3. Mung Beans

Keesokan harinya Johnny nampak terbangun lebih dahulu dibandingkan Ten, wanita itu masih nampak nyaman dalam tidurnya. Mungkin terlalu lelah menangis membuat matanya membutuhkan banyak istirahat. Johnny lantas mulai memandangi wajah damai Ten yang masih memejamkan matanya. Pikirannya menerawang kembali masa-masa indah pertemuan mereka berdua. Jika diingat kembali hari itu telah berlalu satu tahun lamanya. Dan setelah berbulan-bulan memutuskan untuk menjalin kasih akhirnya Johnny mengajak wanita yang dicintainya itu ke pelaminan.

Beberapa bulan lalu kabar itu sontak membuat geger media dan para penggemar Ten di seluruh penjuru Korea. Pasalnya mereka menganggap usia Ten masih terlalu muda untuk memulai sebuah pernikahan terlebih di tengah karirnya yang tengah menanjak, namun media seolah bungkam saat mereka mengetahui siapa yang akan menjadi pendamping hidup Ten nantinya. Siapa yang tak kenal Johnny Seo, namanya cukup populer di kalangan para pengusaha muda. Bahkan wajah tampannya kerap kali menghiasi cover majalah bisnis yang ada di Korea. Bermodalkan otak yang encer, harta yang berlimpah, serta wajah yang tampan bukanlah perkara yang sulit baginya untuk menggaet hati wanita, dan pada masa itu Ten lah yang berhasil meraih umpan yang ia berikan sampai akhirnya wanita cantik itu menjadi pendamping hidupnya.

Johnny jelas masih ingat bagaimana ramainya laman SNS pribadinya saat agensi tempat Ten bernaung memberikan pengumuman jika model kesayangan mereka tengah menjalin kasih dengan seseorang dari kalangan non selebriti. Johnny juga masih ingat bagaimana wajahnya terpampang di halaman akun gossip karena tak sengaja tertangkap kamera saat tengah berkencan dengan Ten di café kesukaan mereka berdua. Sejak itu laman SNS pribadi Johnny mendapatkan pengikut yang cukup banyak, pria tinggi itu jelas masih ingat betapa kesalnya ia karena ponselnya yang berdering berulang kali karena banyaknya notifikasi yang masuk dari laman SNS miliknya.

Saat Ten mengumumkan pernikahan melalui laman SNS pribadinya banyak penggemar yang bersukacita, beberapa orang menganggap jika romansa Ten dan Johnny sama indahnya dengan cerita indah negeri dongeng. Jika diingat kembali Johnny masih menyimpan kata-kata cheesy yang diucapkan beberapa penggemar Ten dalam kolom komentar SNS miliknya. Mereka bilang "cinta pertama kali diciptakan oleh Adam dan Eve, dibawa mati oleh Romeo dan Juliet, ditenggelamkan oleh Jack dan Rose, dan dihidupkan kembali oleh Johnny dan Ten" sampai sekarang rentetan kalimat itu masih membuat Johnny merinding jika mengingatnya kembali.

Saat itu pernikahan mereka berdua dilakukan tertutup dari awak media, tujuannya hanya satu demi menjaga kekhidmatan acara yang mereka adakan dan menjaga privasi keluarga Johnny yang memang jauh dari kamera. Awalnya bahkan ibu Johnny menolak keras jika sang anak bersatu dengan seseorang dari dunia entertainment namun saat Johnny membawa Ten kehadapan sang ibu entah bagaimana caranya tiba-tiba saja sang ibu menyetujui hubungan mereka berdua. Orang yang mulanya menolak keras hubungan mereka nyatanya menjadi orang yang paling mendukung mereka berdua untuk bersatu di pelaminan. Bahkan sang ibu terlihat lebih antusias menyiapkan pernikahan Johnny dibandingkan sang anak.

"Eugh…. Kau sudah bangun…." Lirih Ten, matanya mulai terbuka dan nampak tengah menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah jendela apartemennya.

Perkataan Ten yang tiba-tiba membuat Johnny terbangun dari lamunan panjangnya tentang kisah masa lalu mereka berdua. Pria tampan itu lantas tersenyum dan mulai mengecupi penjuru wajah sang istri dan berhasil membuat Ten kesal sendiri.

"Hentikan…. Kau bau John…." Ucap Ten seraya terkekeh.

Hari ini rencananya sepasang suami istri itu berniat mengunjungi dokter kandungan untuk memastikan usia kehamilan Ten yang baru saja mereka ketahui kemarin. Ten dan Johnny nampak telah berada di rumah mereka, Johnny terlihat tengah berada di dapur dan membuat kopi untuk dirinya sendiri, pria tinggi itu memang tak bisa terlalu lama berpisah dengan kafein, bahkan Ten sampai bingung sendiri dibuatnya. Ten sendiri nampak berada di kamar mereka, wanita itu masih nampak sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini setelah beberapa menit lalu berkonsultasi dengan Taeyong tentang kehamilannya.

Taeyong merupakan istri Jaehyun, sahabat Johnny sekaligus CEO di agensi tempat Ten bernaung. Pria tinggi berlesung pipi itu telah menjabat sebagai CEO sejak satu tahun yang lalu setelah sang ayah memutuskan untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya dengan istri tercinta. Taeyong terdengar amat gembira saat Ten memberitahukan kabar kehamilannya dan rencananya untuk mengunjungi dokter kandungan hari ini. Wanita itu bahkan terlihat amat antusias dan menyarankan dokter yang sama seperti yang menanganinya saat tengah mengandung Mark dua tahun yang lalu.

Pasangan Jung tersebut telah dikaruniai anak laki-laki tampan bernama Jung Minhyung yang saat ini berusia dua tahun. Karena si kecil sempat menghabiskan waktunya satu tahun untuk tinggal di Connecticut akhirnya sang ayah memberikan ia nama Mark dan jadilah sampai hari ini batita menggemaskan itu dipanggil Mark oleh orang-orang di sekitarnya.

Taeyong jelas masih ingat dengan pengalaman pertamanya melakukan USG, beberapa tahun lalu wanita itu jelas sama bahagianya seperti Ten saat mengetahui kabar kehamilannya. Ia berpesan pada Ten, jika pada USG pertama biasanya akan dilakukan dengan metode transvaginal. Ten yang sama sekali tak paham dengan apa yang dikatakan Taeyong hanya mendengarkan perkataan wanita itu, yang Ten ingat saat itu Taeyong mengatakan jika alatnya sedikit berbeda dengan perangkat USG yang biasa digunakan, probenya cukup panjang dan pagi itu Taeyong menyarankan pada Ten untuk mengenakan dress selutut atau pakaian apapun itu yang mudah dibuka bagian bawahnya. Ten yang cukup polos hanya menurut saja pagi itu, dan berakhirlah ia disini, di walk in closet rumah mereka yang menyimpan banyak koleksi pakaian milik Ten dan Johnny.

Setelah termenung sekian lama akhirnya pilihan ia jatuhkan pada dress berwarna biru muda dengan panjang sampai dibawah lutut. Setelah mengaplikasikan sedikit make up dan memastikan penampilannya telah rapi Ten nampak menyusul Johnny yang sibuk dengan segelas kopi di tangannya.

"Mau pergi sekarang?" Tanya Johnny saat mendapati Ten yang nampak baru saja keluar dari kamar mereka.

"Kau sudah selesai?" Tanya Ten.

"Sudah, bahkan sudah kosong sejak tadi." Balas Johnny, ia memperlihatkan gelas berwarna putih yang telah habis isinya. Ten hanya terkekeh melihat kelakuan Johnny bukankah itu sudah cukup menggambarkan selama apa ia memilih pakaian beberapa menit yang lalu.

Mereka berdua tampak baru saja tiba di rumah sakit, Ten nampak menggenggam erat tangan Johnny dan mereka berdua berjalan beriringan ke ruangan yang mereka tuju setelah sebelumnya melakukan pendaftaran. Beberapa orang di rumah sakit nampak saling berbisik saat mendapati kedatangan Ten dan Johnny pagi itu, Ten nampak bersikap acuh, ia hanya sesekali melemparkan senyuman pada orang-orang yang melihatnya. Lagipula melihat orang-orang yang membicarakannya adalah hal yang biasa untuknya.

Hari ini dokter kandungan nampak cukup ramai, disana hanya ada satu kursi kosong yang tersisa di antara banyaknya deretan kursi yang berjajar rapi disana. Johnny lantas menyuruh Ten duduk dan pria tinggi itu nampak berdiri di samping istrinya. Sesekali mereka berdua terlihat bercanda, Ten bahkan tak ragu untuk menunjukkan beberapa video tentang kucing lucu pada Johnny yang berada di sebelahnya. Johnny sesekali terlihat tertawa, ia jelas tahu jika sang istri amat menyukai hewan berbulu itu sejak lama bahkan sebelum mereka menikah Ten pernah bercerita sambil menangis tentang kucing kesayangannya mati tertabrak mobil di depan rumahnya.

"Nyonya Ten Lee…." Panggilan seorang perawat nampak menghentikan yang tengah berlangsung antara Ten dan Johnny, mereka berdua lantas mengikuti langkah perawat itu memasuki ruangan dengan yang bertuliskan spesialis obstetri dan ginekologi.

"Bukankah itu Ten yang model terkenal itu."

"Astaga bahkan ia lebih cantik saat dilihat secara langsung."

"Kau lihat suaminya tidak? Jelas saja Ten mau menikah di usia muda suaminya saja setampan dan sekaya itu."

"Kudengar suaminya CEO."

"Ten harusnya bersyukur, bukankah hidupnya lebih stabil setelah menikah dengan pria itu?"

"Bukankah mereka baru saja menikah, apa benar ada orang yang sesubur itu."

Ten nampak jengah mendengar semua perkataan orang yang ada di belakangnya. Ia bahkan menarik paksa tangan Johnny dan bergegas menjauh dari orang-orang yang masih sibuk bergunjing tentang dirinya.

"Hai…. Ada yang bisa kubantu." Ucap seorang wanita berambut sebahu dengan snelli putih yang nampak membalut tubuh mungilnya. Dari name tag yang ia gunakan Ten tahu jika dokter wanita di hadapannya bernama Wendy, ia adalah dokter yang sama yang menangani Taeyong beberapa tahun silam.

Ten mulai menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka berdua hari itu. Johnny lebih banyak diam, lagipula ia tak mengalami hal apapun dan hanya Ten yang berperan penting disini.

"Ah begitu, bagaimana jika langsung kita periksa." Tawar Wendy, ia lantas berdiri dan mengajak Ten untuk mendekat ke ranjang pasien yang ada di ruangannya.

Wendy meminta Ten untuk berbaring setelah sebelumnya meminta wanita cantik itu melepas bagian bawah pakaiannya. Johnny cukup terkejut dengan perkataan Wendy beberapa menit lalu, jauh berbeda dengan Ten yang terlihat amat tenang. Berterima kasihlah pada Taeyong yang telah menjelaskan semua prosedur yang akan ia lakukan. Ten cukup terkejut saat seorang perawat mendekatinya dan menekuk kakinya hingga terbuka lebar. Jujur saja sekalipun semua tenaga medis yang mendampinginya adalah wanita namun Ten tetap saja khawatir dan merasa sedikit canggung, ia bahkan mulai meremas tangan Johnny yang ada di sebelahnya. Wendy berdiri di hadapan Ten dengan transducer di tangannya yang telah dilumuri dengan gel bening yang Ten tak tahu apa namanya. Ten nampak tersentak saat Wendy memasukkan transducer ke dalam vaginanya, dengan perlahan dokter cantik tersebut memutar transducer yang ada di tangannya untuk memantau keadaan rahim Ten. Sesekali dokter cantik itu nampak tersenyum kala menatap ke arah monitor yang ada di dekatnya.

"Wah selamat ya, usianya sudah empat minggu." Ucap Wendy dengan senyuman teduhnya. Ten hanya mengangguk, ia bahkan tak bisa fokus karena benda asing yang terus bergerak di bagian bawahnya, berbeda dengan Johnny yang ikut tersenyum pagi itu dan mengelus lembut punggung tangan Ten yang ia genggam sejak tadi.

Tak butuh waktu lama sesi pemeriksaan nampak telah berakhir, setelah mengenakan kembali pakaian dalamnya Ten nampak duduk di hadapan Wendy dan kembali berbincang tentang banyak hal.

"Apa ada gejala yang dirasakan akhir-akhir ini?" Tanya Wendy dengan matanya nampak sibuk menjelajah ke arah monitor yang ada di hadapannya.

"Hum…. Tidak ada, bahkan mual pun tidak. Apa itu wajar?" Ucap Ten.

"Bukan masalah, setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda." Balas Wendy. Ten hanya mengangguk menanggapi perkataan dokter wanita itu.

"Ah coba lihat, di minggu ke empat janin ukurannya masih sebesar biji kacang hijau. Kalian lihat titik kecil ini?" Ucap Wendy seraya menunjuk hasil USG yang berada di layar monitornya.

"Tapi walaupun masih terlihat kecil dan lemah sebenarnya sel-sel tubuhnya sudah mulai terbentuk bahkan telah memiliki sirkulasi darah sendiri. Jadi sangat dianjurkan bagi para ibu untuk mengkonsumsi makanan sehat untuk mencukupi kebutuhan gizi selama kehamilan." Jelas Wendy.

Johnny nampak menyenggol lengan Ten, Ten yang diganggu nampak mendengus sebal, ia jelas tahu jika suaminya itu tengah menyindiri Ten dan program dietnya yang ia katakan kemarin. Wendy hanya terkekeh melihat tingkah dua pasangan di depannya itu, ia jadi merindukan suaminya yang tengah berada di Jepang.

"Mungkin setelah ini jangan terlalu lelah, perbanyak makan makanan sehat dan minum air putih. Ah aku juga akan meresepkan beberapa vitamin untuk dikonsumsi selama kehamilan. Sampai jumpa di konsultasi Selanjutnya." Wendy bangkit berdiri dan menemani sepasang suami istri itu ke depan pintu setelah sebelumnya Ten menyempatkan bertukar nomor ponsel dengan dokter Wendy yang akan mendampinginya beberapa bulan kedepan.

Ten bernafas lega saat akhirnya ia dan Johnny berada di dalam mobil mereka. Ia jelas masih ingat beberapa perkataan orang-orang yang masih sibuk bergunjing tentang dirinya bahkan setelah Ten keluar dari ruangan Wendy.

"Sudahlah jangan dipikirkan sayang." Ucap Johnny, ia mulai mengemudikan mobilnya keluar dari tempat parkir rumah sakit yang cukup besar.

"Menyebalkan sekali, bahkan ada yang mengira aku hamil sebelum menikah. Memangnya aku wanita seperti apa." Ucap Ten ia nampak kesal dan terlihat mulai memilin ujung pakaian yang ia gunakan. Johnny menggapai tangan Ten dengan sebelah tangannya yang bebas, sesekali ia mengelus lembut punggung tangan istrinya berusaha menenangkan wanitanya yang nampak dikuasai oleh amarah.

"Bagaimana caranya memberitahu perusahaan jika aku tengah berbadan dua?" Ucap Ten tiba-tiba, ia menatap lekat ke arah Johnny dengan sekantong keripik kentang yang sejak tadi ia nikmati.

"Aku hanya perlu bilang pada Jaehyun kan?" Ucap Johnny.

"Ah benar juga, aku sampai lupa jika Jaehyun yang menjadi bosku sekarang." Kekeh Ten.

"Bagaimana jika mampir sebentar ke restoran xxxx, Doyoung bilang kalguksu disana enak." Ucap Ten tiba-tiba.

"Kau masih lapar?" Ucap Johnny, sesekali ia melirik ke arah Ten di tengah kegiatannya memandangi jalanan.

"Tidak juga tapi bukankah Wendy bilang harus perbanyak makanan sehat." Kekeh Ten.

"Baiklah aku juga lapar." Ucap Johnny. Ten lantas menghadiahi kecupan di pipi sang suami yang dibalas kekehan karena ia masih sibuk mengemudikan mobilnya.

Wanita itu jelas tak peduli lagi dengan program dietnya. Yang ia inginkan hanyalah bagaimana caranya agar kacang hijaunya berubah menjadi kacang lain yang berukuran lebih besar. Karena sejatinya tubuhnya bukan lagi miliknya, tapi juga milik nyawa lain yang bertahan di dalam sana. Si kacang hijau kecil mereka yang sempat Ten tolak kehadirannya.