[Nanami Kento POV. Jujutsushi[1] Tingkat 1 (28 tahun)]

Seluruh tubuhku terasa sakit. Terutama pada bagian kiri tubuhku. Rasanya sangat perih, panas, dan nyeri. Pada bagian dada dan perutku juga. Aku sudah tidak bisa lagi memikirkan berapa ruas tulang dadaku dan bagian organ dalam tubuhku yang telah hancur. Mungkin ini adalah luka terparah yang pernah kudapat selama hidupku menjadi seorang Jujutsushi. Walaupun aku sudah duduk bersandar dan memejamkan mataku, rasa sakitnya tidak juga menghilang.

Setelah berhasil keluar dari domain[2] Jurei[3] bernama Dagon itu, Jurei tingkat tinggi dengan kepala seperti puncak gunung berapi itu… Kalau saja aku tidak melindungi tubuhku dengan juryoku[4], saat terkena serangan api darinya itu aku pasti akan langsung tewas.

"Sial…"

Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kumiliki aku mencoba untuk mengangkat tubuhku dan berdiri. Namun aku terjatuh kembali dengan keras di atas lantai stasiun Shibuya yang terasa sangat dingin.

Kuatur napasku yang semakin lama semakin terasa berat. Pandanganku yang hanya tinggal sebelah kanan pun mulai terlihat kabur.

Aku lelah… Sangat lelah…

Kuantan… Malaysia. Dengan uang pensiun dan tabunganku, aku akan membangun rumah sederhana di pantai terpencil di wilayah itu. Mungkin bagus juga jika aku membuka usaha toko roti di sana. Setiap hari dikelilingi dengan buku-buku yang selama ini hanya kubeli saja namun tidak pernah kubaca. Aku akan membaca semua buku itu satu per satu dengan cermat sambil sesekali memandang dirinya yang duduk di sampingku yang juga sambil membaca buku komik kesukaannya. Aku akan mengambil kembali semua waktuku yang telah hilang.

Tidak… Ini bukan saatnya untuk itu.

Aku harus segera menyelamatkan Fushiguro yang dibawa kabur oleh lelaki kekar tanpa juryoku yang berhasil mengalahkan Dagon itu. Jika ia bisa mengalahkan Jurei tingkat tinggi dengan mudah seperti itu, maka saat ini keselamatan Fushiguro sedang terancam.

Bagaimana dengan Maki dan Naobito? Apakah mereka berdua selamat dan berhasil kabur dari Jurei berkepala gunung berapi itu?

Benar…

Aku harus segera menyelesaikan semua ini dan segera pulang ke rumah. Mendengar suaranya yang selalu riang seperti anak kecil saat menyambutku di genkan[5] itu. Walaupun setiap kali aku selalu menyuruhnya untuk tidur lebih dulu, tapi ia tidak pernah mau mendengarkan perkataanku dan pada akhirnya selalu menungguku hingga larut malam. Benar-benar wanita yang keras kepala. Jika aku berkata seperti itu padanya, ia pasti akan langsung menggembungkan pipinya yang terlihat lembut seperti tekstur kue mochi itu dan menukasnya dengan nada suara yang menggelitik telingaku, "Padahal Nanami-san juga sama keras kepalanya denganku~"

Saat ini pun aku sangat yakin ia juga pasti belum tidur dan sedang menungguku. Seharusnya ia segera pergi tidur karena sejak tadi pagi ia sudah merasa tidak enak badan. Padahal aku sudah ingin mengantarnya ke rumah sakit, tapi sekali lagi dengan kekeraskepalaannya yang selalu menganggap ringan kondisi tubuhnya yang sebenarnya lemah itu, ia menolakku dan berkata bahwa ia baik-baik saja dan menyuruhku untuk pergi menjalankan misi. Apakah setelah itu ia benar-benar memeriksakan dirinya ke rumah sakit? Seandainya saat itu aku mencoba untuk lebih keras kepala dari dirinya dan mengantarnya ke rumah sakit, aku tidak akan berada di tempat seperti ini…

Ah… Sial…

Kelopak mata sebelah kananku mulai terasa lemah… Kucoba untuk memejamkannya sesaat… Dan yang muncul di dalam kegelapan itu adalah bayangan dirinya…

Aku ingin mendengar suaranya yang dengan lembut memanggil namaku...

Aku ingin melihat wajah tersenyumnya yang entah mengapa selalu terlihat menyilaukan bagaikan sinar matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah gorden kamar kami…

Wajah tertidurnya saat pagi hari itu… Terasa begitu hangat.

"Ini tidak bagus… Aku sepertinya mulai berhalusinasi…"

"Nanami-kuuun! Perkenalkan adikku yang sangat manis ini! Namanya Yume-chan! Mulai tahun ini ia juga akan belajar di Kousen[6]! Jangan jatuh cinta padanya ya!"

Walau wanita muda yang memiliki warna mata yang sama dengannya itu jelas-jelas menunjukkan ekspresi wajah tidak suka dipeluk olehnya, Gojou Satoru sama sekali terlihat tidak peduli.

"Tidak akan," jawabku singkat dengan nada yang sangat datar sambil memandang mereka dengan perasaan malas.

"Wah sayang sekali! Yume-chan langsung ditolak! Hahahahaha! Aduh, sakit!", adiknya yang ia sebut manis itu tanpa ragu menyikut perutnya dengan keras hingga bunyinya terdengar jelas di telingaku. Sepertinya Gojou Satoru memang tipe orang yang tidak akan pernah bisa disukai oleh siapapun bahkan oleh adiknya sendiri.

Tanpa menghiraukan kakaknya yang sedang mengerang kesakitan, adik wanita Gojou Satoru kemudian berjalan perlahan menghampiriku. Aku sedikit terkesiap dan memundurkan posisi berdiriku selangkah tanpa sadar. Namun pada jarak setengah meter di hadapanku ia berhenti dan kemudian menundukkan tubuhnya 90 derajat kepadaku.

"Selamat siang Nanami-san, perkenalkan namaku Gojou Yume. Mulai hari ini aku menjadi murid Kousen. Salam kenal dan mohon bantuannya," ucapnya sambil tersenyum dengan sangat lebar. Senyumannya entah mengapa mengikatkanku pada Haibara.

Itulah pertemuan pertamaku dengannya. Gojou Yume. Satu-satunya wanita yang kucintai hingga detik ini. Aku pada saat itu mungkin tidak akan pernah mengira bahwa aku akan mencintai wanita dari keluarga Gojou yang tidak kusukai.

Sama seperti Haibara, Gojou Yume selalu terlihat tersenyum dan ramah bahkan pada para asisten pengawas. Pada saat itu aku sedikit membenci dirinya dan kakaknya yang selalu bisa tersenyum dengan ringan di dunia Jujutsu[7] yang mengerikan ini. Mereka pasti sama sekali tidak pernah merasa takut akan kematian. Mungkin juga karena keluarga Gojou merupakan salah satu dari 3 keluarga besar penguasa dunia Jujutsu. Mereka memiliki Soden Jutsushiki[8] dan Shotoku Jutsushiki[9] yang mempunyai daya penghancur luar biasa. Oleh karena itu, walau sikap Gojou Satoru sangat menyebalkan, tidak ada yang berani menentangnya, bahkan para petinggi dunia Jujutsu sekalipun. Karena Gojou Satoru adalah kunci yang menjaga keseimbangan dunia ini.

Kupikir saat itu Gojou Yume juga sama seperti kakaknya.

Kupikir dia hanyalah gadis yang dimanjakan oleh kekuatan turun temurun dari keluarganya sehingga ia tidak perlu mengeluarkan usaha yang berarti.

Karena aku hanya tinggal seorang diri di angkatanku, dan Gojou Yume juga merupakan satu-satunya anak kelas satu di tahun itu, aku jadi sering dipasangkan dengannya dalam misi. Dalam misi pertama kami barulah aku mengetahui bahwa walaupun ia memiliki darah keluarga Gojou, ia sama sekali tidak memiliki Jutsushiki.

"Apa kau ingin mati?!" teriakku tanpa sadar padanya ketika saat itu ia hampir terkena serangan dari Jurei tingkat 3. Aku berhasil menyelamatkannya. Namun bayangan detik-detik kematian Haibara kembali muncul di dalam kepalaku, "Jika kau pikir menjadi Jujutsushi itu mudah hanya karena nama keluargamu, sebaiknya kau berhenti sekarang juga."

Saat itu Gojou Yume hanya tersenyum menanggapi kata-kataku kasarku, "Benar juga ya."

Suatu ketika aku secara tidak sengaja memergokinya yang diam-diam sedang melatih juryoku di hutan di belakang asrama kami. Masih terekam dengan jelas di dalam kepalaku ekspresi sungguh-sungguh yang terpancar dari kedua iris matanya yang berwarna biru terang itu. Seorang diri, setiap hari, bahkan ketika pulang dari misi yang membahayakan, ia selalu diam-diam berlatih tanpa diketahui oleh siapa pun.

Akhirnya aku pun tersadar bahwa ia bukanlah seorang gadis manja yang seperti selama ini kupikirkan.

"Ne, Nanami-kun… Kau pasti sangat ingin mengetahui alasan mengapa aku memasukkan Yume ke dalam Kousen walaupun ia tidak memiliki Jutsushiki kan?"

"…"

Aku diam saja. Bahkan tidak menatap ke arahnya. Tanpa lebih lama menunggu responku, Gojou Satoru melanjutkan kata-katanya.

"Aku itu punya kepribadian yang buruk. Aku berpikir lebih baik Yume berada bersamaku di dalam Kousen daripada harus tersiksa di rumah itu. Walaupun ia mungkin akan mati lebih cepat, tapi setidaknya ia tidak akan mati karena dibunuh oleh orang-orang di rumah itu. Kupikir Yume juga berpikiran sama sepertiku, kalau tidak, ia tidak akan mau mengikuti ajakanku ke Kousen."

Seorang kakak yang menarik adiknya ke dalam lubang kuburan itu jelas-jelas adalah manusia yang buruk. Namun Gojou Satoru tidak berbicara lebih dari itu. Ia tidak menjelaskan lebih jauh apa yang telah terjadi di dalam keluarga Gojou ataupun untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya karena telah mendorong adiknya sendiri ke tepi jurang kematian.

Setelah pembicaraan itu aku kembali teringat pada misi pertamaku bersama dengan Yume. Senyumannya saat menanggapi kata-kata kasarku terbayang di dalam kepalaku. Itu bukanlah senyuman karena ia memandang rendah diriku. Tetapi itu adalah senyuman canggung yang dipaksakan.

Di misi kami yang berikutnya, aku meminta maaf padanya karena telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatinya pada saat misi pertama kami. Tetapi ia malah sedikit menelengkan kepalanya dengan wajah bingung dan berkata, "Eh? Untuk apa Nanami-san meminta maaf padaku? Kata-kata Nanami-san memang benar kok."

"…Walaupun begitu. Aku telah menyakiti perasaanmu. Maafkan aku."

Ia terdiam untuk sesaat namun segera membalasnya disertai dengan senyuman yang terlihat sangat janggal dan dipaksakan, "…Tidak apa-apa kok. Aku sudah terbiasa."

Jika ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, perlakuan yang biasa ia terima mungkin lebih parah dari apa yang telah kulakukan padanya.

"Nanami-san memang orang yang hebat dan baik hati ya," imbuhnya pelan sambil menatapku, namun kali ini disertai dengan senyuman yang sangat lembut.

Saat itu aku merasakan nyeri di hatiku.

Hanya dengan melihat saja aku sudah tahu bahwa apa yang dikatakannya saat itu bukanlah sebuah kebohongan. Namun, aku bukanlah orang hebat ataupun orang baik seperti yang ia pikirkan. Aku meninggalkan Haibara. Aku membiarkan Haibara tewas sendirian dan hanya menyelamatkan diriku sendiri. Aku itu sampah. Jujutsushi itu sampah. Walau begitu, setelah kematian Haibara aku tetap melanjutkan belajar di Kousen dan menjadi seorang Jujutsushi. Itu semua adalah karena egoku. Jika dengan menjadi seorang Jujutsushi aku akan mendapat apresiasi dari para Hijutsushi[10] tidak berdaya yang telah kutolong, kupikir hal itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah alasan agar aku dapat terus melanjutkan hidup ini tanpa penyesalan.

Oleh karena itu, aku sama sekali bukanlah orang yang hebat dan baik hati.

Aku hanyalah manusia yang lemah.

Akhirnya setelah lulus dari Kousen aku berhenti menjadi seorang Jujutsushi. Tidak, mungkin lebih tepat disebut sebagai melarikan diri. Walau pada awalnya aku ingin percaya bahwa aku tidak pernah merasa frustasi karena ketidakberdayaan diriku. Pada akhirnya rasa bersalah itu selalu menghantuiku. Aku sudah tidak sanggup lagi melihat rekan-rekanku terjatuh ke dalam jurang kematian. Sementara aku tidak bisa mengulurkan tanganku untuk menolong mereka. Sama seperti apa yang telah kulakukan pada Haibara.

Aku melarikan diri tanpa mengatakan pada satu pun orang di Kousen. Bahkan kepada dirinya. Senyumannya yang selalu mengingatkanku pada Haibara itu… Berada di sisinya membuatku tersiksa. Membuatku selalu teringat akan lemahnya dan tidak bergunanya diriku. Aku juga merasa tidak pantas berhadapan dan bersanding dengan dirinya yang selalu sekuat tenaga bersungguh-sungguh. Walaupun ia tahu ia lemah, tapi ia tidak pernah menyerah. Sesungguhnya yang hebat itu adalah dirinya.

Setelah keluar dari Kousen, aku melamar kerja menjadi seorang pegawai kantoran di sebuah perusahaan saham. Saat itu aku adalah manusia yang tidak mempunyai tujuan hidup ataupun sesuatu yang pantas untuk dilakukan. Aku pun tidak berusaha untuk berinteraksi lebih dalam dengan manusia lainnya. Yang kulakukan saat itu hanyalah terus bekerja dan bekerja. Aku hanya ingin mencari uang secukupnya hingga umur 3…40 tahun. Kemudian aku akan menikmati sisa hidupku di negara dengan biaya hidup yang rendah. Siang malam aku hanya memikirkan uang. Kuhabiskan waktuku hanya untuk bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Saat itu aku berpikir bahwa selama aku punya uang itu sudah cukup untuk menjadi alasan agar aku dapat terus meneruskan hidupku. Aku tidak peduli lagi dengan Jurei, kutukan, ataupun orang lain.

Kulakukan rutinitas hampa tersebut selama sekitar 2 tahun.

Sebelum akhirnya ia muncul kembali ke dalam kehidupanku secara tiba-tiba dan mengacaukan perasaanku seperti layaknya sebuah badai.

"Nanami-san, wajahmu mengerikan sekali lho," ucapnya dengan ringan sambil berusaha menahan tawa saat melihat diriku yang tercengang karena melihat kehadirannya di tempatku bekerja pada musim penerimaan karyawan baru.

"Eh? Kalian berdua sudah saling mengenal?"

"Iya. Nanami-san adalah seniorku yang sangat bisa diandalkan waktu sekolah dulu."

"Kalau begitu Nanami-kun! Kuserahkan anak baru ini padamu ya! Ajarkan dia untuk selalu memikirkan keuntungan perusahaan sebagai target utama dan semua kunci untuk melipatgandakan uang, hahaha!"

"Sekali lagi, mohon bantuannya Nanami-san!"

Saat itu aku tidak diberikan kesempatan untuk berpikir. Yume kembali muncul di hadapanku dengan senyum lembut khasnya. Namun ia tidak mengenakan seragam khusus Kousen berwarna hitam, melainkan mengenakan setelan jas dan rok seperti para pekerja kantoran wanita pada umumnya. Rambut pendek berwarna gelapnya yang selalu terlihat berkilau ia jepit dengan sebuah jepitan polos berwarna biru. Sama dengan warna iris matanya. Aku tidak pernah bertemu wanita lain yang memiliki warna mata seindah warna matanya. Oleh karena itu, wanita di hadapanku waktu itu sudah pasti adalah Gojou Yume yang kukenal.

"Mengapa kau ada di tempat seperti ini?"

Sepertinya ia tidak memahami maksud dari pertanyaanku dan menjawab dengan nada santainya seperti biasa, "Eh? Untuk bekerja tentu saja."

Saat aku ingin mengeluarkan kata-kata protes, atasan kami yang berkulit gelap dan berpenampilan seperti Yakuza[11] itu sudah menatap kami dengan tajam dan mengisyaratkan agar kami tidak membuang-buang uang perusahaan dan segera mulai bekerja. Di hari pertama ia bekerja, aku tidak memiliki kesempatan untuk bertanya padanya lebih jauh.

Di hari ketiga ia bekerja, ia melakukan pekerjaan lembur pertamanya. Walau aku sangat benci bekerja lembur, tapi di hari itu aku menemani dan mengajarinya beberapa hal yang tidak ia mengerti karena ia belum terbiasa dalam pekerjaan. Setelah itu aku pun mengantarnya pulang.

"Ternyata Nanami-san memang orang yang hebat dan baik hati ya!"

Harus berapa kali ia mengatakannya?

Apakah ia belum sadar akan diriku yang pengecut karena melarikan diri dari Kousen secara diam-diam?

"…Aku bukan orang yang seperti itu. Cuma kau saja yang bisa berpikir seperti itu."

"…Tidak apa-apa. Cukup aku saja yang menyadari dan memahaminya," ujarnya kemudian dengan suara yang sangat hangat.

Jika sebenarnya malaikat itu ada, dia turun ke bumi dan menyamar sebagai seorang manusia, mungkin Gojou Yume adalah orangnya.

"…Mengapa kau selalu bisa tersenyum seperti itu?"

Ia terdiam sesaat sebelum kembali berbicara dengan suaranya yang jernih dan terdengar jenaka, "Nanami-san, kau pasti tidak akan percaya, tapi aku itu sangaaaat dibenci di keluarga Gojou. Pada diriku yang putus asa waktu itu, Niisan berkata bahwa aku harus selalu tersenyum karena dengan tersenyum sebagian besar masalah hidup pasti akan teratasi. Bodohnya, aku mempercayai perkataannya. Padahal jika kupikirkan lagi, Niisan pasti hanya berkata asal saja saat itu."

Walau aku tidak memintanya, malam itu ia kemudian menceritakan semuanya kepadaku. Tanpa ada satu hal pun yang ia sembunyikan. Ia menceritakannya dengan tenang seolah-olah ia menceritakan kisah hidup orang lain. Ia menceritakan alasan bahwa ia dibenci di keluarga Gojou adalah karena ia tidak memiliki Jutsushiki sama sekali dan hanya memiliki sedikit juryoku. Orang dewasa di sekitarnya berkata bahwa ia adalah aib yang menodai garis keturunan keluarga Gojou. Sejak ia sudah mulai dapat mengingat, ia telah diasingkan di rumah keluarga Gojou. Bahkan oleh kedua orang tuanya sendiri.

Meskipun ia juga membenci kakaknya yang tidak pernah berbuat apapun untuk menolongnya saat itu, ia ingin segera keluar dari kandang penuh hewan buas yang menjijikan itu. Oleh karena itu, ia menerima tawaran kakaknya untuk belajar di Kousen dan tinggal di asrama. Walaupun ia tahu mungkin ia akan bisa mati kapan saja, tapi bagaimanapun juga ia tetap ingin keluar dari rumah itu dan bertaruh.

Kata-kata Gojou Satoru waktu itu benar.

Akhirnya aku pun sadar bahwa mereka berdua memang kakak beradik. Walaupun memiliki hubungan yang terlihat sulit, tapi mereka saling memahami satu sama lain dan memiliki suatu keterikatan yang tidak akan pernah bisa untuk disangkal.

"Namun benar seperti apa kata Nanami-san waktu itu, aku hanyalah seorang wanita lemah yang berlindung pada nama keluarga Gojou. Karena ketakutan dan terlalu lemah pada akhirnya aku pun melarikan diri. Dan, ada disinilah aku sekarang!"

"…Itu bukanlah suatu hal yang seharusnya kau katakan dengan bangga."

"Ah, benar juga,"

Mendengar kenyataan bahwa ia juga merupakan seorang pelarian sama seperti diriku, telah menyalakan sebuah saklar di dalam diriku.

Aku mendongakkan kepalaku. Bulan yang terlihat bulat sempurna pada malam itu memantulkan cahayanya dan menyinari kami berdua yang berjalan beriringan di bawahnya dengan lembut.

Haibara… Apakah aku sudah boleh melangkah maju? Apakah aku sudah boleh untuk merasa bahagia? Apakah… Dosaku sudah termaafkan?

"Ternyata… Aku memang tidak akan pernah bisa lepas dan melarikan diri dari orang-orang sepertimu…" gumamku sangat pelan sehingga ia tidak mendengarnya.

"Eh? Apa? Nanami-san kau mengatakan sesuatu? Maaf, bisakah kau katakan seka-"

Di bawah bulan purnama di malam itu. Aku memberikan ciuman pertamaku pada Gojou Yume.

Saat itu, bagi seorang mantan Jujutsushi sepertiku, hari-hari yang terjadi setelahnya terasa bagaikan mimpi. Kami mulai tinggal bersama. Walau di kantor kami menyembunyikan status hubungan kami, kami akan selalu pulang bersama-sama ke rumah. Melewati jalan yang sama. Melihat pemandangan yang sama. Belanja bahan makan malam bersama-sama. Setelahnya ia pasti akan mengelus-ngelus kepala anjing tua yang selalu duduk diam di depan toko kelontong tempat kami berbelanja. Setelah sampai di rumah, kami akan memasak bersama -walau sebagian besar aku yang memasak-. Saat hari libur, kami akan bekerja bakti membersihkan rumah dan setelahnya bersantai sambil membaca buku di balkon atau ruang tamu kami. Atau sesekali kami akan pergi keluar bersama. Dan jika waktu pulang kami tidak sama, ia akan selalu menyambutku dan mengatakan 'Okaeri[12]' padaku. Atau aku yang mendengarnya mengatakan 'Tadaima[13]' dan akan kubalas dengan 'Okaerinasai'. Setiap hari aku menutup dan mengawali hariku dengan melihat wajah terlelapnya yang bagiku terasa bagaikan sebuah oasis di padang pasir.

Meskipun aku tahu dengan pasti bahwa hari-hari damai seperti seorang Hijutsushi itu hanyalah mimpi sementara yang akan dapat berakhir kapan saja, aku tetap ingin percaya.

"Nanami-san… Terima kasih… Terima kasih telah memberikan tempat untukku…," ucapnya sambil berurai air mata di malam aku menghadiahkan sebuah kalung pada hari ulang tahunnya yang ke-20. Bukan… Bukan aku. Justru kaulah yang memberikan tempat untukku. Kau memberikan kesempatan padaku agar aku dapat terus hidup walau sambil membawa dosa-dosa di punggungku.

Suatu hari saat aku sedang tugas dinas ke luar kota selama beberapa hari, aku mendapat kabar bahwa Yume mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Hari itu juga aku langsung segera menyelesaikan pekerjaanku. Saat itu untuk pertama kalinya aku merasakan ketakutan yang melebihi rasa takut akan kematian pada diriku sendiri. Aku masih ingat dengan jelas perasaan itu. Begitu menyesakkan. Walau tidak terlihat dari ekspresi wajahku, aku sungguh-sungguh merasa panik hingga tidak tahu harus berbuat apa.

"Keluar dari kamar ini sekarang juga!"

Namun saat aku hampir tiba di kamar tempatnya dirawat, yang kudengar adalah suara teriakannya yang penuh amarah. Itu adalah pertama kalinya aku mendengarnya berteriak kencang seperti itu. Kemudian tidak lama setelah suara teriakan terdengar berulang-ulang suara benturan benda keras. Saat aku mulai panik dan segera masuk ke dalam kamar, Gojou Satoru ada dalam di kamar dan sedang berdiri dengan santainya sambil menghindari lemparan benda-benda dari adiknya itu.

"Eh~~ Padahal itu boneka dan cokelat yang sangat mahal lho. Seharusnya kau senang dong kakakmu yang tampan ini datang menjenguk. Ah, aku tahu! Bagaimana kalau kuberikan foto telanjang dadaku?"

Aku berhasil memegang tangan Yume tepat saat ia ingin melemparkan tiang yang menyangga kantong infusnya.

"Nice timing Nanami-kun!" Gojou Satoru memberikan dua jempolnya kepadaku. Seketika itu juga aku dapat merasakan perasaan kesal yang sudah lama tidak kurasakan.

Karena mungkin akan terjadi pertumpahan darah jika Gojou Satoru berada di dalam kamarnya, aku menenangkan Yume dan segera mengajak Gojou Satoru untuk keluar dari kamar.

"Siapa ya yang dulu bilang tidak akan jatuh cinta pada Yume-chan~"

"…"

"Padahal Yume-chan tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku, tapi ia langsung tenang ketika Nanami-kun yang berbicara dengannya, Hhh… Anak dalam masa puber itu sulit ya."

"Yume sudah lewat dari masa puber."

"Wah, kau paham sekali ya~"

"…Gojou-san, apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?"

Walau mengenakan penutup mata gelapnya, aku dapat merasakan tatapan mata Gojou Satoru yang sangat tajam memandangku. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik dengan suara tak bernada, "Itu bukan kecelakaan, Yume diserang Jurei."

Gojou Satoru pasti bisa melihat dengan jelas tubuhku yang tersentak kaget.

"Ia masuk ke dalam gedung yang dikenal berhantu oleh warga sekitar. Ada seorang anak kecil yang menangis dan meminta pertolongannya untuk membawa keluar kucing peliharaannya yang kabur ke dalam gedung itu. Karena Yume memang lemah soal merasakan juryoku, ia masuk begitu saja tanpa mengetahui bahwa di dalam gedung itu ada Jurei tingkat 2. Seorang Mado[14] yang memegang wilayah itu langsung melaporkannya padaku karena ia mengenal wajah Yume sebagai adikku."

Tanpa menunggu respon dariku, Gojou Satoru menepukkan tangannya pada bahuku dan kemudian kembali berbisik di telingaku dengan suara yang mampu membuat saraf-saraf di sekujur tubuhku menjadi kaku, "Jika kau serius ingin melindungi Yume, cara yang paling efisien adalah dengan kembali menjadi seorang Jujutsushi."

Seperti dugaanku. Mimpi yang damai itu berakhir dengan begitu cepat.

Didorong oleh rasa takut akan kehilangan Yume dan kata-kata provokatif dari Gojou Satoru, malam harinya aku langsung berbicara pada Yume bahwa aku ingin kembali ke dunia Jujutsu. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Saat itu aku berbohong dengan alasan bahwa aku sudah muak menjadi seorang pekerja kantoran.

"Menjadi Jujutsushi dan pekerja kantoran keduanya sama-sama memuakkan. Namun menjadi seorang Jujutsushi adalah bakat. Oleh karena itu, aku akan kembali menjadi seorang Jujutsushi yang lebih membutuhkan bakat dan kemampuanku."

Aku tahu persis bahwa kata-kataku telah menyakiti hatinya. Sama seperti pada saat misi pertama kami. Tapi kali itu berbeda. Aku telah mempunyai tujuan hidup. Tujuan hidupku adalah melindunginya dan membahagiakannya. Oleh karena itu, walaupun aku harus menempuh jalan neraka sekalipun, asal itu bisa melindungi dan membahagiakannya. Aku akan melalui semua itu.

Kupikir saat itu ia akan mengeluarkan kata-kata penolakan atau menangis sambil memarahiku.

Namun seperti biasa ia malah tersenyum dengan sangat lembut dan dengan suaranya yang selalu mampu menjadi penunjuk jalanku di dalam kegelapan ia berkata, "Boleh kok. Setelah kupikir-pikir Nanami-san yang melakukan Tookaku Juuhou[15] memang terlihat lebih keren."

"…Tidak perlu menjadi Jujutsushi pun aku bisa melakukan teknik itu sekarang."

"Ah! Ternyata memang Nanami-san ingin melakukan teknik itu pada atasan kita ya?"

"Aku tidak pernah terpikirkan sampai sana… Tapi, perasaan ingin memukulnya dengan tangan kosong tepat pada wajahnya itu adalah benar."

Walau saat itu aku hanya mengungkapkan yang sebenarnya dan tidak berniat untuk melawak, Yume tertawa dengan sangat lepas sampai mengeluarkan air mata. Setelah kupikirkan lagi, saat itu mungkin aku telah memberikan kesempatan padanya untuk menyembunyikan tangisannya di dalam tawa. Karena Yume adalah orang baik hati yang selalu menahan dirinya sendiri. Ia pasti tahu bahwa jika ia mengalirkan air matanya di hadapanku, detik itu juga aku pasti akan menjadi goyah dan menarik kembali keputusanku menjadi seorang Jujutsushi.

Meskipun aku kembali menjadi seorang Jujutsushi, kami tetap tinggal bersama. Tidak ada yang berubah dari hubungan kami. Hanya saja, waktu kami bersama semakin berkurang. Apalagi tidak lama setelah itu aku dipromosikan menjadi seorang Jujutsushi tingkat 1 sehingga aku lebih sering dikirim untuk melakukan misi ke tempat yang jauh dan sulit yang memakan waktu bahkan hingga berminggu-minggu.

Yume tidak pernah mengeluarkan kata-kata protes. Setiap aku mengabarinya bahwa aku akan pulang terlambat ataupun aku akan menginap dan tidak pulang di hari itu, ia pasti dengan tenang akan berkata, "Aku akan menunggumu."

Sama seperti saat ini…

Saat ini ia juga pasti sedang menungguku. Apakah ia mengkhawatirkanku karena aku belum juga mengabarinya? Sekarang sudah pukul berapa? Apakah ia sudah makan malam dengan benar?

Aku ingin segera pulang…

Tidak, aku harus segera pulang.

Aku memusatkan juryoku pada bagian kakiku agar aku bisa beranjak bangun. Dengan sebelah penglihatanku yang terlihat sangat kabur, aku mulai menyeret kakiku dengan paksa.

Haibara… Apa yang sebenarnya coba kulakukan? Padahal aku sudah melarikan diri, tapi aku kembali lagi ke dunia ini dengan alasan sombong karena ingin menjadi pelindung baginya. Tapi pada kenyataannya aku hanya akan menyakiti dan meninggalkannya sendirian. Padahal dirinya tidak pernah meninggalkanku dan selalu berada di sisiku. Ia selalu setia menemani diriku yang penuh dengan lumuran dosa ini. Ia selalu menganggapku hebat. Ia selalu menganggapku bagaikan orang suci. Namun pada kenyatannya aku hanyalah makhluk lemah dan seorang lelaki pengecut yang bahkan tidak berani mengatakan perasaanku dan melamarnya.

Aku kembali teringat pada saat aku pergi kencan dengannya di suatu hari libur. Kami pergi ke gunung dan melakukan barbekyu di pinggir hulu sungai. Di sebelah tenda kami, berdiri tenda milik keluarga yang terdiri dari 3 orang, suami, seorang istri yang sedang hamil besar, dan seorang anak laki-laki yang masih berusia sekitar 7 tahun. Karena sejak dulu aku selalu memperhatikan Yume, aku tahu bahwa Yume sering mencuri pandang ke arah keluarga tersebut.

Aku tahu topik ini suatu saat pasti akan muncul walau seberapa keras pun aku menghindarinya. Bukannya aku tidak ingin menikahinya dan membentuk keluarga dengannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Karena aku telah kembali ke dunia Jujutsu. Menikahinya sama saja dengan membahayakan dirinya. Saat itu aku pun memalingkan wajahku dan berusaha untuk mengabaikan perasaan Yume.

"Mereka terlihat bahagia ya… Irinya… AH," ujarnya pelan tanpa sadar, "Na, Nanami-san tenang saja! Ma, maafkan aku! Aku tidak ada maksud apapun kok saat mengatakannya! Sungguh! Tolong lupakan perkataanku!"

Walau aku tidak menunjukkannya saat itu, melihat Yume yang berusaha keras untuk menyangkalnya malah semakin membuat hatiku sakit dan terasa seperti diremas dengan keras. Di saat apapun ia pasti selalu mengutamakan perasaanku. Tanpa mempedulikan perasaannya sendiri ia selalu berusaha untuk menjaga perasaanku.

Aku akhirnya sadar bahwa diriku sangat bodoh. Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri tanpa memperhatikannya. Tidak, aku selalu memperhatikannya tapi aku selalu saja melarikan diri.

Aku pun akhirnya membulatkan tekadku memesan cincin pernikahan untuknya dan akan melamarnya seperti di film-film asing romantis itu. Aku akan melamarnya pada saat malam natal.

Tapi hal itu hanyalah sebuah rencana fana yang tidak pernah terwujud.

Jujutsushi itu benar-benar sampah. Bahkan pada malam natal pun aku harus menghabiskan waktuku untuk misi dan menyelesaikan kekacauan yang dilakukan olehnya. Oleh Geto Suguru.

Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Geto-san. Karena aku mungkin turut andil menjadi penyebab melencengnya ia dari jalan yang benar. Aku sadar bahwa Geto-san mengilang dan kabur dari Kousen sesaat setelah kematian Haibara. Pastinya kematian Haibara juga menjadi salah satu pemicu. Karena kematian Haibara disebabkan olehku secara tidak langsung aku jugalah yang menjadi penyebab berkhianatnya Geto-san dan menjadi seorang Jusoshi[16].

Saat itu semua Jujutsushi tingkat 1 dipusatkan di Shinjuku. Hanya aku Jujutsushi tingkat 1 yang ditugaskan ke Kyoto. Walau menyebalkan, karena aku adalah orang yang taat pada aturan, akhirnya aku pun membatalkan janji makan malamku dengan Yume dan otomatis membatalkan pesanan meja yang sudah kupesan sebulan sebelumnya di sebuah restoran mahal yang sangat elit dan terkenal.

Karena tidak ada Jujutsushi dengan tingkat yang lebih tinggi dari tingkat 2, korban lebih banyak berjatuhan di Kyoto. Saat aku tiba di Kyoto, suasana sudah sangat tidak kondusif dengan banyak korban yang berjatuhan dan banyak Jurei dari berbagai tingkat berkeliaran di kota.

Peristiwa itu mengingatkanku. Menyadarkanku akan kenyataan sebagai seorang Jujutsushi yang harus selalu siap menerima kematian kapan pun. Bahkan pada diriku sekalipun. Walau aku adalah seorang Jujutsushi tingkat 1, aku pun pernah beberapa kali telah berhadapan dengan kematian.

Saat aku mendengar bahwa Yume mengalami kecelakaan, waktu itu aku merasa seperti seluruh nyawaku terhempas dan aku merasa putus asa. Lalu bagaimana jika aku yang mengalami hal buruk? Apakah ia juga akan bereaksi sama sepertiku? Aku yakin ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena ia adalah wanita yang selalu memikirkan perasaanku. Apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan luka hatinya jika aku benar-benar pergi meninggalkannya?

Saat aku memesan cincin pernikahan untuk Yume, aku bertemu kembali dengan salah seorang senior dari Kousen yang sangat kuhormati. Namanya adalah Higuruma-san. Sama seperti diriku dan Yume, setelah lulus dari Kousen, Higuruma-san berhenti menjadi seorang Jujutsushi dan bekerja sebagai seorang pengacara. Aku menulis sebuah surat wasiat dan meminta bantuan Higuruma-san untuk menyerahkannya pada Yume jika waktunya sudah tiba. Aku juga meminta bantuannya untuk menyerahkan surat itu bersama dengan cincin pernikahan yang sudah kubeli dan juga memintanya untuk mengurus semua harta milikku dan menyerahkannya pada Yume.

"Bukankah lebih baik jika kau membicarakannya baik-baik dengan kekasihmu dan menyerahkan cincin itu secara langsung padanya? Dengan kata lain kau melamarnya. Jika dia resmi menjadi istrimu, hal itu juga akan mempermudah proses penyerahan harta pribadimu bukan?"

Pada awalnya aku pun juga ingin melakukan hal seperti itu. Namun aku tidak mau mengikatnya dan memberikan kutukan padanya. Jika namaku melekat pada dirinya, ia pasti akan selalu merasakan kesedihan dan tidak bisa melangkah maju. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Walau sebenarnya sebagian besar dari diriku ingin terus memonopoli perasaannya bahkan setelah kematianku pun sekalipun, tapi aku tidak bisa. Jika memikirkan bagaimana jika Yume ada di posisiku, ia pasti tidak akan melakukan hal yang egois seperti itu. Ia pasti akan memberikan jalan padaku agar aku bisa terus hidup dan bahagia.

Oleh karena itu, setidaknya dengan surat dan cincin dariku… Aku ingin kau untuk terus mengingatku, seumur hidupmu.

Aku merasa bersyukur sudah melakukannya. Aku pun tidak merasa menyesal telah meminta bantuan Higuruma-san. Aku bisa dengan tenang mempercayakan semuanya kepadanya, karena Higuruma-san adalah orang lurus yang penuh dengan rasa keadilan.

Dengan langkah yang gontai kuturuni satu per satu tangga yang ada di hadapanku. Aku sudah tidak bisa berpikir dan hanya melangkahkan kakiku sesuai dengan insting. Aku harus segera menyelamatkan semuanya, menemukan pintu keluar, dan pulang ke sisinya… Aku belum ingin Higuruma-san untuk menyerahkan cincin dan surat itu pada Yume

Saat aku memijakkan kakiku di anak tangga paling akhir, puluhan Jurei tingkat rendah sudah berkumpul di hadapanku dan bersiap untuk melahapku.

Mungkin ada sekitar sepuluh… Dua puluh… Entahlah aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Jangan halangi aku untuk bertemu dengannya.

Enyahlah kalian semua.

Tanpa sadar aku menyerang dan telah menebas habis semua Jurei yang mengelilingiku.

Aku tersadar saat sebuah benda dingin menyentuh kulit dadaku.

"Aku tidak tahu kalau kau ada disini," ucapku dengan suara yang sangat lemah sambil memandang lelah pada Mahito yang berdiri di hadapanku. Salah satu dari Jurei tingkat tinggi yang tidak terdaftar. Ia sudah pernah sekali hampir membuatku bertemu dengan malaikat pencabut nyawa.

"Yup, sudah sedari awal. Mau berbincang sebentar? Habis kita akhirnya bertemu lagi kan."

Telapak tangan kirinya yang dingin menyentuh dadaku. Aku sudah tidak punya juryoku untuk melindungi tubuh dan jiwaku. Sepertinya kali ini ia akan bisa mempertemukan kami.

Tiba-tiba saja aku melihat Haibara muncul di hadapanku. Dengan wajahnya yang selalu dihiasi dengan senyuman itu. Ia berdiri membisu dan tersenyum dengan wajah bodohnya. Wajahnya kemudian tumpang tindih dengan bayangan wajah Yume.

"Nanami-san… Terima kasih telah memberikan tempat untukku."

Haibara… Apakah ini sudah waktunya untuk penghakimanku?

Apakah aku boleh meminta perpanjangan waktu untuk bertemu dengannya untuk terakhir kali?

Untuk terakhir kalinya aku ingin melihat senyumnya dan mendengar suaranya memanggil namaku.

Haibara tetap membisu. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sebelah kananku, dengan perlahan kutengokkan kepalaku mengikuti arah yang ditunjuknya. Ternyata disana ada Itadori-kun yang berdiri dengan ekspresi wajah yang sangat tercengang dan ketakutan.

"Nanamin!"

"…"

"Eh~ Itadori Yuuji? Anak yang sangat bersemangat sekali ya! Hebat sekali ia berani memanggil nama Nanami-san dengan julukan seperti itu, hahaha. Ne, apakah aku juga boleh memanggil Nanami-san dengan nama julukan itu?"

"…Jika kau punya cukup waktu luang untuk memanggil namaku dengan sebutan yang aneh seperti itu. Lebih baik kau belajar untuk mulai memanggil nama kecilku."

"Ka, kalau itu aku tidak bisa! Memalukan sekali rasanya! Aku tidak kuat, dadaku seperti akan meledak!"

"Dada manusia tidak akan mungkin bisa meledak semudah itu, Yume."

"…"

Hhh… Yume

Jika aku terlahir kembali… Aku pasti akan membuatmu agar kau bisa memanggil nama kecilku.

Jika aku terlahir kembali… Aku ingin hidup di pantai terpencil denganmu, membuka sebuah toko roti, dan menghabiskan waktu yang damai berdua saja denganmu... Tidak, mungkin bertiga atau berempat, bersama dengan anak-anak kita.

Maafkan aku Yume

Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.

"Itadori-kun, kuserahkan sisanya padamu."

Fanfiction oleh nanamei103

Cerita utama dan karakter asli oleh Akutami Gege (Jujutsu Kaisen)


[1] Shaman = Manusia yang bisa menggunakan energi kutukan.

[2] Wilayah yang dibuat di dalam pikiran seorang pengguna (baik Jujutsushi ataupun Jurei), yang dapat diwujudkan menggunakan energi kutukan (Juryoku).

[3] Makhluk kutukan yang terbentuk dari kumpulan emosi negatif yang dipancarkan oleh manusia.

[4] Energi kutukan yang ada di dalam diri seorang Jujutsushi.

[5] Area pintu masuk yang berupa ruang kecil tempat mengganti alas kaki setelah pintu masuk.

[6] Tōkyō Toritsu Jujutsu Koutou Senmon Gakkou = Sekolah Tinggi Teknik Kutukan Metropolitan Tokyo

[7] Istilah untuk segala hal yang berhubungan dengan kutukan.

[8] Teknik kutukan (Jutsushiki) bawaan dari lahir yang diturunkan secara turun-temurun di dalam keluarga Jujutsu.

[9] Teknik kutukan (Jutsushiki) bawaan dari lahir yang pada umumnya dimiliki oleh seorang Jujutsushi.

[10] Orang biasa yang tidak memiliki energi kutukan.

[11] Sebuah kelompok terorganisir di Jepang yang biasanya melakukan tindakan kriminal secara berkelompok.

[12] Okaerinasai. Selamat datang kembali.

[13] Aku pulang.

[14] Orang sipil yang bisa melihat kutukan dan energi kutukan dan membantu orang-orang Kousen dalam menyelesaikan misi.

[15] Teknik Rasio. Teknik yang menciptakan titik lemah secara paksa pada lawan dengan rasio 7:3. Saat mengenai titik itu akan menjadi pukulan kritis.

[16] Sebutan untuk shaman jahat, Jujutsushi yang menggunakan kemampuannya untuk niat dan perbuatan jahat seperti membunuh.

Catatan penulis :

Saya benar-benar stres saat menulis cerita ini. Beberapa kali saya berhenti karena mental saya teruji. Huft.