Read My Music By GoodMornaing
.
.
.
Happy Reading
Chapter 33 B : Bittersweet Punishment
.
.
.
Akhir Musim Panas, 2011
Mansion Byun, Seoul, Korea Selatan
.
Kyungsoon melepaskan pelukannya dari Kyungsoo. Lalu memandang wajah Kyungsoo dengan sungguh dalam. Memperhatikan satu- satu bentuk kemiripan dari wajah miliknya sendiri dengan wajah Kyungsoo.
"Kyungsoo Oppa." Ujar Kyungsoon pelan, dan tentunya sukses membuat Kyungsoo terkejut. Akan bagaimana hangatnya Kyungsoon memanggil dirinya.
Bagaimanapun seringnya Kyungsoo mendengar manisnya Kyungsoon memanggil namanya selama beberapa minggu sejak kepulangan mereka dari Jeju kemarin, Kyungsoo tetap merasa tak terbiasa. Dan tanpa dapat ditahan dirinya selalu terkejut setiap mendengarnya.
"Kyungsoo Oppa, ada yang ingin aku beritahukan padamu. Rahasia yang selama ini disembunyikan oleh orangtua kita." Ujar Kyungsoon.
Mata Kyungsoo berkedip cepat.
"Mereka punya rahasia?" Tanya Kyungsoo terkejut. Kyungsoon mengangguk sebagai jawaban.
"Tuan Muda Byun memberitahukannya padaku. Dia memberiku surat. Dan setelah aku memperhatikanya berkali- kali, ternyata dalam amplopnya ada alamat disana. Surat itu dikirim dari alamat itu. Dan sekarang aku ingin kesitu bersamamu, aku yakin... kau juga berhak mengetahui apa yang Tuan Muda Byun ingin sampaikan." Ujar Kyungsoon.
Kyungsoo menganggukkan kepalanya pelan, dalam hati Idol dengan suara tiga oktaf itu rasanya ingin mengeluarkan nada tertinggi yang bisa dicapainya, karena demi Tuhan, Kyungsoon mengucapkan semua kalimat itu dengan sungguh lembut dan tulus sekali. Kali ini Kyungsoo tahu, gadis itu tak sedang berakting. Ingat, mereka berdua memiliki telepati yang sulit dijelaskan bagaimana cara kerjanya. Namun yang pasti, Kyungsoo tahu kapanpun Kyungsoon sedang berakting ataupun tidak.
"Dimana alamat yang harus kita tuju? Apakah jauh? Tidakkah kau akan ketinggalan pesawat jika tidak ke bandara siang ini dan justru ke tempat itu? Kenapa kau tak bilang dari kemarin- kemarin bahwa kau ingin ke suatu tempat? Justru hari ini, hari keberangkatanmu." Tanya Kyungsoo beruntun.
Kyungsoon menampilkan ekspresi kosong.
"Aku perlu mempersiapkan diri untuk menghadapinya." Ujarnya dengan pelan, dan cukup dengan mengatakan itu saja Kyungsoon langsung mengangguk paham.
Mungkin karena selama ini kita jarang melihat kedua orang ini berinteraksi. Namun kita harus selalu menyadari, kapan pun saudara kembar Do ini berbicara berdua. Mereka bukan hanya berbicara dengan mulut mereka. Namun juga dengan hati mereka. Kyungsoo tahu apapun yang Kyungsoon rasakan, begitu juga sebaliknya.
Karena itulah dulu... saat mereka berdua bertengkar hebat. Kyungsoo merasakan sakit yang lebih dalam, karena dirinya dengan jelas ikut merasakan bagaimana kebencian Kyungsoon terhadap dirinya.
Namun ayo kita lupakan hari itu. Karena sekarang, Kyungsoo sendiri yang merasakan perasaan rindu, sayang, dan bersalah yang Kyungsoon rasakan untuk dirinya. Bagi Kyungsoo yang merasakan langsung emosi dan rasa bersalah tulus milik adiknya, semua itu sudah lebih cukup untuk membuatnya memaafkan adiknya itu.
"Lagipula tempat itu tak jauh. Tempat itu di Mansion ini. Di lantai 2. Jadi ayo.. kita turun ke lantai bawah." Ujar Kyungsoon, lalu selanjutnya menyambar tangan kanan kembarannya, membawa mereka berdua melewati lorong lantai 3 tempat asrama pekerja Mansion Byun ini dengan langkah cepat.
"Hei.. kenapa terburu- buru." Ujar Kyungsoo yang menyelaraskan langkahnya dengan Kyungsoon, menuruni tangga spiral Mansion Byun dengan cepat.
Dengan langkah mantap dan ingatan akan denah Mansion Byun yang sudah di luar kepala hasil pengalamannya yang bekerja sebagai Maid. Kyungsoon memimpin jalan keduanya menuju bagian kiri lantai 2 Mansion Byun.
Kyungsoo benar- benar tak memiliki gambaran apapun akan kemanakah gerangan tujuan mereka berdua.
"Kita kemana?" Tanyanya, sambil melihat bahwa mereka baru saja melewati ruang Teater.
"Studio Lukis, dan galeri lukisan milik Mansion Byun." Jawab Kyungsoo begitu saja.
"Kenapa kita kesitu?" Tanya Kyungsoo tak mengerti.
Namun Kyungsoon tak menjawabnya, karena keduanya telah berada didepan ruangan yang Kyungsoon maksudkan. Dan tepat didetik setelah pintu ruangan itu Kyungsoon buka. Mulut Kyungsoo secara otomatis langsung terbuka lebar memandang lukisan didalamnya.
"Ini..." Kyungsoo kehilangan kata- kata.
Dilain pihak Kyungsoon justru tampak tenang. Gadis itu mengangguk seakan menyetujui apa yang Kyungsoo pikirkan. Sudah dibilang, kedua anak kembar ini berkomunikasi dengan keintiman yang hanya mereka saja yang memahaminya. Tanpa Kyungsoo berkata- kata, Kyungsoon sudah tahu. Begitu juga sebaliknya.
"Ini semua adalah lukisan milik Ayah. Tuan Muda Byun ternyata, selama ini, selama berpuluh- puluh tahun, memperbolehkan Ayah menggunakan ruangan ini agar bakat melukisnya dapat disalurkan." Ujar Kyungsoon dengan suara datar.
Namun Kyungsoo langsung menatap dalam wajah saudara kembarnya itu. Karena, tak seperti wajah Kyungsoon yang minim ekspresi. Hati gadis itu terasa berkecamuk dan sesak. Kyungsoo merasakannya, dan sekarang itu mempengaruhinya.
"Kau ingin menangis lagi?" Tanya Kyungsoo.
Kyungsoon menggeleng. Dan sukses membuat ekspresi Kyungsoo ikut menggelap.
Kyungsoo mengalihkan tatapannya ke seluruh lukisan yang tertempel di dinding dan beberapa yang di taruh di stand kanvas yang berjejer rapi. Rasanya seperti masuk dalam galeri.
Secara garis besar semua lukisan itu sama. Itu semua adalah potret. Tuan Do selama ini selalu melukis wajah- wajah orang yang disayanginya. Dan sebagian besar seluruh lukisan itu berisi wajah si kembar. Dan beberapa adalah lukisan istrinya.
Semua lukisan itu tampak seperti buku diary. Karena semuanya seperti berjalan bersama waktu, mulai dari lukisan Kyungsoo dan Kyungsoo saat kecil, hingga akhirnya mereka dewasa dengan tampak Kyungsoon yang tersenyum menggunakan baju Maidnya, serta ada lukisan lain yang menampilkan Kyungsoo yang sungguh memukau di atas panggung konsernya.
"Ini menakjubkan, aku kira Ayah hanya berbakat dalam hal memasak. Dan hal itu menurun padaku. Ternyata Ayah menyukai seni lukis potret, portrait paintings!! Dan bakat itu menurun padamu Soonnie, lihatlah bagaimana kau terus memotret Tuan Muda Byun. Benar- benar, tanpa perlu tes DNA sudah ketahuan bahwa kita adalah keluarga." Komentar Kyungsoo sambil terus menatapi satu persatu lukisan disitu dengan perasaan takjub yang membuncah.
Namun detik selanjutnya Kyungsoo tersadar akan sesuatu.
"Ah! Kau tadi bilang, ingin memberitahukan rahasia yang disimpan oleh Ayah dan Ibu, maksudmu adalah studio lukis ini?" Tanya Kyungsoo memastikan, dan betapa terkejutnya Kyungsoo saat melihat Kyungsoon menggeleng sebagai jawaban.
"Lalu?" Tanya Kyungsoo.
Dan kemudian tanpa menjawab Kyungsoon justru meraih pergelangan tangan Kyungsoo. Lalu membawa sang kembaran menuju ujung galeri. Dan keduanya berhenti didepan sebuah lukisan. Kening Kyungsoo mengerut, melihat lukisan itu di tutup oleh kain putih. Lukisan itu berdiri sendiri di atas standnya. Tampak jauh dari lukisan yang lain.
Dan mata bulat Kyungsoo semakin melebar, tepat setelah Kyungsoon berhasil menyingkirkan kain putih yang menghalangi lukisan tadi.
"I-Ini... Itu... Kita?" Tanya Kyungsoo dengan napas terengah. Kyungsoon merasakannya, jantung Kyungsoo yang bertalu- talu hingga terasa sakit.
Kyungsoo tak perlu jawaban. Hanya dengan melihat mata Kyungsoon yang sudah mulai berair dan gadis itu yang sekarang langsung terduduk sambil menangis sesegukan sudah lebih dari cukup untuk memberikannya jawaban.
Dengan napas yang terasa pendek- pendek. Kyungsoo kembali menatap ke depan, tampak didepannya, sebuah lukisan potret dengan tingkat realitas yang sungguh menakjubkan. Memberikan pemandangan akan dua orang bayi yang tengah tertidur tanpa baju di atas ranjang bayi yang cukup besar untuk menampung keduanya.
Namun yang menjadi tak biasa adalah, masing- masing kanan dan kiri antara dua bayi itu. Tak memiliki jarak. Menyatu. Keduanya berbagi badan.
Kyungsoo langsung merasa seluruh dunianya berputar dengan dirinya saja satu- satunya yang berdiri tegap. Memusingkan.
"Apa ini?", pikirnya.
"Bukankah kita saudara kembar beda 30 menit? Aku lebih dulu baru dirimu? Itu.. yang Ibu, katakan..." Suara Kyungsoo semakin dan semakin mengecil disetiap katanya.
Kyungsoon yang sudah berurai air mata. Langsung bangkit berdiri, mendatangi saudara kembarnya itu, lalu dengan tergesa menyingkap kaus putih longgar yang Kyungsoo kenakan, dan terlihat disana, di sisi kiri tubuh Kyungsoo terdapat bekas luka yang sangat lebar. Tak akan pernah hilang walau dimakan waktu.
"A-AKU! AKU KIRA ITU BEKAS LUKA YANG AKU DAPAT SAAT KECIL! AKU TAHU KITA PERNAH DICULIK MESKI AKU TAK INGAT KEJADIANNYA. SEHINGGA AKU KIRA LUKA INI KUDAPATKAN SAAT KEJADIAN ITU. AKU BAHKAN TAK PERNAH MAU MEMBUKA BAJUKU UNTUK FANS- FANSKU MESKI BENTUK ABS MILIKKU SEMPURNA KARENA AKU MALU AKAN LUKA INI. AKU TAK TAHU TERNYATAAA!! TERNYATAAA" Kyungsoo berteriak panik sambil menghalangi tangan Kyungsoon yang terus ingin membuka baju miliknya.
Dan seluruh teriakan Kyungsoo menghilang setelah Kyungsoon kembali memberikannya pelukan hangat. Pelukan paling hangat yang pernah Kyungsoo rasakan seumurhidupnya. Kyungsoo merasa dirinya langsung terasa lengkap dan melegakan? Dirinya seperti menemukan sebuah bagian yang selama ini hilang.
"Astaga..." Bisik Kyungsoo.
"Hiks.. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku akan segalanya. Maafkan aku Kyungsoo. Akan rasa iriku, akan rasa tak percaya diriku, perasaan benciku, obsesiku, segalanya.. tolong maafkan aku Kyungsoo. Karena aku.. Aku.. Aku telah tak sanggup untuk memaafkan diriku sendiri." Kyungsoo ikut memeluk saudari kembarnya itu dengan erat. Kali ini dengan sangat erat.
Dan dengan perlahan tangan kanan Kyungsoo turun dan berhenti di sisi kanan tubuh Kyungsoon. Terasa bergetar meremas baju bagian kanan Kyungsoon.
"Izinkan aku..." Sebelum Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya Kyungsoon telah lebih dulu mengangguk, telepati anak kembar.
Setelah mendapat persetujuan, dengan perlahan Kyungsoo menyingkap bagian kanan blouse biru yang Kyungsoon kenakan. Memasukkan tangannya ke dalam baju saudari kembarnya sendiri. Dan tangan Kyungsoo terasa sungguh dingin dan menyetrum bertemu dengan tubuh hangat Kyungsoon.
DEG
Rasanya jantung Kyungsoo jatuh ke tanah. Merasakan bagian kulit Kyungsoon yang timbul dan membentuk pola tak teratur panjang pada bagian epidermis. Ciri khas bekas luka serius pada kulit.
"Ya Tuhannn.." Bisik Kyungsoo dengan suara rendah, kemudian meraup tubuh mungil kembarannya dalam pelukan yang ternyata masih bisa lebih erat lagi.
"Aku kira kita hanyalah saudara kembar tak normal yang terlalu sensitif satu sama lain sehingga kita berbagi emosi. Ternyata kita memang kelainan sejak awal." Ujar Kyungsoo, lalu mengecup ujung kepala saudari kembarnya.
"Ini.. ini menakjubkan Kyungsoon! Kita pernah berada dalam satu tubuh! Kau adalah aku dan aku adalah dirimu!" Kyungsoo melepaskan pelukan mereka, menangkup wajah penuh air mata milik Kyungsoon lalu mengecup bibir kembarannya itu berulang kali. Sukses membuat sang kembaran berhenti menangis dan menampilkan wajah terkejut. Kyungsoo terkekeh melihat itu, lalu kembali membawa saudari kembarannya ke dalam sebuah pelukan penuh kasih sayang.
Bug!
Kyungsoon memukul punggung Kyungsoo dengan kepalan tangannya.
"Itu ciuman pertamaku bodoh!!" Teriaknya kesal namun terdengar lucu karena gadis itu berteriak sambil menangis sesegukan bak anak kecil.
Kyungsoo tertawa dibuatnya.
"Adududuh.. berhentilah menangis belahan jiwaku." Ujar Kyungsoo menggoda saudari kembarnya.
"Tidak lucu!!!" Teriak Kyungsoon kesal, seraya mendorong kasar tubuh Kyungsoo untuk menjauh dari dirinya. Pelukan keduanya terlepas begitu saja.
"Hiks.. apa kau tahu seberapa besar aku membenci diriku sendiri sekarang karena aku telah menyakitimu. Menyakiti Tuan Muda dan kekasihnya. Memberikan malu untuk keluarga Do yang selama ini telah dibantu banyak oleh Tuan Muda Byun? Aku bahkan tak sanggup untuk bertemu dengan Ayah sekarang. Aku sungguh malu untuk bertemu dengannya." Kyungsoon mengucapkannya dengan sungguh cepat dan suara yang telah serak.
"Aku.. aku selama ini iri padamu. Kau berbakat. Kau istimewa. Ayah yang sibuk selalu menyisakan waktunya untukmu. Di salon ibu bahkan penuh dengan foto milikmu, dia selalu membanggakan pada semua pelanggannya bahwa dia adalah Ibu dari Idol dan Aktor D.O , dan apa kau tahu? Setiap Ibu ke Mansion Byun untuk menjadi stylist Tuan Byun, dia selalu membicarakan dirimu sambil memberikan makeup pada wajah Tuan Muda. Padahal saat itu ada aku yang sedang memilihkan tuxedo untuk Tuan Muda, Ibu bersikap seakan aku tak terlihat olehnya."
"Semuanya serba dirimu. Tuan Muda Byun juga lama- lama lebih dekat denganmu. Semuanya selalu memihak dirimu. Meski aku lembut, baik, dan selalu tersenyum, semuanya selalu menganggap aku jahat. Aku tak berharga. Aku tak ada gunanya. Aku tak berbakat. Aku adalah angsa hitam di antara angsa putih, aku adalah satu- satunya bagian keluarga Do yang tak berbakat." Kyungsoo mendengarkan semuanya dengan wajah lembut dan penuh perhatian. Kedua tangan Kyungsoo menangkup kedua pipi saudari kembarnya, dan sesekali menyeka air mata Kyungsoon yang terus mengalir, terkadang menyelipkan rambut hitam panjang Kyungsoon yang jatuh ke wajah cantik saudara kembarnya itu.
"Aku.. Aku hanya ingin disayang Soo! Apakah itu permintaan sulit? Aku tak berharap banyak, perhatian yang sedikit saja sudah cukup bagiku. Bahkan bila itu untuk basa- basi saja sudah lebih dari cukup. Tapi kalian tak pernah memberikannya, kalian semua sibuk, selalu sibuk. Aku selalu sendiri. Aku yang sendiri terus memakan diriku yang membenci diriku sendiri. Aku termakan oleh jiwaku sendiri. Aku hancur didalam sana Soo. Menyakitkan untuk selalu hidup sendirian."
"Dan saat kalian semua tak ada. Tuan Muda Byun selalu datang padaku. Dia yang sungguh hangat dan penuh kasih sayang membuatku buta dan ingin memilikinya. Dan... dan.. saat Chanyeol datang, itu membuatku panik. Aku seakan kehilangan satu- satunya pegangan hidupku. Tuan Mudalah satu- satunya yang aku miliki. Chanyeol mendapatkan Tuan Muda dengan sungguh mudahnya. Tak adil sekali... itu yang aku pikirkan, rasakan... saat itu."
"Itulah yang membuatku melakukan semua itu Kyungsoo. Aku ingin jumlah orang- orang yang mencintaimu berkurang dan aku ingin Chanyeol pergi dari Tuan Muda. Karena itulah aku melakukan itu. Mirisnya, saat aku menjadi jahat pada semua orang, saat itulah semua orang memberikan perhatian mereka padaku, dan mirisnya lagi, aku... menikmatinya."
Kyungsoo terkejut saat tiba- tiba Kyungsoon mendongakkan kepalanya. Membuat mata mereka berdua bertemu. Dua pasang mata bulat itu langsung terhubung begitu saja.
Dan tanpa terasa, air mata Kyungsoo ikut jatuh saat mendengar perkataan Kyungsoon selanjutnya.
"Bagaimana ini Kyungsoo? Aku menikmati saat orang lain membenciku. Apakah aku memang setidak berharga itu, bahkan bagi diriku sendiri? Diriku bahkan merasa, seorang Do Kyungsoon itu, pantas untuk dibenci."
Dengan kaku dan bergetar Kyungsoo menggeleng. Lalu diikuti gelengan kepala panik yang sungguh cepat dan berulang.
"OMONG KOSONG!! Tidak! Kau tidak seperti itu, siapa yang mengizinkanmu membuat kesimpulan seperti itu!"
Kyungsoon menutup matanya, menghindari murka Kyungsoo yang sekarang berteriak tepat didepan wajahnya.
"Do Kyungsoon. Buka matamu!"
Secara otomatis gadis itu membuka matanya, kembali bertemu dengan mata bulat lain yang persis dengan miliknya.
"Kau punya aku. Kau punya Ibu. Kau punya Ayah. Dan kami punya dirimu. Itulah keluarga. Kau adalah putri satu- satunya keluarga Do yang paling berharga. Kau kira untuk apa Ayah bekerja siang malam heh? Kau kira untuk apa Ibu bekerja tanpa lelah? Kau kira untuk apa aku yang telah berlatih keras sejak dini dan sudah mencari uang sejak aku muda heh? Aku bahkan tak benar- benar merasakan masa sekolahku."
"Itu semua untuk dirimu."
"Kami semua tahu bahwa kau lebih lambat belajar daripada diriku. Kami semua tahu bahwa kau masih belum menemukan apa minat dan bakatmu. Karena itulah kami bersiap untuk waktu dimana kau sudah menemukannya. Kyungsoon, meski kita bekerja di bawah naungan Keluarga Byun yang kaya raya. Kita ini miskin. Dulu Ayah hanyalah koki biasa. Dan Ibu bahkan belum menjadi stylist Tuan Muda. Aku bahkan kerja sambilan untuk membayar les vocal yang sungguh mahal. Kami semua menabung Kyungsoon. Untukmu."
"Untuk jalan menuju mimpimu suatu saat nanti. Itulah yang kami pikirkan."
"Kami tak peduli bila kau tak berbakat. Kau punya kami. Bakat akan dihasilkan dari kerja kerjas. Namun suatu kerja keras juga tak akan cukup. Kau memerlukan modal. Aku bahkan hampir tak lulus SMA karena keluarga kita tak punya uang untuk biaya sekolah langsung dua orang anak dirimu dan diriku, lalu aku ingin memilih langsung debut saja Kyungsoon. Aku ingin cepat bekerja. Namun Tuan Muda Byun melarangku, hiks.. dia memberikanku beasiswa. Katanya.. katanya.. bila aku merasa menerima beasiswa itu memberatkan, aku bisa membayarnya lagi setelah aku sukses menjadi Idol."
"Hiks.. Aku tak ingin kau merasakan hal itu. Merasakan bagaimana sulitnya mencari uang dan belajar sambil memikirkan seluruh tagihan kehidupan. Karena itulah aku.. hiks.. terus bekerja... aku pikir... itu demi dirimu. Demi kebahagiaanmu."
"Tapi... ternyata kau tak bahagia."
"Maafkan aku Kyungsoon. Maafkan saudara kembarmu ini. Kau pasti selama ini sangat kesepian. Harusnya karena kita lahir bersama, kita harus hidup bersama- sama. Beriringan. Aku selama ini mengira kau yang menghindariku, ternyata akulah yang tanpa sadar berlari semakin menjauh darimu. Kau selama ini menungguku dalam diam, namun aku mengabaikan dirimu."
Rasanya saluran airmata Kyungsoon telah jebol, entah bagaimana caranya aliran liquid asin itu semakin semakin deras saja mengiringi setiap perkataan Kyungsoo.
Dengan perlahan Kyungsoon mendekatkan dirinya. Menarik pelan namun kuat kerah kaus yang Kyungsoo pakai. Dan Kyungsoo yang mengerti apa keinginan saudarinya, tanpa perlu terucap secara lisan. Dengan perlahan namun pasti Kyungsoo ikut mendekatkan wajahnya kepada Kyungsoon.
Dua pasang mata bulat itu dengan kompak menutup secara perlahan.
Hingga akhirnya dua bibir identik dengan bentuk love yang indah itu menyatu.
Awalnya hanyalah kecupan polos. Kemudian berlanjut dalam pagutan- pagutan penuh rasa asin akibat tangis. Dan ciuman itu terus berlanjut hingga keduanya mulai merasakan napas menjadi sesak dan beradu napas satu sama lain. Namun masih tak ada yang berniat mengakhirinya, Kyungsoon memagut bibir saudara kembarnya dengan lebih dalam, dan Kyungsoo membalasnya dengan pagutan yang sama. Itu terus berlanjut hingga keduanya merasa oksigen diparu- paru sudah tak bersisa lagi.
Ciuman canggung namun menggebu itu diakhiri dengan Kyungsoon yang lebih dulu menarik dirinya dari pagutan bibir Kyungsoo. Lalu Kyungsoo merespon itu dengan memberikan beberapa kali kecupan manis yang sungguh basah dan dalam, dan kemudian menyatukan kening mereka berdua.
Keduanya nampak terengah. Napas menerpa wajah orang dihadapan mereka dengan hawa napas yang keluar dari mulut yang terbuka, bersahutan dengan frekuensi setara seperti orang habis berlari. Lengkap dengan bibir keduanya yang tampak mengilap.
"Kyungsoon, aku mencintaimu."
Dan, untuk pertama kalinya, setelah sekian lama. Kyungsoon menampilkan sebuah senyuman. Senyum tulus tanpa rekayasa. Terlihat sangat cantik dan damai. Seraya membuka matanya, Kyungsoon tersenyum dengan lebih lebar.
Kedua pasang mata bulat itu kembali bertemu. Kali ini dengan penuh damai. Penuh sayang. Penuh kasih. Penuh rindu. Penuh perhatian yang selama ini tak tersampaikan.
Kyungsoon menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu. Kau saudara kembar terbaik yang ada didunia ini. Aku beruntung, karena bahkan sejak didalam perut Ibu, aku punya kau yang menemaniku. Aku mencintaimu Kyungsoo. Sangat. Aku rasa aku merasa kesepian karena aku terbiasa ditemani oleh dirimu, sejak diriku belum lahir."
Kyungsoo membalas pelukan saudari kembarnya.
"Aku juga beruntung memilikimu. Bahkan sebelum diriku lahir." Balasnya.
Keduanya terus berpelukan dalam hening yang nyaman, menikmati momen- momen terakhir sebelum sang saudari kembar akan pergi jauh memperjuangkan mimpi yang baru saja tercipta. Dan sekarang, mimpi Kyungsoon menjadi mimpi Kyungsoo juga.
Meski tanpa dikatakan, keduanya tahu, keduanya merasakannya, bahwa... mereka berdua telah memutuskan, untuk mendukung dan berada disisi satu sama lain dalam keadaan apapun dan sampai kapanpun.
Sudah cukup semua persaingan antar saudara kembar yang selama ini mereka lakukan.
"Saat aku sudah menjadi fotografer profesional nanti. Aku akan bergabung bersama perusahaan majalah paling terkenal. Dan saat itu, kau harus menjadi model majalah disana, jadi aku bisa memotretmu. Kau sudah sukses menjadi Idol dan Aktor, kenapa tak sekalian menuju dunia modeling juga. Kau pasti bisa, karena kau adalah Do Kyungsoo." Kyungsoon mengatakan itu semua dengan suara lembut nan manja, seperti seorang adik kepada kakaknya. Padahal kenyataannya, mereka berdua lahir persis didetik yang sama.
Kyungsoo terkekeh hangat.
"Baiklah... kau juga pasti bisa, karena kau adalah Do Kyungsoon." Balas Kyungsoo.
Keduanya menjadi terkekeh. Masih terus berbagi pelukan hangat sambil membicarakan rencana dan mimpi- mimpi mereka berdua suatu hari nanti.
...
...
..
.
- Flashback -
- Sehari setelah kembalinya Baekhyun ke Seoul dari Jeju untuk mengurus Skandal Chanyeol dan Kyungsoo -
Xiumin mengerutkan keningnya saat Baekhyun menyuruhnya menyiapkan hukuman untuk Kyungsoon yang ternyata sesederhana ini.
"Baek, apa menurutmu ini tak terlalu bermurah hati? Setidaknya kita masukkan gadis itu ke penjara selama setahun. Dia sudah mencemarkan nama baik banyak orang. Dan kita rugi miliaran karena tindakan kekanakannya itu Baekhyun." Tanya Xiumin sambil menatap Baekhyun yang sedang bekerja dengan kecepatan mengerikan didepannya.
"Dia tak sabar ingin kembali kepada Chanyeol di Jeju." Pikir Xiumin menanggapi pemandangan Baekhyun yang dipenuhi berkas- berkas didepannya.
"Tidak. Hukuman itulah yang paling pas, memangnya aku sekejam itu memenjarakan gadis umur 19 tahun karena kelakuan kekanakan seperti yang kau bilang." Tanggapan Baekhyun dengan acuh tak acuh, lebih fokus kepada banyaknya hitungan- hitungan rumit untuk mengembalikan saham miliknya itu.
"Well, kau memenjarakan beberapa orang yang membuat komentar negatif untuk Chanyeol." Balas Xiumin mengungkapkan fakta, namun tak terlalu akurat. Xiumin tak tahu hal ini karena Baekhyun memerintahkan Chen yang mengurusnya.
"Aku tak memenjarakan satupun fans Kyungsoo yang sedang marah karena skandal itu Xiu. Namun aku menuntut beberapa media yang menyebarkan rumor yang memperkeruh skandal yang sudah ada dan membuat dampak negatif untuk perusahaan kita, banyak media itu ternyata dibayar oleh saingan bisnis kita. Dan.. mengenai komentar- komentar negatif itu, semuanya ternyata berasal dari akun palsu, ada orang yang sengaja memanaskan skandal Chanyeol dan Kyungsoo dengan membuat tim yang dibayar juga untuk membuat komentar- komentar jelek dan menghancurkan nama Chanyeol dan Kyungsoo. Mereka ingin mempengaruhi opini publik. Kau tahu saja media- media mana yang aku tuntut karena kau yang mengurus bagian itu. Dan mengenai orang yang membuat komentar jahat itu. Nah.. aku sudah menangkap serta menghukum si otaknya, biang masalahnya."
"Aku tak selamanya ingin mengurung dia di kantor polisi, tenang saja, aku sudah memerintahkan Tuan Kim Jongdae untuk membawa anak itu ke hadapanku sore ini." Ujar Baekhyun dengan suara lancar dan jelas, tak terlihat kesulitan sama sekali padahal disaat yang sama si Tuan Muda itu terus bekerja.
"Dia monster. Bukan manusia." Pikir Xiumin yang terkadang merasa ngeri akan bakat Baekhyun yang seakan tanpa batas. Tuhan terkadang terasa tak adil bagi Xiumin, dirinya bukan jenius seperti Baekhyun meski orang- orang menyebut mereka berdua itu setara, namun menurut Xiumin dirinya cerdas dan rajin belajar, berusaha untuk membuat dirinya setara dengan Baekhyun dan Chen. Namun entah kenapa terkadang tetap terasa juga perbedaan kemampuan dirinya dan dua orang jenius itu.
"Siapa gerangan anak malang itu?" Tanya Xiumin sambil ikut membantu Baekhyun mengerjakan pekerjaannya.
"Teman dekat Kyungsoon. Zhang Yixing namanya, dia adalah trainee BBEnt. Dia juga yang sudah memotret setiap momen Chanyeol dan Kyungsoo di gedung BB Ent, dia seorang trainee disana, tentunya mudah untuk masuk kesitu, tak seperti sasaeng biasanya." Jawab Baekhyun dengan ringan.
Berbeda dengan Xiumin, pria itu sudah melebarkan matanya.
"Kyungsoon lagi??? Sebenarnya sejauh apa hal yang sudah gadis itu lakukan, tak ada habisnya. Astaga Baekhyun, hukuman yang kau siapkan ini kurang pantas untuknya. Terlalu ringan. Dia bahkan menyadap ruang kerjamu dan membuat kita bekerja di perpustakaan seperti ini. Sampai sekarang aku bingung dimana gadis itu bisa mendapatkan alat sadap. Dia baru 19 tahun, tapi cara kerja otaknya sungguh mengerikan."
Tanpa diduga, Baekhyun justru menghentikan pekerjaannya. Menghadapkan wajahnya ke arah dimana Xiumin berada.
"Aku bilang, itu hukuman yang paling pas. Jangan meragukannya. Bila aku tak melakukan hal itu dan justru memenjarakan gadis itu begitu saja, hal itu hanya akan menjadi tindakan yang sia-sia. Aku ingin menyadarkan dia, bukan menyakitinya. Dan kita berdua tahu bahwa menyadarkan orang lain bahwa perilakunya salah itu lebih sulit daripada menghukumnya. Orang- orang salah biasanya tak sadar bahwa mereka itu salah. Seperti yang kau bilang, dia baru 19 tahun, nah karena itulah tugas kita yang katanya lebih dewasa ini untuk mengajarinya. Mana yang benar, mana yang salah. Anak itu sedang kehilangan arah karena tak ada yang mengajarinya. Bila seorang anak salah itu harusnya diperingatkan, bukan dihukum, lalu di ajari bagaimana caranya agar dia mempertanggung jawabkan kesalahannya. Memangnya uangku akan kembali bila aku memenjarakannya? Jawabannya tidak tentu saja. Lebih baik aku memperbaiki dia, lalu mengolah dia menjadi kaya serta berguna, jadi setidaknya suatu saat nanti dia akan menganti kerugian uangku ini, dengan memang berupa uang, atau dengan bakatnya."
Xiumin meneguk ludahnya gugup, Baekhyun sedang kesal. Dia akan sangat cerewet saat sedang kesal. Walau sebenarnya terbesit rasa takjub sekaligus ngeri akan bagaimana Baekhyun mengolah sebuah kebaikan menjadi benar-benar berguna untuknya nanti. Memberi kebaikan akan membuat kebaikan itu kembali padamu, istilahnya.
"Xiumin.." Panggil Baekhyun dengan suara dingin, dan Xiumin langsung menyahut dengan cepat. Takut mengundang kekesalan Baekhyun yang lebih besar lagi. Bukannya takut dipecat (itu hampir tak mungkin), Xiumin hanya takut Baekhyun merajuk hingga tak ingin bekerja lagi, lalu melimpahkan semua masalah perusahaan padanya, maaf saja Xiumin sudah punya janji makan malam bersama Chen besok malam.
"Aku hanya tak ingin membuat Kyungsoon berubah menjadi Sunmi kedua. Cukup satu maid saja yang berakhir hancur karena hitamnya hati dan iri dengkinya. Aku ingin menyadarkan gadis itu sebelum terlambat. Karena bila dia terus berada dalam pola pikir seperti itu, tak akan menghasilkan apa- apa selain kehancuran dirinya sendiri. Aku sudah berjanji pada Tuan Do untuk menyelamatkan dan menjaga putra putrinya bila kedua anak itu berada dalam bahaya. Keluarga Do berada dibawah naungan keluarga Byun, dan akulah satu- satunya Byun sekarang, kalau bukan aku yang melindungi mereka maka siapa lagi, gadis itu beruntung aku akan selalu melindunginya karena marga Do didepan namanya. Aku memaafkannya kali ini, karena aku memandang persahabatanku bersama Ayahnya, Ibunya, dan Oppanya yang sudah lama terjalin."
Xiumin akhirnya manggut- manggut setuju tak ingin membantah ataupun protes lagi. Lebih tepatnya tak ingin mengganggu konsentrasi Baekhyun dalam bekerja lagi.
"Benar kata Paman Dae, kau berbicara seperti orangtua bila sudah membahas tentang keluarga Do. Aku beberapa kali melihatmu mengelus rambut Kyungsoon dengan sayang, malangnya gadis itu yang memerah malu untuk hal seperti itu, padahal kau memperlakukannya seperti itu karena kau menganggap dia seperti anak perempuanmu. Well, bila bukan dirimu yang mengirimkan 100 bodyguard untuk menghancurkan tempat para rentenir yang menculik Kyungsoo dan Kyungsoon, lalu menyuruh Paman Dae untuk melempar ratusan juta uang ke wajah bos mereka begitu saja 16 tahun lalu, kedua anak itu hanya Tuhan yang tahu bahwa mereka masih hidup atau tidak sekarang. Tuan Do juga sudah menyerahkan seluruh potensi yang ada pada anak- anaknya itu padamu karena kaulah penyelamat mereka. Secara teknis mereka berdua memang milikmu. Anak-anakmu."
Baekhyun menaikkan sebelah alisnya.
"Kau sedang mengejekkukan? Secara halus kau bilang aku ini tuakan? Sadarkah kau bahwa aku lebih muda dua tahun darimu, Hyung." Tuduhnya begitu saja, dan tepat sasaran. Xiumin terkekeh geli setelah mendengar tuduhan Baekhyun.
Baekhyun menghela napas sabar, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang sebenarnya tak bisa ditunda sedetikpun.
"Kau benar. Selama ini tanpa sadar aku menganggap Kyungsoon seperti anak kecil umur 4 tahun. Persis seperti pertama kali kami bertemu. Aku awalnya tak percaya bahwa anak yang aku selamatkan itu sekarang sudah bisa jatuh cinta. Terlebih lagi akulah pria yang dicintainya. Sungguh cinta pertama yang berakhir dengan kemalangan. Dia selamanya hanya seperti anak kecil bagi- "
Baekhyun tak melanjutkan perkataannya karena dirinya mendengar bagaimana memburunya helaan napas Xiumin sekarang.
"Kau kenapa?" Tanya Baekhyun meski dirinya sudah mengetahui alasan Xiumun seperti itu.
Terdengar Xiumin menggerang frustasi.
"Astaga.. kata- katamu tadi itu persis seperti yang sering Paman Dae katakan padaku. Oh malangnya Kyungsoon. Aku tahu bagaimana sakitnya dianggap anak oleh pria yang aku cintai. Sungguh membuat trauma. Aku kesal hanya dengan mendengar kalimat seperti, 'Bagiku kau seperti anak kecil.' , 'Kau itu anakku.' , 'Aku tak mencintaimu seperti dua orang dewasa, namun seperti orangtua kepada anaknya.'" Xiumin mengungkapkan semuanya dengan suara heboh, mengeluarkan seluruh emosi yang tertinggal akan pengalaman menyakitkan masa lalu.
Tanpa diduga Baekhyun justru terkekeh lalu tersenyum lebar. Astaga... ada- ada saja Sekretarisnya itu.
"Sudahlah Xiu, bukankah sekarang Tuan Kim sudah mengakui bahwa dia mencintaimu?" Tanya Baekhyun dengan nada penghiburan.
Tanpa diduga Xiumin justru menghela napas lelah. Lalu menampilkan wajah cemberut.
"Tidak Tuan Muda." Baekhyun mengerutkan keningnya mendengar Xiumin yang menjadi formal.
"Tuan Kim Jongdae memang sudah menerima saya. Namun beliau belum mengatakan bahwa dirinya mencintai saya."
Baekhyun membelalakkan matanya.
"APA?!!"
.
.
.
.
TBC
.
.
AN :
Hallo~ Momo disini (Ini nama asli lo.. jadi sebenernya kemarin agak takut untuk bilangnya. Pengen jadi anonim aja. Gak mau orang tau aku siapa ahaha)
Eh kalau saudara kembar ciuman itu incest gak sih?
Momo bereksperimen dalam chapter ini, ingin menulis adegan saudara kembar ciuman tanpa membuat para pembaca menyangkutkan hal itu dengan hal seksual. Jadi... kalian ngerasa apa saat ngebaca kissing scene Do bersaudara?
Momo tuh pengen aja ngebuat saudara kembar yang bebas mengekspresikan emosi mereka tanpa embel- embel dan ketakutan kalau mereka dituduh cinta sedarah. Atau baper sama saudara sendiri, atau brother sister complex, atau apapun semacam hal itu.
Well, entah mungkin aku aja yg terlalu berpikiran terbuka, tapi aku mikirnya, it is the finest think if they are kissing in that situation. Terkadang ekspresi tubuh lebih jujur daripada ucapan bukan?
Mungkin ada beberapa dari kalian yang merasa itu udah keterlaluan sebagai saudara ya?
Tapikan mereka cuma ciuman, bukannya mereka making love atau apa kan? That is just A KISS. Ciuman polos yang bahkan lebih polos daripada ciuman pertamanya sepasang cinta pertama.
Mirip kaya dua balita ciuman bibir ituloooo
Ciuman antara dua saudara yang Jiwanya selama ini kepisah dan akhirnya menemukan arti diri mereka untuk satu sama lain lagi.
Gak ada rasa seksual disana.
Ingat, di cerita ini, Idol D.O is Gay. Dia gak ngerasa ketertarikan seksual kepada cewe manapun. Dan bisa dibilang Kyungsoon adalah cewe pertama yg dia cium dan akan menjadi satu- satunya. Dan Mantan Maid Kyungsoon itu cinta mati sama Tuan Muda Byun mantan majikannya.
Itu ciuman cinta kasih antar saudara, perasaan sayang yang membuncah untuk saudara kembar mereka.
Gitusih menurutku.. gak papa juga kalau kalian pendapatnya lain. Kalau ada yang merasa gak nyaman sama adegan itu, Momo minta maaf.
Oh ya, satu lagi, aku milih kata Aku cinta kamu. Bukannya Aku sayang kamu. Karena aku pengen rasa cinta mereka emang sedalam itu. Gak sekedar sayang- sayangan, pengennya CINTA BANGET, gitu :D
Toh kalau dalam bahasa inggris sama2 I love you. Kekeke.
Momo ngetik ini di kantor dengan segelas kopi. Jadi, ada yg ngerasain pahit asam kopinya dalam tulisan aku gak? :D Sumpah mumet banget sama kerjaan (Tentunya FF ini menjadi obat dari segala lelah) Andaikan sang Direktur itu kaya Tuan Muda Byun yang gak pernah ngasih lembur.
SPOILER : CHAPTER SELANJUTNYA SIAPIN TISU UNTUK MIMISAN. KARENA KITA BAKALAN MENERIMA MOMEN CHEN XIUMIN DAN SEHUN JIMIN. Humm.. untuk penawar pahitnya dua chapter ini :D (Jujur yah, gak tau juga kenapa aku nulis FF banyak menye- menye dan nangisnya. Trus Chapternya banyak banget lagi kaya sinetron. Hadehh. POKOKNYA SEMANGATTT!! HARUS DITULIS SAMPE TAMAT.)
DAN!! untuk ceritanya ChanBaek... emmm.. Rahasia ehehe.
.
.
.
Tak akan pernah lupa, terima kasih kepada yang udah ripiyu, yaitu malaikat- malaikat dibawah ini :
wascbhs, fifakna, Ryu Cho, skyofbbh, aybeechan, ChanBaek09, BaekFlo, ameliya13, kenzoev, SehunSapiens, Puffy BaekBy, maya0411, Anita Tok.
Terima kasih kepada yang udah like and follow. Dan betapa bahagianya saya bila anda menshare cerita penuh dosa ini ke orang lain lagi :D
Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu diberkahi kepada kalian semua.
(Maaf kalau cerita ini updatenya lama ya)
Lets Love Eri!! /Bow
