[Gojou Yume POV. Pekerja kantoran (25 tahun)]
"Yume-chan, dengan sebuah senyuman kau akan bisa menyelesaikan sebagian besar masalah hidupmu. Jadi, tersenyumlah."
Itulah kata-kata tidak bertanggung jawab yang dikatakan oleh Niisan pada diriku yang terkurung di gudang rumah utama keluarga Gojou pada saat umurku 12 tahun.
Keluarga Gojou adalah salah satu dari 3 keluarga besar penguasa dunia Jujutsu[1] yang merupakan keturunan dari Sugawara no Michizane[2]. Akibat terjadinya suatu perselisihan antara dirinya dengan keluarga Fujiwara, Sugawara no Michizane dikhianati oleh mantan muridnya yang bernama Fujiwara no Sugane[3] dan kemudian diasingkan bersama seluruh keluarganya oleh menteri Fujiwara no Tokihira[4]. Di dalam masa pengasingannya itu Sugawara no Michizane akhirnya menemui ajalnya. Setelah kematiannya, roh Sugawara no Michizane bangkit untuk melakukan balas dendam dan menyebabkan musibah serta kejadian-kejadian mengerikan yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Banjir, kekeringan, wabah penyakit, gempa bumi, kematian Fujiwara no Sugane yang tiba-tiba karena tersambar petir, disusul dengan kematian Fujiwara no Tokihira, dan juga kematian dari orang-orang yang telah menjatuhkan dan mengasingkan Sugawara no Michizane. Begitu kuatnya sehingga roh Sugawara no Michizane disebut sebagai salah satu dari tiga roh pendendam terkuat pada jaman Heian[5], bersama dengan roh Taira no Masakado[6] dan Kaisar Sutoku[7].
Kekuatan roh yang mengerikan tersebut menjadi dasar dari juryoku[8] yang diturunkan kepada keluarga Gojou. Selain memiliki juryoku yang kuat, keluarga Gojou juga diberkahi dengan Jutsushiki[9] terkuat sepanjang sejarah yang diwariskan secara turun-temurun di dalam garis keturunannya. Jutsushiki itu bernama Rikugan[10], sebuah teknik yang memberikan kemampuan persepsi luar biasa dan kemampuan untuk memanfaatkan ruang tanpa batas secara maksimal pada penggunanya. Hal-hal tersebut akhirnya membuat keluarga Gojou menjadi salah satu keluarga Jujutsushi[11] yang terkuat selama berabad-abad.
Niisan adalah cerminan sejati seorang anggota keluarga Gojou. Setelah 100 tahun lalu pemilik Rikugan terakhir dalam keluarga Gojou wafat dan membawa teknik kutukan itu menghilang bersamanya, akhirnya Rikugan tersebut kembali bangkit dan bersemayam di dalam diri Niisan. Sejak lahir Niisan juga sudah dilimpahkan dengan juryoku yang sangat kuat melebihi juryoku yang dimiliki oleh orang dewasa di dalam keluarga Gojou. Ditambah dengan kecerdasan otak dan instingnya. Dalam usia muda, Niisan telah menjadi kepala keluarga Gojou dan Jujutsushi terkuat tidak hanya di dalam keluarga Gojou namun bisa dibilang di seluruh dunia Jujutsu. Keberadaannya telah menjadi kunci yang menjaga keseimbangan dunia Jujutsu.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Gojou Satoru yang terkuat itu sebenarnya mempunyai seorang adik perempuan. Hal itu dikarenakan sejak lahir adik perempuan Gojou Satoru sudah berada dalam pengasingan dan keberadaannya sangat dirahasiakan oleh anggota keluarga Gojou. Adik perempuan yang kelahirannya tidak diharapkan itu merupakan aib bagi keluarga Gojou karena terlahir tanpa memiliki juryoku dan Shotoku Jutsushiki[12].
Sejak aku mulai bisa mengingat, aku sudah berada di dalam ruangan yang memiliki sedikit pencahayaan itu. Sebuah ruangan cukup luas berdinding kayu dengan rak-rak tinggi berisi banyak buku-buku dan gulungan kertas-kertas kuno. Sebagian besar merupakan buku-buku dan gulungan kertas aneh dengan tulisan yang tidak terbaca. Bukan, aku tidak bisa membaca tulisannya bukan karena aku bodoh. Sejak masih sangat kecil, aku sudah diajarkan baca, tulis, dan ilmu pengetahuan lainnya oleh seorang tutor pribadi yang wajahnya sudah tidak dapat kuingat lagi. Jadi walau saat itu aku tidak mengikuti pendidikan formal, dapat dibilang bahwa aku termasuk salah satu golongan manusia yang cerdas. Aku tidak bisa membacanya karena buku dan gulungan itu ditulis dengan bahasa yang sangat kuno, ada juga yang ditulis dengan berbagai macam bahasa asing yang tidak dikenal, dan bahkan ada buku yang tidak tertulis apapun. Setelah aku menjadi murid Kousen[13], barulah aku mengetahui bahwa buku yang tidak tertulis apapun di dalamnya itu adalah buku kutukan yang disegel sehingga hanya bisa terbaca oleh orang-orang tertentu saja.
Ibuku meninggal beberapa minggu setelah melahirkanku. Kenyataan itu membuat keberadaanku menjadi semakin dianggap aib dan kutukan buruk oleh keluarga Gojou. Oleh karena itu aku pun tidak pernah melihat wajah ibuku. Aku juga tidak pernah melihat wajah ayahku. Walau ia masih hidup, ia tidak pernah sekali pun mengunjungiku ataupun memanggil diriku untuk menemuinya. Satu-satunya hal yang kuketahui dari pembicaraan para pelayan yang diam-diam kucuri dengar adalah tuan besar -para pelayan memanggilnya seperti itu- atau ayahku memiliki wajah yang sangat tampan seperti aktor Hollywood. Saat itu aku hanya kebingungan karena aku tidak mengetahui apa arti kata Hollywood.
Rumah keluarga Gojou adalah kediaman rumah bergaya minka[14] yang sudah berumur cukup tua dengan tanah yang luas dan memiliki beberapa bangunan terpisah di dalamnya. Gudang tempat tinggalku adalah salah satu contohnya. Gudang itu terletak di bagian sudut paling belakang kediaman keluarga Gojou. Beberapa meter di depannya, terdapat sebuah bangunan yang merupakan kamar pelayan, dapur dan tempat mencuci. Agak menyamping dari bangunan itu, terdapat sebuah sumur yang berumur cukup tua dan sangat dalam. Para pelayan mencuci dan memasak menggunakan air dari sumur itu. Di samping sumur, tumbuh pohon Tsubaki[15] yang sangat besar karena sudah berusia ratusan tahun. Tempat menjemur pakaian berada tepat di sebelah gudang, berhadapan beberapa meter dengan sumur dan pohon Tsubaki. Jika aku menempelkan telingaku pada dinding kayu gudang dan memerhatikan dengan seksama, maka aku akan bisa mendengar pembicaraan para pelayan yang sedang menjemur pakaian dengan cukup jelas.
Alasanku diasingkan, tentang kedua orang tuaku, tentang apa yang sedang terjadi di dalam keluarga Gojou, dan beberapa hal remeh-temeh lainnya selalu kudengar dari para pelayan yang bergosip sambil menjemur pakaian itu. Dari para pelayan itu juga aku pertama kali mendengar dan mengetahui tentang Niisan. Para pelayan selalu memuji bahwa Niisan adalah calon kepala keluarga Gojou berikutnya yang akan membawa kemuliaan dan kejayaan bagi keluarga Gojou. Walau sikapnya tidak ramah, sejak kecil kemampuannya sudah sangat hebat sehingga tidak ada yang berani melawannya. Para pelayan juga mengatakan bahwa Niisan memiliki wajah yang sangat tampan seperti ayah.
Setelah mendengar cerita itu, aku menjadi sangat penasaran. Akhirnya aku pun membuat sebuah rencana konyol untuk diam-diam pergi ke bangunan utama dan muncul di hadapan Niisan. Mungkin saat itu aku masih berumur sekitar 6 atau 7 tahun. Aku yang masih sangat polos waktu itu berharap dengan kemunculanku yang tiba-tiba, Niisan akan terkejut, tertawa, kemudian memelukku, dan membawaku keluar dari gudang tempatku dikurung.
Namun kenyataannya tidak seperti yang kubayangkan. Saat aku memunculkan diri di hadapannya, Niisan memang terlihat sangat terkejut namun Niisan sama sekali tidak tertawa ataupun memberikan pelukan padaku. Matanya yang memancarkan warna yang sama dengan warna mataku itu malah menatapku tajam. Saat aku mencoba mengulurkan tanganku padanya, Niisan menepisnya dengan pelan dan kemudian berjalan pergi meninggalkanku tanpa mengatakan satu patah kata pun. Saat itu aku sangat terguncang bahkan melebihi saat aku dilempari batu oleh para sepupuku.
Sejak hari itu aku paham bahwa aku tidak memiliki satu pun sekutu di dalam rumah itu. Kubaca banyak-banyak buku yang ada di dalam gudang dan kuputar otakku dengan keras untuk mencari alasan keberadaanku di dunia ini. Untuk apa aku terlahir jika mereka semua tidak menginginkanku? Apa yang sudah kuperbuat sehingga mereka selalu menyiksa dan menjauhiku? Namun aku tidak pernah bisa menemukan jawabannya. Tidak sampai aku bertemu denganmu di kemudian hari.
Beberapa tahun berlalu. Saat aku berumur 12 tahun, untuk pertama kalinya Niisan menemuiku. Sambil bersiul dengan santainya Niisan membuka kunci pintu gudang yang berpintu sangat tebal dan berat itu. Aku sedikit terperangah saat melihatnya pertama kali masuk ke dalam gudang. Siapa laki-laki tinggi berambut jabrik ini?
"Ah, ada ada," serunya memandangku sambil tangan kanannya tidak berhenti memutar-mutar cincin kunci gudang. Bagaimana bisa laki-laki asing aneh ini mempunyai kunci gudang yang dijaga sangat ketat itu?
Seperti merasakan hewan buas yang sedang mendekatiku, aku refleks segera berlari untuk bersembunyi. Namun tanpa kusadari Niisan sudah berada di hadapanku dan menghalangi jalanku untuk kabur. Sambil tersenyum lebar dan melepas kacamata hitamnya ia berkata, "Eh~~ Kenapa kau lari Yume-chan? Apa kau sudah melupakan kakakmu yang tampan ini?"
Aku yakin saat itu pasti mulutku terbuka dengan sangat lebar. Sambil menatap warna matanya yang sama dengan warna mataku, aku kembali mengingat-ingat pertemuanku dengan Niisan 5 tahun lalu…
Kemana perginya anak laki-laki berwajah dingin yang menatapku dengan tajam itu?!
Sambil memelukku dan menempelkan pipinya pada pipiku, Niisan yang telah berubah kepribadian itu berkata dengan nada manja, "Kaget ya~? Kau pasti terkesima melihatku sudah menjadi lelaki yang sangat tampan bukan~? Yume-chan juga makin manis lho~ Pipimu lembut sekali~~ Kyaaa~ Wajah tercengangnya manis sekali~!"
Aku seketika memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan Niisan tapi tentu saja tidak bisa.
"Lepaskan aku! Kau bukan Niisan! Dasar orang aneh!"
"Eh~ Kau memanggilku Niisan? Tapi aku inginnya dipanggil Oniichan. Ne, coba panggil aku Oniichan?"
"Dengarkan apa kata-kata orang! Lepaskan aku dasar orang cabul!"
"Panggil Oniichan baru akan kulepaskan~"
Niisan menggembungkan pipinya dan mengedipkan sebelah matanya padaku. Melihatnya membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Aku semakin kencang memberontak dari pelukannya.
Setelah berhasil menendang bagian alat vitalnya dan ia kemudian meringkuk kesakitan, akhirnya aku bisa terlepas dari pelukan Niisan. Aku segera berdiri menjauh dan memasang kuda-kuda mencontoh dari buku bela diri yang pernah kubaca.
Setelah beberapa menit berlalu walau suara erangan kesakitannya sudah tidak terdengar, anehnya Niisan tetap berada dalam posisi meringkuk. Saat itu aku berpikir bahwa aku mungkin telah membunuh calon kepala keluarga Gojou yang berikutnya. Dengan panik aku segera berlari menghampirinya dan berjongkok di sisinya untuk melihat kondisinya. Detik itu juga dengan cepatnya Niisan langsung memegang wajahku dan menyingkap poniku. Masih terekam dengan jelas dalam ingatanku wajah sedihnya saat itu.
Sambil mengusap keningku lembut, Niisan berkata dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar, "Syukurlah… Untung saja lukanya tidak berbekas ya… Syukurlah…"
Pasti maksudnya adalah luka yang kudapatkan beberapa minggu lalu saat kepalaku terbentur sumur tua yang ada di sebelah pohon Tsubaki itu. Setiap jam makan siang, aku diperbolehkan selama 1 jam untuk keluar dari gudang dan menghirup udara segar. Namun aku hanya boleh berada di sekitar gudang dan wilayah pohon Tsubaki dengan dijaga oleh seorang penjaga berwajah sangat seram. Saat aku sedang berdiri di bawah pohon Tsubaki sambil menatap bunganya yang sebentar lagi akan bermekaran, tiba-tiba saja seorang anak lelaki yang terlihat lebih muda dariku menarik rambutku yang panjang dan menyeretku hingga ke dekat sumur dan kemudian mendorong tubuhku. Tentu saja penjaga yang melihat kejadian itu hanya diam saja. Sambil mengeluarkan kata-kata hinaan yang tidak ingin kuingat, anak itu terus mendorongku dan aku berusaha menahannya. Akhirnya aku pun terjatuh dan kening bagian sampingku membentur dinding sumur yang terbuat dari batu. Setelah melihatku mengalirkan cukup banyak darah, anak itu pun lari begitu saja.
Ternyata Niisan juga tahu tentang peristiwa itu. Apakah selama ini… Niisan berarti diam-diam mengawasiku? Kalau begitu mengapa Niisan tidak pernah menolongku?
Aku menepis tangan Niisan dari wajahku dengan keras. Sambil berusaha agar air mataku tidak keluar, aku memeluk tubuhku sendiri. Walau tubuhku terlihat sedikit gemetar, aku tidak mau menangis di hadapannya.
"…Ne, Yume-chan… Apa kau mau ikut denganku dan belajar menjadi seorang Jujutsushi di Kousen?"
Mendengarnya mengucapkan kata-kata yang tidak pernah kudengar sebelumnya membuatku mendongakkan kepala dan dengan tidak sadar membalas perkataannya, "Kou…sen…?"
"Ya. Akademi Tokyo Toritsu Jujutsu Koutou Senmon, disingkat menjadi Kousen. Saat ini aku sedang belajar di sana. Di sana aku bertemu dengan 2 orang sahabat yang telah mengubah pandangan hidupku lho! Jika Yume-chan memang ingin keluar dari gudang yang berdebu ini, aku akan melakukan persiapan agar Yume-chan bisa masuk ke Kousen saat mencapai umur 15 tahun nanti."
"Persiapan?"
"Yah macam-macam. Karena kupikir Yume-chan adalah gadis yang pintar, Yume-chan pasti tahu bahwa untuk mengeluarkan Yume-chan dari tempat ini diperlukan banyak usaha… Usaha dengan menentang banyak pihak tentu saja, hahaha."
"…"
"Ah~ Tapi tidak perlu khawatir seperti itu Yume-chan~ Karena aku adalah orang yang cerdas dan kuat, aku pasti bisa melakukannya! Aku pasti bisa mengeluarkan Yume-chan dari tempat ini!"
"…Aku tidak khawatir! Aku sudah biasa tinggal di tempat ini!"
"Kyaa~~! Adikku ternyata tsundere[16]!"
Saat aku kembali ingin marah dan memberikan kata-kata protes padanya, Niisan kembali menyentuh wajahku. Dengan jarinya yang terasa hangat ia membentuk bibirku agar dapat melengkung dan membentuk sebuah senyuman.
"Yume-chan, dengan sebuah senyuman kau akan bisa menyelesaikan sebagian besar masalah hidupmu. Jadi, tersenyumlah."
Saat aku berpikir bahwa Niisan entah mengapa ketika itu terlihat sangat bercahaya di mataku, Niisan kemudian menambahkan kata-kata yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan, "Begitulah kata salah satu sahabatku kepadaku. Ah, ngomong-ngomong sahabatku itu adalah seorang laki-laki playboy yang punya banyak pacar."
Segera setelah Niisan pergi, aku langsung membaca buku-buku tentang genetika dan mempertanyakan tentang hubungan antara sifat buruk manusia dan pertalian darah di dalam keluarga.
…
Sejak hari itu, hampir setiap hari Niisan selalu mengunjungi gudang tempat aku dikurung. Karena Niisan memegang kunci, ia bisa bebas keluar masuk kamarku tanpa mengenal waktu. Niisan bahkan pernah masuk ke dalam kamarku saat tengah malam dan menyanyikan lagu neko funjatta[17] di sampingku yang sedang tertidur lelap. Berkat suara sumbangnya aku pun jadi terbangun dan tidak bisa tertidur lagi. Tentu saja setelah itu aku mengamuk padanya.
Setiap mengunjungiku Niisan pasti selalu membawakan sesuatu untukku. Ia membawakan bermacam-macam makanan manis, pakaian-pakaian barat lucu yang tidak pernah kulihat sebelumnya -karena saat itu aku hanya mengenakan kimono atau yukata-, berbagai macam game, dan juga buku-buku komik, "Yume-chan, memangnya tidak bosan membaca buku-buku berdebu yang bikin sakit kepala itu terus? Lebih baik kau baca ini! Ini namanya adalah komik! Buku cerita bergambar! Banyak karakter-karakter tampan sepertiku di dalamnya! Kau pasti akan suka!"
Benar seperti apa kata Niisan, sejak itulah aku jadi suka membaca buku komik, tapi menurutku tentu saja masih lebih tampan karakter-karakter di dalam komik yang telah kubaca dibandingkan wajah Niisan. Bagaimana bisa ia selalu percaya diri menyebut dirinya sendiri tampan?
Niisan juga membelikan dan mengenalkanku pada ponsel. Ia bahkan juga membelikanku sebuah televisi dan video player sehingga aku mengenal apa itu yang namanya acara televisi dan film. Harus kuakui, walau ia sangat menyebalkan dan memiliki sifat yang buruk, tapi Niisan telah mengenalkanku pada dunia luar yang ternyata sangat luas dan tidak pernah kuketahui sebelumnya. Semenjak kunjungan Niisan, perlakuan buruk dari anggota Gojou pun mulai berkurang. Walau mereka masih memandangku dengan tatapan jijik namun mereka tidak lagi memberikan siksaan fisik kepadaku.
Tepat saat ulang tahunku yang kelima belas, Niisan sungguh-sungguh membebaskanku. Aku tidak tahu dan tidak pernah bertanya tentang bagaimana caranya ia bisa membekaskanku. Untuk merayakan hari kebebasanku itu, aku pun memotong sendiri rambutku yang sebelumnya panjang mencapai pinggang menjadi pendek di atas bahu.
"Kyaaa~~~! Yume-chan berambut pendek juga sangat manis kyaaa~!"
Setelah sekian lamanya, sebagai ucapan terima kasihku, hanya pada hari itu saja aku mengizinkan Niisan untuk memeluk dan menempelkan wajahnya pada wajahku.
Aku benar-benar terpana akan dunia baru yang tersaji mentah di hadapanku saat itu. Gedung-gedung tinggi pencakar langit, banyaknya kendaraan yang melaju di jalanan, hiruk pikuk manusia, bahkan pada banyaknya Jurei[18] yang berkeliaran. Aku hampir tidak pernah melihat Jurei saat aku berada di kediaman keluarga Gojou karena kediaman itu selalu dilindungi oleh Tobari[19] yang sangat kuat.
Walau pada dasarnya Kousen berada di kota Tokyo, tapi lokasi tepatnya wilayah itu berada sangat tersembunyi jauh di dalam gunung Mushiro di pinggiran kota Tokyo. Saat mulai memasuki wilayah pegunungan dengan pepohonan yang tumbuh tinggi dan lebat itu rasanya seperti tidak sedang berada di kota Tokyo. Apalagi bangunan-bangunan di dalam wilayah itu yang sebagian besar terlihat seperti bangunan kuil dan rumah-rumah bergaya minka. Rasanya tidak seperti berada di sebuah wilayah akademi pendidikan. Untuk masuk ke dalam wilayah Kousen, terdapat beberapa gerbang masuk yang terpencar. Tidak sembarangan orang bisa menemukan lokasi tepat gerbang masuk itu dan masuk ke dalam wilayah Kousen. Sama seperti kediaman keluarga Gojou, seluruh wilayah akademi Kousen juga dilindungi oleh Tobari yang sangat kuat.
Aku sangat tahu bahwa kehidupan baru yang menungguku saat aku melewati Tobari dan masuk ke dalam wilayah Kousen itu bukanlah suatu kehidupan yang mudah. Bahkan bisa dibilang bahwa kehidupan baru itu akan lebih mendekatkanku dengan kematian dibandingkan dengan saat aku masih berada di dalam keluarga Gojou. Namun… Walau aku lemah dan tidak memiliki kekuatan sama sekali, aku tetap ingin bertaruh. Aku ingin bertaruh bahwa dengan keluar dari rumah itu maka aku akan bisa menemukan jawaban dan alasan mengapa aku terlahir di dunia ini. Setidaknya… Hingga aku dapat menemukan alasan itu, aku akan sekuat tenaga dan melakukan segala cara agar aku dapat bertahan hidup di pinggir jurang kematian dunia Jujutsu.
Niisan tidak berkomentar apapun tentang perubahan sikapku yang kutunjukkan pada orang-orang di Kousen setelah aku menjadi murid Kousen. Aku yang sejak kecil selalu berwajah masam dan suram, mencoba merubah sikapku menjadi selalu tersenyum dan selalu terlihat ceria. Saat itu aku berharap bahwa cara itu akan sesuai dengan kata-kata Niisan padaku, setidaknya membuatku terhindar dari masalah-masalah kecil terutama masalah hubungan antar manusia. Jujur, walau di permukaan wajahku memperlihatkan senyuman, sebenarnya aku masih merasa sangat takut berinteraksi dengan manusia selain Niisan.
Salah satu orang yang kutakuti saat itu adalah Nanami Kento-san.
Nanami-san adalah seorang senior yang berada dua tingkat di atasku dan satu tingkat di bawah Niisan. Kudengar dari Niisan, dulu sebenarnya ada seorang lagi anak yang berada di angkatan itu namun ia meninggal dalam misi. Entah apa karena ketakutan bahwa hal itu mungkin akan terjadi padaku juga dalam waktu dekat, aku tidak bertanya lebih jauh pada Niisan tentang teman seangkatan Nanami-san.
Hanya ada dua jenis pandangan yang selalu ditujukan oleh orang-orang terhadapku. Yang pertama adalah pandangan empati atau rasa kasihan. Yang kedua adalah pandangan kebencian atau rasa jijik. Nanami-san adalah jenis orang yang kedua. Walau ia selalu berwajah datar dan tidak banyak bicara, tapi aku dapat melihat jelas dari tatapan mata tajam yang selalu ditujukannya padaku itu, bahwa tatapan itu adalah pandangan jenis yang kedua.
Karena Nanami-san hanya tinggal seorang diri di angkatannya dan aku juga merupakan satu-satunya murid di angkatanku, aku sering dipasangkan dengan Nanami-san saat menjalankan misi. Karena Nanami-san lebih sering diam dan selalu berwajah seperti ingin marah, aku sangat gugup ketika mendapat misi bersama dengannya. Aku selalu berusaha keras untuk membuka topik pembicaraan lebih dulu -dengan hal-hal yang tidak penting- dan berusaha tersenyum di hadapannya. Mungkin karena rasa takutku lebih besar aku jadi tidak dapat melakukannya dengan baik. Pada akhirnya aku selalu tersenyum canggung dan berbicara dengan nada gugup serta intonasi yang terbata-bata. Dan hal itu malah membuat Nanami-san semakin kesal dan intens memberikan tatapan jenis keduanya padaku.
"Apa kau ingin mati?! Jika kau pikir menjadi Jujutsushi itu mudah hanya karena nama keluargamu, sebaiknya kau berhenti sekarang juga!"
Aku tahu sepenuhnya bahwa walau wajahnya menyeramkan, Nanami-san mengeluarkan kata-kata itu bukan untuk menghina atau memojokanku. Nanami-san hanya mengatakan sebuah kebenaran. Dan aku pun menjadi tersadar. Aku merasa bodoh karena sudah bersikap sangat sombong. Apanya yang bertaruh? Apanya yang menemukan jawaban? Aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri. Pada akhirnya walau aku telah bebas dari kediaman keluarga Gojou, tetap tidak ada yang berubah. Aku adalah aib dan kutukan buruk, kelahiranku tidak diinginkan, dan aku hanyalah makhluk lemah dan manja yang selalu bergantung pada Niisan. Kenyataan-kenyataan itu mungkin seumur hidup tidak akan pernah bisa lepas dari diriku.
Sebelum semua penghuni asrama terbangun, aku mulai berusaha bangun paling awal untuk berlatih di hutan di belakang asrama kami. Aku tidak bisa meminta bantuan Niisan, karena itu sama saja dengan aku bergantung pada dirinya lagi. Aku berusaha untuk setidaknya melatih juryoku milikku. Saat itu aku bersyukur karena aku membawa beberapa buku tentang Jutsushiki dari gudang buku tempatku dikurung dulu sehingga aku bisa belajar sendiri.
Walau aku telah berusaha keras seperti itu, sebenarnya di dalam sudut hatiku aku selalu merasa ragu dan merasa bahwa apa yang kulakukan semua ini tidak ada artinya. Seberapa keras pun kau berlatih, aib adalah aib, kau selamanya hanyalah makhluk lemah yang tidak berguna dan tidak diinginkan. Sambil tetap berlatih dan berusaha keras untuk selalu menunjukkan senyumku, aku berusaha mengabaikan gaung perkataan orang-orang di dalam rumah itu yang setiap malam selalu muncul dan menghantuiku di alam mimpi.
Di mimpi itu, aku berada di dalam sumur tua keluarga Gojou yang sangat dalam dan gelap. Mengapa aku tahu bahwa itu adalah sumur yang ada di kediaman keluarga Gojou? Karena banyak bunga Tsubaki yang berwarna semerah darah jatuh dengan perlahan ke dalam sumur. Gerakannya begitu perlahan seperti di dalam film yang diberikan efek gerakan lambat. Tidak hanya bunga Tsubaki, suara-suara yang menyakitkan itu juga terus menerus bergaung dan bergetar hingga ke dalam bawah sumur. Mendengarnya membuatku sangat tersiksa. Walau aku sudah meringkuk dan menutupi kedua telingaku, suara-suara itu tidak mau hilang dari dalam kepalaku. Namun aku juga tidak bisa keluar dan melarikan diri dari dalam sumur yang sangat gelap dan dalam itu.
Di saat dadaku terasa semakin sesak dan mulai merasa putus asa, sebuah tali diturunkan ke dalam sumur. Talinya diturunkan mencapai depan wajahku dan entah mengapa talinya terlihat sangat menyilaukan. Saat aku menyentuhnya, aku bisa merasakan sebuah kehangatan.
"Maafkan aku Yume."
"Walaupun begitu. Aku telah menyakiti perasaanmu. Maafkan aku."
Nanami-san adalah manusia pertama yang mengucapkan kata maaf kepadaku. Tentu saja aku tahu kata itu dan artinya, namun aku tidak pernah tahu bagaimana efeknya jika kata-kata itu diucapkan oleh seseorang kepada diri kita. Saat Nanami-san mengatakannya, aku seolah-olah melihat tali yang bercahaya itu kembali muncul di hadapanku. Saat aku mengangkat kepalaku untuk melihat ke atas lubang sumur, kali itu aku dapat dengan jelas melihat wajah Nanami-san yang sedang mengulurkan tangannya dan memegang ujung tali yang satu dengan tangannya. Tali yang bercahaya itu terasa hangat karena tali itu telah dilumuri oleh kebaikan hati Nanami-san. Saat aku menyentuh tali itu, tali itu kemudian perlahan menarik diriku dari dalam sumur yang gelap dan dingin. Dengan canggung dan perlahan.
Sejak saat itu pandangan mata Nanami-san padaku pun perlahan berubah menjadi jenis yang pertama. Kupikir Niisan pasti telah mengatakan sesuatu pada Nanami-san sehingga Nanami-san mengucapkan kata-kata maaf itu kepadaku. Atau mungkin juga hanya sekedar karena merasa kasihan. Walau Nanami-san memandangku hanya karena merasa kasihan atau berempati padaku, itu sudah cukup bagiku. Kenyataan bahwa ternyata Nanami-san tidak membenciku dan ucapan permintaan maafnya telah menyelamatkan hatiku tidak akan pernah berubah.
Tidak hanya pada Nanami-san, pada diriku pun perlahan-lahan terjadi sebuah perubahan.
Karena sebelumnya aku tidak pernah menerima kebaikan seperti yang telah Nanami-san berikan kepadaku, perlahan-lahan Nanami-san jadi terlihat berbeda di mataku. Walau Nanami-san tidak pernah menunjukkannya dari ekspresi wajahnya, tapi tindakan dan sikap yang dilakukannya padaku selalu dapat membuat perasaanku menjadi aneh. Rasanya sangat menggelitik, terasa manis, dan hangat. Walau saat itu sedang musim dingin sekali pun, jika bersama dengan Nanami-san, musim semi seolah-olah selalu bersemi di dalam diriku. Hanya dengan melihat dirinya yang sedang memandangku, walau aku tahu itu hanyalah pandangan rasa kasihan, aku selalu dapat merasakan hembusan angin lembut yang hangat menerpa pipiku. Senyum canggung dan takut yang sebelumnya selalu kutunjukkan padanya telah menghilang sepenuhnya. Hal terkecil sekali pun yang Nanami-san lakukan padaku, telah mampu membuatku berpikir bahwa aku akan bisa melewati kesulitan apapun di dunia ini. Dan entah sejak kapan, keberadaan Nanami-san di dalam diriku menjadi terlihat sangat besar dan tidak tergantikan.
Namun kebersamaanku dengan Nanami-san di Kousen tidak berlangsung lama. Setelah hari kelulusan, Nanami-san berhenti menjadi seorang Jujutsushi dan pergi meninggalkan Kousen. Bahkan tanpa berpamitan padaku. Hal itu menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Bahwa ternyata selama ini aku hanya bermanja pada kebaikan hati Nanami-san.
Dengan keberuntungan dan usaha yang sangat keras akhirnya aku dapat lulus dari Kousen. Setelah kelulusanku, kuputuskan untuk mengikuti jejak Nanami-san. Aku keluar dari Kousen dan tidak memilih jalan sebagai seorang Jujutsushi ataupun seorang asisten pengawas. Aku ingin hidup normal sebagai seorang Hijutsushi[20]. Walau aku adalah manusia yang lemah dan tidak berguna, aku tetap ingin mencari alasan dan jawaban akan arti keberadaanku di dunia ini. Tanpa mengabari Niisan serta memutus hubunganku dengan Niisan dan keluarga Gojou, aku akan memulai semuanya dari awal. Aku akan mengambil semua waktuku yang telah hilang selama aku terkurung di dalam kediaman keluarga Gojou.
Awalnya aku hanya berniat seperti itu.
Yang selama ini kutahu tentang takdir adalah bahwa takdir itu hanyalah suatu kenyataan kejam yang terjadi tidak terelakkan pada diri seseorang. Karena memang itu jugalah yang terjadi padaku selama ini. Namun pertemuanku kembali dengan Nanami-san membuatku menyadari bahwa takdir tidaklah selalu kejam.
Perusahaan tempatku diterima untuk bekerja ternyata adalah perusahaan tempat Nanami-san bekerja. Aku masih bisa mengingat dengan jelas ekspresi terkejut yang terlukis di wajah Nanami-san saat ia melihat diriku berdiri di hadapannya. Tentu saja Nanami-san pasti sangat terkejut. Aku pun sejujurnya merasa sangat terkejut. Namun perasaan bahagiaku yang lebih besar membuatku tidak tahan untuk tidak tersenyum lebar di hadapan Nanami-san yang kebingungan.
Kebaikan hati Nanami-san tidak pernah berubah. Walau Nanami-san selalu berwajah cemberut dan menghela napas panjang, tapi Nanami-san selalu menolongku dan mendengarkan segala perkataan serta keluh kesahku. Bunga-bunga musim semi pun kembali bermekaran di dalam diriku. Hanya dengan menghabiskan waktu bersama Nanami-san dan berada di sisinya saja sudah cukup bagiku.
Kupikir tadinya seperti itu.
Namun, setelah Nanami-san menciumku di malam bulan purnama itu akhirnya aku pun menyadarinya. Bahwa aku ternyata mencintai Nanami-san. Tidak, mungkin sebenarnya aku sudah sejak lama menyukainya. Aku sangat mencintainya. Begitu mencintainya hingga perasaanku terasa sangat sesak. Aku ingin selalu berada di sisinya. Aku ingin hidup bersamanya. Aku ingin ia hanya memandangku seorang. Sambil dengan deras mengalirkan air mataku, aku terus mengucapkan kata-kata egois itu tanpa henti. Namun bukannya memarahiku ataupun merasa jijik padaku, sambil memegang wajahku dengan kedua tangannya yang besar dan hangat itu, Nanami-san berkata dengan sangat lembut, "Ya… Aku juga menginginkanmu. Aku ingin hidup bersamamu. Mari kita hidup bersama-sama."
Bagiku yang sejak kecil selalu hidup sendirian, kehidupan berdua bersama dengan Nanami-san terasa bagaikan mimpi. Di sudut kecil hatiku, aku selalu bertanya-tanya apakah ini hanyalah sebuah teknik ilusi? Apakah suatu saat aku akan akan terbangun kembali di gudang buku tua itu? Walau begitu, di saat yang sama aku juga dapat merasakannya dengan sangat nyata.
Seberapa keras pun kau berlatih, aib adalah aib, kau selamanya hanyalah makhluk lemah yang tidak berguna dan tidak diinginkan.
Nanami-san telah membuktikan bahwa hinaan keluarga Gojou padaku itu salah. Nanami-san selalu berkata bahwa aku bukanlah makhluk yang tidak berguna. Nanami-san membuatku mengetahui apa itu cinta dan mengajariku tentang kasih sayang. Hal yang kulihat bersama dengan Nanami-san akan terlihat berjuta-juta kali lebih indah. Merengkuhku ke dalamnya dengan hangat. Menerimaku apa adanya dan memberikanku tempat untuk hidup. Nanami-san membuatku dapat menemukan jawaban yang selama ini selalu kucari, jawaban akan arti keberadaan diriku. Aku terlahir ke dunia untuk bertemu dengan Nanami-san dan untuk hidup bersama dengannya.
Kupikir kebahagiaan itu akan berlangsung selama-lamanya…
Saat itu aku terluka dan dirawat di rumah sakit akibat menerima serangan dari Jurei tingkat 2. Walau aku sudah tahu bahwa di dalam sebuah gedung kosong kemungkinan adanya Jurei sangat besar, namun aku tetap ingin menolong anak kecil yang terus menangis karena kucing peliharaannya kabur ke dalam gedung kosong itu. Jika Nanami-san berada di dalam posisiku, ia pasti tanpa ragu akan langsung masuk ke dalam gedung dan menyelamatkan kucing peliharaan anak itu. Oleh karena itu aku pun tetap masuk ke dalam gedung walau aku tidak punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan Jurei. Meskipun aku berhasil membawa keluar kucingnya dan berhasil melarikan diri, namun aku mendapatkan luka yang cukup parah.
Aku tidak tahu bagaimana caranya, namun berkat insiden itu Niisan akhirnya bisa menemukan diriku yang sudah bertahun-tahun kabur darinya. Tanpa ada tanda-tanda dan pemberitahuan apapun, Niisan muncul di dalam kamar tempatku di rawat dengan santainya sambil membawakan banyak barang untukku. Sifatnya yang aneh dan tidak bisa ditebak itu ternyata belum berubah.
"Hee~ Aku tidak tahu kalau ternyata kalian tinggal bersama~ Hmm… Jadi begitu rupanya… Aku paham. Ternyata yang mengikat Nanami-kun adalah Yume-chan ya. Hm, hm," ujarnya dengan nada sok beranalisis sambil melipat kedua tangannya dan mengangguk-anggukan kepalanya. Aku menatapnya sinis, namun tentu saja ia tidak menghiraukannya.
"Ha? Mengikat?"
"Iya. Walau Yume-chan mengatakan bahwa kau ingin berjuang dengan caramu sendiri dan tidak ingin bergantung lagi pada keluarga Gojou ataupun bahkan padaku. Namun pada kenyataannya Yume-chan tetap bergantung pada Nanami-kun. Bahkan dengan cara yang lebih buruk, kau mengikat kebebasannya."
"A, aku tidak—"
"Kau melakukannya. Secara tidak sadar. Yah… Kurasa Nanami-kun juga tidak akan sadar sih."
"…"
"Ne, Yume-chan… Apakah kau pikir bahwa kau punya hak untuk merenggut kehidupan seorang Jujutsushi yang sangat berbakat seperti Nanami-kun?"
Sejak dulu aku selalu membenci Niisan. Tapi yang lebih kubenci lagi saat itu adalah kenyataan bahwa aku mungkin saja telah membuat Nanami-san menderita. Karena Nanami-san adalah orang yang sangat baik hati. Demi diriku Nanami-san pasti telah menahan dirinya sendiri.
"Yang kau lakukan terhadap Nanami-kun sekarang itu, sama saja dengan apa yang mereka lakukan terhadapmu dulu. Mengurungmu di dalam kegelapan."
Suara dingin Niisan yang bergetar tepat di telingaku, membangkitkan kembali ingatan-ingatan masa lalu yang menyesakkan itu. Aku… Aku tidak ingin Nanami-san mengalami hal yang sama denganku.
"Keluar dari kamar ini sekarang juga!" teriakku sambil melempar barang-barang pemberian Niisan yang ia letakkan di atas lemari kecil di samping tempat tidurku. Walau aku melemparnya dengan sekuat tenaga, ia selalu bisa menghindarinya dengan mudah.
"Eh~~ Padahal itu boneka dan cokelat yang sangat mahal lho. Seharusnya kau senang dong kakakmu yang tampan ini datang menjenguk. Ah, aku tahu! Bagaimana kalau kuberikan foto telanjang dadaku?"
Jika saja Nanami-san tidak datang tepat waktu dan menghentikan tanganku, aku pasti sudah melempar tiang infus pada Tokyo Skytree[21] berjalan itu.
Setelah kepulangan Niisan, malam harinya Nanami-san berkata padaku bahwa ia ingin kembali ke dunia Jujutsu dan kembali menjadi seorang Jujutsushi. Aku sangat yakin, tiang berjalan yang menyebalkan itu pasti telah mengatakan sesuatu pada Nanami-san.
"Menjadi Jujutsushi dan pekerja kantoran keduanya sama-sama memuakkan. Namun menjadi seorang Jujutsushi adalah bakat. Oleh karena itu, aku akan kembali menjadi seorang Jujutsushi yang lebih membutuhkan bakat dan kemampuanku."
Bohong. Aku tahu. Walau saat mengatakannya ekspresi wajah Nanami-san tidak berubah sama sekali, tapi jari-jari pada kedua tangannya yang saling ia genggam itu bergerak-gerak tidak nyaman. Itu pasti bukan alasan yang sesungguhnya. Nanami-san pasti melakukannya demi melindungi diriku yang lemah. Jika Niisan mengungkit-ungkit kelemahan dan ketidakberdayaan diriku, Nanami-san pasti akan terpancing.
Maafkan aku Nanami-san…
Walaupun aku terlahir untuk bertemu denganmu, namun pada akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. Selalu saja Nanami-san yang memberikan banyak hal kepadaku.
Aku…
Seandainya aku bukanlah seorang wanita yang lemah. Seandainya aku adalah seorang Jujutsushi yang hebat. Aku pasti tidak akan membuat dirimu merasa kesulitan. Aku pasti tidak akan membuat dirimu menderita.
Dan aku juga pasti akan dapat melindungimu dari peristiwa itu…
Walau aku dilahirkan tidak memiliki juryoku dan tidak bisa merasakan juryoku milik orang lain, namun setelah belajar di Kousen aku jadi bisa merasakan juryoku milik Niisan. Hal itu dikarenakan Niisan pernah mentransfer juryokunya padaku sehingga aku bisa menggunakan juryoku walau hanya sedikit saja. Oleh karena itu, saat malam itu aku sama sekali tidak bisa merasakan juryoku milik Niisan, walau aku sedang merasa tidak enak badan, aku segera berlari sekuat tenaga menuju Stasiun Shibuya.
Lariku terhenti ketika aku melihat di depan wilayah Dogenzaka telah diberikan penghalang dan dijaga oleh banyak asisten pengawas dan para Mado[22]. Jalur itu adalah satu-satunya jalur tercepat agar aku bisa menuju Stasiun Shibuya. Tempat terakhir kali dimana aku merasakan juryoku milik Niisan menghilang. Aku tahu. Nanami-san pasti juga ada di sana bersama dengan Niisan. Aku harus memperingati dan menyelamatkan Nanami-san. Jika di Stasiun Shibuya ada sesuatu yang dapat melenyapkan juryoku milik Niisan, seorang Jujutsushi terkuat, sesuatu itu pasti lebih mengerikan dari apapun juga. Saat itu yang dapat kupikirkan hanyalah aku harus segera pergi ke sisi Nanami-san. Oleh karena itu, aku menerobos penjagaan dan segara berlari masuk ke dalam wilayah Dogenzaka.
Saat aku sekuat tenaga berlari sambil berusaha menggapai arah Stasiun Shibuya dengan tangan kananku yang terangkat, dalam sekejap pandanganku kemudian diselimuti oleh kegelapan yang sangat pekat.
Di saat itulah waktuku berhenti berdetak.
…
Saat perlahan kuangkat kelopak mataku, aku bisa merasakan seluruh otot dan saraf tubuhku terasa kaku dan nyeri. Saat sedikit kugerakkan tubuhku maka rasa sakitnya akan bertambah. Untuk sesaat aku hanya bisa menatap langit-langit berwarna putih yang ada di atasku. Kugerakkan sedikit kepalaku untuk melihat ke arah kanan dan kiriku. Saat yang bisa kulihat hanyalah pemandangan serba putih, aku pun kemudian sadar bahwa aku mungkin sedang berada di sebuah kamar rawat rumah sakit.
"Syukurlah Yume-chan! Akhirnya kau sadar!" Seorang wanita berambut panjang segera menghampiri dan berlutut menangis di sisi kiriku sambil menggenggam jari-jari tangan kiriku yang terasa sangat lemah. Namun aku masih bisa merasakan tangannya yang menyentuhku sedikit bergetar. Setelah hanya bisa terdiam selama beberapa saat, di dalam kepalaku kemudian muncul sosok wanita berambut panjang itu sewaktu rambutnya masih pendek. Wajahnya terlihat lebih muda dan ia mengenakan seragam murid Kousen. Sambil memegang sebatang rokok, ia kemudian tersenyum padaku.
"Shoko-senpai… Kenapa kau ada di sini…? Apa yang terjadi padaku…?" Aku merasa terkejut mendengar suaraku sendiri yang terdengar sangat serak dan tercekat. Susah dan sakit sekali rasanya untuk mengeluarkan suaraku.
"Kau sedang ada di rumah sakit Yume-chan… Kau terkena serangan di Shibuya… Mengapa kau bisa ada di sana? Selama ini di mana kau berada? Aku sangat mengkhawatirkanmu! Satoru tidak pernah mau menjawab jika aku bertanya tentangmu."
Shibuya…
Stasiun Shibuya…
Kata itu memicu seluruh ingatanku muncul kembali seperti kilat. Tanpa memedulikan rasa sakit pada tubuhku, dengan panik aku segera bangkit dari tidurku dan berusaha keras untuk bangun. Namun, Shoko-senpai menahan tubuhku. Dengan histeris aku berseru, "Senpai lepaskan aku! Niisan! Aku tidak bisa lagi merasakan juryoku Niisan! Pasti telah terjadi sesuatu padanya! Aku harus segera memberitahu Nanami-san! Aku harus pergi ke tempat Nanami-san! Lepaskan aku! Aku harus segera menyelamatkan Nanami-san! Na—!"
Sambil menyentakkan tubuhku dengan keras, Shoko-senpai berteriak lebih kencang melebihi suara teriakanku. Itu adalah pertama kalinya aku melihat Shoko-senpai yang biasanya selalu bersikap santai mengeluarkan suara keras seperti itu. Karena rasa terkejut aku pun menjadi terdiam. Sambil tetap memegang kedua bahuku dengan keras, Shoko-senpai berkata dengan lembut, "Yume-chan, dengarkan baik-baik. Aku tidak ingin mengatakan ini padamu tapi kurasa aku harus tetap mengatakannya… Satoru telah tersegel di dalam Gokumonkyou[23]. Tapi tenang saja Yume-chan. Ia belum mati. Kami pasti akan menemukan cara untuk melepas segelnya."
Begitu rupanya… Aku tidak bisa merasakan juryoku Niisan karena ia tersegel di dalam sebuah kotak dimensi. Aku pernah belajar saat menjadi murid Kousen bahwa kotak itu adalah kotak terkutuk yang dapat menyegel apapun di dalamnya. Walau begitu, entah mengapa aku setuju dengan kata-kata Shoko-senpai. Niisan pasti akan baik-baik saja. Ia pasti akan segera bisa menemukan cara untuk melepaskan dirinya sendiri dari segel itu.
Berarti... Nanami-san juga baik-baik saja.
"Kalau begitu… Dimana Nanami-san? Apakah ia masih menyelesaikan misinya? Mengapa senpai tidak datang kesini bersama dengan Nanami-san?"
"…"
"Senpai…? Mengapa kau diam saja? Dimana ponselku? Biar aku yang menghubunginya. Nanami-san memang selalu tidak ingin mengangkat telepon dari orang-orang Kousen karena katanya orang-orang Kousen selalu saja merepotkannya. Tapi jika aku yang menelponnya, ia pasti akan langsung mengangkatnya di dering kedua. Jadi biar aku—", saat aku sedang berusaha mengulurkan tanganku untuk menggapai lemari kecil di samping tempat tidurku, tangan kananku yang keseluruhannya terbalut perban putih disentuh dengan lembut oleh Shoko-senpai.
"Senpai…?"
Sambil merengkuhku lembut, dengan suara yang tercekat Shoko-senpai berkata, "Yume-chan… Nanami… Nanami sudah tidak ada di dunia ini… Ia… Nanami telah meninggal di dalam misi."
Awalnya otakku berpikir aku pasti salah dengar ucapan Shoko-senpai.
Namun hanya selang beberapa detik kemudian, otakku berhasil memproses arti keseluruhan dari kata-kata yang diucapkan oleh Shoko-senpai. Detik itu sekujur tubuhku menjadi mati rasa. Pandanganku menjadi gelap seketika.
Aku… Kembali terjatuh ke dalam sumur yang dingin dan gelap itu.
Walau aku berharap bahwa Shoko-senpai mengatakan sebuah kebohongan padaku, tapi logikaku tidak mengizinkanku untuk berpikir seperti itu. Tidak ada keuntungan bagi Shoko-senpai dengan berkata bohong tentang Nanami-san. Sama seperti diriku yang sangat mengkhawatirkan Nanami-san, jika Nanami-san mendengar berita tentang diriku yang dirawat di rumah sakit, ia pasti juga akan langsung datang menemuiku.
Aku yakin itu.
Karena Nanami-san adalah duniaku.
Bertemu dengan Nanami-san, kemudian Nanami-san menyelamatkan diriku dari kesunyian dan kegelapan, aku jatuh cinta padanya dan mengenal cinta. Kupikir aku akan bahagia selama-lamanya. Kupikir aku tidak akan lagi jatuh ke dalam sumur itu dan merasakan kegelapan dingin yang menyesakkan. Tapi mengapa…? Mengapa aku selalu saja tidak diizinkan untuk merasa bahagia?
Apakah karena aku adalah sebuah aib dan kutukan buruk?
Apakah… Nanami-san mengalami nasib buruk itu karena ia bersamaku? Karena aku membawa kutukan buruk padanya? Sama seperti saat ibu meninggal karena melahirkanku?
Maafkan aku Nanami-san… Maafkan aku… Kumohon kembalilah… Siapapun… Tolong… Bawa kembali Nanami-san padaku… Kembalikan padaku… Kembalikan Nanami-san padaku…
Jika tidak ada yang bisa mengembalikannya… Kalau begitu... Aku saja yang pergi menemui Nanami-san. Sekarang juga akan ke pergi ke tempat Nanami-san berada. Tunggulah aku Nanami-san…
Aku… Akan mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini...
"Selamat siang Gojou-san."
Sesaat suaranya masuk ke dalam sistem pendengaranku, aku bisa melihat sebuah cahaya redup muncul di hadapanku. Perlahan cahaya yang redup itu berubah menjadi sosok seorang pria yang sedang bersimpuh di hadapanku dan menatapku dengan lembut.
"Selamat siang Gojou-san. Karena aku tidak tahu apakah kau mendengarkan perkataanku sebelumnya atau tidak, aku akan memperkenalkan diriku lagi. Namaku Higuruma Hiromi. Aku adalah pengacara hukum Nanami-kun. 10 tahun lalu aku pernah beberapa kali memberi pelajaran hukum sebagai guru tamu di Kousen dan mengajar kelas Nanami-kun. Kami saling mengenal sejak itu. Di awal tahun ini, Nanami-kun secara formal memintaku menjadi pengacara hukumnya untuk mengurus tentang legalitas pemindah kuasaan harta padamu setelah ia tiada. Nanami-kun juga menitipkan surat dan kotak ini padaku. Oleh karena itu, aku punya kewajiban untuk menjagamu hingga aku menyelesaikan semua pekerjaan yang diserahkan Nanami-kun padaku. Jika kau pikir aku berbohong, kau bisa membaca surat ini. Tentu saja kau pasti akan lebih mengenal tulisan tangan Nanami-kun daripada diriku."
Walau aku tidak mengenalnya dan tidak sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan olehnya, namun saraf-saraf pada tubuhku bereaksi saat ia menyebut nama Nanami-san, "Na…nami-san…"
Tanpa sadar aku kemudian menjatuhkan pisau dapur yang telah kugunakan untuk menyayat pergelangan tangan kiriku dari genggamanku.
Saat aku membuka surat yang ada di hadapanku itu, aku dapat segera mengetahui bahwa surat itu memang benar ditulis dengan tulisan tangan Nanami-san. Tulisan tangan yang sangat indah dan rapi seperti kaligrafi itu telah beratus-ratus kali kulihat dan kupuji. Setiap kali kupuji, ekspresi wajah Nanami-san tidak pernah berubah, namun suaranya akan berubah menjadi sangat lembut, "Dasar bodoh."
Saat aku mulai membaca kata pertama yang tertulis di dalam surat itu, aku bisa mendengar dengan jelas suara Nanami-san yang rendah dan hangat itu membelai indera perasa pada telingaku dengan lembut.
Yang terhormat, Gojou Yume-sama.
Jika kau sedang membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Tenangkan dirimu Yume.
Ya… Aku tahu. Walaupun aku telah berjanji padamu untuk hidup selamanya bersama denganmu, pada akhirnya aku meninggalkanmu sendirian.
Apakah aku sekarang terlihat jahat di matamu? Tidak?
Kumohon maafkan aku. Ini semua terjadi karena diriku yang lemah dan tidak cukup kuat. Sekali lagi maafkan aku. Tidak, sebenarnya…. Sudah sejak dulu aku adalah seorang pria pengecut yang lemah. Ya, kau hanya tidak mengetahuinya Yume.
Yume, ada hal yang selama ini selalu kusembunyikan darimu karena aku takut kalau kau akan membenciku jika mengetahuinya, yaitu tentang dosa-dosaku.
Kau pasti pernah mendengarnya dari kakakmu yang aneh itu bahwa di angkatanku, aku sebenarnya tidak seorang diri. Sebelum kedatanganmu ke Kousen, aku mempunyai seorang rekan. Namanya adalah Haibara Yu. Ia seorang pemuda bersemangat yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang denganku. Dan entah mengapa, menurutku senyuman kalian berdua sangat mirip. Kau tidak percaya? Setelah ini kau mungkin bisa minta diperlihatkan foto Haibara oleh Ieri-san atau Yaga-san. Haibara mempunyai seorang adik perempuan, seorang Hijutsushi. Kupikir kau dan adiknya Haibara pasti akan terlihat sangat mirip jika kalian berdiri berdampingan. Sama sepertimu, Haibara juga selalu tersenyum. Ia selalu memperlihatkan senyum bodohnya pada saat apapun, bahkan di saat-saat terakhir menjelang kematiannya.
Saat itu kami mendapatkan sebuah misi untuk mengalahkan Jurei tingkat 2, namun saat sampai di lokasi ternyata Jurei tersebut adalah Jurei tingkat 1. Kami yang saat itu masih seorang Jujutsushi tingkat 2 tidak bisa mengalahkannya, aku melarikan diri meninggalkan Haibara dan Haibara pun kemudian kehilangan nyawanya. Aku mengorbankan nyawa rekanku sendiri seperti layaknya seorang Jujutsushi, yaitu nyawa Haibara.
Oleh karena itu Yume… Aku sama sekali bukanlah orang yang hebat dan baik hati seperti yang kau pikirkan selama ini.
Aku hanyalah seorang manusia lemah yang selalu dihantui oleh perasaan bersalah.
Namun, kau menerima diriku yang seperti itu. Tanpa syarat apapun. Kau selalu tersenyum lembut kepadaku dan telah memberikan tempat serta alasan agar aku dapat terus untuk melanjutkan hidupku walau sambil memikul dosa-dosaku.
Saat pertama bertemu denganmu, harus kuakui diriku yang saat itu membencimu sangatlah bodoh. Jika aku bisa pergi ke masa lalu aku pasti akan menampar wajahnya dengan sangat keras.
Tapi aku saat itu tidak selamanya bodoh. Aku saat itu perlahan-lahan mulai menyadarinya.
Bahwa ternyata aku menyukai segala hal tentang dirimu.
Senyumanmu yang selalu terlihat seperti sinar matahari pagi. Suara tawamu yang menenangkan hatiku. Rambut hitammu yang sangat lembut dan wangi. Jari-jari kecilmu yang ramping. Wajahmu yang serius ketika sedang membaca buku. Wajah bingungmu dengan dahi yang sangat mengernyit itu. Dirimu yang sedang menguap dengan nyamannya. Wajah damaimu yang terlihat seperti anak bayi saat sedang tertidur. Wajahmu yang bersemu merah hingga ke telingamu. Pipimu yang terasa begitu lembut dan kenyal seperti kue mochi. Wangi tubuhmu yang sangat manis. Dirimu yang sedang marah namun entah mengapa bagiku tetap terlihat menggemaskan. Warna matamu yang sangat indah bagaikan batu permata aquamarine. Saat-saat dimana kulit kita sedang saling bersentuhan dan bergesekan. Bibir mungilmu. Kepolosanmu yang kadang membuatku merasa kesal dan lagi-lagi gemas di saat bersamaan. Dirimu yang selalu berusaha sekuat tenaga dan tidak pernah menyerah. Kebaikan hatimu yang melimpah ruah. Serta dirimu yang selalu memikirkanku, kau yang selalu menahan dirimu sendiri demi diriku….
Terlalu banyak?
Asal kau tahu Yume, sebenarnya aku masih mempunyai lebih banyak alasan dari itu. Oleh karena itu…
Yume, aku mencintaimu.
Walau mungkin sering tidak terlihat dari ekspresi wajahku, bersama denganmu selalu membuatku bahagia. Membuatku seperti sedang berada di dalam mimpi. Dan aku tidak ingin terbangun dari mimpi itu.
Aku sungguh beryukur bertemu denganmu Yume.
Jika suatu saat nanti aku diberikan kesempatan untuk dapat terlahir kembali. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Aku ingin menikah denganmu dan membuka sebuah toko roti bersamamu. Tidak apa-apa. Walau kau tidak bisa memasak, kau bisa menjadi pelayan yang melayani pelanggan dan aku yang akan membuat rotinya. Karena kau memiliki wajah yang manis, kurasa toko roti kita pasti akan selalu ramai.
Apakah kau terkejut bahwa aku bisa mempunyai pikiran seperti itu?
Kau boleh tertawa Yume. Karena aku tidak menyukai wajahmu yang sedang menangis, oleh karena itu kau harus terus tersenyum dan tertawa Yume.
Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri Yume. Ketahuan? Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja karena aku mengetahui segala hal tentangmu Yume.
Demi diriku, kumohon berhentilah menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku tidak ingin membuatmu bersedih. Harapan dan doaku satu-satunya adalah hanya agar kau selalu bahagia. Bahwa setelah kepergianku, kau harus terus melangkah maju dan menemukan kebahagiaanmu sendiri Yume. Karena kau adalah wanita yang kuat. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya.
Aku sungguh tidak ingin mengatakan hal ini, namun jika suatu saat nanti kau menemukan seorang pria yang mencintaimu dan kau juga mencintainya, berbahagialah dengannya. Aku memberikan izinku.
Tidak, sesungguhnya aku ingin agar kau selamanya terus mencintaiku.
Maafkan aku. Aku sangat egois bukan? Itulah diriku. Apakah kau baru sadar bahwa kau telah jatuh cinta pada pria yang merepotkan?
Apa? Kau sudah sadar?
Seperti yang diharapkan, wanita yang kucintai adalah wanita yang hebat.
Jadi Yume, hingga saat itu tiba. Terus ingatlah aku dan simpan cincin pemberianku baik-baik. Ah, tanpa kuminta pun kau tentu saja akan melakukannya ya.
Terima kasih Yume. Terima kasih telah memberikanku segalanya.
Aku akan selalu melindungi dan mengawasimu.
Nanami Kento.
Setelah selesai membaca seluruh isi surat, pandanganku langsung kualihkan kepada kotak cincin yang diletakkan di samping surat. Kubuka kotak kecil itu dengan sangat perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan batu permata aquamarine yang berwarna biru terang dan jernih. Warna yang sama seperti dengan warna mataku.
Aku tidak pernah tahu kalau Nanami-san membeli sebuah cincin. Apalagi sebuah cincin pernikahan. Di bagian dalam cincin itu aku bisa melihat dengan jelas ukiran nama K & Y. Kento dan Yume. Sudah sejak kapan Nanami-san membelinya? Sudah sejak kapan Nanami-san mempunyai pikiran bahwa ia ingin menikah denganku? Padahal kupikir… Kupikir Nanami-san tidak pernah punya pikiran untuk menikah denganku. Sudah sejak kapan ia mempersiapkan semua ini? Bagaimana bisa Nanami-san mengetahui ukuran jari manisku padahal aku tidak pernah memberitahukannya?
"Tentu saja karena aku mengetahui segala hal tentangmu Yume."
Mendengar suaranya di dalam kepalaku seketika membuat air mata mengalir keluar dengan derasnya dari kedua mataku yang terpejam. Sambil menangis tanpa henti, kupeluk surat dan kotak cincin pemberian Nanami-san erat-erat di dalam dadaku. Walau aku tahu Nanami-san sudah tidak akan pernah bisa kembali, di sela-sela tangisanku aku terus menerus memanggil namanya. Terus-menerus… Hingga suaraku terasa serak karena bercampur dengan suara tangisanku.
…
Walaupun aku hampir tidak pernah menanggapinya, Higuruma-san tidak pernah berhenti mencoba untuk berbicara denganku. Ia datang setiap hari ke kamar tempatku dirawat dan terus mengajakku berbicara. Tentang cuaca di hari itu, tentang pekerjaannya sebagai seorang pengacara, tentang kebenciannya terhadap sistem hukum yang lemah, tentang orang-orang yang ditemuinya di hari itu, dan tentang dirinya yang berhenti menjadi seorang Jujutsushi. Karena pengaruh dari lingkungan tempatku dibesarkan, biasanya aku selalu merasa takut pada seseorang yang baru aku temui. Namun anehnya aku sama sekali tidak merasa takut pada Higuruma-san. Entah mengapa justru aku merasakan suatu ketenangan saat mendengarkannya berbicara. Aku bisa merasakan pandangan lembut dari matanya saat ia berbicara padaku. Mungkin karena ia adalah seorang pengacara tentu ia memiliki kemampuan berbicara yang dapat menenangkan hati kliennya. Perlahan-lahan aku pun mulai bisa menanggapinya dan berbicara dengannya.
Suatu hari, saat luka-luka di tubuhku sudah mulai menghilang aku pernah bertanya padanya, "Higuruma-san… Mengapa kau sangat baik padaku?"
Walau hanya sesaat aku bisa melihat ekspresi kagetnya saat mendengar pertanyaanku. Higuruma-san terdiam cukup lama dan akhirnya sambil mengeluarkan senyuman tipis ia pun menjawab, "Tidak. Aku bukan orang yang baik. Aku melakukannya karena ini adalah pekerjaanku dan permintaan dari Nanami-kun."
Saat itu aku akhirnya sadar, walau Higuruma-san dan Nanami-san sangat berbeda baik dari penampilan, fisik, wajah, pola pikir, dan bahkan cara berbicara, tapi mereka berdua sangatlah mirip.
Mengapa mereka berdua selalu seperti itu?
Mengapa mereka berdua tidak sadar kalau mereka adalah orang berhati mulia yang telah menyelamatkanku dari sumur yang gelap dan dingin itu?
Aku keluar dari rumah sakit di musim semi tahun berikutnya. Walau pada awalnya aku sudah menolaknya, dengan alasan bahwa pekerjaannya sebagai pengacaraku belum selesai, Higuruma-san menemaniku kembali pulang ke rumah. Rumah tempat tinggalku bersama dengan Nanami-san selama bertahun-tahun itu. Saat aku berdiri di hadapan pintunya, aku merasakan perasaan nostalgia. Kuputar kenop pintunya perlahan dengan harapan bahwa Nanami-san akan menyambutku di genkan[24] dengan wajah lelah dan helaan napasnya. Namun… Yang menyambutku hanyalah kegelapan dan keheningan.
"Tadaima[25]."
Walaupun aku tahu Nanami-san tidak akan pernah menyambutku lagi. Aku tetap ingin mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang tadinya hanya kudengar dari drama televisi atau film. Sejak hidup bersama dengan Nanami-san, aku jadi dapat mengucapkan kata-kata itu. Nanami-san telah mengajarkan padaku tentang arti dan kehangatan yang terkandung di dalam kata-kata sederhana itu.
"Okaerinasai[26], Yume."
Meskipun aku tahu dan sadar dengan sepenuhnya bahwa suara itu hanyalah halusinasi yang terjadi di dalam kepalaku. Aku tetap berjalan masuk menuju ruang tamu, ke arah tempat suara itu berasal.
"Maafkan aku pulang terlambat, Yume. Mengapa kau berwajah sedih seperti itu? Maafkan aku. Aku pulang terlalu lama ya, kau pasti kesepian. Kemarilah."
Di hadapanku. Aku bisa melihat dengan jelas Nanami-san yang sedang duduk di sofa, menatapku lembut sambil merentangkan kedua tangannya.
Nanami-san… Ya… Aku kesepian. Mengapa kau pergi meninggalkanku lama sekali? Aku sungguh-sungguh merindukanmu Nanami-san…
Seolah-olah ingin terjun ke dalam pelukannya, aku berjalan cepat dan kemudian duduk di sofa tempat Nanami-san biasa duduk, sambil mengalirkan air mata tanpa suara kupeluk erat-erat kotsutsubo[27] Nanami-san di dalam dadaku.
"Okaerinasai[28], Nanami-san."
…
Walau aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi kuat seperti yang dikatakan oleh Nanami-san di surat terakhirnya, sedikit demi sedikit walau terasa sangat berat, aku berusaha untuk melangkahkan kakiku. Karena aku kemudian menyadari… Bahwa di dalam perutku, aku sedang mengandung anak Nanami-san.
Saat menyadarinya, aku seperti melihat segumpalan cahaya muncul di dalam sumur gelap yang mengurungku. Aku hanya tidak menyadarinya. Saat aku menoleh, ternyata sejak awal cahaya itu telah ada dan terus menemaniku. Kali ini Nanami-san sepertinya salah. Nanami-san tidak meninggalkanku sendirian. Nanami-san telah meninggalkan harta yang tak ternilai untukku. Bahkan melebihi nilai semua harta yang ingin Nanami-san berikan kepadaku. Demi Nanami-san dan anak dalam kandunganku, aku tidak boleh terus bersedih, aku akan mulai melangkah maju dan mencari kebahagiaan kami berdua.
Karena aku ingin memulai hidup baru berdua saja bersama dengan anakku yang akan lahir, aku tidak ingin lagi merepotkan Higuruma-san. Jika aku mengatakan bahwa aku sedang mengandung seorang anak, Higuruma-san pasti akan lebih banyak berbuat hal untukku dan memberikan padaku lebih banyak kebaikan. Aku tidak ingin bermanja lagi. Pada kebaikan hati Higuruma-san atau pada siapapun. Demi anak yang ada di dalam kandunganku, aku akan hidup mandiri dan belajar untuk menjadi kuat.
Tanpa mengatakan apapun pada Higuruma-san aku pindah dari Tokyo ke Sendai. Sambil mulai bekerja sambilan di sebuah toko buku kecil di depan stasiun, aku menjalani hari-hari berdua bersama dengan anak yang ada di dalam kandunganku. Tidak hanya terjadi perubahan pada tubuhku, namun aku bisa merasakan terjadi perubahan pada perasaanku. Aku sudah tidak lagi berada di dalam sumur itu. Dituntun oleh cahaya yang diberikan oleh anakku dan Nanami-san, akhirnya aku bisa melihat apa yang ada di hadapanku dengan lebih baik. Waktuku kembali berdetak. Dunia terlihat menjadi begitu hangat. Sungguh luar biasa perasaan seseorang ketika sedang mengandung seorang anak. Apakah saat mengandungku ibu juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan?
Beberapa bulan berlalu. Perutku terlihat semakin membesar dan aku pun semakin mendekati waktu melahirkanku. Di saat itulah, aku kembali bertemu dengan Higuruma-san.
Meskipun sudah beberapa waktu berlalu, Higuruma-san masih sama seperti Higuruma-san yang kukenal. Walau wajahnya masih selalu terlihat lelah, tapi Higuruma-san masih memberikan pandangan mata yang begitu lembut terhadapku seolah-olah aku yang ada di hadapannya adalah sebuah benda yang sangat rapuh. Sikap dan gerak geriknya pun masih sama. Cara bicaranya juga belum berubah, masih dapat membuat hatiku merasa tenang dan nyaman.
"Syukurlah… Kau terlihat sehat dan baik-baik saja."
Walau Higuruma-san mengucapkan kata-kata itu sambil memejamkan matanya, tapi wajahnya memperlihatkan senyum tipis yang sangat hangat.
Aku tidak tahu bahwa Higuruma-san bisa tersenyum seperti itu. Tanpa kusadari… Dengan kebaikan hatinya Higuruma-san telah menyentuh rasa kesepianku dan melenyapkannya dengan lembut. Sejak awal ternyata aku tidak sendirian. Nanami-san tidak pernah meninggalkanku sendirian. Nanami-san mengirimkan Higuruma-san kepadaku untuk menyelamatkanku. Jika Higuruma-san tidak ada, jika saja Higuruma-san tidak memberikan surat dan cincin peninggalan Nanami-san padaku, aku pasti sudah tidak dapat terselamatkan dan malah menyakiti anak yang ditinggalkan oleh Nanami-san.
Aku melihat satu lagi cahaya, cahaya yang redup itu muncul kembali tepat di hadapanku. Cahaya yang redup itu ternyata diam-diam menuntunku dengan perlahan. Menungguku dengan sabar dan selalu melindungiku. Cahaya yang redup itu perlahan-lahan berubah menjadi semakin terang. Melihatnya membuat dadaku terasa panas. Dan tanpa kusadari, akhirnya cahaya itu berjalan mengiringku bersama dengan cahaya milik anakku dengan Nanami-san…
"Yume, sepertinya Yuu-chan sudah tertidur," ucap Higuruma-san dengan suara agak berbisik sambil menggendong seorang anak laki-laki berambut pirang yang tertidur dengan lelapnya di bahunya yang lapang. Seorang anak laki-laki yang memiliki warna rambut yang sama seperti warna rambut Nanami-san. Aku pun bangkit berdiri dari jongkokku dan berjalan menghampiri mereka berdua. Kemudian kubelai rambut pirang itu dengan sangat lembut. Aku bisa mendengar suara napasnya yang teratur.
"Ah, benar. Yuu-chan pasti selalu bisa cepat tertidur jika digendong Higuruma-san ya."
"Tidak… Ini pasti karena ia kelelahan. Di sepanjang perjalanan tadi, ia selalu heboh karena untuk pertama kalinya melihat laut bukan?"
"Benar juga ya. Manisnya~ Reaksinya persis sama sepertiku waktu dulu pertama kali Nanami-san mengajakku pergi melihat laut."
"…Tentu saja, kalian kan ibu dan anak."
Mendengar kata ibu dan anak membuat hatiku seperti berada di musim semi dan bunga-bunga di dalamnya kembali bermekaran.
"Kalau begitu aku kembali ke mobil duluan untuk menidurkan Yuu-chan. Kau tidak perlu terburu-buru, aku akan menunggumu."
Selalu seperti itu. Higuruma-san selalu setia menungguku. Bertahun-tahun lamanya. Walau aku selalu berkata bahwa aku hanya mencintai Nanami-san, tapi ia tidak pernah menyerah dan meninggalkanku. Higuruma-san tetap berada di sisiku dan menjagaku. Cahayanya selalu merengkuhku.
Mungkin itu sudah sifat dasarnya sebagai seorang pengacara. Mungkin juga tidak.
Sambil memejamkan mataku dan mengatupkan kedua telapak tanganku, aku kembali berjongkok di depan sebuah nisan batu granit berukuran sekitar 9 inci yang terlihat mengkilap karena terkena cahaya matahari senja. Terlihat juga banyak tetesan-tetesan kecil air pada permukaannya karena aku dan Higuruma-san sebelumnya telah menyiramnya dengan air. Sebelum menyiramnya, kami telah menggosok terlebih dahulu permukaan batu granitnya untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel. Yuu-chan juga membantu kami berdua menggosoknya sedikit.
Saat kupejamkan mataku, aku bisa mendengar dengan jelas suara debur ombak yang membentur tebing di bawah kami, dan di saat yang sama menghirup aroma asap dupa yang terasa menenangkan namun menyedihkan.
Kubuka kembali kedua kelopak mataku dengan perlahan. Kutatap dengan penuh kasih sayang nama lengkap Nanami-san yang terukir vertikal pada nisan batu granit itu.
Nanami-san, terima kasih.
Berkat dirimu yang telah menyelamatkanku dari kegelapan aku belajar tentang perasaan manusia. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakanmu. Sampai kapan pun hanya kaulah yang kucintai. Ayo kita terlahir kembali. Jika saat itu tiba, kali itu biar aku yang akan menghampiri dan menjemputmu. Akan kuberikan senyuman terbaik yang pernah ku punya.
…
終
Fanfiction oleh nanamei103
Cerita utama dan karakter asli oleh Akutami Gege (Jujutsu Kaisen)
[1] Istilah untuk segala hal yang berhubungan dengan kutukan.
[2] Seorang penyair, sarjana, dan politikus terkemuka yang hidup pada jaman Heian (845 – 903 M).
[3] Seorang sarjana dan politikus yang pernah menjadi murid Sugawara no Michizane (856 – 908 M).
[4] Politikus rival dari Sugawara no Michizane (871 – 909 M).
[5] 794 – 1185 M.
[6] Samurai yang memberontak melawan pemerintahan kaisar di Kyoto (900 - 940 M).
[7] Kaisar ke-75 (1119 – 1164 M).
[8] Energi kutukan yang ada di dalam diri seorang Jujutsushi.
[9] Teknik kutukan.
[10] 6 Mata = Teknik kutukan bawaan lahir yang diwariskan secara turun-temurun di keluarga Gojou.
[11] Shaman = Manusia yang bisa menggunakan energi kutukan.
[12] Teknik kutukan bawaan dari lahir yang pada umumnya dimiliki oleh seorang Jujutsushi.
[13] Tōkyō Toritsu Jujutsu Koutou Senmon Gakkou = Sekolah Tinggi Teknik Kutukan Metropolitan Tokyo.
[14] Rumah tradisional khas Jepang yang sebagian besar terbuat dari kayu, pintu geser, dan tatami.
[15] Camellia japonica (bunga kamelia).
[16] Istilah untuk karakter yang galak dan dingin namun sebenarnya berhati baik dan lembut.
[17] Lagu anak-anak terkenal yang menceritakan tentang seorang anak yang tidak sengaja menginjak ekor seekor kucing.
[18] Makhluk kutukan yang terbentuk dari kumpulan emosi negatif yang dipancarkan oleh manusia.
[19] Tirai yang terbuat dari energi kutukan dan menyelubungi suatu area. Berfungsi untuk melindungi suatu area atau sebagai penghalang agar tidak dimasuki oleh orang yang tidak diinginkan.
[20] Orang biasa yang tidak memiliki energi kutukan.
[21] Menara penyiaran dan observasi yang terletak di wilayah Sumida, Tokyo.
[22] Orang sipil yang bisa melihat kutukan dan energi kutukan dan membantu orang-orang Kousen dalam menyelesaikan misi.
[23] Objek terkutuk tingkat tinggi yang berupa kotak penghalang yang dapat menyegel apapun atau siapapun di sebuah kotak dimensi.
[24] Area pintu masuk yang berupa ruang kecil tempat mengganti alas kaki setelah pintu masuk.
[25] Aku pulang.
[26] Selamat datang kembali.
[27] Guci untuk menyimpan abu kremasi.
[28] Selamat datang kembali.
Catatan penulis :
Akhirnya saya bisa menyelesaikan cerita ini. Saya mencurahkan segenap perasaan saya ketika menulis cerita ini, tentu dengan mengalami tekanan batin. Saya akan sangat senang sekali jika dapat membaca komentar kalian :)
