"Oda..", Seorang pria, berkacamata memanggil nama sang teman berwajah kalem bernama Oda Sakunosuke yang juga salah satu anggota dari geng mereka. Buraiha, "Ini tidak biasa tapi Dazai terlambat", katanya. Intonasinya merasa bahwa ini sungguh tidak biasa

"Ah, sudahlah. Paling juga dia sedang berjalan kesini", ujarnya santai

"Iya, aku juga merasa seperti itu. Tapi dia yang menyuruh kita kesini. Apa yang dia rencanakan? Apa ini hari yang spesial?", Sakaguchi Ango namanya, bertanya heran dan Odasaku hanya merespon dengan acuh tak acuh

"Entahlah, sebaiknya kita tunggu saja"

Mereka akhirnya memesan beberapa minuman beralkohol. Tapi, untuk Ango yang tidak kuat alkohol, dia hanya memesan minuman non-alkohol yang tersedia.

Hingga beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara berisik dari pintu masuk

"HAH?! UNTUK APA KAU MEMBAWAKU KESINI!?"

"Sudahlah, ikut saja"

Telinga mereka sontak menjadi fokus dengan sang suara

"...Itu suara Chuuya", ujar Ango yang sudah menghabiskan minumannya

"...untuk apa dia membawa Chuuya kesini?"

Beberapa saat setelah suara bertengkar itu, masuk 2 orang

Seorang yang pertama tentu saja Dazai dan yang kedua, seorang anggota baru Port Mafia, Nakahara Chuuya. Oda dan Ango terdiam dengan orang luar yang masuk bersama Dazai

"Yahoo Ango, Odasakuu!", Dazai berseru, "Lihat siapa yang aku bawa!"

"...Nakahara-san", jawab mereka berdua serentak

"Untuk apa kau membawanya ke sini?", Ango bertanya penuh keheranan, sedangkan Odasaku

"..selamat datang, Chuuya", ujarnya menyambut, tapi Chuuya hanya memberinya tatapan sekilas.

Dazai melanjutkan

"Aku punya rencana untuk kita mainkan, ditambah salah satu orang dari luar Buraiha. Chuuya Chibikko"

Mendengar ejekan seperti itu, Chuuya malah kena emosi

"HAHH?!! KAU YANG MEMBAWAKU KESINI, DASAR PEMBUANG PERBAN!!"

"Shshsh..

Chibikko, kau bisa duduk disamping Ango", katanya sedikit memerintah, dan syukurlah Chuuya menurutinya tanpa ceng cong apapun. Setelah semuanya rapi dia memulai pembicaraanya

"Jadi, aku punya rencana

Kita sudah kurang lebih lama saling mengenal, kan? Tentu selain Chuuya karena dia baru dilantik", katanya, " baiklah, jadi rencanaku adalah...

Pilih salah satu orang untuk kalian kencani selama seminggu! Biar aku duluan"

Ango yang mendengar itu lantas berbicara dalam hati "pasti dia akan memilih Odasaku"

"AKU MAU BERKENCAN DENGAN CHUUYA!!"

"APA!?"

Dazai serta merta memegang tangan partner barunya tapi beberapa kali di tepis

"Aku tidak gay."

"Sama, aku juga tidak 3 "

Seiring dengan Chuuya dan Dazai yang masih cekcok perihal Homoseks dan Heteroseks, Odasaku dan Ango sudah saling melirik malu-malu

"Uh..jadi.."

"Mn. Ayo berkencan.", Ujar Odasaku tanpa banyak basa-basi, "Kita akan berpacaran, begitukah, Dazai?"

Dazai sedikit terkekeh

"Iya iya, lagipula kalian terlihat cocok~", katanya memberikan persetujuan mutlak atas kesepakatan Oda dan Ango

"Ango..", Odasaku memanggil dengan penuh kelembutan yang dia tuangkan ke dalam namanya, "Ayo ngeseks"

Satu bar terdiam, Oda bisa se blak-blak itu ternyata

"N-ngeseks? Tapi aku laki-laki", katanya membela diri, "Pertimbangkan lagi, Odasaku.."

Odasaku sedikit merasa tertohok karena Ango seperti menolak permintaannya

"Aku sudah yakin 1000 yakin. Aku bahkan sudah membeli pelumasnya.

Ayolah, Ango..

Ini bisa saja kesempatan sekali seumur hidup", sepertinya Odasaku memang sudah menahan nafsunya sejak lama karena dia sudah siap-siap dengan pelumas yang dibutuhkan untuk anal sex.

Berkat keteguhan Oda, Ango mulai merasa goyah mempertahankan keperjakaannya.

"Odasaku...

Kau akan tetap memakai kondom, kan?", Ango bertanya sedikit lebih rinci sebelum menerima keinginan Odasaku, dan tentu saja. Odasaku menjawab dengan pasti dia akan memakai pelindung agar tidak terlalu berantakan nantinya

"Tenang saja, semuanya sudah kupersiapkan", katanya, "jadi, apa kita sepakat?"

Jantung Ango berdegup buru-buru membayangkan bagaimana seks pertamanya dengan seorang pria yang adalah temannya sendiri

" Y-ya. Kita..sepakat", kata-kata keputusan akhir meluncur dari mulut nya. Odasaku tersenyum senang karena permintaannya di ACC

"SELAMAT!!", Dazai berteriak kegirangan, "Jangan khawatir, Ango, Odasaku mainnya tidak kasar", ujarnya

"Kau sudah pernah melakukannya dengan Oda?", Tanya Ango sedikit kepo

"Tidak, aku tidak pernah. Aku masih perjaka! Aku pernah dengar dari Odasaku sendiri kalau dia mainnya lembut", katanya percaya diri, "pergilah bersenang-senang, Ango. Nikmati servis yang dia berikan"

"Mau melakukannya sekarang?", Oda bertanya sedikit tidak sabaran yang membuat Ango juga sedikit terkejut

"Tapi..aku ada meeting 3 jam lagi", katanya berusaha mengundurkan waktu, tapi sayang seribu sayang, Odasaku tidak meng-ACC pengunduran waktunya

"Ayolah, seks hanya butuh setengah jam", Odasaku menarik tangan Ango pergi keluar bar

"Kabari aku kalau sudah selesaai!!"

Odasaku mengangguk dan tanpa banyak omong, keberadaan Ango dan Odasaku sudah lenyap

"Huh.. bagaimana caranya laki-laki dan laki-laki berhubungan seks?", Dia bertanya polos, membuat Dazai tertawa kecil

"Dari belakang, Chuuya"

"Ngh- ah! P-pelan-pelan..", suara desahan lembut terdengar dari ruang tidur sebuah apartemen

"...", Odasaku kembali memperbaiki cara dia mencari titik kenikmatan Ango didalam sana

"Hnh.. mn.."

"Sakit?"

"Tidak..", Setelah mendapat jawaban, Odasaku juga mendapat ide bagaimana agar Ango tidak merasa sakit ketika dihantam lebih kuat nantinya. Odasaku menarik keluar senjatanya dan meminta maaf untuk sudah membuat nya merasa sakit

Ango tersenyum manis

"Tidak.. lanjutkan saja, aku tidak apa-apa", katanya diiringi sebuah kecupan mendarat di telapak tangan Odasaku

"Aku harus menambahkan pelumasnya. Tadi mungkin terlalu sedikit", katanya membuka tutup kemasan pelumas yang dia gunakan dan meneteskan nya sedikit banyak kedalam lubang berasa surga milik Ango

"Mh-mn..itu tadi cukup banyak..?"

"Sebanyak apapun selama kau tidak mengeluhkan rasa sakit ketika aku sudah masuk", katanya bersungguh-sungguh, membuat Ango terkekeh

"Astaga..sudah, masuk saja", kedua tangannya ia pakai untuk memeluk Odasaku dari bawah, membuat waktunya terasa lebih romantis dan bermakna

"Odasaku..

Aku ingin kau keluar di dalam", katanya tanpa menyembunyikan keinginan agar Odasaku memacu lebih cepat nantinya, "Aku ingin kau mengisiku dengan cairan spesial itu"

Odasaku terperangah, membuat "adik" nya dibawah kembali terbangun, siap untuk pertempuran berikutnya

"Ayo, Odasaku..

F*ck me harder, Daddy~", Ango menggoda Odasaku dengan suara surga yang belum ia keluarkan, Odasaku sedikit menyeringai karena alat tempur nya mengeluarkan sedikit cairan pre-cum akibat godaan Ango yang memang kena sasaran

"Aku tidak akan berhenti meski kau memintaku berhenti, sayang", ia mencium kasar bibir Ango yang sekarang memang sedang menjadi tempat ia menetralkan hormonnya yang kacau karena sudah menahan diri sekian lama

Ia tidak suka m4sturbasi, karena memalukan untuknya untuk mendesah tanpa seseorang yang membuat dia secara alami mengeluarkan suara seperti itu.

"Ah! Aah!! Oda-sa..ku!", Suara itu kembali keluar, setelah sedikit pemanasan agar ia tidak merasa sakit seperti tadi

"Odasaku.. Odasaku! Mhnggh", sepertinya perlakuan Odasaku tadi memang tepat untuk membuatnya lebih menikmati hantaman demi hantaman yang diluncurkan

Odasaku berhenti sebentar, bernafas untuk bersiap kembali memacu

"Ah..", ia membelai lembut pipi sang teman, "didalam sana terasa hangat, kau tahu?"

"Milikmu kuat juga", Ango tertawa kecil, "Lanjutkan, Tuan"

Odasaku tersenyum senang Ango menikmati hal ini sama sepertinya

Tanpa peringatan, secara tidak diprediksi, ia menabrak titik manis milik Ango, membuatnya mendesah nikmat

"Aahh~! D-disitu!"

Odasaku tersenyum dan dengan sengaja kembali menabrak titik manis itu

"Ups, sengaja~"

"Hnn~~h astaga- lagi..

Lebih kuat, Odasaku"

"Baiklah"

Dan ya, dia kembali menabrak titik yang sama, lebih kuat, membuat ranjangnya berderak

"Ah ah!! O- Odasaku..! Hnnghn

A-Aku akan keluar sebentar lagi", racaunya seperti orang mabuk terlena dengan servis Odasaku yang dengan pasti dia beri rating 10/10

"Aku juga, ayo keluar bersamaan", dia kembali menabrak tempat yang sama sebelum akhirnya suara sperma mereka keluar bersamaan

Odasaku dan Ango selesai dengan masing-masing cairan yang sudah keluar

"Hm..berantakan"

"Tidak apa-apa, aku bisa membersihkannya", dia mencium ujung bibir Odasaku sekilas, "kau tadi keluar banyak?"

"Rasanya tidak mungkin tidak keluar banyak kalau milikmu seketat itu, Ango..", perkataannya membuat mereka berdua tertawa

"Capek?", Semenya bertanya, dijawab anggukan

"Iya.. capek, banget. Tapi aku ingin memberimu sebuah servis juga", perkataannya membuat Odasaku bingung

"Untuk ronde kedua?"

Ango mengangguk, "mhm"

"Tapi kau harus istirahat dulu",

"Ah, iya..kau tidak lelah? Soalnya..kau kan yang menabrak-nabrak semua yang didalam sana, tadi", dia mengumbar rasa yang tadi ia rasakan selama waktu seks berlangsung, membuat pipi Odasaku memerah

"Menabrak-nabrak? Um..maaf"

"Tidak, tidak perlu. Aku suka ketika kau berkelana mencari titik yg pas. Rasanya seperti mencari di tempat gelap, ya"

"Mn~ tidak juga, satu-satunya kompas yang aku punya adalah suara desahanmu", katanya

"Hm.. suara desahanku? Kau tadi tidak mendesah, apa perlu kubuat mendesah, tuan~?"

Odasaku sedikit menyeringai

"Silahkan dicoba~"

Ango memegang penis Odasaku yang masih agak tegang meski sudah keluar banyak tadi

"S-sungguh luar biasa", ia menjilat ujung pipa sperma yang secara diketahui banyak orang itu adalah tempat sensitif laki-laki

"Ahn-"

Ango tersenyum, "Kimochii?"

"B-belum cukup"

"Hn..", akhirnya ia melakukan gesekan agar membuat Odasaku terangsang dengan tangannya

"Hnghh!!!"

"Wah, adikmu bangun lagi",ia dengan sigap menjilati penis yang tegang itu dan menghisapnya pelan

"A-ngo...

L-lebih dalam, sayang", ia memohon agar kekasih nya itu menuruti kata-katanya. Ango kembali menjilati seluruh penis Odasaku sebelum memasukkannya ke dalam mulut sampai tenggorokan, memasukkan dan mengeluarkan agar terasa lebih menyenangkan

"Beritahu aku kalau kau akan keluar", ujarnya

Setelah 6 kali Ango melakukan hal yang sama, Odasaku mengerang

"Aku akan keluar-"

Ango menyudahi throating yang dia lakukan sejak tadi dan menutup satu-satunya jalan keluar sperma milik para kaum lelaki

"Sayaangg, aku sudah tidak tahann"

"Tahanlah sebentar, kekasihku..", dia sedikit menjeda Odasaku mengeluarkan spermanya dengan sedikit kembali menjilati penis yang sama

"Baiklah", Ango kembali memasukkan penis itu masuk kedalam tenggorokan nya dan menunggu Odasaku keluar untuk kedua kalinya

"Ngghhh!!!"

"Mn!?", dia sedikit terkejut dengan banyaknya sperma yang masih sanggup ia keluarkan. Mulutnya penuh, ia tidak mungkin mengeluarkan nya dan dia memilih untuk menelannya

"Hah..", Odasaku terkulai lelah, "Tadi itu..seru"

Ango terkekeh setelah menelan seluruh sperma yang tadi sempat tersimpan di mulutnya, "benarkah?"

"Iya.."

Ango merebahkan tubuhnya disamping Odasaku, "Tadi sudah ronde kedua.. mau ronde ketiga?", Dia bertanya

Pria rambut warna merah gelap itu blank seketika

"Masih kuat?"

"Masih, kenapa? Kau sudah lelah?", Tanyanya

"Bukan, aku hanya tidak menyangka",Odasaku sedikit tertawa,"Kalau begitu..mau coba seks sambil berdiri untuk ronde ketiga?"

"Haa, mereka lama sekali", Dazai mengeluh, "Kalau mereka masih melakukan seks, berarti tenaganya sama-sama kuat"

Chuuya cuma bengong ke langit-langit bar, "Kau mau melakukannya bersamaku?"

Dazai terdiam

"Melakukan...apa?"

"Seks"

Dazai shock mendengar permintaan itu dari Chuuya, Chuuya yang dia tahu adalah orang yang tidak sebar-bar itu meminta sesuatu

"Kau yakin?", Tanyanya menutup semua pertanyaan dalam benak

"Iya, kau tidak mau?", Chuuya bertanya memastikan, "Ayolah, Dazai.. aku sudah tidak kuat". Dazai terdiam karena ngeh Chuuya sejak tadi diam karena bertahan dari cairan yang turun membasahi pahanya

"Kalau kau tidak mau, aku akan masturbasi saja", dia membuka celananya disitu, melepas celana dalam yang menutupi penis nya yang basah karena cairan pre-cum yang sejak tadi keluar. Dazai hanya melihat tanpa membantu. Chuuya melakukannya sendirian, dia memasukkan Jari jemarinya yang basah karena pre-cum yang sama kedalam lubang dibelakang sana

"Hng- aah!", Dia sedikit mendesah hebat karena jari-jari nya langsung mengenai titik manisnya dan sesekali, mengerang menyebut nama Dazai

"Da..zai! Hng nhhgg!!"

Dazai yang melihat sendiri Chuuya menyebut namanya ketika sedang merasa nikmat dengan jari-jarinya sendiri ikut terangsang

"Chuuya..", dia melepas sabuk pinggangnya dan melepas celananya yang berwarna hitam. Akan berbahaya kalau terkena sperma Chuuya atau sperma miliknya

"Biar aku bantu"

"Ngh..?"

Dazai memegang paha Chuuya, mendekatkannya ke penis Dazai yang sudah menegang. Tanpa basa-basi, ia memasukkan penis nya tanpa permisi, membuat Chuuya terkejut dengan ukuran yang masuk kedalam

"AAAHHH!!!!!/

Dazai.. Dazai!!"

Dazai menghiraukan Chuuya yang meraung keras dan tetap melakukan hal itu dengan kecepatan yang stabil

Chuuya terisak, terasa perih didalam sana,

Rasanya seperti anusnya akan robek jika Dazai tetap melakukannya dengan kecepatan segitu

Chuuya mencengkeram punggung Dazai untuk meminimalisir rasa perih yang ia rasakan, berharap Dazai mengetahui kalau rasanya perih jika dia tetap seperti itu

"Dazai..Dazai..

Perih..

Sakit", dia mengeluh dan sesekali air matanya jatuh, membuat Dazai berhenti

"..sakit?"

Chuuya mengangguk lemah

Dazai seketika di hantam rasa bersalah, "M-maafkan aku. Aku lupa kalau kita belum pakai pelumas", katanya lalu melumasi penis nya dengan pelumas, tentu saja lubang pesona Chuuya juga

Setelah selesai melumasi, Dazai bertanya

"Mau istirahat dulu atau langsung lanjut?"

"L-langsung lanjut. Tapi jangan terlalu cepat..

Sakit"

Dazai memeluk Chuuya lembut, "maafkan aku, sungguh. Aku benar-benar minta maaf"

Chuuya memeluk balik Dazai, dan sedikit berbisik

"Tidak apa-apa, aku paham kau sebenarnya juga terangsang melihatku masturbasi didepanmu, kan?"

"Bagaimana bisa aku tidak terangsang ketika kau memanggil namaku?"

Mereka tertawa berbarengan sampai Chuuya mencium bibir Dazai sekilas

"Ayo, lanjut", katanya menagih sisa kenikmatan yang belum diberikan, "Jangan terlalu cepat atau anusku sobek nanti"

Wah wah, kata-kata Chuuya berhasil membuat Dazai berhati-hati agar tidak merobek lubang favoritnya

"Baiklah, ayo kita mulai mencari titik manis milikmu, Chuuya"

penis Dazai berkelana, menunggu Chuuya mengkonfirmasi kalau dia mengenai sang target

Dazai sedikit mundur dan Chuuya tiba-tiba menarik nafas tertahan

"D-disitu.."

Dazai yang tidak yakin dimana posisinya, sedikit menggesek penisnya di tempat yang sama, membuat Chuuya mendesah keenakan

"Ah ah~! D-dazai..~!"

Rupanya titik sensitif Chuuya tidak jauh dari lubang masuknya

"Sangat dekat~", Dazai mengeluarkan senjatanya dan memasukkan 2 jari di tempat dikonfirmasinya titik sensitif itu. Sedikit mengocoknya tidak akan membuat anusnya robek

"Mng~! G..ah~! Dazai~.."

"Iya?", Jarinya masih senantiasa memijit titik sensitif itu

"Dazai.. Dazai.. aku akan keluar", ujarnya penuh kenikmatan didalam suara yang ia keluarkan

"Hanya butuh sekali gerakan penis mu, Dazai..", ujarnya memohon, tapi Dazai punya ide lain. Dia mengangkat pinggang Chuuya sampai ia bisa melihat lubang yang berkedut meminta belas kasih

Dazai menjilat lubang itu dan memasukkan lidahnya ke dalam

Lebih mudah untuk mengontrol masuk dan keluar nya

Gerakan Dazai membuat Chuuya mendesah parah

"Dazai Dazaii!! NGH! AAH!! AKU- AKU KELUAR!"

Suara sperma yang keluar membuat Dazai tersenyum senang. Mencolek sperma yang muncrat ke wajahnya dan sesekali merasakan rasanya

"Manis,hm?"

Chuuya bernafas pelan, lelah dengan semua kenikmatan yang Dazai berikan

"Ah.. berantakan

Aku sudah bilang untuk pakai kondom", ujarnya sedikit memarahi, Dazai malah jadi kebingungan karena dia tidak merasa Chuuya menyuruh hal seperti itu

"Uh..maaf..? Sekarang aku ingin keluar didalam, Chuuya"

Dazai membaringkan Chuuya dan memasukkan penis nya

Sedikit menghantam masuk lebih dalam, membuat Chuuya kembali melenguh

"Ahn~ mh

Ah ah!"

Dazai tersenyum nakal

"Desahanmu membuatku bersemangat untuk membuatmu jebol lagi, Chuuya~", Dazai kembali menggesek-gesek penisnya, mengumpulkan cairan sperma agar keluar lebih banyak

Dazai masuk ke sisi terdalam, niatnya agar spermanya tidak menetes kemana-mana

"M-mmhh..Aku- akan keluar", beberapa saat setelah berbicara begitu, suara basah sperma yang keluar memenuhi lubang dalam sana

Setelah merasa semuanya sudah keluar, Ia mengeluarkan senjatanya dan spermanya mengalir lambat keluar dari lubang itu. Dazai dipenuhi rasa puas melihatnya

Mereka berdua mengatur nafas

Antara lelah dan senang

"Mau ronde kedua?", Dazai bertanya, dibalas cubitan Chuuya yang lembut

"Aku lelah, biarkan aku istirahat dulu. Apa kabar teman-teman mu itu? Mereka tidak kelihatan batang hidungnya"

"Mungkin mereka sedang melakukan ronde keempat?", Dazai sedikit bercanda.

Tidak lama setelah itu, Handphone Dazai berdering, Dazai melihat penelfonnya

Odasaku

"Oh?", tanpa banyak omong, ia mengangkat teleponnya. Odasaku bilang dia dan Ango tidak bisa kembali ke bar karena Ango sudah terlalu capek

Kemungkinan karena mereka terlalu banyak menambah ronde

Dazai tertawa, "Benarkah? Apa Ango menikmatinya?"

"Tentu saja dia menikmatinya, dia sekarang sudah tidur", Odasaku terkekeh teringat pengalamannya berhubungan intim dengan temannya sendiri

"Apa kabar kau dan Chuuya, Dazai?"

"Ah~ Chuuya banyak mendesah~", Dazai membuka kartu yang harusnya dia sembunyikan sendiri, beruntunglah dia karena Chuuya terlalu lelah untuk menjitak kepalanya

"Dazai..", Chuuya memanggil nama sang seme, "Aku lelah. Biarkan aku tidur sebentar"

Dazai tersenyum dan menghampiri Chuuya, mengecup dahinya dan bilang

"Selamat beristirahat, sayang"