1. Confusion

Seorang wanita nampak tengah berdiri di depan cermin yang berada di kamar mandi rumahnya. Nafasnya nampak terengah dan tangannya sedikit bergetar. Jemari lentiknya nampak menggenggam benda berwarna putih yang dihiasi dengan tanda dua garis yang membuat si wanita bertanya-tanya. Kegiatannya yang tengah menatap testpack di tangannya lantas terhenti ketika ponselnya yang berdering nyaring, dengan cepat ia meraih benda persegi panjang tersebut dan mulai berbincang dengan seseorang di seberang sana.

"Kau tidak lupa kan kita ada pemotretan siang nanti Ten?"

"Hum…. Aku ingat, tak perlu kau tanyakan lagi." Ucap sang wanita dengan sedikit malas.

Dia adalah Ten Lee, seorang model terkenal yang tengah berada di puncak karirnya. Kulitnya yang bersinar ditambah dengan lekuk tubuhnya yang indah membuat banyak brand terkenal meliriknya sejak lama. Wajahnya banyak terpampang di berbagai majalah dan televisi akhir-akhir ini. Entah untuk sekedar interview atau membintangi banyak CF produk yang sedang naik daun. Di usianya yang muda dengan karir yang kian menanjak tentu saja membuat hartanya melimpah ruah, apartemen, mobil mewah, tas mahal, ataupun berlian sudah pasti menjadi barang koleksinya. Namun pagi ini ia mendapati suatu hal yang mungkin saja akan mengubah segala hal dalam hidupnya. Tentang karirnya dan juga masa depannya.

"Baiklah siang nanti aku akan datang menjemputmu, bye Ten…."

"Bye…." Ucap Ten sebelum akhirnya menutup panggilan teleponnya.

"Sayang! Kau lama sekali, aku harus pakai toiletnya…." Teriak seorang pria yang masih sibuk dengan sikat giginya.

Itu Johnny, suami Ten. Pria tinggi itu nampak tengah terduduk di tepi kasur mereka dengan sikat gigi yang masih berada di mulutnya. Kebiasaan aneh memang, hobinya adalah sikat gigi setelah bangun pagi dan setelahnya akan melakukan banyak hal baru kemudian mandi.

Banyak orang yang mengira jika Ten belum menikah, lagipula usianya masih terbilang cukup muda dan tengah berada di puncak karirnya. Namun semua dugaan itu salah, lima bulan yang lalu ia resmi menyandang marga Seo di belakang namanya, dia menikah dengan Johnny Seo seorang CEO perusahaan yang bergerak di bidang pangan. Pernikahan Ten membuat teman dekatnya tertawa, ya bayangkan saja wanita cantik itu bahkan sempat bersumpah akan menunda pernikahannya, atau mungkin akan menikah saat di penghujung kepala tiga. Namun nyatanya pertemuannya dengan Johnny menghancurkan semua angan-angannya. Dan hari itu ia sama sekali tak ragu untuk menerima pinangan dari pria kelewat tinggi itu, lagi pula ia kaya dan pastinya tampan. Sesuai sekali dengan tipe idaman Ten selama ini, dan sebagai bonusnya pria itu berbadan kekar bukankah kombinasi yang sempurna.

Dengan cepat Ten memasukan test pack yang sejak tadi ia genggam ke kantong celananya sebelum diketahui oleh suami tampannya itu. Setelah berhasil menyembunyikannya Ten lantas membuka pintu dan dibuat terkejut dengan Johnny yang telah berdiri di ambang pintu lengkap dengan sikat giginya.

"Ih…. Kau menjijikan sekali, sudah berapa kali aku bilang hentikan kebiasaan sikat gigimu yang seperti itu." Kesal Ten. Yang ditegur hanya terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya, setelahnya ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum berangkat ke kantornya.

Ten mulai disibukkan dengan aktivitas ibu rumah tangga di pagi hari, ia nampak tengah berdiri di depan kompor yang menyala. Wanita cantik itu tengah membuat makanan untuk sarapan. Sebagian orang mungkin tak akan menyangka jika Ten melakukan hal seperti itu, pasalnya ia kerap kali dianggap sebagai wanita manja oleh banyak orang, namun nyatanya ia merupakan sosok istri idaman, jangankan memasak bahkan mencuci mobil pun ia bisa.

Setelah semuanya selesai ia menata makanan tersebut di meja makan dan menunggu kedatangan suami tampannya. Tak butuh waktu lama pria tinggi itu nampak baru saja menuruni tangga dengan jas dan tas yang tersampir di lengannya. Ten lantas menghampiri suaminya membantunya memasang dasi dan merapikan penampilannya.

"Aku ada pemotretan hari ini." Ucap Ten disela-sela kegiatannya memasang dasi ke leher Johnny.

"Bukannya sudah bilang semalam, ditemani Doyoung kan?" Tanya Johnny, tangan kekarnya sibuk memeluk pinggang ramping sang istri yang ada di hadapannya.

"Hum…. Aku takut kau lupa." Kekeh Ten.

"Tentu saja tidak, sayang." Ucap Johnny seraya mengecup kening istrinya.

Setelah selesai merapikan penampilan sang suami, mereka berdua lantas memulai sarapan. Johnny nampak bersemangat menyantap semua makanan buatan sang istri, ia tak pernah menyangka keputusannya untuk menikahi Ten lima bulan lalu akan membuatnya seberuntung ini.

"Mau kemana?" Tanya Johnny di sela-sela kegiatan sarapannya.

"Ponselku ada di kamar, aku akan ambil sebentar." Ucap Ten, ia mulai melangkah ke lantai atas menuju kamar mereka.

"Johnny Seo! Kenapa handuknya tidak dibereskan, demi tuhan bisakah kau hilangkan kebiasaan burukmu ini!" Tak butuh waktu lama Ten lantas berteriak saat mendapati handuk Johnny yang tergeletak di atas kasur mereka. Sudah menjadi kebiasaan pria tinggi itu menaruh handuk di sembarang tempat setiap selesai mandi, dan kebiasaan itu selalu berhasil membuat Ten mengeluarkan teriakan mautnya di pagi hari.

"Aku lupa sayang." Kekeh Johnny.

Setelah Johnny pergi ke kantornya, Ten menghabiskan waktu seorang diri di rumah besarnya sambil menunggu kedatangan Doyoung sang manager. Ia nampak tengah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Jemari lentiknya tampak sibuk menggeser layar ponselnya, sejak tadi wanita cantik itu nampak mencari informasi tentang kehamilan. Ten benar-benar bimbang tentang apa yang harus ia lakukan. Bahkan pikiran jahat sempat terlintas di otaknya, tentang ia yang tak memberitahu Johnny dan menggugurkan kandungannya. Lagipula pasti janin yang ada di perutnya masih berukuran amat kecil, seharusnya itu tak jadi masalah kan.

Ten menggelengkan kepalanya berkali-kali berusaha menghilangkan segala pikiran buruk di otaknya. Demi tuhan ia masih menginginkan karirnya tapi bukankah akan terlalu jahat jika ia membunuh bayi kecil mereka. Mungkin ia harus secepatnya mengabari Johnny dan meminta keputusan pria tampan itu.

Tepat saat siang menjelang Ten melangkahkan kakinya keluar rumah, ia bergegas memasuki mobil Doyoung dan mereka berdua melaju ke lokasi pemotretan. Hari ini Ten akan melakukan pemotretan untuk salah satu majalah terkenal tentu saja disertai interview yang akan dimuat di majalah tersebut.

Ten baru saja menyelesaikan sesi foto pertamanya, saat ini ia tengah duduk di hadapan cermin dengan seseorang yang nampak tengah memoles make up di wajah cantiknya dan seseorang lagi yang tengah menata rambutnya. Mereka bertiga nampak berbincang sejak tadi, Ten hanya menanggapi seadanya lagi pula ia tengah sibuk dengan Americano dan game yang tengah ia mainkan di ponselnya.

"Kudengar Mina mengundurkan diri dari JJ Entertainment." Sang penata rambut buka suara.

"Hum…. Kudengar juga begitu, padahal kinerja Mina sangat bagus, sayang sekali jika ia mengundurkan diri." Balas si perias wajah. Ten yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan dua wanita itu nampak mulai tertarik dan memasang ekspresi yang bertanya-tanya.

"Bukankah Mina managernya Seohyun sunbae?" Tanya Ten keheranan.

"Hum benar, Mina bilang ia sedang program hamil jadi tidak boleh terlalu lelah, kau tahu sendiri Ten jadwal Seohyun sepadat apa sudah pasti Mina akan ikut sibuk." Ucap si penata rambut. Ten yang nampak tertegun lantas meletakkan kopinya di atas meja, ia jadi merasa bersalah telah merencanakan hal buruk pada calon anaknya beberapa jam lalu.

"Kudengar Mina telah menikah sejak lima tahun lalu, sayang sekali mereka belum memiliki anak sampai saat ini. Aku sangat paham perjuangannya demi mendapatkan anak, semoga kali ini berhasil." Monolog si penata rias.

Ten bahkan lebih terkejut lagi, Mina yang menikah lima tahun lamanya tapi belum kunjung diberikan anak, sedangkan ia dan Johnny. Mereka berdua baru menikah lima bulan yang lalu dan dengan baiknya Tuhan memberikan hadiah pada mereka berdua. Ten jadi semakin merasa bersalah.

"Ten kau baik-baik saja? Kau sakit?" Tanya Doyoung yang ikut bergabung di belakang Ten.

"Ah tidak, hanya sedikit mengantuk." Bohong Ten.

Tak butuh waktu lama, saat malam menjelang sesi pemotretan dan interview yang Ten jalani nampak telah usai. Wanita cantik itu nampak tengah membungkuk seraya mengucap terima kasih pada beberapa staf yang membantu pemotretan hari ini. Setelahnya ia kembali ke ruang ganti, disana telah ada Doyoung yang menunggunya dan menyiapkan pakaian untuknya. Wanita cantik berwajah mirip kelinci itu sudah bekerja bersama Ten sejak beberapa bulan lalu, setelah sebelumnya ia ditugaskan menjadi manager dari beberapa model lainnya.

"Kau tidak bawa sandal atau sepatu tanpa heels?" Tanya Ten pada Doyoung saat ia tengah melepas high heelsnya yang setinggi sepuluh centi.

"Tentu saja tidak, kau kan tak pernah memintaku menyiapkan sandal atau sepatu semacam itu setelah pemotretan." Ucap Doyoung, Ten hanya mengangguk ia sendiri merasa aneh kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu pada Doyoung, pikirnya.

Seolah tak ada pilihan lain, Ten kembali melesat ke rumah dengan high heels miliknya. Lagipula tingginya tidak sampai sepuluh centi seperti yang baru saja ia gunakan beberapa menit lalu. Saat ini ia tengah berada di mobil dan bersiap menuju ke rumah, sesekali Ten dan Doyoung saling berbincang tentang pekerjaan atau hal lain urusan para wanita.

"Jangan lupa istirahat yang cukup, besok kau libur kan? Manfaatkan waktumu dengan baik. Ah iya…. Kurasa kau sedikit gemuk, Jung sajangnim memintamu datang ke pusat kebugaran." Ucap Doyoung panjang lebar.

"Yak, bilang saja kau mengataiku gemuk tak usah bawa-bawa Jung sajangnim. Menyebalkan sekali sih kau." Kesal Ten.

"Aku hanya menyampaikan pesan Ten, bukankah jika kau bertambah gemuk artinya kau bahagia dengan pernikahanmu, iya kan?" Ledek Doyoung.

"Menyebalkan sekali kau Kim Doyoung." Ucap Ten, ia mulai beranjak dari mobil Doyoung yang telah terparkir di depan rumahnya. Setelahnya Doyoung berpamitan dan kembali melaju ke tempat tujuannya.

Ten memasuki rumahnya dan mendapati Johnny yang tengah memainkan ponselnya di ruang keluarga. Televisi yang ada di hadapannya nampak menyala dan menampilkan serial Netflix favoritnya. Dengan sedikit mengendap-endap Ten menghampiri Johnny dan mengalungkan tangannya ke leher sang suami, mulai bertingkah manja seperti yang biasa ia lakukan saat di rumah.

"Hei, kapan kau sampai?" Tanya Johnny, ia nampak tengah merangkul bahu sang istri yang telah duduk di sebelahnya.

"Beberapa menit lalu. Apa ponselmu lebih menarik daripada aku?" Tanya Ten dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Ah bukan begitu sayang, tadi aku sedang berkirim pesan dengan sekretarisku. Kau jelas jauh lebih menarik." Ucap Johnny, ia mulai meraup bibir tipis sang istri sampai Ten sedikit kesulitan untuk mengambil nafas.

"John, ini penting kita harus bicara…."

Dan inilah awal mula dari segalanya, tentang sebuah keputusan penting yang akan mengubah kehidupan mereka kedepannya.