2. Decision

Ten memberanikan diri untuk berbicara dengan sang suami tepat di pagi harinya. Semalam saat ia akan menjelaskan semuanya pada Johnny tiba-tiba saja ponsel pria itu berdering nyaring dan memaksanya menepi sejenak dari sang istri. Ten yang merasa jika suaminya berbincang dengan seseorang di ponselnya terlalu lama akhirnya memilih untuk masuk ke kamar mereka. Lagi pula ia harus segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman.

Akhir pekan ini Johnny tidak pergi ke kantor, ia nampak masih bermalas-malasan dan bergelung dengan selimut tebalnya. Ten yang sejak tadi berusaha membangunkan suaminya nampak mengerang frustasi dan ia bergegas menggunakan cara terakhir yang selalu ampuh untuk membangunkan Johnny.

"Johnny…. ayo bangun…." Ucap Ten setelah mengecup pipi sang suami.

"Eugh…. Aku mengantuk." Balas Johnny, pria itu nampak bergumam dengan mata yang masih terpejam.

"Ayolah John…. Kita harus bicara." Ucap Ten, ia mulai menarik paksa tangan sang suami dan membuatnya bangkit dari posisi tidurnya.

"Ini masih pagi Ten, apa yang ingin kau katakan? Hoam…." Ucap Johnny seraya menguap lebar.

"John aku serius. Buka dulu matamu lebar-lebar." Ucap Ten.

Ten nampak menjauh dan mulai mengacak laci meja nakasnya, ia mengambil benda persegi panjang yang membuatnya risau sejak kemarin. Dengan cepat ia menyodorkan test pack miliknya pada Johnny dan tak butuh waktu lama netra tajam pria tinggi itu membulat sempurna kala mendapati apa yang ada di hadapannya. Dengan gerakan cepat ia meraih test pack yang masih berada di tangan Ten dan menatapnya lekat-lekat. Setelah memastikan apa yang ia lihat bukan mimpi semata Johnny bergegas membawa wanita mungil di hadapannya itu ke dalam dekapannya. Pria itu jelas nampak bahagia, reaksinya bahkan jauh berbeda dengan Ten saat pertama kali mengetahui kehamilannya.

"Jadi sejak kapan? Kenapa baru memberitahuku sekarang?" Tanya Johnny, ia nampak begitu antusias dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Tangan besarnya bahkan mulai bermain di atas perut Ten yang masih terlihat rata.

"Johnny, sebenarnya…. Aku-"

"Ada apa sayang? Katakan saja tak perlu takut begitu." Kekeh Johnny.

"Jika kita tunda sebentar bagaimana?" Ucap Ten dalam satu tarikan nafas. Detik itu juga Johnny melepaskan pelukannya dari tubuh ramping sang istri, tangannya yang semula berada di perut Ten bahkan telah pergi entah kemana. Dan jangan lupakan juga raut wajah Johnny yang berubah menakutkan, Ten sampai merinding dibuatnya.

"Tapi kenapa?" Tanya Johnny dengan suara yang amat menusuk.

"Aku masih menyukai karirku." Ucap Ten lirih, bahkan ia mulai menunduk saking takutnya bertemu pandang dengan Johnny.

"Aku tahu itu, kau jelas amat menikmatinya sejauh ini." Ucap Johnny.

"Aku hanya takut." Ucap Ten tiba-tiba.

"Apa yang kau takutkan, kau sudah menikah, bukankah hal yang wajar jika seorang perempuan hamil setelah menikah. Tak ada yang perlu kau takutkan." Ucap Johnny panjang lebar.

"Kau tak mengerti John, kau tak tahu bagaimana perasaanku." Ucap Ten, suaranya mulai bergetar dengan manik indahnya yang mulai berkaca-kaca.

"Bagian mana yang aku tak mengerti, justru aku hanya tak mengerti jalan pikiranmu saat ini." Balas Johnny, suaranya mulai meninggi dengan terdengar amat menusuk bagi siapapun yang mendengarnya.

"Aku seorang model John, jika aku hamil dan melahirkan nanti tubuhku pasti akan berubah. Aku belum siap jika harus melepaskan karirku, aku-"

"Oh jadi kau sudah amat siap membunuh anak kita, begitu maksudmu?" Tanya Johnny, ia bahkan memotong perkataan Ten dan nampak tak peduli dengan sang istri yang telah berurai air mata.

"John dengarkan aku dulu…." Lirih Ten dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

"Bagian mana lagi yang harus aku dengarkan? Intinya kau hanya akan membunuh anak kita kan? Begitu maksudmu?" Ucap Johnny, ia nampak menatap tajam ke arah sang istri pagi itu.

"Terserah…. Lakukan apapun yang kau suka, jangan pedulikan aku." Ucap Johnny, ia mulai bangkit dari kasur dan bersiap meninggalkan Ten yang masih menangis pagi itu.

"Kau egois…." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny yang sudah siap menjauh dari sang istri lantas kembali mendekatinya, ia mendapati Ten yang menatap tajam ke arahnya dengan wajah yang berurai air mata.

"Egois katamu? Demi Tuhan kau harusnya berkaca Ten Lee." Ucap Johnny nampak frustasi.

"Kau egois John, kau tidak mengerti apa saja yang sudah aku lakukan untuk sampai disini. Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku yang datang ke Seoul seorang diri sampai akhirnya bisa jadi seperti ini. Kau tak mengerti John…." Ucap Ten, dengan berani ia berteriak dan menatap nyalang ke netra tajam Johnny yang nampak menahan amarah pagi itu.

Johnny lantas kembali duduk di hadapan sang istri, tangan kekarnya terulur dan menyentuh lembut bahu Ten yang nampak bergetar karena menangis. Ia bergegas membawa Ten ke dalam pelukannya tanpa peduli dengan tangisan sang istri yang malah terdengar semakin keras.

"Aku tahu betapa banyaknya rintangan yang kau lalui untuk sampai disini, aku sangat paham dengan keadaanmu. Tapi coba pikirkan lagi, apa memang harus begitu?" Tanya Johnny, nada suaranya mulai terdengar lebih lembut dibandingkan sebelumnya. Ten sama sekali tak tenang, ia malah melepas paksa pelukan sang suami pagi itu seolah meminta Johnny menjauhinya. Setelahnya wanita cantik itu nampak menyambar kunci mobilnya tanpa peduli dengan teriakan sang suami yang mulai sibuk memanggil namanya.

Johnny nampak mengusap kasar wajahnya. Akhir pekan yang ia pikirkan akan dimulai dengan indah malah dihiasi dengan pertengkaran. Pikiran Johnny melayang jauh ke belakang, jika diingat hari ini adalah pertama kalinya mereka berdua bertengkar setelah menikah. Johnny lantas bangkit dan meraih ponsel miliknya, ia mulai menghubungi Doyoung dan berpesan pada manager cantik itu untuk memantau kondisi Ten, karena Johnny jelas tahu kemana sang istri akan pergi saat tengah kalut seperti sekarang ini.

Sepanjang hari ini Johnny tak berniat menghubungi Ten, bukannya ia tak merindukan istri cantiknya itu, hanya saja Johnny hanya ingin Ten menenangkan diri terlebih dahulu. Ia hanya berharap Ten akan mengambil keputusan yang terbaik yang tak akan melukai pihak manapun. Lagi pula beberapa menit lalu Doyoung baru saja menghubunginya, ia bilang Ten tengah berada di apartemen lamanya. Doyoung bilang Ten menangis hampir seharian dan tidak menghabiskan makanannya, Johnny jadi merasa bersalah sempat memarahi istri cantiknya itu.

Tepat saat malam tiba Johnny memutuskan untuk menyusul Ten ke apartemen lamanya tentu saja setelah sebelumnya ia bersekongkol dengan Doyoung lagipula manager cantik itu memiliki jadwal kencan dengan Taeil sekretaris Johnny yang super sibuk dan sulit ditemui. Mobil Johnny nampak terparkir indah di basement apartemen mewah itu, Johnny jelas tahu berapa harga tiap unit apartemen disana dan ia juga tahu jika Ten membeli apartemen itu dengan hasil keringatnya sendiri beberapa tahun silam.

"Ten masih menangis, dia bahkan tak menjawab pertanyaanku. Kau apakan dia sih?" Tanya Doyoung nampak kesal. Saat ini mereka berdua nampak tengah berada di ambang pintu apartemen Ten karena Doyoung baru saja membukakan pintu untuk Johnny.

"Ceritanya panjang, sudah sana pergi Taeil pasti sudah menunggumu." Ucap Johnny, ia melenggang masuk ke apartemen sang istri dan meninggalkan Doyoung yang nampak tersenyum sumringah di ambang pintu.

Dengan perlahan Johnny membuka pintu kamar Ten, wanita itu nampak menatap Johnny dengan mata yang memerah dan sembab. Pasti ia telah menangis seharian, pikir Johnny. Pria tinggi itu nampak duduk di hadapan Ten yang masih sibuk menghapus air matanya, ia mulai menggenggam jemari lentik sang istri dan memberikan sentuhan lembut di punggung tangannya. Johnny juga nampak tersenyum teduh dan menatap lekat ke arah netra indah Ten yang masih berkaca-kaca.

"Maafkan aku berteriak padamu pagi tadi." Ucap Johnny.

"Maafkan aku juga yang tak pernah mengerti perasaanmu dan tak memahami perjuanganmu untuk sampai disini." Sambungnya. Ten menatap lekat netra tajam milik Johnny, matanya nampak menjelajah berusaha mencari kebohongan dari setiap ucapan pria di hadapannya itu namun Ten tak menemukan apapun, ia hanya mendapati ketulusan dari setiap perkataan yang suaminya ucapkan. Detik itu juga Ten lantas mengalungkan tangannya ke leher sang suami, ia kembali menangis keras hingga membuat kaos yang Johnny gunakan nampak basah.

"Aku mau anak ini, aku tak akan membiarkannya pergi hiks…." Ucap Ten di sela-sela tangisnya. Johnny lantas tersenyum, ia mengecup pucuk kepala sang istri dan kembali mengelus lembut punggung sempit Ten yang masih nampak bergetar karena menangis deras.

Jadi sejak beberapa jam yang lalu Ten hanya mampu menangis seraya sesekali bermain dengan ponselnya. Ia mulai berpikir tentang keputusan apa yang harus diambil, terlebih setelah mendengar cerita beberapa orang disekitarnya termasuk Mina yang amat kesulitan untuk mendapatkan seorang anak setelah semua perjuangan yang ia lakukan. Hati Ten mulai goyah, ia yang semula yakin dengan keputusannya untuk menggugurkan calon anaknya malah berpikir sebaliknya, dengan penuh keyakinan ia memutuskan untuk mempertahankan sang anak, Ten bahkan tak peduli jika setelahnya karirnya akan berakhir begitu saja. Dan hari itu ia menyesal telah berfikir akan membunuh anaknya beberapa jam lalu. Jemari lentiknya mulai ia bawa untuk mengelus lembut perutnya yang nampak masih rata, ia kembali menangis mengingat perbuatannya yang hampir menyingkirkan satu nyawa tak berdosa.

"Aku tak peduli jika karirku berantakan, aku hanya mau anak ini. Maafkan aku John hiks…." Ucap Ten setelah ia melepaskan pelukannya. Johnny nampak terkekeh, ia lantas mengelus lembut surai panjang sang istri dan mengecup keningnya dengan sayang.

"Tidak perlu minta maaf sayang, sudah jangan menangis lagi. Mau sebanyak apa air mata yang kau habiskan hum?" Tanya Johnny sedikit terkekeh.

"Johnny jangan meledekku…." Ucap Ten dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Kau harus makan, Doyoung bilang kau tak makan seharian memangnya tidak lapar?" Johnny mulai membuka beberapa makanan yang sempat ia beli sebelum menuju ke apartemen sang istri. Ten nampak menelan ludah saat mendapati Johnny membawa bulgogi kesukaannya dan jangan lupakan juga jajangmyeon yang terlihat begitu menggoda.

"Aku kan sedang diet, kenapa kau membawa ini semua? Menyebalkan sekali." Ucap Ten.

"Siapa yang mengizinkanmu diet?" Ucap Johnny, ia mulai menikmati bulgogi yang tersaji di hadapannya.

"Doyoung bilang aku terlihat gemuk saat di kamera, aku harus menjaga bentuk tubuhku John." Ucap Ten.

"Dan sekarang kau telah mengetahui penyebab berat badanmu bertambah, apa masih mau dilanjutkan dietnya?" Tanya Johnny, Ten jelas mengerti kemana arah pembicaraan suami tampannya itu. Dengan malas ia mulai menikmati bulgogi miliknya yang dihadiahi kekehan jahil dari Johnny yang berada di hadapannya.

Malam ini sepasang suami istri itu memutuskan untuk bermalam di apartemen, saat ini mereka berdua nampak tengah berbaring dengan Johnny yang terlihat memeluk erat tubuh indah sang istri dari belakang, telapak tangan besarnya ia letakkan di atas perut Ten dan mulai mengelusnya lembut sejak beberapa menit yang lalu.

"Geli John…. Bisa kau hentikan tidak sih?" Tanya Ten seraya terkekeh, sejak tadi ia jelas merasakan sensasi geli yang menjalar di perutnya karena sentuhan sang suami.

"Aku hanya senang." Balas Johnny.

"Sesenang itu?" Tanya Ten penuh selidik.

"Hum…. Aku hanya merasa diberkahi, lucu bukan?" Kekeh Johnny.

"Kau aneh sekali, aku tak mengerti kau bicara apa?" Tanya Ten.

"Aku menikahimu dan sebentar lagi akan menjadi ayah dari anakmu." Balas Johnny.

"Terdengar menjijikan." Canda Ten.

"Terima kasih karena mau mempertahankannya." Ucap Johnny.

"Terima kasih juga karena telah meyakinkanku untuk mempertahankannya." Balas Ten, ia lantas memutar tubuhnya dan menatap lekat ke wajah tampan sang suami yang ada di hadapannya. Detik berikutnya Ten nampak menempel pada Johnny seolah meminta sang suami memeluknya erat-erat.

"Mau dengar cerita?" Ucap Johnny tiba-tiba. Ten tak menjawab ia hanya bergumam dengan mata yang mulai terpejam.

"Kata orang kita harus selalu mensyukuri atas apa yang Tuhan berikan pada kita. Contohnya seperti yang sedang kita alami. Kau hebat sayang, karena sebenarnya kita tak akan pernah tahu anak yang mana yang akan membawa kita ke surga." Ucap Johnny, ia tak mendapat balasan apapun, yang ia dengar hanya suara Ten yang mulai mendengkur seraya memeluknya erat-erat. Johnny nampak terkekeh melihat tingkah istri cantiknya itu ia lantas membenahi posisi tidur Ten dan mengecup keningnya sebelum akhirnya ia juga berlabuh ke alam mimpi menyusul Ten yang sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu.

Jadi hari ini kedua pasangan muda itu telah mengambil sebuah keputusan besar, keputusan yang sama yang akan mengubah hidup mereka kedepannya. Tentang satu nyawa yang akan segera datang dan mendewasakan mereka berdua.