6. Bleeding
Ten terbangun setelah tertidur berjam-jam lamanya, yang ia dapati saat pertama kali membuka mata adalah Johnny yang nampak duduk di sebelahnya dengan tangan besarnya yang memijat lembut jemari Ten sejak tadi. Ten perlahan bangkit dan menatap Johnny lekat-lekat, detik berikutnya ia kembali menangis deras, tangisannya masih terdengar sama seperti beberapa jam yang lalu.
"Mereka jahat John, mereka bilang aku j*l*ng hiks…." Lirih Ten, ia sibuk membenamkan wajahnya ke bahu Johnny hingga membuat pakaian yang digunakan pria tampan itu basah.
"Sudah sudah, jangan dengarkan omongan yang seperti itu." Ucap Johnny seraya mengelus lembut punggung Ten yang nampak masih bergetar karena tangisnya yang kian deras.
"Sudah ya, nanti perutmu kram lagi. Lebih baik istirahat saja." Ucap Johnny, Ten lantas melepaskan pelukannya dari tubuh kokoh sang suami, ia hanya mengangguk dan mulai bersandar di dada bidang Johnny.
Ten masih nampak sendu malam ini, wajahnya masih terlihat kacau buah dari tangisan panjangnya beberapa jam yang lalu. Bahkan malam ini Johnny sengaja membuat masakan kesukaan istrinya itu, namun Ten nampak tak bersemangat ia hanya memakan beberapa suap dan sibuk mengacak sisa makanannya. Johnny benar-benar tak suka melihat Ten yang ada di hadapannya hari ini, Ten yang terlihat sendu dan begitu tak bersemangat adalah hal yang paling ia benci sejauh ini. Johnny bergegas masuk ke kamar mereka, ia meraih ponselnya dan menghubungi Jaehyun, seolah meminta pertanggung jawaban dari pria berlesung pipi itu.
"Setidaknya lakukanlah sesuatu, kau tahu bahkan istriku terlihat seperti mayat hidup hari ini Jung Jaehyun." Ucap Johnny sedikit emosi.
"Agensi kami tengah menyiapkan pernyataan resmi, kau tunggu saja sebentar lagi. Aku sampai heran kenapa jari-jari orang lain bisa lebih cepat dari otak mereka sendiri."
"Lakukan apapun yang kau bisa, awas saja jika besok pagi masih kudapati rumor menjijikan itu, mati kau Jung Jaehyun." Balas Johnny.
"Kau benar-benar mengerikan jika sudah berurusan tentang Ten, sudah tenang saja serahkan semuanya padaku."
Panggilan telepon antara dua pria dewasa itu pun terputus begitu saja, Johnny kembali ke ruang makan, disana ia mendapati Ten yang melipat kedua tangannya di atas meja makan dan menumpu kepalanya di atas sana. Bahkan wanita mungil kesayangan Johnny itu terlihat tak berdaya malam itu.
Ten nampak belum mau memejamkan matanya, ia hanya berbaring meringkuk sejak tadi. Pikirannya seolah tengah menerawang jauh entah kemana, Johnny yang baru saja kembali dari ruang kerjanya lantas bergegas naik ke kasur mereka ia membawa Ten dalam dekapannya dan mengecup keningnya.
"Kenapa belum tidur hum?" Tanya Johnny malam itu. Ten tak menjawab, ia hanya menggeleng dan terlihat tak bersemangat.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Tenang saja, Jaehyun telah menyelesaikan semuanya. Sudah ya sekarang lebih baik tidur, baby juga harus istirahat." Ucap Johnny, ia mulai menyingkap sedikit piyama Ten dan mengelus lembut perut istrinya itu.
" Maaf…." Ucap Ten tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf, kau tak berbuat kesalahan kan?" Kekeh Johnny.
"Gara-gara menikah denganku namamu jadi terseret ke berita murahan seperti itu." Lirih Ten, bibirnya tampak mengerucut lucu dan menatap lekat-lekat netra tajam Johnny.
"Kau bicara apa…. Aku kan suamimu, sudah ya hilangkan pikiran buruk dari kepala kecilmu ini." Ucap Johnny sedikit bercanda, ia bahkan mulai mengetuk pelan kepala Ten yang dibalas wanita itu dengan bibir yang mencebik lucu seolah tak terima.
"Baby mau dielus sampai tertidur boleh?" Tanya Ten, ia mulai membawa kembali tangan besar Johnny ke atas perutnya, meminta pria itu melakukan gerakan yang biasa ia lakukan.
"Tentu saja, dengan senang hati nyonya." Balas Johnny sedikit bercanda. Tak butuh waktu lama, Ten lantas mulai memejamkan matanya lengkap dengan dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Johnny mulai menghentikan kegiatannya, ia mengecup lembut kening Ten dan setelahnya mulai mengecup kacang hijau mereka.
Dan malam ini Johnny menemukan sifat lain yang Ten miliki di tengah kehamilannya. Tentang Ten yang tiba-tiba saja menjadi amat manja seolah menghilangkan sifat Ten yang cukup pemaksa seperti beberapa hari sebelumnya.
Johnny terbangun dari tidurnya dan merasa tubuhnya jauh lebih segar. Jelas saja malam tadi ia dan Ten tertidur nyenyak bahkan wanita mungil itu tak membangunkannya saat tengah malam atau dini hari, rasanya seperti sebuah anugerah.
"Huaaaa…."
Johnny tersentak saat mendengar suara teriakan Ten yang berasal dari dalam kamar mandi mereka, ia lantas mengambil langkah besar dan mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali berharap Ten akan membalasnya. Ten nampak membuka pintu kamar mandi, ia terlihat menangis sampai hidungnya memerah, detik berikutnya ia berucap dengan suara parau dan berhasil membuat Johnny khawatir.
"Di celana dalamku ada bercak darah, bagaimana ini John hiks…." Ucap Ten di tengah tangisnya. Ia bahkan terlihat mulai panik, tangannya nampak bergetar saat memainkan ponselnya untuk menanyakan pada Wendy tentang apa yang harus ia lakukan.
"Ayo ke rumah sakit sekarang." Ucap Johnny, ia baru saja mengenakan hoodie miliknya dan memaksa Ten untuk pergi hari itu juga.
Mereka berdua nampak tengah duduk di depan ruangan Wendy. Ten nampak bersandar lemah dan tak bersemangat, pikirannya jelas mulai diisi dengan banyak kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi. Para pasien atau pengunjung yang berlalu lalang nampak sesekali memperhatikan ke arah sepasang suami istri itu, berterima kasihlah pada Johnny yang meminta Ten mengenakan masker dan topi miliknya demi menutupi penampilannya yang benar-benar tak karuan pagi itu.
Tak butuh waktu lama nama Ten terlihat dipanggil oleh seorang perawat. Ten dan Johnny bergegas masuk ke dalam dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berkonsultasi dengan Wendy.
Wendy meminta Ten berbaring di ranjang yang ada di ruangannya, ia mulai memeriksa kondisi janin Ten setelah sebelumnya meminta pasiennya itu menyingkap hoodie yang ia kenakan. Ten nampak tak tenang bahkan tanpa sadar wanita itu mulai menggigiti kuku jarinya seperti yang biasa ia lakukan saat kegugupan melanda. Johnny yang melihat kegugupan yang terpancar jelas dari wajah cantik istrinya lantas menatapnya lekat, menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat jemari Ten pagi itu.
"Tahan sebentar yang ini akan terasa sedikit dingin." Ucap Wendy, ia nampak mulai mengoleskan gel bening ke permukaan perut Ten. Tak butuh waktu lama Wendy mulai menggerakkan transduser yang ada di tangannya untuk menjelajahi area perut Ten. Sesekali ia nampak menatap serius ke arah monitor yang menampilkan kondisi janji yang ada di perut pasiennya.
"Tenang saja dia masih sehat, lihat bahkan masih bergerak." Ucap Wendy, perkataan Wendy membuat Ten dan Johnny menoleh ke arah monitor. Senyuman lega nampak terpancar jelas di wajah sepasang suami istri itu. Setelah selesai memeriksa kondisi janin dalam perut pasiennya, Wendy bergegas mengambil beberapa lembar tissue dan membersihkan sisa gel yang masih berada di atas permukaan perut Ten.
"Seharusnya jangan terlalu stress dan tertekan." Ucap Wendy, ia nampak duduk di kursinya dan memulai sesi konsultasi.
"Karena ibunya mengalami stress jadi baby juga ikut merasakannya. Tapi tenang saja pendarahannya masih dalam batas normal, setelah ini harus segera istirahat." Ucap Wendy. Ten nampak mengangguk dan sedikit merasa bersalah setelah mendengar semua penjelasan dari Wendy. Seharusnya kemarin ia tak perlu menangis selama itu dan tak perlu memikirkan hal-hal aneh yang tak berguna, jelas saja hal itu akan langsung berefek pada janin yang tengah ia kandung.
"Ah iya setelah ini kuharap kau benar-benar menghentikan semua pekerjaanmu dan mungkin kau harus mulai bedrest selama beberapa hari." Ucap Wendy.
"Apa perlu di rumah sakit?" Tanya Johnny yang akhirnya buka suara setelah berdiam cukup lama.
"Tidak perlu, bisa dilakukan di rumah. Yang jelas jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan untuk saat ini pastikan juga untuk konsumsi makanan yang bergizi." Jelas Wendy.
Setelah merasa mendapatkan semua penjelasan dari Wendy akhirnya Ten dan Johnny pamit undur diri dari hadapan dokter cantik tersebut. Mereka berdua nampak tengah berada di dalam mobil, Ten terlihat bersandar dengan tangannya yang berada di atas permukaan perutnya. Johnny nampak menoleh sekilas, Ten pasti tengah dilingkupi dengan berjuta rasa penyesalan setelah menangis seharian penuh kemarin.
Ten benar-benar melakukan semua yang Wendy katakan kemarin, Johnny benar-benar membatasi pergerakan istrinya itu, seolah Ten adalah gelas kaca yang akan pecah jika tersenggol sedikit saja. Seperti pagi ini mereka berdua nampak tengah menyantap sarapan di kamar mereka. Tentu saja mulai hari ini Johnny yang memegang semua kendali dapur, jangan tanya bagaimana rasa masakan pria tinggi itu, sekalipun tidak seenak buatan Ten sendiri setidaknya wanita itu harus bersyukur karena Johnny mau mengambil alih pekerjaannya.
"Kenapa? Tidak enak ya?" Tanya Johnny saat tiba-tiba saja Ten menghentikan kegiatan sarapannya.
"Tidak…. Eh maksudku enak kok, aku hanya terpikir tentang hal lain." Ucap Ten.
"Kenapa?" Tanya Johnny.
"Jadwalku minggu ini benar-benar padat, bagaimana ini aku bahkan lupa mengabari Doyoung tentang kondisiku." Ucap Ten mulai panik, ia bahkan mulai menyambar ponselnya yang berada di meja nakas dan berniat menghubungi managernya itu.
"Aku sudah kabari Jaehyun." Ucap Johnny, ia nampak menahan tangan sang istri dan mengambil alih ponsel yang tengah Ten genggam.
"Aku terkena penalti, huaa…." Lirih Ten, ia mulai berdrama saat mengingat berapa ratus juta won yang harus ia keluarkan untuk membayar penalty kontraknya minggu ini.
"Sudah aku bereskan." Ucap Johnny singkat. Netra indah Ten nampak membulat sempurna, ia jelas paham jika suaminya itu kaya raya tapi Ten tak pernah menyangka jika Johnny sampai merogoh kocek sedalam itu untuk dirinya.
"Maafkan aku, pasti akan kuganti uangnya." Ucap Ten dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Kau ini kenapa, kita ini suami istri kenapa kau harus menggantinya." Balas Johnny sedikit bercanda.
"Ngomong-ngomong berapa?" Tanya Ten, ia bahkan mulai mendekat ke arah Johnny dan amat penasaran dengan uang yang harus dirogoh suaminya demi membayar penalty kontraknya. Johnny hanya mengedikkan bahu dan tak berniat menjawab, bahkan pria tampan itu nampak tersenyum remeh saat ini.
"300 juta won, ani 500 atau 700?" Tanya Ten penuh selidik.
"Begitulah kira-kira." Jawab Johnny.
"Menyebalkan sekali, kenapa aku harus menandatangani kontrak dengan produk-produk mahal itu." Monolog Ten.
"Kau pikir siapa yang tahu akan ada kejadian semacam ini." Jawab Johnny, ia mulai mengambil alih piring Ten yang telah kosong dan bergegas membawanya kembali ke dapur.
"Aku serius, nanti kubayar ya uangnya." Ucap Ten saat Johnny mulai melangkah pergi.
"Bayar saja setelah kau sembuh." Ucap Johnny seraya mengelingkan sebelah matanya yang berhasil membuat Ten bergidik ngeri.
"Eiy…. Dasar mesum." Balas Ten sedikit berteriak karena Johnny mulai menjauh dari ambang pintu.
Dan hari itu Ten kembali melalui hari-hari panjangnya di atas kasur, jujur saja ia mulai bosan namun apalagi yang bisa ia lakukan selain membaca buku, menonton drama, atau memainkan ponselnya. Ten bahkan berkali-kali mengelus perutnya hari itu berharap kacang hijau kecilnya baik-baik saja dan tak akan ada lagi hal buruk yang menimpanya.
