Kunci (c) faihyuu
Naruto (c) Kishimoto Masashi
Rated K (plus)
Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), beberapa bahasa tidak baku, dsb.
Terinspirasi dari salah satu dalam submit #KisahKamu, kisah milik kawaiitebayo (Twitter). Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.
Ketika ada yang mengatakan mimpi hanyalah menjadi bunga tidur belaka, maka mungkin akan dijawab pertentangan sinis oleh Hyuuga Hinata. Bagi gadis itu, mimpi ialah kunci dari segala kunci hidupnya. Pembuka tabir dari masa depan yang menanti sang dara.
Seperti saat ini—dengan berbekal mimpi masa kecil seremeh ingin menjadi seorang koki bak yang pernah disaksikannya di televisi. Tak luput segala keringat dan air mata yang meraih mimpi. Bertahun-tahun sekolah kuliner dengan segala titik terendah maupun kulminasi. Hyuuga Hinata nan kini berusia seperempat dari abad berhasil berdiri di sini.
Di sini. Di bangunan pada pinggiran pusat kota nan sibuk. Dua lantai bangunan yang merupakan miliknya sendiri. Sebuah restoran hasil segala kerja kerasnya. Hinata yang kini tengah tersenyum bangga. Manik kecubung yang hampir mengabur karena haru.
Ramai. Senyum dan tepukan itu beragam. Ayahnya—Hiashi—yang bahkan jarang memberikan senyum, kini tersenyum dengan sejelas-jelasnya. Sejernih kristal air. Pun Neji yang kini bersama dengan istrinya, Tenten—memberikan tepuk tangan nan meriah. Jangan lupakan pula Hanabi sang adik yang paling membuat suasana makin meriah.
Hinata mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menahan air mata haru—yang mungkin jika terjatuh akan terasa memalukan. Dengan segala kamera yang merekam seluruhnya, Hinata mencoba menyunggingkan senyum terbaik milik sang gadis. Memandang rekan serta tolan yang diundangnya. Wajah-wajah yang dikenali Hinata. Pun ketika manik tanpa pupil unik milik sang dara bertemu dengan salah satu safir paling terang di sana. Di antara puluhan pasang mata, mata biru itulah yang paling disukainya. Memikat hatinya.
Pemilik safir itu seorang pemuda. Memilki helai pirang kuning paling cerah di sana. Seseorang yang tercatat di dalam hatinya sebagai orang nan dicinta.
Dahulu, mungkin—hingga detik ini.
Pemuda itu berkata sesuatu, tak dapat didengarnya. Namun, sedikit-sedikit dapat ditangkap oleh Hinata.
"Semangat, Hinata!"
.
Setelah rangkaian acara pembukaan—menggunting sebuah pita cantik warna lavendel kesukaannya di depan pintu restoran milik sang Hyuuga. Pun kesibukan awal Hinata di dapur besar bak mimpinya bersama para kawan-kawan koki lain yang dipekerjakan oleh si gadis nila. Hinata disaksikan oleh banyaknya manusia tengah menyajikan segala usaha dan kecintaannya pada dunia kuliner dengan mencoba mematenkan sebuah rasa. Mengundang decakan kagum dari para pemirsa. Dapat dikatakan saat ini merupakan menuju puncak acara utama.
Unjuk kebolehan pun usai, pada lantai satu yang luas, di tengah keramaian nan saling berbagi euforia. Persembahan awal, masakannya sendiri untuk seluruh orang-orang terpenting bagi si gadis Hyuuga. Acara makin meriah, pembawa acara hari itu benar-benar melakukan tugasnya. Hinata tersenyum tipis dalam ledakan bahagia.
Sepiring cantik spaghetti aglio e olio khas Naples dari Italia tersaji di sana.
"Sekarang—" Sang pembawa acara—seorang wanita muda bernama Fuu, melirik Hinata sejenak. "—kita akan masuk ke dalam salah satu acara terpenting. Acara suap-menyuap, tapi jangan salah sangka. Suap-menyuap ini tentunya sangat aman, tidak akan dijemput oleh KPK."
Ledakan tawa dan tepuk tangan meriah itu kembali membuat senyum Hinata mengurva.
"Kita persilakan kepada Chef Hyuuga untuk memberikan suapannya pada keluarga dan orang-orang terpenting baginya." Fuu memberikan gestur mempersilakan, membuat khalayak makin ramai. Dengan agak gugup, Hinata mengambil satu garpu dari banyaknya yang tersedia. Pun ketika ayahnya mendekat dan tersenyum penuh bangga—dengan setitik pandangan haru.
Hinata memandang ayahnya sejenak, pria paruh baya itu mengangguk. Dengan senyum kecil, gadis nila itu mulai menyuap sang ayah dengan spaghetti. Diterima Hiashi dengan baik. Kembali tepukan riuh dan decakan kagum makin menggila.
"Enak," Hiashi mengelus pelan kepala putrinya, Hinata hampir menangis. "Masakan putri Ayah selalu enak. Ibu pasti bangga di atas sana."
Hinata mengulum senyum, Hiashi mundur—tergantikan Hanabi yang tersenyum-senyum lucu. Membuat sang gadis nila kini menahan tawa. "Hanabi tidak, ya."
"Kak~" Hyuuga Hanabi mengerucutkan tubir, Hinata menahan gemas melihat adiknya.
"Iya, iya. Ini~" Demi menjaga higienitas, Hinata meletakkan garpu bekas sang ayah dan kembali megambil yang baru. Dengan berhati-hati menyuapi adiknya. Membuat Hinata sedikit bernostalgia sejenak bahwa saat kecil gadis juga sering menyuapi Hanabi. Semenjak ibunya didekap oleh maut saat Hinata masih kecil, gadis itu secara alami perlahan mulai menggantikan pula tugas sang ibu untuk merawat Hanabi nan masih tak kalah kecil. Hinata mengelus rambut cokelat tua milik adiknya dengan gemas. Dan sedikit tawa menggelegar karena adiknya itu memberikan jempol pun mengecup pipinya tiba-tiba.
Selanjutnya ada Neji—sang sepupu suportif nan telah dianggap kakak laki-laki kandung dan membantu Hinata dalam pembangunan restoran pertamanya ini. Disusul oleh istri Neji, Tenten yang tak kalah baik dan telah dianggap kakak perempuannya juga.
Hinata kembali meletakkan garpu terakhir, tetapi Fuu si pembawa acara melihatnya dengan agak aneh.
"Tidak ada orang terpenting lagi, Chef?" tanyanya pada Hinata. Sang Hyuuga nila hanya menggeleng. Namun Fuu belum menyerah. "Pacar gitu? Atau bahkan suami? Hehehe."
Seketika para pengunjung berbisik-bisik, Hanabi menanggapinya santai. "Chef Hyuuga masih jomlo!"
"Wah, kami kira sudah ada pawangnya," Fuu masih terkikik. "Siapa tahu saja di sini ada yang buat semangat gitu, crush atau teman apa teman."
"Kalau crush sih kayaknya ada, di sini juga malah." celetukan itu lumayan besar, Hinata menoleh. Asalnya dari para khalayak pengunjung. Tepatnya seorang gadis yang seumuran dengan Hinata, berambut merah muda dan diangguki dengan pandangan menggoda oleh seorang gadis berhelai pirang amat pucat di sampingnya. Pun di belakang mereka berdua terdapat dua pemuda—satu berkacamata dan satu berambut cokelat dengan pakaian rapi memandangnya tak kalah jahil sembari bersiul.
Hinata tentu mengenal mereka seluruhnya. Uchiha Sakura, Yamanaka Ino, Aburame Shino, dan Inuzuka Kiba. Para kawan masa SMA yang dekat dengannya. Diundang dengan penuh kebanggaan sebagai tamu kehormatan milik Hinata.
"Ayo, Hin! Mumpung orangnya ada di sini, nih!" Ino ikut mengompori bersama Sakura. Barisan kawan-kawan yang diundangnya makin menggila.
Hinata berdeham, tetapi seluruh pertahanannya hampir runtuh begitu saja. "T-tidak ada, kok. Jangan aneh-aneh, ya. Keluarga Hyuuga sudah berada di sini seluruhnya."
"Ayo, dong, Chef Hyuuga! Masa benar-benar tidak ada, sih?" Gadis nila itu berjanji untuk menandai Sakura yang masih menggodanya. "Jangan berbohong begitu, ah!"
Begitu pun sesosok pemuda yang kini tengah memandangnya dalam dengan mata birunya. Pemuda tadi yang berambut pirang mencereng bak matahari nan memberikan cahaya. Berada di dekat mereka berempat dan lumayan mencolok pula. Pemuda itu memang hanya diam, tetapi tampak tak pernah melepaskan pandangan biru itu dari Hinata. Membuat sang gadis Hyuuga sedikit salah tingkah dan memilih mengalihkan pandangannya.
"Waduh, siapa tuh?" Fuu ikut menanggapi. "Ayo, mungkin yang merasa menjadi crushnya Chef Hyuuga bisa maju. Kayaknya Chef Hyuuga juga malu untuk memanggil, nih!"
Pemuda itu masih memandangnya—dan Hinata merasa terdapat binar-binar harap di sana. Pun senyum pemuda itu, bagai menghipnotis dirinya. Kenangan-kenangan masa remaja kembali membara dalam nostalgia. Membuat Hinata merasa gila.
"Ayo, maju crushnya Chef Hyuuga!" Kiba yang memang memiliki jiwa merusuh nan besar—mulai menyenggol pemuda pirang mentereng tadi.
"Siapa-siapa? Ini berarti ada di barisan tamu kali, ya?" Fuu melirik, senyumnya tak kalah jahil. Dan Hinata yang merasa dirinya benar-benar akan meledak.
"Naruto, maju, Nar!" Kiba mendorong pemuda bermata biru itu, pun Ino demikian. Menjadikan pemuda itu benar-benar mendekat dan terlihat dengan jelasnya.
"Wahhhhh, jadi ini uhumnya Chef Hyuuga. Namanya siapa, Tuan?"
"Saya—" Pemuda bak mentari itu mengerjap sejenak. "Uzumaki Naruto."
•••
Naruto. Nama sakral masa remaja seorang Hyuuga Hinata. Teman sekelas selama hampir dua tahun di masa SMA dari tahun pertama hingga kedua. Pemuda pirang mentereng tadi, yang akan selalu diingat Hinata sebagai siswa agak berandal langganan BK—tetapi mencintai basket dan memiliki kemampuan mengejutkan dalam menghitung pada pelajaran matematika. Uzumaki Naruto yang bebas, bagai burung nan menguasai langit biru. Pemuda nan Hinata akan selalu sukai pribadinya nan hangat juga ceria. Walau berandal, menghargai seluruh kawan-kawannya. Naruto yang dahulu pernah berada dalam kelompok belajar nan sama dengan dirinya.
Hinata masih sangat ingat. Kelompok belajar itu untuk mempresentasikan sejarah peminatan yang dianggap membosankan oleh sang Uzumaki muda saat tahun kedua mereka di SMA. Pemuda itu yang selalu memilih untuk mengajak Hinata bercengkrama dibanding mengerjakan tugasnya, tetapi gadis itu tak pernah mempermasalahkan. Hinata memang tak begitu ingat apa yang mereka bicarakan pada awalnya, tetapi sang dara akan selalu ingat pertanyaan dan lanjutan kata nan Naruto ucapkan hari itu.
"Apa cita-citamu, Hinata?" Pertanyaan Naruto itu bagai terus menerus terulang dalam kepala Hinata. Hinata ingat, kala itu dirinya terdiam sejenak—membiarkan beberapa detik hening dalam semesta mereka. Kelas yang sepi karena memang telah ditinggalkan para siswa maupun siswi karena bel pulang nan telah berbunyi, menyisakan beberapa orang saja. Keduanya dan beberapa kawan kelompok mereka lainnya yang kala itu tengah melaksanakan tugas piket mereka.
"Mungkin," Hinata berhenti menuliskan rangkumannya sejenak. "Aku ingin menjadi chef, koki."
"Berarti kuliah nanti mau ambil tata boga?" tanya pemuda itu dengan manik safirnya nan memandang Hinata penasaran. Membuat Hinata kembali memandang balik pemuda itu dengan tatapan tanya. Ketika itu, cita-cita Hinata dan juga mimpinya dianggap agak aneh oleh banyak orang. Atau sesekali pula ditanyai hal-hal nyeleneh tentang acara memasak di televisi, pun bahkan sempat disayangkan keluarga Hyuuga karena dianggap menyia-nyiakan nilainya yang selama ini lumayan tinggi demi memasuki dunia nan jauh dari ekspetasi mereka. Namun, Naruto berbeda. Pertanyaan itu langsung ke inti. Tanpa ada maksud apa pun selalu memang menjawab pertanyaan dalam diri.
"Tata boga boleh, tapi aku lebih ingin pergi ke sekolah kuliner secara langsung," Hinata segera mengalihkan pandangannya lagi, menatap Naruto dengan mata biru yang berbinar itu terkadang cobaan tersendiri. Dadanya berdebar amat kencang, hampir ingin meledak—si nila hanya berharap suaranya tak terdengar sampai ke telinga si Uzumaki. Begitu pula dengan wajahnya yang memanas, Hinata yakin pasti merah bak kepiting rebus. "Mimpiku ingin menjadi koki yang terkenal dan mungkin bisa membangun restoranku sendiri. Ya, memang terdengar seperti benar-benar mimpi."
"Loh? Kenapa? Kan mimpi itu sendiri merupakan kunci tujuan hidupmu. Kau sudah keren ingin mengejarnya! Pokoknya, kalau kamu sudah sukses jadi koki nanti—jangan lupakan aku, oke? Aku ingin mencicipi masakanmu. Pasti enak! Terus kalau kau punya restoran sendiri nanti, undang aku makan di sana, ya!"
Mimpi merupakan kunci tujuan hidup—Hinata benar-benar menanamkan hal itu dalam hati. Menjadikan gadis itu kuat ketika berada di titik terendah kala berhasil mencapai salah satu gerbang tujuannya—memasuki sekolah kuliner di pulau seberang. Tinggal jauh dari orang tua, menahan tangis merasakan seluruh kesulitan mencari ilmu, kesendirian nan hampir menelan segala rasa.
Hyuuga Hinata menyembuhkan diri pada titik-titik terendah itu dengan hanya mengingat kata-kata sederhana dari Naruto, bahwa dirinya keren. Keren karena sudah berniat mengejar mimpinya. Kata-kata yang menjadi kunci dari segala kunci bagi Hinata.
Dan siapa sangka, bahwa Hinata saat ini benar-benar mewujudkan perkataan Naruto kala itu?
•••
"Ayoo, Tuan Uzumaki bisa langsung ke sini saja!"
Suara Fuu mengembalikan Hinata dari nostalgianya sejenak.
Makin riuh, ditambah sorakan "cie-cie" benar-benar meledakkan diri Hinata. Pun gadis itu menguatkan untuk tidak jatuh pada titik hitam kala melihat Naruto yang maju. Para kawan-kawannya yang bersiul dan sesekali masih mendorong sang Uzumaki. Hanabi yang kini bersiul-siul, ditemani Tenten nan melihatnya dengan tatapan memuja. Teman-teman sang Hyuuga yang kini merusuh seluruhnya.
Ketika Naruto benar-benar mendekat, Hyuuga Hinata merasa gempa—dengan gemetar dirinya mengambil garpu lagi. Mencoba menggulung spaghetti dengan benar—sebelum dengan rasa takut mencoba menyuapkannya pada Naruto yang kini bahkan mendekatkan diri kepada Hinata. Pemuda itu sudah membungkuk, bersiap untuk suapan spaghetti.
Hinata yang tak lagi memiliki pilihan lain, dengan masih bergetar—berhasil menyuapi pemuda itu. Seketika kembali kecubung pucatnya bertemu dengan safir, kini jauh lebih dekat dan terasa intim. Suara-suara berisik dari riuhnya khalayak kini seakan menghilang begitu saja. Naruto tersenyum tipis.
"Sudah kuduga, masakanmu akan sangat enak. Terima kasih, Hinata."
Hanya suara agak kecil dari pemuda itulah yang dapat gadis itu dengar saat ini. Pun menjadi kaku kala helai-helai nila kebanggaannya dielus pelan oleh sang Uzumaki. Senyum yang mungkin takkan pernah luntur dari Naruto dan akan selalu Hinata syukuri.
"T-terima kasih."
.
Pertemuan tadi rasanya amat singkat, tetapi Hinata merasa tak lagi dapat meminta lebih kepada waktu. Bagaimanapun, pesanan yang melimpah di hari pertama pembukaan restorannya ini menjadi salah satu keberkahan tugas Hinata untuk menjamu segala tamu. Kembali bertempur di dapur bersama rekan-rekan koki dan pegawai lain, memanjakan lidah para pengunjung dengan cinta pun dedikasi mereka.
"Chef," Pundaknya ditepuk, salah satu pegawai memanggil Hinata yang kini sibuk dengan saus pasta.
"Ada apa?" Tanpa menoleh gadis Hyuuga nila itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Mas Crushnya manggil tuh di luar. Sudah dibilang Chef lagi sibuk, tapi dia ngotot juga bilang sebentar saja."
Seketika gerakan Hinata terhenti, gadis itu membeku. "H-hah?"
Pegawainya agak tersenyum geli. Gadis nan tak kalah muda darinya itu memberikan jempol ke arah belakang dapur. "Mas-mas pirang yang tadi disuapin sama Chef sudah nunggu di belakang. Yang duduk di meja tujuh, bertiga sama ada pasutri, suaminya baru datang."
Hinata ingat, meja ketujuh sampai sepuluh memang diisi oleh kawan-kawannya. Dan meja ketujuh memang berisikan Naruto, Sakura—dan suami Sakura, Sasuke nan memang agak terlambat datang. Gadis itu yang tak berani menyapa mereka setelah kejadian suapan kepada Naruto tadi, benar-benar memilih untuk mengalihkan segala atensinya pada dapur nan sibuk.
"E-eh?"
"Sudahlah, temui saja dahulu, Hin," Seorang koki lainnya, rekan Hinata ikut menepuk pundak sang nila. Mengambil sendok saus dari genggaman Hinata. "Daripada nanti digondol kucing cowokmu itu."
"K-kak Karui—"
"—sudah, sana." Koki berambut merah dan bermata amber cerah itu mendorong lembut dirinya, membuat Hinata mau tak mau hanya dapat mengangguk, kemudian mengucapakan terima kasih dengan suara nan amat kecil.
.
Pemuda pirang itu benar-benar menunggunya, di bagian belakang bangunan restoran baru itu—entah menatap apa pada angkasa yang cerah siang ini.
"N-Naruto-kun memanggilku?"
Naruto menoleh, memberikan kembali senyum terbaiknya. Tanpa tedeng aling-aling, menanyakan sesuatu yang membuat Hinata bertanya-tanya. "Minggu sore besok, apa kau agak senggang Hinata?"
Gadis itu kembali terdiam sejenak, entah yang keberapa kali. Namun setelahnya mengangguk pelan dan memberikan Naruto sebuah jawaban. "Ya, aku lumayan senggang Minggu sore."
"Bagus. Nanti aku jemput ke apartemen saja, ya? Maaf juga, tidak bisa lama-lama di sini—walau aku ingin dan masakanmu juga sangat enak. Tapi aku ada rapat satu jam lagi," Naruto merogoh sesuatu dalam saku celana. Sebuah kertas yang telah dilipat. "Dibukanya nanti saja, kalau sudah pergi, oke?"
Pun Hinata yang entah keberapa kalinya lagi membeku atas perlakuan Naruto, pemuda itu dengan cepat mengusap kembali rambut nila milik sang dara. Dan kali ini, Hinata benar-benar merasa kurang waras. Ketika pemuda itu mendekatkan wajah mereka untuk mengecup singkat pipinya.
"E-eh?"
Uzumaki Naruto kemudian pergi begitu saja dari sana. Meninggalkan Hinata sendirian yang merasa tak lagi kuasa berdiri, menyenderkan tubuhnya pada tembok di belakang—hampir meleleh akan segala nan dilakukan sang pemuda.
Melihat bagaimana punggung itu makin menjauh dan kini mulai hampir menghilang dari pandangan—Hinata membuka lipatan kertas itu. Namun bukannya membantu, malah membuat gadis itu risau. Seluruh tubuhnya menghangat, mungkin benar-benar akan meledak.
[ Jika foie gras berasal dari hati angsa, boleh tidak namamu ada di hatiku, Hinata?
Untuk kejelasan Minggu sore besok hubungi 81xxx-xxxx-xxxx ]
Ini—ajakan kencan 'kan?
Iya, 'kan?
Rasanya bagai mimpi, tetapi mimpi ialah segala kunci dari hidupnya. Hinata tersenyum, berjalan kembali menuju dapur bak jeli.
.
.
.
Selesai
.
.
.
"...ta!"
"...nata!"
"Hinataaa!"
Sayup-sayup Hinata mendengar namanya dipanggil, dalam kegelapan tak berujung—hanya sedikit abstrak kemerahan yang tak menyeramkan dan terasa familier bagi sang dara. Sebelum akhirnya cahaya menyilaukan benar-benar datang secara tiba-tiba.
Cahaya dari mentari bagi yang bersinar cerah melalui jendela dengan gorden nan sedikit terbuka.
Gadis Hyuuga itu bangkit perlahan dengan senyum sendu, masih mimpi.
Namun, mimpi tetaplah kunci 'kan, Hinata?
