Read My Music
Present By GoodMornaing
.
.
Happy Reading
Chapter 41 : Our Secrets
.
.
.
Musim Semi, 2014. Mansion Byun, Korea Selatan.
(Beberapa hari sebelum Rapat Dewan Direksi BB Group)
"BAEKHYUN!" / "BAEKHYUN!!" Teriakan tak terima oleh Chen dan Xiumin menggema hingga ke sudut ruang kantor mewah Baekhyun. Keduanya tampak terengah, dengan ekspresi wajah yang sama sekali tak bisa disebut tenang.
Bagaimana keduanya tak terkejut, bila seorang yang mereka kira akan menjadi orang yang paling merestui hubungan keduanya. Ternyata malah menjadi sebaliknya. Menjadi orang yang pertama menentang pernikahan mereka.
Padahal Baekhyun-lah, orang yang paling paham dan mengerti, akan seluruh detail bahkan dari sudut terdalam tentang kisah percintaan Chen dan Xiumin. Akan rumitnya perjalanan mereka berdua hingga akhirnya bisa sampai ditahap ini.
Lalu sunyi menguasai ruangan kantor mewah Tuan Muda Byun.
Kedua Kim itu menatap Baekhyun dengan ekspresi bercampur. Berbanding terbalik dengan kedua orang didepannya, ekspresi Baekhyun tampak sungguh tenang. Terlampau santai malah.
Kemudian sang CEO mendongak. Iris abu- abunya memfokus dengan sempurna, membaca ekspresi wajah dari Xiumin dan Chen.
Membuat perbedaannya semakin terasa, dibandingkan dengan ekspresi terkejut, tak terima, dan gelisah yang ditampilkan jelas pada wajah Chen dan Xiumin. Baekhyun tampak sangat... tenang. Setenang air danau ditengah hutan yang tak pernah terkena sentuhan peradaban.
Sangat tenang hingga terasa janggal.
Ketenangan Baekhyun memiliki arti yang lain didalamnya.
Seketika ekspresi Chen dan Xiumin menjadi runtuh.
Keduanya tak tahu lagi bagaimanakah bentuk ekspresi yang mereka tampilkan. Seluruh emosi bercampur yang mereka rasakan saat ini, membuat keduanya kehilangan kendali diri.
Namun, bila sudah mendapati sikap diam Baekhyun seperti ini, keduanya mulai merasakan satu perasaan yang lain.
Suatu perasaan tak nyaman yang akan semua orang rasakan saat berhadapan langsung dengan hal paling mengerikan didunia, salah satu emosi manusia yang biasa orang- orang sebut dengan kata: Takut.
Tenangnya Baekhyun itu dapat diibaratkan bagai danau yang tenang. Berada ditengah hutan yang tak pernah terkena peradaban ataupun campur tangan manusia. Namun justru disitulah letak mengerikannya. Di dalam danau setenang itu, hanya Tuhan-lah yang tahu, akan monster mengerikan apa aja yang bersembunyi didalamnya.
Baekhyun berdehem sebentar. Merasa tak enak hati telah mengintimidasi kedua sahabat dekatnya.
"Duduklah kembali Tuan- tuan, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua, terutama Xiumin Hyung." Baekhyun memandang bergantian pada Chen dan Xiumin sembari mengatakan itu, lalu tatapan sang mata abu-abu mulai menyorot lurus pada mata kucing Xiumin.
Merasakan tatapan seintens itu, wajah Xiumin memerah tanpa bisa di cegah. Dirinya memalu. Dengan kaku pria berdarah Chinese itu kembali duduk pada posisi semula.
Chen yang juga telah menormalkan kembali ekspresinya, kemudian ikut duduk dikursi tunggal disebelah Xiumin, sambil ikut menatap Baekhyun dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Begini Xiu Hyung, aku bukannya menghalangi pernikahan kalian berdua. Kalian adalah sahabat dan merupakan dua orang yang paling aku percaya didunia ini. Aku juga menyayangi kalian sudah seperti keluarga, tak mungkin aku menghalangi kebahagiaan kalian.. Tapi.." Baekhyun memberikan jeda, sebelum memulai pembicaraan yang akan menjadi sangat panjang bagi mereka bertiga sore ini.
Sementara Chen dan Xiumin diam fokus mendengarkan.
"Xiu Hyung, apa yang kau tahu tentang keluarga dari sebelah Ayahmu, Tuan Xiao Luhan. Keluarga Xiao?" Xiumin berkedip beberapa kali, terkejut akan pertanyaan tiba- tiba Baekhyun.
Lalu sunyi menguasai ruang kantor mewah milik Baekhyun. Ketiganya tak mengeluarkan sepatah katapun.
"A-Aku.. tak tahu," Xiumin menjawab dengan suara pelan.
Baekhyun mengangguk dua kali setelah mendengar jawaban itu.
Kemudian iris abu-abunya berganti fokus kepada pria yang duduk disamping Xiumin, "Kalau Ahjussi bagaimana? Paman Luhan adalah sahabat anda, diantara kita bertiga, anda-lah yang benar- benar pernah berinteraksi dengan beliau. Adakah yang anda tahu tentang keluarga Xiao?" Tanya Baekhyun lagi, kali ini kepada orang yang berbeda.
Chen menampilkan ekspresi berpikir, terlihat mencoba mengingat kembali memori lawas yang dirinya miliki bersama sahabatnya lebih dari dua dekade yang lalu.
"Hemm.. yang aku tahu, Luhan memiliki keluarga yang menjalankan tempat latihan beladiri secara turun- temurun, seperti Dojo karate atau taekwondo aku tak tahu tepatnya, namun itu terbukti dengan skill bela diri Luhan memang sungguh khas."
"Nyonya Xiao, ibunya Luhan, adalah seorang mekanik, Luhan mengatakan dirinya mengerti masalah elektronik dan mesin dari Ibunya."
"Dan dia sangat dekat dengan kakeknya di desa, yang merupakan seorang petani atau memiliki perkebunan. Luhan tak pernah bercerita dimanakah tepatnya desa dari si kakek Xiao, dan sawah atau perkebunan apakah yang dimilikinya."
"Dan karena hal itulah, Luhan memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang beladiri, mesin-mesin, dan botani. Aku selalu merasa dirinya memiliki skill yang sudah dapat disebut jenius. Dirinya sungguh mengetahui segalanya diumur yang sangat muda. Namun Luhan selalu membantah itu dengan mengatakan 'hidupku berat, aku harus banyak belajar sejak muda bila ingin terus menyambung hidup, aku tidak jenius seperti Nyonya Besar Byun Sulli, aku hanya banyak belajar, dan aku belajar lebih dahulu daripada orang lain, itu saja.' Itulah yang dia katakan."
Baekhyun terdiam sebentar, terlihat ekspresi berpikir yang sungguh dalam dari wajah cantik pimpinan BB Group itu. "Hem.. sekarang segalanya masuk akal.." Dan sepertinya kebiasaan berbicara sendiri saat sedang berpikir yang dimiliki Baekhyun masih belum berubah. Chen dan Xiumin mengerutkan kening, tak paham dengan konteks kalimat yang Baekhyun gumamkan.
"Adakah Paman Luhan atau Bibi Sohee menceritakan tentang pertemuan pertama mereka?" Tanya Baekhyun lagi pada Chen.
Disisi lain Xiumin hanya bisu mendengarkan, tanpa mengucapkan apa-apa.
Beginilah dirinya, selalu merasa gelisah dan tak nyaman bila sudah membahas tentang orangtuanya sendiri. Xiumin berusaha menenangkan diri dengan mengambil cangkir teh chamomile miliknya yang sudah mendingin, sedari tadi tak tersentuh.
Setelah diam sebentar, Chen mulai kembali bersuara.
"Keduanya bertemu di pelabuhan." Jawabnya.
Baekhyun mengerutkan kening, "Pelabuhan? Laut?"
"Iya, keduanya bertemu di pelabuhan, itu saja yang aku tahu. Aku tak tahu tepatnya pelabuhan mana. Luhan bilang dirinya menyelamatkan Sohee yang hampir tenggelam saat Sohee sedang darmawisata bersama teman satu kelasnya. Kemudian keduanya bertemu lagi di sekolah, kelas lebih tepatnya, Luhan adalah siswa baru di kelas Sohee." Chen tersenyum kecil, merasa lucu, teringat lagi bahwa yang mereka bicarakan sekarang tak lain dan tak bukan adalah kisah dari dua pasangan remaja.
Baekhyun semakin mengerutkan keningnya setelah mendengar penjelasan Chen.
"Pelabuhan, yang berarti Luhan tinggal di daerah dekat laut? di Korea Selatan? dan sendirian?" Tanya Baekhyun bertubi- tubi karena tak paham dengan jalan pikiran Tuan Xiao, ayah dari Xiumin.
"Kenapa? Dirinya mempunyai keluarga lengkap di Beijing. Dia bahkan hanya seorang remaja, terlebih masih pelajar dengan status warga negara China, apa itu tak aneh menurut kalian? Sedang apa dia di daerah pesisir laut Korea Selatan dan menetap disana? Lalu beberapa minggu kemudian ke Seoul dan masuk dalam sekolah Sohee." Tanya Baekhyun berturut- turut.
Baik Baekhyun ataupun Chen menjadi sunyi setelah itu. Keduanya terdiam, setelah pertanyaan bertubi- tubi dari Baekhyun. Akhirnya semua orang mulai merasakan kejanggalan dari cerita ini.
Uhuk.. UHUK.. UHUK..
Hingga akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh pria yang sedari tadi memilih untuk diam bisu mendengarkan. Dengan serempak Chen dan Baekhyun langsung menoleh kepada Xiumin, yang sekarang terlihat menderita setelah tersedak teh miliknya sendiri. Xiumin mengira teh itu sudah dingin, ternyata lebih panas dari dugaannya. Membuat tenggorokannya memberontak sesaat cairan beraroma wangi itu dimasukkan kemulutnya.
Dan layaknya gentleman sejati, Baekhyun dan Chen dengan kompak merogoh kantung bagian dalam jas masing- masing, kemudian menyodorkan sapu tangan milik mereka pada Xiumin.
Uhuk.. uhuk..
Xiumin yang batuknya mulai berkurang, menatap kedua sapu tangan yang sekarang tersodor di depannya. Warna biru navi milik Baekhyun dan warna merah maroon milik Chen.
Tanpa berpikir panjang Xiumin langsung mengambil sapu tangan biru navi milik Baekhyun dengan wajah memerah, merasa malu akan kecerobohannya, sekaligus tersanjung oleh perhatian kedua pria terdekatnya itu kepada dirinya.
Chen tersenyum menatap wajah malu-malu Xiumin, lalu pria 40 tahunan itu memilih untuk menepuk- nepuk pelan punggung sang tunangan. Dan diakhiri dengan mengelus lembut punggung Xiumin dengan telapak tangannya, "Kau tak apa?" Tanyanya lembut.
Xiumin menjawab dengan anggukan.
"Ekhmm.. Ngomong- ngomong masalah pelabuhan, aku pernah kesana saat kecil, namun aku sudah lupa apa saja yang kami lakukan, ingatanku sudah terlalu samar. Aku baru berumur dua atau tiga tahun saat itu. Dimana saja tempat yang kami datangi dan apa saja yang aku dan Ayah lakukan, aku tak tahu. Yang aku ingat, Ayah selalu memberikan aku penutup telinga. Lalu menyuruhku bermain dengan beberapa ekor kelinci." Kemudian, suara Xiumin semakin mengecil diakhir kalimatnya.
"Mati." Ucapnya kemudian dengan suara teramat kecil diruangan sunyi kantor Tuan Muda Byun.
"Siapa yang mati?/ Apa yang mati?" Tanya Baekhyun dan Chen secara bersamaan.
Dengan wajah memucat dan mata kucing yang terbelalak, Xiumin menatap Baekhyun dan Chen dengan bergantian. "Kelinci yang aku mainkan saat kecil itu tak bergerak, kelinci-kelinci itu sudah mati! Ayahku membawaku ke daerah yang dekat pantai dan gunung dan tak berpenghuni dihari liburnya saat masih bekerja kepada suami istri Byun! Dia sedang apa?! A-Aku.. sedang apa.."
Dengan refleks Chen meraih tangan Xiumin untuk menenangkan sang kekasih yang mulai panik.
Baekhyun menatap Xiumin dengan lekat. "Ini aneh... kau hanya akan bereaksi panik seperti ini saat kau mengingat memori yang terdapat suara keras atau ledakan didalamnya. Yang berhubungan dengan kecelakaan 27 November 1992. Namun kali ini, cerita ini bahkan tak berhubungan sama sekali, namun gejala serangan panikmu sama. Kau mempunyai trigger yang lain?" Dengan suara sedingin es Baekhyun bertanya.
Xiumin semakin memucat, dan Chen mulai ikut panik. Dengan mata merah membulat, Chen menatap Baekhyun lekat. Ekspresi awas dan setengah takut terpatri diwajahnya.
"Baek.." Bisik Chen seraya menggelengkan kepala dengan kaku. Berharap agar Baekhyun tak melakukan apapun yang sedang direncanakan olehnya saat ini.
Namun sayang, perlu diingatkan lagi, Baekhyun adalah seorang BOS BESAR Mr. Chairman Byun Baekhyun. Tak akan ada yang bisa menghalangi dirinya mendapatkan apa yang dia inginkan.
Baekhyun menutup matanya. Menarik napas panjang. Lalu menciptakan sebuah senyuman miring.
Dan tepat sedetik setelah itu.
Dengan gerakan yang bahkan lebih cepat daripada fokus mata manusia, Baekhyun mengeluarkan sebuah pistol revolvel dari balik jas yang dikenakannya, menarik hummer dibagian belakang pistol tersebut dengan dengan lihai. Dan bersamaan dengan itu, di ruangan sunyi senyap kantor mewah milik Byun Baekhyun, terdengar suara klik yang pelan namun mencekik dari selongsong peluru yang berada pada posisi siap untuk ditembakkan.
Dengan posisi sempurna, tangan Baekhyun mengarah ke depan, tepat ditengah antara kepala Chen dan Xiumin.
Semuanya membeku, tak ada yang berani bergerak ataupun bersuara. Lebih tepat lagi, situasi ini terlalu mengejutkan untuk memberikan reaksi apapun.
Sedetik.
Dua detik.
Di detik ketiga, Baekhyun melebarkan seringaian dari bibirnya. Lalu mengarahkan pistol revolvel miliknya itu tepat ke kepala Xiumin.
Dan di detik kelima, sang junjungan dari seluruh keluarga besar BB Group itu, tanpa belas kasihan atau secuilpun rasa iba dihati, tanpa ragu menarik pelatuk pistolnya, dan;
DORRRRRRR!!
Terdengar teriakan bersahutan dari luar. Ruangan Baekhyun tidak kedap suara, membuat seluruh penghuni didalamnya dapat mendengar suara tembakan yang menggema keras berasal dari ruangan kerja sang junjungan. Namun, tak ada satupun yang berani memasuki ruangan untuk memeriksa apakah yang terjadi didalamnya. Sebab sudah dari pagi tadi, Baekhyun memberikan perintah agar tak ada satupun orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruang kantornya setelah kedatangan dua sahabatnya.
Disisi lain, Baekhyun menatap Chen dengan takjub. Menatap lurus pada mata seorang Kim Jongdae yang sekarang sudah berdiri dihadapan Xiao Minseok, memberikan tameng anti peluru kepada Xiumin berupa badannya sendiri.
Dilain pihak, Chen terengah. Dirinya sempat membeku tak tahu harus berekspresi dan melakukan apa saat melihat Baekhyun mengeluarkan pistol. Terlampau terkejut.
Namun saat Baekhyun mulai mengarahkan pistol itu ke Xiumin, dirinya merasa tubuhnya bergerak sendiri. Tak mendorong Baekhyun atau menyakiti Baekhyun sang Tuan, namun sekaligus melindungi sang Kekasih, yaitu dengan mengorbankan dirinya sendiri.
Dengan gerakan kaku, Chen memeriksa tubuhnya sendiri. Merasa takut bahwa dirinya sekarang terlampau terkejut untuk merasakan sakit apapun. Selanjutnya wajah Chen menjadi blank, memang tak ada. Dirinya tak terluka sedikitpun bahkan setelah ditembak, yang artinya.
"Pfh.. ahaha.."
Baekhyun terkekeh geli. Lalu berakhir dengan tawa tak tertahankan.
Dan berbeda jauh dari wajah bahagia Baekhyun. Chen memucat dengan wajah kaku ketakutan, Baekhyun sedang marah. Itulah kesimpulannya.
Disisi lain Xiumin sudah banjir keringat, napas memburu, dan wajah memerah. Suara pistol yang didengar tepat didepannya, menjadi trigger mengerikan pada trauma yang dimilikinya.
Chen memberanikan diri menatap lurus pada Baekhyun. Masih merasa tak percaya akan apa yang telah terjadi.
"Iya benar sekali Tuan Kim, selongsongnya kosong tanpa peluru." Ujar Baekhyun dengan cekatan membuka magazen tempat 6 peluru yang berbentuk silinder dari revolvel miliknya. Dengan mata kepalanya sendiri, Chen melihat seluruh tempat peluru disitu kosong.
Chen masih menatap Baekhyun dengan lekat. Baekhyun menatap balik dengan senyum yang tak sampai ke matanya.
"Menurutmu kepada siapa kau beri tatapan curiga seperti itu? Aku bahkan berhak membunuh kalian sekarang juga bila aku mau. Namun disini, aku sedang tak mau. Jadi tenang saja, aku tak membawa pistol yang lain." Ujar Baekhyun dengan suara ramah yang palsu kepada Chen yang masih dalam posisi awas.
Setelah memastikan segalanya aman, Chen berbalik, lalu berjongkok lantai, menghadap pada Xiumin yang sudah meringkuk ketakutan di sofa mewah yang pria berwajah kucing itu duduki.
"Xiumin... Xiu.." Chen memanggil Xiumin yang sekarang tampak sangat tak fokus pada apapun disekitarnya.
Xiumin tampak mengenaskan, wajah pucat layaknya mayat, namun yang membedakannya dengan mayat adalah tubuh yang banjir keringat dan gemetar sungguh kuat seperti orang kedinginan. Dan yang paling mengerikan adalah mata yang tampak kosong, Xiumin seperti berada di dimensi yang lain. Tertelah jauh didalam memori traumanya. Entah apa yang sedang disaksikan olehnya sekarang.
Chen merasakan dirinya ikut tersayat didalam sana saat menatap keadaan sang kekasih yang sungguh mengenaskan.
"Keparat kau Baekhyun.." Chen mengumpat didalam hatinya.
Chen berdiri, lalu dengan perlahan mendekati Xiumin, mencoba meraih tangan tubuh Xiumin untuk dipeluk.
Namun, betapa terkejutnya Chen. Saat dirinya baru saja ingin meraih bahu si kucing kecil, tangan Xiumin justru dengan cepat meraih kedua kerah bajunya. Chen tak dapat menghindar, terlebih lagi kekuatan yang Xiumin berikan tak main- main, lalu;
BOOM!!
Tubuh pria 43 tahun itu terbanting dilantai. Dirinya dibanting oleh tunangannya sendiri. Belum selesai keterkejutan yang Chen rasakan, sebuah cengkraman dua tangan terasa sungguh erat dilehernya.
Mata Chen memerah, pria Kim itu merasakan seluruh oksigen tertahan dengan paksa ditenggorokannya. Berusaha untuk tak panik meski disituasi yang mana dirinya akan mati, Chen memandang Xiumin yang sekarang berpandangan kosong sama sekali tak mengenali bahwa Chen lah yang sekarang tengah dirinya tindih dan cekik, justru memberikan cekikan yang lebih kuat pada leher pria 40 tahunan tersebut.
Chen merasakan dirinya mulai pusing. Paru- parunya mulai memberontak menagih oksigen.
BRUK!
Dengan kemampuan bela diri yang masih tersisa, Chen menelan rasa bersalah dan memilih untuk menendang perut Xiumin, dan berhasil membuat pria berdarah Chinese yang tengah kehilangan akalnya itu menjauh dari sang tunangan.
Chen bangkit, dengan sigap membalik tubuh Xiumin, menduduki punggung Xiumin, lalu mengunci tangan sang tunangan ke belakang.
"KIM MINSEOK SADARLAH!!" Teriak Chen memanggil nama Korea Xiumin serasa mengguncang tubuh si 'kucing kecil' dengan sedikit keras.
Dan sepertinya berhasil, fokus dimata Xiumin mulai kembali. Seperti seseorang yang baru tersadar dari sebuah lamunan, selama beberapa detik Xiumin tampak seperti baru menemukan lagi fokus matanya, kemudian dapat dirasakan tubuh Xiumin mulai terasa melemas. Beriringan dengan kuncian tangan yang Chen lakukan yang mulai ikut mengendur.
Xiumin pingsan.
Dengan sigap Chen menggendong tunangannya yang tak sadarkan diri itu, lalu merebahkannya disofa panjang yang sedari tadi menjadi tempat duduk Baekhyun. Dengan paha Baekhyun menjadi bantal dari kepala Xiumin.
Dan Baekhyun menerima dirinya dijadikan bantal tanpa keberatan dan bantahan. Justru senyum manis terpatri dibibirnya.
Karena ini adalah tanda permintaan maaf, penyerahan diri, sekaligus mengabdikan seluruh hidup Chen terutama Xiumin kepada Baekhyun.
Chen mendengus kesal menatap senyum cantik yang indahnya setara dengan seorang malaikat langit ke sembilan itu.
Dengan napas yang memburu lelah, Chen memilih kembali duduk pada sofa tunggal yang menjadi tempat dirinya duduknya tadi. Lalu meraih secangkir teh didepannya, meminumnya dengan serampangan. Tak ada lagi tata krama sekarang. Dirinya hampir mati oleh bos-nya dan oleh tunangannya sendiri.
"Kau puas?" Tanya Chen pada Baekhyun yang sekarang memandangnya dengan senyuman.
"Lumayan," jawab Baekhyun ringan. Dan Chen kembali mendengus mendengar jawaban setengah hati Baekhyun.
Lalu sunyi kembali menguasai ruangan.
"Kau tahu bukan?" Baekhyun memecah keheningan.
Chen menoleh pada Baekhyun setelah mendengar betapa dinginnya suara pria muda Byun itu, dan rasanya bulu kuduk Chen berdiri menatap wajah yang tadinya tersenyum manis bagai malaikat, sekarang tampak sangat bengis tak ubahnya iblis.
Baekhyun tanpa diragukan adalah putra dari Baekbeom dan Sulli. Sifat keduanya menyatu sempurna pada diri Baekhyun, pikir Chen.
"Tahu apa?" Chen justru bertanya balik, bersikap seolah tak tahu apapun yang sedang Baekhyun bicarakan.
Ekspresi Baekhyun semakin mendingin.
"Luhan adalah anak dari ketua Kelompok Mafia yang bermarkas di Beijing. Ha! Dojo beladiri apanya, pelatihan pembunuh bayaran maksudmu? Ibunya Makenik kau bilang?! Pembuat senjata dan perakit Bom adalah sebutan yang lebih tepat, dan... sang kakek adalah pemilik kebun ganja di daerah Asia. Dan misi seorang remaja Luhan untuk datang ke Korea Selatan adalah, membunuh pasangan Konglomerat Byun Baekboom dan Byun Sulli karena keduanya adalah saingan berat untuk penjualan senjata ilegal di China. Ibuku yang tampak polos dan menyenangkan, baik hati, itu ternyata adalah topeng. Dirinya adalah si jenius yang dapat membuat berbagai macam jenis senjata, alat mata-mata, bahkan pasukan manusia." Baekhyun mengucapkan itu semua dengan suara pelan namun sangat berat berisi emosi penuh amarah.
Chen hanya diam membisu.
"Berikan aku bantahan, atau alasan, atau apapun yang membuatku tak gila memikirkan ternyata semuanya sudah direncanakan sejak awal! Hamilnya Ibu Xiumin! Keduanya kabur ke Bucheon! Lalu bertemu pasangan konglomerat baik hati BYUN! Ternyata semua itu tidaklah kebetulan, melainkan adalah sebuah kesempatan yang direncanakan secara sistematik oleh seorang remaja jenius ahli strategi anak tunggal pewaris keluar besar mafia LU dari Beijing!! Dia adalah HAN dari keluarga LU."
"Baek.. hari itu murni kecelakaan, Luhan bahkan mati bersama orangtuamu. Dirinya sudah meninggalkan ikatan keluarganya sejak menikah dengan Sohee dan memiliki Xiumin." Ujar Chen masih berusaha menjelaskan dengan suara lemah.
Baekhyun memberikan senyum sinis. "Tak menutup fakta akan mengapa rem dari mobil orang tuaku dihari naas 27 november 1992 itu ternyata blong, aneh bukan? rem dari sebuah mobil mewah justru tak dapat berfungsi." Ekspresi Baekhyun tampak sangat dingin, seolah bertatapan dengan musuh paling dibencinya diseluruh dunia.
"Dia sudah mati.. dan Xiumin tak tahu apapun tentang hal ini. Aku juga baru tahu tentang mobil orangtua-mu setelah hasil pemeriksaan beberapa minggu setelah kecelakaan. Tak ada satupun dari kami yang mengetahui rahasia Lu Han selama ini." Gumam Chen menatap Baekhyun dengan tatapan memelas, dirinya sungguh takut bila kemarahan Baekhyun berimbas kepada Xiumin.
Baekhyun terkekeh.
Chen rasanya semakin ketakutan. Suara tawa Baekhyun tak ada bedanya dengan suara tawa dari para psikopat.
"Kecelakaan itu sudah direncanakan dari awal. MESKI sepertinya Luhan sangat pandai berakting seakan dirinya memang sudah lepas dari keluarganya, namun ikatan keluarga mafia tentu tak semudah itu diputuskan. Dirinya memang mengorbankan nyawanya sendiri dan istrinya sebagai bentuk rasa bersalah, namun disaat yang sama dia tetap harus menyelesaikan misi keluarganya. Wahh.. sepertinya keluarga Byun sungguh ancaman yang berat untuk Klan Lu."
"Sebab itulah dengan mudahnya Luhan menyerahkan Xiumin untuk satu mobil denganmu!"
"Aku tak tahu sejak kapan, namun kau tahu hal ini! Kau tahu akan kejangalan yang terjadi dengan mobil orangtuaku! Sebab itulah kau menarik tuntutan Tuan Park Sungjin yang dituduh sebagai tersangka kecelakaan hari itu! Kau tak sampai hati menjadikan ayah Chanyeol sebagai tersangka padahal dirinya tak sepenuhnya bersalah. Namun kau juga tak sampai hati untuk mengungkapkan BAHWA.." Napas Baekhyun memburu.
"...sahabatmu sendirilah, yang merencanakan kematian orangtuaku, dan kematian dirinya sendiri bersama istrinya. Itu adalah kecelakaan yang direncanakan, pembunuhan sekaligus bunuh diri. Untuk menyelesaikan misi keluarganya, darah seorang mafia yang tak bisa ingkari oleh dirinya sendiri, bahkan rela untuk mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelesaikan misinya. 23 tahun Kim-Jong-Dae, selama 23 tahun aku justru bersahabat dengan anak dari pembunuh sebenarnya dari kedua orangtuaku." Baekhyun merasakan seluruh tubuhnya gemetar.
Mengucapkan langsung dengan kedua mulutnya, memiliki efek yang sama sekali berbeda dengan hanya mengetahui segala informasi itu dari ruangan rahasia Keluarga Byun lalu menyimpannya di memori kepalanya. Dengan mengucapkannya, membuat fakta tersebut semakin jelas dan sungguh kenyataan.
"Dan kau tahu, post traumatic syndrome yang Xiumin derita bukanlah efek dari menatap langsung kecelakaan orangtuanya. MELAINKAN, insting psikopat yang mengalir dalam dirinya memang sudah terlihat sedari kecil hingga sekarang. Kau selama ini menekan dengan kuat insting membunuhnya, hal itu membuat dia tak stabil."
"Tuan Xiao- ah tidak.. lebih tepatnya Tuan Lu, 23 tahun lalu membawa Xiumin ke pulau tempat persembunyiannya sebelum bertemu Sohee dulu. Melatih Xiumin menembak, membunuh, dan berburu. Bisa kau bayangkan itu? Kau mendengarnya sendiri tadi, Xiumin baru 3 tahun saat itu, dan dia sudah dapat membunuh kelinci-kelinci tanpa merasa bersalah sedikitpun bahkan bermain dengan bangkainya. Memorinya tak dapat menerima kenyataan bahwa dirinya sendiri adalah manusia sejahat itu, membuat dirinya panik, pingsan, lalu amnesia akan segala hal yang memicu ingatan masa lalunya. Menghapus semua memori yang berhubungan dengan suara keras. Iya, suara keras... pistol dan bom. Kau sungguh jatuh cinta padanya sejak dia bayi? Bayi dengan darah pembunuh ini? Kau masih anggap dia suci dan bersih sampai terpesona dari pandangan pertama?"
"CUKUP BAEKHYUN! TUAN BESAR BYUN DAN NYONYA BESAR BYUN JUGA TAK SESUCI YANG SEMUA ORANG KIRA." Kesabaran Chen sudah habis setelah Baekhyun terus mendesaknya dengan semua kalimat provokasinya.
"Mereka kaya, namun tidakkah aneh akan bagaimana harta berlimpah itu hanya dari usaha- usaha yang mereka lakukan? Orangtuamu juga memiliki banyak sisi gelap dari banyak bisnis gelap mereka! Itu contohnya, mereka juga menjual senjata ilegal yang akhirnya menjadi saingan dari kelompok mafia. Kau kira kebun anggurmu di Pranciss itu hanyalah bisnis kebun anggur? Mereka menjual organ dalam manusia sebagai bisnis bawah tanahnya, menurutmu bagaimana bisa kau mendapatkan donor mata secepat itu! TAK ADA YANG SUCI DI ANTARA KITA! DAN KAU KIRA PANTI ASUHAN BB HANYALAH PANTI ASUHAN, Baekhyun... kau sekarang pasti sudah tahu. Bahwa seluruh anak didalam situ, akan dilatih menjadi anak buah yang menjalankan bisnis gelap keluarga Byun. Menurutmu keluarga Byun sebaik itu dalam menerima siapapun menjadi karyawan dan pekerja hanya karena modal kasihan? Tidak! KELUARGA BYUN MENJADIKAN SELURUH PEKERJA YANG MENGABDI SEPENUH HATI PADA MEREKA MENJADI PASUKAN YANG SIAP MATI. KELUARGA BYUN TAK UBAHNYA KELOMPOK MAFIA TERSELUBUNG, BERTOPENG KEBAIKAN PALSU DAN WAJAH BANGSAWAN ITU!!" Napas Chen naik dan turun dengan cepat setelah mengeluarkan seluruh emosinya.
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Baekhyun kembali pada wajah datar tanpa ekspresi. Tampak sangat tenang.
Dan itu adalah ekspresi yang paling berbahaya yang dimiliki olehnya, pikir Chen.
"Bagaimana? Kau akan membunuhku dan Xiumin? Lalu menjelaskan kepada Chanyeol bahwa selama ini dirinya salah mengira? Bahwa ternyata Park Sungjin tak bersalah, hanya saja sial berada ditempat tidak tepat dan diwaktu yang sangat tidak tepat?" Tanya Chen bertubi- tubi, frustasi dengan sikap diam Baekhyun. Dirinya lebih memilih Baekhyun mengamuk dan marah daripada seperti ini.
"Tak bisa seperti itu, bila aku mengungkapkannya, maka sama saja aku harus mengakui seluruh bisnis gelap orangtuaku yang sekarang juga harus ikut aku jalankan. Sebelumnya aku tak tahu, bahwa segera setelah penglihatanku kembali. Orang terpercaya orang tuaku, justru memberikanku banyak sekali fakta dan tanggung jawab yang berasal dari sisi tergelap dunia. Mataku kembali dapat melihat cahaya, namun duniaku justru menjadi semakin gelap. Aku tak seberani itu untuk memberi tahu Chanyeol kebenaran sebenarnya tentang kematian Ibunya yang ternyata seperti ini. Bisa dibilang, orangtuaku adalah salah satu alasan Nyonya Park mati." Baekhyun mengucapkan itu semua dengan senyuman miris.
Chen tersenyum setengah, "Kau sungguh menyukai bocah Park itu sampai ke akar-akarnya." Ujarnya dengan nada setengah takjub, setengah mengejek.
Baekhyun terdiam. Kemudian menjawab, "Aku terobsesi padanya," ujar Baekhyun mengakui perasaannya sendiri.
"Jadi, inikah alasanmu tak setuju akan pernikahan kami? Sebab kau tak ingin sahabat dan anak dari penyebab kematian orangtuamu ini bersatu dan bahagia?" Tanya Chen lagi, kembali membahas masalah awal.
Baekhyun menggeleng lalu menjawab, "Sudah aku bilang, aku bukannya menentang, aku hanya ingin kalian menundanya." Chen diam mendengarkan.
"Karena?" Tanyanya kemudian dengan tak sabar.
"Aku mendapat informasi, ternyata ada pembantaian secara masal oleh salah satu musuh keluarga Lu, membuat Ayah dan Ibu dari Tuan Lu Han, atau bisa dibilang Kakek dan Nenek Xiumin meninggal dalam kejadian itu beberapa minggu lalu." Ujar Baekhyun memberikan informasi baru yang Chen tak tahu.
"Untuk informasi saja, Kakeknya Luhan, Kakek buyut dari Xiumin, sudah meninggal sebab umur terlalu tua beberapa tahun lalu," ujar Baekhyun sebelum Chen bertanya.
"Jadi.." Chen menggantungkan kalimatnya.
"Jadi keluarga Lu sekarang kekosongan posisi pemimpin." Baekhyun menatap lurus pada mata Chen.
Chen terbelalak menatap pria cantik didepannya.
"Apapun itu dipikiranmu, aku iyakan saja. Lu Han sudah mati, yang berarti pewaris keluarga Mafia Lu selanjutnya adalah... si kucing kecil manis yang sekarang tengah tidur nyenyak dipangkuanku ini." Baekhyun mengucapkan itu semua dengan suara lembut seolah tengah menimang anak kesayangan sambil mengelus lembut rambut Xiumin di pangkuannya.
"Baek, jangan suruh Xiumin untuk masuk dalam dunia seperti itu. Kau tahu bagaimana berbahayanya berkecimpung pada dunia bawah tanah." Apapun yang terjadi, Xiumin tetap menjadi nomor satu untuk Chen khawatirkan.
Sedetik kemudian tatapan tajam terhunus oleh Baekhyun kepada Chen.
"Omong kosong, aku hanya mengembalikan seorang anak psikopat ke taman bermain yang cocok dengannya. Sudahlah, kau selama ini menghabiskan waktumu dengan membawa Xiumin ke psikiater untuk menekan semua jiwa pembunuhnya itu. Lihatlah, mentalnya justru semakin tak stabil saja setiap harinya. Untuk masalah ini, Tuan Lu Han lebih pintar dengan membawa anaknya ke pulau tak berpenghuni dan membiarkan Xiumin sebebasnya membunuh semua hewan disana." Keringat menetas dipelipis Chen.
"Jika aku bilang tidak setuju.." Chen sedikit bertaruh untuk bertanya.
"Mati." Baekhyun menjawab dengan kecepatan perdetik bahkan sebelum Chen menyelesaikan pertanyaannya.
"Kalian tak aku perlukan lagi, baik secara emosional atau finansial rasanya hanya membebaniku. Mati saja." Dengan ringannya sang pemimpin tertinggi di Mansion Byun itu berucap.
Itu ancaman yang sungguh serius, pikir Chen.
Chen berdiam diri sebentar. Lalu beberapa menit kemudian memilih untuk menyerah. Sebab dirinya memang tak memiliki pilihan apapun sekarang, Baekhyun adalah orang yang terlalu mengerikan untuk dijadikan musuh. Lebih baik menjadi bawahannya dan mengikuti perintahnya, lalu hidup bahagia dibawah lindungannya.
Ah- sifat turun temurun seorang BYUN.
"Membuat musuhmu selalu dekat dimatamu." Chen bergumam saat baru sadar bagaimana situasi saat ini.
Baekhyun tersenyum manis. "Bingo," jawabnya.
"Baiklah Tuan Besar Byun Baekhyun, katakan apa saja perintahmu." Ujar Chen yang akhirnya menyerah.
"Ahahaahaha.." Dengan cantiknya Baekhyun tertawa, sangat puas akan diskusi hari ini yang persis sesuai dengan apa yang dirinya inginkan.
"Mudah saja. Pertama-tama, Xiumin harus memutuskan hubungan Ayah dan Anak bersama denganmu. Dan media harus tahu, aku perlu membuat media untuk menggiring kehebohan akan kejadian itu." Baekhyun mengucapkannya dengan suara yang tegas namun tetap santai, seolah memberikan penjelasan tentang apa saja tugas dari teman kelompok untuk tugas kuliah.
Chen mengangguk.
"Lalu aku mengundurkan diri dari posisi CEO. Setelahnya dunia akan menjadi heboh, sebab aku adalah satu- satunya Byun sekarang. Bila aku mundur. Maka siapa lagi yang mengisi posisiku." Baekhyun sudah meramalkan apa yang terjadi oleh hal yang disebabkan oleh dirinya nanti, dan efek setelahnya.
"Disitulah aku akan memberikan setengah dari sahamku pada Xiumin, membuat Xiumin sementara menjadi pemilik saham tertinggi nomor 2 BB Group. Media akan mulai berspekulasi, 'mengapa ini? Xiumin keluar dari keluarga Kim, lalu sekarang pemimpin Byun memberikannya saham. Apakah dia akan menjadi seorang Byun?" Chen mengangguk paham.
"Disaat media bertanya- tanya, dan publik bingung. Disitulah bagianmu, Ahjussi. Beli saham sebanyak yang kau bisa! Aku juga akan membantumu dengan uangku." Chen sempat membeku sebentar.
"Maksudmu kau menciptakan.." Chen tak sanggup mengatakannya.
"Perang saham, memperebutkan posisi CEO BB Group. Aku ingin membuka sidang Dewan Direksi. Aku ingin media fokus pada hal itu." Baekhyun melanjutkan kalimat Chen.
"Dan saat- saat terakhir, Xiumin akan mundur dari posisinya. Menyerahkan kembali sahamnya padaku. Dan kau naik sebagai CEO pertama BB Group dengan marga Kim didepan namanya."
Chen diam sebentar, mencoba memilah kata, "Sebenarnya mengapa kau lakukan ini? Dan sampai kapan aku berada diposisi itu?" Tanya Chen yang sama sekali tak mengetahui motif dari rencana yang Baekhyun jalankan.
"Xiumin akan menjadi ketua dari Klan Mafia Lu, dan Klan Mafia Lu akan berada dibawah perintah BB Group. Xiumin akan menjadi tangan kananku dalam menjalankan bisnis bawah tanah. Lalu kau akan menjadi tangan kiriku untuk menjalankan bisnis legal diatas sana. Dan aku sebagai owner dari BB Group sekaligus pemilik saham terbanyak, akan mengambil posisi Komisaris Perusahaan. Kau kira hanya sedikit orang yang ingin mengambil posisi CEO ini dariku? Tidak tentu saja. Banyak sekali. Sebab itu aku harus membuat calon CEO lain yang kuat agar tak ada dari pihak lain yang ingin ikut bersaing menempati posisi itu. Aku ingin kalian menjaga kursi panas CEO BB Group." Baekhyun menjelaskan.
Chen menggeleng tetap tak paham, "Iya, tapi untuk apa? Kau adalah Byun Baekhyun kau bisa menjalankan segalanya sendiri. Kau tak perlu kami. Kau tak harus turun dari posisi CEO untuk menjadi komisaris." Chen mengucapkan fakta yang ada.
Baekhyun tersenyum tipis, "Terima kasih. Aku memang bisa, namun putraku tidak. Dan aku memiliki alasan lain mengapa aku harus naik menjadi Komisaris dan ada orang lain yang menempati posisi CEO selain aku."
Chen membeku, lalu terbelalak.
"Apa? Tunggu sebentar, Putra? Kau mempunyai seorang putra? Kandung?" Tanya Chen bertubi- tubi, tak percaya akan pendengarannya.
"Aku juga baru mengetahuinya 2 bulan yang lalu, aku memiliki seorang putra berumur 4 tahun." Baekhyun merogoh dompetnya, lalu mengeluarkan selembar foto. Menaruh foto itu depan Chen.
Chen dengan cepat meraih foto tersebut. Dan tampaklah, potret dari tampilan seorang miniatur Baekhyun. Anak ini... tanpa perlu di tes lagi, adalah putra dari seorang Byun Baekhyun.
"Bagaimana bisa?" Chen bertanya tak percaya akan kenyataan didepannya.
"Aku menjadi pendonor sperma diumurku yang ke 19 tahun, usia legal Korea Selatan. Kau dan Xiumin juga melakukannya, kenapa kau tampak terkejut?" Baekhyun bertanya balik setelah menjabarkan kenyataan yang ada.
"Namun tetap saja, bila anak itu sampai diberikan padamu, diasuh oleh si ayah biologis yang mendonorkan sperma. Berarti sang ibu telah tiada, dan sang ibu tak memiliki sanak keluarga, serta tak memiliki orang terdekat yang ingin mengasuhnya. Bagaimana bisa? Hidup seperti apa yang dijalani Sang Ibu hingga benar- benar sendirian seperti itu." Chen menjabarkan pemikirannya. Baekhyun mengangguk paham.
"Aku juga tak menyangka, aku kira anakku entah dimana sekarang telah menikmati masa hidup bersama ayah ibunya menjadi keluarga bahagia yang lengkap, dan kau tahu? Ternyata takdir seorang Byun memang tak pernah sesederhana itu. Sang Ibu, yang dengan sialnya menerima donor spermaku, ternyata adalah Ilmuan jenius di Wuhan China. Seorang gadis kelewat pintar yang terobsesi pada biokimia, terus membuat uji coba dan eksperimen hingga tak memiliki pasangan sampai umur 39 tahun, orangtuanya telah meninggal. Dan keluarganya memang telah memutuskan hubungan dengan keluarga besar sejak lama. Mungkin karena itulah dia memutuskan untuk menerima donor sperma, kesepian. Kita berdua sangat tahu bagaimana perasaan itu. Ngomong- ngomong wanita itu berbeda 20 tahun dariku. Song Qian atau Victoria Song, adalah namanya."
"Dia meninggal 3 bulan lalu, sebab terkena virus hasil eksperimennya sendiri. Dan sekarang, putranya... putra kami, sedang aku amankan di Panti Asuhan BB." Baekhyun menjelaskannya dengan suara datar.
Chen memandang Baekhyun dengan wajah terkesima.
"Anak yang lahir dari seorang Ayah yang jenius. Lalu seorang Ibu yang juga jenius. Anak itu pastinya.." Chen menatap Baekhyun dengan wajah memucat.
"Dia sudah berbicara 14 bahasa sekarang, hapal seluruh nama negara didunia, dapat menyebutkan seluruh isi sistem periodik unsur dengan hanya sekali baca, dia bahkan sudah dapat menyelesaikan soal matematika untuk soal ujian masuk universitas, diumur 4 tahun." Baekhyun menjelaskan dengan suara datar, seolah hal itu bukanlah masalah besar.
"Dia akan menjadi kekuatan BB Group suatu saat nanti, namun dia adalah kelemahanku sekarang. Anak diluar nikah oleh seorang pemimpin BB Group yang dihormati banyak orang, akan menjadi cela dan kekurangan dari anakku dan diriku. Kami berdua akan mendapatkan cemoohan. Ditambah lagi anak itu sudah berumur 4 tahun, maka semua orang akan berasumsi aku ikut dalam kenakalan remaja bila dari 4 tahun yang lalu aku sudah memiliki anak. Meski aku kuat, tetap saja kita tak dapat meremehkan kekuatan pers dan masyarakat."
Chen mengangguk setuju.
"Jadi saat ini, sembari menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan pada dunia tentang pewaris BB Group selanjutnya. Tolong jaga kursi panas CEO kerajaan bisnis BB Group dan bisnis bawah tanahnya. Aku sekarang sedang membeli waktu kalian. Aku memerlukan waktu itu. Jadi sampai saat yang tepat, aku meminta kalian untuk menunda terlebih dahulu pernikahan kalian." Baekhyun mengucapkan itu semua dengan sungguh tegas, tak bergeming atau ragu sedikitpun.
Chen terdiam sebentar.
"Bila kau bilang membeli artinya kami akan mendapatkan harga yang pantas. Kau adalah seorang Byun Baekhyun, give and take adalah prinsip hidupmu. Maka, apa yang kau akan berikan pada aku dan Xiumin dengan kami memberikan waktu kepadamu dan putramu?" Chen menatap Baekhyun dengan serius, tak main- main, dua orang dengan nama besar di Korea Selatan ini tengah bertransaksi waktu, perusahaan, uang, dan bahkan nyawa sekarang.
Tak ada yang bisa main- main didalamnya.
Baekhyun menaikkan kedua alisnya, sambil memberikan senyum bisnis, "Kebebasan, aku berikan kebesasan kepada kalian berdua. Setelah putraku dapat menduduki kursi kepemimpinan BB Group dengan kemampuannya sendiri. Maka kau dan Xiumin bebas, aku tak akan menuntut kalian untuk terus mengabdi kepada keluarga Byun lagi. Kita akan membuang seluruh masa lalu. Kau dan Xiumin bebas untuk kemanapun, aku bahkan bisa mengambil alih Klan Lu menjadi bagianku bila kalian berdua tak mau mengurusnya. Kalian berdua tentu saja tahu bila uangku amat sangat cukup untuk melengkapi kebebasan kalian itu." Jawab Baekhyun.
Chen terkesima.
"Singkatnya, kau memperbudak kami untuk menebus dosa." Ujar Chen dengan suara biasa, sama sekali tak ada nada keberatan ataupun cemoohan didalamnya.
Baekhyun mengangguk.
"Apakah ampunan darimu juga termasuk harga yang kau bayarkan?" Chen kembali bertaruh untuk bertanya.
Baekhyun tersenyum lebar hampir tertawa.
"Kalian berdua, Klan Lu, Lu han, dan seluruh orang yang terlibat didalamnya. Perlu 10 kali reinkarnasi dan menjadi budakku disetiap reinkarnasinya, barulah bisa mendapatkan maafku." Bagai sumpah yang tak pernah bisa terpatahkan, Baekhyun mengucapkan semua itu dengan tegas disetiap patah katanya, sambil menatap lurus pada mata Chen.
"Kau sungguh berubah... tak ada lagi Tuan Muda Byun Baekhyun yang baik hati pada semua orang. Tak ada lagi si Tuan pemaaf yang dicintai semua orang. Kau memilih untuk menjadi seorang pemimpin yang ditakuti." Chen berkomentar seraya balas menatap wajah pria cantik didepannya dengan tatapan lekat.
Baekhyun tersenyum kecil.
"Aku harus menjadi lebih kuat. Karena saat ini, pria yang berharga dan kucintai didunia ini, bertambah satu. Aku harus kuat untuk kenyamanan dan kebahagiaan hidup keduanya."
Chen tersenyum jenaka mendengar itu, "Baekhyun yang dulu masih kecil, kini sudah menjadi seorang Ayah. Siapakah nama Byun kecil selanjutnya itu?"
Baekhyun tersenyum cerah, sungguh bahagia membicarakan tentang putranya. Sejujurnya, dirinya sangat bahagia menjadi seorang Ayah. Setelah menjadi sebatang kara selama 23 tahun hidupnya, akhirnya Baekhyun memiliki seseorang yang berbagi satu darah dengannya. Maka dengan bangganya Baekhyun mengucapkan nama sang anak.
"Byun Baek-Ha, itulah nama Koreanya. Meski anak itu sudah dinamai terlebih dahulu oleh ibunya dengan nama Jesper Song, yang sekarang menjadi Jesper Byun."
Mansion Byun.
Malam Pesta Pelantikan CEO baru BB Group
"Saya ucapkan terima kasih kepada Tuan dan Nyonya yang hadir disini malam ini, dan langsung saja mari kita sambut tokoh utama acara kita malam ini. CEO baru kita, CEO pertama sepanjang sejarah BB Group dengan marga Kim didepan namanya, Tuan Kim Jongdae." Setelah Baekhyun memanggil namanya, Chen menuruni tangga, menuju tempat pesta.
Dengan disambut tepuk tangan seluruh tamu undangan, Chen tersenyum cerah. Hari ini, dirinya resmi menjadi pemimpin kedua tertinggi di kerajaan bisnis BB Group. Dan pemegang kekuasaan penuh untuk jalannya seluruh perusahaan BB.
Namun hanya orang tertentu saja yang tahu, dibalik senyum Chen yang cerah menerima semua ucapan selamat yang diberikan oleh tokoh- tokoh penting yang datang. Dibalik canda tawa dan lelucon khas dari seorang Kim Jongdae yang sekarang membuat suasana diantara tamu menjadi mencair.
Chen tak ubahnya tawanan nomor satu dari dendam seorang Byun Baekhyun.
Baekhyun mengorbankan Chen secara bulat- bulat untuk menjadi santapan para musuhnya yang ingin menyerang BB Group, demi melindungi keselamatan putranya yang masih tak memiliki kekuatan apa- apa.
Dan Chen tetap akan melakukan apa yang Baekhyun perintahkan, demi melindungi mantan putranya sendiri, yang sekarang berstatus tunangan miliknya.
Baekhyun pun sama, dirinya tak peduli untuk berubah menjadi pria sekejam apapun. Namun bila itu untuk putranya dan kekasihnya yang sebentar lagi akan kembali menjadi miliknya. Baekhyun akan melakukan apapun untuk keselamatan dan kebahagiaan keduanya.
Mereka berdua sama.
Mereka berdua hanyalah seorang ayah dan kekasih yang melindungi pria- pria yang mereka sayangi. Meski dengan cara saling menusuk sahabat sendiri dari depan maupun belakang seperti saat ini.
Baekhyun dan Chen akan tetap mempertahankan hubungan sahabat sekaligus musuh yang mereka miliki ini. Sampai pria- pria mereka aman.
Mansion Byun, Korea Selatan.
Musim Dingin, 2012
Baekhyun menatap dinding kaca tebal yang selama ini menjadi pengganti salah satu dinding Mansion Byun di Perpustakaan miliknya.
Baekhyun telah meraba dinding ini ratusan kali seumur hidupnya. Namun baru kali ini dapat melihatnya langsung, setelah matanya benar- benar dapat berfungsi dengan sempurna kembali beberapa hari lalu.
Dirinya sudah merasakan kejanggalan pada dinding kaca ini sejak awal. Lihatlah, diluar sana sedang bersalju dengan lebatnya, dan tak seperti kaca yang menyerap suhu disekitar seperti sewajarnya. Dinding kaca raksasa perpustakaan Mansion Byun justru memancarkan hawa hangat, memberikan efek hangat pada ujung jari Baekhyun yang sekarang dirinya memegangnya.
Pernah mendengar bahwa Mansion Byun diciptakan oleh seorang jenius bukan?
Namun perpustakaan ini, dibangun khusus oleh jenius yang lain, Ibu Baekhyun sendiri. Byun Sulli. Sang ahli teknologi dan Informatika sekaligus si jenius ahli Sains Komputer. Programer handal tingkat dewa yang gila, lengkap dengan kepribadian anehnya yang sungguh ajaib, dan dengan ajaibnya juga berhasil diperistri oleh seorang Konglomerat kayaraya.
Sungguh aneh orang seunik itu justru membangun perpustakaan di hari pertama dirinya menjadi seorang Nyonya Byun. Terlebih lagi, kenapa dilantai satu? Bukan lantai atas?
Baekhyun menghela napas beberapa kali. Lalu menempelkan seluruh telapak tangannya pada dinding kaca didepannya.
"Log In." Gumam Baekhyun.
Dan benar saja, rasanya persis seperti syuting hollywood, Baekhyun melihat sendiri bagaimana tampilan dinding kaca yang awalnya hanya seperti kaca biasa yang menampilkan pemandangan diluar. Kini berganti menjadi menjadi biru persis seperti komputer yang baru saja dihidupkan.
"Saya adalah Mirror On The Wall. Hanya akan menerima perintah Tuan Byun Baekbeom, Nyonya Byun Sulli, dan keturunan asli dari keduanya yang sudah menempati posisi kepemimpinan dalam perusahaan. Apakah anda sudah memenuhi syarat tersebut?"
"Hebat, Mirror On The Wall kau bilang? Ternyata Ibuku adalah Ibu Ratu Penyihir di kisah Snow White." Baekhyun berbisik dalam hati.
"Aku adalah Byun Baekhyun, keturunan asli Byun Baekbeom dan Byun Sulli, dan sekarang menempati posisi CEO BB Group. Apakah itu sudah memenuhi syarat untuk log in?" Tanya Baekhyun pada cermin yang berbicara didepannya.
"Anda memenuhi syarat untuk login, dan mendapatkan akses 90% dari seluruh data yang tersimpan. Dan akses penuh 100% untuk pencaharian informasi apapun yang anda inginkan." Cermin itu berbicara dengan suara robot wanita.
Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Kenapa dengan 10% data yang tersimpan?" Tanya Baekhyun yang tak terima dirinya tak mendapatkan semuanya.
Namun sang komputer pintar memiliki jawaban mutlak.
"Seluruh data yang tersimpan, akan siap disediakan bila keturunan asli Byun sudah menempati posisi Komisaris di perusahaan dan telah memiliki orang lain sebagai pewaris dengan menempati posisi CEO perusahaan." Jawab si komputer.
Dalam hati Baekhyun mengumpat, dirinya tak bisa mengabulkan hal itu dengan sebegitu mudahnya saat ini juga.
"Baiklah, login dengan akses 90% data yang sudah tersimpan." Ujar Baekhyun menahan kesal dihati.
"Aku akan menjadi Komisaris secepatnya." Gumam Baekhyun kesal didalam hatinya.
"Silahkan Login, berikan kata sandi dengan tulisan tangan anda pada layar, sidik jari, scan retina mata, dan rekam suara agar tak ada orang lain yang dapat mengakses atau menyusup data milik anda selain anda seorang." Si komputer kembali menjawab.
Baekhyun menipiskan bibir.
"Aku penasaran apa saja yang orangtuaku sembunyikan dengan keamanan seketat ini." Gumam Baekhyun dalam hati.
Setelah Baekhyun memberikan seluruh hal yang diminta sebagai syarat akses login, betapa terkejutnya Baekhyun akan bagaimana pintu perpustakaan yang terkunci double otomatis. Lalu ratusan rak buku mulai berpindah tempat seperti membuka bagian tengah ruangan menjadi lapang, lalu lantai tengah perpustakaan mulai bergerak kebawah.
Dan sebuah kotak lift kaca tebal anti peluru keluar dari dalamnya, dan Baekhyun sangat yakin bila kaca lift itu jugalah sebuah AI. Pintu lift terbuka, siap untuk dimasuki oleh Baekhyun.
Benar saja dugaan Baekhyun.
Mansion Byun memiliki ruang tanah rahasia. Ruang bawah tanah yang berisi banyak rahasia yang hanya boleh diketahui oleh pemimpin BB Group.
Dan mulai dari hari itulah, Baekhyun mulai mengetahui satu persatu rahasia gelap keluarganya. Dan juga, rahasia gelap dari orang-orang disekitarnya.
Perlu 2 tahun untuk Baekhyun mengetahui, menyelidiki, serta menyambungkan benang merah dari fakta kebenaran kematian Orangtuanya yang sebenarnya setelah memasuki ruang bawah tanah Mansion Byun.
.
.
.
Dirinya telah menjadi Komisaris sekarang. Untuk itu, dirinya akan dapat mengetahui dan mengakses rahasia Keluarga Byun dengan lebih dalam lagi.
Tak tahu bagaimana berubahnya kepribadian Baekhyun setelah mengetahui seluruh fakta yang dirinya mau tahu ataupun yang mau tak mau harus tahu itu.
Dirinya harus sanggup menanggung itu semua, sebab dirinya adalah Tuan Muda Byun Baekhyun dari Keluarga Byun.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Author Note:
'-'
"--"
Aaaaaaaaa.. AKHIRNYA GUE BISA NGEPOST CHAPTER INI!!! AKHIRNYA GUE MEMBUKA PLOT TWIST SEBENARNYA READ MY MUSIC!!!
GUE SUDAH MEMIKIRKAN SCENE INI DARI AWAL AWAL AWAL READ MY MUSIC TERCIPTA, dari awal Xiumin muncul pas Jimin masuk mansion byun setelah audisi, gue sudah memutuskan Xiumin adalah antagonis sebenernya namun dirinya sendiri gak sadar dia antagonis. Karena pemilik dosa sebenarnya itu ayahnya :))
AKHIRNYA GUE BISA MENGUNGKAPKAN KEBENARAN DIBALIK DINDING KACA DI PERPUSTAKAAN MANSION BYUN HUEEEE PENGEN NANGIS. GOOD JOB MOMO, GOOD JOBBB!! TERSIKSA BANGET 2 TAHUN NAHAN SENDIRI FAKTA INI TANPA BISA DIBICARAKAN KE SIAPAPUN HUEE.. GOOD JOB MOMO!!
Sekarang taukan? Kenapa dengan gampangnya Baekhyun milih untuk bersahabat aja sama ayahnya chanyeol, karena ayah chanyeol gak sepenuhnya salah.
Oh ya, gue sayang Luhan dan Xiumin yaa.. gak ada maksud ngedrag. Emang jalan ceritanya doang yg begini. Ini semua 100 persen fiksi.
big thanks gue ucapkan kepada:
Chapter 39: owhsehun, xoonlyans22, eunhyeshi, imasrostika07, Chanbeepark, vichan04, melsambatby, danactebh, channieraa, YourOnlyMoon, O7O6BCLP.
Chapter 40: BaekFlo, dwiiloveyou, ChanBaek09, danactebh, owhsehun, imasrostika07, dbyuneen
(bilang aja kalo nama kalian tertinggal ya, biar gue edit)
GUE BAKALAN POSTING CANON DAN DIDALAM CANON ITU ADA MOMEN TUAN KOMISARIS BYUN DAN IDOL CHANYEOL KALAU REVIEW READ MY MUSIC NYAMPE ANGKA 555, jadi ripiyu banyak- banyak. Gue makin tua sekarang yaa, sifat gue juga mulai berubah, perlu lebih banyak afeksi dan apresiasi :"))
oh ya, mau TMI?
Karena ini adalah Read My Music, si penulisnya jadi pengen bagi- bagi playlist MUSIC yang gue dengarkan sembari menulis cerita. Dan yg terbaru adalah di bawah ini :
SATU ALBUM DEAR MY DEAR BY CHEN
Stella Jang - Villian
Soyou - I Miss You
Lee Hi - 1,2,3,4
5 Second Of Summer - Teeth
Ungu - Andai Aku Bisa
Weird Genius - Lathi
Ello - Masih Ada
Backstreet Boys - No Place
Charlie Puth - Marvin Gaye (untuk yg dibawah umur jangan liat MV aslinya ya, dengerin musiknya aja.)
Bazzi - Beautiful
Taylor Swift - Red
Girl In Red - We Fall in Love in October
Girl In Red - Girls
Girl In Red - Summer Depression
This Love - Camila Cabello
Never Be The Same - Camila Cabello
Zayn Malik - Let Me
Sheila On 7 - Seberapa Pantaskah
Jake Miller - Rumors
Billie Eilish - Idontwannabeyouanymore
Imagine Dragons - Natural
7!! - Orange
Memori Berkasih - Achik ft Siti Nurdiana
Scorpions - Always Somewhere
Conan Gray - Heater
Selera musik gue emang aneh, jadi terima aja apa adanya ya :"))
Dan untuk bagian READ-nya:
Moonlight On the Holy Land Palestine by Yahya Yakhlif
Il Principe by Niccolo Machiavelli
Pokok-pokok Ajaran Marchaenisme by Ir. Soekarno
Biografi Politik, Sosilo Bambang Yudhoyono by Garda Maeswara
Setelah gue liat lagi, kagak ada buku fiksi dan romantis dari bacaan gue :") , mungkin karena inilah RMM jadi serius mulu kagak ada romantis- romantisnya, kayaknya gue musti mulai ganti bacaan T-T rekomen buku romantis yang 'romantisnya itu beda' ya babee..
Okay, thank you for reading~
Be Healthy and Happy
Lets Love Eri! /Bow
