Read My Music

Present By GoodMornaing

.

.

Happy Reading

Chapter 40: Investment

.

.

.


Musim Semi, 2014

Kantor Utama BB Group, Seoul, Korea selatan


Tuan Besar Byun Baekhyun tersenyum kecil pada semua kamera yang membombardir dirinya dengan blitz tiada henti dari detik pertama dirinya keluar dari mobil, menampakkan diri untuk menghadiri Rapat Dewan Direksi BB Group hari ini.

Walau sedikit risih, dirinya mencoba menikmati bagaimana sekarang seluruh dunia terfokus pada dirinya seorang. Dengan segala kehebohan ini, Baekhyun akui dirinya merasa sedikit puas dengan reaksi publik yang seakan haus akan segala berita tentang dirinya yang baru saja muncul setelah 20 tahun mengurung diri didalam mansion megah Byun.

Mulai lelah, Baekhyun memutuskan untuk memberikan beberapa lambaian terakhir pada kamera, hingga kemudian melangkah untuk pergi, meninggalkan puluhan kamera yang masih saja menyorotnya dari segala sisi. Dengan aura seseorang yang memang sudah terlahir sebagai pemimpin, Baekhyun berjalan mantap menuju ke dalam gedung kantor utama perusahaan miliknya.

Hari ini adalah hari penting.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, BB Group akan memiliki seorang CEO yang tak memiliki marga Byun didepan namanya. Dan Rapat Dewan Direksi BB Group hari ini, tak akan bisa dimulai bila Baekhyun tak hadir. Sebab itulah Baekhyun sengaja datang sedikit terlambat, bermaksud ingin menjadi orang yang terakhir datang dan acara bisa langsung dimulai didetik pertama dirinya duduk diruangan rapat.

Namun dugaan Baekhyun salah, sepertinya dirinya bukanlah yang terakhir datang ke acara kali ini.

Baekhyun menyadari hal itu sejak bisik-bisik para wartawan yang tiba- tiba terasa seperti jutaan lebah bersuara. Diikuti dengan berpindahnya fokus kamera yang awalnya tertuju padanya, kini menuju ke bagian belakang Baekhyun.

Dengan refleks Baekhyun berbalik.

Ingin mengetahui, siapakah gerangan orang yang bahkan berani datang lebih lambat dari sepemilik acara hari ini.

Dan setelah mengetahui siapakah itu, sudut bibir Baekhyun terangkat tanpa bisa ditahan.

Iris abu- abu Baekhyun berpendar dihantam matahari cerah musim semi jam 11 siang. Dan siluet seseorang yang selama ini tak pernah masuk secara langsung ke dalam netra abu- abu itu, kini.. dapat melahap bulat- bulat visual didepannya.

Chanyeol tampak sangat memukau.

Berjalan bak seorang Worldwide Idol yang melewati red carpet untuk acara award akhir tahun. Main Vocalist sekaligus pencipta lagu dari Album What A Life yang terjual 1 juta copy itu, tampak persis seperti seorang Tuan-Muda-Keturunan-Ketiga-Chaebol dengan setelan hitam dan rambut blonde-nya yang diatur ke atas dan memamerkan dahi sempurnanya itu.

Mata hitam legam milik Chanyeol ikut berbinar saat matanya bertemu dengan mata abu-abu milik Baekhyun, lengkap dengan senyum cerah yang tersungging dibibirnya.

Saat kedua tokoh terkenal namun berbeda kategori itu, kini berhadapan, keduanya kompak merasakan bagaimana media semakin gencar mengambil potret untuk mengabadikan momen langka untuk dilihat oleh khalayak ini.

Tak akan ada yang menyangka bahwa seorang Idol dan penulis lagu seperti Park Chanyeol akan berhadapan dengan Mega Milyarder seperti seorang Tuan Besar Byun Baekhyun.

Keduanya berpandangan sebentar, lalu dengan kompak memberikan senyuman profesional disertai dengan berjabat tangan dengan sungguh profesional.

Dengan senyum semanis malaikat, namun suara dingin mengancam, Baekhyun bertanya setengah berbisik, "Sejauh yang saya ingat, salah satu dewan direksi yang hadir hari ini adalah Tuan PARK Sungjin, bukan PARK chanyeol. Wahh.. ini adalah kejutan yang sungguh manis, apakah gerangan yang Tuan Muda Park lakukan disini?" Selanjutnya Chanyeol memberikan tawa hambar, namun masih dengan mempertahankan ekspresinya agar tak ada satupun kamera wartawan yang merasakan kejanggalan dari ekspresi Chanyeol.

"Saya yang lebih terkejut saat mengetahui bahwa, seorang Tuan Byun yang terhormat ternyata akrab dengan Ayah saya. Hingga bahkan berdiskusi masalah ekonomi dan investasi. Sungguh kejutan yang manis." Chanyeol membalas serangan Baekhyun.

"Oh tentu saja, beliau jauh lebih menyenangkan daripada putranya." Tentu saja Baekhyun tak mau kalah.

Chanyeol menarik napas dalam. Untuk menahan dirinya sendiri agar tak menampilkan ekspresi kesal.

Baekhyun menahan tawa jahat yang sangat ingin sekali dirinya keluarkan saat ini.

Lalu kedua alis Baekhyun tampak naik keatas saat pria mungil itu menyadari sorot mata Chanyeol yang menggelap, "Sejak kapan?" suara Idol Park itu turun sebanyak 2 oktaf.

Oh.. sungguh suara berat yang mengerikan, siapapun yang mendengarnya pasti akan merinding ketakutan disekujur badan.

Namun perlu diingatkan lagi, lawan bicara Chanyeol sekarang adalah Byun Baekhyun. Lihatlah, Baekhyun memberikan senyum cerah, sama sekali tak terpengaruh dengan serangan Chanyeol tadi.

Baekhyun menepuk bahu kiri Chanyeol dengan tangan kanannya, tangan kecil berjari lentik yang cantik itu anehnya tampak sungguh bagus diletakkan diatas bahu Chanyeol yang lebar dan kokoh.

Lalu Baekhyun mulai bersuara, "Sejak aku mabuk dan menangis di kediaman keluarga Park 3 tahun lalu, Ayahmu telah menjadi salah satu sahabatku." Mata Chanyeol terbuka lebar mendengar itu, dan ekspresi sang Idol membuat Baekhyun tak tahan lagi untuk menahan tawa.

Mengabaikan seluruh kamera yang menyorot mereka, Baekhyun tertawa dengan cantiknya. Kontan saja seluruh kamera langsung berlomba- lomba mengabadikan momen indah yang membuat seluruh wajah kameramen memerah dibalik kamera mereka menatap wajah bak malaikat tertawa itu.

Mungkin besok seluruh media akan membuat headline bahwa Idol Park Chanyeol SC yang terkenal humoris sudah berhasil membuat The Owner of BB Group Mr. Baekhyun Byun tertawa.

.

.

.


Flashback


"Woahh... Tuan tampak sungguh fresh dan muda." Seulgi berucap heboh melihat penampilan Baekhyun malam itu.

"Aku ada kencan malam ini. Beri intruksi pada para bodyguard untuk berhenti mengikutiku. Silahkan lacak keberadaanku dari ponselku saja. Mengerti?" Baekhyun bertanya memastikan Seulgi paham intruksi yang dirinya berikan.

"Mengerti Tuan Muda." Seulgi mengangguk paham.

"Oh ya, aku ingin merasakan kencan yang normal, jadi aku akan menggunakan bus. Bisa aku pinjam kartu transportasi-mu, aku tak punya." Pinta Baekhyun pada si Maid cantik didepannya.

Sontak saja Seulgi tertawa, lalu terburu meraih kantong bajunya untuk mengambil dompet. Membukanya, lalu menyerahkan sebuah kartu kepada sang majikan.

"Tolong diganti dengan cara menambahkan nol dibelakang angka gaji saya bulan depan ya Tuan Muda." Canda Seulgi pada sang Tuan Muda.

Kontan saja Baekhyun meresponnya dengan mengusak gemas rambut Seulgi, sedikit kencang hingga kepala si Maid terlempar ke belakang.

"Argg.. anda merusaknya, saya menata rambut ini selama 2 jam!" Teriak Seulgi kesal, Baekhyun dan beberapa pegawai Mansion Byun lainnya yang melihat itu hanya tertawa.

"Anda akan makan malam diluar? Pulang jam berapa?" Tanya Seulgi dengan mulut yang masih merengut kesal.

Baekhyun membalas itu dengan menggedikkan bahunya acuh, "Tentu saja aku akan makan malam diluar, dan terserah aku pulang jam berapa. Jangan bersikap seolah aku adalah remaja dan kau adalah ibuku." Sekarang Baekhyun menjentikkan jarinya ke dahi Seulgi.

"Akh! Hey!" Teriak Seulgi seraya memegang keningnya yang berdenyut sambil menutup mata.

Malangnya Seulgi, disaat dirinya sudah kehabisan kesabaran akan kelakuan sang Tuan Muda yang terus mengerjainya, Seulgi sudah siap untuk memukul bahu Baekhyun sebagai balas dendam. Namun saat dirinya membuka mata, Baekhyun sudah berjalan menjauh menuju pintu gerbang Mansion Byun.

"Dasar.." Gumamnya pelan.

"TUAN MUDA, HATI- HATI DI JALAN! JANGAN MINUM ALKOHOL JENIS APAPUN!!" Teriak Seulgi kemudian.

Baekhyun hanya merespon itu dengan melambai dengan tangan kirinya, seraya terus berjalan dengan tangan kanan yang dimasukkan pada kantung depan jeans yang dirinya kenakan.

Seulgi menyipitkan matanya melihat itu, "Hemm.. mencurigakan." Gumamnya lagi.

.

.

"Hmmm.. Risotto ini enak sekali Abeonim!" Baekhyun memakan masakan Tuan Park dengan table manner sempurna.

"Apakah Koki Do tidak cemburu bila anda terus makan malam disini Tuan Byun?" Tuan Park memberikan senyum kecil, dirinya sendiri tak bisa memungkiri bahwa sebenarnya merasa bahagia karena Baekhyun terus menyempatkan diri untuk menemuinya disetiap waktu luang selama 3 tahun ini.

"Tolong panggil Baekhyun saja Abeonim. Dan juga tenang saja, saya makan masakan Tuan Do saat saya rindu dengan Kyungsoon." Jawab Baekhyun disela kunyahannya.

Tuan Park terkekeh pelan mendengar itu. Lalu membersihkan saus Risotto disudut bibir Baekhyun dengan tisu. Sepertinya kebiasaan makan berantakan Baekhyun masih belum berubah meski si Tuan Muda telah mendapatkan kembali kemampuan melihatnya.

"Jika seperti itu, bukankah maksudnya anda datang ke Viva Polo lalu memakan masakan saya, jika anda sedang rindu dengan Chanyeol?" Tanya Tuan Park sambil menatap dengan lamat ekspresi anak muda dengan aset puluhan kali lipat lebih banyak dari dirinya itu.

Baekhyun menghentikan kunyahannya. Lalu tersenyun pada pria yang beberapa tahun lebih tua Chen Ahjussi-nya ini.

Tuan Park membalas senyum dari pria muda yang dirinya akui sebagai orang tercantik yang pernah dirinya temui seumurhidupnya ini.

"Saya akui awalnya memang seperti itu, namun beberapa waktu ini. Saya datang kesini karena memang ingin menghabiskan waktu bersama anda." Jawab Baekhyun setelah meletakkan kembali sendok dan garpu ditempatnya, lalu menekan pinggiran bibirnya dengan kain putih lap khusus yang biasanya dipakai untuk membersihkan pinggiran bibir dan mengakhiri makan.

Semua perilaku dan tingkah khas seorang Keluarga Bangsawan yang Baekhyun lakukan sama sekali tak lepas dari pandangan Tuan Park.

"Jadi, apakah yang ingin anda diskusikan kali ini jika bukan tentang Chanyeol?" Tanya Tuan Park dengan nada murni ingin tahu.

"Tuan.. anda punya banyak uang?" Tanya Baekhyun to the point.

Tuan Park berkedip beberapa kali setelah mendengar itu.

"Er.. aku punya banyak, namun pastinya tak sebanyak milik anda," jawab Tuan Park kemudian.

Baekhyun menganggukkan kepalanya beberapa kali perlahan.

"Kemana semua uang itu? Apakah anda memiliki bisnis lain selain Viva Polo, ataukah Viva Polo memiliki cabang dilain?" Tanya Baekhyun lagi.

Awalnya Tuan Park sudah membuka mulut ingin menjawab, lalu kembali menutup mulutnya di detik selanjutnya.

"Anda pasti sudah tahu semuanya, bukannya sudah menjadi ilmu dasar para konglomerat untuk melakukan pencaharian latar belakang dan info penting dari orang-orang disekitarnya." Tuan Park menatap Baekhyun dengan mata lurus dan mantap, Baekhyun menatapnya dengan tatapan lurus yang sama.

Hingga akhirnya mata Baekhyun menjadi melengkung diiringi sebuah senyuman yang terbit, "Pastinya. Terima kasih atas pengertiannya," ujar Baekhyun dengan santai, sama sekali tak merasa takut atau malu setelah ketahuan mencheck info pribadi dari ayah mantan kekasihnya itu.

"Sungguh kehormatan bila keberadaanku bahkan membuat sang Tuan Muda Byun Baekhyun mencari tahu hingga sudut terdalam. Apakah yang diinginkan orang hebat seperti anda dari saya?" Tanya Tuan Park dengan suara yang sekali lagi terdengar murni hanya ingin tahu saja.

Baekhyun masih mempertahankan senyumnya, "Apakah anda tertarik berinvestasi? Ayo beli beberapa lot saja saham dari BB Group, dalam waktu 3 hari kedepan uang itu akan berlipat ganda hingga 10 kali lipat." Baekhyun menjelaskannya dengan perlahan.

"S-Sepuluh?!" Tanpa sadar Tuan Park menjerit.

Baekhyun mengangguk mengiyakan. Lalu dengan wajah serius dan ekspresi tegas Baekhyun mengatakan, "Mari bergabung dengan BB Group Tuan Park, miliki-lah setidaknya persenan minimal saham hingga suara anda ikut dihitung di Rapat Dewan Direksi."

Ekspresi Tuan Park otomatis menegang setelah mendengar itu.

"T-Tapi... kapitalisasi saham BB sekarang... lalu 1 lotnya saham BB Group sekarang itu harganya..." Tuan Park bergumam ragu mengingat artikel- artikel bisnis dan berita pasar saham yang hanya sekilas dirinya baca.

"2.102.025.300,00 USD, 1 lot sahamnya 336,32 USD" jawab Baekhyun dengan cepat, sama sekali tak merasa bersalah telah menyela.

Mata Tuan Park melebar, "Lalu sepuluh kali lipatnya.."

Pupil mata Tuan Park bergetar, dirinya tahu bahwa anak muda didepannya ini sangatlah kaya, namun saat mendengar angka yang disebutkan itu. Memberi kejelasan bahwa ditubuh kecil mungil pria Byun didepannya ini, perekonomian satu negara ikut berputar diantara jari- jarinya. (baca: Kapitalisasi pasar saham BB Group sekarang itu 2.102.025.300,00 USD itu sekitar 30.000 triliun rupiah, singkatnya.. itu uang modal yang sekarang berputar di seluruh perusahaan BB Group. Bukannya uang dan aset pribadi Baekhyun, itu beda lagi walau bisa masuk hitungan juga bahwa saham Baekhyun di BB adalah aset dia juga sih, sederhananya itu uang berjalan Baekhyun. Uang Mati dia beda lagi, gitu aja dah. Trus satu 1 lot= 100 lembar saham BB sekarang adalah 336,32 USD atau sekitar 4,8jt rupiah. Jadi disini tujuan Baekhyun pengen Tuan Park jadi salah satu anggota Dewan Direksi yang mana minimal punya 0,5% saham perusahaan, itu kalian itung sendiri uangnya berapa Triliun rupiah ya, saya lelahhh.. pokoknya sekitar 150 Triliun rupiah. Dan uang itu bakalan memberi keuntungan 10 kali lipat dalam waktu 3 hari, jadi.. itung aja lagi 150T dikalikan 10. Aduhh gue mual.)

Senyum Baekhyun melebar. Melihat bagaimana Tuan Park mulai meng-kalkulasikan uang yang harus dirinya keluarkan lalu berapa keuntungan yang dirinya dapatkan nanti.

"Bagaimana Tuan Park? Beli-lah sekarang, bila anda melewatkan kesempatan ini, 3 hari kedepan mungkin hanyalah mimpi untuk membeli saham BB Group. Mumpung masih murah," Baekhyun berkata seolah tengah menawarkan satu kotak permen seharga 1 Dollar.

"Sekarang? Murah? U-Uang sebanyak itu?" Tanya Tuan Park dengan mata terbelalak.

"Oh? Anda tak memiliki uang sebanyak itu? Menurut yang terakhir saya periksa, anda memiliki lebih banyak uang dari itu. Hasil dari berwaralaba restoran selama 20 tahun ini. Hebat sekali, bagaimana anda bisa sangat ketat dalam menabung. Tak terlihat sekali dari penampilan anda bahwa anda seorang Milyarder. Bersembunyi dibalik Restoran Italia sederhana bernama Viva Polo." Baekhyun mengucapkan itu semua dengan senyuman manis seolah hal tersebut bukanlah rahasia besar seseorang yang selama puluhan tahun ini telah disembunyikan.

Mata Tuan Park sekali lagi terbelalak.

"Oh astagaa.." Tuan Park merasakan kakinya berubah menjadi jelly, dirinya kira Tuan Muda Byun Baekhyun datang dengan bus hari ini lalu datang ke Viva Polo dan menyewa seluruh kursi di Restorannya hanya untuk memakan sepiring Risotto.

Tak mengira bahwa mereka berdua akan bertransaksi uang dengan jumlah 14 nol dibelakang angka.

"Anda pasti paham saja bagaimana cara membeli saham kan?" Tanya Baekhyun.

Tuan Park mengangguk singkat, kepalanya masih memproses segala yang terjadi.

"Sebenarnya, mengapa anda membujuk saya hari ini?" Tanya Tuan Park yang tak mengerti apakah tujuan Baekhyun mengajaknya bergabung dalam BB Group.

Setelah mendengar pertanyaan itu, Baekhyun kembali mengambil sendok yang tadi dirinya letakkan dengan rapi. Lalu menjawab, "Saya ingin menghentikan Chanyeol yang merasakan insecure bila sudah membahas topik tentang harta, uang, posisi, dan background keluarga."

"Saat nanti saya mendapatkan dia kembali, saya ingin Chanyeol setidaknya bisa bernapas sedikit lega saat media mengulik tentang latar belakangnya, lalu mengetahui bahwa dia adalah anak salah satu Anggota Dewan Direksi BB Group, khalayak akan berpikir.. 'ahaa.. pantas saja mereka menjadi dekat dan akhirnya menjalin hubungan, memang begitulah circle para konglomerat, selalu berputar disitu- situ saja.'"

Tuan Park manatap Baekhyun dengan tatapan dalam.

"Karena itulah kau terus mengunjungiku selama 3 tahun ini. Membuatku tanpa sadar tersentuh dan sayang kepadamu seperti sahabat bahkan anak sendiri, lalu akhirnya, hari ini.. kau menampakkan niat aslimu. Kau ingin memanfaatkan aku, untuk membuat langkahmu mendapatkan Chanyeol semakin mudah." Tuan Park menjabarkan semua analisisnya itu dengan suara tenang, sambil menatap wajah Baekhyun dengan pandangan percaya dan tidak percaya, dirinya sendiri bahkan tanpa sadar telah menanggalkan honorifik yang keduanya pakai selama 3 tahun ini.

Untuk sekian kalinya Baekhyun tersenyum. Senyum polos layaknya seorang anak kecil yang tak tahu sama sekali tentang dunia.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Tuan Park tak lagi tertipu oleh senyum manis itu. Mirisnya, saat si pemilik senyuman manis penipu itu sendiri yang mengaku barulah dirinya sadar betapa bodoh dan naif dirinya selama ini.

"Aku kira kau mendekatiku, karena aku adalah Ayah Chanyeol, dan kau ingin meminta restuku." Gumam Tuan Park, lalu tersenyum lemah.

Pandangan mata Baekhyun melembut, lalu menatap Tuan Park dengan mata abu- abu yang terlihat berkaca- kaca.

"Maafkan saya Abeonim, namun saya terlalu mencintai putra anda hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkan dirinya, sekalipun dengan mengambil hati anda secara licik seperti ini. Jadi saya, Byun Baekhyun yang telah setia menjadi teman anda 3 tahun ini meminta pertolongan, bisakah... anda runtuhkan sedikit tembok yang menghalangi hubungan kami? Saya benci perbedaan status sosial ini. Dan Chanyeol tentu tak mau menerima bantuan dari saya, jadi... sebagai Ayahnya, apakah anda bersedia membantunya?"

Tanpa sadar mata sebelah kiri Baekhyun meneteskan air mata diakhir kalimatnya.

Tuan Park menatap pemuda didepannya dengan takjub, bagaimana bisa... seseorang berjalan sejauh dan sesabar ini hanya agar bisa bersanding dengan orang yang dicintainya.

"Oh astaga.." Tuan Park menunduk lalu terkekeh. Baekhyun menatapnya dalam diam.

Setelah itu Tuan Park mengangkat wajahnya, menatap lurus pada wajah Baekhyun, dan dengan senyuman Tuan Park menjawab, "Setelah 3 tahun ini kau membuat ikatan kuat denganku, setelah aku tahu sedalam itu kau mencintai putraku, bagaimana bisa aku tidak mengabulkan keinginanmu. Baiklah, Tuan Muda Byun Baekhyun, untuk kedepannya mohon kerjasamanya, tolong terima saya untuk bergabung dengan keluarga besar BB Group."

Air mata Baekhyun berurai setelah mendengar jawaban itu, lalu menjabat tangan Tuan Park Sungjin seraya menggumamkan Terima Kasih.

Kencan Baekhyun malam itu berjalan dengan sukses.


Flashback End


.

.

.

20:45 KST

Mansion Byun, Seoul, Korea Selatan.

Malam ini pemandangan berbeda tampak dari Mansion Byun.

Dalam rangka pelantikan CEO baru dari kerajaan perusahaan BB Group yang kita banggakan. Owner dari BB Group, Tuan Besar Byun Baekhyun memutuskan untuk mengadakan pesta megah yang diadakan di kediamannya sendiri, Mansion Byun.

Sudah terbayang bukan?

Pesta megah yang hanya dihadiri oleh tamu- tamu undangan, yang dapat dipastikan bahwa rata- rata adalah kaum borjuis dan para petinggi negara yang namanya sudah tak asing masuk dalam surat kabar.

Hal itulah yang membuat tangan Chanyeol mendingin saat van yang dikendarai oleh managernya sudah memasuki gerbang dan melewati jalan masuk Mansion yang sangat familiar baginya ini.

"Hyung, bagaimana penampilanku? Aku tak tampak memalukan bukan?" Tanya Chanyeol dengan suara gelisah.

Sang manager memutar bola matanya.

"Kau sudah diberi gelar National Boyfriend, apa itu masih kurang untuk membuktikan ketampananmu?" Sang manager balik bertanya.

"Tapi mantan kekasihku dijuluki Genius CEO bahkan saat umurnya masih 15 tahun, dan kau tahu apa julukan dia sekarang? ORANG TERKAYA PALING MUDA DI ASIA! ASIA Hyungggg!" Teriak Chanyeol panik, keringat dingin mulai membanjiri tekuk belakang lehernya.

"Hei tenanglah.. kau mendapatkan undangan secara resmi, bahkan tak hanya 1, melainkan 2 undangan. Satu untuk mewakili Ayahmu sebagai salah satu dewan direksi, dan satunya sebagai Idol dari BB Ent. Tenanglah, kau hanya perlu datang lalu menyapa pemilik pesta, mengucapkan selamat pada CEO yang baru. Lalu bercakap- cakap dengan beberapa orang disana." Managernya Chanyeol terus berbicara, berusaha untuk menenangkan sang Idol dikursi belakang, namun Chanyeol justru semakin diam membisu.

"Hey! Kau mendengarku?" Tanya Manager Kim.

"Begini Chanyeol, maafkan aku bila ini agak kasar, namun... ditengah acara para orang kelebihan uang yang masih saja ingin terus memperbanyak kekayaan itu. Kau tak akan terlalu diperhatikan meski kau melakukan hal memalukan sekalipun, sebab mereka hanya akan mendekati orang yang akan memberi mereka uang terbanyak. Bukannya Idol yang baru saja 2 tahun debut dan baru mencapai kepopuleran. Disana adalah surga dan nerakanya orang- orang bisnis, bukan panggung dunia hiburan tempat biasa kita datangi." Chanyeol masih saja diam mendengarkan.

"Hyung benar.." Gumam Chanyeol sambil menatap gerbang Mansion Byun yang dulu dimasukinya seolah memasuki pintu rumah sendiri itu dengan tatapan asing.

"Dari awal, aku dan dia lahir didunia yang jauh berbeda. Setelah aku pikir lagi, anehnya, aku harus bersyukur kecelakaan itu terjadi. Sebab, bila hal itu tak terjadi, kami akan hidup didunia yang berbeda dari awal dan tak akan pernah bertemu bahkan walau hanya berpapasan. Kejam, namun begitulah cara takdir membuat benang merah kami berdua tersambung," Chanyeol bergumam, lalu setelah itu van miliknya berhenti tepat di depan pintu masuk Mansion Byun yang sekarang dijaga oleh banyak bodyguard.

Setelah menghentikan Van yang dikendarainya, Manager Kim menoleh pada Idolnya yang sedari tadi menggumamkan hal yang sama sekali tak dirinya mengerti. "Aku tak tahu kau sedang membicarakan apa, tapi... kau siap?" tanya manager Kim.

Chanyeol mengangguk.

Setelah itu pintu van tepat disamping Chanyeol terbuka secara otomatis.

Chanyeol keluar dari dengan hati yang telah tenang dan mantap. Lalu berjalan dengan langkah tegap sambil memperbaiki kancing dan posisi jas yang dipakainya setelah sedikit melenceng dari posisinya sebab duduk terlalu lama.

Chanyeol menghela napas beberapa kali, lalu melangkah seraya menggumamkan, "Jika aku ingin kita bisa dapat bersama kembali, langkah pertama adalah... bisa memasuki duniamu dengan kakiku sendiri."

Chanyeol memasuki ruangan pesta, dan yang pertama masuk dalam perhatiannya adalah musik lembut dari orkestra yang memainkan lagu secara live disudut ruangan.

Baru saja beberapa menit, rasanya mata Chanyeol sudah lelah untuk menangkap dan takjub akan segala kemewahan dari pesta didepannya.

Dirinya sudah memasuki Mansion Byun ratusan kali, namun malam ini, Mansion Byun puluhan kali lebih mewah dari biasanya. Seperti yang semua orang harapkan, BB Group.

Bahkan pesta yang mereka adakan sangat jauh dari kata sederhana.

"Oh, Tuan Park Chanyeol?" Chanyeol dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahu kirinya.

Chanyeol pun berbalik, lalu pemandangan pria tampan dengan wajah angelic adalah yang pertama dirinya lihat dari pemilik suara yang memanggil dirinya itu.

"Ah.. anda.." Chanyeol berpura- pura mengingat nama dari pria didepannya, sebab orang didepannya akan tersinggung bila mengetahui Chanyeol sama sekali tak memiliki clue akan siapakah dirinya.

"Choi Suho, putra dari Choi Siwon, sekarang saya telah resmi menjadi CEO Bank SH." Suho mengucapkan itu semua dengan senyuman dan suara ramah.

Chanyeol membalas senyuman Suho dengan sama ramahnya, "Ah yaa.. selamat Tuan Choi." Dan Chanyeol berhasil memberikan respon yang tepat disituasi yang tepat.

Suho tertawa bahagia, "Ahaha terima kasih, dan juga selamat untuk keberhasilan penjualan album anda kemarin, saya dengar anda menulis dan mengaransemen semua lagu di album itu sendiri Tuan Park."

Chanyeol memberikan senyuman cerah, "Saya terkejut ternyata musik saya masuk dalam selera anda, sungguh kehormatan sekali."

Meski sekilas, setelah Chanyeol mengucapkan itu, dirinya dapat melihat kerlingan berbeda dari mata Suho.

"Tuan Park, ini mungkin tak sopan, namun bisa temani saya mencari tempat yang pas untuk merokok di lingkungan Mansion yang luas ini. Saya belum terlalu familiar dengan tempat ini, anda.. tentu saja tahu jalannya bukan?" Tanya Suho dengan masih memasang senyum ramah.

Ekspresi Chanyeol sedikit berubah, lalu tak berapa lama kembali memberikan senyum kepada pria didepannya.

"Ah.. baiklah, mari ikut saya." Ujar Chanyeol, lalu berjalan duluan membawa Suho menuju sayap kiri Mansion, untuk mencari balkon menghadap taman dan kolam renang.

Tanpa kedua pria tampan itu sadari, sedari awal, sejak Chanyeol memasuki ruangan pesta, di ujung tangga spiral Mansion Byun, seorang pria cantik dengan segelas wine putih ditangannya menatap keduanya dengan mata fokus sempurna.

Mata abu- abu Baekhyun menyorot lurus kepada Chanyeol, meski mulutnya terus berbicara menanggapi beberapa obrolan rumit dari beberapa tokoh- tokoh penting BB Group yang sedari awal pesta sudah mengelilingi dirinya seperti semut mengerumuni gula.

Lalu seraya menyesap wine miliknya dengan pelan, Baekhyun menyembunyikan senyum. Seraya dalam hati bergumam, "Dan sekarang Chanyeol-ku telah memiliki teman dari Kalangan Atas."

.

.

Di sisi lain.

Kedua pria tampan itu telah sampai disalah satu balkon sepi Mansion Byun.

"Darimana anda tahu saya hapal ruangan Mansion ini? Siapa yang memberitahu anda?" Tanya Chanyeol tanpa basa- basi. Dirinya sudah menahan penasaran sejak tadi.

Diluar dugaan Suho langsung tertawa, "Jangan kaku seperti itu, ayo kita lunturkan saja honorifik ini saat berdua. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, mari kita berkenalan lagi. Perkenalkan, aku Suho, fans dari Duo S.C, dan sudah terhitung 3 bulan menjadi kekasih Oh Sehun."

"APA?!!" Teriak Chanyeol tak percaya akan apa yang sudah dirinya dengar.

.

.

.

(Disisi lain dunia. Paris, Pranciss)

Musim Semi, 2014

Lewat jam 3 sore waktu setempat.

Sehun dengan bathrobnya, memakai masker perawatan wajah berwarna hitam, bersandar malas ditumpukan bantal tempat tidur hotel bintang lima, lalu sesekali mengambil gigitan pada apel ditangannya dengan belepotan, dan sebuah telepon ditelinganya.

("KAU JADIAN DENGAN SUHO OPPA?! SEJAK KAPAN? AKU KIRA DIA MASIH MENGEJAR MINSEOK OPPA." ) Secara refleks Sehun menjauhkan ponsel dari telinganya saat Shin Jimin mulai berteriak.

"Sudah dari 3 bulan lalu. Sebentar lagi kami merayakan 100 hari jadian kami. Enak saja! Dia sudah move on dari Minseok Hyung, hatinya milikku seorang." Ujar Sehun dengan mulut penuh mengunyah apel.

("Wahhh Oh Sehun, kau mengerikan... dulu kau bersumpah bahwa setelah berakhirnya kontrak larangan berpacaran selama 2 tahun debut di BB, kau akan mendapatkan pria muda, tampan, konglomerat. BAGAIMANA BISA KAU SUNGGUH MENDAPATKANNYA?!") Kini Sehun tak perlu lagi menjauhkan ponsel dari telinganya saat Shinjim mulai berteriak, dirinya telah mengganti mode panggilan menjadi loadspeaker.

"Tentu saja karena aku adalah Oh Sehun." Jawab Sehun dengan entengnya.

Disisi lain telepon, Shinjim memutar bola matanya, "Oh ya benar, kau kan Oh Sehun."

.

.

.

TBC

.

.

.

Author Note:

Ada lagi apdetnya besok atau lusa, tapi jujur aja ya... bakalan ngebosenin banget untuk 2 chap ke depan, jadi sabar- sabar aja. Read My Music emang diciptakan dengan alur lambat yang membuat pembacanya mengantuk. Nih FF obat Insomnia.

Ucapan terima kasihnya untuk ripiyu chap kemarin bakalan digabung di chap selanjutnya aja yaa..

I Love U guys, soooo much. Byeee.