5. Paparazzi

Kehamilan Ten telah memasuki bulan kedua dan menurut Johnny istrinya itu semakin sering bertingkah ajaib. Setidaknya dalam minggu ini ia telah keluar rumah sebanyak dua kali saat dini hari. Yang pertama Ten memintanya membelikan ramen cup dengan rasa yang amat spesifik sampai Johnny hampir frustasi, berterima kasihlah pada minimarket 24 jam yang membantu Johnny menyelesaikan misinya. Dan seperti sebelumnya saat Johnny sampai di rumah Ten malah tengah asyik tertidur lelap dan tak mempedulikan ramen yang sempat ia pesan. Yang kedua adalah pengalaman teraneh yang pernah Johnny alami, Ten memintanya berolahraga mengitari komplek rumah mereka padahal jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Johnny jelas masih ingat bagaimana bulu romanya tiba-tiba saja meremang saat melewati salah satu rumah besar yang ada di komplek tempat tinggal mereka. Masih sama seperti sebelumnya saat Johnny tiba di rumah dengan keringat yang bercucuran Ten malah tengah tertidur lelap di sofa dengan mulut yang sedikit terbuka.

Demi Tuhan jika Ten bukanlah istrinya mungkin Johnny telah membuangnya ke lautan. Pernah suatu hari Johnny menceritakan semua pengalaman anehnya pada Jaehyun saat mereka tengah bertemu. Pria bermarga Jung itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar semua cerita Johnny tanpa berniat menunjukkan sedikit rasa simpati atas penderitaan yang dialami oleh sahabatnya.

"Kau harus bersabar, bahkan Ten baru hamil dua bulan, perjalananmu masih panjang." Ucap Jaehyun kala itu, ia jelas mengingat rentetan permintaan aneh yang Taeyong berikan saat mengandung Mark dulu. Dalam hati Johnny mulai berdoa semoga setelahnya Ten tak meminta hal aneh darinya, ia hanya takut jika tiba-tiba saja Ten meminta ia membawanya ke ruang angkasa.

Pagi itu Ten nampak masih tertidur lelap, wanita cantik itu baru saja mengalami mual beberapa jam lalu dan kembali tertidur setelah berhasil memuntahkan apapun yang keluar dari dalam perutnya. Johnny yang telah terbangun dan baru saja selesai membersihkan diri nampak menatap keheranan ke arah Ten, wanita cantik itu tertidur dengan posisi yang amat aneh. Selimut yang semula Johnny sampirkan di atas tubuh mungil istrinya nampak telah berakhir di lantai. Ten bahkan tertidur dengan rambut yang hampir menutupi seluruh wajahnya, jangan lupakan juga kedua kakinya yang terbuka lebar seolah siap menendang apapun yang menghalanginya. Yang lebih membuat Johnny terperangan bahkan saat ini beberapa kancing bagian bawah piyama yang Ten kenakan nampak terbuka sehingga menampilkan baby bump nya yang sedikit menonjol.

Ten benar-benar berubah, ia bahkan telah lupa bagaimana caranya tidur dengan anggun seperti yang biasa ia lakukan. Dalam hati Johnny sudah amat yakin jika anak mereka laki-laki melihat semua sikap aneh yang Ten tunjukan selama dua bulan masa kehamilannya. Johnny jelas ingat bagaimana Ten dengan segala keinginannya yang tak bisa dibantah, ia bahkan pernah melarang Johnny pergi ke kantor dengan bergelantung di kaki jenjang suaminya itu erat-erat. Mau tidak mau Johnny mengalah, ia terpaksa menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah dengan Ten yang saat itu sibuk mengawasinya.

"Bangun princess…." Ucap Johnny, ia kembali naik ke kasur dan berniat membangunkan istri cantiknya itu. Ten yang merasa tidurnya terganggu lantas mulai bergerak tak nyaman dan perlahan membuka matanya.

"Good morning…." Ucap Ten, ia mulai mendekati Johnny dan mengecup kilat bibir suami tampannya itu. Johnny nampak membalas kecupan Ten di bibirnya dan Selanjutnya ia mendaratkan kecupan lain di perut Ten yang terlihat sedikit menonjol.

"Geli." Kekeh Ten.

"Kau akan pergi, hari ini kan aku libur. Tidak bisakah kita jalan-jalan?" Ucap Ten manja, ia bahkan mulai mengalungkan tangannya ke leher Johnny yang sibuk mengancingi kemejanya.

"Jangan sekarang ya, aku benar-benar harus pergi. Kau istirahat saja di rumah." Jelas Johnny.

"Tapi baby mau jalan-jalan." Ucap Ten, ia mulai mengelus lembut perutnya dengan bibir yang mengerucut lucu. Johnny lantas berbalik dan menatap wajah cantik istrinya, menyingkirkan rambut yang nampak menghalangi wajah Ten dan setelahnya ia mengelus lembut perut Ten yang sedikit menonjol.

"Jangan nakal ya, baik-baik dengan mama saat daddy tidak di rumah." Ucap Johnny bermonolog di depan perut Ten.

"Baik daddy…." Ten membalas dengan suara anak kecil yang ia buat-buat seolah-olah bayi kecil mereka yang tengah bicara.

Setelah melepas kepergian Johnny ke kantornya beberapa menit lalu, saat ini Ten tengah duduk di depan televisi dan memeluk erat toples biskuit coklat kesukaannya. Sejak memasuki kehamilan bulan kedua nafsu makan Ten memang terlihat meningkat, ia bisa menghabiskan apapun yang ada di depan matanya. Lihat saja bagaimana pipinya mulai membulat yang kerap kali membuat Johnny gemas dan berakhir dengan mencubitnya seharian.

Ten yang tengah asyik dengan tontonannya nampak terkejut saat ponselnya tiba-tiba saja berdering nyaring. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan mulai berbicara dengan seseorang yang menghubunginya.

"Yak…. Cepat buka pesanku sekarang." Itu suara Doyoung, wanita itu terdengar sedikit berteriak saat menghubungi Ten. Belum sempat Ten membalas perkataannya tiba-tiba saja wanita serupa kelinci itu menutup terlebih dahulu panggilan telepon mereka.

Ten mulai membuka pesan dari Doyoung, manager cantiknya itu mengirimkan link yang saat Ten buka mengarah pada salah satu halaman akun gosip yang cukup populer di SNS akhir-akhir ini. Ten hampir saja tersedak biskuitnya saat melihat siapa yang diberitakan hari ini, gambar itu jelas foto Ten dan Johnny saat tengah berada di dokter kandungan sebulan yang lalu. Sebenarnya bukan masalah, lagipula berita itu hanya menunjukan kabar bahagia, disitu dituliskan jika mereka mendunga Ten tengah berbadan dua karena kedapatan mengunjungi dokter kandungan sebulan yang lalu.

Ten mulai membaca setiap tulisan yang menghiasi kolom komentar, sesekali ia nampak tersenyum dan mengelus perutnya dengan sebelah tangannya yang bebas saat mendapati komentar baik yang berisi doa-doa untuknya dan calon buah hatinya.

"Wah aku pernah bertemu langsung dengan mereka berdua, keduanya luar biasa. Aku tidak sabar melihat seperti apa rupa anak mereka."

"Walaupun aku masih sedih saat tahu Ten menikah tapi aku sangat bahagia hari ini, apakah kita akan mendapatkan versi mini Ten."

"Sudah pasti anak mereka luar biasa, lihat saja bagaimana rupa ayah dan ibunya."

"Siapapun yang menjadi anaknya kelak pasti pernah berbuat kebaikan di kehidupan sebelumnya, dia pasti terkejut saat terlahir ke dunia dan tahu siapa orang tuanya."

"Bisa bayangkan bagaimana rasanya jadi anak mereka dengan sendok emas di mulutnya."

Kira-kira begitulah rentetan komentar baik yang membuat Ten tersenyum saat membacanya namun tetap saja ada beberapa pihak yang seolah tak suka, bahkan netra indah Ten terlihat mulai berkaca-kaca saat membacanya.

"Hah bukankah terlalu cepat, atau suaminya menanam saham terlebih dahulu?"

"Ten benar-benar luar biasa, bukankah artinya ia akan melahirkan pewaris untuk keluarga Seo, beruntung sekali dia."

"Aku muak sekali, bukankah hidupnya terlalu sempurna. Bisakah sekali saja kemalangan menimpanya?"

"Kudengar ada beberapa model yang menjual tubuhnya ke pria hidung belang, apakah ini salah satunya?"

"Kita semua tahu bagaimana bebasnya pergaulan di dunia hiburan, kurasa setelah bayi mereka lahir suaminya harus segera meminta dilakukan tes DNA. Siapa yang tahu apa yang terjadi sebelumnya."

"Kudengar suaminya sering melakukan perjalanan bisnis dalam waktu yang lama, lalu itu anak siapa ups…"

"Woah si j*l*ng tengah mengandung anaknya, semoga saja nasib anaknya nanti lebih baik dari ibunya."

Ten mulai berurai air mata, ia bahkan melempar asal ponsel miliknya ke ujung sofa. ia mulai menekuk kedua kakinya dan membenamkan wajah cantiknya ke lututnya. Hari itu Ten menangis deras setelah membaca rentetan komentar jahat tentang ia dan calon anaknya. Bagaimana bisa orang-orang berpikiran sejahat itu pada bayi yang tak berdosa.

"Hiks… aku buka j*l*ng…." Lirih Ten di tengah tangisnya. Ia bahkan menangis cukup lama dan melewatkan jam makannya. Wanita cantik itu bahkan tak sadar jika sejak tadi ponselnya bergetar dan jangan lupakan beberapa panggilan yang ia lewatkan.

"Nona kau harus makan, nanti kalau sakit bagaimana…." Ucap seorang ahjumma yang memang datang ke rumah mereka untuk membersihkan rumah tiap beberapa kali dalam seminggu. Ten masih sibuk menangis, ia nampak menggelengkan kepalanya menjawab perkataan ahjumma yang sudah dianggap sebagai keluarganya itu.

"Aku bukan j*l*ng kan ahjumma… hiks… mereka jahat sekali, bahkan bayiku tak memiliki dosa apapun." Ucap Ten, ia menatap lekat ke arah Kim ahjumma yang duduk disampingnya dan mulai mengadu padanya.

"Astaga sudah ya jangan menangis terus, nanti baby ikut sedih jika nona menangis begini." Balas si wanita yang lebih tua, ia mulai membawa Ten dalam pelukannya dan mengelus lembut surai panjangnya. Ten tetap menangis tersedu-sedu di pelukan Kim ahjumma sampai membuat pakaian wanita tua itu terlihat basah.

"Akh… perutku sakit… akh ahjumma…." Ucap Ten saat tiba-tiba saja rasa nyeri menjalar dari perutnya.

"Baby pasti tidak suka jika mamanya bersedih terlalu lama. Ayo berbaring dulu." Ucap Kim ahjumma, ia membantu Ten berbaring di sofa setelah sebelumnya menambahkan beberapa bantal untuk digunakan sebagai sandaran kepala.

Dengan cepat wanita tua itu melesat ke dapur mewah kediaman Ten dan Johnny, tangannya terlihat membawa sebuah wadah yang berisi air hangat. Dengan lembut ia mengompres bagian bawah perut Ten dengan lap yang telah dibasahi dengan air hangat setelah sebelumnya meminta izin pada sang majikan untuk membuka pakaian bagian perutnya.

"Hiks… masih sakit…." Lirih Ten setelah merasa tak ada perubahan apapun yang ia rasakan setelah bermenit-menit berlalu. Si wanita tua lantas menghubungi Johnny yang tengah sibuk di kantornya, dan tak butuh waktu lama Johnny pun bergegas menuju rumah mereka setelah mendapat kabar buruk tentang istrinya.

"Tuan Johnny sedang dalam perjalanan kemari, sudah ya jangan diingat-ingat lagi komentar buruknya. Nanti baby ikut sedih." Ucap Kim ahjumma seraya mengelus lembut bagian bawah perut Ten.

Tak butuh waktu lama Johnny nampak baru saja tiba di rumah mereka, nafas pria tinggi itu nampak terengah seolah ia baru saja berlari berkilo-kilo jauhnya. Johnny mendapati Kim ahjumma yang tengah memijat kaki Ten dengan istrinya itu yang nampak tertidur lelap. Dengan perlahan Kim ahjumma bangkit dari duduknya dan Johnny bergegas membungkuk pada wanita tua di hadapannya itu.

"Nona Ten baru saja tertidur setelah menangis seharian, ia bahkan menolak makan apapun hari ini. Beberapa menit lalu ia mengeluh perutnya sakit." Jelas Kim ahjumma, Johnny lantas mengangguk dan mengucap terima kasih pada wanita tua yang ada di hadapannya. Entah apa jadinya jika Kim ahjumma tidak datang ke rumah mereka hari ini, pikirnya.

Johnny membawa tubuh Ten yang terlelap ke kamar mereka, ia jelas mendapati mata indah istrinya yang membengkak dan terlihat sembab. Itu sudah cukup menjelaskan berapa lama Ten menangis hari ini. Johnny jelas tahu apa yang membuat istrinya itu risau, terlebih saat ia berlari di kantor tadi beberapa pasang mata nampak memandang keheranan ke arahnya dan berbisik membicarakan hal yang tak masuk akal. Johnny lantas membuka kembali artikel tersebut dan mulai menjelajahi kolom komentar, tangannya tiba-tiba saja terkepal kuat saat mendapati rentetan komentar jahat tentang Ten dan calon buah hati mereka.

Sebenarnya komentar semacam itu bukan hal baru untuk Ten terlebih saat berada di puncak karirnya seperti sekarang ini. Namun karena saat ini Ten tengah berbadan dua hormonnya jadi sedikit berbeda, ia akan lebih sensitif pada banyak hal, wanita itu juga mudah menangis akhir-akhir ini. Dan dalam hati Johnny telah menyumpahi orang-orang yang berpikiran buruk tentang keluarga mereka. Johnny mulai mengelus lembut perut Ten seraya berdoa semoga tak ada hal buruk yang terjadi pada kacang hijau kesayangan mereka.