I'll See You Wherever I am At
.
.
Haikyuu : © Furudate Haruichi
Warning : typo, ooc, etc.
.
.
Ushijima Wakatoshi. Nama ini sudah dikenal seantero Jepang sejak sekolah menengah sebagai atlet muda yang berbakat. Terlebih lagi dia berasal dari sekolah yang termasuk elit di daerahnya tinggal.
Beberapa tahun kemudian dia bergabung dengan tim Adlers salah satu membernya juga merupakan adik kelasnya atau lebih tepatnya lawan nya saat semasa sekolah menengah atas, Kageyama Tobio. Sekarang Ushijima menjadi lebih dekat dengan Kageyama. Dia nyaman berada di team nya yang sekarang namun akhir-akhir ini entah kenapa selalu ada perasaan kosong dalam dirinya. Seperti ada yang hilang.
Pertandingan dengan MSBY Black Jackal's baru saja selesai dengan kemenangan yang tipis oleh tim lawan. Itu pertandingan yang menyenangkan menurut Ushijima walaupun timnya tidak menang tapi mereka sudah bertanding sebaik mungkin.
Setelah melakukan pendinginan dia mendapatkan telepon dari Semi, "Moshi-moshi, Wakatoshi?"
"Ah, Semi kah?" suaranya menjadi semakin dewasa namun nadanya tidak pernah berubah selalu datar tanpa emosi.
"Aku menonton pertandingan mu. Tadi itu pertandingan yang hebat."
"ah."
"Uhm well, apa kau ada waktu luang besok?"
Ushijima berpikir, tidak biasanya Semi bicara seragu ini padanya. Ushijima hendak menanyakan hal tersebut namun," besok siang aku rasa ada waktu luang." Yang keluar adalah hal lain. Semi menghela nafas lega di ujung telpon sana.
"Syukurlah. Bisakah besok kita bertemu? Ada yang ingin kutunjukan padamu."
"Ya, aku pikir aku bisa. Tapi apa-"
"oh baguslah nanti aku kirimkan alamatnya. Sampai jumpa." Semi terdengar terburu-buru jadi Ushujima tidak bertanya banyak hal.
"ah." Dan telepon pun terputus.
Setelah selesai rapat evaluasi mengenai pertandingan kemarin Ushijima tidak membuang banyak waktu bahkan menolak ajakan rekan setim nya untuk makan bersama, dia langsung pergi ketempat yang sudah Semi kirimkan tadi malam.
Cuaca hari itu sangat bagus langit biru cerah tanpa gumpalan awan. Angin bertiup lembut menghatarkan udara segar sangat nyaman untuk sekadar berjalan-jalan santai. Ushijima juga memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Semi yang ternyata jaraknya tidak begitu jauh.
Sekitar dua puluh menit kemudian Ushujima sudah sampai ditempat yang ternyata adalah sebuah studio musik yang cukup besar. Dari pintu utama Ushijima bisa melihat Semi lari tergopoh gopoh sambil mengendong tas gitar pada punggungnya.
"Apa kau hah- sudah menunggu hahh- lama?"
"Tidak, aku baru saja sampai." Ushijima menatap Semi dengan pandangan heran.
"oke. Tunggu sebentar aku akan mengambil mobilku." Dan dia lari lagi sementara Ushijima berdiri didepan studio itu dengan patuh.
Sebuah mobil bertipe city car berhenti didepannya, Semi menurunkan kacanya "masuklah."
Semi kemudian mengendarai mobilnya menjauhi studio," Wakatoshi bisa tolong ambilkan minum, itu ada di jok belakang huft." Nafasnya masih belum teratur. Ushijima mengambilkan sebotol minuman dari jok belakang membukakan tutupnya barulah dia memberikannya kepada Semi."Sankyu."
"hm."
Semi mengembalikan kembali botol minumannya kepada Ushijima sementara pandangan nya tetap terfokus pada jalanan.
Hening menyelimuti perjalanan mereka selama beberapa menit.
"Semi sebenarnya kita akan kemana?" untuk sesaat Ushijima melihat ekspresi suram pada wajah Semi.
"Aku sudah ingin melakukan ini sejak lama tapi Tendo melarangku." Semi menghela nafas panjang seakan dia sedang menanggung sesuatu yang berat di hidupnya.
"Ada apa dengan Tendou?"
"Kau masih sering berhubungankan dengan Tendou?"
"Ya, tapi sejak satu minnggu yang lalu dia tidak ada menghubungiku lagi. Kupikir dia sibuk dengan pekerjaannya."
"Sebenarnya-"
Ushijima berdiri disana sudah sekitar satu menit berlalu, Semi pergi sebentar untuk menemui Shirabu yang bekerja dirumah sakit ini. Ushijima tidak melakukan gerakan apapun selain bernafas pikirannya penuh dengan pertanyaa, disana dia melihat Tendou duduk diatas ranjang pasien menatap keluar jendela dia bahkan tidak sadar Ushijima sudah memasuki ruangan itu sejak beberapa menit yang lalu. Angin segar bertiup dari jendela menghatarkan udara segar dan bau khas rumah sakit. Tubuh Tendou terlihat menggigil kemudian dia melihat Ushijima berdiri disana memandang lurus kearahnya.
"Are ~ aku berhalusinasi melihat Wakatoshi-kun." Suaranya masih seriang dulu walaupun tubuhnya terlihat semakin kurus dan kulit yang terlihat semakin pucat.
Ushujima berjalan mendekat, "Ini bukan halusinasi Tendou." Menyentuh tangan ringkih Tendou yang terasa dingin dikulitnya.
"ARE~ WAKATOSHI-KUN."
"Ya Tendou ini aku." Ushijima ingin tersenyum namun air matanya berlomba-lomba turun dari matanya. Dia bersyukur Tendou masih jenaka seperti biasanya tapi melihat keadaannya Ushijima tak bisa menahan rasa yang berkecamuk dalam dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Tendou dengan bingung,"bukannya hari ini kamu ada pertandingan dengan mantan member Karasuno no#10?"
"pertandingan itu sudah selesai kemarin Tendou."
"uh pasti aku lupa lagi." Dia berbisik dibawah nafanya. Lalu secara tiba-tiba dia melepaskan genggaman tangan Ushijima," Y-ya u-uh-uhm kamu sedang- kenapa ada disini uh?" Tendo menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Ushijima menghapus air matanya kemudia dengan lembut menggapai lengan Tendo dan menggenggamnya dengan erat. "Semi sudah memberitahukan semuanya."
Flashback
"Sebenarnya Tendo sakit dia menderita Familial insomnia atau fatal apalah aku tidak tahu pasti apa itu namanya namun penyakit ini belum ada obatnya. Dan demi Tuhan aku yang baru beberapa hari melihatnya keadaanya semakin memburuk- aku-" Semi mencoba terus bicara tapi tenggorokannya terasa kering dan menyakitkan saat ingatannya melayang pada keadaan Tendou.
Ushijima terdiam. Tendou tidak pernah mengatakan apapun tentang hal ini dan dia sangat terkejut. Walaupun dia masih berhubungan dengan Tendou lewat handphone Tendou tidak terdengar sakit dia masih seperti Tendou yang dikenalnya.
"Shirabu bilang belum ada obat untuk penyakit ini." Semi melanjutkan saat lampu lalintas merah Semi menyandarkan kepalanya pada jok mobil dan menghela nafas panjang. "Tendou melarangku untuk memberi tahu mu karena dia tidak ingin mengganggu kegiatanmu. Tapi kupikir kau adalah orang terdekatnya dan kau harus tahu mengenai ini."
"Sejak kapan?"
Semi menegakkan punggungnya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal.
"Tendou sudah melakukan rawat jalan sejak enam bulan yang lalu, tapi beberapa minggu kemudia keadaannya memburuk dan Shirabu menyarankan agar Tendou dirawat di rumah sakit."
"itu sudah lama sekali." Guman Ushijima pada dirinya sendiri.
Sisa perjalanan setelahnya hanya hening dalam pikirannya masing-masing.
End of Flashback
"Tendou, lihat aku!"
Tendou menatap Ushijima, tatapannya terlihat lelah dengan lingkar hitam dibawah matanya tapi binar dimatanya masih tetap sama, "kamu akan baik-baik saja." Katanya dengan yakin pada Tendou yang hanya menanggapi nya dengan senyuman.
"Tapi aku memang baik-baik saja Wakatshi-kun." Ujar Tendou sambil terkekeh. Tak lama kemudian pintu terbuka menampakan Semi dan juga Shirabu yang masih mengenakan pakaian khas dokternya tentunya.
"oh Semi Semi!" serunya riang "Shirabooo~ mo"
"Yamette kudasai Tendou-san."
"Wajahmu merah tuh Boo~" goda Semi.
Semi dan Shirabu memang sudah menjalin hubungan setelah Semi graduasi.
"pffttt- ahahah."
"ahahah." Semi dan Tendou bertos ria, mereka ini kalau dalam hal kejahilan memang selalu kompak.
Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan membicarakan hal-hal lucu yang terjadi di masa lalu.
Beberapa hari kemudian pagi-pagi sekali Tendou sudah berganti pakaian dan menyelinap keluar dari rumah sakit. Setelah dia berada diluar lingkungan rumah sakit dia berjalan dengan perlahan lahan menuju halte bus.
"Tendou?" sebuah mobil Chevrolet Colorado Zr2 berwarna putih yang terlihat gahar berhenti disamping Tendou.
"sudah kuduga kau akan datang."
"Masuklah."
"Terima kasih. Woah seperti biasa mobil mu selalu kelihatan sexy ya Wakatoshi-kun"
Ushijima mengangkat sebelah alisnya masih tidak mengerti kenapa Tendou selalu bilang mobil yang sudah dibelinya sendiri ini sexy atau tampat dan banyak lagi. Tapi Ushijima tidak berkata apapun.
"Ne Wakatoshi-kun apa hari ini kau sibuk?"
"Tidak. Hari ini aku sudah mendapat ijin dari coach tadinya aku mau menemanimu seharian di rumah sakit. Oh apa Shirabu memperbolehkanmu untuk keluar seperti ini?" tanya Ushijima menyelidik.
Ushijima menghentikan laju mobilnya dipinggir jalan kemudian mengeluarkan handphone flip nya," Biar kuhubungi Shirabu untuk memastikannya."
"oopss- nah aku sudah dapat izin dari Shirabu, Wakatoshi-kun tidak perlu menghubunginya lagi. Lagi pula dicuaca cerah seperti ini lebih baik berjalan-jalan keluarkan."
Ushijima menyimpan handphone nya di dashboard mobil dan melajukan kembali mobilnya. "Baiklah. Tapi sekarang kita mau kemana?"
Ushijima tidak bertanya lebih lanjut jika Tendou berkata dia sudah mendapat izin dari Shirabu maka pasti seperti itu. Selama dia hidup Ushijima belum pernah sekalipun Tendou berbohong padanya. walaupun ini terdengar seperti lelucon bagi orang lain, tapi Tendou memang tidak pernah berbohong terhadap Ushijima. Namun, untuk kali ini-
"aku mau ke cafe-ku dulu."
"Baiklah."
Cafe yang didirikan oleh Tendou berjarak sekitar tujuh belas menit dari rumah sakit tempat Tendou di rawat lebih tepatnya di daerah Shibuya dekat dengan taman Yoyogi. Sepanjang perjalanan Tendou tidak banyak bicara hal itu menyebabkan Ushijima merasa sedikit asing dengan keadaan sunyi ini karena biasanya jika mereka pergi berdua Tendou selalu menjadi peramai suasana.
Setelah menghabiskan waktu sekian menit akhirnya mereka sampai disebuah cafe bergaya modern-klasik dengan pekarangan yang cukup luas. Dari luar cafe tersebut terlihat seperti cafe modern pada umumnya dengan jendela besar yang menampilkan deretan kursi dan meja yang tersusun rapi. Tapi saat memasukinya lebih dalam nuansa klasik jepang akan sangat terasa karena dibagain dalam cafe tersebut merupakan tempan yang dikhusukan untuk keluarga.
Suara lonceng membuat para pekerja yang sedang bersiap untuk membuka cafe terhenti."Maaf tapi kami- TENDOU-SAN?!" Tendou tersenyum ceria sementara Ushijima sedang memarkinkan mobilnya.
"Ohayou Gure-kun."
"Ohayou gozaimasu Tendou-san." Ujar Gure salah satu pekerja yang dipekerjakan Tendou di cafe nya, dia adalah seorang pria tinggi berdarah campurang Italia-Jepang yang merupakan barista unggulan di cafe ini.
"Dimana Tsubaki-kun?"
Ushijima muncul dari balik punggung Tendou dan mengagguk pelan pada Gure.
"WUAAAHH USHIWAKAA!"
"Urusai Gure!"
"Ohayou Tsubaki-kun?"
"AHH- ohayou gozaimasu Satori-san."
Gure berlari secepat kilat kemudian muncul kembali dengan membawa selembar kertas dan juga spidol ditangannya.
"Ano- Ushiwaka-san saya penggemar anda bolehkan saya minta tanda tangan anda?"
Ushijima berkedip bingung dia belum terbiasa dengan kepopulerannya walaupun sudah sejak dulu popular.
"ppfffttt- BWAHAHAHA?" Tendo tergelak dengan spontanitas yang dilakukan Gure juga reaksi yang diberikan Ushijima.
"Tendou berhenti tertwa." Wajah Ushijima memerah
"gomen Wakatoshi-kun." Tendou berusaha meredakan tawanya.
Sementara Gure dengan mata berbinar binar masih menyodorkan spidol dan kertas yang dibawanya yang akhirnya di ambil oleh Ushijima dan di tanda tangani.
"ahem- Ne Tsubaki-kun aku mau coba Mont Blanc cake buatanmu. Wakatoshi-kun kamu mau pesan apa?"
"tiga onigiri salmon dan segelas ocha hangat."
"akan segera saya siapkan." Gure hendak pergi kedapur untuk membantu menyiapkan pesanan Tendou menahannya lalu berbisik 'tolong siapkan perlengkapan piknik dan makanannya juga ya.'
"siap, akan segera saya siapkan." Setelah memberikan wink kepada Tendo Gure pun pergi kedapur. Sementara itu Tendo dan Ushijima memilih duduk di bagian dalam cafe tersebut.
"Wahaha enaknya kalau menjadi bos."
Tendou terengah-engah dan berkeringat walaupun tawanya tidak membahana seperti biasanya.
"Tendou kamu baik-baik saja?" Ushijima menyentuh lengan Tendou walaupun dia berkeringat tapi suhu tubuhnya dingin. Tendo memejamkan matanya sebentar.
"Tendou?"
"Are Wakatoshi-kun?" dia kelihatan bingung
"haruskah kita kembali ke rumah sakit?"
Lalu kelihatannya dia kembali ingat," Ahaha no no no."
"Apa semuanya baik-baik saja?" Gure datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan mereka.
"Mont Blanc!" serunya gembira.
Ushijima menyantap onigirinya dengan tenang bersama Tendou. Pada suapan kelima tiba-tiba tangan Tendo benhenti dengan sendok yang berisi kue menggantung disana, tak sampai pada mulutnya.
"Tendou kamu baik-baik saja?"
Untuk yang kesekian kalinya Tendou sendiri kelihatan bingung untuk beberapa saat, "Ya I am perfectly okay."
Tendou meletakan kembali sendoknya lalu minum air putih yang sudah disediakan oleh Gure.
Sementara itu Tsubaki datang dengan membawa keranjang piknik,"perlengkapan pikniknya sudah saya sedakan Satori-san."
"Piknik?"
"Piknik?" Ujar Tendou dan Ushijima bersamaan
"Eh-?" Tsubaki juga sama bingungnya dengan mereka berdua.
"Hmmm~" Tendo terlihat berpikir keras mencoba mengingat apa yang dia lupakan. "ah! Mumpung kita dekat dengan taman Yoyogi kenapa kita tidak kesana saja sambil piknik, ne?"
"Ah jika itu maumu baiklah."
Ushijima menyelesaikan sarapannya dengan tenang begitupula dengan Tendou yang melanjutkan menyantap kuenya.
"kita berangkat sekarang?" Ushijima sudah bersiap dengan keranjang yang sudah berada dalam genggamannya.
"bisakah kau menungguku di luar sebentar Wakatoshi-kun?"
"Baiklah."
Ushijima sudah keluar terlebih dahulu sementara itu Tendou terlibat pembicaraan serius bersama Tsubaki. Namun sepertinya itu tidak membutuhkan waktu yang lama karena sekitar sepuluh menit kemudian Tendou sudah menyusul Ushijima keluar dari cafe.
"Let's go!"
"Tunggu Tendou jaraknya lumayan jauh dari sini apa kamu sanggup berjalan sampai sana."
"pfftt... Wakatoshi-kun aku cuman sulit tidur bukan lemah jantung." Candanya.
"Baiklah. Tapi kalau kamu sudah meresa lelah jangan sungkan bilang padaku ya?"
"Okey dokki."
Ushijima menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia masih Tendounya yang dulu. Ushijima merona. Yah Tendounya.
Taman itu tak seramai saat musim semi namun masih ada beberapa orang yang melakukan hal sama dengan mereka atau sekedar berjalan-jalan.
Ushijima meletakan keranjang piknik dibawah pohon sakura yang menhandapp kearah kolam air mancur. Mengeluarkan tikar dang menghamparkannya yang langsung diduduki oleh Tendo. Ushjima juga menata makanan yang sudah disiapkan Tsubaki.
"Wakatoshi-kun?"
"Ya Tendou?"
"Kamu sadarkan kalau sejak dulu aku menyukaimu?"
"Huh? Aku juga menyukaimu Tendou."
"Benarkah? Maksudku 'suka' seperti Semi dan Shirabu."
Ushijima diam. Dia memang tidak pandai dalam berekpresi lewat kata-kata tapi apa sikapnya selama ini tidak sama seperti yang dilakukan Semi Terhadap Shirabu, pikirnya.
"ehehe... aku tidak mengatakan ini sejak dulu karena aku tidak mau merusak cita-citamu. Tapi kupikir ini waktu yang tepat. Ah kamu juga tidak perlu menjawabnya aku hanya ingin mengungkapkannya, sebelum aku pergi". Ujarnya sangat pelan di akhir.
Lalu cepat-cepat Tendou berbicara lagi, "ah sou! Apa kamu ingat apa yang pernah aku katakan setelah kekalahan kita oleh Karasuno dulu?" lanjutnya.
"Ya Tendou aku ingat."
"kupikir aku tidak akan melihat pertandingamu lagi diTv Wakatoshi-kun."
"Maksudmu kamu mau menonton langsung?"
"umh..-aku" dering pada handphone Ushjima menghentikan ucapannya. "Sebentar ya."
'aku akan tetap melihat mu dimanapun aku berada."
Sepertinya rekan setimnya menelepon Ushijima karena yang dari apa yang bisa Tendo tangkap hanya kata Tim Nasional.
"Maafkan aku Tendou sepertinya kita harus kembali sekarang."
"Ada apa Wakatoshi-kun?"
"Coach lupa kalau hari ini ada pemilihan tim Volly Nasional Jepang, aku salah satu memeber yang terpilih dan bulan depan akan diadakan pertandingan melawan tim Oikawa, tim nasional Argentina."
"wahhh itu hebat sekali Wakatoshi-kun. Selamat ya."
"Ya terima kasih banyak Tendou. Maaf aku sudah berjanji akan menemanimu seharian tapi sekarang kita harus sudah pergi. Ayo kita pergi sekarang aku akan mengantarmu kerumah sakit."
"nah kau bisa pergi duluan, aku masih ingin disini."
"tapi... ah biar aku hubungi Semi atau Shirabu agar nanti salah satu dari mereka bisa menjemputmu."
"Tidak perlu Wakatoshi-kun nanti aku sendiri yang akan menhubungi Shirabu." Bohong. Padahal Tendou tidak membawa handphone sama sekali.
"kau yakin?"
"100% yakin."
"Baiklah. Tolong hubungi aku kalau kau sudah sampai ya."
"aye captain. Semoga sukses pertandingannya."
Ushijima pergi. Sebenarnya Tendou bukanya tidak ingin pulang dengan Ushijima tapi dia tidak bisa menggerakan kakinya dia tidak bisa merasakan apapun pada bagian kedua kakinya meskipun dia mencoba untuk menggerakannya. Dan dia juga tidak mau membuat Ushijima cemas dan melewatkan kesempatan emas ini.
"Are~ Tendou-san bukannya kau tadi bersama Ushiwaka-san?" Gure menghampirinya dengan membawa dua kantung besar sosis.
"Gure-kun sedang apa disini?"
"eh a-ku tidak mencoba mengintip acara kencamu- oopppsie."
Tendou Cuma terkekeh pelan.
"Ne Gure-kun bisa kau gendong aku sampai ke cafe? aku tidak bisa merasakan kakiku."
"Bai-EEEHHHH?!" Wajah Tendou terlihat muram, "apa kau baik-baik saja?"
"Maaf ya jika ini merepotkanmu."
"Tidak tidak maksudku apa sebaiknya kita langsung kerumah sakit saja?"
"tidak aku mau istirahat sebentar di cafe setelah itu aku akan meminta seseorang untuk menjemputku."
Gure menggendong Tendou dipunggungnya. Untungnya tubuh Gure terbilang build tinggi besar jadi Tendou tidak terlalu khawatir dengan berat badannya walau menurut Gure tubuh Tendou tersa sangat ringan.
Tepat pukul 4 sore Tendou menelpon Semi menggunakan handphone Gure.
Dan tak lama setelahnya Semi datang ke cafenya dengan raut wajah murka.
"KAU INI KALAU SEDANG SAKIT KENAPA TIDAK DUDUK MANIS SAJA DI RANJANG! KAU TAHU BETAPA KHAWATIRNYA AKU DAN SHIRABU KAU JUGA TIDAK MEMBAWA PONSEL MU KALAU KAU-" rententan amarah Semi terpotong setelah Gure memberitahukan keadaan Tendou.
"haahh... si bodoh itu." Semi mengumpat dibawah nafasnya.
"Ayo kita kerumah sakit sekarang aku akan menggendong mu sampai mobil."
"ah Biar saya saja."
Gure mengendong Tendou seperti tadi dan mendudukannya di jok depan mobil Semi. "Terima kasih Gure."
Semi melajukan mobilnya dengan perlahan tanpa berbicara apapun lagi.
"Aku benci."
"Huhh? Kau bicara sesuatu."
"Aku benci saat aku merepotkan orang lain. Aku benci terlihat lemah." Air mata Tendou berlomba-lomba mengalir melewati pipinya yang mulai terlihat tirus itu.
Semi memberhentikan mobilnya dipinggir jalan kemudian berbalik dan melihat wajah Tendou yang sudah basah oleh air mata,"kenapa ini harus terjadi padaku?" dia terlihat kesal," dasar kaki sial kenapa kau juga tidak mau berjalan hiks padahal hiks hari ini aku hanya ingin jalan-jalan hiks.." sambil memukul mukul pahanya Tendou terus bergumam seperti itu.
Semi memeluk Tendou dengan erat dia sekuat tenaga mencoba menahan air matanya agar tak ikut menangis.
Dibawah matahari senja Semi terus memeluk Tendou tanpa kata.
Dua minggu sudah berlalu sejak hari itu, dan Ushijima belum menghubungi Tendou sama sekali. Tapi Tendou juga sepertinya tidak terlalu mengingatnya karena kondisinyapun kian memburuk. Tendou mulai kesulitan berbicara juga makanan. Karena itulah matanya mula terlihat cekung dengan lingkar hitam yang makin pekat di bawahnya.
Pintu bergeser dan Semi masuk sambil menjingjing sekantung puding coklat di tangan kirinya. Tendou melihatnya, dia mencoba memaksakan senyum agar sampai dibibirnya namun tidak ada yang terjadi, dari matanya terlihat keputusasaan Tendou juga terlihat kesal kepada dirinya sendiri karena itu dengan perlahan dia memalingkan wajahnya kesisi lain agar tidak bertatapan langsung dengan Semi.
Semi menutup pintu dibelakangnya dengan pelan," aku bawakan puding cokelat kesukaanmu."
Hari itu langit timur sudah separuh gelap galur-galur cahaya senja tembus melewati jendela ruang rawat Tendou minimpa wajahnya yang sendu dan lelah.
Semi dengan sabar menyuapi Tendou walaupun kenyataannya Tendou baru menghabiskan dua suap. Dan tidak lagi membuka mulutnya saat Semi hendak menyuapinya lagi," kau mau minum?" Tendou berkedip.
Semi membantunya, kemudia menyimpan kembali gelasnya setelah Tendou sudah selesai meminumnya.
Pintu kamar rawat tersebut bergeser kembali kini menampilkan sosok Ushijima dnegan setelan olahraga.
"Tendou?..."
Kali ini Tendou berhasil menampakkan senyum lelah dibibirnya.
"Aku keluar dulu sebentar." Semi pergi dari sana menyisakan Ushijima yang kini mengisi tempat yang tadi diduduki Semi.
Ushijima menggapai tangan yang ringkih dan dingin itu menggenggamnya lembut.
"Maaf aku baru bisa mengunjungimu lagi sekarang, pelatihan kali ini sangat intensif."
Ushijima tidak berkata lagi karena pada dasarnya dia bukan seorang yang banyak bicara.
"Tendou?"
Tendou menggulirkan bola matanya menatap Ushijima pertanda bahwa dia mendengarkan.
" Saat pertandingan selesai, aku berjanji akan menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Jadi, kamu harus segera sembuh. Jika kamu sudah sembuh aku berjanji akan menemani kemanapun kau mau."
"Ya" bisiknya lemah melebur pupus oleh harapan.
Dua minggu kemudian tim Bola volly Nasional Jepang sudah berada di Itali tempat pertandingan akan berlangsung.
Setelah hampir lima hari mereka berjuang melawan tim Volley dari negara lain yang tentunya sangat kuat. Berkat kerja sama tim yang baik dan juga setter yang terampil, tim Volleyball National Jepang lolos hingga ke babak final dan yang menjadi lawan mereka adalah Argentinian League yang setternya adalah the one and only Oikawa Tooru.
Pertandingan anatara Jepang vs Argentina sudah berada pada set terakhir dengan point 24-23. Kedua tim berusaha semaksimal mungkin agar bola jatuh di daerah lawan.
Atsumu melakukan jump service yang ternyata bisa di terima dengan baik oleh pemain lawan. Oikawa melakukan set kepada salah satu pemain sayap kanan, Bokuto beserta Hirugami, dan Sakusa besiap untuk melakukan block, dan permain tersebut melakukan spike cross yang mengaggumkan. Namun, Yaku menerimanya dengan baik. Untuk melakukan serangan balasan Atsumu memberikan set up kepada Bokuto yang berada disisi kiri dan melakukan serangan balasan yang sangat menakjubkan seperti biasa, namun karena Oikawa membaca gerakan lawan bola berhasil mengenai block. Hirugami menggunakan kakinya agar bola tidak jatuh. Atsumu bisa menerimanya dengang sangat baik walaupun posisinya sangan tidak menguntungkan, dia mengopernya kepada Ushijima untuk melakukan Back attack. Bola tersebut jatuh dengan indah tepat diatas garis pihak lawan. Tim Jepang yang berada di bench seperti Hinata dan Kageyama yang sudah bermain di set awal, berhamburan kelapangan melakukan selebrasi bersama teman-temannya yang lain atas kemenangan yang mereka dapatkan.
Setelah menerima penghargaan para pemain akan melakukan perayaan dengan makan-makan disebuah restoran yang tentunya gratis karena biayanya sudah di tanggung oleh coach mereka.
Jauh di sebrang lautan sana tepatnya di Jepang, mantan anggota tim volley putra dari Shiratorizawa berkumpul di ruang rawat Tendou yang sudah di persiapkan sedemikian rupa agar mereka sama-sama bisa menonton pertandingaan itu. Mereka ikut bersorak ria tak sadar bahwa mereka sedang berada dirumah sakit, Tendou juga ikut tersenyum. Senyumnya masih bertahan dibibirnya yang pucat sementara matanya sudah tertutup saat teman-temannya yang lain dengan heboh berbicara tentang pertandingan yang baru saja selesai dengan kemenangan yang gemilang.
Setelah beberapa menit yang panjang saat euforia meninggalkan mereka secara perlahan barulah mereka melihat kearah Tendou yang sudah teperjam. Goshiki yang pertama kali membuka suara, "Ne Shirabu-san bukannya Tendou-san itu sulit tidur, apakah dia sudah sembuh?" Goshiki menyentuh tangan Tendou,"Are~ tangan nya juga dingin." Dia menyelimuti Tendou dengan lembut lalu dengan polosnya dia berbisik,"Tidur yang nyenyak Tendou-san." Sementara Shirabu memucat dan denga terburu-buru memeriksa Tendou. Dengan gemetar dia menatap kawan-kawannya yang ada disana dan menggelengkan kepalanya dengan sedih, "Tendou-san sudah tiada."
"Coach! Sebagai hadiah atas kemenangana hari ini aku ingin Gelato sebagai makananan penutupnya." Dengan berani Hinata menyerukan keinginannya.
Atsumu mengacungkan jempolnya kepada Hinata sambil berkata,"Good job Shoyo-kun."
Lalu permintaan lainnya muncul dari pemain lainnya seperti dari Bokuto dan Hirugami misalnya, Kageyama hanya diam, Sakusa terlihat tidak tertarik karena apapun itu yang penting tempat nya harus bersih, Ushijima hanya memperhatikan.
Mereka sampai di restoran yang sudah dipesan oleh coachnya. Meja dan kursi sudah disusun sedemikian rupa agar semuanya bisa makan sambil berkumpul, makanan juga sudah terhidang didepan mata membuat beberpa pemain yang lelah dan juga kelaparan meneteskan air liur mereka. Namu, mereka haru menahannya karena Coachnya masih berbicara mengucapkan ucapan syukurnya dan berterima kasih.
Ditengan itu semua tiba-tiba Ushijima menerima panggilan dari Semi. Dengan diam-diam dia mengangkatnya.
"Wakatoshi-"
Hari itu seperti janjinya, Ushijima menemani Tendou seharian. Teman-temannya yang lain sudah pergi sekitar tiga jam yang lalu dan kini hanya menyisakan dirinya. Hari itu langit tidak cerah namun tak juga turun hujan udaranya sejuk dan nyaman.
Selama itu Ushijima hanya diam memandang tempat peristirahatan terakhir Tendou. Dengan masih menggunakan pakainnya yang kemarin Ushijima hanya bersimpuh disana menatap kosong.
Waktu yang terasa begitu cepat saat Ushijima matahari sudah bergulir ke arah barat garis garis jingga dan merah tua dilangit barat mengingatkan Ushijima pada Tendou.
"Kau tidak menepati janjimu Ten.." dan saat itulah perasaan Ushijima luruh beserta air matanya yang jatuh. Kebahagiannya dijungkir balik dalam rentang waktu yang sangat singkat.
The End~
Hallo hallo~ beautiful human ^^
Kali ini aku coba bikin angst UshiTen nih. Sejujurnya aku terinspirasi dari cerita "In Another Life" the one of marsterpiece by LittleLuxray.
Jujur cerita ini, membuat aku terdiam~ sedih banget pokoknya.. T.T
Dengan segala kesadaran juga penulis sadar kalau cerita yang aku buat ini jauhhhhhh banget dari kata sempurna. Banyak istilah istilah yang membingungkan juga harap di maklum ya penulis masih seorang pelajar wkwkw... Tapi aku harap para pembaca bisa menikmatinya..
oh! BTW, untuk yang merekomendasi part 2 "pranks gone wrong" harap ditunggu dengan kesabaran yang lapang ya xixixi author masih sering dipusingkan dengan tugas kuliah yang menggunung. harap para readers yang budiman bisa memaklumi.
Oke deh sekian dulu cuap cuap kali ini XD
Sampai jumpa dicerita berikutnya ... bye bye
