4. Cravings
Di bulan pertama kehamilannya Ten sama sekali tak mengalami masalah, ia juga tak meminta hal apapun yang membuat Johnny kerepotan. Ten tetap sibuk dengan berbagai macam pekerjaannya, mulai dari pemotretan, syuting beberapa CF, serta interview di stasiun televisi atau majalah. Bayi kecil mereka sama sekali tidak rewel dan tak membuat kedua orang tuanya kerepotan. Namun sepertinya si kecil tak mengizinkan Ten untuk bersantai dalam waktu yang cukup lama dan hari ini adalah buktinya. Saat ini kehamilan Ten memasuki minggu keenam, artinya tengah menuju bulan kedua. Dan tepat di pagi hari wanita cantik itu beranjak dari kasurnya, ia sedikit berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang bisa ia muntahkan, sepertinya si kecil sudah mulai mengajak sang ibu bermain-main sejenak.
"Hoek… hoek… hoek…"
Ten masih sibuk sejak tadi, nafasnya mulai terdengar memburu dengan manik indahnya yang nampak berembun. Rasa mual sudah menghinggapinya sejak beberapa menit yang lalu namun tak ada apapun yang bisa ia muntahkan, hanya ada cairan bening yang sejak tadi keluar dari mulutnya. Ten tersentak saat merasakan seseorang mengelus lembut tengkuknya, ia menatap pantulan tubuh tinggi Johnny dari cermin yang ada di hadapannya. Ten jadi merasa bersalah telah membuat suami tampannya itu terbangun dari tidurnya, ia jelas ingat jika Johnny baru tidur saat dini hari karena menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Johnny saat Ten berhenti memuntahkan cairan dari mulutnya. Yang ditanya hanya menggeleng, setelahnya ia kembali menunduk dan memuntahkan isi perutnya. Ten merasa tubuhnya tak karuan, tenggorokannya terasa panas dan jangan lupakan kepalanya yang terasa amat pusing seperti ditekan beban berat. Setelah membersihkan mulutnya Ten lantas mengalungkan tangannya ke leher sang suami, ia mulai bersikap manja dan sesekali memejamkan matanya. Johnny yang paham lantas menggendong Ten kembali ke kasur mereka dan memastikan sang wanita berbaring nyaman pagi itu.
"Pusing sekali…." Ucap Ten seraya memijat lembut keningnya.
"Perlu aku hubungi Doyoung untuk mengubah jadwalmu?" Tanya Johnny, saat ini ia tengah sibuk memberikan pijatan lembut di sebelah tangan Ten yang bebas.
"Jangan, sepertinya siang nanti akan jauh lebih baik. Kau tahu kan aku tak mau terkena penalty kontraknya." Jelas Ten seraya menggelengkan kepalanya.
"Padahal aku bisa membayarnya jika kau mau." Kekeh Johnny.
"Sombong sekali…." Canda Ten.
"John, masih ada dua jam. Kau bisa tidur lagi nanti aku bangunkan." Jelas Ten saat melihat jam di kamar mereka yang menunjukan masih pukul empat pagi.
"Aku sudah tidak mengantuk." Jelas Johnny, ia masih sibuk memijat tangan Ten sejak tadi.
"Jangan begitu, memangnya aku tak tahu jika kau baru naik ke kasur saat pukul dua. Lihat kantung matamu, kau bahkan terlihat lima tahun lebih tua. Aku tak mau dikira peliharaan sugar daddy sayang." Jelas Ten, sesekali ia tertawa saat meledek suaminya itu.
"Yak…. Beraninya bicara seperti itu." Ucap Johnny, ia mulai naik ke atas kasur dan memeluk erat tubuh sang istri.
Ten kembali merapatkan tubuhnya pada Johnny, bahkan pria itu mulai mengelus lembut perut Ten yang masih terlihat rata. Mereka mulai berbincang dan sesekali tertawa, kebetulan di luar sedang hujan lebat bukankah akan sangat sempurna untuk cuddles di cuaca seperti ini.
"Dia belum bergerak ya?" Tanya Johnny tiba-tiba, tangannya masih sibuk mengelus perut Ten sejak tadi.
"Tentu saja belum terasa, dia bahkan masih terlalu kecil." Kekeh Ten.
Tak butuh waktu lama Johnny kembali memejamkan matanya, Ten hanya terkekeh saat mendapati Johnny yang mulai mendengkur. Ia jelas mengerti jika Johnny bersusah payah menahan kantuknya beberapa menit lalu.
Johnny nampak telah bersiap untuk pergi ke kantornya, Ten nampak baru saja selesai merapikan penampilannya pagi itu. Johnny terdengar sangat cerewet hari ini, ia bahkan berpesan panjang lebar pada istrinya itu untuk tidak terlalu lelah. Setelah Johnny benar-benar meninggalkan rumah Ten bergegas kembali masuk ke dalam, ia berbaring sejenak di sofa ruang keluarga dan sesekali memijat pelipisnya. Sejujurnya pusing yang melanda kepalanya belum hilang bahkan setelah berjam-jam berlalu.
Siang ini Ten telah kembali memulai pekerjaannya. Ia nampak baru saja selesai make up dan tengah bersiap untuk mengambil adegan. Hari ini adalah jadwal syuting CF salah satu produk skincare yang memang telah mengontrak Ten sejak lama. Awalnya ia sempat risau dan takut jika produk yang ia gunakan akan mempengaruhi bayi kecil yang ada di perutnya, namun Ten kembali mengingat jika skincare yang mengontraknya untuk membintangi CF bahkan telah mengklaim jika produk itu aman untuk ibu hamil dan menyusui sejak beberapa tahun yang lalu.
"Kau sakit ya?" Tanya Doyoung, saat ini wanita itu tengah sibuk mengganti warna lipstik yang Ten gunakan karena mendapat komplain jika Ten terlihat layu saat di kamera.
"Hanya sedikit pusing." Jawab Ten, ia bahkan baru ingat jika Doyoung sang manager belum mengetahui kabar kehamilannya. Mungkin Ten akan memberitahunya nanti, lagipula baby bump nya belum terlihat.
"Ah begitu? Mau aku ambilkan obat?" Tanya Doyoung. Ten lantas menggeleng ribut, ia saja belum sempat menanyakan pada Wendy boleh atau tidaknya mengkonsumsi obat semacam itu.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ten menyempatkan diri untuk menepi di salah satu restoran cepat saji yang sering ia dan Doyoung kunjungi di waktu senggang. Doyoung bahkan cukup terkejut saat mendapati Ten yang memesan burger berukuran besar dan melahapnya dengan semangat, bahkan seingatnya Ten yang ada di hadapannya akan merasa amat berdosa hanya untuk mengkonsumsi burger berukuran kecil. Ten dan Doyoung mulai berbincang tentang banyak hal, sesekali Ten nampak mengelus perutnya dengan sebelah tangannya yang berada di bawah meja, tentu saja Doyoung tak bisa melihat kegiatan wanita di hadapannya itu.
"Suamimu benar-benar seperti selebriti ya Ten." Ucap Doyoung tiba-tiba.
"Hum…. Johnny bahkan lebih sibuk akhir-akhir ini." Balas Ten dengan pipi yang menggembung karena burger yang tengah ia santap.
"Telan dulu bodoh." Kesal Doyoung, Ten hanya terkekeh dan memberikan senyuman tanpa dosa ke arah managernya itu.
"Aku bahkan kesulitan menemui kekasihku karena jadwal suamimu yang super padat itu." Keluh Doyoung, ia sudah amat merindukan kekasih tampannya setelah pertemuan terakhir mereka dua minggu lalu.
"Ah begitu…. Setahuku perusahaan Johnny sedang sibuk dengan produk baru yang akan mereka luncurkan. Apa perlu aku menggoda Johnny supaya kau bisa bertemu Taeil?" Tanya Ten seraya terkekeh.
"Benar. Kau harus bujuk dia, buat Johnny menyerahkan Taeil padaku. Hua…. Aku sudah sangat merindukannya." Keluh Doyoung. Ten hanya terkekeh dan kembali melanjutkan melahap burgernya yang masih tersisa malam itu.
Saat sampai di rumah Ten tak mendapati keberadaan Johnny di ruang keluarga ataupun di kamar mereka. Akhirnya Ten menepi sejenak ke ruang kerja Johnny yang pintunya nampak terbuka, ia lantas masuk ke dalam dan mendapati sang suami yang tengah sibuk memandang layar laptopnya dengan kacamata yang bertengger manis di hidung bangirnya.
"Apa di rumah harus sibuk dengan kertas-kertas itu juga? Menyebalkan sekali…." Keluh Ten, ia mulai menyeret salah satu kursi dan duduk di sebelah Johnny dengan kepalanya yang mulai bersandar manja ke bahu kokoh sang suami. Johnny lantas menghentikan kegiatannya dan mulai menatap wajah damai sang istri yang terlihat kelelahan malam itu.
"Jadi ada yang cemburu?" Ledek Johnny.
"Siapa yang cemburu, hanya sedikit kesal saja. Jadi begini yang Doyoung rasakan." Keluh Ten.
"Doyoung? Maksudmu?" Tanya Johnny, ia masih tak mengerti arah pembicaraan sang istri malam itu.
"Iya Kim Doyoung, dia mengeluh padaku karena tak bisa bertemu dengan Taeil. Doyoung bahkan menyuruhku menggodamu supaya kau memberikan sedikit kelonggaran pada Taeil. Sepertinya si kelinci menyebalkan itu sudah sangat merindukan kekasihnya." Ucap Ten panjang lebar. Johnny lantas terkekeh mendengar perkataan polos yang keluar dari mulut istri cantiknya itu. Ia mulai melepas kacamata yang sejak tadi ia gunakan dan merangkul bahu sempit istrinya.
"Pertemanan kalian lucu sekali. Akan kukatakan pada Taeil untuk segera menemui Doyoung sebelum wanita itu mengamuk di kantorku." Canda Johnny.
"Jadi bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Johnny.
"Hum…. Hari ini syuting CF, tapi sutradara bilang wajahku terlihat layu di kamera, aku bahkan berganti warna lipstik beberapa kali. Apa aku terlihat seperti orang sakit?" Tanya Ten, ia lantai duduk tegak dan menunjuk wajahnya sendiri.
Johnny menjelajah setiap inchi wajah cantik istrinya, wajah cantik dengan pahatan yang sempurna seolah ada dewi yang memberkatinya. Matanya mulai menelisik seluruh penjuru wajah sang istri. Jika dilihat dari dekat memang Ten terlihat sedikit pucat, netra indahnya juga terlihat agak sendu dan tak menghasilkan binar indah seperti hari-hari biasanya.
"Sedikit." Jawab Johnny pada akhirnya.
"Ah begitu ya…. Padahal hanya pusing saja tapi sampai seperti ini." Monolog Ten.
"Apa sekarang masih terasa pusing?" Tanya Johnny, tangan besarnya mulai mendarat di atas kening Ten demi memastikan keadaan istri cantiknya itu.
"Sedikit, tidak separah tadi pagi. Kau tenang aja, aku sudah berkonsultasi dengan Wendy dan sempat menebus obat sebelum pulang ke rumah." Kekeh Ten, ia mulai mengacak isi tasnya dan menunjukan obat yang akan ia minum nanti.
Ten dan Johnny telah berbaring di kasur mereka, Johnny nampak telah memejamkan mata sejak beberapa jam yang lalu. Berbeda dengan Ten, ia nampak terlihat gelisah dan bergerak kesana kemari. Entah kenapa tiba-tiba saja ia sangat menginginkan tteokbokki yang dijual dekat kantor Johnny.
"Johnny…. bangun sebentar…." Ucap Ten, ia mulai mengguncang bahu kokoh suaminya yang nampak masih damai dalam tidurnya.
"Humm…. Kenapa…." Jawab Johnny, ia sesekali ia terlihat menguap dan mengucek matanya.
"Belikan tteokbokki." Ucap Ten tiba-tiba. Netra Johnny yang mulanya menyipit terlihat membola sempurna kala mendengar perkataan istri cantiknya itu, bahkan ini masih jam dua dini hari. Tempat apa yang menjual tteokbokki di jam segini, pikirnya.
"Besok pagi saja ya, pasti sudah tutup jam segini." Ucap Johnny.
"Aku mau sekarang. Belikan ya…. Yang dijual di depan kantormu, kumohon…." Ucap Ten, ia bahkan mulai memasang puppy eyes andalannya, Johnny mana bisa menolak. Ia lantas bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
"Kalau bisa gorengannya juga ya, hum…. kimbab juga boleh. Ah iya odeng nya juga." Ucap Ten, saat ini ia tengah berada di garasi rumah mereka dan bersiap melepas kepergian Johnny demi seporsi tteokbokki pedas yang diidam-idamkan istrinya.
"Ten kau yakin akan makan semuanya?" Tanya Johnny, Ten lantas mengangguk semangat dan tersenyum cerah.
Johnny baru saja tiba dari perjalanan –memburu tteokbokki di jam dua dini hari- nya. Ia lantas memasuki rumah dan mendapati Ten yang tengah meringkuk di sofa ruang keluarga dengan mata yang terpejam. Dengan lembut Johnny membangunkan istri cantiknya itu, Ten hanya bergumam tak jelas dan mengubah posisinya menjadi duduk di sofa seraya sesekali menguap lebar.
"Sudah tidak lapar, simpan saja di kulkas akan ku makan besok pagi." Ucap Ten dengan wajah tanpa dosa, ia lantas melenggang pergi dan kembali ke kamar meninggalkan Johnny yang masih berdiri terpaku lengkap dengan plastik penuh tteokbokki dan makanan lainnya di tangannya.
Dan itulah awal mula dari semuanya, tentang bagaimana hidup Johnny yang akan berubah kedepannya. Semua dimulai dari seporsi tteokbokki pedas dan mungkin akan berlanjut ke hal-hal lainnya. Semuanya jelas demi istri cantiknya yang tengah mengandung buah hati mereka.
