyun yang berada sangat dekat sekali dari wajahnya. Membuat Baekhyun kembali bernapas mengikuti keinginan Chanyeol.
"Baekhyun.. aku rasa inilah yang disebut tulang belikat." Baekhyun merasakan bulu kuduknya bergidik merasakan jari Chanyeol yang membuat pola acak di antara belikat kanan dan kirinya.
"Benar bukan?" Tanya Chanyeol sambil berbisik ditelinga Baekhyun.
Baekhyun pun hanya dapat menjawab dengan menganggukkan kepalanya, terlalu lemah menahan segala friksi nikmat yang sedari tadi Chanyeol lakukan. Dirinya tak pernah bertemu dengan versi rindu Chanyeol, ini adalah yang pertama kalinya, dirinya tak tahu bila Chanyeol sungguh suka bermain- main seperti ini untuk mengobati rindunya.
Chanyeol masih memainkan jarinya bergiliran antara belikat kanan dan kiri Baekhyun. Membuat Baekhyun mengerutkan keningnya bingung.
"Mengapa kau suka sekali menyentuhnya.." Tanya Baekhyun mengacu pada tulang belikatnya yang menurut dirinya sendiri tak ada yang istimewa dari hal itu. Well... bukankah lambang seksi tubuh seseorang itu biasanya adalah bibir, dada, dan pinggul?
Apa istimewanya sepasang tulang belikat?
"Aku hanya takjub saja Baek." Ungkap Chanyeol terus terang.
Baekhyun semakin bingung dibuatnya.
"Apa yang membuatmu takjub dari tulang belikatku hem?" Tanya Baekhyun dengan suara yang sangat kentara dirinya tengah tersenyum lebar, merasa lucu akan situasi mereka sekarang.
Chanyeol ikut tersenyum.
"Aku takjub karena aku tahu, seharusnya... sayapmu tumbuh disini."
Mata Baekhyun terbelalak, disertai dengan tubuh yang langsung menjadi kaku. Dan Chanyeol tersenyum merasakan itu. Kemudian memberikan ciuman dalam pada pipi kanan Baekhyun sebagai pelampiasan gemasnya akan respon imut Baekhyun.
"Aku pernah mendengar sebuah cerita Baek, katanya, sayap malaikat itu berada di tulang belikat mereka, dan saat merasakan langsung tulang belikatmu dengan tanganku sendiri. Membayangkan harusnya ada dua sayap indah dari dua tulang belikat rapuh ini. Rasanya sangat menakjubkan." Jelas Chanyeol lagi, dengan suara semanis madu hangat.
"Kau..." Baekhyun tak sanggup lagi berkata- kata.
"Iya benar. Aku menganggapmu malaikatku. Bila bukan karena dirimu, maka aku pastinya sekarang sudah tidur di jalanan dan dengan gitar tua milikku aku akan mengamen setiap hari untuk sebungkus nasi. Kau menerimaku, memberikanku makanan enak, memberikanku tempat bernaung, membantuku meraih mimpiku, dan... memberikanku kasih sayang yang selama ini aku dambakan. Bila kau bukanlah malaikat, aku tak tahu lagi bagaimana menyebut dirimu." Chanyeol mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun.
"Terimakasih akan segalanya Baekhyun. Kau malaikatku." Sambung Chanyeol sambil memeluk erat kekasihnya.
Baekhyun terdiam, menikmati rasa hangat di dadanya setelah mendengar kata- kata manis Chanyeol.
Kemudian pemuda mungil itu tersenyum dengan teramat lebar, sebelum akhirnya menepuk pelan kepala Chanyeol seakan kekasihnya itu adalah anak kecil umur 5 tahun.
"Bila kau bingung akan bagaimana harus menyebut diriku setelah segala hal yang aku berikan padamu, maka aku sarankan, panggil saja aku Sugar Daddymu." Baekhyun memberikan seringaian jenaka kepada kekasihnya.
Chanyeol pun langsung menggerang kesal mendengar itu. Sedangkan Baekhyun justru terpingkal.
"Ahahaa.. hei, bukankah aku benar? Aku menerimamu, memberimu tempat tinggal, memberikanmu makanan, membantumu dalam meraih karir dan cita-cita, dan aku memberikanmu perasaan dan tubuhku. Nah benar, aku seratus persen yakin. Tak ada sebutan lain yang paling pas selain Sugar Daddy, nah Chanyeol... mulai sekarang panggil aku Daddy Baek." Baekhyun kembali tertawa dengan renyahnya setelah menyebut namanya sendiri dengan kata Daddy didepannya.
Sedangkan Chanyeol memandang wajah terpingkal Baekhyun dengan ekspresi datar dan dingin. Kesal akan bagaimana Baekhyun terus mengakhiri semua momen romantis mereka dengan candaan.
"Ups.." Guman Baekhyun pelan, setelah sadar sedari tadi Chanyeol terus membisu.
"Ehehe.. Maafkan aku." Ujar Baekhyun menyesal, lalu diakhiri dengan menggigit lidahnya yang terjulur sedikit keluar.
Chanyeol menggerang lagi, melampiaskan kekesalannya. Lalu menurunkan tubuh Baekhyun dari gendongannya. Dan mulai berjalan menjauh dari kekasihnya itu, dengan sangat disesalkan Chanyeol mengakui dirinya tak bisa marah bila itu didepan Baekhyun. Jadi dia harus menjauh dulu.
"Aughh.. Aku sungguh tak percaya bagaimana bisa aku mencintai orang seperti dirinya. Ini semua salah wajah malaikatnya itu, benar- benar penipuan kejam. Toh didalamnya ada iblis mengerikan yang bersemayam. Kau terlalu naif Chanyeol.. dirimulah yang bodoh dan mudah ditipu oleh penipu ulung seperti dia." Guman Chanyeol kepada dirinya sendiri sambil berjalan menjauh dari Baekhyun yang terus saja tertawa mendengar seluruh gerutuan Chanyeol, Baekhyun bahkan tak tersinggung sama sekali mendengar seluruh kata- kata tajam Chanyeol.
Setelah semua gerutuan dan kekesalannya, akhirnya Chanyeol diam. Pemuda tinggi itu duduk diujung ranjang sambil bersedekap kesal. Lengkap dengan wajah merengut dan bibir mengerucut. Sesekali terdengar dengusan kesal dari mulutnya.
Baekhyun hanya dapat tersenyum lebar sambil berjalan ke depan, tepat ke arah sisa- sisa aroma Chanyeol tercium dan suara dengusan Chanyeol terdengar.
"Hei.. sudahlah, maafkan aku yaa.." Bujuk Baekhyun sambil memberikan senyuman manisnya. Setelah dirinya berdiri tepat didepan Chanyeol.
Chanyeol mendongak, menatap wajah cantik dan senyuman manis sang kekasih dengan alis terangkat satu. "Kau sengaja tersenyum manis seperti itu, karena tahu bagaimana efek dari senyum itu padakukan?" Tuduh Chanyeol tepat sasaran.
Senyum Baekhyun semakin lebar dibuatnya. Chanyeol pun memutar bola matanya melihat itu. Setelah beberapa saat, Chanyeolpun menghela napas menyerah. Mana bisa Chanyeol lama- lama merajuk dari kekasihnya itu.
"Sini Baek, duduk disebelahku." Seperti memiliki kepribadian ganda yang dapat berubah dalam waktu singkat, Chanyeol yang tadinya merengut telah kembali menampilkan wajah lembutnya pada sang kekasih, seraya menarik lembut pergelangan tangan Baekhyun agar mendekat ke arahnya.
Chanyeol mendudukkan Baekhyun pada sisi ranjang disebelahnya. "Tunggu disini sebentar." Ujarnya pelan, lalu mengecup pelipis Baekhyun sebelum akhirnya menjauh dari sang kekasih.
Baekhyun mengerutkan keningnya bingung, tak tahu apa yang ingin Chanyeol lakukan, dan apa yang sedang Chanyeol lakukan sekarang. Dari arah belakangnya, di sisi lain ranjang, tempat nakas berada, terdengar Chanyeol sedang membuka lemari dan mengambil sesuatu. Baekhyun tak dapat melihat apapun, namun dirinya dengan sensitif mendengar langkah kaki Chanyeol yang sekarang telah kembali berjalan menuju kearah dirinya. Dan dirinya merasakan kelegaan yang tak bisa di jelaskan saat dirinya tahu Chanyeol telah berdiri didepannya, berada didekatnya.
Di sisi lain, Chanyeol mengamati sosok mungil kekasihnya dengan lekat, sebelum akhir berlutut didepan sang kekasih. Menaruh kotak P3K pada lantai disampingnya. Kemudian meraih salah satu tungkai kaki Baekhyun, memulai sesi perawatan luka- luka yang berada ditubuh indah kekasihnya.
Tubuh Baekhyun kembali membeku karena terkejut, merasakan bagaimana perih dan dinginnya alkohol membersihkan sekitaran luka- luka dikakinya. Rasanya hati Baekhyun telah berubah menjadi mentega dan melumer karena hangat sekarang. Chanyeol dan segala perilaku sederhana dan polosnya, selalu sukses memenangkan hati si Tuan Muda ini.
"Padahal kau hanya berlari ke arahku dari jarak beberapa puluh meter. Namun kau mendapatkan banyak sekali luka lecet di kaki dan tanganmu. Bahkan ada beberapa memar biru di badanmu." Keluh Chanyeol dengan suara kesal, Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. Kemudian menikmati bagaimana telaten dan lembutnya Chanyeol merawatnya.
Keduanya menjadi sunyi, membiarkan waktu berlalu tanpa suara. Sepertinya, keduanya telah naik tahap dalam hubungan dimana dengan menyadari keberadaan satu sama lain saja sudah membuat hati nyaman. Tanpa perlu obrolan panjang yang menarik, tanpa perlu sesi percintaan yang panas. Menghabiskan waktu berdua tanpa melakukan apapun saja sudah terasa lebih dari cukup.
Hikmah yang didapat setelah merasakan bagaimana sakitnya pengalaman dipisahkan jarak dan waktu.
"Kau tak lagi merasa resah dan canggung saat kita diam seperti ini tanpa memulai obrolan." Ungkap Baekhyun mengutarakan pikirannya.
Chanyeol tersenyum kecil mendengar itu, "Aku rasa kita sudah terlampau dekat hingga tak ada lagi kata canggung diantara kita." Jawab Chanyeol yang sekarang tengah menempelkan plaster luka di beberapa luka dikaki Baekhyun, semua luka itu tak terlalu serius, namun cukup banyak untuk seharusnya memberikan keperihan luar biasa bagi penderitanya. Seperti kata banyak orang, luka kecillah yang paling perih.
"Kemarikan tanganmu Baek." Ujar Chanyeol, dan Baekhyun dengan patuh memberikan kedua tangannya kearah Chanyeol, lalu mulai kembali merasa perihnya alkohol membasuh luka. Namun sang Tuan Muda tak memberikan respon sama sekali, bila saja Chanyeol tak mengenal Baekhyun dengan sungguh dalam, dirinya mungkin akan mengira luka Baekhyun sebenarnya memang tak sakit. Namun tidak, dirinya tahu... Baekhyun seharusnya amat sangat kesakitan sekarang.
Chanyeol mengerutkan keningnya bingung, "Aku bahkan meringis kesakitan luar biasa saat mengobati luka dibibirku akibat tonjokan dari Kyungsoo tadi. Namun kau bahkan sama sekali tak bereaksi saat aku mengobati banyak luka sayatmu seperti ini. Astaga Baekhyun, semua ranting dan duri bunga disana menyayat tangan dan kakimu. Kalau kau ingin merintih keluarkan saja." Ujar Chanyeol merasa khawatir akan kekasihnya yang selalu menahan sakitnya.
Baekhyun hanya mempoutkan bibirnya lucu, "Apakah sakit yang seperti ini memang sangat sakit sehingga harus meringis?" Dengan otomatis gerakan tangan Chanyeol yang sedang membuka salah satu kertas plaster luka itu terhenti mendengar pertanyaan tak biasa namun bernada polos dari kekasihnya.
"...Apa?" Tanya Chanyeol lagi, merasa tak yakin akan pendengarannya tadi.
"Aku tadi bertanya, apa sakit yang seperti ini harusnya disebut sakit sekali sampai harus meringis? Aku bingung karena menurutku ini tak terlalu sakit." Ungkap Baekhyun.
Chanyeol pun terdiam lama dibuatnya, sambil memandang wajah Baekhyun yang menampilkan ekspresi polos dan jujur tanpa rekayasa. Kalau dipikir lagi, setelah kejadian di padang bunga sore tadi, Baekhyun bahkan langsung membuka seluruh bajunya dengan kedua tangannya yang penuh darah, menunggu Chanyeol selesai mandi sambil membersihkan sendiri makeup diwajahnya yang artinya tangan Baekhyun terkena alkohol yang terdapat di pembersih makeupnya, Baekhyun bahkan langsung mandi setelah Chanyeol dengan semua luka- luka dibadannya.
.
.
Dammit!!
.
.
Bagaimana Chanyeol masih setidakpeka ini bahkan setelah semua yang terjadi pada mereka berdua.
Dengan canggung Chanyeol membersihkan tenggorokannya, sebelum bertanya, "Lalu.. menurutmu, luka yang sakit itu yang seperti apa?" Tanya Chanyeol disertai hati yang nyilu, membayangkan versi sakit bagi Baekhyun itu seperti apa.
Baekhyun terdiam memikirkannya.
"Entahlah... Aku memang sering terluka luar seperti ini, karena itulah aku menjadi terbiasa. Tapi bila harus mengatakan luka apa yang menurutku sangat sakit dan sampai meringis dibuatnya, aku rasa yang SunMi Noona lakukan padaku, adalah luka yang paling sakit yang pernah aku rasakan." Jika saja dirinya tak menahan emosi didepan Baekhyun, maka Chanyeol pasti telah meremukkan botol alkohol pembersih luka yang sekarang berada di tangannya.
"SunMi, suatu saat aku akan membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri." Bisik Chanyeol dalam hati.
Menutupi semua emosinya dari Baekhyun. Chanyeol kembali membersihkan luka sayatan dan mengobati memar- memar di tangan kekasihnya itu.
"Kau bilang tadi, kau sering luka seperti ini? Setahuku Tuan Muda Byun Baekhyun memiliki banyak bodyguard dan Maid yang menjaganya agar tetap aman. Jadi, bagaimana bisa?" Tanya Chanyeol, mengalihkan pikirannya dari SunMi dan segala hal yang sudah wanita itu lakukan pada kekasihnya.
Tanpa Chanyeol duga, Baekhyun justru tersenyum. Sambil mengacak rambut Chanyeol dengan sayang. Sebelum memulai salah satu kisah hidupnya.
"Aku dulu tak selancar sekarang untuk berjalan tanpa menggunakan tongkat, Chan. Aku pernah menggunakan tongkat, saat aku kecil, dan sebenarnya... hari- hari itu tak terlalu menyenangkan untuk diingat. Dulu aku sering keluar Mansion, berjalan di beberapa pusat perbelanjaan yang sebenarnya adalah milikku, atau berjalan di sepanjang blok toko- toko di Gangnam yang sebenarnya seluruh gedung disitu adalah milikku. Aku hanya ingin merasakan berapakah luas dari kekayaanku ini, salah satu keinginan seorang anak kecil. Namun... yang aku terima justru orang- orang berbisik setelah melihatku, 'Cantik sekali, sayangnya buta.' , 'Anak kecil tadi itu buta ya?', dan hal- hal semacam itulah." Baekhyun tersenyum kecil sambil menunduk.
"Aku tak sakit hati akan mereka yang menyebutku buta, toh hal itu memanglah kenyataannya. Namun rasanya sakit karena orang- orang itu mengatakannya dibelakangku sambil berbisik seperti itu." Chanyeol menggigit bibir bagian bawahnya, menahan kekesalan hati pada orang- orang yang sudah menyinggung hati kekasihnya.
Baekhyun menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya.
"Terkadang ada beberapa 'orang baik' yang tiba- tiba datang lalu membantuku berjalan, jujur saja, aku menghargai kebaikan mereka, namun aku lebih menghargai lagi bila mereka meminta izin terlebih dahulu untuk menyentuh diriku. Meski saat itu aku adalah anak kecil penyandang disabilitas, bukan berarti mereka bebas menyentuh orang asing sesuka mereka meski tujuannya baik." Chanyeol mengangguk menyetujuinya.
"Aku hanyalah buta, namun tidak tuli, aku dapat mendengar mereka semua yang membicarakanku dibelakang seperti itu. Aku hanyalah buta bukan bodoh sehingga tak tahu tata krama untuk tahu apa itu personal space. Aku rasa mulai saat itulah, aku mulai belajar untuk menggunakan panca indraku yang lain agar menjadi lebih peka. Aku menghapal letak suatu tempat dan suatu benda bila dimanapun aku berada. Aku menghapal suara dan aroma orang lain. Aku mencoba untuk peka akan arah kanan dan kiri, timur, barat, utara, dan selatan. Sehingga aku tak perlu berjalan menggunakan tongkat lagi." Baekhyun menunduk, mengarahkan wajahnya pada Chanyeol yang sedang duduk pada lantai didepannya. Lalu tersenyum hangat.
"Dan itu tak mudah Chanyeol. Perlu waktu, kedisiplinan, dan kerja keras. Minggu- minggu awal aku sangat sering menabrak vas- vas bunga yang di pajang di sepanjang lorong Mansion, dan itulah alasannya aku tak merasakan sakit lagi saat kau mengobati lukaku.. aku terlampau sering mendapat luka lecet kecil dan remeh seperti ini, sudah terbiasa. Aku sering tersesat di Mansionku sendiri dan dulu Mansion Byun setiap ruangannya masih kedap suara, sehingga sulit sekali mencari bantuan pada seseorang bila aku sudah terkunci pada suatu ruangan. Aku juga beberapa kali hampir jatuh saat turun tangga karena dulu kamar dan kantorku berada di lantai 2, saat itu aku tak ingin mengusik kamar bekas orang tuaku di lantai 1 Mansion."
Chanyeol diam mendengarkan semuanya.
"Jadi, karena itulah sekarang kamarmu di lantai dasar, seluruh dinding dibagian- bagian Mansion memang berwarna sama namun memiliki pola wallpaper yang berbeda, tata letak semua benda di setiap lorong dan ruangan selalu ditaruh pada satu sisi saja, serta Mansion Byun yang sangat mewah namun justru tak kedap suara. Semua itu di atur saat dirimu masih kecil, bukan sejak awal seperti itu. Serta CCTV disetiap ruangan kecuali kamar dan kamar mandi, namun ada sensor panas dikamarmu bahkan kamar mandi, itu agar tak terlalu sulit mencarimu bila saja kau menghilang dan tersesat di Mansionmu sendiri." Simpul Chanyeol.
Baekhyun mengangguk menyetujui. Chanyeol ikut mengangguk, lalu kembali menempeli jari Baekhyun dengan beberapa plaster luka.
"Kau sudah bekerja keras sekali untuk sampai pada posisimu sekarang, aku akui itu Baekhyun. Kau mendapat respekku." Ujar Chanyeol dengan senyuman lembut pada kekasihnya, dan seperti sudah memiliki telepati, bahkan tanpa melihatnya, Baekhyun membalas senyuman itu.
"Kau juga sudah bekerja keras selama ini Chanyeol, pasti hidupmu selama ini juga tak mudah. Kau juga mendapat respekku." Ujar Baekhyun yang menciptakan senyuman yang semakin lebar dibibir Chanyeol.
Menit- menit selanjutnya kembali diisi dengan hening, Chanyeol sibuk mengolesi memar di kaki dan tangan Baekhyun dengan obat salep.
"Baekhyunah, maaf bila aku bertanya seperti ini, bukan berarti aku tak mensyukuri dirimu apa adanya sekarang. Bagiku kau sudah sempurna lahir batin. Tapi, apakah kau memang sungguh tak bisa mengoperasi matamu atau menerima pendonor mata?" Pertanyaan Chanyeol dengan suara yang sama sekali tak terdengar berniat menyinggung itu memecah keheningan.
Namun ekspresi kosong dan tegang Baekhyun membuat Chanyeol langsung menyesal didetik setelah dirinya bertanya. Dalam hati menggerutu akan ketidakpekaannya dan kebodohannya dalam mencari pertanyaan.
"Ka-Kalau kau tak mau tak usah di jawab." Ujar Chanyeol gugup dan canggung.
Baekhyun berkedip beberapa kali, lalu tersadar dirinya telah membuat Chanyeol merasa tak nyaman, "Oh ya Tuhan, tidak tidak tidak.. bukan seperti itu, oh Chanyeolku, maafkan aku membuatmu merasa tak nyaman seperti ini. Tenang saja aku sama sekali tak tersinggung akan pertanyaanmu." Baekhyun mengatakan seluruh kalimat itu dengan amat sangat cepat sambil meraih kedua pipi Chanyeol dengan kedua tangannya yang masih belum di plaster semua lukanya.
Chanyeol menutup matanya sebentar menikmati elusan jari lentik Baekhyun pada pipinya. Dan selanjutnya membuka mata untuk menatap lekat wajah kekasihnya. Tadi itu ekspresi yang sama, dengan ekspresi yang Baekhyun tampilkan saat baru saja keluar dari kamar hotel Chen dan Xiumin di hari Xiumin sakit.
Chanyeol menghela napas.
"Ada hal lain yang disembunyikannya lagi selain fakta tentang orangtua kami ternyata. Pacarku ini memang seperti bawang, dibuka dan dibuka berapa kalipun tak akan habis- habis rahasianya. Dan seperti membuka bawang, semua rahasia yang di buka itu mengundang air mata."
"Baekhyunku, bisakah kau beritahu aku, kenapa kau tak mengoperasi matamu?" Tanya Chanyeol dengan suara serius.
Terlihat Baekhyun mengigit bibir bagian bawahnya. Dan jangan lupakan bagaimana kedua tangan Baekhyun secara perlahan menjauhi wajah Chanyeol serta mulai meremas ujung bajunya dengan gelisah.
Chanyeol mulai merasakan sesak.
"Apapun alasannya, sudah pasti hal itu ada hubungannya denganku." Simpul Chanyeol setelah membaca gelagat Baekhyun yang semakin hari semakin mudah dibaca.
"Tak apa, jangan dipaksakan, kita lupakan saja." Ujar Chanyeol lembut sambil menggenggam kedua tangan Baekhyun dengan kedua tangannya, berusaha menenangkan si mungil.
Terlihat Baekhyun menghela napas beberapa kali, dan dapat Chanyeol rasakan tangan Baekhyun terasa mendingin, serta wajah sang kekasih yang mulai memucat. Rona merah yang awalnya menghiasi pipi mochi kekasihnya mulai memudar.
Kekasihnya tengah ketakutan.
Dengan sigap Chanyeol langsung berdiri, dan menaiki ranjang mereka dan duduk disana. Kemudian menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya, hanya cara inilah yang paling cepat dan ampuh untuk menenangkan Baekhyun. Dan lihatlah, sungguh bekerja, beberapa menit kemudian Baekhyun sudah mulai relaks dan tenang.
"Tak apa... tak usah kau paksa untuk diceritakan." Ujar Chanyeol dengan suara menenangkan.
Dengan beberapa masalah yang selama ini mereka hadapi, sepertinya memang berpengaruh pada hubungan keduanya. Menjadi lebih dekat, dan juga... lebih mengerti satu sama lain. Chanyeol juga menjadi lebih terbiasa dengan Baekhyun yang rumit dan banyak rahasia, tak merasa gelisah lagi akan kenyataan dirinya tak diberitahukan apakah isi rahasia itu.
Baekhyun membalas pelukan Chanyeol. Menyamankan dirinya dalam hangatnya kungkungan tubuh sang kekasih. Dan berharap dapat terus merasakan kenyamanan sederhana namun tak ternilai harganya ini.
Sungguh berharap.
Baekhyun amat sangat berharap, dapat terus memeluk Chanyeol seperti ini.
"Baekhyunah.." Chanyeol memanggil namanya, dan Baekhyun pun mengangguk sebagai jawaban.
Terdengar helaan napas dari Chanyeol beberapa kali. Namun bukannya sambungan kata Chanyeol yang Baekhyun dapatkan, justru sebuah usapan di belakang punggungnyalah yang Baekhyun rasakan. Membuat Baekhyun tanpa sadar menutup matanya, dengan perlahan namun pasti menghampiri kantuknya.
"Baekhyun..." Sekali lagi Chanyeol memanggil nama kekasihnya.
"Humm." Kali ini Baekhyun menjawabnya dengan gumaman pelan.
Lalu, berbarengan dengan hilangnya elusan menenangkan dipunggungnya. Hilangnya pelukan hangat Chanyeol. Dan hilangnya suara hangat nan ramah yang biasa terdengar dari Chanyeol.
Dengan amat sangat datar Chanyeol mengatakan.
"Baek, ayo kita akhiri. Hubungan kita."
.
.
.
Baekhyun tengah duduk sendirian di toko es krim Kakek Heechul, sambil memakan es krim rasa stroberi kesukaannya. Mengabaikan ramainya bodyguard miliknya di luar toko, yang sedari tadi sibuk mengkoordinasikan seluruh toko es krim ini dan jalanan disekitarnya agar tak ada orang lain yang mengganggu sang Tuan Muda, Baekhyun dengan tenangnya menyendok setiap suapan salah satu makanan kesukaannya ini. Sambil terus mengulang perkataan Chanyeol tadi. Kata demi kata dari sang mantan kekasih.
"Aku bukannya tak mencintaimu lagi. Aku mencintaimu, sangat. Namun aku tak dapat bersamamu lagi Baekhyun. Dan jika hubungan ini terus dilanjutkan, semakin lama justru semakin tak baik untuk kita, terutama untukmu. Akhirnya kau akan bersama diriku yang sudah menjadi terpaksa untuk bersamamu, dan aku tak ingin seperti itu. Aku tak ingin kau merasakan itu. Aku juga tak ingin aku merasa hubungan ini adalah keterpaksaan. Dan sebelum hubungan ini berubah menjadi keterpaksaan, aku ingin lebih dahulu mengakhirinya."
"Bohong bila aku bilang aku baik- baik saja setelah mengetahui bahwa kematian orang tuamu dan hilangnya penglihatanmu disebabkan oleh Ayahku. Dia Ayahku Baekhyun, meski bagaimanapun aku memungkirinya. Namun tetap saja kenyataannya begitu. Dan sekarang, aku tak ingin memungkiri kenyataan. Baekhyun... aku tak ingin kau berpacaran dengan pria yang setengah jadi sepertiku. Semakin aku mengenalmu semakin aku tahu, kau sudah amat sangat matang. Kau sudah berdamai dengan masa lalumu, kau bahkan sudah menerima dan memaafkan Ayahku. Namun aku tidak Baekhyun, aku masih terkurung dalam masa laluku. Aku belum menerima kesalahan Ayahku, kematian Ibuku, aku bahkan belum menerima keberadaan diriku sendiri. Dan sekarang aku ingin memperbaiki itu, dan langkah pertamanya adalah... aku, harus kembali pada Ayahku. Dan aku harus kembali, menjadi Park Chanyeol putranya Park Sungjin. Meski kau mengatakan bahwa kau tetap akan menerimaku, tapi masalahnya disini, diriku sendirilah yang tak bisa menerima diriku yang seperti ini untukmu. Aku tak bisa menerima kenyataan diriku yang tetap menjadi kekasihmu disaat diriku ingin berdamai dengan Ayahku, seseorang yang telah membuatmu buta."
"Sekarang aku paham, alasan kenapa kau selalu menyembunyikan banyak hal dariku. Karena semua hal itu memang berhubungan denganku, kau pasti sudah banyak berkorban dan berjuang untukku selama ini. Namun aku tak pernah berjuang untukmu, aku bahkan belum tuntas berjuang untuk diriku sendiri."
"Kau kekasihku Baekhyun. Tapi kenapa aku justru selalu minder padamu?"
"Aku tebak, kau sulit mengatakan mengapa dirimu tak mengoperasi matamu, itu juga karena aku. Entah apa alasan yang berhubungan denganku, hingga kau membuat keputusan itu. Meski itu keputusanmu sendiri, namun aku tetap merasa andil dalam membuatmu terus menjadi buta, karena kau buta demi aku. Jadi, kau buta karena Ayahku, dan sekarang kau buta demi aku. Demi Tuhan, Baekhyun, mana ada orang didunia ini yang sanggup menerima kenyataan itu."
"Untuk apa kita terus mencintai jika yang terus dirugikan adalah salah satu pihak, yaitu dirimu. Untuk apa kita menjadi sepasang kekasih jika kenyataannya kau selalu menjadikan dirimu sebagai penompang hidupku dan tameng yang menjagaku dari rasa sakit. Hubungan ini mulai tak sehat untukmu Baekhyun. Karena aku yang masih belum kuat ini, kau jadi terus melindungiku. Aku tak ingin hal ini terus berlanjut. Karena bila ini terus terjadi, aku bukan hanya akan kehilangan cintamu. Aku juga akan kehilanganmu, secara harfiah. Aku tak suka kau yang selalu berkorban harta dan nyawa untukku. Aku tak mau itu. Aku tak mau bersamamu bila aku tahu bahwa ada kemungkinan kau bahkan mau mati demi aku."
"Aku tahu kau tak akan pernah sudi mengakhiri hubungan ini. Karena itulah aku yang akan mengakhirinya. Ayo kita berpisah Baekhyun. Ayo kita mulai dan lanjutkan lagi hidup kita tanpa satu sama lain. Kita perbaiki masing- masing kekurangan dan kesalahan kita yang selama ini kita hindari. Kau harus mengoperasi matamu, dengan begitu kau akan menjadi seorang CEO yang lebih kuat lagi. Tak akan ada lagi aku sebagai penghalangmu."
"Dan aku, aku akan kembali pada Ayahku. Aku sekarang tahu kenapa dia selama ini bersikap tak acuh padaku. Hal itu memberikanku celah untuk memulai perbaikan hubungan kami. Walau bagaimanapun kami adalah Ayah dan Anak. Aku harus memperbaiki hubungan kami Baek, karena dari situlah dimulainya aku bisa memperbaiki diriku sendiri."
"Semua orang mengatakan aku adalah musisi berbakat. Namun aku justru berjuang selama 2 tahun pada puluhan audisi dan terus gagal. Ternyata bukan bakatku yang menjadi masalah, namun diriku. Hatiku. Jiwaku. Sedangkan musik berasal dari hati dan jiwa. Hatiku yang terus merasa sakit dan jiwaku yang kosong membuat musikku tak nyaman didengarkan oleh orang lain. Membuat pesonaku tertahan oleh lukaku sendiri. Aku adalah pemusik cengeng. Alasan selama ini laguku membaik juga karena dirimu, sekali lagi, aku menggunakanmu sebagai pelengkap sisi diriku yang kurang."
"Baekhyun, akulah si cacat dalam hubungan ini."
"Dan kau mencintai seluruh kekuranganku. Hal itulah yang membuatku tersiksa, karena aku tak bisa lagi dengan bangga mengatakan bahwa aku juga mencintaimu dengan tanpa rasa bersalah dan tanpa merasa bahwa aku memanfaatkanmu. AKU MENGORBANKANMU. Aku merasa bersalah karena aku mencintaimu. Cintaku tak berubah, namun dirikulah yang berubah. Aku telah tersadar. Aku lemah. Dan aku menjadi kelemahan kekasihku sendiri. Kekasihku yang sempurna memiliki satu kekurangan, yaitu mencintaiku."
"Selama ini aku adalah seorang pengecut yang bukan hanya kabur dari rumah namun juga kabur dari masalahku. Lalu menjadikan dirimu sebagai tempat singgahku. Aku tak mau seperti itu lagi Baekhyun. Aku tak mau kau hanya sekedar tempat singgah. Aku ingin kita bisa bersama saat aku yakin bahwa dirimu adalah rumahku. Aku bahkan ingin bahwa akulah si rumahmu, aku yang melindungimu, bukan sebaliknya. Aku tak ingin bersamamu sambil merasa ragu dan terpaksa. Karena kau terlalu berharga untuk di perlakukan begitu."
"Aku rasa ini semua adalah kalimat- kalimat paling berantakan yang pernah aku katakan seumur hidupku. Namun aku berharap kau mengerti apa yang ingin aku sampaikan. Aku tak ingin bersamamu dengan diriku yang tak bisa dibanggakan ini. Aku bahkan terus berlindung padamu seperti ini. Aku ingin bersamamu disaat aku telah berdiri tegak dengan kakiku sendiri, aku telah lebih kuat dari sekarang hingga dapat melindungi diriku sendiri dan melindungimu, dan dapat dengan lantang serta percaya diri mengumumkan pada dunia bahwa aku adalah kekasihmu."
"Aku ingin bersamamu. Disaat aku, sudah tidak minder lagi."
Baekhyun menghela napas. Sebelum akhirnya lelehan air mata menuruni kedua pipinya secara perlahan. Dan tanpa menghiraukan itu, Baekhyun terus memakan es krimnya dengan tenang.
"Setahun yang lalu saat kau pertama kali datang ke sini. Kau bahkan tak berani masuk karena kau datang sendiri. Kau terus berdiam diri didepan toko dan membuat jalanan heboh seperti sekarang karena semua pengawalmu." Baekhyun mendongak dari es krimnya, dari suara sepuh itu Baekhyun tahu, ini adalah Kakek Heechul yang sedang mengajaknya bicara.
Baekhyun tersenyum pada orang tua itu.
"Tentu saja saya tak berani masuk sendirian ke tempat ini. Saya harus membawa pasangan saya." Jawab Baekhyun dengan suara pelan.
Kakek Heechul menghela napas melihat ekspresi suram Baekhyun.
"Alasan yang membuatku selalu mengingat karakteristik wajah dan selera es krim keluarga Byun secara turun- temurun, itu semua karena tradisi aneh kalian di toko es krimku ini." Terang Kakek Heechul dan Baekhyun terkekeh pelan.
"Sungguh tradisi yang aneh namun manis. Bukankah keluarga saya sungguh romantis Kakek." Baekhyun bergurau pada orang tua didepannya, dan andaikan wajah Baekhyun tak bersimbah air mata mungkin saja Kakek Heechul akan tertawa dengan gurauannya.
"Melihat kau yang datang sendiri ke sini malam ini. Apakah itu artinya kau akhirnya menghentikan tradisi keluargamu? Kau gagal untuk bersama pria itu?" Tanya Kakek Heechul.
Baekhyun terdiam sebentar.
Kemudian terlihat Tuan Muda itu mengusap seluruh air mata yang ada dipipinya. Baekhyun beranjak berdiri, sambil menghadap kepada Kakek Heechul, Baekhyun meraih sesuatu dari kantung celana setelan mahalnya.
"Maafkan saya, tapi.. selama kedai es krim ini berdiri, maka tradisi keluarga Byun yang satu ini akan terus berlanjut. Kakek, saya titip ini. Berikan pada seorang pria tinggi dengan suara berat dan beraroma hangat seperti kayu manis, dan dia akan memesan es krim rasa kesukaan Byun. Saat dia datang kesini dan bila dia terlihat seperti berencana kembali pada saya maka berikan ini padanya."
"Namun, bila dia datang kesini dengan hati telah milik orang lain serta Kakek tahu dia tak akan kembali pada saya, maka buang saja."
"Saya ingin berpamitan Kakek, saya akan berangkat ke Seoul malam ini juga dan kemungkinan akan lama sekali baru bisa berkunjung ke kedai ini lagi, ingat ya Kakek.. nama saya bagian belakangnya Hyun. Baekhyun. Maaf sudah membuat Kakek menunda waktu tutup dan tadi telah mengusir semua pelanggan milik Kakek. Saya akan mengganti kerugiannya. Selamat Malam." Baekhyun menyerahkan titipannya pada Kakek Heechul, dan Kakek tua itu menerimanya tanpa protes sama sekali.
Dan kemudian terdengar bunyi lonceng dari pintu kedai, menandakan bahwa Baekhyun telah pergi dari toko es krim kesukaannya itu.
Menyisakan Kakek Heechul yang memandang titipan yang Baekhyun tinggalkan. Kakek Heechul memandang kotak cincin itu dengan tatapan sayu.
"Tradisi Keluarga Byun dari generasi ke generasi, bersamaan dengan keluargaku yang menjaga kedai ini dari generasi- ke generasi adalah... Membawa orang yang telah mereka putuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama, dan melamarnya di Kedai Es Krim ini." Gumam Kakek Heechul sambil memandang kotak cincin ditangannya.
Kakek Heechul menghela napas.
"Kau sudah merusak tradisi keluargamu Baekhyun. Harusnya kau langsung melamarnya dikali pertama kau membawanya ke sini. Apa sebenarnya alasan yang membuatmu menahan diri dan tidak mengeluarkan kotak cantik ini dari kantungmu, saat kau membawa pria tinggi beraura hangat dan polos itu kesini hari itu."
Sekali lagi Kakek Heechul menghela napas.
"Hahh.. sudahlah, aku tak akan bisa paham pemikiran anak muda zaman sekarang." Ujarnya lalu Kakek itu terkekeh ringan sambil meletakkan kotak cincin yang Baekhyun titipkan itu di salah satu laci meja kasir.
.
.
.
Sementara itu, di sisi lain, Chanyeol masih di BB Hotel, dirinya berdiam diri sambil melamun di salah satu meja restoran hotel. Semua pegawai hotel menatapnya dalam diam dan sesekali berbisik. Dan berjarak beberapa meter dari Chanyeol, Kai bersama Saudara Kembar Do menatapnya dengan pandangan khawatir.
"Mereka tak putus karena aku kan?" Tanya Kyungsoon datar tanpa dosa, dan sukses mendapatkan delikan dari Kai dan jitakan dari Kyungsoo.
"Tentu saja kau adalah salah satu penyebabnya, itu tak perlu di pertanyakan lagi." Kyungsoo berujar kesal, dan Kyungsoon membalasnya dengan rengutan kesal.
"Huh!" Kyungsoon mendengus kesal.
"Hei kau mau kemana?!!" Teriak Kyungsoo panik saat Kyungsoon mulai berjalan mendekati Chanyeol.
Chanyeol sama sekali tak bergeming meski Kyungsoon telah berdiri disampingnya yang tengah duduk disalah satu meja restoran BB Hotel ini. Dan Kyungsoon memandang pria itu dengan wajah datar. Jujur saja, Kyungsoon tetap tidak menyukai Chanyeol. Dan sepertinya mereka memang tak akan pernah cocok.
"Ini." Ujar Kyungsoon, sambil meletakkan selembar foto diatas meja, tepat didepan Chanyeol.
Chanyeol berkedip pelan melihat foto itu.
Dalam satu lembar itu, tersimpan potret Baekhyun yang tengah mendengarkan salah satu rekorder milik Chanyeol ditelinganya. Baekhyun tampak sangat indah di foto itu, dengan kemeja putih dan celana bahannya, Baekhyun tampak lebih relaks dilihat bagaimana blazer yang telah Baekhyun lepaskan dan tergeletak di samping sang Tuan Muda.
Wajah Baekhyun di foto itu tentu tak diragukan lagi sangatlah cantik. Namun yang menjadi menarik disini adalah, bagaimana Baekhyun tersenyum sungguh hangat bahkan disaat wajah cantiknya itu kentara sekali sudah menggambarkan kata lelah.
Dan yang membuat Chanyeol merasakan sebuah nostalgia yang menohok jantungnya adalah, dimana background foto ini di ambil. Bagian paling belakang perpustakaan, dinding kaca yang memenuhi dari langit- langit sampai lantai. Terdapat Baekhyun yang tengah bersandar pada dinding kaca itu, dan duduk tanpa beralaskan apapun di lantai marmernya. Di hiasi sinar mentari hangat dari kaca dibelakangnya, Baekhyun tampak sangat bercahaya.
"Kau telah mengingkari janjimu padanya. Kau telah berjanji untuk tak pernah meninggalkan dia." Ujar Kyungsoon dengan nada dingin.
Chanyeol tersenyum kecil dan getir sambil dengan tangan bergetar meraih foto didepannya.
"Kau benar.. Aku selama ini hanya selalu memberikannya janji dan kata- kata kosong." Ujar Chanyeol dengan suara yang lemah sekali.
"Pesawat Tuan Muda sudah berangkat beberapa menit lalu. Semuanya tampak tak tega untuk mengatakannya padamu." Ujar Kyungsoon sekali lagi dengan suara dinginnya.
Chanyeol tak menjawab, sibuk memandang kosong selembar foto ditangannya. Membuat Kyungsoon menghela napas melihat itu.
"Ambil saja foto itu. Tenang saja, koleksiku banyak." Ujarnya sambil berlalu.
Namun baru beberapa langkah, Kyungsoon kembali berbalik.
"Park Chanyeol.." Panggil Kyungsoon dan Chanyeol menoleh dibuatnya.
"Aku akan ke London setelah ini dan kuliah Fotografi disana, dan tak akan bisa bertemu denganmu ataupun Tuan Byun untuk waktu yang lama. Jujur saja aku masih menyukai Tuan Byun, terlepas dari obsesi dan cinta tak sehatku, bukan berarti tak ada kata suka didalamnya. Aku tak memerlukan izinmu untuk hal ini, tapi.. bila setelah aku kembali ke Korea nanti dan Tuan Byun masih sendiri. Maka saat itu tanpa ragu aku akan mendekatinya. Baiklah, aku hanya mengatakannya saja." Kyungsoon mengatakan itu semua dengan suara yang dingin dan datar, sepertinya beginilah sifat gadis ini tanpa topeng yang selama ini dipakainya.
Chanyeol tersenyum kepada gadis itu, dan Kyungsoon hanya memandangnya datar, tak repot sama sekali untuk membalas senyum pada orang yang tak disukainya.
"Jadi ini, permintaan maafmu?" Tanya Chanyeol sambil melambaikan foto Baekhyun di tangannya.
Kyungsoon mengangkat bahunya acuh.
"Aku memberi judul foto itu dengan nama,'Wait'. Itu di ambil saat dia kelelahan bekerja dan akhirnya menunggumu di perpustakaan padahal dia tahu kau tak mungkin datang karena sedang latihan persiapan debut. Dia menunggumu sambil mendengarkan rekorder yang berisi suaramu berulang- ulang. Aku hanya ingin kau tahu bagaimana rupa Tuan Muda saat sedang menunggumu. Meski kita berdua tahu, versi aslinya memiliki keindahan yang lebih tak tertahankan daripada didalam foto." Jelas Kyungsoon.
Chanyeol tersenyum getir menatap tampilan Baekhyun di selembar foto ditangannya.
"Pantas saja kau ketagihan memotret dia." Gumam Chanyeol yang masih dapat Kyungsoon dengar.
"Terima Kasih sudah mengerti." Jawab Kyungsoon penuh sarkasme.
"Kau benar... aku telah melanggar semua janji manis yang selama ini aku lontarkan dengan begitu mudah padanya." Gumam Chanyeol lirih.
"Tapi aku tak menyesal. Ini lebih baik daripada aku menjadi kelemahan kekasihku sendiri."
"Hubungan kami ataupun cinta kami tak salah. Namun waktulah yang kurang tepat. Kami perlu waktu, untuk berbenah diri tanpa satu sama lain. Karena, bila dua sepatu rusak berjalan bersama- sama, tak akan memberikan apa- apa selain luka sepanjang apapun langkah yang sudah di ambil. Yang kami berdua perlukan sekarang adalah memperbaiki dulu sepatu itu satu- satu, sendiri- sendiri... dan saat sepatu itu telah baik dan sama bagusnya, saat itulah baru kami dapat memulai langkah baru." Chanyeol tanpa sadar menerangkan itu semua ke orang terakhir yang dirinya duga dapat mendengarkan curhatnya.
Kyungsoon tersenyum licik.
"Kenapa repot sekali? Tuan Byun tinggal mendapatkan sepatu baru. Lihatlah, tepat ada disini." Chanyeol tersenyum lebar melihat betapa percaya diri dan cantiknya Kyungsoon saat mengibaskan rambutnya sambil mengatakan itu.
Chanyeol terlihat mengusap wajahnya, terlihat seperti mengusap wajah untuk menghilangkan wajah frustasi. Kemudian pria tinggi itu beranjak dari kursi, untuk berdiri di depan gadis yang mulai saat ini akan menjadi saingan sekaligus musuh bebuyutannya.
Chanyeol mengacak rambut Kyungsoon dengan gemas.
"Semoga beruntung untuk studymu. Namun aku tak bisa mengatakan semoga beruntung untuk ambisimu pada Baekhyun. Coba saja, biar kau sadar bagaimana hal itu terasa mustahil. Do Kyungsoon, aku hanya memutuskan hubungan kami. Bukan cinta kami. Bye.. aku harus bersiap untuk kembali ke Seoul pagi nanti." Kyungsoon berdelik ke arah Chanyeol yang telah berlalu pergi.
Sambil memperbaiki rambutnya yang telah acak- acakan gadis itu menyumpah serapah.
Lalu tiba- tiba saja gerakan tangan Kyungsoon berhenti. Merasakan lembab di rambutnya. Membuat gadis itu tertegun.
"Dia mengusap rambutku dengan tangan yang basah? Oh. Jadi dia tadi mengusap wajahnya agar aku tak sadar bahwa dia sedang menangis."
.
.
.
"Baiklah Chanyeol, ayo kita akhiri hubungan ini. Namun satu permintaanku, saat kau merasa lelah akan segalanya, merasa perlu pegangan, ataupun merasa perlu seseorang, maka datanglah ke Toko Es Krim Kakek Heechul. Bilang padanya, kau memesan es krim kesukaan Tuan Muda Byun."
.
.
Kenapa tak ada yang tahu?
Bahwa dari awal, tujuan Baekhyun membawa Chanyeol dan seluruh sahabat serta pegawainya ke pulau Jeju ini, karena dirinya akan membuat keputusan yang akan mengubah hidupnya. Dari awal perjalanan ke Pulau Jeju, Baekhyun sudah bersiap, untuk mengikat Chanyeol menjadi pendamping hidupnya. Namun dirinya mengurungkan niat untuk melamar Chanyeol, saat tahu bahwa situasi Chen dan Xiumin yang tengah tak baik saat itu. Dirinya tak ingin bahagia sendiri disaat yang lainnya sedang tak bahagia.
.
.
.
TBC
.
.
AN : Penasaran deh, gimana cerita ini misalnya Baekhyun egois sedikit, misalnya dia langsung aja ngelamar Chanyeol dihari mereka pertama kali ke toko es krim itu.
