Read My Music By GoodMornaing

.

.

.

Happy Reading

Chapter 34 : Pillow Talk with ChenMin

.

.

.

Akhir Musim Panas

- Kediaman Keluarga Kim -

- Beberapa minggu setelah ChanBaek putus, beberapa hari setelah Kyungsoon berangkat ke London, Inggris -

.

.

.

(Diharapkan kepada pembaca yang belum mencapai umur 17 tahun ke atas untuk menskip bagian awal chapter ini. Terima Kasih.)

.

.

.

Chen melempar kepalanya ke belakang, merasa pening akan hantaman nikmat yang diterimanya. Sedangkan diatasnya sekarang, seorang malaikat dengan bersemangat terus menaik turunkan dirinya sendiri. Dengan matanya yang sendu dan berkabut nafsu Chen memandang wajah Xiumin yang sudah tampak kacau dengan rambut yang basah sebab keringat, dan itu membuat rambut Xiumin terus menempeli pelipis dan sisi- sisi pipi chubbynya. Tampak menggemaskan dan menggairahkan disaat yang sama.

Chen menyeringai merasakan tempo gerakan Xiumin yang mulai melambat serta berantakan, kucing kecilnya mulai kelelahan.

Dengan tingkah luwes layaknya seorang profesional, Chen bangkit mendudukkan diri, secara otomatis membuat Xiumin berpangku padanya. Chen melingkari tubuh mungil Xiumin dengan kedua lengan kuatnya, menghentikan Xiumin dari gerakan naik turunnya yang sudah amburadul.

"Ssttt.. Sekarang Kucing kecil diam saja.." Bisik Chen tepat didepan bibir Xiumin yang terbuka, melahap bibir kecil itu beberapa kali, lalu melepaskan tautan bibir mereka, secara bersamaan dibawah sana Chen menarik pinggulnya, keluar dengan pelan membuat Xiumin melenguh merasakan pergerakan didalam dirinya yang sudah sangat sialan sensitif.

Namun detik selanjutnya, seakan Chen tengah menyeimbangkan porsi jatah lembut dan jatah kasar yang harus Xiumin terima. Berlawanan dengan sikap lembutnya yang tadi, Chen kembali memasuki Xiumin kali ini dengan sungguh dalam nan kasar, serta tempo cepat yang dapat membuat gila.

Dan sekarang ruangan itu dipenuhi oleh suara Xiumin yang sudah kebingungan untuk mengekspresikan friksi nikmat yang dirinya dirasakannya ini dengan cara bagaimana lagi. Terlalu sinting untuk dijelaskan.

Semakin cepat gerakan yang Chen lakukan maka akal Xiumin rasanya semakin hilang. Dirinya bahkan sudah tak ingat lagi siapa namanya, jam berapa saat ini, dan dirinya tengah dimana.

Semuanya tak lebih seperti kabut dikepalanya. Sungguh kabur.

Berbahaya... Xiumin merasa dirinya telah dikuasai instingnya sekarang.

Xiumin tahu dirinya adalah seseorang yang sungguh logikal, namun Chen... adalah satu- satunya hal tak logis bagi Xiumin. Dirinya sungguh tak dapat memberikan analisa, memberikan argumen, ataupun mencari kesimpulan mana yang paling relatif akan kenapa Chen bisa membuatnya merasa segila ini akan segala hal tentang pria itu.

Oh ini dia...

Xiumin hampir merasakan keberadaan gerbang terakhir kenikmatannya.

Cepatlah... Aku ingin cepat sampai kesana, adalah yang Xiumin gumamkan didalam hatinya.

"Ahhh.. Dae, hh lebih cepat.." Sebenarnya hampir mustahil rasanya bagi Xiumin untuk dapat mengucapkan satu kalimat itu. Dirinya menggunakan seluruh kekuatannya untuk menarik sedikit saja akalnya yang sedang tumpul untuk mencari kalimat sederhana di tengah jutaan perpustakaan kosa kata otaknya yang sudah terbakar api nafsu.

Chen pastinya tahu itu.

Dia harusnya tahu.

Chenlah yang paling mengerti bagaimana frustasi dan mendambanya Xiumin untuk sampai pada perjalanan akhir gairahnya. Seharusnya pria itu menurut untuk menaikkan tempo permainan mereka.

Namun apa?

Pria itu justru berhenti.

Sontak saja mata Xiumin yang tadinya tertutup menjadi terbuka dengan wajah shock tak terima.

"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan Kim sial-OH MY GOD!!!" Dengan kedua tangan gemetar dan penuh keringat Xiumin meremat rambut Chen. Air mata tanpa sadar mengalir dari kedua matanya, dengan gigi kucing Xiumin yang sedikit tajam bertaring mengigit bahu sebelah kanan Chen, melampiaskan nikmat tak termaafkan yang tiba- tiba menghantamnya. Xiumin rasa dirinya baru saja tenggelam dalam telaga madu. Manis sekali.

Bagaimana bisa Xiumin tak menjadi setengah sinting? Saat dirinya baru saja ingin marah kepada Chen yang menghentikan permainan cepat yang sungguh menyenangkan, menggagalkan Xiumin mendapatkan pencapaiannya. Tanpa diduga, secara tiba- tiba Chen justru membawanya ke dalam permainan yang lain. Kali ini.. lebih pelan, namun dalam. Chen bahkan berhasil menggapai sisi bagian terdalam dirinya. Mengisi seluruh rongga miliknya. Xiumin merasa dirinya terisi dengan amat sangat penuh, Chen sangat tahu bagaimana harus membuat si kucing kecil ini tak lagi dapat protes.

Rasanya Xiumin ingin menangis saja, dirinya tak tahan lagi. Chen terlalu lihai untuk diikuti olehnya yang amatiran.

Desahan halus Xiumin tertahan oleh gigitannya pada bahu Chen, si kucing kecil mulai merengek saat keberadaan gerbang akhir kenikmatan itu kembali terasa. Dan Chen yang tahu bahwa Xiumin akan mencapai batasnya, dengan kejamnya justru kembali berhenti.

"Ugh sialan.. Bunuh saja aku.." Bisik Xiumin putus asa lagi frustasi akan pencapaiannya yang terus digagalkan oleh Chen.

Chen terkekeh mendengar bisikan Xiumin yang sudah terdengar seperti kehabisan nyawa itu.

"Kau akan menyesal bila tak merasakan yang satu ini sayang... Percayalah, ini sungguh... nikmat. " Chen melepaskan kontak mereka. Sekali lagi terdengar rengekan tak terima dari Xiumin, namun pria mungil itu menurut saja saat Chen membantunya untuk membalik tubuhnya.

Dengan sentuhan hangat dan lembut, Chen menarik pinggul Xiumin yang sekarang dalam posisi tengkurap itu menuju ke atas, mendekat kepadanya. Dengan mengigit lidahnya Chen berdiri dengan kedua lututnya, menikmati sebentar bagaimana indahnya lengkungan tubuh Xiumin dilihat dari belakang.

"Kau sungguh cantik Xiu.." Pujian itu keluar begitu saja, tak dibuat- buat untuk keluar dari mulutnya, namun juga tak di tahan- tahan agar tak terucap. Seakan seperti mengeluarkan napas, Chen mengeluarkan kata- kata pujian pada kekasihnya ini dengan sialan naturalnya.

Namun sebenarnya salah waktu bila harus memuji sekarang, bukannya tersanjung, Xiumin justru menjadi emosi.

"Terima kasih, namun aku tak perlu pujianmu sekarang, yang aku perlukan sekarang adalah-HEI!! Argh! Sialan, bagaimana bisa kau mendapatkannyaaaHh AHhh.. ya disituu.."

Xiumin sepertinya sungguh tak diperbolehkan protes sedikitpun. Lihatlah sekarang, baru saja dirinya ingin mengucapkan beberapa kalimat sarkastik, Chen membalasnya dengan kembali menyatukan lagi kontak tubuh mereka berdua.

Namun kali ini, Chen memasukinya tepat dititik termanis didalam sana. Benar- benar tepat tanpa meleset sedikitpun. Rasanya sialan nikmat hingga Xiumin merasakan seluruh kata sumpah serapah sudah tinggal di ujung lidahnya saja, memaksa untuk diucapkan.

Sayangnya, jangankan untuk mengatakan beberapa umpatan kotor, Xiumin bahkan tak sanggup bernapas dengan benar sekarang. Chen adalah orang yang mengerikan.. dia memang sungguh mengerikan, itulah kesimpulan yang akhirnya Xiumin dapatkan akan bagaimana gilanya pria itu berhasil memporak porandakan dirinya dari segala sisi. Dan sekarang, Chen membuat bagian paling rentan didalam dirinya menjadi babak belur, oleh kenikmatan.

Tak perlu menunggu waktu lama bagi Chen untuk menyadari bahwa Xiumin akan datang. Dan menanggapi hal itu, tak seperti yang lalu- lalu dimana Chen akan menggagalkan pencapaian akhir Xiumin. Kali ini dengan baik hatinya Chen justru menaikkan temponya, membantu sang kucing kecil mencapai gerbang surga dunia.

"Sedikit lag-... ah tidak.. ahhhh aku sampai... AAA-" Teriakan Xiumin terdengar memenuhi seluruh ruang kamar utama kediaman Keluarga Kim ini.

Seluruh pandangan Xiumin menjadi putih, dengan tubuh yang bergetar melawan sekaligus menerima kenikmatan mengerikan lagi mengasyikkan yang menerpa dirinya. Rasanya Xiumin tiba- tiba mengigil sampai keubun- ubun. Menikmati detik pencapaian itu dengan sepenuhnya, sebelum akhirnya setelah beberapa saat semua itu berangsur menghilang.

Xiumin langsung ambruk, menjadi lemas seketika. Dan betapa terkejutnya Xiumin merasakan bahwa bagian dalam bawah dirinya tiba- tiba terasa penuh oleh cairan kental yang kita semua tahu apa itu.

Hal itu membuat Xiumin dengan lemah mendongak ke belakang, menikmati ekspresi Chen saat pria itu juga mencapai gerbang kenikmatan miliknya sendiri. Hal itu berlangsung beberapa saat, dan ditutup dengan Chen yang ambruk ke belakang, merebahkan dirinya begitu saja pada bagian ranjang dibelakangnya, yang secara otomatis melepaskan kontak keduanya.

Membuat banyaknya cairan yang awalnya Xiumin tampung itu mulai keluar, menuruni jalur panjang paha mulus Xiumin sampai ke bawah. Dan menjadi semakin berantakan lagi saat Xiumin mengubah posisinya menjadi duduk diatas tempat tidur yang mereka gunakan.

Dengan mata kucingnya yang terlihat sayu, Xiumin memperhatikan wajah Chen dengan lekat. Pria 40 tahun itu terlihat menutupi kedua matanya dengan lengan besarnya, bersiap untuk tidur.

Tanpa bisa ditahan, Xiumin mendengus melihatnya. Sang Kucing kecil itu mulai merangkak menuju orang tersayangnya, lalu menduduki perut Chen dengan tanpa peduli bahwa cairan yang sedari tadi mengalir dari bokong hingga pahanya sekarang ikut mengotori perut Chen.

"Hei jangan tidur, kau sudah janji.." Peringat Xiumin dengan suara serius khas miliknya, seakan kucing binal yang suka merengek dan mendesah beberapa menit lalu telah hilang ditelan bumi, pria pemilik dua marga itu kembali menjadi si pria serius yang sungguh ambisius untuk mencapai tujuannya.

Dan kali ini, Chen memiliki sesuatu yang ingin dimiliki olehnya, Xiumin memang selalu melakukan cara apapun untuk mendapatkan yang dirinya inginkan.

"Inilah sifatmu yang paling menarik. Kau terlalu ambisius, hingga terkadang kau dapat memanfaatkan orang lain agar sampai pada tujuanmu, namun sebaliknya, kau juga bisa dapat dimanfaatkan orang lain demi mencapai tujuanmu." Bisik Chen dengan suara lemah.

Xiumin diam tak menanggapi. Dirinya diam- diam tahu bagaimana sifat miliknya sendiri. Umur 22 tahun sepertinya cukup untuk Xiumin mengetahui bagaimanakah karakter miliknya sendiri.

.

.

.

Berbeda dari Tuan Muda Byun Baekhyun yang bila melakukan sesuatu tak peduli akan bagaimana hasil yang didapat, dan lebih mementingkan prosesnya.

Maka Xiumin sebaliknya, pria dua marga ini tak peduli harus memakai cara apa dan bagaimana prosesnya. Bila dia melakukan sesuatu, pria mungil ini lebih mementingkan hasilnya.

Hal ini jugalah salah satu yang membuat Baekhyun dan Xiumin bekerja sama dengan sungguh kompak, keduanya saling melengkapi.

Sedangkan Chen, pria itu terlalu santai. Tak usah dibahas bagaimana cara dia bekerja dan berpikir, hanya akan membuat kita kesal akan segala metode simple dan sembrononya yang kelewat nalar. Jenius yang nyentrik adalah julukan yang pas untuk pria 40 tahun itu. Tipe- tipe orang cerdas namun tak tahu aturan.

Ngomong- ngomong, alasan kenapa kita membicarakan cara kerja otak Xiumin ini adalah...

Hal itulah yang menjadi alasan dari kedua pria yang masih terdaftar dalam satu kartu keluarga dengan status Ayah dan Anak ini kembali melakukan kegiatan tanpa norma dan adat beberapa saat lalu.

Xiumin sedang berambisi akan sesuatu dari Chen, yaitu informasi. Chen memiliki banyak infromasi yang dirinya inginkan, namun pria Kim itu tak ingin membaginya kepada Xiumin secara gratis.

Ditolak seperti itu hanya akan membuat sifat ambisius Xiumin semakin menjadi- jadi. Nah.. disaat cara lembut meminta tak tercapai, cara kasar apalagi... tentu gagal. Akhirnya Xiumin mengambil cara ekstrim ini, sebuah negosiasi yang tak akan ditolak oleh seorang pria mesum bin playboy seperti Chen. Cara paling ampuh dalam menaklukkan pria tipe cassanova.

Xiumin menawarkan untuk memberikan Chen satu ronde yang sungguh hebat. Sebagai gantinya, Chen memberikan Xiumin informasi yang pria chubby itu inginkan. Itulah perjanjiannya.

Dan sekarang, Chen sudah mendapatkan bagiannya dari Xiumin. Bukankah itu artinya giliran Xiumin yang mendapatkan bagian miliknya dari perjanjian ini.

Namun lihat apa yang terjadi.

Lihatlah sekarang, Chen mangkir dari tanggung jawabnya. Pura- pura tidur untuk menghindari Xiumin.

Melihat itu Xiumin mendengus kesal. Pria mungil ini mulai menggerakkan tubuhnya dengan keras diatas perut liat nan penuh kotak- kotak milik Chen, berniat membangunkan Chen dari tidur palsunya.

Dan sialnya, bukannya berhasil membangunkan sang kekasih. Xiumin justru merasakan sakit luar biasa di tubuh bagian bawahnya, oh astaga.. baru terasa sekarang.

Bila ini permainan satu ronde biasa, Xiumin akan mengabaikan rasa perih sedikit yang ditumbulkan setelah permainan. Karena menurut Xiumin sakit yang seperti itu bukanlah masalah besar.

Namun kali ini satu ronde mereka sungguh lain. Chen dengan lihai membuat satu ronde itu menjadi lebih panjang dan berlipat- lipat, Xiumin merasakan sakit seakan dirinya telah digempur semalaman.

Mendengar ringisan Xiumin, secara otomatis mata Chen langsung terbuka dan siaga.

Pria itu langsung bangkit dengan Xiumin yang masih dalam pangkuannya. Dan kontan saja, pergerakan Chen justru membuat gesekan lain yang terasa perih bagi Xiumin ditubuh bagian belakang bawahnya.

"Sakit sekali?" Tanya Chen dengan nada khawatir.

Xiumin membalas itu dengan delikan mata dan putaran bola mata menyebalkan. "Tentu saja Pak Tua, kau sadarkan? Berapa durasi waktu, serta periode babak didalam satu ronde milikmu itu." Jawab Xiumin dengan pertanyaan retoris bin sarkastik khas dirinya.

Pandangan mata Chen melembut, menatap sayang pada wajah Xiumin yang berusaha menampilkan ekspresi kesal didepannya, padahal.. tanpa bisa ditutupi, sebuah raut kelelahan dan kesakitan tertera jelas diwajahnya. Inilah Xiumin, seseorang yang terbiasa menyembunyikan sakitnya dengan sikap kasar.

Makin sakit Xiumin, maka makin kasarlah dia.

Dengan santai Chen memposisikan tangannya dibahu Xiumin dan perpotongan lutut si pria berdarah setengah Chinese itu.

Detik selanjutnya Chen mengangkat tubuh Xiumin dengan sebegitu mudahnya meski berat badan Xiumin telah naik beberapa kilo. Chen membawa satu- satunya jenis kucing kecil yang tak punya dendam pada air itu menuju ke kamar mandi.

Xiumin sedikit meringis merasakan tubuh bagian bawahnya bergesekan dengan dinginnya permukaan bathtub. Chen menatapnya dengan sorot permintaan maaf, Xiumin yang menyadari tatapan Chen justru tersenyum kekanakan sambil menggeleng, mengisyaratkan dirinya baik- baik saja dan Chen tak perlu terlalu khawatir padanya.

Chen menghela napas, lalu mengelus rambut Xiumin beberapa saat sebelum akhirnya berdiri.

Xiumin memperhatikan segalanya, melihat bagaimana telaten dan profesionalnya Chen dalam memilih serta mencampurkan sabun, garam mandi, dan minyak aroma terapi yang pas untuk diisi ke dalam bathtub yang Xiumin tempati. Serta tak ketinggalan Xiumin merasa hatinya telah tersiram softener pakaian setelah merasakan air yang mulai memenuhi bathtub yang ditempatinya terasa sungguh pas padanya. Tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Chen tahu persis takaran air yang paling disukai dirinya. Terkadang rasanya sedikit mengerikan untuk memiliki seseorang yang teramat mengenalmu.

Lalu dengan santai berjalan tanpa sehelai benangpun ditubuhnya, Chen mendekati Xiumin. Kemudian berjongkok menyelaraskan wajah mereka berdua agar sejajar berhadapan. Chen memberikan kecupan kupu- kupu pada cuping telinga Xiumin, otomatis membuat Xiumin merespon geli.

Chen menarik kepalanya menjauh, tak ingin terlalu lama melakukan hal itu pada Xiuminnya. Lebih baik berhenti sebelum terlambat bukan? Dirinya harus berhenti sebelum menjadi tak terkendali

Sambil memberikan senyuman hangat, Chen berucap, "Berendam di air hangat akan meredakan sakitnya, kau berendamlah hingga tubuhmu terasa lebih enakan. Aku akan mandi di shower." Ujar Chen, lalu berlalu menuju shower glass setelah Xiumin mengangguk kepadanya.

Xiumin menghela napas pelan, lalu semakin meneggelamkan tubuhnya ke dalam air, mencari posisi yang lebih nyaman lagi. Xiumin menutup matanya, menghirup semerbak harum dan nyaman dari aroma terapi yang sungguh membuat dirinya mengantuk dan rileks secara cepat.

Namun suara rintik air shower berhasil membuat Xiumin membuka matanya lagi. Mengalihkan fokus pada kaca bening shower yang sekarang mulai mengembun, berjarak beberapa meter dari dirinya.

Xiumin menuju pinggiran bathtub, tangannya bersedekap pada pinggiran bathtub itu dengan kepala yang telah direbahkan diatas tangannya. Xiumin memandangi Chen yang tampak samar- samar, bergerak didalam shower glass yang telah berembun.

Yang awalnya Xiumin memandang Chen penuh pujaan, namun sorot mata kucing itu menjadi sendu didetik selanjutnya.

"Sudah sejauh ini. Dan dia sekalipun tak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Dia sedang menunggu apa lagi sebenarnya.." Bisik Xiumin dengan sendu didalam hatinya.

"Aku tak punya apa- apa lagi yang bisa ditawarkan untuk mendapatkan pengakuan cintamu Kim Jongdae. Kau sudah memiliki diriku, hidupku, hatiku, tubuhku, dan segalanya... Bila kau terus seperti ini... Aku... Benar- benar akan menyerah memperjuangkanmu." Lanjut Xiumin didalam hatinya.

Dan setelah mengumamkan beberapa kalimat sendu didalam hatinya, Xiumin tertidur sambil berendam di air hangat nan nyaman. Diiringi suara rintik shower serta senandung merdu dari shower glass tempat Chen berada.

.

.

.

Xiumin membuka matanya, merasakan sebuah tangan hangat tengah mengelus rambutnya sayang. Dan pemandangan wajah Chen yang sedang tiduran menyamping sambil menatapnya adalah apa yang Xiumin tangkap tepat sedetik setelah membuka mata.

Xiumin menguap, sambil mengingat- ingat lagi memori terakhirnya, bahwa dirinya terakhir kali sadar, seingat Xiumin dirinya tengah berendam di dalam bathtub, dan lihatlah sekarang... Xiumin telah tidur di ranjang yang hangat dan berselimut tebal, lengkap dengan piama nyaman yang sudah melekat di tubuhnya.

Xiumin tersenyum lembut, memikirkan akan baiknya Chen yang melakukan semua ini untuknya. Hufh.. andaikan Chen sudah benar- benar menetapkan perasaannya dengan jelas, Xiumin tak harus merasakan kemirisan saat menerima seluruh hal manis yang Chen lakukan untuknya ini.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Xiumin dengan suara serak bangun tidurnya. Chen tak langsung menjawab, pria itu memberikan kedua mata Xiumin masing- masing satu kecupan dulu baru akhirnya menjawab pertanyaan sang kucing kecil.

"Tidurlah lagi. Ini baru jam 2 pagi." Ujar Chen.

Xiumin mengerutkan keningnya, "Lalu dirimu? Kenapa kau belum tidur?" Tanya Xiumin seraya mendekatkan dirinya pada Chen, meringkuk meminta sebuah pelukan, dan Chen meresponnya dengan cepat, membawa tubuh sintal sang anak angkat ke dalam kungkungan hangat kedua tangannya. Chen memeluk Xiumin erat.

Chen tersenyum kecil, semakin hari tubuh Xiumin semakin berisi saja. Membuat sang kucing kecilnya itu menjadi berkali- kali lipat lebih menggemaskan.

"Hoamm.. beratku bertambah lagikan? Aku rasa aku perlu diet dan olahraga nanti. Terkadang rasanya sulit punya tubuh dengan gen yang mudah menyimpan lemak. Lihatlah Jimin, setiap pagi gadis itu berteriak pada timbangan badannya." Gumam Xiumin yang dengan mata setengah tertutup saat merasakan Chen yang mulai mencubiti pelan lemak di pinggang Xiumin.

Chen terkekeh pelan, "Aku suka akan bagaimana ciri khas tubuh dari pihak Ibumu ini. Lihatlah kau dan Jimin, sangat mengemaskan. Terkadang tubuh kelewat kurus sesuai standar Korea justru tampak membosankan."

"Jadi menurutku kau tak perlu melakukan itu, karena kau yang sekarangpun sudah lebih dari cukup. Kau sudah terlanjur cantik." Chen mengecup singkat pelipis Xiumin.

"Tapi, bila kau merasa memang perlu melakukan diet, aku tak akan melarangmu. Aku hanya bisa mengawasi apakah diet yang kau lakukan itu sehat atau tidak. Oh... atau kau ingin aku membawakan instruktur kesehatan untuk membantu dietmu? Lebih aman dan sehat seperti itu." Ujar Chen panjang lebar, dirinya sudah bergelut dalam bidang entertainment selama puluhan tahun, dan sudah amat sangat hapal tentang bagaimana Idol- idolnya menjaga bentuk tubuh mereka. Bahkan ada beberapa yang terobsesi akan tubuh yang katanya sempurna.

Dirinya tak ingin Xiumin merasakan penderitaan itu, namun bila dengan menjadi lebih kurus Xiumin merasa lebih bahagia, maka Chen tak punya pilihan lain selain mendukung dan membantunya. Karena bagi Chen sekarang, yang penting adalah kebahagiaan Xiumin. Iya, diet itu yang dicari adalah bahagianya, bukan kurusnya. Percuma saja bila tambah kurus tapi tetap tak merasa bahagia. Justru pesonamu akan turun karena kau tak merasa bahagia dengan dirimu sendiri.

"Terserah dirimu saja bagaimana mengaturnya nanti, tentu aku tak sempat mengatur hal seperti itu. Aku terlalu sibuk." Gumam Xiumin dengan mata tertutup.

Chen menganggukkan kepalanya, lalu memberikan tepukan- tepukan lembut lagi menenangkan di punggung si kucing kecil, membantu Xiumin masuk kedalam mimpinya lagi.

"Berhentilah. Aku tak ingin tidur bila kau juga tak tidur." Gumam Xiumin dengan mata yang dipaksakan menjadi terbuka.

Chen tersenyum singkat.

"Aku tak bisa tidur." Ujar Chen singkat.

Lalu pria berumur 40 tahun itu memberikan kecupan pada dahi Xiumin.

"Tak apa. Memandangimu seperti ini rasanya sungguh mirip seperti tidur. Pikiranku menjadi tenang dan tubuhku menjadi rileks." Lanjut Chen.

"Hoam... Baiklah, aku tak bisa memaksamu, saranku... langsunglah tutup matamu dan mencoba untuk tidur saat kau merasa sudah terlalu lelah. Dan.. saat aku bangun nanti, aku harap kau langsung memberikan bagian milikku sesuai perjanjian kita." Ujar Xiumin, selanjutnya bergerak mencari posisi ternyaman untuk kembali mendatangi alam mimpi.

Chen mengangguk santai.

"Tak masalah, asalkan dirimu tidur dulu sekarang. Informasi yang kau inginkan akan aku beritahu setelah kau mendapatkan total 8 jam tidur milikmu malam ini." Chen mengakhiri kalimatnya dengan mengecup sudut bibir Xiumin. Dan Xiumin mengangguk untuk merespon perkataan Chen, sebelum akhirnya pria berpipi chubby itu tertidur.

Chen tersenyum dengan teramat tampan menatap wajah pulas Xiumin yang dengan cepat sekali memasuki fase tidur nyenyaknya.

Dan sebenarnya, setiap malam, saat Xiumin telah tertidur pulas seperti sekarang. Chen akan mengecup pelan bibir mungil Xiumin yang sedikit terbuka. Lalu dengan suara teramat pelan nan dalam, pria Kim itu mengumamkan sebuah kalimat.

"Aku sangat mencintaimu Xiu."

Kepada Xiumin yang sayangnya terlalu tak sadar untuk mengingat bahwa seseorang terus menyatakan perasaan padanya setiap malam.

.

.

.

Seperti Deja Vu, Xiumin kembali membuka matanya, terbangun dari tidur nyenyak yang sungguh nikmat. Dan mata jernih Xiumin langsung bertemu dengan tatapan lembut Chen padanya, mata Chen sedikit melengkung dibarengi dengan pria itu yang tersenyum.

"Good Morning." Ujar Chen dengan suara rendah berbisik, lalu memberikan ciuman selamat pagi pada pria menggemaskan didepannya. Oh apakah kalian sudah diberitahu bahwa memberikan beberapa kecupan terus menerus ke wajah Xiumin adalah hobi baru Chen sekarang?

Belum?

Nah.. sekarang semua orang sudah tahu.

Bahwa disaat seperti ini Chen selalu memberikan Xiumin beberapa ciuman ringan sesuka hatinya. Dan Xiumin membiarkan saja itu terjadi, dalam hati diam- diam Xiumin menikmati perlakuan Chen yang seperti itu padanya. Rasanya seperti sangat dicintai.

"Good Morning." Xiumin membalas sapaan pagi dari Chen.

"Mau makan dulu? Mandi dulu? Atau Aku dulu?" Tanya Chen dengan nada jenaka.

Xiumin terkekeh geli dibuatnya, "Astaga, itu lelucon yang sudah kuno sekali. Sekarang aku sungguh merasakan bahwa diriku menjalin hubungan bersama pria 40 tahun." Komentar Xiumin seraya mendudukkan dirinya.

Chen mengamati seluruh pergerakan Xiumin. Baginya segala detail kecil akan bagaimana Xiumin bergerak terlihat sungguh indah dan menakjubkan. Bahkan cara Xiumin bernapaspun terasa memuaskan hati Chen untuk mengamatinya.

Dan pria 40 tahun ini menyeringai, melihat Xiumin yang merangkak menaiki tubuhnya. Dengan kedua paha sintal itu yang sekarang berada sisi kanan dan kiri tubuh Chen, Xiumin merebahkan dadanya diatas dada pria yang berada dibawahnya.

Menyusupkan kedua lengannya ke belakang bahu Chen dengan melewati ketiak pria Kim itu, melingkari bahu Chen, lalu memeluknya. Tangan Xiumin meremat bahu Chen. Lalu membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Chen sebelah kanan.

Chen yang sedari tadi diam saja, memilih untuk mengamati dan menikmati setiap pergerakan Xiumin yang mencari kenyamanan pada dirinya, kali ini ikut andil, pria Kim itu memeluk pinggang Xiumin dengan tangan kanannya, dan melingkari leher Xiumin dengan tangan kirinya, seraya mengelus lembut rambut bagian belakang pria mungil itu.

"Aromamu sungguh kuat. Bahkan bila kau tidak menggunakan cologne mahalmu itu, aromamu sudah amat sangat kuat. Kau beraroma seperti... sangat pria?" Gumam Xiumin seraya mengendusi bagian bahu kanan Chen.

"Dan aromamu manis dan segar, seperti bayi." Balas Chen.

"Paman Dae..." Gumam Xiumin memanggil Chen.

"Yes, little kitty?" Chen meresponnya dengan bisikan rendah.

"Bisa kau mulai memberikanku informasi yang aku inginkan?" Tanya Xiumin pelan.

Chen terkekeh pelan, tak habis pikir akan bagaimana Xiumin yang tak pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.

Lalu pria Kim itu mengangguk singkat dan ditutup dengan mencium ubun- ubun kekasihnya, "Baiklah.. tanyakan semuanya yang kau inginkan, aku akan menjawabnya."

Xiumin terdiam sebentar, memilah pertanyaan manakah yang lebih dulu ingin dirinya tanyakan. Setelah banyak hal yang terjadi di keluarga besar Mansion Byun beberapa waktu lalu. Xiumin yang ikut terlibat didalamnya, namun merasa dirinya tak mengetahui beberapa bagian kosong dalam alur cerita kehidupan disekitarnya itu menjadi sungguh penasaran.

"Baiklah.. pertanyaan pertama, darimana kau tahu Chanyeol datang ke Mansion Byun hari itu, hari audisi Chanyeol? Aku tahu kau kesana tak hanya sekedar kebetulan karena ingin menemuiku. Pasti kau hari itu datang karena mendengar informasi bahwa akhirnya putra Park Sungjin memasuki lingkaran kehidupan Tuan Muda Byun." Xiumin bertanya sekaligus menjabarkan analisisnya.

Chen menganggukkan kepalanya paham, namun tak langsung menjawabnya, memilih untuk menyimpan dulu pertanyaan itu.

Xiumin yang paham hal itu, langsung menanyakan pertanyaan yang lain.

"Apa hubunganmu dengan Kyungsoon? Aku merasa kalian seperti memiliki koneksi karena hanya dia yang tahu bahwa kaulah yang memasukkan obat tidur ke minumanku hari itu, sehari sebelum kita berangkat ke Jeju."

"Bagaimana bisa Kyungsoon tahu keberadaan Chanyeol dipadang bunga seperti yang mereka katakan? Dan bagaimana juga akhirnya Baekhyun, Kai,dan Kyungsoo mengetahui keberadaan Chanyeol hari itu?"

"Bagaimana cara kalian mengetahui bahwa Zhang Yixing yang menjadi sasaeng Kyungsoo selama ini? Dan bagaimana kalian menangkapnya?"

"Apa yang Tuan Muda lakukan pada Zhang Yixing si teman Kyungsoon itu?"

"Tuan Muda Byun sadar akan penyadap yang dipasang dikantornya, dan hari itu saat Chanyeol hilang dan aku menelpon Mansion Byun, aku sungguh terkejut saat tahu ternyata maid disana menyambungkan teleponku pada telepon di Kantor Tuan Byun, bukan perpustakaannya. Kenapa dia membiarkan begitu saja Kyungsoon mendengarkan percakapan kami?"

"Kau ikut mendengarkan saat aku dan Baekhyun berbicara di telpon beberapa minggu lalu, tentang Baekhyun yang tak mau menjawab saat aku menanyakan, apa maksud perkataannya yang mengatakan bahwa Chanyeol lah yang terlalu baik padanya selama ini?"

"Nah.. itu saja dulu. Ayo cepat dijawab!" Xiumin bangkit dari posisi memeluk Chennya, menjadi duduk mengangkangi tubuh pria itu, dengan tangan bertumpu di dada Chen. Menunduk menatap pria yang lebih tua 18 tahun darinya itu.

Dilain sisi Chen memandang wajah imut menggemaskan Xiumin dari bawah sana.

"Hmm.. ini akan menjadi cerita yang sungguh panjang." Gumam Chen, lalu mulai bercerita.

"Aku dan Kyungsoon sebelumnya memang memiliki hubungan rahasia."

DEG

Xiumin membelalak.

"HUBUNGAN RAHASIA APA MAKSUDMU?!!!!" Teriaknya panik.

.

.

.

- CHEN POV -

Aku tak tahan lagi, akhirnya tawa itu keluar begitu saja. Sungguh, wajah panik Xiumin terlalu lucu untuk tidak ditertawakan.

Dan akhirnya tawa itu telah berhenti digantikan dengan senyum geli bercampur maaf melihat wajah Xiumin yang sudah cemberut. Astaga, dia sungguh menggemaskan.

Aku meraih belakang leher Xiumin, lalu membawanya dalam sebuah ciuman yang dalam untuk beberapa saat. Aku tak bisa menahan diriku, dia terlalu menggemaskan.

Ciuman itu dihentikan oleh Xiumin. Dia bangkit menjauh dariku.

"Ughh.. hentikan, sekarang bukan saatnya bercumbu. Ini saatnya menjelaskan, apa hubunganmu bersama Kyungsoon?!" Meski dia berteriak dan menampilkan ekspresi kesal. Dia sama sekali tak terlihat menyeramkan, justru seperti kucing kecil yang sedang mengeong dengan suara nyaring berulang- ulang.

Baiklah.. saatnya penjelasan yang lebih detail.

"Bisa dibilang kami rekan. Kami punya kerja sama yang menguntungkan satu sama lain." Ujarku dengan suara tenang sambil mengelus paha Xiumin yang berada diantara tubuhku.

"Heh?" Gumam Xiumin bingung.

"Dia mata- mataku untuk mengawasimu selama ini. Sebagai gantinya aku berjanji mengabulkan satu permintaan miliknya setiap dia melakukan perintahku."

Rasanya aku ingin meraih bibir mungil itu lagi saat melihatnya terbuka lebar seperti itu. Bahkan wajah terkesimanya saja lucu.

"Kau mengawasiku?" Tanyanya dengan nada tak percaya, dan aku menaikkan sebelah alisku.

"Tentu saja. Kau adalah si kucing nakal yang sering pergi dari rumah bila sudah merajuk padaku. Aku perlu seseorang untuk mengawasimu, dan aku percaya pada Kyungsoon waktu itu, aku pikir dia dapat dipercaya karena dia adalah Maid yang paling dekat dengan Tuan Muda Byun." Jawabku.

Xiumin tampak kosong, dia melamun, lalu setelah sadar, menatapku dengan mata kucingnya yang terlihat awas akan keadaan.

"Se-Sejak kapan kau mengawasiku?" Tanya Xiumin.

"Sejak hari dimana pertama kalinya kau menyatakan perasaanmu. Lalu aku menolakmu, lalu kau pergi dari rumah ini. Seminggu sebelum Chanyeol datang dan audisi di Mansion Byun. Ngomong- ngomong Kyungsoon lah yang melaporkan padaku bahwa ada pria bernama Park Chanyeol yang akan datang. Lalu setelah itu aku mendengar bagaimana pertengkaranmu bersama Tuan Muda dikantornya melalui penyadap yang terpasang dikantor itu."

"Di rumah keluarga Shin, aku mudah saja mendapatkan informasi tentangmu dengan menanyakan pada Bibimu atau Jimin. Tapi dari Kantor Utama BB dan Mansion Byun, aku perlu orang dalam. Menurutmu bagaimana bisa aku terus mendatangimu ke Mansion Byun atau Kantormu di waktu yang sungguh tepat saat kau berada disitu?"

Xiumin diam mendengarkanku bicara.

Aku menghela napas.

"Aku yang memberikan Kyungsoon semua alat penyadap yang dia pakai. Aku yang menyuruhnya untuk menaruh di Kantor Tuan Muda karena setiap ke Mansion kau akan langsung kesitu. Dan menaruhnya di kamar yang biasa kau tempati di Mansion Byun. Dan Kyungsoon yang selalu melaporkan padaku bahwa kau sudah makan atau belum, kau sedang dimana dan sedang apa bila di Mansion dan lain lain." Xiumin masih mendengarkan tanpa ekspresi.

Aku melanjutkan, "Kau terus bekerja tanpa istirahat waktu itu. Dan suatu hari Kyungsoon menawariku untuk memasukkan obat tidur ke minumanmu. Dan gadis itu berjanji bahwa itu obat tidur yang aman dan dosisnya akan pas karena dia sering menggunakannya. Dan sekarang kita tahu, menurut keterangan Chanyeol yang menelpon kita sebelum pulang dari Jeju. Bahwa, Kyungsoon memasukkan obat tidur ke minuman Tuan Muda di hari audisi Chanyeol. Kita berdua merahasiakan ini dari Tuan Muda, karena kita tak mau dia ketakutan. Kita semua tahu dia sangat sensitif pada obat. Dia pasti akan was- was bila tahu dirinya pernah meminum obat, namun tak sadar ada obat didalam minuman itu. Baekhyun akan menggila. Kita semua diam- diam tahu, Baekhyun mempunyai insomnia yang parah itu terjadi karena dia memiliki kecemasan yang parah. Sunmi menculiknya saat dia tidur dan orangtuanya meninggal saat dia tidur. Lama- lama dia takut untuk tidur. Harusnya Tuan Muda kita itu, berkonsultasi ke dokter. Namun kita menghargai keputusannya. Dia sungguh tak suka obat." Xiumin menatapku dengan mata awasnya.

Aku diam sebentar, mengamati wajahnya. Lalu tersenyum lembut.

"Xiu, kau merasa aku mengerikan? Aku mengawasimu tanpa kau ketahui. Aku memasukkan obat ke dalam minumanmu." Tanyaku padanya, aku sudah siap bila Xiumin berlari ketakutan menjauhiku sekarang.

Tanpa aku duga Xiumin justru menggelengkan kepalanya.

"Karena kau melakukan itu hanya padaku jadi bagiku itu tak masalah. Malah sekarang aku menyesal kenapa aku tak melakukan hal itu juga padamu, jadi aku tahu apa kau sedang meniduri para jalang itu atau tidak." Jawaban Xiumin membuatku tersedak, astagaa.. kami sungguh serasi, sama- sama gila.

"Kau tak marah karena aku melanggar privasimu? Aku menutupinya selama ini karena aku takut kau marah." Tanyaku.

"Jujur saja awalnya mengejutkan, mengetahui bahwa ternyata selama ini banyak mata yang mengawasiku. Tapi aku percaya padamu, kau melakukan itu hanya karena terlalu khawatir. Andaikan aku tetap terus menjawab telpon dan pesanmu bahkan setelah kau menolakku, aku rasa kau tak akan melakukan tindakan seekstrim ini." Aku tersenyum kecil, sudah kita duga, otak dari Sekretaris BB Grub itu sungguh pintar untuk menganalisa.

Aku mengangguk santai, "Kau benar, aku hanya terlalu putus asa karena kau tak bisa dihubungi dan ditemui." Ujarku, merasa lega akan Xiumin yang mengerti maksud hatiku.

Xiumin mengangguk mengerti.

"Tapi yang aku tidak tahunya, ternyata Kyungsoon juga menghubungkan seluruh penyadap itu untuk dirinya sendiri. Seluruh penyadap itu tak hanya terkoneksi padaku tapi juga padanya. Lalu, ternyata... entah bagaimana caranya, gadis itu bisa memasukkan penyadap ke dalam MP3 Player yang selalu Baekhyun bawa kemana- mana, kami mengetahui itu setelah skandal Chanyeol dan Kyungsoo menyeruak." Lanjutku kembali bercerita.

Dan wajah Xiumin menjadi cerah. Xiuminku yang pintar pasti sudah bisa menghubungkan segalanya. Lihat saja, dia paham akan segalanya sekarang.

"Ow ow ow aku paham. Jadi, Baekhyun sengaja untuk tak memusnahkan penyadap itu agar tahu keberadaan Kyungsoon ada dimana. Dan membuat Kyungsoon tak sadar bahwa kalian selama ini terus melacaknya. Kyungsoon pikir kau tak akan mengungkapkan tentang penyadap itu karena menyadap kantor milik CEO BB Grub merupakan tindakan yang bisa di pidanakan dan hukumannya serius sekali. Hari itu Baekhyun sengaja membuat Kyungsoon tahu bahwa dirinya ke Jeju, agar Kyungsoon ikut kesana dan kalian menangkapnya?"

"Alhasil Kyungsoon mengetahui keberadaan Chanyeol di padang bunga itu begitu saja melalui MP3 Player milik Baekhyun yang disadapnya itu dan sudah berpindah tangan pada Chanyeol. Jadi Jadi Jadi!! Baekhyun, Kai, dan Kyungsoo mengetahui keberadaan Chanyeol dan Kyungsoon berdasarkan arahan intruksimu yang ikut melacak keberadaan penyadap di MP3 Player itu? Begitu bukan? Wahh.. siapapun hacker yang kalian pakai, aku berani taruhan pasti Tuan Muda membayar jasanya dengan manis sekali." Tanya Xiumin memastikan padaku.

Aku tersenyum bangga. Seraya bergumam, "Bingo!"

"Lalu tentang trainee Zhang Yixing itu?" Xiumin bertanya lagi.

Aku tersenyum jahil mendengarnya.

"Aaah.. aku pusing karena tak tidur semalaman. Bisakah kau pijat kepalaku?" Tanyaku dengan suara yang aku buat selemah mungkin.

Dan kontan saja, kita tahu semua Xiumin bukanlah orang yang semudah itu ditipu, lihatlah bagaimana lucunya dia saat memutar bola mata kesal padaku. Namun yang lebih lucunya lagi kucing kecil ini tetap menurutiku.

Aku tersenyum lebar saat merasakan jari- jari Xiumin memberikan pijatan di dahi dan bagian kanan kiri kepalaku.

Aku memandangi wajahnya yang sekarang sungguh dekat sekali, melihat bagaimana pipi putih itu semakin lama semakin memerah. Lucunya... dia memalu karena aku terus memandanginya dengan jarak sedekat ini.

"Xiu.." Bisikku pelan, dan rasanya aku ingin tertawa melihat Xiumin justru terkejut karena aku tiba- tiba memanggilnya.

"Kau tahukan? Xiu dalam bahasa Mandarin artinya adalah Elegan dan Indah." Tanyaku berniat menggombal.

Namun dengusan adalah apa yang aku dapatkan, padahal aku tahu Xiumin memerah malu, namun pria ini selalu menutupinya, benar- benar tsundere.

"Harusnya Xiu adalah nama untuk anak perempuan. Aku sungguh kesal saat tahu hal itu, dan kenapa pula kalian semua memberiku nama panggilan yang harusnya diberikan pada seorang gadis. Lihatlah.. aku dipanggil dengan nama yang sungguh feminim sekali. Ini semua salahmu, kau yang memulainya." Ujarnya dengan nada kesal yang lucu, dan aku hanya terkekeh tak berdosa akan semua gerutuannya.

"Nah.. sudahkan pijat memijatnya? Sekarang ayo cepat beritahu aku, bagaimana kalian menemukan, menangkap, dan menghukum Zhang Yixing?" Sepertinya Xiumin sungguh tak memiliki petunjuk sama sekali bagaimana kami menemukan hubungan antara Kyungsoon dan Yixing.

Aku tersenyum.

"Sekalian menjawab tentang rasa penasaranmu akan apa yang aku bicarakan bersama Tuan Muda berdua di kamar hotelnya di Jeju kemarin. Inilah yang kami bicarakan, tentang... siapa yang membantu Kyungsoon mengambil foto Chanyeol dan Kyungsoo. Bila itu diambil didalam gedung kita, yang mana penjagaannya bahkan membuat anggota keluarga idol dan staff kesulitan masuk. Maka bagaimana bisa seorang fotografer murahan masuk kedalam situ. Tak ada teori lain yang dapat menjelaskan, selain fakta bahwa ada orang dalam BB Ent, seseorang yang bebas keluar masuk gedung itu, dan telah bekerja sama dengan Kyungsoon." Aku menjelaskannya sambil memandangi wajah Xiumin yang balas menatapku dengan serius.

Aku menghela napas sambil menarik kedua tanganku ke belakang kepala, membuat tanganku sendiri menjadi bantal.

"Dan sedikit merepotkan sebenarnya, memeriksa seluruh cctv di BBEnt, melihat siapa saja yang berinteraksi bersama Kyungsoon setiap gadis itu datang ke Agensi. Lalu kami bekerja sama dengan polisi untuk mendapatkan cctv jalan sekitar gedung dan cafe- cafe disana. Dan dari situlah semuanya didapatkan, Zhang Yixing dan Kris Wu, orang- orang yang bekerja sama dengan Kyungsoon. Tak terlalu sulit untuk mencari celah dari rencana seorang gadis 19 tahun yang masih polos itu, aku telah banyak mengurusi orang- orang yang puluhan kali lebih licin daripada ini." Xiumin menganggukkan kepalanya paham, aku tersenyum kecil menatapnya.

"Dan kau tahu apa hukuman yang Baekhyun berikan untuk Trainee Zhang Yixing itu?"

Rasanya aku ingin mencium Xiumin lagi saat melihat matanya yang berkilat penasaran padaku.

"Oh ya.. apa apa apa? Hukuman Kyungsoon aku sudah tahu karena aku yang menyiapkannya, tapi si trainee itu, kau yang mengurusnya." Aku mengangguk membenarkan.

"Hukumannya adalah... Lay, nama panggilan trainee itu, dihukum dengan melihat wajah Tuan Muda secara langsung." Jawabku dengan suara dramatis, dan kontan saja, siapapun bingung akan hukuman itu, termasuk Xiumin.

"Hukuman macam apa itu?! Melihat wajah cantik Tuan Muda kita itu bukanlah hukuman, namun anugerah namanya." Aku tertawa mendengar komentarnya, dalam hati menyetujui ungkapan Xiumin.

"Aku juga mengira awalnya begitu Xiu, karena itulah aku sedikit ragu saat harus membawa Lay ke hadapan Tuan Muda."

"Namun saat aku melihat hukumannya sendiri didepan mataku. Aku akhirnya tahu, bahwa ternyata di penjara lebih baik daripada menemui langsung Tuan Muda Byun yang sedang murka." Aku terkekeh geli mengingat hari itu.

Xiumin mengerutkan dahinya tak paham. Melihat itu membuatku bangkit, secara otomatis menjadi memangkunya. Lalu aku terus mendorong diriku padanya, hingga Xiumin terebah pada bagian tempat tidur dibelakangnya, dan aku yang berada diatasnya, menumpukan berat badan pada kedua tanganku yang sekarang berada di sisi kanan dan kiri kepala Xiumin. Memberikannya beberapa kecupan dibibir, sebelum akhirnya mengendusi leher si kucing yang sangat sensitif dan harum ini. Mencumbu Xiumin rasanya seperti sedang menghirup heroin, membuat high dan bahagia.

Aku menghentikan cumbuanku, menumpukan tubuhku pada satu tangan, meraih salah satu tangan mungil Xiumin yang sedang meremat rambutku, lalu mencium satu persatu jari- jari mungil itu sambil menatap wajah kucing kecil didepanku yang sudah bersemu merah.

"Hari itu, didepan banyaknya maid yang menonton, posisi Lay berlutut dihadapan Tuan Muda, lalu Baekhyun mendekatinya, lalu... tanpa semua orang duga Baekhyun ikut berlutut, dia rela merendahkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Lay. Benar, dia merabanya. Dan kau pasti tahu apa yang terjadi di Mansion Byun jika saja seorang Tuan Muda Byun Baekhyun merendahkan dirinya sendiri." Aku kembali memandang wajah Xiumin, melihat ekspresi ngeri yang Xiumin tampilkan.

"Uhh.." Terdengar erangan ngeri darinya, dan aku terkekeh.

"Ayo jelaskan sendiri Little Kitty.." Ujarku padanya.

Terlihat Xiumin menghela napasnya. Lalu mulai menjelaskan.

"Mansion Byun itu, seperti punya aturan sendiri. Bila kau masuk ke dalam sana, bahkan aturan negara bisa pekerjanya abaikan demi Tuannya, kita sepenuhnya patuh pada Tuan Muda Byun Baekhyun. Bukan Tuan Muda yang memerintahkan seperti itu, tapi kita semualah yang rela menyerahkan semua kesetiaan padanya. Dia bukan hanya bos bagi kita semua, tapi jugalah penyelamat hidup kita. Karena itu kita membalas budi dengan memberikan hidup kita pada Tuan Muda. Dia.. memiliki kita. Jadi, di Mansion Byun, Tuan Muda Byun dianggap memiliki kasta lebih tinggi daripada kita semua. Dia itu... kita anggap seperti... bagaimana ya menyebutnya, Tuan. Andaikan kasta masih ada, maka Tuan Muda Byun Baekhyun adalah si bangsawan dan kita semua adalah ksatria yang sudah bersumpah untuk melindungi dan setia padanya sampai mati."

"Jadi, sesuai etiket Bangsawan, Baekhyun tak boleh menunduk pada kita semua. Bukan karena Baekhyun yang tak mau, tapi kita semua yang tak mau menerima itu. Kita tak mau Baekhyun merendahkan dirinya sendiri. Orang yang kita junjung tinggi malah merendahkan dirinya, itu terasa menyakitkan untuk kita semua. Andaikan Mansion Byun adalah markas mafia, maka saat Tuan Muda bilang, 'tembak dirimu sendiri', aku berani taruhan bahkan kita semua justru berebut untuk mendapatkan pistol darinya. Ini terdengar gila, namun ini adalah bukti kesetiaan dan pengabdian kita padanya. Kita mencintai dan menghormati Tuan Muda, serta menjaganya bahkan lebih daripada nyawa kita."

"Andaikan ada pembunuh bayaran yang menelponku, dan mereka menyuruhku untuk memilih menyelamatkan dirimu, pria yang aku cintai, seorang Kim Jongdae atau Tuanku Byun Baekhyun. Maka aku akan memilih Tuanku, aku akan mengorbankan cintaku."

Xiumin menatapku dengan wajah merasa bersalah, namun aku tersenyum menanggapinya, lalu terkekeh kecil.

"Maafkan aku juga Xiumin, karena aku juga akan memilih untuk menyelamatkan Tuan Muda, dan mengorbankan dirimu. Itu sudah pasti untuk kita semua. Hukumnya mutlak bagi kita. Aku rasa kita semua malah akan bunuh diri karena merasa bersalah dan berdosa bila kita justru mengorbankan Tuan Muda." Terlihat Xiumin mengangguk setuju akan ucapanku.

"Kita akan menyelamatkan Tuan Muda lebih dulu baru diri kita sendiri. Tanpa aku dan kau, BB Grub masih bisa berjalan, Jimin dan Bibiku akan tetap hidup nyaman ditanggung dan dilindungi oleh Tuan Muda. Namun bila tanpa Tuan Muda, BB Grub akan hancur, dan jangankan untuk menyelamatkan hidup Jimin dan Bibiku. Bahkan kita berdua tak akan selamat lagi, aku yakin.. Mansion Byun akan penuh dengan darah pembantaian dari musuh- musuh BB Grub yang selama ini ketakutan akan keberadaan Tuan Muda kita. Jadi, menyelamatkan Tuan Muda lebih penting. Dalam satu nyawa seorang Byun Baekhyun, itu adalah tempat bergantungnya puluhan ribu, ah.. ratusan ribu nyawa lainnya. Aku bahkan yakin, bila Tuan Muda Byun meninggal, maka itu akan berpengaruh pada Kurs Won di mata uang dunia. Dia adalah salah satu orang yang paling berpengaruh untuk perekonomian negara ini." Aku mengangguk setuju akan penjelasan Xiumin.

"Jadi, bayangkan junjungan kita yang paling kita hormati itu, bukan hanya menunduk, bahkan ikut berlutut di hadapan seorang Trainee yang tak kita kenal." Aku terkekeh setelah mengatakan itu.

"Aku dan semua pekerja Mansion Byun secara otomatis, bahkan hampir tak sadar langsung merendahkan tubuh bersamaan dengan Tuan Muda, semuanya menjadi ikut berlutut. Padahal Tuan Muda tentu tak melihat itu, tapi kita semua yakin, dia pasti sudah memperkirakan bahwa hal itu akan terjadi."

"Tuan Muda ingin memperlihatkan itu pada si Trainee biang masalah. Bukan maksud membuat dirinya sendiri terlihat seperti Dewa yang disembah, ohh.. tidak segila itu. Maksud Tuan Muda adalah.. bahwa dia memperlihatkan secara langsung bukti bahwa seorang Byun dapat membuat banyak orang jatuh ke tanah hanya dengan sedikit gerakan tak berarti. Itu adalah metafora, Baekhyun memperlihatkan otoritasnya tanpa perlu banyak berkata- kata. Dan itu sukses, Baekhyun memberikan ganjaran tepat ke harga diri si trainee yang selalu berpikir dirinya lebih hebat daripada orang lain itu. Menunjukkan langsung, bahwa diatas langit masih ada langit, jangan sombong." Ujarku, dan Xiumin berdecak.

"Jadi dia merendah, untuk menjadi lebih tinggi? Uhh.. aku ingin hidup sebagai Tuan Muda dikehidupanku selanjutnya." Komentar Xiumin sukses membuatku tertawa.

"Namun itu masih belum menjadi hukuman yang sebenarnya. Tuan Muda Byun memberikan peringatan agar menyadarkan anak itu." Xiumin kembali fokus mendengarkan.

"Dia bilang, 'Kau tahu kenapa kau yang seberbakat ini belum debut juga? Andaikan kau sabar kau harusnya tahu jawaban pertanyaan itu beberapa bulan lagi. BBEnt akan membuka anak cabang di China. Dan rencananya, kau akan menjadi Idol, Aktor, dan Model pertama di agensi pecahan dari BBEnt itu. Aku bahkan akan memperbolehkanmu menciptakan lagu sendiri andaikan lagu itu sungguh bagus, dan rencananya akan membangunkan studio milikmu dengan label namamu sendiri ikut di sematkan didalam setiap lagu yang kau buat itu. Bukankah itu sungguh menakjubkan? Lebih menakjubkan daripada kau hanya debut dengan menjadi duo bersama Sehun dan kalian memulai panggung dari desa- desa kecil di Korea, dan berjuang di banyak acara musik mingguan, dan mati- matian mendapatkan chart nomor 1? Persaingan Idol dan aktor di China sedikit lebih mudah daripada disini, dan pastinya.. gajimu lebih banyak. Lebih dari cukup untuk membahagiakan Kakek dan Nenekmu, yang tinggal disana, dan kau menjadi bebas menemui mereka karena kau akan menjadi Idol disana.'"

"Wahh.." Bisik Xiumin takjub.

Aku menyeringai, "Dan saat Lay sudah berbinar mendengar ternyata dirinya telah dipersiapkan untuk kesempatan sebesar itu, Baekhyun justru mengatakan."

"Sayang sekali, kita batalkan saja rencana itu. Aku tak suka orang yang menusuk orang lain dari belakang. Ternyata calon artis yang aku persiapkan, jiwanya sungguh pengecut dan lemah." Dan Xiumin sekarang menganga.

"Uhh.. dia sungguh kejam. Tuan Muda seperti menawarkan segelas air es pada orang yang sekarat hampir mati kehausan, namun didetik orang itu akan menerimanya, Tuan Muda justru melempar gelas itu jauh sekali. Menghasilkan suara pecahan gelas kaca yang samar, bersamaan dengan matinya orang itu." Aku tertawa mendengarnya, seraya menjatuhkan tubuhku disebelah tubuh Xiumin. Mulai memeluknya dari samping.

"Kau benar sekali, Tuan Muda Byun paling hebat dengan yang namanya membunuh jiwa orang yang sudah berdosa padanya. Dia tidak membunuh kita, namun dia membuat kita ingin membunuh diri sendiri. Dia membuat kita sadar, bahwa perilaku salah kita telah menghancurkan diri kita sendiri dan masa depan kita. Sifat itu menurun dari Ayahnya, Tuan Besar Byun juga baik namun dia juga sekejam itu. Namun beruntungnya Tuan Muda juga mewarisi sifat ramah dan welas asih dari Nyonya Besar Byun. Jadi Tuan Muda kita tidak akan menjadi orang kejam dan mengerikan, namun dia tetap tegas dan tajam." Ujarku, seraya memeluk Xiumin dari samping, dan mulai menciumi lehernya, lagi.

"Aku tebak setelah itu si trainee Lay bersujud penuh permohonan maaf dan ampun kepada Tuan Muda Byun. Andaikan dia bisa, dia pasti sudah menangis darah memohon maaf, bahkan menjilat sepatu Tuan Muda." Tebakan Xiuminku memang tak pernah meleset.

"Tepat sekali. Itulah yang terjadi." Ujarku menjawabnya.

"Lalu setelah itu?" Tanya Xiumin.

"Tentu saja BBEnt di China tetap akan direalisasikan, dan Lay tetap kita debutkan disana, Tuan Muda telah sukses membuat pria itu kehilangan kesombongannya, dan sadar bahwa setinggi apapun dia menjadi idol nanti, Baekhyun bisa menghancurkannya dengan mudah. Jadi, pria itu tak akan menghianati perusahaan kita lagi. Dan parahnya disini, si Lay itu menjadi salah satu orang tidak beruntung yang telah melihat wajah Tuan Muda."

"Dengan rupa secantik itu, hampir tidak mungkin ada orang yang melupakan wajah Baekhyun bahkan hanya dengan sekali melihatnya. Bahkan sampai ratusan tahun pun pesona kecantikan Baekhyun akan tertanam pada hati siapapun yang melihat, jadi.. secara otomatis, Lay tak akan melupakan hari itu, seumur hidupnya. Baekhyun dan wajah cantiknya akan menghantui pria itu selamanya." Ujarku, lalu aku menyeringai mengingat sesuatu.

"Tentunya Tuan Muda Byun Baekhyun yang pintar tetap akan mempertahankan Lay. Aku berani taruhan sesungguhnya Tuan Muda kesal sekali dengan anak itu, namun dia tetap menerimanya kembali ya karena, bakat tak pernah berbohong. Dia salah satu trainee kita yang paling cemerlang, kita tak boleh kehilangannya. Dia Trainee yang akan memberikan banyak keuntungan untuk kita di kemudian hari. Baekhyun menyisihkan perasaan pribadi untuk bisnisnya. Benar- benar tipikal Byun Baekhyun, dia lebih lancar menggunakan otaknya daripada hatinya." Selesai sudah jawaban untuk satu dari pertanyaan Xiumin.

"Hukuman Lay terasa lebih kejam daripada hukuman Kyungsoon. Namun Lay mendapatkan reward yang lebih besar, Tuan Muda tetap mendebutkannya dan mengembalikan semua kesempatan emas pada pria itu, sedangkan Kyungsoon langsung di pecat dari Mansion Byun, secara halus Tuan Byun ingin mengatakan bahwa dia tak ingin bertemu Kyungsoon setidaknya beberapa tahun kedepan. Bila dipikir lagi, Lay yang di tahan selama 12 jam di kantor polisi tidaklah sebanding dengan kerugian perusahaan. Bahkan Baekhyun lebih dari pantas untuk membatalkan debut Lay dan menendangnya keluar dari Agensi. Meski anak itu tambang yang akan memberikan keuntungan di masa depan, namun tetap saja, aku rasa Lay perlu dua kali comeback dengan million seller baru bisa menutupi kerugian atas hal yang sudah dia lakukan. Namun Baekhyun mengampuninya. Jadi bisa dibilang, Lay ataupun Kyungsoon, sangat beruntung. Mereka mendapatkan pengalaman berharga dihidup mereka. Diharapkan kedua orang itu menjadi orang yang lebih baik kedepannya. Bagi diri mereka sendiri, bagi orang lain, dan bagi perusahaan." Xiumin mengoceh panjang lebar, dan aku gemas sendiri melihatnya.

"Tuan Muda ingin memperlihatkan bahwa, 'Semua orang pernah berbuat salah, namun.. tak semua orang beruntung memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.' Karena seringnya, hukum dunia itu, bila sekali kau salah jalan, maka kau tak bisa kembali lagi. Kecuali kau mulai lagi perjuanganmu semuanya dari awal. Yah.. Begitulah, Tuan Byun terlalu baik. Dia memberikan kesempatan kedua pada banyak orang. Hal paling langka didunia ini ya itu... kesempatan kedua." Komentarku, dan Xiumin mengangguk setuju.

"Pertanyaan mana lagi yang belum aku jawab Xiu?" tanyaku karena aku sudah lupa apa saja pertanyaannya.

.

.

- CHEN POV END -

.

.

.

Terlihat Xiumin menampilkan wajah berpikir, dan Chen tersenyum gemas melihatnya.

"Hei jangan menciumku dulu, aku sedang berpikir." Ujar Xiumin sambil mendorong wajah Chen yang kembali mendekatinya.

Dan rasanya Xiumin ingin tertawa melihat raut kecewa yang Chen tampilkan. Namun Xiumin mengabaikan itu, karena Xiumin akhirnya ingat pertanyaan yang manakah yang belum Chen jawab.

"Apa maksud perkataan Tuan Muda Byun yang mengatakan bahwa Chanyeol lah yang terlalu baik padanya selama ini?" Tanya Xiumin dengan penasaran, insting dirinya mengatakan perkataan Baekhyun tak hanya sekedar perkataan saja. Pasti ada makna lain didalamnya, dan Xiumin merasa kesal karena dirinya tak tahu apa itu, sedangkan Chen tahu.

Tampak Chen menatap Xiumin dengan dalam. Dengan tidur menyamping, pria Kim itu memeluk Xiumin yang sedang tidur telentang, tangan serta kaki keduanya bertumpang tindih berbagi hangatnya suhu badan.

Dan akhirnya Chen menghentikan keheningan itu dengan gumaman pelan.

"Baekhyun menjadikan Chanyeol sebagai taruhan dan bayaran."

Mata Xiumin membelalak, dengan kaku menoleh ke samping, menatap wajah datar Chen dengan mata terkejut.

"Jelaskan.. padaku..." Rasanya suara Xiumin hampir hilang sekarang, terlalu terkejut akan fakta itu. Baekhyun yang selama ini menampilkan cinta tersuci yang pernah dilihatnya ternyata perasaannya tidaklah sebersih itu. Chen menghela napas, bersiap akan cerita panjang yang lain.

"Kita panggil dia Baekhyun saja dalam cerita kali ini, karena ini masalah pribadinya tak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Kau ingat saat aku tak bisa datang ke pertemuan dan pertunjukkan di Hari Orangtua disekolahmu? Sebelas tahun lalu? Karena aku sibuk mengurus BoA jadi aku tak bisa melihatmu tampil menyanyi? Kau masih SD waktu itu." Mulai Chen, dan Xiumin mengangguk.

"Ternyata kau satu SD bersama Chanyeol, kalian hanya beda angkatan dan beda kelas. Tanpa sepengetahuanku, Baekhyun mendatangimu hari itu, dia ikut kecewa karena aku tak bisa datang, sehingga dia ingin menggantikanku. Lucu sekali, bagaimana bisa dia menggantikan kehadian orangtuamu disaat dia bahkan lebih muda dua tahun darimu. Tapi begitulah Baekhyun, dia bersikap seperti orang tua sejak kecil. Dan itulah hari pertama Baekhyun bertemu Chanyeol."

"Aku tak tahu bagaimana kronologi lengkapnya karena aku tak ada disana, aku mengetahui kejadian ini dari salah satu bodyguard yang menjaga Baekhyun hari itu. Singkatnya, Baekhyun mendengar seorang anak bernama Park Chanyeol yang akan menampilkan musikalisasi puisi yang diciptakannya sendiri, mulai dari puisinya sampai lagu pengiringnya, tak ada kata lain yang bisa menjelaskan hal itu kecuali anak itu jenius. Baekhyun si pengoleksi anak berbakat pasti akan tertarik. Dia memilih mendatangi Chanyeol dan lupa tujuan awal yang ingin menemuimu, dan sebelum mereka berdua sungguh bertemu Baekhyun lebih dulu dikejutkan dengan kenyataan bahwa nama Ayah Chanyeol adalah Park Sungjin. Baekhyun mengetahuinya karena Chanyeol gagal tampil hari itu, anak itu kabur sebelum tampil, dan Baekhyun mengikutinya... tahu mereka sampai dimana?"

Xiumin menggeleng cepat, tak ingin bermain tebak- tebakkan sekarang.

"Rumah Abu. Tempat bersemayamnya abu almarhum Orangtua Baekhyun, Orangtuamu, dan Ibu Chanyeol. Aku yang mengurus seluruh acara kremasi mereka, dan aku dengan sengaja menempatkan semua almarhum di rumah abu yang sama, aku bahkan menempatkan pasu-pasu yang berisi abu mereka di lemari yang sama, hanya beda rak lemarinya saja."

"Hari itu Baekhyun mendengar langsung bagaimana Chanyeol menangis didepan abu Ibunya. Tentang betapa dia kecewa pada Ayahnya yang tak datang ke Perayaan Hari Orangtua, hari itu. Padahal bocah malang itu sudah mempersiapkan segalanya mati- matian. Dan hari itu, Baekhyun memeluk Chanyeol yang sedang menangis dan down untuk pertama kalinya. Dia yang mendengarkan puisi Chanyeol sebagai gantinya. Sayangnya, sepertinya Chanyeol tak mengingat Baekhyun yang menghiburnya hari itu. Itu bisa dimengerti, karena hari- hari buruk seringnya secara otomatis akan dihapus dari otak kita seiring berjalannya waktu." Mata Xiumin berkedip dengan lama menatap Chen yang terus bercerita. Tampak manis seperti anak kecil yang sedang dibacakan dongeng.

"Dan besoknya Baekhyun langsung memanggilku ke Mansion Byun."

.

.

.

- Flashback -

- 11 tahun lalu, Mansion Byun -

"Kau tak mengatakan padaku bahwa Park Sungjin punya seorang putra!!" Baekhyun berteriak dengan garang didetik setelah Chen memasuki ruang musik Mansion Byun.

Chen terbelalak, terlampau terkejut.

"Dari mana anda tahu?" Tanya Chen begitu saja.

"Tak usah formal padaku sekarang, karena aku juga tak ingin formal padamu saat ini. Tega sekali kau menyembunyikan hal ini dariku." Ujar Baekhyun yang sudah lebih tenang, namun nada suara disetiap kalimatnya tetap bercampur dengan banyak emosi yang sulit dijelaskan.

Chen menghela napas, pria yang terbiasa santai dalam situasi apapun ini sedang memilah kata yang harus diucapkan pada seorang Tuan Muda Byun Baekhyun yang baru saja berumur 9 tahun, dan sedang panik dihantam banyak emosi serta perasaan.

"Aku takut kau akan membunuh anak itu bila kau tahu dia ada didunia ini." Ujar Chen dengan penuh kejujuran.

"Kenapa aku harus membunuhnya?" Tanya Baekhyun tak mengerti.

Chen menghela napas, "Dia adalah anak yang lahir di hari kecelakaan itu Baekhyun. Chanyeol lahir dihari kematian orang tersayang kita." Chen mengucapkannya dengan suara pahit. Namun Baekhyun justru lebih fokus pada fakta lain.

"Darimana kau tahu namanya Chanyeol?" Tanya Baekhyun begitu saja.

Chen menghela napas, "Tentu saja aku tahu, akulah yang menuliskan nama anak itu di rumah sakit setelah dia dilahirkan. Aku menamainya sesuai wasiat terakhir Ibu anak itu." Baekhyun tetap diam, menunggu Chen melanjutkan perkataannya.

"Saat aku membawa dirimu yang masih bayi dan Nyonya Park yang sedang mau melahirkan dan pendarahan hebat ke rumah sakit. Dia terus bergumam dengan suara lemah,'Park Chanyeol, itulah nama putraku' berulang-ulang. Sudah jelas bahwa dia memilih untuk menyelamatkan nyawa putranya daripada nyawanya sendiri. Karena itulah saat dokter menyuruhku untuk memilih antara si Ibu atau si Anak, aku memilih anaknya. Tentu saja aku tak bisa melupakan nama seorang anak yang lahir di kejadian semenakjubkan itu." Chen menatap dalam wajah bocah 9,5 tahun namun bersikap dan berekspresi seperti umur 25 tahun didepannya.

"Apa yang ingin kau lakukan sekarang setelah mengetahui fakta ini Baekhyun?" Tanya Chen dengan wajah sangsi. Sedikit takut akan keputusan apa yang Baekhyun ambil. Mengetahui bahwa pelaku kecelakaan penyebab orangtuamu meninggal memiliki seorang putra yang lahir di hari kejadian, bukanlah fakta yang bisa dibilang menyenangkan untuk diketahui.

Namun berbanding terbalik dengan Chen yang sudah membayangkan Baekhyun akan membuat hidup si Chanyeol itu menderita. Yang Baekhyun katakan selanjutnya adalah, "Memangnya menurutmu apa yang akan aku lakukan, tentu saja anak itu harus menjadi milikku."

Mata Chen terbelalak dengan lebar.

"Apa maksudmu?!" Dan pria yang biasanya santai ini bahkan sampai berseru tak percaya.

Baekhyun hanya menampilkan ekspresi tenang.

"Dia lahir di hari kematian orangtuaku. Dia lahir dimana Ayahnya membuatku kehilangan penglihatanku. Bukankah cukup adil bila anak itu menjadi milikku setelah semua yang Ayahnya renggut dariku. Toh dari pengamatanku, Park Sungjin tak menginginkan putranya, dia tak merawat dan menyayangi putranya sama sekali. Lebih baik anak itu ikut denganku. Akan aku anggap, anak itu terlahir untukku."

Mulut Chen sudah menganga lebar mendengar setiap patah kata yang Baekhyun ucapkan.

"Kau gila? Kau kira ini adalah barter dan tukar tambah? Dan bila kau mempermasalahkan penglihatanmu, kita sudah pasti akan mendapatkan pendonor yang cocok 2 tahun lagi. Giliran operasimu sudah dekat. Kau akan bisa melihat sebentar saja lagi. Kau tak perlu merebut anak itu dari Ayahnya sebagai penebus dosa Ayahnya. Mungkin kau seperti ini karena kau masih muda, terimalah Baekhyun, kematian orangtuamu adalah suratan takdir. Bukan salah siapapun..." Baru saja Chen ingin memulai ceramah yang lebih panjang lagi, namun sebuah pemikiran melintas dikepalanya.

"Tunggu sebentar, setahuku kau tak membenci Park Sungjin. Karena kau tak pernah menuntutnya atas apapun yang telah dia lakukan. Kau si murah hati Byun Baekhyun pasti sudah memaafkannya. Lalu... Baekhyun..." Suara Chen terdengar sungguh lirih, tak percaya akan kesimpulan yang baru saja didapatkannya.

Di lain sisi Baekhyun justru mengangguk dengan tenang.

"Aku menyukai anak itu. Aku ingin dia disisiku. Aku seperti melihat diriku sendiri saat melihatnya. Kesepian dan ketakutan. Aku tak tahan untuk melihatnya hidup sendiri seperti itu, aku ingin anak itu bersamaku." Baekhyun mengatakan itu dengan suara yang sungguh mantap dan yakin. Chen memijat pelipisnya, kepalanya langsung terasa pening, ini gawat, sangat gawat. Baekhyun adalah tipe orang yang tak terlalu banyak maunya, tapi bila dia sudah menginginkan sesuatu. Maka dia akan memperjuangkannya sampai akhir.

Chen mengigit pipi bagian dalamnya.

Masalahnya disini adalah Xiumin.

Xiumin baru berumur 11 tahun dan traumanya akan kecelakaan orangtuanya masih segar diingatan anak itu. Membawa Chanyeol kedalam kehidupan mereka sama saja seperti memberikan tiket gratis untuk masuk rumah sakit jiwa kepada Xiumin.

Chen menghela napas.

"Aku rela saja kau membunuhku sekarang, namun aku tak setuju bila kau membawa putra Park Sungjin itu kesini. Membawa putra Park Sungjin kepada kita sama saja seperti membunuh putraku secara perlahan. Aku yang akan menjadi egois kali ini Baekhyun. Aku tak mau kehilangan Xiumin sekarang." Baekhyun berdecak tak terima akan jawaban Chen.

"Apa hanya kau yang bisa egois? Aku juga. Lagipula kenapa aku harus mempertimbangkan pendapatmu akan apakah aku harus membawa Chanyeol kesini atau tidak. Itu hakku dan pilihanku sendiri." Ujar Baekhyun dengan suara tegasnya.

"Baekhyun jangan seperti ini, kau hanya berakhir dengan menyakiti semua orang. Xiumin akan menggila bila dia tahu anak dari pembunuh orangtuanya ada disini. Aku ikut menggila karena Xiumin menggila. Dan anak itu sendiri, Park Chanyeol, kau pikir dia akan segila apa saat tahu apa yang sudah Ayahnya lakukan dimasa lampau padamu? Kau pikir dia tetap mau berteman denganmu dan tetap mau ikut denganmu bila mengetahui cerita tentang bagaimana bisa dia lahir didunia ini?" Chen menghela napasnya dengan lega diam- diam, melihat ekspresi Baekhyun yang tampak memikirkan perkataan Chen dengan dalam.

"Bagaimana bila aku menawarkan negosiasi sekaligus taruhan kepadamu Ahjussi?" Alis Chen terangkat satu mendengar tawaran tak terduga itu.

"Negosiasi yang bagaimana? Taruhan yang bagaimana?" Tanya Chen.

"Aku akan membatalkan operasi donor mataku 2 tahun lagi. Kita tunda sampai 10 tahun ke depan. Kau sepertinya sangat memikirkan luka Xiumin. Dan bukankah waktu sepuluh tahun cukup agar luka itu setidaknya setengah sembuh. Itu negosiasinya, aku menawarkan waktu 10 tahun, dan menawarkan penglihatanku sebagai permintaan maaf pada semua orang yang akan tersakiti karena keinginanku."

"Karena terasa salah bila aku sendiri yang membawa Chanyeol padaku, maka lain ceritanya bila Chanyeol sendiri yang datang padaku. Dalam 10 tahun itu bila Chanyeol datang padaku, maka aku akan mengorbankan kesempatanku untuk melihat lagi, dan tak ada dari kalian yang berhak protes akan keberadaan Chanyeol disisi kita. Namun bila dalam 10 tahun Chanyeol tak juga datang padaku, aku akan melupakan dia, aku akan kembali mendaftarkan namaku dalam daftar tunggu penerima donor mata. Itu taruhanku."

Give and Take , ternyata sifat Baekhyun yang satu ini sudah ada sejak lama.

Sudah berapa kalikah Chen terkesima akan semua ucapan Baekhyun hari ini. Rasanya Chen ingin mengorek kupingnya dengan sungguh dalam, sebab tak yakin akan apa yang sudah didengarnya tadi.

"Kau sebegitu ingin dia ya. Kau seyakin itu bahwa dia terlahir untukmu. Sampai kau rela menunggunya selama 10 tahun, dan bahkan berkorban untuk tak dapat melihat lagi? Sebenarnya kenapa harus penglihatanmu yang dipertaruhkan?" Tanya Chen tak terima.

Terlihat Baekhyun berpikir sebentar, lalu berucap, "Kecerobohan Ayah Chanyeol membuatku buta. Suatu saat nanti Chanyeol pasti tahu itu. Aku tak ingin dia membenci Ayahnya, jadi... aku akan mengatakan bukan Ayahnya yang membuatku buta. Namun diriku sendiri. Diriku sendirilah yang memilih untuk tak pernah melihat lagi, asalkan Chanyeol berada disisiku. Tak ada yang dapat disalahkan kecuali diriku sendiri."

.

.

- Flashback End -

.

.

"Sayangnya tak seperti yang Baekhyun perkirakan. Si lembut hati Park Chanyeol justru menyalahkan dirinya sendiri juga. Dan akhirnya pergi dari Baekhyun." Terlihat oleh Chen bagaimana Xiumin menatap kosong langit- langit kamar mereka.

"Perjanjian dan taruhan itu berakhir tahun lalu. Dan itulah yang menyebabkan insomnia Baekhyun semakin parah saja selama setahun ini. Dia ketakutan dan kecewa berat memikirkan bahwa Chanyeol yang selama ini ditunggunya ternyata memang tak memiliki takdir bersamanya. Baekhyun kalah dalam taruhan kami, dan aku bahkan sudah mengatur untuk operasi matanya. Dia harusnya sudah bisa melihat sekarang, namun takdir memang konyol, saat ditunggu tak datang, saat sudah tak ditunggu, si Chanyeol, bocah itu justru datang pada kita. Aku langsung kenal siapa dia bahkan dihari pertama kali kami bertemu di Mansion Byun, dia sungguh mirip mendiang Ibunya. Aku langsung menelpon pihak rumah sakit untuk membatalkan operasi Baekhyun yang bahkan sudah dijadwalkan berbulan-bulan sebelumnya, setelah aku melihat betapa tampannya Chanyeol, betapa dia sungguh mirip dengan Ibunya saat dia tengah mengobrol bersama Kyungsoon sambil keduanya memandangi Baekhyun dari kejauhan, hari itu, di pagi pertama Chanyeol di Mansion Byun. Aku menerima, aku yang kalah dalam taruhan kami." Habis sudah cerita Chen. menjawab akan semua rasa penasaran Xiumin.

"Saat sering aku bilang Baekhyun itu mengerikan, tapi aku tak tahu dia ternyata semengerikan ini." Gumam Xiumin tak percaya akan kenyataan.

Chen diam saja, membiarkan Xiumin mengungkapkan pendapatnya.

"Bertahun- tahun dia diberikan perhatian dan kasih sayang oleh Kyungsoo. Namun semua tak berpengaruh sama sekali, bila itu aku, aku pasti sudah meleleh saat orang setampan dan sebaik Kyungsoo memberikan cinta tanpa syarat selama bertahun- tahun padaku. Namun tentu saja tak berpengaruh untuk Baekhyun, dia ternyata memiliki orang lain dihatinya. Waw, Baekhyun sesabar itu menunggu Chanyeol yang tak pasti akan datang atau tidak. Dia gila... dia sangat gila." Chen mengangguk menyetujui ucapan Xiumin seraya mencium pipi chubby pria itu.

Tiba- tiba saja Xiumin menoleh, dan membuat bibir keduanya menjadi menyatu tanpa sengaja. Chen terkejut awalnya, namun memilih untuk melanjutkan ciuman itu, mengsengajakan ketidaksengajaan yang sudah terjadi.

Chen menghentikan ciuman mereka saat menyadari Xiumin yang tak membalas ciuman itu.

"Ada apa?" Tanya Chen.

Xiumin berkedip pelan, "Aku masih punya 2 informasi lagi yang ingin aku ketahui." Ungkapnya, dan Chen terkekeh mengetahui itu.

"Baiklah.. apalagi?" Tanyanya ringan. Namun berbeda dengan Chen yang santai, Xiumin justru tampak serius sekali.

"Langsung dijawab saja setelah aku mengajukan pertanyaan." Ujar Xiumin dan Chen mengangguk setuju.

"1. Apakah kau sungguh akan melawan Tuan Muda bila saja dia langsung membawa Chanyeol 11 tahun lalu? Sungguh? Kau akan melawan tuanmu yang selama ini rela kau korbankan nyawamu untuknya?" Tanya Xiumin dengan suara menuntut.

Chen diam sebentar.

"Aku tak mungkin melawannya, namun aku mungkin akan mengkhianatinya. Aku akan kabur meninggalkannya sambil membawamu. Bila Baekhyun langsung membawa Chanyeol hari itu tanpa memikirkan kita semua, aku tak ingin mengabdikan diri pada orang seperti itu, dia bukan tuanku lagi. Dan seperti yang sudah terjadi, Baekhyun pantas dihormati, dia menekan egonya demi kita semua, dia setidaknya memberikan waktu 10 tahun, untukmu memulihkan diri sendiri dari trauma. Sebelum akhirnya Chanyeol sungguh datang dalam hidupnya." Xiumin mengangguk puas akan jawaban Chen.

Tentu saja seperti itu, para pekerja dibawah naungan Byun terutama Mansion Byun, mengabdi bukan hanya sekedar ingin digaji. Namun karena mereka merasa Tuan mereka pantas diberikan pengabdian.

"Lalu apa pertanyaan selanjutnya?" Tanya Chen.

Tanpa Chen duga Xiumin langsung menatapnya dalam langsung ke matanya. Xiumin memajukan wajahnya pada Chen, dengan perlahan memberikan ciuman lembut pada bibir kekasihnya itu seraya menutup matanya. Chen menerimanya dengan hati membuncah, pertama kalinya Xiumin yang berinisiatif memulai sebuah ciuman diantara mereka berdua hari ini.

Dan saat semua itu berakhir Xiumin menanyakan sebuah pertanyaan paling penting baginya malam ini. Informasi yang mati- matian ingin didengar olehnya.

"Apa kau mencintaiku?"

Adalah pertanyaan yang terlontar. Sontak saja Chen langsung terduduk, diikuti oleh Xiumin yang bangkit dari posisi tidurnya dengan lemah.

"Bisa kau jawab itu?" Tanya Xiumin dengan suara putus asa.

Dan udara dingin langsung memenuhi atmosfir kedua orang ini saat Chen beranjak pergi dari ranjang mereka. Menjauh dari Xiumin yang sekarang rasanya ingin meremat dada yang terasa amat sakit.

Xiumin menunduk. Matanya sudah terasa memanas dan airmata sudah berkumpul di pelupuk matanya. Siap untuk di tumpahkan saat mendengar suara pintu yang di tutup. Chen pergi dari kamar mereka, begitu saja.

Isakan tangis itu akhirnya lolos tanpa bisa ditahan, Xiumin sudah melanggar janjinya pada diri sendiri yang tak akan menangis untuk seorang Kim Jongdae lagi.

"Hei.. kenapa kau menangis?"Dua tangan hangat Chen menangkup kedua pipi chubby Xiumin, seraya mengusap air mata xiumin yang sudah mengalir sulit berhenti.

"Hiks.. kau kembali?" Tanya Xiumin sambil terisak. Hati Chen rasanya diremas tangan tak kasat mata saat melihat ekspresi Xiumin yang seperti ini lagi, ekspresi hancur tak berdaya.

Dengan sekali gerakan Chen menarik tubuh sintal sang kucing kecil kedalam pelukannya. seraya menggumamkan beberapa kata penenang agar tangisan Xiumin mereda. Keduanya seperti itu selama beberapa saat sampai akhirnya tangisan Xiumin berakhir.

"Tenanglah, aku tak meninggalkanmu. Aku tadi keluar untuk mengambil tas kerjaku, karena aku ingin mengambil ini didalamnya." Ujar Chen dengan lembut.

Ekspresi Xiumin langsung menjadi kosong begitu saja, menatap kotak merah marun yang sekarang berada ditangan kiri Chen. Dan dirinya semakin kehabisan kata saat tangan kanan Chen membuka kotak itu. Sebuah cincin didalamnya. Tampak simple namun elegan dan sekali lihatpun semua orang tahu, cincin itu dibuat persis sesuai dengan ukuran jari Xiumin.

Mata Xiumin kembali terasa memanas, mata kucing itu dengan berlinang menatap mata Chen yang sekarang tersenyum padanya.

"Sebenarnya aku ingin melamarmu dalam sebuah makan malam romantis di restoran bintang lima yang indah. Namun Baekhyun menggagalkannya." Chen terkekeh pelan saat mengatakan kalimat terakhirnya, Xiumin semakin terbelalak saat akhirnya tahu bahwa makan malam romantis mereka yang gagal beberapa minggu lalu ternyata juga berarti rencana lamaran Chen yang gagal padanya. Bagaimana bisa Xiumin tak sadar akan hal itu...

Chen berdehem, membersihkan kerongkongannya. Entah bagaimana gugup itu mulai mendatangi pria berumur 40 tahun ini. Chen menghela napasnya, hingga akhirnya memulai kata- katanya.

"Aku sungguh kuno dan kolot. Aku tak terlalu paham teknologi zaman sekarang. Aku juga tak terlalu paham bahasa- bahasa gaul yang sedang ngetren dikalangan anak muda. Aku sudah tua, aku yakin otot- ototku ini hanya bertahan sampai 5 tahun saja lagi. Aku akan berhenti dari BB Entertainment sebentar lagi yang artinya aku akan menjadi pengangguran. Aku telah memiliki banyak one night stand selama ini namun aku tak pernah memacari siapapun, kau adalah kekasih pertamaku jadi sejujurnya selain memperlakukan orang diranjang, aku sungguh tak tahu bagaimana cara memperlakukan kekasih dengan benar. Aku adalah pria tua, pengangguran, dan brengsek yang tak berguna." Xiumin mendengarkan semua perkataan Chen dalam diam, dan rasanya hatinya ingin meledak saat tangan kanan Chen merain tangan kirinya.

"Bolehkah pria sepertiku ini menggenggam tangan ini setiap harinya seumur hidupku? Bolehkah aku berharap kau bersedia menemani hari-hari membosankan bersamaku selama napas masih menjadi penunjang hidup? Aku tak dapat berjanji bahwa jalan yang akan kita tempuh nanti akan mudah, namun aku dapat berjanji bahwa aku akan terus menggengam tanganmu seperti ini apapun yang terjadi. Aku tak akan pernah melepaskanmu Kim- Xiao Minseok. Aku... Aku mencintaimu. Maafkan aku karena kau perlu menunggu lama untuk mendengar aku mengucapkannya. Mulai hari ini aku akan terus mengatakannya hingga kau bosan dan tak sanggup lagi mendengarnya. Xiaomin aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan aku akan selaku mencintaimu. serta dirimulah satu- satunya yang aku cintai."

Xiumin sudah tak dapat melihat wajah Chen sekarang, matanya telah tertutup air mata yang bersimbah keluar tak mau berhenti.

"Kim-Xiao Minseok, maukah kau menerima diriku, yang hanyalah seorang Kim Jongdae ini, untuk menjadi suamimu?" Dan kalimat lamaran itu akhirnya terucap.

Isakan halus lolos dari bibir Xiumin dibarengi dengan tawa bahagia sekaligus haru. Rasanya semua emosi tengah bercampur aduk di dada Xiumin sekarang, dirinya tak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan betapa bahagia dirinya saat ini.

Sambil menghapus airmatanya, kali ini kembali dapat melihat wajah Chen dengan jelas, menatap wajah Chen yang sekarang ikut menatapnya dengan wajah gugup dan penuh harap.

Xiumin mengangguk seraya menjawab, "Aku mau."

Dan sebuah air mata lolos disudut mata pria 40 tahun itu didetik setelah Xiumin menerimanya. Chen menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis. Xiumin tertawa melihat itu sambil ikut menangis bahagia.

"Hei! Kenapa kita berdua justru menangis bersama seperti ini." Ujar Xiumin dengan nada bercanda.

Chen tak peduli, pak tua itu masih terisak sambil menciumi tangan kiri Xiumin yang berada digenggamannya.

"Astaga.. kau menerimaku. Setelah banyak sakit yang aku berikan padamu kau tetap menerimaku. Xiu, apa yang aku miliki sehingga pantas milikimu? Kau terlalu sempurna untukku.." Gumam Chen sambil menciumi tangan Xiumin berulang- ulang.

Xiumin hanya tersenyum menatap itu semua.

"Berikan saja cincin itu padaku, maka segalanya impas." Ujar Xiumin dengan nada cerah dan bahagia.

"Ah ya.." Gumam Chen yang baru ingat dirinya belum menyematkan cincin lamaran itu ke tangan Xiumin.

Diiringi dengan semakin masuknya cincin itu ke jari Xiumin, keduanya merasakan bahwa hati mereka ikut menyatu, ikut terikat. Dan lihatlah, bagaimana jari Xiumin tampak sangat pas dilingkari oleh cincin yang Chen sematkan. Seperti keduanya yang sudah merasa pas untuk satu sama lain. Tak ingin ada yang dirubah lagi, cukup mereka berdua bersama, itu saja sudah cukup.

Xiumin tersenyum kepada Chen, begitu juga Chen kepada Xiumin. Keduanya berpandangan dengan wajah bahagia, disertai tangan keduanya yang bertaut erat.

"Paman Dae, kau belum menjawab dengan jelas, pertanyaan terakhirku tadi, apa kau mencintaiku?" Chen tersenyum mendengarnya.

Chen menangkup kedua pipi chubby Xiumin dengan kedua tangannya. Sambil menatap Xiumin langsung ke kedua matanya Chen menjawab.

"Sangat Xiu, aku sangat mencintaimu. Seberapa keraspun aku mencoba berhenti, aku tetap tak bisa berhenti mencintaimu. Apakah jawaban itu sudah memuaskanmu?" Chen bertanya jenaka diakhir kalimatnya, dan Xiumin mengangguk seraya tertawa.

Dan hanya menunggu sedetik hingga keduanya dengan kompak menutup mata. Kembali menyatukan bibir dalam ciuman dalam sarat akan cinta menggebu yang baru saja terungkapkan.

Keduanya terus larut dalam irama bibir satu sama lain, sama- sama mengabaikan dering telpon milik masing- masing yang terus berdering. Panggilan dari kantor masing- masing yang kalang kabut mencari dua orang penting ini yang hari ini dengan kompaknya terlambat datang ke kantor.

Andaikan semua pegawai itu tahu, bahwa keduanya bahkan berencana untuk bolos aja. Persetan dengan semua pekerjaan memuakkan. Mereka sedang jatuh cinta, dan tak ada yang boleh menganggu mereka hari ini.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

AN :

AAaaaaaaaAAAAAAAAAaaaAAAAaa!!!! DONT TOUCH MEHHH I'M SO SOFT SEPERTI TAHUUUU. BITCH, CHENMIN ENGAGED!!!!!

AKU PERJUANGIN HUBUNGAN KALIAN SAMPAI BERPULUH-PULUH CHAPTER AKHIRNYA TERBAYAR JUGA. OH SHIT, PENGEN NANGIS AKU TUHHH AAAAAAAAAAAAAA.. AKU YG NULIS, AKU YANG BAPER. T-T

ekhm..

oke

Emm Jadi gini.

Sebenarnya aku malu banget sekarang. Karena aku adalah contoh manusia yang ngaku udah dewasa tapi malah gak punya pendirian dan dengan menjijikannya jilat ludah sendiri. Dulu episode belasan aku pernah bilang gak bakalan bikin scene rated tinggikan? Lah atas sana itu apa? Diawal chapter itu apa Momo!! Apa yg sudah kau lakukan Momo?! Kau merusak banyak otak-otak berharga penerus bangsa aargg. Rasanya aku tuh pengen ngurung diri di ruang pengakuan dosa semalaman, memohon sama Tuhan untuk mengampuni aku hiks.

Maaf ya gengs. Maaf maaf maaf banget. Maaf banget udah nulis bagian smut itu. Aku udah berusaha untuk membuatnya dengan bahasa sehalus mungkin tapi tetap aja, itu tulisan yang gak pantes aku persembahkan pada remaja- remaja yang baca cerita ini. hiks. maafkan aku. Aku merasa kotor banget sekarang. Mamahhh anakmu polosin otak anak orang mah T-T

Oh ya, sebenernya ini 2 chapter tapi aku gabung jadi satu, makanya panjang banget. 10K word untuk cerita 1 chapter, aku berharap aja kalian gak pada muntah karena bosen pas baca chapter ini ehehe.

Maafkan atas update yg lama dan typo bertebaran yaa. Oh ya, setengah dari chapter ini diketik tanpa kopi. Kerasa gak? :D Kalau ada bagian yg berantakan, nah.. itu tuh ahaha.

Terima kasih kepada pembaca yg udah ripiyu. Yang sudah polow en laik. Yang sudah menyisihkan waktu hidupnya untuk baca ff amburadul ini.

Oh iya, coba cek di chapter 3 The day of audition deh, pas Chanyeol kebangun tidur oleh gedoran pintu Jimin. Hari itu Chanyeol mimpiin Pertemuan Pertama Sebenarnya dia sama Baekhyun, tapi dia langsung lupa pas bangunnya. Karena itulah Chanyeol ngerasa Baekhyun itu familiar banget, sedangkan baekhyun udah berdebar dan pengen chanyeol lama2 bareng dia dari awal ketemu diperpus.

Trus di chapter 8 First Morning, Chen sebenarnya ngeliatin dari jauh Chanyeol yg ngobrol bareng Kyungsoon. Dan setelah itu dia ngejauh, dan NELPON, itu dia nelpon rumah sakit untuk batalin jadwal operasi mata Baekhyun. Dan coba aja kalian baca lagi kalimat pertama yang chen ucapkan untuk chanyeol. Itu secara tersirat chen bilang, chen tahu gimana rupa ortu nya chanyeol.

Di chapter 19 That is Mine, Disitu baekhyun ngigau, "Chanyeol... terlalu lama.." Nah itu alam bawah sadar baekhyun mengungkapkan akan bagaimana dia 10 tahunan menunggu sesuatu yg tak pasti, entah chanyeol datang atau engga ke dia. Trus hari itu Chanyeol bingung kenapa dia bacain buku kejam kaya hunger games untuk dibacain sebelum tidur. Maaf aku spoilerin bukunya ya, si tokoh cowo Peeta di buku itu suka lama banget sama Katniss dari mereka umur belasan berapa gitu, nah.. Peeta gak pernah punya kesempatan dan keberanian mengungkapkan perasaannya. Mirisnya, dia baru bisa ngungkapin itu di tengah mereka harus bunuh bunuhin orang. Sama kaya baekhyun yg suka udah lama sama chanyeol, tapi gak bisa datengin chanyeol, mirisnya dia harus bahagia di atas banyak kuburan orang tersayangnya dengan bahagia sama chanyeol. Saya orang yg suka bermetafora :D

Chapter 23 I'm Afraid, Disitu chenmin ngobrolin tentang hari dimana chen gak bisa dateng kesekolah xiumin 11 tahun lalu.

Trus di chapter 26 Blind Spot, itu terungkap apa yang baekhyun pikirkan sambil ayun ayunan dipagi pertama chanyeol di mansion Byun. yaitu tentang pertemuan pertama yg bener bener pertamanya mereka.

Hufh.. sudahlah.. saya cape, kalian cari sendiri aja ehehe.

My special thanks to :

Anita Tok, fifakna, ChanBaek09, Guest (yg katanya sering gonta ganti nama), Ryu Cho, Kenzoevaa, danactebh, aybeechan, Nitha Gaemgyu, BaekFlo, Kabybaek (Guest), maya0411, Guest(yg katanya ngerasa aneh ngeliat Do-Do kissing kkkkk ;D ), Chanbeepark, lights8, maximus69, yeolcat, amara elraish.

I Love You Guys.

OH YA, AKU PUNYA SATU PERMINTAAN, BAHKAN PARA SILENT READERS TOLONG DIKABULKAN JUGA SATU- SATUNYA PERMINTAAN SAYA. DI KOLOM KOMENTAR TOLONG KASIH RATING CERITA INI BERAPA YA.

SKALANYA DARI 1 SAMPE 10, BERAPAKAH ANGKA YG KALIAN KASIH UNTUK RMM?. Makin tinggi angkanya berarti makin bagus. Ok, thank you~

Be healthy and Happy

Lets Love Eri /Bow