[Disclaimer Masashi Kishimoto; A Fanfiction Naruhina: Say That You Choose Me!]

Ini termasuk cerita nggak sehat, anggep hiburan aja ya. Happy reading.

"Gomen, Naruto-kun." Adalah kalimat yang menjadi titik mula mengapa Naruto kehilangan segala hal bentuk pertahanan diri, mengetahui bahwa, gadis itu memilih orang lain. Bukan memilihnya. Perasaan meledak melingkup hati dan pikiran. Naruto merasa berada di ujung otaknya berpikir rasional. Siapa yang membohongi siapa? Hinata adalah gadis satu-satunya yang menjadi jangkar dalam penghidupan Naruto. Sandaran dan tumpuan Naruto dalam mengambil tindakan. Gadis murah senyum yang menjadi tempat terakhir Naruto. Gadis yang selalu mendukung Naruto dengan segala kelembutan hatinya bagai malaikat.

"Sasuke sedang membutuhkanku."

"Memangnya aku tidak butuh kau!" Lalu begitu saja suaranya tercekat, tak bisa terkendali. Naruto melepas segala sifat keramah-tamahannya yang senang tersenyum seperti orang tolol itu. Dia menjadi gelap. Tak tersentuh. Dan keras kepala. Juga, egois.

"Sasuke sudah tidak memiliki orangtua Naruto-kun, dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya, tidak seperti dirimu!" Tangisan Hinata tak terbendung setelah tahu fakta bahwa orangtua Sasuke meninggal karena kecelakaan pesawat. "Dan orang yang dibutuhkannya adalah aku." Bukannya Hinata ingin menunjukkan kepercayaan dirinya bahwa hanya dialah yang dibutuhkan melainkan Sasuke sendiri yang memintanya. Ini adalah keputusan berat bagi Hinata. Memilih Naruto atau Sasuke? Harus salah satu dari keduanya.

Naruto mengepal tangan.

"Gomen, Naruto-kun." Kembali permintaan maaf itu mengudara.

Memangnya bila permintaan maaf sudah diutarakan, segala perasaan gelap yang ada di diri Naruto mati seketika? Naruto menyukai Hinata. Naruto mencintai Hinata. Naruto membutuhkan Hinata. Namun gadis itu bahkan bersikap selayaknya buta oleh perasaan hebat yang dimiliki Naruto. Gadis itu lemah dengan mereka yang membutuhkan sosoknya. Gadis itu lemah dengan mereka yang memiliki banyak kekurangan. Dan Sasuke adalah lelaki bajingan yang memanfaatkan itu semua.

Memangnya Naruto tidak tahu itu?

Naruto menggeram memandang jauh ke arah sedikitnya orang berlalu-lalang yang sibuk pada aktivitasnya masing-masing, beberapa di antaranya diam-diam memperhatikan tapi bersikap tidak peduli--tidak mencampuri urusan orang lain. Kembali iris biru itu bergulir menyorot ke jalan besar yang dilewati satu-dua kendaraan beroda empat. Tatapan Naruto berganti menunjukkan segala keganasan yang selalu tersimpan rapat.

"Jika aku bisa membuktikan aku lebih membutuhkanmu, apa kau akan memilihku?" Suaranya kental oleh keposesifan. Hanya ada dua pilihan untuk mengikat gadisnya itu. Mematahkan kedua kakinya agar ia tidak bisa melarikan diri, atau, membuatnya menanggung perasaan bersalah.

"Apa maksud dari--" Belum sempat Hinata mengerti arah pembicaraan Naruto, iris lavender itu terbelalak sempurna. Ia berubah panik. "Naruto apa yang akan kau lakukan?" Jantungnya seakan diremas kuat.

"Memperlihatkan padamu bahwa aku yang lebih membutuhkanmu, bukan Sasuke." Naruto memundurkan langkah sejenak, agar dapat siap berlari mengejar langkah pada tempat di mana jalan besar dipadati kendaraan dengan kecepatan cepat.

"Tidak Naruto-kun, jangan bilang kalau kau akan--!"

Lantas begitu saja kecelakaan mobil terjadi.

"NARUTO!"

Dan Naruto tahu bahwa ia sudah mengambil langkah besar kemenangan.

* * *

Mereka bilang, jika orang yang kau cintai tidak memilihmu maka kau harus mengikhlaskannya. Bukankah cinta tidak harus memiliki? Melihatnya bahagia bersama orang lain, bukankah itu titik tertinggi perasaan cinta? Pengorbanan yang disebut kemurnian sebuah ketulusan. Selayaknya lilin yang tetap mencintai bara api meski panasnya membuat ia meleleh lenyap tanpa menyalahkannya.

Heh, fuck!

Omong kosong.

Aku akan mencurimu. Mengambilmu. Mengalahkan egomu. Mengurungmu dalam satu ruangan di mana kau akan kubiasakan untuk mencintaiku. Kau hanya boleh melihatku. Harus mencintaiku selayaknya aku mencintaimu. Ini adalah cinta yang kuketahui. Jika aku bukan denganmu, kau juga tidak boleh bersama orang lain. Mari bermain sayang~ kutunjukkan seberapa besar cintaku hingga kau terikat kuasaku. Seperti bulan yang bersinar dalam gelap. Bulan yang membutuhkan kegelapan agar ia tetap pada sinarnya. Kau akan seperti itu, my sweety~ kau rembulanku. Kupaksa kau untuk mencintaiku, memilihku, takhluk olehku, terjebak kegelapanku sampai kau lupa bagaimana caranya meloloskan diri.

Aku mencintaimu, hime.

* * *

Ruangan itu adalah ruangan khusus yang disediakan Naruto untuk Hinatanya. Ruangan indah nan besar, yang memiliki ranjang, lemari, meja perhiasan beserta pajangan lukisan burung flamingo. Gaya furnitur terdominasi abu-hitam monokrom. Banyaknya kaca besar seolah mengintip sedikitnya dunia luar. Setiap kali musim panas, teriknya matahari akan membias cantik memenuhi sebagian ruangan, secantik iris mutiara Hinata saat terkena cahaya.

Yang Hinata tahu itu adalah tempat Naruto tinggal. Di mana kala Hinata menginjakkan kaki di sana, Naruto menunggu kepulangannya. Naruto terserang hikikomori. Mengurung diri di kamar. Mengisolasikan diri dari dunia luar maupun kegiatan sosial.

"Naruto-kun aku datang." Hinata mengucapkan kalimat setelah membuka sepatu tergesa, menuju kamar, dan menatap Naruto khawatir. Sehabis menyelesaikan pekerjaannya, tanpa sekalipun pergi ke tempat lain. Pulang setiap harinya ke tempat yang sama, di jam yang sama. Harus seperti itu, karena Naruto akan melukai dirinya sendiri bila Hinata melanggar aturannya. Hinata tidak mau Naruto terluka karenanya. Sudah cukup kejadian tempo hari yang membuat rasa bersalah memenuhi dirinya sampai sekarang, bahkan sampai seumur hidupnya.

Naruto mencelakai dirinya sendiri berniat bunuh diri di depan mata Hinata. Dan itu membuat hati Hinata amat terluka.

"Hinata apa kau mau membantuku?"

"Bagaimana caranya aku membantumu?"

Minggu berikutnya Hinata yang menggantikan posisi Naruto. Ini disebut permainan bertukar nasib. Permainan di mana bergantian Hinatalah yang terus-menerus berada di rumah, melakukan seperti apa yang Naruto dulu pernah lakukan. Menunggu kepulangan Naruto dengan berdiam diri di rumah selama berhari-hari. Segala keinginan dan kebutuhannya terpenuhi. Yang tidak Hinata ketahui ialah segalanya ini memang sudah dirancang sedemikian rupa. Segalanya tentang rasa bersalah, kurungan, dan... cinta. Hinata tidak tahu Naruto sudah merencanakan semuanya sedari awal. Bahkan sampai pada akhir yang...

...seperti ini...

Hinata melenguh saat Naruto menjamah tubuhnya, ia tertarik oleh magnet kenikmatan selama sesaat. Pandangan perempuan itu menyorot bergetar. "Naruto-kun, maaf telah membuatmu terluka saat itu," bisik Hinata disertai air mata berlinangan oleh perasaan campur aduk antara akibat perlakuan Naruto pada tubuhnya, atau terselimuti kesalahan di masa lalu. "Kau tidak boleh menyakiti dirimu sendiri dengan berlari ke jalan besar... dan... menabrakan diri..." Suara lembutnya mengudara membuat nafsu Naruto meningkat drastis. Naruto tidak segan mengecupi kedua mata Hinata, menghapus air matanya lembut.

"Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi asal kau terus bersamaku." Tekan lelaki itu pada intinya. Kain piyama putih yang membalut Hinata, merosot memperlihatkan ketelanjangan perempuan itu tanpa mengenakan dalaman. Tubuhnya yang putih cerah terhiasi ruam-ruam bekas gigitan ciuman.

"Hh..ahh..uhmna-Naruto-kun itu sakit, apa yang kau lakukan?" tanya Hinata bingung.

"Lihat," Naruto menunjukkan pergelangan tangan Hinata yang memiliki bekas gigitan berdarah ulah lelaki Uzumaki itu. "Aku senang jika dapat memberi tanda pada tubuhmu." meski harus membuatnya terluka. Jilatan hangat Naruto membasuh darah Hinata hingga bersih.

"Uh, apa... Naruto-kun bahagia dengan hal itu?" Sesekali Hinata merasa tubuhnya merespon kelewat berlebihan setiap kali Naruto memperlakukannya mengumandangkan kepemilikan. Entah bagaimana eksistensinya merasa seperti sangat dibutuhkan.

Naruto mengangguk mengecupi tiap inchi tubuh Hinata yang bisa ia gapai. Naik dan terus naik, pergelangan, bahu, hingga sampai pada wajah perempuan itu. Kedua mata, hidung, pipi, dan bibir.

"K-kalau begitu aku juga bahagia." Hinata menjawab bersama senyum lainnya. "Ha... ngh!" Kini Naruto kembali berkuasa memberi ciuman panjang di antara mereka berdua. Membungkam bibir menggiurkan perempuan itu layaknya tidak ada hari esok.

"Aku," Suara Naruto berganti seperti predator. Berat dan pasif. Bibir yang masih menempel pada bibir Hinata. "...menginginkan dapat mengukir namaku di kulitmu. Menuliskan nama Naruto dan lambang Uzumaki di sini." Naruto mengusap pergelangan Hinata yang sudah ia lukai dengan gigitan. "Dan di sini." Lalu ia menunjuk lipatan paha bagian dalam perempuan itu.

Hinata mendesis, sentuhan Naruto yang merangkum bagian demi bagian tubuh, membuat perempuan itu terserang sengatan memabukkan. "U-um ba-bagaimana bila di sini juga?" Hinata menunjuk pada atas payudaranya.

"Tidak. Payudara indahmu punyaku dan itu tidak boleh ada noda tato sekalipun." Pandangan Naruto menggelap. "Hanya aku yang boleh mengizinkan kau mengukir tato di bagian tubuh mana." Kalimat keposesifan itu terdengar bagai satu perintah yang harus dijalani. Membius Hinata pada kepasrahan, hingga ia akan mengikuti apa yang diucap Narutonya.

Hinata menjerit tertahan mendesah kuat. "...AH..N-Naruto..." Tubuh Hinata memanas tergelitik secara bersamaan. Naruto menciumi dua payudara Hinata, menjilati putingnya yang menegang, dan memberi sentakan pada lubang perempuan itu, saat Naruto sudah memasuki miliknya sepenuhnya. "...hh.. ngh..uhm ahhh..." Pinggul Hinata bergoyang sensual, merasa tidak nyaman karena ada benda asing yang masuk--meski itu bukan yang pertama kali.

Beberapa detik setelahnya kabut kenikmatan menyergapi. Hinata menggeleng menghantarkan kepuasan. "Ahhmph... mi-milikmu s-semakin membehsahr di dahlamhumn ahhna-Naruto-kun..." Dua payudaranya bergoyang mengikuti irama. Besar dan padat. Seksi dan memikat. Desahannya mengalun kembali saat Naruto menarik putingnya dan melahapnya penuh. Memagut lekat. Menghiasi dengan saliva. Pandangan Hinata mengabur. Dada membusung terangsang. Ia memejamkan mata, kemudian membukanya saat Naruto tiada berhenti mengecupinya.

"Kau hanya milikku, maka harus kutandai." Bisik Naruto sebelum mencumbu bringas bibir Hinata seperti mengecap permen.

Kepala Hinata berputar, napasnya terhembus berat. Mendesah parau memanggil nama Naruto berulang kali. Decapan lidah pada kecupan bibir yang Naruto berikan kembali menginvasi, memberi hisapan bersama nafsu membuncah. Wajah perempuan itu dipenuhi gairah dan air mata.

Tangan Hinata terulur gemetar, mengelusi pipi Naruto yang memiliki tanda lahir mirip seperti kucing. "A-aku mencintaimu Naruto-kun." Kenikmatan melekat pada perempuan Hyuuga itu. Ia mencium kening Naruto dengan bibirnya yang hangat.

Mendengar hal yang paling ingin ia dengar berserta ketidakberhentian kecupan Hinata membuat Naruto tidak bisa menahan seringai iblisnya yang lebar, "Aku tahu." Naruto meraih bahu mulus Hinata, menggigitnya hingga menimbulkan ruam kemerahan berbekas, taringnya berkilat terkena cahaya tamaram. Ia bergerak tiada terkendali, dan semakin liar tiap kali menabrakan miliknya dengan milik Hinata. Lubang Hinata mencengkeram, berkedut, dan membuat Naruto tidak bisa berpikir jernih. Ranjang mereka berderit menandakan betapa kasar dan kuatnya Naruto menyentak.

"Ah!"

"Ngh...um ahh..."

"Ahh N-Naruto.. uhm..."

"...ahhku..."

"...hhh na-Naruto-kun!" Lenguhan Hinata berubah menjadi lenguhan-lenguhan nakal. Kedua tangannya meremas tidak berdaya bergantian antara seprai ranjang dan bahu Naruto yang lebar. "Hmph..ngh ah.."

"Ahku... inghin kelh..."

"..ahh..."

Tatapan Hinata melirik sayu tidak fokus, kalimatnya tak pernah selesai, akalnya tiada berfungsi, pandangan langit dan Naruto bergoyang di kedua mata, tanda bahwa sebentar lagi ia akan pingsan. Hinata meracau. Tubuhnya bergetar mendapat sensasi memabukkan. Air mata Hinata kembali menggenang penuh. Mengucur pelan-pelan jatuh membasahi pipi.

Naruto menggeram berat, "Karena aku juga sangat mencintaimu, Hime-ku."

"AAHHhhh Naruh... NARUTO-KHUNHhhhh!" Punggung Hinata melengkung berganti gemetar, datang dengan orgasme hebat. Lubangnya terisi, mencengkeram milik Naruto yang menyemprotkan cairannya memenuhi rahim. Mata Hinata terpejam disertai napas memburu terengah.

* * *

Naruto tahu, sedari awal ia memiliki lebih banyak peluang dibanding Uchiha itu. Alasannya karena Narutolah yang terlebih dahulu bertemu Hinata. Maka Hinata menaruh hatinya lebih besar pada Naruto.

Awal pertemuan mereka adalah, tentu saja Naruto yang paling mengingat momen tersebut. Pada siang terik di mana saat itu Naruto sedang dalam kondisi terburuknya. Khushina berada di rumah sakit akibat kecelakaan, sedangkan Naruto harus terhambat di dalam kereta, karena ia bahkan tidak bisa menggunakan mobil atau motornya. Mengapa ia bahkan tidak bisa menggunakan kendaraan pribadinya tersebut? Itu karena neneknya! Kaguya. Nenek lampir itu sering kali menimbulkan masalah hingga membuat Naruto ingin membunuhnya cepat-cepat. Namun Naruto tidak bisa berlaku seenaknya tanpa menyelesaikan persoalan ini dan itu. Karena Kaguya masih memiliki kunci besar untuk kejayaan Uzumaki.

Singkat cerita Naruto kala itu terserang demam ringan, ya ringan, sebab ia masih sanggup berdiri, berjalan, dan berdempetan. Naruto mencoba mengisi perut kosongnya dengan roti yang dijual dekat stasiun, tetapi bukan rasa kenyang sementara yang didapatkan, malahan mual luar biasa saat ia memasukkan roti ke dalam mulut, perut Naruto berbunyi begitu sakit. Naruto mengumpat di sela-sela keperihannya. Sehabis membuang roti tersebut, ia memilih berjalan menerjang kerumunan setelah kereta yang ditungguinya telah berhenti di peron 1.

Perjalanan Naruto semakin buruk dikarenakan keramaian tidak terhindarkan lagi. Kepala Naruto berkunang berat. Tatapan biru sapphire itu menyorot tiada fokus meski sudah berpegangan pada penyanggah kereta. Ia bahkan tidak mendapatkan tempat duduk! Belum lagi satu dan lainnya benar-benar tidak ada jarak dengan tubuhnya membuat demam Naruto semakin parah adanya. Naruto lemas. Ia memegang kepala untuk sekedar memberi kekuatan pada tubuhnya sendiri agar tetap berdiri tegap. Pandangannya berkunang. Tubuh brengsek tahan dulu! Kaa-san menungguku di rumah sakit!

Kereta mulai berjalan, keseimbangan Naruto tidak bisa tertahan. Ia jatuh terduduk di tengah banyak pasang mata memperhatikan namun tiada peduli. Biasanya akan ada satpam yang membantu bilamana ada penumpang yang membutuhkan bantuan. Lain hal dengan sekarang, jangankan satpam, Naruto memiliki ruang untuk bernapas pun tidak. Naruto kembali mengumpat kesialannya hari ini untuk ratusan kali. Saat itulah malaikat itu muncul. Maksudnya adalah Hinata Hyuuga.

"Su-summimasen ano... a-apa kau baik-baik saja? Ku-kurasa kau sedang tidak dalam kondisi sehat." Hinata merangkul Naruto membawanya susah-payah pada satu tempat yang sebelumnya diduduki dirinya sendiri. "Ka-u duduk di sini saja, tidak perlu khawatir, pemberhentianku memang masih lama, tetapi aku sudah terbiasa berdiri di dalam kereta." Hinata tersenyum manis selayaknya membawa tusukan kuat pada jantung Naruto, menggoresnya pelan, memberi ukiran tak terhapuskan kupu-kupu berterbangan, menandakan bahwa... Naruto benar-benar terbungkam oleh sikap baik yang dipancarkan lembut dalam diri Hinata. Uzumaki itu sudah jatuh cinta bahkan sebelum Naruto menyadarinya.

"A-ano i-ini..." Hinata membuka resleting tas mengambil bungkusan obat di tengah kereta sedang berhenti di pemberhentian, saat kereta kembali melaju, Hinata menarik telapak tangan Naruto yang panas agar menerima pemberiannya. Perempuan itu berujar empati, "Ka-kau sepertinya demam, tanganmu juga panas, syukurlah aku sempat membawa obat di dalam tas." Jemari putih mulusnya meremas tangan Naruto halus. "Semoga lekas sembuh a-ano a-aku memberikannya untukmu."

Kegugupan yang terpancar dalam diri Hinata membuat Naruto tidak bisa berhenti menatap rupawannya perempuan itu. Rapuh dan baik. Gugup dan kikuk. Cantik. Sangat cantik.

Pertemuan kedua adalah di dalam bus. Naruto ingat saat itu Hinata mengenakan kaus ungu berlengan, rambut tergerai dan rok panjang abu-abu. Ia membawa tas coklat di punggung. Matanya bulat dan jernih. Hinata berjalan naik ke bus seusai hujan menerjang. Perempuan itu menjadi sedikit basah akibat rintikan air. Ia memilih duduk di pinggir, dan memperhatikan alam luar dari bingkai jendela. Naruto yang saat itu memang sudah berada di dalam bus tertegun. Jarak antara mereka tidak jauh di mana Hinata dekat jendela sebelah kiri, Naruto berada di seberangnya. Hinata... apakah ia tidak pernah menyadari bahwa... ia begitu indah? Naruto segera tahu bahwa perempuan yang duduk di situ adalah perempuan yang sama menawarkan bantuan pada Naruto di kereta.

Pertemuan ketiga ialah Naruto mendapati Hinata yang diam-diam menangis karena hal sepele--bagi Naruto--tidak! Mereka belum saling memperkenalkan nama, Narutolah yang terlebih dahulu mengetahui nama Hinata.

Perempuan itu bersembunyi di sudut di balik penyanggah ruangan, setelah kampus memberikan sebuah surat pada perempuan Hyuuga itu yang diyakini Naruto sebagai surat peringatan semesteran. Berbicara tentang kampus, mereka berdua, Naruto dan Hinata nyatanya adalah teman 1 universitas berbeda jurusan. Di mana Hinata mengambil jurusan bahasa asing sedangkan Naruto mengambil jurusan arsitektur interior. Hinata itu... bahkan begitu bersinar dengan wajah tangisnya. Entah memang pemikiran Naruto yang kelewat idiot atau otaknya benar-benar mesum, persetan dengan semuanya. Naruto merasa ia jatuh cinta lagi. Isakan Hinata bagai nyanyian merdu yang membuat Naruto menjadi... menjadi... sanggupkah ia mengatakannya? Bergairah.

Senyum, merenung, bahkan tangis, Naruto menyukainya. Naruto menginginkannya. Malangnya Hinata, ia bahkan tidak sadar bahwa Naruto sudah memiliki rasa cinta yang aneh padanya, hanya karena kebaikannya menolong orang lain. Cinta tentang Naruto yang harus memiliki Hinata. Tubuh dan hati. Keduanya. Semuanya. Segalanya. Cinta yang tumbuh mengerikan seperti obsesi.

* * *

Ruangan itu kini beralih memiliki banyak hiasan foto Hinata dalam berbagai ekspresi. Beberapa di antaranya terdapat Naruto di sana, bergaya mesra menyorot lurus Hinata, sedangkan Hinata fokus memandang kamera. Begitu saja, pernikahan mereka pun resmi tergelar sangat mewah dua bulan yang lalu.

Rumah yang mereka tempati sedari awal memang didesain sendiri oleh Naruto. Naruto menyukai gambar, desain, dan bangunan. Dan Hinata adalah pemenang dari 'kesukaan' Naruto sendiri. Bukan hanya mendesain Naruto pandai melukis serta membidik objek. Tak terhitung begitu banyak momen di antara mereka yang Naruto abadikan dalam sebuah lukisan/foto, pula... beberapa ekspresi nakal Hinata yang dijadikan album oleh lelaki Uzumaki itu. Konyol memang. Begitulah adanya. Naruto menginginkan dapat menyimpan Hinata, momen setiap menit mereka berdua, tentang kebersamaan mereka berdua, agar waktu yang berjalan tak membuat Naruto ketakutan.

Kasus Uchiha Sasuke sudah ia bereskan. Pada inti akhir dari mereka berdua adalah Naruto yang memenangkan persaingan mengambil Hinata. Bagaimana tidak? Naruto memonopoli perempuan Hyuuga--ralat sekarang sudah berganti Uzumaki itu dalam sebuah rumah kurungan. Hinata, Naruto jadikan miliknya. Iba dan kasihan pada Sasuke? Yang benar saja! Narutolah yang pertama kali bertemu Hinata. Peduli setan dengan rasa kemanusiaan. Toh Sasuke memilih pergi ke luar negeri sekarang, setelah ancaman Naruto yang menyuruhnya menghilang atau siksaan.

Hinata mengerang parau, dadanya kembali berguncang saat Naruto mengganti posisi keintiman mereka menjadi duduk. Naruto menarik wajah Hinata agar berhadapan dengannya dan kembali berciuman. Dua payudara Hinata menempel ketat pada dada bidang Naruto sehingga Uzumaki itu tidak bisa menahan diri untuk tidak membunyikan geraman-gemaran terangsang.

"...ahhHHh..."

Desahan merdu Hinata menguasai ruangan sampai Naruto berganti semakin kasar dalam permainan. Sembari mencengkeram kuat pantat Hinata yang kenyal, pinggul tidak berhenti mengoyak, Naruto menggigiti tubuh Hinata memberi kissmark sulit dihilangkan dalam waktu dekat.

* * *

Pagi menjelang, Hinata bangun dengan banyak kesakitan tubuh. Meski tubuhnya sudah dibersihkan oleh Naruto dengan air hangat, sisa-sisa hubungan cinta mereka tetap meninggalkan jejak-jejak kengiluan dalam diri Hinata.

Hinata memekik dikagetkan dengan Naruto yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Membawa Hinata di atas meja ruang makan yang sudah dihidangkan berbagai makanan delivery.

Hinata mengambil sepotong pizza, menggigitnya sebentar, lalu menyodorkan pada Naruto yang disambut baik oleh lelaki itu. "T-turunkan aku Naruto-kun aku mau duduk di atas kursi." Perintah Hinata di sela kunyahannya.

"Baiklah." Naruto mengangguk memindahkan Hinata di kursi. Ia duduk di samping perempuan itu, membuka mulut setiap kali Hinata menyuapinya.

Hinata mengenakan kemeja transparan ukuran Naruto yang kebesaran di tubuh perempuan itu. Ya. Naruto yang sengaja membelikannya. Naruto menyukai Hinata mengenakan pakaian kebesaran bertelanjang tanpa dalaman. Bahkan Naruto bisa melihat puting Hinata terekspos dengan jarak seperti ini.

"Aku mengadakan pameran seni lukis sore ini. Mau melihat hasil lukisanku di sana?"

"Ya!" Hinata tersenyum. "Aku senang setiap kali Naruto-kun menghasilkan karya." Hinata menyendok suapan besar ke dalam mulut dan menelannya lahap. "Aku juga senang Naruto-kun memiliki hobi-hobi positif."

Naruto mengecup kening Hinata sayang, sambil mengelus rambut indigo perempuanya. "Kau memang pengertian." Puji Naruto tulus. Membersihkan remahan sisa makanan di bibir Hinata dengan jemari besar. "Huh? Apa kau benar-benar selapar itu?" keluh Naruto memulai candaan.

Hinata mengangguk tanpa keraguan. "Benar, sangat saaaangat lapar sampai-sampai aku sanggup memakanmu Naruto-kun!" Umbar Hinata sengit bernotasi menakut-nakuti, melotot dan menunjuk Naruto dengan sendok.

Naruto tergelak gemas. Ia mendekati Hinata, mengigit pipi perempuan itu yang sedikit mengembung mirip hamster. "Aku tidak sabar untuk dimakan olehmu nona Uzumaki. Jadi malam ini kau yang di atas, Hinata." Goda Naruto yang sukses membuat pelototan Hinata tambah besar dan memerah merona. "Ka-kau me-mesum Naruto-kun!"


* * *

Kemarin saya buat Strange Relationship 18plus genre sasuhina, sekarang Say That You Chose Me 21plus genre naruhina. HEHE.

Tanpa banyak bicara, sampai jumpa lagi di cerita saya lainnya, dah!

Story by artnius