Dango untuk Pria Kesepian
Kembalinya kedamaian setelah Perang Dunia Shinobi Keempat membuat dunia kembali menebar senyuman dan kebersamaan. Desa Konoha kini terlihat lebih modern berkat kemudahan dalam berbagi teknologi oleh setiap negara. Bangunan-bangunan di Konoha kini menjadi lebih besar, rel kereta mulai memanjang di setiap sisi kota. Namun, di tengah-tengah itu, ada satu tempat sakral yang tidak pernah berubah dari dulu. Tempat itu adalah tempat pemakaman Konoha.
Pemakaman yang menjadi tempat untuk memperingati para pahlawan Konoha yang telah tiada dan melepas rasa duka akan kehilangan orang yang tercinta. Tidak terkecuali untuk Kakashi. Pria yang menjabat menjadi Hokage Keenam itu berdiri di depan batu nisan besar yang berbentuk seperti sebuah ujung kunai.
Di balik wajah datar yang ia sembunyikan dengan topengnya, terdapat kesedihan yang menusuk hatinya. Ia kehilangan banyak teman seperjuangan dan bisa dibilang selalu hidup dalam kesendirian.
"Ayah, Obito, Minato-sensei... aku datang lagi hari ini." Ujar Kakashi pelan yang kemudian menghela nafasnya, "Kuharap kalian tenang di sana. Sudah satu tahun semenjak Naruto menggantikanku menjadi Hokage, kau pasti bangga kan, Minato-sensei? Dia menjalankan tugasnya dengan baik."
Kakashi terdiam, ia kehabisan kata-kata. Kembali ke tempat yang sama satu minggu sekali menjadi hal yang rutin baginya. Namun, selalu hidup dalam kesendirian membuatnya tidak mampu banyak bercerita. Biasanya ia bercerita dan berkeluh kesah tentang hidupnya sebagai seorang Hokage di depan batu nisan itu. Kini ia bukan seorang Hokage lagi, ia menjalani hidup seperti warga Konoha biasa lainnya walaupun orang-orang di sekitar masih menghormatinya sebagai Hokage.
"Yah... Kurasa tidak banyak yang bisa kuceritakan hari ini." Kakashi menyatukan kedua tangannya untuk berdoa dan membungkuk untuk menghormati orang-orang yang sudah mati.
Mantan Hokage itu berjalan ke tempat pemakaman lain, batu-batu nisan kecil tersebar di tanah kosong yang mengelilingi jalan setapak menemani setiap langkah kaki Kakashi. Di salah satu jalan itu terdapat sebuah batu nisan bertuliskan "Rin Nohara", ia berlutut di samping batu itu dan berdoa.
Setelah berdoa, ia membasuh nisan itu dengan air dan mengelapnya menggunakan kain putih. Ia kemudian meletakkan bunga putih yang ia beli dari toko bunga Yamanaka.
"Rin, maafkan aku." Kakashi merasa tercekik karena ingin menangis. Di balik kata-katanya itu, ia masih merasa bersalah atas kematian salah satu teman satu timnya. Ingatan pahit akan kematian Rin menjadi mimpi buruk Kakashi di setiap tidurnya.
"Pasti menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama Obito dan Minato-sensei di sana... aku iri."
Angin berhembus pelan menerpa wajah Kakashi seolah-olah Rin membalas kata-katanya. Kehangatan matahari di sore hari membuat Kakashi merasa kalau Obito dan Minato sedang merangkul tubuhnya.
"Aku sudah berjanji untuk melindungimu, tapi kurasa aku hanyalah seorang pembohong besar. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, semua yang ingin kulindungi perlahan menghilang. Rin, apakah aku ini orang yang jahat? Maukah kau melihat wajahku saat waktuku tiba nanti?"
Kakashi tahu kalau menunggu jawaban dari orang yang sudah mati adalah hal yang sia-sia. Tapi tetap saja, Rin adalah satu-satunya orang yang ia yakin akan selalu mendengarnya. Dengan perasaan yang sedikit murung, Kakashi memberi salam perpisahan pada temannya itu.
Ia berjalan keluar area pemakaman, tidak ingin terlihat suram, ia juga mengeluarkan salah satu seri buku Icha Icha dari sakunya.
"Eh...? Tuan Rokudaime?" suara wanita menarik perhatian Kakashi.
"Ermm... Kumohon jangan panggil aku itu, Anko." Balas Kakashi sambil tersenyum canggung.
"Ahahaha, baik, baik."
Wanita itu adalah Anko Mitarashi, seorang pengajar di Akademi Ninja Konoha. Wanita bertubuh gemuk itu mendekati Kakashi dengan senyuman di wajahnya. Dengan blus jingga panjang sampai lututnya dan jubah putih membuatnya terlihat anggun. Karena keramahannya saat berinteraksi dengan murid-murid akademi, ia bagaikan seorang ibu yang baik dan siap melindungi mereka.
"Apa kau baru dari pemakaman?" tanya Anko.
Kakashi mengangguk, "Ya, hanya ingin bertemu dengan rekan satu timku."
"Aahh... begitu, ya. Kau menjalankan tugasmu sebagai Hokage dengan baik begitu juga dengan Naruto. Melihat teman sekelasku dulu menjadi seorang Hokage membuatku sedikit iri."
"Menjadi Hokage itu sangat menyusahkan."
Kedua orang itu tertawa kecil dan mulai berjalan berdampingan. Mereka bercakap-cakap tentang banyak hal, mulai dari nostalgia saat mereka di akademi hingga suka duka Kakashi saat menjadi Hokage.
"Hei, Kakashi. Apa kau mau makan dango bersamaku?" tanya Anko begitu mereka sampai di ujung jalan tempat mereka akan berpisah.
"Erm... tapi aku tidak lapar..."
Anko mendorong Kakashi ke jalan yang mengarah ke warung dango favoritnya, "Sudahlah, aku yang traktir kali ini. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah melindungi Konoha."
"Ahaha... baiklah, baiklah. Aku tidak bisa menolak makanan gratis."
Mereka berdua sampai di warung dango yang dimaksud dan memilih untuk duduk di luar. Keduanya memesan hanami dango yang sama dengan tiga tusuk untuk satu porsinya.
"Jadi, bagaimana hari-harimu menjadi pengajar di akademi?" Kakashi membuka pembicaraan.
"Yaah, bisa kubilang menyenangkan. Murid-murid sekarang cepat sekali berkembang, ujian Chuunin selanjutnya pasti akan menarik." Jawab Anko sambil memakan dango yang menjadi makanan favoritnya. "Bagaimana dengamu? Apa kau memiliki kegiatan setelah posisimu digusur oleh Naruto?"
Kakashi tertawa, "Aku bersyukur bisa memberikan beban yang berat pada muridku. Sejujurnya, aku tidak punya kegiatan apa-apa yang spesial, aku hanya membantu Naruto dari belakang. Tapi dia anak yang kuat, dia bisa mengatasi semuanya sendirian."
"Setidaknya kau masih memiliki gelar sebagai Hokage, iya, kan, Tuan Rokudaime?" Kata Anko dengan nada bercanda.
"Tolong jangan panggil aku seperti itu," balas Kakashi sambil menggaruk kepalanya.
Waktu berjalan seiring pembicaraan mereka. Masing-masing dari mereka menyisakan satu dango di piring. Perlahan, pembicaraan mereka menjadi lebih dalam dan membuat Kakashi sedikit lebih terbuka dengan Anko.
"Kau tahu, Anko. Aku sempat berpikir untuk pergi dari Konoha."
"Eh!? Apa maksudmu?"
"Aku masih tidak bisa menghilangkan penyesalan atas kematian Rin. Aku ingin mengembara dan mati diterkam hewan buas saja di luar sana."
Walau sebagian besar wajah Kakashi tertutup topeng, Anko masih bisa mengetahui kesedihan yang ada di baliknya.
"Aku menghabiskan hidupku sendirian. Aku kehilangan semuanya. Rin, Obito, Minato-sensei dan yang lainnya. Aku ingin sekali bertukar tempat dengan mereka, seharusnya akulah yang tertimpa batu itu, bukan Obito. Ia ingin sekali menjadi seorang Hokage dan Rin..." Kakashi melihat tangannya yang ia gunakan untuk merenggut nyawa Rin. "Aku ingin melihat mereka berdua bahagia. Sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi, apa tujuanku hidup?"
"Kakashi, kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Rin dan Obito adalah temanku juga, aku sama menyesalnya dengan dirimu saat kehilangan mereka berdua. Kita menanggung beban yang sama di pundak kita. Saat aku menjadi bahan percobaan Orochimaru, aku berharap ingin sekali mati. Segel yang ia tinggalkan di tubuhku membuatku merasa menanggung beban yang sangat berat atas tindakannya. Aku menaruh dendam pada orang itu sampai akhirnya aku belajar untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, walau aku masih ingin bertarung dengannya."
Anko melanjutkan kata-katanya, "Selama aku memiliki segel itu, aku berpikir apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus hidup sendirian selamanya? Apakah aku ini seorang monster? Pikiran itu terus membayang-bayangiku sampai akhirnya aku menemukan tujuanku untuk terus hidup. Konoha menjadi rumah yang nyaman untukku. Aku yakin Rin dan Obito akan senang terus melihatmu menjalani hidup, kau tidak perlu merasa sendirian lagi."
Kakashi memandang Anko dengan diam. Sampai saat ini ia belum pernah merasa nyaman dan tenang, Anko berhasil membuka matanya. Ia akhirnya tersadar kalau bukan hanya dirinya saja yang memiliki masa lalu yang kelam. Anko juga merasakan rasa sakit yang sama di masa lalunya, selama ini ia merasa kalau hidupnya tidak berarti sama sekali.
Keduanya saling memandang satu sama lain cukup lama, tanpa mereka sadari, kedua tangan mereka sudah saling menyentuh.
"A-ah! Satu dango terakhir!" Anko memecah situasi canggung di antara dirinya dan Kakashi dengan memakan satu tusuk dango, "Haaah~ kalau begini terus tubuhku tidak akan ada perubahan. Tidak akan ada pria yang mau dengan wanita gemuk sepertiku ini." Keluh Anko sambil menepuk perutnya.
"Hahaha, kau sama cantiknya seperti dulu. Aku tidak terlalu mempedulikan penampilanmu yang sekarang, kau tetaplah Anko yang kukenal." Ujar Kakashi.
Anko seketika memalingkan wajahnya dan tersipu malu setelah mendengar ucapan Kakashi. Lain halnya, dengan Kakashi, ia perlu waktu sedikit lebih lama untuk memproses apa yang baru saja ia ucapkan. Keduanya sama-sama tersipu malu bagaikan remaja yang baru saja jatuh cinta.
Kakashi akhirnya membalikkan wajahnya untuk melihat Anko, "Terima kasih, Anko."
"A-ah, tentu sa—" kata-kata Anko terpotong begitu ia merasakan tangan Kakashi memegang tangannya.
Wajah Anko mulai memerah dan menatap mata sayu Kakashi. Keduanya kini begitu dekat, jantung Anko berdebar-debar, ia akhirnya menutup kedua mata dan menunggu apa yang akan dilakukan Kakashi selanjutnya.
"Ah, maaf." Kakashi menunduk, "Aku dari tadi mencari dango terakhirku hahaha."
"A-a-ahahaha, begitu ya..." Anko akhirnya menghela nafas setelah menahannya cukup lama karena hal tidak terduga yang dilakukan Kakashi.
"Aku bodoh sekali, tidak mungkin ia melakukan 'itu' tanpa membuka topengnya... tunggu dulu, aku tidak melihat wajahnya saat memakan dango dari tadi..." pikir Anko.
Apa yang dipikirkan Anko akhirnya terjadi, Kakashi menarik topengnya ke bawah untuk memakan dangonya. Ia akhirnya melihat wajah yang selama ini menjadi sebuah misteri baginya. Hal itu tentu saja membuat wajahnya kembali memerah apalagi setelah Kakashi tersenyum padanya sebelum menarik topengnya ke atas.
Anko berdiri dengan spontan karena merasa sangat malu, "A-a-aku pulang duluan."
"Ah, iya, tentu saja. Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku."
Wanita itu berjalan dengan canggung meninggalkan Kakashi, tetapi ia berhenti dan berbalik, "Kakashi..."
Kakashi melihat Anko yang membungkuk di hadapannya dengan kedua tangan di belakang tubuhnya.
Dengan wajah yang dihiasi senyuman lebar, Anko berkata, "Kapan-kapan mampirlah ke tempatku, aku akan membuatkanmu teh hangat yang enak."
Untuk sekilas, Kakashi seperti melihat bayangan Anko saat masih kecil dulu. Anko yang ia kenal benar-benar tidak berubah. Ia melihat wanita itu berjalan menjauh dari pandangannya.
"Tentu saja." Balas Kakashi sambil berdiri meninggalkan warung dango itu.
Dua buah piring dengan sisa tusuk dango di atasnya menjadi saksi bisu percakapan Kakashi dan Anko. Matahari sore melengkapi musim semi di Konoha, angin hangat berhembus lebih kencang dari biasanya dan menghempas tusuk dango di atas piring Kakashi ke arah piring Anko, menyisakan masing-masing satu tusuk milik mereka yang kini saling tumpang tindih...
