[Higuruma Hiromi POV. Pengacara Pembela Umum khusus Kasus Pidana (36 tahun)]
Sejak kecil… Aku tidak bisa membiarkan hal-hal yang menyalahi norma umum terjadi begitu saja di hadapanku. Aku juga tidak bisa membiarkan begitu saja orang-orang yang mengulurkan tangannya padaku untuk meminta pertolonganku. Bukan… Aku bukan orang suci yang mencoba untuk menyelamatkan yang lemah dan menjadi seorang pahlawan atau pembela kebenaran. Pertolonganku pun sering kali tidak berguna sama sekali dan tidak dapat menyelamatkan mereka.
Lalu… Bagaimanakah cara yang harus kutempuh agar aku bisa memenuhi idealismeku itu dan menolong mereka?
Dewi keadilan di dunia hukum mengenakan penutup mata untuk merepresentasikan imparsialitas. Kesetaraan dihadapan hukum tanpa melihat kekayaan, kekuatan, ataupun status lain. Ketidakberpihakan pada apapun sehingga semua manusia akan terlihat sama di hadapan dewi keadilan. Namun kebanyakan manusia itu egois. Walau mereka sama-sama menutup mata seperti dewi keadilan. Manusia melakukan itu bukan demi imparsialitas. Mereka menutup mata untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari kebenaran yang sesungguhnya.
Meski begitu kenyataan yang ada… Pada akhirnya aku juga hanyalah seorang manusia yang egois. Karena idealismeku, aku tidak ingin mengkhianati orang-orang yang telah mengulurkan tangannya padaku itu. Walau aku bukan orang suci ataupun seorang pahlawan pembela kebenaran, aku tidak ingin menutup mataku dari kebenaran. Walau hanya tinggal aku seorang… Aku ingin mataku untuk tetap terbuka.
Oleh karena itu, aku keluar dari dunia Jujutsu[1] yang tidak sesuai dengan idealismeku. Aku akan menegakkan keadilanku sendiri dan menjadi satu-satunya manusia egois yang tetap membuka mata di dunia yang penuh dengan kekejaman ini.
Dan kuyakin perasaan ini tidak akan pernah berubah.
…
"Ah,"
Aku dengan tidak sadar mengeluarkan suara kecil yang menunjukkan keterkejutanku karena melihat orang dari Kousen[2] keluar dari toko perhiasan di tengah hari itu.
Sepertinya ia pun menyadari keberadaanku karena ia menoleh ke arahku. Walaupun ia mengenakan kacamata berwarna gelap untuk menutupi pandangannya, aku tahu dan bisa merasakan tatapan matanya yang tajam karena sepertinya ia juga terkejut dengan kehadiranku.
Masih sama seperti dulu, walau reaksinya seperti itu, ia adalah satu dari sekian banyak manusia yang kukenal mempunyai sifat yang sangat lurus dan sopan. Ia langsung berjalan ke arahku dan sedikit menundukkan tubuhnya untuk menyapaku.
"Selamat siang, Higuruma-san."
Walau umurnya jauh lebih muda dariku, ia adalah pria dengan postur tubuh yang lebih tegap dan lebih tinggi dariku. Garis wajahnya tajam dengan tulang pipi yang sedikit menonjol dan memiliki ekspresi wajah yang tegas. Rambutnya yang berwarna pirang seperti orang asing itu ditata dengan sangat rapi. Daripada seorang Jujutsushi[3], penampilan luarnya lebih terlihat seperti seorang pekerja kantoran. Ia mengenakan setelan pakaian bisnis dengan kemeja berwarna biru dan jas berwarna coklat muda yang senada dengan celana panjang yang ia kenakan. Tidak lupa juga dilengkapi dengan sepatu kulit dan jam tangan yang terlihat sangat mahal dengan harga yang sepertinya melebihi gajiku selama setahun. Bagiku penampilannya nyaris sempurna jika saja ia tidak mengenakan dasi berwarna kuning dengan motif bercak hitam yang terlihat menyeramkan itu.
"Selamat siang juga Nanami-kun. Sedang dalam misi?"
Hanya itu yang bisa terpikirkan olehku. Walau aku tidak tahu persis bagaimana kehidupan pribadi orang-orang Kousen, jarang sekali dari mereka yang mempunyai kekasih ataupun membentuk keluarga. Karena menjadi seorang Jujutsushi adalah pekerjaan sangat berbahaya yang dapat mengancam nyawamu sendiri dan bahkan orang-orang di sekitarmu. Seorang Jujutsushi dituntut harus selalu siap untuk menerima akhir hidup mereka atau bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Oleh karena itulah, setelah lulus dari Kousen 16 tahun yang lalu, aku memilih keluar dari dunia Jujutsu. Bagiku dunia itu sangat jauh dari keadilan dan idealisme yang kupegang.
"Tidak. Kali ini urusan pribadi."
Rupanya aku salah… Bahkan orang yang terlihat tak acuh, stoik, dan penyendiri seperti Nanami-kun pun ternyata bisa mempunyai seseorang yang berharga baginya hingga bisa diberikan perhiasan olehnya. Saat itu aku merasa sedikit penasaran seperti apa wanita yang dipilih oleh Nanami-kun untuk menjadi pasangannya. Entah mengapa saat itu aku yakin dengan pasti bahwa wanita pasangannya adalah wanita yang sangat cantik dan memiliki kemampuan yang sama kuat dengannya, mungkin seorang Jujutsushi juga.
"Maafkan aku… Sepertinya aku telah muncul di waktu yang tidak tepat ya," ujarku dengan canggung. Sekali lagi walau aku lebih tua darinya, aku sama sekali tidak punya pengalaman percintaan apalagi pengalaman membeli perhiasan untuk seorang wanita yang bisa dijadikan bahan pembicaraan basa-basi.
Nanami-kun terdiam sesaat. Namun berlawanan dengan kata-kata yang diucapkannya, ia memperlihatkan senyum tipis yang baru pertama kali kulihat, "Tidak. Itu bukan salah Higuruma-san. Seharusnya aku juga tidak pergi ke tempat seperti ini di jam kerja."
Walau senyumnya sangat tipis, aku yang bahkan tidak pernah punya pengalaman percintaan pun tahu bahwa Nanami-kun pasti sangat mencintai wanita pasangannya itu. Saat itu aku disadarkan pada kenyataan bahwa orang-orang Kousen pun, orang-orang yang di dalam pikirannya hanya selalu tentang kutukan dan energi kutukan, sebenarnya hanyalah seorang manusia sama seperti para Hijutsushi[4] lainnya.
"Berarti hari ini kau sedang tidak bekerja?"
"Ya… Karena sudah ada janji. Setelah sekian lamanya untuk satu hari ini aku dapat mengambil hari libur."
Walau aku sudah dapat memperkirakan jawaban berikutnya dari Nanami-kun, aku tetap bertanya padanya dengan nada yang kubuat seolah-olah aku tidak tahu apapun, "Janji?"
Lagi-lagi Nanami-kun terdiam sesaat sebelum menjawab dengan senyum tipis yang ia perlihatkan untuk kedua kalinya di hari itu. Di dalam kepalaku, aku langsung bertanya-tanya apakah setelah itu mungkin akan turun hujan deras.
"Dengan kekasihku."
Tentu saja. Walau aku sudah tahu, tetap saja rasanya sangat mengejutkan mendengar langsung kata-kata itu keluar dari mulut seorang Nanami-kun. Bukannya aku merendahkan Nanami-kun, mungkin karena aku sudah cukup mengenalnya sejak jaman ia masih menjadi pelajar di Kousen. Setelah aku menyelesaikan masa pelatihan hukumku dan menjadi seorang pengacara pemula, beberapa kali aku dipanggil ke Kousen oleh Yaga-sensei untuk memberikan pelajaran formal tambahan tentang dasar-dasar hukum sebagai seorang guru tamu. Saat itulah aku mengenalnya dan beberapa kali mengajar di kelas Nanami-kun. Walau penampilan luarnya berbeda jauh dengan yang sekarang, namun kepribadian dan sikapnya tidak banyak ada perubahan. Kupikir orang yang pendiam dan sangat serius dalam pekerjaan seperti Nanami-kun akan menjauhi hubungan percintaan. Apalagi dengan resiko besar karena dirinya adalah seorang Jujutsushi tingkat 1 yang pasti akan selalu mendapat misi sangat sulit dan membahayakan.
"Kalau Higuruma-san apakah Anda sedang mengambil mengambil hari libur juga?" tanya Nanami-kun dengan suara rendah berintonasi datarnya sambil mengarahkan pandangannya pada tas jinjing kertas yang kubawa di tangan kananku. Pada bagian depan tas jinjing tersebut tercetak logo dari sebuah toko kue tradisional yang cukup terkenal. Sepertinya ia mengetahuinya dan mungkin mengira aku akan pergi bertemu untuk memberikan ini pada seseorang.
"Ah… Ini? Aku sedang bekerja dan baru saja bertemu dengan keluarga klien. Mereka memberikan ini padaku sebagai oleh-oleh."
"Oh begitu. Maafkan aku telah mengganggu waktu kerjamu Higuruma-san," ucap Nanami-kun dengan segera sambil sedikit membungkuk.
"Tidak, tidak… Setelah ini aku hanya akan kembali ke kantor untuk merapikan materi. Mungkin aku akan memakan ini sambil melakukannya. Apa kau juga mau mencobanya?" ucapku sambil sedikit mengangkat tas jinjing berisi dua kotak kue itu. Jika Nanami-kun mau, aku akan memberikan 1 kotak untuknya. Mungkin itu lebih baik karena ia akan bisa memakannya berdua bersama dengan kekasihnya.
"Tidak. Setelah ini aku akan bertemu dengan kekasihku untuk menonton film. Jadi aku tidak bisa membawa makanan masuk dalam bioskop. Maafkan aku," jawabnya dengan bahasa sopan sambil kembali sedikit membungkukkan tubuhnya yang tegap itu. Andai semua manusia bisa berperilaku sama seperti Nanami-kun, pasti akan tercipta kedamaian di dunia ini.
"Tenang saja, tidak apa-apa. Aku akan membaginya dengan asistenku sambil merapikan materi, ia sangat suka dengan makanan manis," di dalam kepalaku terbayang wajah lelah Shimizu-kun yang perlahan berubah menjadi wajah dengan senyuman lebar. Shimizu-kun adalah salah satu dari sekian banyak paralegal[5] yang pernah bekerja bersamaku yang cukup kuat mengikuti keegoisanku. Walau ia selalu mengeluh setiap kali kuberikan tugas tetapi ia selalu mengerjakannya dengan cepat dan rapi. Rasanya tidak buruk jika sekali-kali memberikan penghargaan kecil untuknya yang sudah bekerja keras.
Tepat saat Nanami-kun ingin membalas perkataanku, terdengar suara dering ponsel dari bagian dalam saku jas Nanami-kun. Sepertinya ia sudah tahu siapa yang menghubunginya karena ia tidak langsung mengeluarkan ponselnya. Mungkin kekasihnya ingin mengabari bahwa ia sudah sampai di bioskop.
"Kalau begitu Higuruma-san, aku mohon pamit duluan. Sampai bertemu lagi."
Setelah saling mengucapkan salam perpisahan, kupikir aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Nanami-kun. Namun, sekitar 3 minggu setelah kerusuhan di Shinjuku dan Kyoto yang disebabkan oleh para Jusoshi[6] pada malam natal (Yang mengetahui alasan sebenarnya kerusuhan ini hanyalah orang-orang yang memiliki relasi dengan dunia Jujutsu. Pemerintah dan para petinggi dunia Jujutsu menutupinya sehingga para Hijutsushi mengetahuinya sebagai ulah para teroris), Nanami-kun menghubungiku dan memintaku untuk bertemu dengannya karena ia ingin membicarakan suatu hal yang penting.
Pada malam di akhir minggu berikutnya, kami bertemu di sebuah bar kecil di pinggiran kota Yokohama. Walau hari itu adalah hari libur, Nanami-kun tetap mengenakan setelan jasnya dengan lengkap, sedangkan aku hanya mengenakan sweater berleher tinggi berwarna sederhana dengan mantel panjang berwarna gelap yang sudah kugunakan sejak zaman masih berkuliah di Fakultas Hukum. Karena suhu pada malam hari di akhir bulan Januari itu sangat dingin, aku juga mengenakan syal tebal bermotif polos hadiah dari ibuku saat aku lulus ujian pengacara nasional.
Saat aku sampai di bar, Nanami-kun sudah terlebih dahulu tiba dan memilih tempat duduk dengan meja dan bangku berhadapan di bagian cukup dalam bar. Sepertinya ia tidak ingin pembicaraan penting ini terdengar oleh orang lain.
Sambil melepas mantelku dan meletakkannya di bangku di sampingku, dengan intonasi suara datar khasnya Nanami-kun berkata, "Terima kasih sudah mau datang Higuruma-san. Apakah Anda ingin memesan sesuatu?"
Sambil melihat meja Nanami-kun yang masih kosong aku pun membalas, "Kau sendiri tidak memesan minuman?"
"Tidak, karena aku menyetir," jawabnya singkat.
Walau aku tidak datang dengan mengendarai mobil, tapi karena setelah ini Nanami-kun akan membicarakan suatu hal yang penting, rasanya aku harus tetap menjaga agar pikiranku untuk tetap jernih. Akhirnya aku memesan umeshu tonic[7] yang memiliki sedikit kandungan alkohol.
"Kudengar banyak Jujutsushi yang terluka pada penyerangan di malam natal," ucapku membuka bahan pembicaraan. Aku mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi di Shinjuku dan Kyoto dari seorang Mado[8] yang kukenal di asosiasi pengacara. Oleh karena itu, walau aku sudah tidak berafiliasi lagi dengan Kousen, aku masih dapat mengetahui dan mendengar kabar tentang apa yang terjadi di Kousen dan dunia Jujutsu.
"Apakah Anda masih ingat dengan Geto-san?"
Geto Suguru. Kalau aku tidak salah ingat, ia juga adalah salah seorang murid Kousen. Tingkatnya berada setahun di atas Nanami-kun. Aku juga pernah mengajar di kelasnya sekitar 2 kali. Di angkatan yang sama dengan Geto Suguru ada dua orang murid lagi. Seorang murid laki-laki yang entah mengapa selalu mengenakan kacamata hitam walau berada di dalam kelas dan seorang murid perempuan berambut pendek yang memiliki ekspresi wajah sedikit suram. Karena aku hanya pernah mengajar 2 kali di angkatan itu aku tidak begitu dapat mengingat dengan jelas. Namun aku dapat mengingat bahwa mereka bertiga sangat akrab. Bagiku saat itu Geto Suguru terlihat sebagai murid periang yang cerdas karena dapat cepat memahami pelajaranku yang cukup sulit.
"Ya… Aku tahu, walau aku tidak begitu mengingatnya," jawabku jujur.
"Geto-san adalah seorang Jusoshi. Saat ia berada di tahun ketiga, ia membunuh 112 penduduk suatu desa di pedalaman gunung dan juga membunuh kedua orang tuanya. Sejak itu oleh peraturan dunia Jujutsu ia ditetapkan sebagai seorang Jusoshi dan menjadi target eksekusi hukuman mati. Namun hingga kini pun kami tidak tahu keberadaannya dan belum bisa menangkapnya."
Tiba-tiba aku merasa mual. Membayangkan perbuatan Geto Suguru yang telah membunuh banyak manusia dan membayangkan betapa tidak bergunanya hukum bergerak untuk mengadili kejahatan yang telah dilakukannya membuat perasaanku menjadi tidak enak. Hukum tidak mempunyai kekuatan di dunia Jujutsu. Jika pun ada hukum yang dapat mengadilinya, itu adalah para Jujutsushi itu sendiri. Saling membunuh. Bagi dunia Jujutsu itu adalah cara yang benar. Keadilan untuk menjaga keseimbangan dunia. Namun bagiku itu hanyalah sebuah pembenaran oleh mereka sendiri. Oleh karenalah itu aku keluar dari dunia Jujutsu dan berhenti menjadi seorang Jujutsushi.
Di tengah pikiranku yang tengah berkecamuk, pelayan datang membawakan pesanan minumanku. Tanpa menunggu lama aku langsung menegaknya hingga habis sesaat setelah sang pelayan meletakkan gelas kecil tersebut di atas mejaku. Aku mengatur napasku sambil menatap gelas kosong yang hanya menyisakan bongkahan es batu di tangan kananku. Walau pelayan tersebut merasa terkejut dengan apa yang kulakukan, dengan suara yang tetap tenang ia bertanya, "Apakah Anda ingin tambah lagi?"
"Tidak perlu," jawabku singkat membuat sang pelayan itu menundukkan tubuhnya dan kemudian pergi meninggalkan kami. Nanami-kun juga tidak berkata apapun untuk merespon tingkah lakuku, ia melainkan melanjutkan, "Geto-san adalah otak dibalik penyerangan oleh para Jusoshi dan Jurei[9] di Shinjuku dan Kyoto pada 24 Desember lalu. Saat itu aku ditugaskan untuk menangani daerah di Kyoto jadi aku tidak berhadapan langsung dengan Geto-san yang menyerang para murid di Kousen. Ia dapat dikalahkan dan terluka parah oleh salah seorang murid tingkat tinggi kami, walau setelah itu ia kembali berhasil kabur."
Sambil merogoh saku bagian dalam jasnya, Nanami-kun melanjutkan, "Oleh karena itulah, aku ingin meminta bantuan Higuruma-san."
Mendengar namaku disebut oleh Nanami-kun, aku mengangkat pandanganku dari gelas kosong ke atas meja. Nanami-kun menyusun 2 benda yang ia keluarkan dari sakunya ke atas meja. Sebuah amplop yang terlihat cukup tebal dan sebuah kotak persegi kecil berwarna gelap.
"Ini…?"
"Surat wasiat dan sebuah kotak cincin."
Aku tersentak kaget mendengar kata wasiat. Walau aku tidak bisa melihat wajahku sendiri aku yakin saat itu ekspresi wajahku pasti menunjukkan wajah yang sangat terkejut. Namun seperti ia tidak mengatakan sesuatu hal pun yang aneh, Nanami-kun tetap berwajah datar dan bersikap tenang.
"Higuruma-san, apakah Anda masih ingat saat kita bertemu di depan toko perhiasan beberapa bulan yang lalu?"
Tentu saja aku masih mengingatnya karena hal itu adalah hal yang sangat langka bagiku. Aku pun menganggukkan kepalaku.
Sambil menyentuh kotak persegi kecil berwarna gelap itu Nanami-kun kembali berkata, "Saat itu aku baru saja memesan cincin untuk kekasihku karena aku berencana untuk melamarnya di malam natal. Tapi aku tidak jadi melakukannya karena kejadian itu."
"Apakah kekasihmu…?!" seruku sambil memandang Nanami-kun yang masih berwajah seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Tidak. Ia tidak terlibat sama sekali dengan peristiwa itu. Ia masih hidup dan sehat hingga detik ini. Terlalu sehat bahkan."
Walau aku tidak mengenal kekasihnya Nanami-kun, entah mengapa mendengarnya membuatku merasa lega, "Lalu… Mengapa…?"
"Saat di Kyoto dan melihat banyak Jujutsushi terluka parah dan bahkan beberapa di antara mereka ada yang meninggal. Hal itu membuatku menyadari sesuatu. Tidak, aku sudah tahu dan sadar akan hal itu dari dulu. Namun karena kehadiran dirinya di dalam hidupku begitu besar, aku berusaha untuk tidak memikirkan tentang hal itu. Tentang akhir hidup seorang Jujutsushi."
Nanami-kun kembali merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan selembar foto. Di dalam foto tersebut seorang perempuan muda berambut gelap pendek di atas bahu sedang tersenyum dengan sangat lebar. Kedua mata bulatnya dengan iris berwarna biru terang terlihat riang dan bercahaya. Ia mengenakan celana panjang katun berwarna gelap dan blus berwarna jingga terang dengan aksen berenda. Tangan kanannya menunjuk ke arah kamera sementara tangan kirinya memegang dua buah balon berwarna merah dan biru polos. Di belakangnya terlihat bangunan seperti kastil atau istana. Aku terpana sesaat melihat sosok perempuan muda di dalam foto tersebut. Sungguh foto yang sangat mengeluarkan aura kebahagiaan.
"Ini…?"
"Ah, itu foto waktu kami berdua pergi ke Disneyland 3 tahun lalu. Foto itu diambil saat ia sedang menertawakanku setelah memaksaku untuk mengenakan telinga Mickey Mouse."
"Bukan… Bukan itu yang ingin kutanyakan."
Seperti sadar akan maksudku yang sebenarnya, Nanami-kun kemudian menaikkan posisi kacamata khasnya yang tanpa lengan itu dengan tangan kanannya sehingga membuat wajahnya menjadi sedikit tidak terlihat. Entah mengapa aku yakin ia melakukan hal itu untuk menutupi wajahnya karena ia pasti merasa sedikit malu. Setelah sedikit berdeham, ia pun menambahkan, "Ehem. Maafkan aku. Dia adalah kekasihku. Namanya adalah Gojou Yume."
Mendengar nama tersebut, visualisasi di dalam kepalaku saling berputar dan kemudian berhenti pada teman seangkatan Geto Suguru, murid laki-laki aneh yang selalu mengenakan kacamata hitam di dalam kelas itu.
"Kalau tidak salah… Gojou merupakan salah satu nama dari 3 keluarga besar penguasa dunia Jujutsu bukan?"
"Benar. Yume adalah adik perempuan dari Gojou Satoru."
Gojou Satoru… Berdasarkan informasi yang kuketahui, ia adalah kepala keluarga Gojou yang merupakan seorang Jujutsushi tingkat tinggi dan merupakan salah satu Jujutsushi terhebat di dunia Jujutsu. Jika benar begitu, berarti apa yang kupikirkan dulu tentang wanita pasangan Nanami-kun adalah seorang wanita Jujutsushi yang kuat adalah benar. Walau sebenarnya dari yang terlihat di foto menurutku Gojou Yume lebih terlihat seperti seorang gadis manis yang polos dibandingkan dengan seorang wanita cantik yang memiliki Jutsushiki[10] sangat hebat.
Seperti mengetahui apa yang sedang kupikirkan, Nanami-kun melanjutkan berbicara, "Walau terlahir di dalam keluarga Gojou, Yume tidak memiliki Soden Jutsushiki[11] ataupun Shotoku Jutsushiki[12] seperti Gojou-san. Namun ia dapat melihat Jurei dan memiliki sedikit Juryoku[13]. Yume juga adalah seorang lulusan Kousen. Aku tidak tahu, tapi mungkin dulu Higuruma-san pernah bertemu dengannya saat mengajar di Kousen. Karena satu dan lain hal, setelah lulus dari Kousen, Yume memutus hubungannya dengan keluarga Gojou dan berhenti sepenuhnya dari dunia Jujutsu. Sekarang dia adalah seorang pekerja kantoran biasa."
Jika Nanami-kun mengatakan bahwa Gojou Yume adalah adik dari Gojou Satoru, dan karena hanya ada 2 orang di angkatan Nanami-kun, -kalau tidak salah yang seorang lagi adalah seorang murid laki-laki periang bernama Haibara Yu- itu berarti angkatan Gojou Yume berada di bawah Nanami-kun. Sementara itu aku mengajar sebagai guru tamu di Kousen hanya dalam waktu singkat. Hanya beberapa kali dalam setahun saat Nanami-kun berada di tahun pertama. Oleh karena itu, aku pun tidak mengetahui kasus Geto Suguru yang terjadi saat itu.
"Kurasa aku tidak mengenalnya karena aku hanya mengajar sebentar di Kousen."
"Benar juga…"
"Kalau begitu… Kalian berdua sudah menjalin hubungan sejak masih menjadi pelajar di Kousen?"
Sambil memasukkan kembali foto Gojou Yume ke dalam saku bagian dalam jasnya, Nanami-kun menjawab, "Sama sekali tidak. Aku sedikit membencinya saat aku masih di Kousen dulu. Kami baru menjalin hubungan sekitar 5 tahun yang lalu."
"Apa Gojou Satoru mengetahui hubungan kalian berdua?"
"….. Kurasa tahu, walaupun kami berdua sama sekali tidak pernah menceritakannya padanya. Karena aku dan Yume tinggal bersama."
"Setelah lulus dari Kousen aku berhenti sesaat dari dunia Jujutsu dan bekerja di sebuah perusahaan saham. Dua tahun kemudian, secara kebetulan Yume masuk di perusahaan tempatku bekerja sebagai anak baru. Kami bertemu kembali saat itu," imbuh Nanami-kun sambil jarinya mulai mengusap-ngusap kotak cincin miliknya itu.
Walau wajahnya tidak menunjukkan adanya perubahan ekspresi, saat itu di dalam kepalanya pasti ia sedang membayangkan pertemuannya kembali dengan Gojou Yume. Karena ibuku adalah seorang yang taat beragama, sejak kecil aku diajarkan olehnya bahwa hal yang seperti itulah yang dinamakan sebagai takdir. Aku yakin pertemuan kembali mereka berdua bukanlah sebuah kebetulan.
"Aku tidak tahu sejak kapan keberadaan Yume menjadi sangat begitu besar di dalam kehidupanku. Bohong jika kubilang aku tidak ingin hidup damai bersama dengannya selamanya tanpa ada gangguan dari dunia Jujutsu. Tapi karena keegoisanku, aku kembali masuk ke dunia Jujutsu dan meninggalkannya sendirian…"
Aku tidak bisa berkomentar apapun dan udara di sekitar kami menjadi terasa sangat berat. Aku juga tidak mungkin bertanya pada Nanami-kun tentang alasan sebenarnya mengapa ia kembali ke dunia Jujutsu. Karena bertanya pun aku tidak mungkin dapat memahaminya. Karena aku adalah seorang manusia pelarian dari dunia Jujutsu yang mengutuk keberadaan dunia Jujutsu.
"Setelah penyerangan di malam natal itu. Para petinggi Kousen mulai sadar dan bergerak. Mereka juga yakin bahwa suatu saat nanti Geto-san akan kembali menyerang entah kapan. Para intel mulai disebar dan seorang murid tingkat tinggi kami saat ini sedang melakukan pelatihan khusus di luar negeri."
"Luar negeri?"
"Aku tidak begitu tahu bagaimana detailnya karena aku bukan guru mereka dan Gojou-sanlah yang mengurus tentang hal itu."
Nanami-kun beralih meletakan tangannya di atas amplop di sebelah kotak cincin itu, dan kembali melanjutkan, "Untuk menghadapi kemungkinan terburuk, aku menulis surat wasiat ini. Selain surat wasiat, di dalam amplop ini juga berisi surat resmi yang kutulis untuk menerangkan tentang penyerahan semua hartaku seperti rumah, mobil, dan yang lainnya untuk Yume. Oleh karena itu, aku ingin meminta tolong pada Higuruma-san sebagai seorang pengacara untuk mengurus semua masalah legalitas pemindah kuasaan harta ini setelah aku tidak ada. Juga menyerahkan surat wasiatku dan kotak cincin ini pada Yume. Dokumen-dokumen resmi lainnya akan kuberikan menyusul."
"Tunggu Nanami-kun, aku seorang pengacara kasus pidana."
"…Apakah ada larangan khusus bahwa seorang pengacara kasus pidana tidak boleh mengurus permintaan kasus perdata?"
"…Memang tidak ada tapi… Bukankah lebih baik jika kau membicarakannya baik-baik dengan kekasihmu dan menyerahkan cincin itu secara langsung padanya? Dengan kata lain kau melamarnya. Jika dia resmi menjadi istrimu, hal itu juga akan mempermudah proses penyerahan harta pribadimu bukan?"
"….."
Nanami-kun hanya terdiam mendengar alasan penolakanku yang logis. Namun hal itu tidak terjadi lama. Setelah menaikkan posisi kacamatanya, ia berkata dengan tenang, "Pilihan seperti itu bukannya sama sekali tidak masuk ke dalam bahan pertimbanganku. Tapi aku sudah mengeliminasinya secara langsung. Aku… Aku tidak ingin meninggalkan kutukan padanya. Jika Yume secara formal menjadi istriku dan menyandang nama Nanami seumur hidup, aku sangat yakin ia akan terus menyakiti dirinya sendiri dan berkata bahwa apa yang telah terjadi adalah karena ketidakberdayaannya. Aku ingin Yume terus bahagia walaupun aku sudah tiada. Jujur aku tidak ingin memikirkan hal ini. Namun jika dipikirkan secara logika dan berdasarkan norma umum yang ada di masyarakat, jika aku tidak menikahinya, Yume akan dapat meneruskan hidupnya dan menikah dengan pria lain tanpa ada masalah berarti. Pandangan masyarakat terhadap seorang janda dan wanita yang masih lajang tentu akan berbeda."
Sangat masuk akal. Ia bahkan sudah berpikir sampai kesana. Namun, jika Gojou Yume memiliki perasaan yang sama seperti perasaan yang dimiliki oleh Nanami-kun, menurutku hal tersebut bukanlah sebuah penyelesaian. Hal tersebut sama sekali tidak menjamin kebahagiaannya…
"…Tapi dengan memberikan semua hal itu padanya setelah kematianmu, hal itu juga akan membuatnya tidak dapat melupakanmu. Benda-benda itu juga akan menjadi kutukan baginya dan mengikatnya. Tentu kau pasti tahu bahwa benda-benda peninggalan juga dapat membentuk energi kutukan…"
Kami berdua kembali terdiam. Yang manapun bukanlah pilihan yang baik…
Sambil menghela napas dengan sangat berat, Nanami-kun melipat kedua tangannya dan berkata, "Higuruma-san benar. Pada kenyataannya aku adalah seorang lelaki egois yang hanya ingin wanita yang kucintai selamanya mencintaiku dan tidak melupakanku."
Walau cahaya bar begitu redup, aku masih bisa melihat senyum tipis terhias di wajah Nanami-kun saat mengatakannya.
"…Baiklah. Aku terima permintaanmu. Tapi ingatlah Nanami-kun, kau harus tetap bertahan hidup."
Saat itu walaupun aku tidak bisa memahami keegoisan yang dimaksud oleh Nanami-kun, karena idealismeku aku tidak ingin menutup mata terhadap mereka berdua. Pada akhirnya aku menyetujui permintaan Nanami-kun dan secara formal menjadi pengacara hukumnya. Dan jika kemungkinan buruk yang tidak diinginkan itu terjadi, secara langsung aku juga akan menjadi pengacara hukum Gojou Yume.
Setelah pertemuan dengan Nanami-kun di malam itu. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan Nanami-kun karena setelah itu aku mendapat kasus pidana yang cukup sulit dan merepotkan. Komunikasi kami berikutnya dilakukan lewat email dan telepon. Dokumen-dokumen yang diperlukan dikirimkan lewat kurir pengiriman. Aku mengurus permintaan Nanami-kun sebagai sampingan dari pekerjaan utamaku sebagai seorang pengacara pembela umum kasus pidana. Aku tidak menceritakan tentang permintaan Nanami-kun pada Shimizu-kun, sehingga aku harus mengurus segala perizinan dan dokumennya sendirian. Alasannya karena Shimizu-kun adalah seorang Hijutsushi, aku tidak mau ia terlibat dalam masalah dunia Jujutsu. Walaupun Shimizu-kun kemungkinan besar akan percaya dengan cerita tentang dunia Jujutsu, tapi aku merasa sedikit merepotkan jika harus menjelaskannya dari awal.
Kupikir saat itu aku mungkin akan melupakan tentang permintaan Nanami-kun dan kemungkinan buruk itu tidak akan pernah terjadi mengingat Nanami-kun adalah seorang Jujutsushi tingkat 1 yang memiliki kemampuan sangat hebat.
Kupikir seperti itu…
Namun ternyata hari yang ditakutkan itu sungguh terjadi dan datang dengan lebih cepat.
…
Aku tidak tahu tentang terjadinya peristiwa itu hingga aku menonton berita di televisi pada pagi harinya. Stasiun TV nasional menayangkan dengan heboh tentang pengeboman dan aksi pembunuhan massal yang dilakukan oleh teroris di Shibuya yang terjadi pada malam Halloween tanggal 31 Oktober. Di layar televisi terpampang pemandangan mayat-mayat bertumpuk di stasiun Shibuya yang disensor dengan mozaik dan juga pemandangan dari atas yang memperlihatkan sebagian besar wilayah Dogenzaka yang sudah rata dengan tanah. Aku langsung terpaku di depan televisiku sambil tetap memegang remot televisiku. Sambil berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi, jariku bergerak sendiri menekan remot televisi untuk berpindah ke saluran yang lain. Semua saluran televisi itu bahkan saluran luar negeri pun memberitakan tentang Shibuya. Itu bukan tindakan teroris. Walau dari layar televisi aku dapat dengan jelas melihat Zan'e[14] yang sangat tebal menyelimuti wilayah-wilayah yang disorot di seluruh stasiun televisi. Seketika aku merasa mual. Jantungku pun berdegup sangat kencang. Aku tidak dapat menggambarkannya, yang jelas di dalam kepalaku hanya berisi pikiran-pikiran buruk yang mengerikan.
Aku segera menghubungi nomor ponsel Nanami-kun, namun yang menjawab adalah rekaman suara seorang operator wanita yang mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi atau sedang berada di luar jangkauan. Aku kemudian menghubungi seorang Mado kenalanku yang sering memberikan informasi kepadaku. Awalnya ia tidak mengangkat teleponku. Kecemasanku semakin bertambah. Aku menelponnya lagi dan kemudian ia mengangkatnya setelah dering kelima.
Ia bercerita bahwa semalam terjadi penyerangan besar-besaran di Shibuya yang dipimpin oleh Geto Suguru, kelompok Jusoshinya, dan juga beberapa Jurei tingkat tinggi yang tidak terdaftar. Awal penyerangan terjadi pada pukul 7 malam ditandai dengan munculnya Tobari[15] beradius 400 m dengan pusat di Tokyu Department Store cabang Toyoko. Karena aku menjalani persidangan dari pagi hingga sore hari, hari itu aku segera pulang dan sudah tiba di rumah pada pukul 6 malam sehingga aku tidak tahu sama sekali tentang apa yang sedang terjadi di Shibuya.
Ia kemudian mengatakan bahwa hingga pagi hari belum diketahui secara pasti siapa dan berapa banyak korban dari pihak Kousen karena banyak para Jujutsushi, asisten pengawas, dan bahkan Mado dari Kousen yang menghilang dan tidak bisa dihubungi. Aku pun kemudian menyebutkan nama lengkap Nanami-kun dan bertanya bagaimana tentang kondisinya. Ia pasti dikirimkan di garis terdepan. Walau hatiku berharap agar Nanami-kun selamat dan tetap hidup, namun pikiranku tidak mengizinkannya dan hanya memperlihatkan skenario-skenario terburuk yang dapat terjadi.
Mado yang kuhubungi tetap terdiam. Ia tidak bersuara hingga aku memanggil namanya lagi. Dengan suara yang tercekat dan pelan kemudian ia menyuarakan salah satu skenario terburuk yang ada di dalam kepalaku.
Di tengah kesunyianku karena terguncang, Mado itu melanjutkan ceritanya dengan suara yang diselingi dengan isak tangis. Ia mengatakan bahwa mendekati tengah malam sesaat sebelum Dogenzaka menjadi hancur lebur, di batas penjagaan yang dijaga oleh para asisten pengawas dan para Mado, muncul seorang wanita muda yang memaksa masuk ke dalam wilayah penyerangan. Wanita itu datang dari arah selatan Dogenzaka dan berkata ingin menuju stasiun Shibuya. Ia berhasil melewati penjagaan dan hampir masuk ke dalam wilayah ledakan di Dogenzaka. Namun sesaat sebelum ledakan, ia berhasil ditarik oleh seorang asisten pengawas dan hanya mengalami luka berat. Seorang asisten pengawas bernama Nitta mengenali wanita itu sebagai adik perempuan dari Gojou Satoru dan ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Saat kata-kata adik perempuan dari Gojou Satoru masuk ke dalam sistem pendengaranku, otakku langsung menayangkan Gojou Yume dengan senyum lebar yang ada di dalam foto yang ditunjukkan oleh Nanami-kun. Berkat itu aku menjadi tersadar dari rasa syokku. Aku segera menanyakan nama dan lokasi rumah sakit tempat Gojou Yume dirawat. Setelah menutup telepon aku segera berganti pakaian dan dengan tidak sadar langsung melajukan mobilku dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dengan menunjukkan lencana pengacaraku dan berkata bahwa aku adalah pengacara hukum dari Gojou Yume, pihak rumah sakit dengan mudah langsung memberikan nomor kamar tempatnya dirawat.
Kamar tempat Gojou Yume dirawat adalah kamar VIP yang berada di paling ujung lorong di lantai itu. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum aku mengetuk pintu kamar itu dan menggeser pintunya.
Walau ruangan kamar itu di cat berwarna putih bersih dan mendapat sinar matahari langsung yang baik dari jendela besar di samping tempat tidur nya. Aku bisa merasakan aura gelap membungkus Gojou Yume yang duduk bersandar pada bagian atas kasurnya yang dinaikan 45 derajat. Kepalanya yang dililit perban itu tertunduk lemas dan membuat beberapa helai rambut pendek di atas bahunya jatuh lembut di bagian samping wajahnya. Di bagian kanan pipinya juga tertempel kapas dengan plester luka. Dari bagian lengan atas hingga keseluruhan jari tangan bagian kanannya terbalut oleh perban. Sementara itu punggung tangan kirinya tersambung dengan selang infus. Walau aku masuk ke dalam ruangan dengan menimbulkan suara pintu digeser sangat jelas, ia tidak bergeming sama sekali. Setelah aku perlahan berjalan menghampirinya, aku dapat melihat dari kedua bola matanya mengalir air mata tanpa suara. Ia terlihat seperti boneka yang tak bernyawa. Sungguh berbeda dengan sosok yang ada di dalam foto yang ditunjukkan oleh Nanami-kun.
Agar tidak mengagetkannya aku berusaha duduk dengan perlahan di kursi yang disediakan di samping kasurnya. Ia tetap menunduk dan tidak menghiraukan kehadiranku.
"Selamat pagi Gojou-san. Namaku adalah Higuruma Hiromi. Aku tidak tahu apakah Nanami-kun sudah menceritakan tentangku padamu atau belum, tapi aku adalah pengacara hukum Nanami-kun. Walau pekerjaanku sekarang seperti ini, sama sepertimu aku juga seorang lulusan dari Kousen."
Walau aku sudah cukup panjang berbicara dengan jarak sedekat itu dengannya, ia tetap tidak meresponku. Kepalanya bahkan tidak terangkat sedikit pun. Ia hanya terdiam sambil terus-menerus mengalirkan air mata.
Perawat yang datang ke kemar mengatakan padaku bahwa pagi-pagi sekali sekitar jam 6 pagi, seorang wanita berpakaian setelan jas hitam dan seorang wanita berambut panjang datang mengunjungi. Kedua orang itu mengaku sebagai teman dari Gojou Yume. Setengah jam kemudian saat perawat shift malam datang untuk memeriksa kondisi rutin di pagi hari, kedua orang tersebut sudah tidak ada di dalam kamar meninggalkan Gojou Yume yang menangis sesenggukan di dalam kamar.
Meskipun para perawat sudah berusaha bertanya dengan banyak cara, Gojou Yume hanya tetap menangis dan tidak menjawab apapun. Kemudian mungkin karena ia sudah lelah akibat menangis berjam-jam, kini Gojou Yume hanya mengalirkan air matanya dalam diam dengan kepala yang tertunduk lemas seperti boneka yang kehabisan baterai energi.
Walaupun aku tidak tahu siapa wanita berambut panjang yang datang itu, kemungkinan besar wanita berpakaian setelan jas hitam adalah seorang asisten pengawas. Karena Nanami-kun mengatakan padaku bahwa ia tidak memberitahukan pada keluarganya tentang pekerjaannya sebagai seorang Jujutsushi ataupun tentang hubungannya dengan seorang putri dari 3 keluarga besar penguasa dunia Jujutsu, tidak mungkin wanita berambut panjang itu berasal dari pihak Nanami-kun. Dan karena Gojou Yume juga sudah memutus hubungan dengan keluarganya, wanita berambut panjang itu juga tidak mungkin berasal dari keluarga Gojou. Kemungkinan besar wanita berambut panjang itu adalah orang dari Kousen. Yang berarti kedatangan mereka berdua adalah memberitahukan tentang kematian Nanami-kun sehingga membuat Gojou Yume terus menangis tanpa henti.
Keesokan harinya aku menyelesaikan semua pekerjaanku pada hari itu dengan cepat dan menyerahkan sisanya kepada Shimizu-kun. Seperti biasa walaupun ia mengeluh Shimizu-kun tidak menanyakan apapun.
Gojou Yume sudah berhenti menangis. Namun ia tetap menundukkan kepalanya dan tidak merespon apapun yang kukatakan.
"Selamat sore Gojou-san."
"Bagaimana kondisimu hari ini?"
"Apa menu makan siang hari ini?"
"Shimizu-kun memarahiku karena aku mengambil kasus sulit lagi."
"Di luar anginnya sudah mulai terasa dingin ya."
Aku datang mengunjunginya setiap hari. Ketika hari libur aku akan datang dari pagi hari hingga malam hari ia tertidur. Ketika hari kerja aku akan datang di sore hari. Salah satu perawat pada awalnya mengira bahwa aku adalah suami atau kekasihnya. Tapi aku langsung membantahnya dengan mengatakan bahwa aku hanya seorang teman. Aku tidak tahu bagaimana gosip di antara para perawat itu bisa beredar, tapi aku tidak punya energi dan keinginan untuk meralatnya.
Setiap hari aku selalu berusaha untuk menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Atau jika pekerjaanku tidak selesai ketika sore hari sudah tiba, aku akan membawa pekerjaan itu dan mengerjakannya pada malam hari setelah aku pulang dari tempat Gojou Yume dirawat. Setelah sekitar selama 2 minggu aku melakukan rutinitas tersebut, Shimizu-kun akhirnya sadar. Dengan dahinya yang sangat mengernyit ia berkata, "Higuruma-san… Kantung hitam di bawah matamu semakin besar lho."
"Begitukah?" jawabku asal sambil tetap tanganku bergerak untuk membubuhkan cap namaku pada dokumen-dokumen penting yang banyak berserakan di atas mejaku.
"Bukan begitukah! Apa yang akhir-akhir ini sedang Anda kerjakan? Anda selalu terlihat tidak tenang dan pulang tergesa-gesa, kuyakin saat malam pun Anda pasti kurang tidur kan? Pasti Anda mengambil kasus yang merepotkan lagi deh! Anda selalu seperti itu. Cepat ceritakan padaku kasus pidana merepotkan apalagi yang sudah Anda ambil? Aku akan membantu Anda."
"Tidak ada."
"Tidak ada? Apa Anda sedang bercanda?"
"Apakah ekspresi wajahku terlihat seperti sedang bercanda padamu?"
"…Tidak... Lalu kalau tidak ada, mengapa Anda seperti ini?"
Tanganku berhenti bergerak. Aku sedikit merasa ragu. Apakah aku harus menceritakan yang sesungguhnya pada Shimizu-kun.
"…Adikku. Adikku dirawat di rumah sakit," ujarku pelan. Aku sendiri kaget pada kebohongan yang telah keluar dari mulutku sendiri.
Shimizu-kun terperanjat kaget, "Eh?! Mengapa Anda tidak bilang padaku! Tunggu sebentar… Anda punya adik?"
Aku tidak berharap untuk menjelaskannya lebih jauh. Tapi kalau tidak kujawab, Shimizu-kun pasti akan terus bertanya, "…Ya, ada. Maaf tidak pernah menceritakannya padamu."
"Begitu rupanya… Jadi Anda pulang cepat karena mengunjungi adik Anda di rumah sakit? Apakah ia sedang sakit parah?"
"…Begitulah."
"…Hhh… Baiklah. Aku juga akan membantu sebisaku. Kalau Anda butuh penjaga untuk adik Anda, aku juga bisa datang menggantikan Anda lho!"
"Terima kasih Shimizu-kun. Aku sangat terbantu."
Maaf Shimizu-kun karena telah berbohong padamu. Walau pastinya Shimizu-kun tidak akan tahu tentang nama keluarga Gojou, aku tidak mau mengambil resiko dengan menceritakan yang sebenarnya. Dunia Jujutsu saat ini sedang goyah. Penyerangan di Shibuya beberapa waktu lalu ternyata dilakukan untuk menyegel Jujutsushi terhebat saat ini yaitu Gojou Satoru. Dan itu berhasil dilakukan oleh Geto Suguru. Walau aku tidak tahu tujuan sebenarnya dilakukan penyegelan itu, yang kutahu pasti, dengan telah tersegelnya Gojou Satoru maka keseimbangan dunia sedang terancam. Kejadian yang lebih mengerikan dari apa yang telah terjadi di Shibuya akan dapat terjadi kapan saja. Ditambah dengan informasi bahwa seluruh keluarga Zenin, yang juga merupakan salah satu dari 3 keluarga besar penguasa dunia Jujutsu, telah dibunuh oleh salah seorang seorang anggota keluarganya sendiri. Dengan hancurnya 2 keluarga besar, pasti keluarga-keluarga lain sedang berusaha untuk mengambil posisi yang kosong itu. Jika mereka tahu bahwa masih ada seorang anggota keluarga Gojou yang masih hidup, mereka pasti akan menyerang dan membunuh Gojou Yume untuk benar-benar melenyapkan keluarga Gojou. Hal itu akan mudah dilakukan mengingat Gojou Yume bukan seorang Jujutsushi dan sedang dalam kondisi seperti itu.
"Higuruma-san!"
Tiba-tiba saja suara teriakan Shimizu-kun yang sangat memekakkan telinga, menyadarkanku kembali dari alam pikiranku.
"Mengapa kau tiba-tiba berteriak Shimizu-kun?"
"Ponselmu! Daritadi ponselmu berdering dan aku sudah memanggil-manggil namamu tapi kau tidak merespon!"
Layar ponselku menunjukkan panggilan masuk dari Rumah Sakit Pusat Ohashi Universitas Toho. Rumah sakit yang hanya berjarak 2 km dari Dogenzaka. Rumah sakit tempat Gojou Yume dirawat. Tanpa menunggu nada dering yang berikutnya aku langsung mengangkatnya.
Setelah menutup panggilan telepon, tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu pada Shimizu-kun yang berwajah khawatir, aku langsung berlari keluar ruangan menuju tempat parkir untuk mengendarai mobilku. Yang barusan menelpon adalah kepala perawat di bangsal tempat Gojou Yume dirawat. Ia berkata bahwa Gojou Yume saat ini sedang histeris dan memegang benda tajam. Karena ia selalu diam saja, aku tidak pernah terpikirkan untuk menyembunyikan pisau buah yang kuletakkan begitu saja di atas meja. Dan sekarang aku menyesalinya sambil menginjak pedal gas mobilku dalam-dalam.
Saat aku sampai di kamar Gojou Yume beberapa perawat sudah ada di dalam kamar dan sedang berusaha membujuk Gojou Yume untuk memberikan pisau buah yang sedang dipegangnya. Ia berdiri di dekat jendela besar yang terbuka. Tangan kanannya yang memegang pisau buah terancung ke depan. Dari pergelangan tangan kirinya mengalir darah berwarna merah yang juga telah menodai pakaian rumah sakitnya yang berwarna putih. Tubuhnya sedikit gemetar. Walau matanya membelalak dengan tajam, namun yang terlihat olehku dari kedua iris matanya yang berwarna biru terang itu hanyalah kegelapan dan kehampaan. Sudah tidak ada lagi cahaya di sana. Sama seperti mataku.
Dengan perlahan aku melangkahkan kakiku untuk masuk di antara mereka dan berdiri di depan para perawat. Aku bisa melihat bagian pipi Gojou Yume sedikit berkedut bereaksi pada kemunculanku.
"Hi, Higuruma-san! Apa yang—" seru salah seorang perawat saat aku berdiri di hadapannya, yang kemudian perkataannya tidak ia selesaikan karena melihat tangan kananku yang terangkat, "Tolong semua keluar dari ruangan ini," ujarku dengan tenang.
Walau semua perawat sudah keluar dari ruangan, Gojou Yume belum juga menunjukkan gelagat akan meletakkan pisau dapur yang sedang dipegangnya. Jika aku berkata sembarangan atau bertindak gegabah, ia pasti tanpa segan akan langsung menusukkan pisau itu ke tubuhnya. Atau melompat terjun melalui jendela yang terbuka lebar itu. Ia tidak akan ragu karena sudah tidak ada lagi yang mengikatnya di dunia ini. Keluarganya, kakaknya, bahkan kekasihnya sudah tidak ada…
"…Aku… Aku tidak ingin meninggalkan kutukan padanya… Aku ingin Yume terus bahagia walaupun aku sudah tiada…"
Kata-kata Nanami-kun di malam itu kembali terngiang di dalam kepalaku. Aku menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengeluarkan benda dari saku bagian dalam jasku.
Aku bersimpuh dan meletakkan kedua benda itu di lantai bawah di hadapannya. Sambil tetap mempertahankan posisiku, aku pun mulai berbicara, "Selamat siang Gojou-san. Karena aku tidak tahu apakah kau mendengarkan perkataanku sebelumnya atau tidak, aku akan memperkenalkan diriku lagi. Namaku Higuruma Hiromi. Aku adalah pengacara hukum Nanami-kun. 10 tahun lalu aku pernah beberapa kali memberi pelajaran hukum sebagai guru tamu di Kousen dan mengajar kelas Nanami-kun. Kami saling mengenal sejak itu. Di awal tahun ini, Nanami-kun secara formal memintaku menjadi pengacara hukumnya untuk mengurus tentang legalitas pemindah kuasaan harta padamu setelah ia tiada. Nanami-kun juga menitipkan surat dan kotak ini padaku. Oleh karena itu, aku punya kewajiban untuk menjagamu hingga aku menyelesaikan semua pekerjaan yang diserahkan Nanami-kun padaku. Jika kau pikir aku berbohong, kau bisa membaca surat ini. Tentu saja kau pasti akan lebih mengenal tulisan tangan Nanami-kun daripada diriku."
Kedua tatapan mata hampa kami saling berpandangan. Walau kuyakin hanya ada kegelapan di kedua mataku, aku berusaha dengan sungguh-sungguh menatapnya dan meyakinkannya.
"Na…nami-san…" ucapnya dengan suara sangat pelan yang hampir tidak terdengar. Ia kemudian menjatuhkan pisau dapurnya dan berjalan mendekatiku. Ia jatuh terduduk. Dengan tangan yang bergetar ia segera membuka amplop surat yang sudah kupisahkan dan hanya menyisakan surat pribadi Nanami-kun untuk Gojou Yume. Tentu saja aku tidak membaca isi surat itu.
Surat itu terdiri dari 3 lembar surat. Aku tetap bersimpuh dalam diam di hadapan Gojou Yume sambil menunggu ia selesai membaca seluruh isi surat itu.
Setelah selesai membaca seluruh isi surat, ia pun mengambil kotak cincin dan membukanya. Sesaat Gojou Yume membuka kotak cincin itu, air mata seketika mengalir dengan sangat deras dari kedua bola matanya. Tangisannya semakin kencang diselingi dengan senggukan yang memilukan hatiku. Berkali-kali ia juga memanggil-manggil nama Nanami-kun. Sambil tetap menangis dan memejamkan kedua matanya, ia memeluk surat dan kotak cincin itu di dalam dadanya erat-erat.
Aku melepas dasi yang melingkar longgar di leherku dan menyentuh tangan kiri Gojou Yume dengan lembut seolah-olah itu adalah benda yang sangat rapuh. Gojou Yume tidak menolakku dan hanya terus menangis. Kulihat luka sayatannya, syukurlah lukanya tidak dalam. Aku pun melilitkan dasiku ke pergelangan tangan kirinya untuk menghentikan pendarahan. Tanpa sadar kugenggam erat tangannya yang tidak berhenti gemetar itu. Aku sedikit terkejut karena ia balas merespon dengan menggenggam balik tanganku yang sedang menggenggam tangannya. Seketika itu juga aku merasakan sakit teramat sangat di dalam hatiku. Rasanya seperti hatiku sedang disayat-sayat. Dengan tangan kananku yang bebas aku pun memeluknya dan membenamkan wajahnya ke dalam dadaku.
Sekitar setengah jam setelah itu, mungkin karena kecapekan menangis, Yume tertidur di dalam pelukanku. Aku mengangkat tubuhnya dan meletakkannya dengan lembut di atas kasur. Setelah aku menekan tombol pemanggil, para perawat pun masuk ke dalam kamar dan mulai membalut pergelangan tangan kiri Yume, memasang infus, dan menyuntikkan obat penenang. Salah seorang perawat berkata, "Untung saja Higuruma-san segera datang. Kami sangat kaget karena tiba-tiba saja mendengar suara teriakan kencang dari dalam kamar Gojou-san. Padahal biasanya ia sangat tenang, kami tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu."
Aku juga tidak tahu. Tapi entah mengapa aku merasa aku mungkin tahu alasannya. Perasaan menyesakkan miliknya ketika aku memeluknya seolah ikut masuk meresap ke dalam diriku. Sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa kembali. Tidak. Sebenarnya sudah sejak awal. Sejak aku melihat sosoknya di dalam foto yang ditunjukkan oleh Nanami-kun, aku sudah tidak bisa menutup mataku lagi terhadapnya. Bukan karena alasan keadilan ataupun idealismeku.
Dari lubuk hatiku yang terdalam… Aku sungguh-sungguh ingin melindunginya. Aku ingin menyelamatkannya.
Surat dan kotak cincin kuletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Sambil memandang wajah tertidurnya yang terlihat damai, aku menggenggam erat tangan kanan Yume dengan kedua tanganku.
…
Setelah kejadian itu, setiap hari aku tetap berkunjung menemui Yume. Walau luka-luka di tubuhnya perlahan sembuh hingga perbannya dilepas, ia masih tetap tidak mau berbicara dan mengeluarkan suaranya. Namun… Ia mulai memandang ke arahku dan merespon perkataanku.
"Apa kau sudah makan obat mualnya? Pagi ini kudengar dari perawat kambuh parah lagi kan."
Ia mengangguk pelan.
"Walau Shimizu-kun berpikir pelakunya memang benar kekasih gelap korban. Tapi aku tidak bisa membiarkan begitu saja kejanggalan yang dilakukan oleh si suami. Menurut firasatku, si suamilah pelakunya. Bagaimana menurutmu? Apakah kau berpikir pelakunya adalah kekasih gelap korban?"
Ia sedikit menelengkan kepalanya dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Di luar dingin sekali, padahal saljunya sudah berhenti turun. Selamat natal Yume-san. Aku membawa kue natal. Bukan, aku tidak membelinya. Ini hadiah dari Shimizu-kun untukmu. Katanya, 'Pasti bosan kan melewati malam natal di rumah sakit. Setidaknya makanlah kue yang enak'. Apa kau mau memakannya?"
Ia menganggukkan kepalanya dan memakan habis kue yang kupotongkan untuknya. Sisa kuenya kemudian kuberikan pada para perawat yang disambut dengan sangat senang oleh mereka.
"Selamat tahun baru Yume-san. Temanku sesama pengacara ada yang baru saja pulang kampung dari Sendai dan membawa ini sebagai oleh-oleh. Apakah kau mau mencobanya? Ini Kikufuku[16]."
Ia menganggukkan kepalanya dengan sedikit bersemangat. Kurasa itu artinya ia menyukai Kikufuku. Informasi itu langsung berada dalam memori jangka panjangku.
Setelah beberapa waktu, walau masih dengan kata-kata yang singkat, ia mulai merespon perkataanku. Suaranya yang sangat pelan terdengar sangat jernih bagaikan riak air yang tenang bagi sistem pendengaranku. Ekspresi wajahnya pun perlahan membaik. Ia mulai bisa menunjukkan senyumnya. Walau senyum itu sangat tipis sekali, bagiku itu sudah cukup. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan menari-nari di dalam rongga dadaku. Tidak heran Nanami-kun yang selalu berekspresi muram pun dapat dibuat tersenyum tipis oleh keberadaannya.
"Higuruma-san… Apakah kau akhirnya mendapat kekasih?", suatu hari, di hari yang cukup cerah dan tidak berawan, Shimizu-kun mengeluarkan pertanyaan yang cukup aneh bagiku.
"...Shimizu-kun, apakah kau sedang menghinaku?"
Shimizu-kun berkata bahwa ia merasakan ekspresi wajahku akhir-akhir ini menjadi lebih tenang dan cerah. Walau aku masih menjaga adikku yang sedang sakit parah di rumah sakit (aku belum menceritakan yang sejujurnya pada Shimizu-kun) tapi pekerjaanku selesai tepat waktu dan bahkan aku dapat membuktikan terdakwa kasus sulit yang kutangani tidak bersalah hanya pada persidangan pertama. Aku sendiri tidak sadar dengan perubahan yang terjadi pada diriku sampai Shimizu-kun mengatakannya padaku.
Walau aku tidak menyadari perubahan sikapku tapi aku tahu dengan pasti penyebabnya. Gojou Yume. Waktu-waktu bersamanya kini bagiku menjadi waktu yang paling berharga. Terasa sangat damai dan menenangkan. Aku seperti tidak ingin waktu untuk bergerak. Perlahan tapi pasti, setitik cahaya itu telah masuk ke dalam ruang kehampaan serta kegelapan yang ada di dalam diriku dan menyinarinya. Tanpa disadari arti keberadaannya telah menjadi begitu besar di dalam diriku. Akhirnya aku pun memahami semua perkataan dan tindakan Nanami-kun saat itu. Jika aku berada di posisi yang sama dengan Nanami-kun, tanpa diragukan lagi aku pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Saat sekitar akhir musim dingin, akhirnya Yume diperbolehkan untuk keluar rumah sakit dan pulang ke rumah. Rumah tempat tinggalnya dengan Nanami-kun. Sebuah ruangan 2LDK[17] yang terletak di lantai 7 sebuah mansion berlantai 12. Mansion tersebut tidak berlokasi di kawasan elit, namun terletak agak di pinggir kota. Walau terletak di pinggir kota, kawasan sekitarnya sangat rapi terawat dan dikelilingi dengan banyak pepohonan teduh. Sejak Yume dirawat di rumah sakit, setiap 2 minggu sekali aku pasti mengunjunginya untuk bersih-bersih. Tentu saja aku sudah mendapat izin dan kunci cadangan dari Nanami-kun -tertulis di surat perjanjian kerjasama-.
Saat kedatangan pertamaku ke kamar itu, keadaan televisi masih menyala, dan makan malam yang sama sekali tak tersentuh telah dingin di atas meja makan mereka. Selain kedua hal itu, kamar mereka sangat rapi. Satu kamar berisi kasur berukuran queen size [18] dengan dua lemari kecil di sisinya, dan satu lemari pakaian yang cukup besar. Satu kamar lagi sepertinya mereka jadikan untuk ruang kerja karena terdapat meja kerja cukup besar yang diatasnya terdapat laptop dan ipad. Juga terdapat rak-rak berisi banyak koleksi buku. Jika dilihat dari judul dan penulisnya, paling banyak adalah novel-novel misteri, buku sejarah non fiksi, sastra klasik, dan juga… buku-buku komik. Kurasa buku-buku komik pasti adalah milik Yume, karena aku sama sekali tidak bisa membayangkan Nanami-kun membaca buku komik. Di sisi rak paling pinggir juga terdapat banyak buku bertumpuk yang masih terbungkus rapi dengan plastik.
Di samping televisi ada meja berukuran medium yang diatasnya terpajang banyak pigura berisi foto-foto Nanami-kun berdua dengan Yume. Foto dengan latar belakang Disneyland, barbekyu di pinggir sungai, sedang bermain bersama dan memegang konsol game di depan televisi, di sebuah cafe, di Kiyomizudera[19], di sebuah taman dengan banyak pohon sakura, bahkan ada juga foto di depan istana Amalienborg yang kukenali sebagai istana yang terletak di Denmark. Aku tidak pernah menyangka bahwa mereka bahkan sudah sampai bepergian ke luar negeri berdua. Walau di sebagian besar foto, Nanami-kun selalu berwajah datar dan hanya sedikit tersenyum -bertolak belakang dengan foto Yume yang selalu tersenyum lebar-, namun aku dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari kumpulan foto-foto itu.
Aku merasa sedikit takut. Karena ruangan itu benar-benar dipenuhi dengan kenangan mereka berdua. Apakah saat kembali masuk ke ruangan itu ia akan kembali histeris? Apalagi jika ia melihat kotsutsubo[20] Nanami-kun yang sudah kuletakkan di meja ruang tamu mereka sejak 2 bulan yang lalu.
Dua bulan yang lalu, saat Yume sudah tertidur, dua orang dari Kousen datang mengunjungi. Saat itu aku baru akan siap-siap untuk pulang jadi aku masih ada di kamar Yume. Kali itu datang seorang laki-laki kurus dengan setelan jas hitam dan juga seorang wanita berambut panjang. Berdasarkan keterangan seorang perawat, wanita berambut panjang itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang mengunjungi Yume pada hari pertama ia dirawat.
Sesaat setelah melihatnya, aku langsung mengenali wajah si wanita berambut panjang. Walau sudah berambut panjang, namun wajah suramnya tidak berubah. Justru malah semakin suram. Ieri Shoko, teman seangkatan Gojou Satoru. Sementara itu, laki-laki kurus yang berdiri gugup di belakang Ieri-kun memperkenalkan diri sebagai seorang asisten pengawas dari Kousen bernama Ijichi Kiyotaka.
Rupanya Ieri-kun juga tidak melupakan wajahku dan segera mengenaliku. Awalnya ia bingung mengapa aku bisa ada di kamar Yume, namun setelah aku menjelaskan semuanya, bahkan tentang hubungan yang terjalin antara Nanami-kun dan Yume, Ieri-kun tidak terkejut dan hanya berkomentar, "Begitu rupanya… Entah bagaimana aku merasa kedua orang itu memang cocok."
"EHHHHHH?! NA, NA, NANAMI-SAN DENGAN YUME-SAN?! SEJAK KAPAN?! EHHHHH?!"
Yang sangat terkejut justru adalah asisten pengawas yang berdiri dengan takut-takut di belakang Ieri-kun.
"Berisik Ijichi-kun! Kau bisa membangunkan Yume-chan!" seru Ieri-kun sambil menginjak kaki Ijichi dengan sepatu haknya. Padahal rasanya pasti sakit, tapi Ijichi tidak terlihat kesakitan dan malah berwajah pundung, "Maafkan aku Ieri-san…"
"Tapi Nanami-kun mengatakan padaku bahwa ia tidak akrab dengan Gojou-san saat di Kousen dan bahkan sedikit membencinya."
"Ah~ Itu ya… Hmm… Bagaimana menjelaskannya ya… Karena Yume-chan berasal dari keluarga Gojou, awalnya Nanami mengira Yume-chan anak manja dengan kekuatan yang sama hebatnya dengan Satoru. Tapi seperti yang kau tahu, jangankan Soden Jutsushiki Rikugan[21] milik keluarga Gojou, Shotoku Jutsushiki pun ia tidak memilikinya. Walau begitu Yume-chan tetap berusaha sekuat tenaga dalam setiap misinya. Aku pernah tidak sengaja memergoki Nanami yang sedang memandang ke arah Yume-chan yang sedang diam-diam melatih Juryokunya. Aku tidak bisa mendeskripsikannya secara tepat. Yang jelas mungkin sejak saat itu pandangan Nanami terhadap Yume-chan telah berubah dan merubah perasaannya padanya."
"EH?! Kapan ada kejadian seperti itu?!"
"Kubilang berisik Ijichi-kun!"
"Maafkan aku!"
"Yah… Aku juga tidak tahu pastinya bagaimana karena setelah lulus dari Kousen, Yume-chan melarikan diri dari keluarga Gojou dan Satoru pun tidak menceritakan apapun padaku setelah itu. Ia selalu mengalihkan pembicaraan jika aku menanyakan kabar Yume-chan. Tapi kuyakin Satoru pasti tahu tentang hubungan mereka berdua. Walaupun terlihat seperti itu kurasa Satoru dan Nanami cukup akrab."
"Dari mananya?"
"Jangan sedikit-sedikit komentar Ijichi-kun!"
"Maafkan aku!"
"...Lalu, kalian berdua datang ke sini untuk latihan manzai[22]?", walau aku tidak punya maksud jahat mengatakannya, saat mendengar komentarku Ijichi terlihat sedikit bergidik. Sedangkan Ieri-kun terlihat biasa saja dan malah menepuk tangannya, "Ah! Benar juga! Tujuan kami kesini… Ijichi-kun, tolong ambilkan kotak itu."
Ijichi segera berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa. Tidak butuh waktu lama bagi Ijichi untuk kembali masuk dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang yang diselimuti dengan kain furoshiki[23] berwarna biru tua bermotif timbul.
Kotak tersebut adalah kotsutsubo berisi tulang dan abu Nanami-kun. Mereka bisa mengumpulkan jasad Nanami-kun dan mengkremasinya berdasarkan keterangan dari salah satu murid Kousen yang menjadi saksi saat terakhirnya Nanami-kun.
"Awalnya aku datang kemari hanya untuk melihat kondisi Yume-chan. Aku ingin meminta maaf padanya karena hingga saat ini kami belum bisa mengeluarkan Satoru dari Gokumonkyou[24]. Setelah itu kami berencana untuk mengunjungi rumah orang tua Nanami untuk menyerahkan kotsutsubo Nanami. Butuh waktu cukup lama bagi kami untuk menemukan rumah orang tua Nanami karena Nanami memang merahasiakan pekerjaannya sebagai seorang Jujutsushi pada keluarganya. Tapi setelah mendengar cerita Higuruma-san… Kurasa Nanami pasti akan merasa lebih senang jika bersama dengan Yume-chan bukan? Aku akan menyerahkan kotsutsubo ini pada Higuruma-san, tolong serahkan pada Yume-chan jika waktunya sudah tepat. Aku akan mencari suatu cara lain untuk memberitahukan tentang kematian Nanami pada keluarganya."
Setelah itu aku menerima kotsutsubo itu dari Ieri-kun dan meletakkannya di rumah mereka.
Aku mengantarkan Yume pulang ke rumah. Sebelumnya Yume mengatakan padaku bahwa ia hanya akan menyimpan surat dan cincin dari Nanami-kun, selain itu ia tidak akan menerima apapun. Namun wasiat dari Nanami-kun adalah menyerahkan semua harta miliknya pada Gojou Yume. Walau aku bersikeras. Tapi Yume sama keras kepalanya. Ia tetap tidak mau menerima semua harta itu dengan alasan bahwa itu bukanlah miliknya. Walau aku menjelaskan padanya dengan proses legalitas yang benar semua harta itu akan bisa menjadi miliknya tapi pendiriannya tetap kokoh.
Pada akhirnya, semua harta Nanami akan diberikan kepada Kousen dan aku akan mengurus proses pemindah kuasaan harta itu dengan Ijichi sebagai perwakilan dari pihak Kousen.
"Tidak apa-apa. Tenang saja Higuruma-san. Begini-begini aku juga punya banyak tabungan kok."
Aku percaya itu. Hanya saja rasanya aku seperti mengkhianati janjiku dengan Nanami-kun. Mengapa pada saat itu aku tidak memikirkan kemungkinan bahwa ia akan menolaknya?
Saat sampai di depan pintu rumahnya, Yume menarik napasnya dalam-dalam.
"Mau aku yang bukakan?" ujarku khawatir, tapi ia menggeleng dan membalasku dengan senyuman tipisnya, "Tidak apa-apa. Aku sudah baik-baik saja."
Tentu saja aku tidak percaya dengan kata-katanya. Shimizu-kun pernah mengatakan padaku, "Jangan mudah percaya dengan wanita yang tersenyum tipis dan berkata bahwa ia sedang baik-baik saja, itu artinya ia sedang dalam kondisi yang tidak baik!"
Ia membuka pintu depan dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat berdiri di genkan ia berkata pelan, "Tadaima[25]." Namun tentu saja yang menjawabnya hanyalah keheningan. Setelah menyalakan saklar lampu di dinding, seolah-olah ia tahu bahwa Nanami-kun sedang menunggunya, ia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu tempat kotsutsubo Nanami-kun berada. Aku berjalan di belakangnya dengan ekspresi cemas yang terlukiskan jelas di wajahku.
Tiba-tiba saja Yume menghentikan langkah kakinya tepat di ambang pintu masuk ruang tamu. Walau aku berdiri di belakangnya, aku bisa melihat arah pandangannya tertuju pada kotsutsubo Nanami-kun. Sementara itu, pandanganku langsung kuarahkan ke arah dapur yang ada di samping ruang tamu itu. Aku sudah bersiap untuk menahannya jika ia menjadi histeris dan berlari menuju dapur untuk mengambil pisau.
Namun Yume tidak histeris. Ia berjalan perlahan menuju kotsutsubo dan kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan meja tempat kotsutsubo itu diletakkan. Ia lalu mengangkat kotsutsubo yang terbuat dari keramik itu ke dalam pelukannya dan berkata dengan suara yang sangat lembut, "Okaerinasai[26] Nanami-san."
Cukup lama Yume memeluk kotsutsubo Nanami-kun. Aku bisa dengan jelas melihat bahunya yang bergetar karena menahan suara tangisannya agar tidak terdengar olehku. Hatiku bergemuruh saat melihatnya. Rasanya seperti dicabik-cabik tanpa ampun. Begitu sesak. Saat ini juga aku ingin merengkuhnya. Aku ingin menghapus segala penderitaan dan kesedihan yang ia rasakan. Bahkan jika aku bisa melakukannya aku akan memutarbalikkan kenyataan ini dengan mimpi yang ia inginkan. Dan akan ku korbankan semua yang kumiliki.
Namun… Aku tidak bisa melakukan semua itu. Tugasku sudah selesai. Aku tidak punya kuasa untuk melangkah lebih jauh dalam kehidupannya lebih dari ini. Walau aku bisa saja menutup mataku seperti manusia-manusia egois itu. Tapi hal itu akan bertentangan dengan idealismeku dan juga akan menjadi sebuah pengkhianatan bagi Nanami-kun.
Tidak…
Terlalu sombong untuk berpikir seperti itu. Aku hanyalah… Aku hanya tidak punya keberanian. Karena aku tahu, sampai kapanpun ia tidak akan mungkin melihatku. Sosok orang yang telah tiada tidak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup dan akan selalu mendapat tempat istimewa di hati orang yang ia tinggalkan. Dan karena itu aku yakin, sampai kapanpun ia hanya akan terus mencintai seorang Nanami Kento.
…
Setelah membantu Yume membereskan barang-barangnya dan mengosongkan ruangannya, aku beberapa kali datang ke Kousen untuk mengurus pemindah kuasaan harta Nanami-kun. Karena hal tersebut sedikit merepotkan ditambah dengan pekerjaan utamaku, aku jadi tidak punya waktu untuk berinteraksi dengan Yume dan kemudian menjadi hilang kontak dengannya.
Ia sudah tidak lagi menggunakan nomor ponselnya yang kutahu. Aku tidak tahu alamat emailnya, begitu pun dengan apartemen barunya. Saat aku bertanya pada Ieri-kun pun ia sama sekali tidak tahu, karena ia berpikir setelah itu Yume akan tinggal bersamaku. Aku tidak tahu bagaimana bisa Ieri-kun berpikir seperti itu karena ia hanya menjawab dengan kata-kata yang samar, "Entahlah… Mungkin karena aku merasa aura Higuruma-san mirip dengan Nanami."
Waktu pun berlalu dan aku masih tidak mengetahui dimana keberadaan Yume. Aku bahkan sampai meminta tolong pada seorang polisi kenalanku. Namun hasilnya nihil.
Saat musim panas tiba, aku mendapat sebuah kasus yang mengharuskan aku dan Shimizu-kun mengunjungi kampung halaman keluarga terdakwa di suatu desa pedalaman di Sendai. Seperti biasa, di sepanjang perjalanan Shimizu-kun selalu mengeluh.
"Aku bersumpah Higuruma-san! Ini adalah terakhir kalinya! Untuk yang berikutnya aku pasti akan mencegahmu untuk sembarangan mengambil kasus!" serunya dengan suara lantang seperti orang mabuk mengalahkan suara tonggeret yang sama berisiknya.
"Shimizu-kun, dari awal perjalanan hingga sekarang, kau sudah mengatakan itu sebanyak 30 kali."
"Eh?! Anda menghitungnya?!"
"Ada konbini[27]. Bagaimana kalau kita istirahat dulu di sana? Siapa tahu karyawan di sana mengetahui alamat yang kita cari."
"Geh, Anda mengalihkan pembicaraan."
Setelah mengambil 2 botol minuman dingin aku segera berjalan ke kasir. Setelah melakukan pembayaran aku bertanya tentang alamat yang akan kami tuju pada si penjaga kasir. Walau perawakannya terlihat tua, si penjaga kasir sepertinya masih seorang pelajar karena ia menjawab pertanyaanku dengan bahasa informal dicampur dengan bahasa gaul yang sedikit membuatku kesal di tengah cuaca panas ini.
Tiba-tiba saja terdengar suara barang terjatuh ke lantai. Bersamaan dengan suara itu, aku mendengar suara Shimizu-kun dengan nada penuh penyesalan meminta maaf, "Ahhhh! Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf! Aku tidak sengaja melakukannya, biar kubantu!"
Aku menghela napas berat.
Aku sudah tidak punya energi untuk memberikan komentar atas ulah Shimizu-kun yang baru saja ia lakukan. Aku kemudian membalikkan tubuhku untuk menghampiri Shimizu-kun.
"Hhh… Di tengah cuaca seperti ini apa yang kau laku–"
Kata-kataku terhenti saat aku melihat wajah itu ada di hadapanku.
Di hadapan Shimizu-kun berdiri seorang wanita dengan rambut pendek di atas bahu. Pantulan sinar matahari yang terik membuat rambut berwarna hitamnya terlihat sedikit berkilauan. Mata indah dengan iris berwarna biru terang miliknya itu menatap Shimizu-kun dengan khawatir, "Tidak apa-apa. Aku juga salah karena tidak melihat."
Aku sangat mengenal wajah dan suara itu karena sudah berbulan-bulan wajah dan suara yang lembut itu selalu menghantui hari-hariku.
Seketika aku kembali teringat dengan perkataan Ibuku. Akhirnya aku merasakannya juga. Jadi inilah yang dinamakan takdir.
"Tidak! Jelas aku yang salah! Aku tidak hati-hati padahal ada ibu hamil di hadapanku!"
Kata-kata Shimizu-kun berikutnya membuatku terkesiap. Aku langsung mengarahkan pandanganku ke arah perutnya. Perutnya menjadi sangat begitu besar. Aku tahu itu bukan penyakit. Karena aku bisa merasakan Juryoku yang cukup besar dari dalam perutnya. Yume tidak memiliki Juryoku dengan kapasitas seperti itu. Juryoku itu sama seperti sidik jari. Seorang Jujutsushi bisa melihat dan merasakan bahwa setiap Juryoku milik Jujutsushi itu berbeda-beda. Dan aku mengenalnya. Aku pernah merasakan Juryoku itu. Itu adalah Juryoku milik Nanami-kun.
"Maafkan aku Higuruma-san! Aku tidak sengaja menabrak seorang ibu hamil!"
Aku tidak mendengar seruan Shimizu-kun dan masih dalam keadaan syok. Mendengar namaku disebut, Yume pun membalikkan tubuhnya ke arahku. Kedua mata kami saling bertemu. Namun kali ini mata biru terangnya itu penuh dengan cahaya. Aku tidak lagi melihat adanya kehampaan dan kegelapan di sana. Tanpa berusaha untuk menyembunyikan kondisinya, Yume tersenyum lembut dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapaku, "Lama tidak berjumpa Higuruma-san."
Walau selalu mengeluh dan sering berkata kasar, Shimizu-kun ternyata adalah seorang wanita yang mempunyai kepekaan tingkat tinggi. Ia menyuruhku untuk mengantarkan Yume pulang karena Yume membawa 2 kantong belanjaan yang terlihat cukup berat. Sementara itu Shimizu-kun akan mengunjungi rumah orang tua terdakwa dengan petunjuk arah dari si petugas kasir. Kami berjanji akan bertemu lagi di konbini jika sudah selesai menyelesaikan urusan masing-masing.
"Maafkan aku Higuruma-san, padahal Anda sedang bekerja, jadi harus membantu membawa belanjaanku seperti ini."
"Tidak apa-apa. Ini sebagai permintaan maaf karena ulah bawahanku."
Bohong. Itu karena aku ingin lebih banyak berbicara denganmu dan ingin lebih lama bersamamu.
"Hee~ Jadi dia yang namanya Shimizu-san. Benar-benar sesuai dengan apa yang kubayangkan. Wanita yang hebat dan pekerja keras ya!"
"Dan juga keras kepala."
Yume tertawa ringan menanggapi leluconku yang sama sekali tidak lucu. Setelah sekian lama, akhirnya kupu-kupu itu datang lagi memenuhi rongga dadaku.
"...Apa kau sehat…?"
Mendengar pertanyaanku Yume terdiam sejenak dan kemudian memandangku dengan ekspresi wajah heran, "Un? Sehat kok. Eh? Jangan-jangan… Higuruma-san mengira perutku ini membuncit karena penyakit ya?"
"...Apakah aku terlihat seperti orang yang bodoh begitu?"
Sekali lagi ia tertawa. Kupu-kupu di dalam rongga dadaku terasa semakin ramai.
"Habis… Wajah Higuruma-san suram seperti itu sih. Kupikir kau merasa aneh dan tidak percaya bahwa aku bisa hamil."
Rupanya kupu-kupu di dalam rongga dadaku tidak tersalurkan hingga ke urat-urat wajahku.
"...Wajahku sudah seperti ini sejak lahir."
Ia kembali tertawa. Sambil memegang perutnya ia berkata, "Dulu Nanami-san juga pernah berkata sama persis seperti apa yang dikatakan Higuruma-san lho. Kalau dilihat-lihat kalian berdua memang berwajah suram ya, hahaha."
"Yume-san… Tidak boleh menertawakan wajah orang."
"Hahaha, maafkan aku."
Hatiku antara merasa lega dan sedikit kesal. Lega karena ternyata Yume sudah bisa membicarakan Nanami-kun dengan biasa saja. Kesal karena kami berdua dibandingkan. Rasanya aku semakin paham tentang keegoisan yang dibicarakan oleh Nanami-kun dulu.
"...Tenang saja. Aku bisa merasakan Juryoku milik Nanami-kun dari dalam perutmu."
Yume terdiam sesaat mendengar perkataan jujurku. Saat aku menoleh ke arahnya, ia sudah menatapku dengan lembut dan tersenyum dengan sangat hangat.
"Sasuga[28] Higuruma-san! Kalau Anda tidak berhenti menjadi Jujutsushi, Anda pasti juga seorang Jujutsushi tingkat 1 seperti Nanami-san!"
Aku tidak dapat membalas perkataannya dan hanya terdiam. Apakah… Jika aku tidak berhenti menjadi Jujutsushi aku akan bisa menggantikan posisi Nanami-kun di hatimu?
"Sudah sampai."
Yume tinggal di sebuah apartemen sederhana yang terdiri dari 2 lantai. Walau bangunannya terlihat tua namun kondisinya cukup terawat dengan adanya sebuah taman kecil di halaman depannya.
"Syukurlah kamarmu terletak di lantai 1," ujarku sambil berdiri di depan pintu masuk ruangannya sementara ia merogoh sakunya dan membuka kunci pintu.
"Un. Sejak awal aku memang sengaja mencari kamar kosong yang terletak di lantai 1 karena saat itu kandunganku sudah memasuki bulan kelima. Silahkan masuk Higuruma-san. Akan kutuangkan teh dingin."
Setelah dipersilakan, aku pun melangkah masuk dan kuletakkan kantong belanja di meja dapur kecil di samping pintu masuk.
Walau ruangannya tidak begitu besar (kamar 1LDK[29]), entah mengapa aku masih bisa merasakan kehangatan yang sama seperti yang kurasakan sebelumnya di rumah mereka. Di pojok ruangan, aku bisa melihat lagi meja dengan kumpulan pigura berisi fotonya dengan Nanami-kun yang tertata rapi dan terawat. Di sampingnya terdapat butsudan[30] kecil dengan kotsutsubo dan foto Nanami-kun. Aku berjalan menghampiri butsudan tersebut dan mulai duduk untuk melakukan ritual berdoa.
Selesai berdoa aku bangkit dan duduk di meja makan berbentuk persegi kecil dengan 2 kursi kayu saling berhadapan. Yume duduk di hadapanku sambil menuangkan teh ke dalam gelas.
Sambil meminum teh dari gelas yang ia berikan, aku mulai membuka pembicaraan, "Sejak kapan kau mulai menyadarinya?"
"Tentang anak ini? Hm… Mungkin sudah sejak awal? Di hari itu, sebenarnya sejak pagi aku merasa sedikit mual dan merasa tidak enak badan. Nanami-san sudah sempat tidak ingin berangkat dan ingin mengantarku ke rumah sakit. Namun aku memaksanya untuk tetap berangkat karena perintah dari Kousen saat itu adalah kondisi darurat. Lagipula aku juga malas mendengarkan ocehan Niisan[31] jika aku terlalu mengekang Nanami-san."
Berarti… Saat dirawat di rumah sakit, ia sebenarnya sudah mengandung anak Nanami-kun. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku kemudian teringat jika setiap pagi Yume selalu merasa mual dan selalu diresepkan obat mual oleh dokter.
"Niisan… Kudengar dari Ieri-kun Gojou Satoru masih tersegel di dalam Gokumonkyou?"
"Un. Sampai saat ini mereka belum juga menemukan cara untuk membuka segelnya karena kakak yang bodoh itu telah menghancurkan sendiri 2 objek kutukan tingkat tinggi yang dapat digunakan untuk membuka segel," ujarnya dengan nada tak acuh sambil menuangkan teh ke dalam gelasnya sendiri.
"Kau tidak merasa sedih?"
"Sedih? Dengan tersegelnya Niisan? Sama sekali tidak. Aku malah merasa hari-hariku menjadi tenang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan jika dia masih ada dan mengetahui bahwa aku sedang mengandung seorang anak."
"Dia akan menyakitimu?"
"Justru kebalikannya! Dia pasti akan terus menggangguku dengan mengirim banyak makanan kesehatan untuk ibu hamil, akan membelikan banyak baju-baju dan mainan untuk bayi hingga kamarku menjadi sangat penuh. Dan hal paling mengerikan yang mungkin dia lakukan adalah… Dia akan masuk diam-diam ke dalam kamarku menggunakan teleportasi untuk menyanyikan lagu nina bobo pada bayiku dengan suara sumbangnya! Mengerikan!" serunya sambil memeluk tubuhnya sendiri. Berbeda dengan gosip-gosip yang selama ini kudengar tentang Gojou Satoru. Gojou Satoru versi Yume lebih terlihat seperti seorang penguntit yang sangat bodoh. Jangan-jangan itu alasan sebenarnya ia meninggalkan keluarga Gojou? Untuk menghindari kakaknya yang berkelakuan aneh itu.
"Tapi… Niisan tidak akan mati semudah itu. Karena dia adalah kakakku yang sangat bodoh dan tidak terkalahkan. Ia pasti akan mendapatkan cara untuk keluar dari sana sendiri. Jadi tenang saja," imbuhnya sambil tersenyum lembut. Karena aku adalah seorang anak tunggal, aku tidak paham tentang hubungan kakak adik. Jika membencinya mengapa ia bisa tersenyum seperti itu?
"Syukurlah… Kau terlihat sehat dan baik-baik saja," ujarku tanpa sadar saat melihat senyumannya.
Namun setelah itu yang ada hanyalah kesunyian. Karena aku merasa aneh tidak mendengar respon darinya, aku kemudian mengangkat kepalaku untuk melihatnya sedang tersenyum sambil menangis.
"Ternyata Higuruma-san juga bisa tersenyum seperti itu ya."
Aku tidak tahu mengapa ia tiba-tiba menangis. Apa aku telah mengatakan sesuatu yang salah?
"Semua berkat Higuruma-san yang tidak pernah menyerah untuk membuka hatiku dan memberikan harapan padaku untuk terus hidup… Hari itu, aku berniat membunuh diriku bersama anak ini untuk pergi ke sisi Nanami-san. Sejak malam itu aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Padahal anak ini sudah tahu dan memberikan peringatan padaku. Tapi aku tidak menghiraukannya dan malah membiarkan Nanami-san pergi. Mengapa…? Mengapa saat itu aku membiarkannya pergi? Mengapa aku mendengarkan perkataan provokasi Niisan dan mengizinkan Nanami-san untuk kembali menjadi Jujutsushi? Mengapa harus Nanami-san yang mengalami hal mengerikan seperti itu? Jika saja aku tidak membaca surat itu, aku pasti akan terus menyalahkan diriku sendiri dan malah akan menyakiti perasaan Nanami-san… Oleh karena itu, terima kasih banyak Higuruma-san. Aku pasti akan terus hidup bersama anak yang ditinggalkan oleh Nanami-san padaku ini."
Ia menundukkan tubuhnya padaku sambil tetap berurai air mata. Walau hatiku terasa sakit melihatnya, tapi aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menghiburnya.
"...Pada kenyataannya aku adalah seorang lelaki egois yang hanya ingin wanita yang kucintai selamanya mencintaiku dan tidak melupakanku..."
Kata-kata Nanami-kun kembali terngiang dengan jelas di dalam kepalaku. Ia berhasil melakukannya. Sementara itu aku terlihat bagaikan orang bodoh yang hanya berpegang pada idealisme tak berwujud.
Aku…
Apakah aku sudah boleh menutup mataku?
Rasanya aku sudah tidak peduli lagi. Jika dengan ini aku akan mendapat hukuman. Aku siap menerimanya. Untuk kali ini saja… Dewi keadilan, pinjamkan aku penutup matamu dan izinkan aku untuk menjadi manusia yang egois.
"Yume-san…"
"Ya…?" Ia mengangkat kepalanya dan kemudian mengusap air matanya dengan kedua punggung tangannya. Kutatap lurus-lurus kedua matanya yang berwarna biru terang itu. Ada aku di sana. Saat ini yang terpantul di kedua bola mata itu adalah aku, bukan Nanami-kun.
"Tolong menikahlah denganku."
Keheningan yang tidak begitu lama menyelimuti kami. Lama sekalipun aku akan setia menunggunya.
"...Eh?"
Karena saat ini aku sedang menatapnya dengan saksama, aku dapat melihat dengan jelas ekspresinya yang sedang tercengang.
"...Anda serius…?"
Tanpa melepas pandanganku darinya, aku menjawab dengan nada penuh keyakinan, "Aku selalu mengucapkan dan melakukan semua hal dengan serius."
Kupikir ia akan tertawa dan mengabaikannya. Tapi… Air mata kembali mengalir dari kedua bola matanya, dengan suara pelan dan tercekat ia berkata, "Maafkan aku Higuruma-san… Aku tidak bisa… Aku hanya mencintai Nanami-san…"
Aku tahu.
Aku sudah tahu bahkan sebelum aku mengatakannya. Bahwa aku tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan itu seumur hidupku.
Tapi aku ingin bertaruh.
Sama seperti di setiap persidangan yang kujalani. Walaupun aku tahu 99.9% peradilan pidana di Jepang akan selalu berakhir dengan vonis bersalah pada terdakwa, walau hanya ada kemungkinan 0.1%, aku tetap ingin percaya dan menolong orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah itu. Sama seperti itu. Walau hanya 0.1% aku ingin ia melihatku. Aku ingin melindungi dirinya, menghapus kesedihannya, membuatnya selalu tersenyum, dan hidup bersamanya hingga tua nanti walau hanya dengan kemungkinan 0.1% itu.
"Sama seperti perasaanmu yang akan terus mencintai Nanami-kun. Perasaanku juga tidak akan pernah berubah. Aku juga akan terus mencintaimu. Oleh karena itu, walaupun butuh waktu yang sangat lama. Sampai kapan pun aku akan terus menunggumu."
Ia tidak membalas perkataanku dan hanya terus menangis.
Apakah itu artinya aku sudah benar-benar kalah dan tidak memiliki kesempatan sedikit pun?
Tapi aku tidak menyesal. Aku sudah mengatakan dan berusaha semampuku. Sekarang aku benar-benar paham seperti apa hampir mustahilnya kemungkinan 0.1% itu.
Karena sepertinya keberadaanku hanya membawa kesedihan untuknya aku pun beranjak bangun dari kursiku dan berjalan menuju pintu keluar.
Namun saat aku sedang mengenakan sepatuku di genkan[32], Yume berlari menghampiriku dan berkata dengan lantang, "Tu, tunggu Higuruma-san! Aku… Aku hanya mencintai Nanami-san… Sampai kapan pun aku akan mencintai Nanami-san!"
Apakah ini yang dinamakan pukulan telak kekalahan?
"...Yume-san… Tadi kau sudah mengatakannya… Apa kau ingin membuatku kesal?"
"Eh? Ah, Tidak! Bukan itu maksudku!"
"...Lalu?" ucapku sambil sedikit menahan emosi.
"Maksudku… Aku memang hanya mencintai Nanami-san, tapi jika hanya membuatkan makan malam aku bisa melakukannya. Sebagai rasa terima kasihku… Maukah Anda dan Shimizu-san makan malam bersamaku?"
Wanita ini…
Sekarang aku benar-benar paham mengapa Nanami-kun yang pada awalnya membencinya menjadi tidak bisa melepaskannya.
Ternyata… Sama seperti di persidangan-persidangan yang kujalani, aku tidak bisa menyerah begitu saja. Aku masih bisa menggapai kemungkinan 0.1% itu.
"Tentu saja," jawabku dengan senyum tipis yang entah sudah berapa lama tidak tergambar di wajahku.
Sepertinya setelah ini aku akan mengajukan banding[33].
…
終
Fanfiction oleh nanamei103
Cerita utama dan karakter asli oleh Akutami Gege (Jujutsu Kaisen)
[1] Istilah untuk segala hal yang berhubungan dengan kutukan.
[2] Tōkyō Toritsu Jujutsu Koutou Senmon Gakkou = Sekolah Tinggi Teknik Kutukan Metropolitan Tokyo
[3] Shaman = Manusia yang bisa menggunakan energi kutukan.
[4] Orang biasa yang tidak memiliki energi kutukan
[5] Profesional terlatih untuk membantu pengacara dalam berbagai kapasitas hukum.
[6] Sebutan untuk shaman jahat, Jujutsushi yang menggunakan kemampuannya untuk niat dan perbuatan jahat seperti membunuh.
[7] Minuman yang terbuat dari campuran air berkarbonasi dengan wine dari buah prem.
[8] Orang sipil yang bisa melihat kutukan dan energi kutukan dan membantu orang-orang Kousen dalam menyelesaikan misi.
[9] Makhluk kutukan yang terbentuk dari kumpulan emosi negatif yang dipancarkan oleh manusia.
[10] Teknik kutukan
[11] Teknik kutukan bawaan dari lahir yang diturunkan secara turun-temurun di dalam keluarga Jujutsu.
[12] Teknik kutukan bawaan dari lahir yang pada umumnya dimiliki oleh seorang Jujutsushi.
[13] Energi kutukan yang ada di dalam diri seorang Jujutsushi
[14] Residu yang tertinggal dari Juryoku (energi kutukan) atau bekas penggunaan Jutsushiki (teknik kutukan).
[15] Tirai yang terbuat dari energi kutukan dan menyelubungi suatu area. Berfungsi untuk melindungi suatu area atau sebagai penghalang agar tidak dimasuki oleh orang yang tidak diinginkan.
[16] Kue mochi khas Sendai.
[17] 2 bedroom, living, dining, kitchen (2 kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dan dapur)
[18] Kasur berukuran 160 x 195 cm, kapasitas untuk 2 orang.
[19] Kuil Buddha peninggalan zaman Heian yang terletak di sebelah timur Kyoto.
[20] Guci untuk menyimpan abu kremasi.
[21] 6 Mata = Teknik kutukan bawaan lahir yang diwariskan secara turun-temurun di keluarga Gojou. Memberikan kemampuan persepsi luar biasa dan kemampuan untuk memanfaatkan ruang tanpa batas secara maksimal.
[22] Seni melawak yang awalnya berasal dari daerah Kansai. Pertunjukan manzai biasa dilakukan oleh 2 orang yang bercakap-cakap bersahut-sahutan di depan penonton membicarakan sebuah lelucon.
[23] Kain pembungkus tradisional khas Jepang
[24] Objek terkutuk tingkat tinggi yang berupa kotak penghalang yang dapat menyegel apapun atau siapapun di sebuah kotak dimensi
[25] Aku pulang
[26] Selamat datang kembali
[27] Toko kecil serba ada yang buka selama 24 jam.
[28] Kata pujian dalam Bahasa Jepang yang menunjukkan bahwa seseorang itu memang hebat sesuai dugaan mereka.
[29] 1 bedroom, living, dining, kitchen (1 kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dan dapur)
[30] Altar berbentuk lemari kayu tempat menyimpan benda keagamaan atau benda untuk mengenang anggota keluarga yang telah meninggal.
[31] Kakak laki-laki
[32] Area pintu masuk yang berupa ruang kecil tempat mengganti alas kaki setelah pintu masuk.
[33] Salah satu jenis upaya hukum bagi terpidana atau jaksa penuntut umum untuk meminta pada pengadilan agar melakukan pemeriksaan ulang atas putusan pengadilan di sidang pertama karena dianggap putusan tersebut jauh dari keadilan atau karena adanya kesalahan-kesalahan di dalam pengambilan keputusan.
Catatan penulis:
Setelah lebih dari 10 tahun lalu saya tidak menulis di platform ini (lebih tepatnya berhenti menulis), saya akhirnya mulai mencoba lagi menulis. Saya tidak tahu apakah masih ada pembaca setia saya yang bertahan di platform ini, tapi saya akan senang jika para pembaca baru juga suka dengan cerita saya ini dan memberi komentar tentang cerita saya ;)
Cerita ini adalah seri pertama oneshot, dari 3 cerita yang terdiri dari masing-masing sudut pandang 3 tokoh, Higuruma-san, Nanami-san, dan Yume. Yume diambil dari kata "yumenushi", dalam dunia fanfiction di Jepang, yumenushi adalah istilah untuk original character perempuan di dalam sebuah cerita. Yumenushi memiliki arti harfiah sang pemimpi.
