7. Red Beans
Ten menghabiskan waktunya selama seminggu penuh untuk bedrest sesuai dengan anjuran Wendy, ia juga telah merasa jauh lebih baik dan pastinya pendarahan yang sempat ia alami telah berhenti sejak beberapa hari yang lalu. Ten sudah diizinkan bergerak bebas namun Johnny masih melarangnya untuk bekerja, alhasil lagi-lagi pria tampan itu harus merogoh koceknya dalam-dalam untuk membayar penalti kontrak yang telah Ten langgar.
Doyoung yang mengetahui kabar jika Ten mengalami pendarahan beberapa hari lalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah sahabatnya itu. Ten jelas masih ingat bagaimana Doyoung yang biasanya berkelakuan seperti preman pasar tiba-tiba saja memeluknya erat-erat seraya menangis deras. Ia merasa amat bersalah karena telah mengirimkan link pemberitaan pada Ten hari itu. Doyoung bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab Ten jatuh sakit.
"Sudah…. Aku sudah lebih baik, kau tenang saja. Kau kan jelek saat menangis, cepat berhenti sebelum kupanggil Taeil kesini." Ucap Ten, ia nampak mengelus lembut punggung sahabatnya yang nampak bergetar karena tangisannya. Bahkan Johnny yang berdiri di ambang pintu kamar mereka nampak terkekeh melihat Doyoung yang menangis keras.
"Aku hampir membahayakan nyawamu Ten, maafkan aku…. Huaa…. Aku sahabat yang buruk." Ucap Doyoung di sela-sela tangisnya.
"Jangan berpikir begitu, aku tidak apa-apa kok." Kekeh Ten.
"Masih bisa tertawa rupanya." Ucap Doyoung, ia baru saja melepaskan pelukannya dari tubuh Ten dan tengah sibuk menyeka ingusnya dengan tissue yang ia genggam.
"Ngomong-ngomong suamimu luar biasa." Kekeh Doyoung, ia sedikit berbisik pada Ten karena khawatir jika Johnny akan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Maksudmu?" Tanya Ten, ia yang tengah menikmati jus mangga kesukaannya lantas menatap lekat ke arah sahabat yang merangkap sebagai manajernya itu.
"Kau tahu berapa uang yang telah ia habiskan untuk membayar semua penalty mu?" Tanya Doyoung, Ten nampak menggeleng ribut ia benar-benar tak tahu berapa nominal yang Johnny keluarkan karena pria tampan itu sama sekali tak mengatakan apapun padanya.
"Lima miliar won lebih, luar biasa bukan?" Ucap Doyoung. Ten hampir saja menyemburkan jusnya setelah mendengar perkataan Doyoung. Ia sama sekali tak menyangka jika Johnny merogoh kocek sedalam itu untuk membayar semua penalty nya, sedangkan ia hanya bisa mengerjainya dan membuatnya terbangun tiap dini hari untuk menuntaskan keinginannya yang begitu aneh.
"Johnny…. aku jadi merasa bersalah…." Ucap Ten dengan kepala yang tertunduk dan bibir yang mencebik lucu.
"Sudahlah, suamimu kan kaya raya. Kurasa ia bisa mendapatkan kembali uang itu setelah satu atau dua hari bekerja." Ledek Doyoung.
"Ah iya ngomong-ngomong kau akan bekerja sampai kapan?" Tanya Doyoung tiba-tiba.
"Aku bingung, sekarang saja masih seperti ini. Bahkan Johnny masih melarangku keluar rumah." Ucap Ten.
"Di catatanku jadwal mu masih penuh sampai empat bulan kedepan, hum kira-kira kau sudah hamil enam bulan nanti. Sepertinya kita harus mulai menolak tawaran yang bermunculan." Ucap Doyoung, ia mulai bermain dengan iPad miliknya dan mengecek jadwal Ten.
"Hum…. empat bulan ke depan ada apa saja?" Tanya Ten.
"Sebentar aku cek dulu…. kita punya syuting CF produk makanan, skincare, dan make up. Ada juga pemotretan dengan delapan majalah jangan lupakan juga interview nya. Lalu ada beberapa event produk yang harus kau datangi. Tidak ada produk fashion jadi kurasa tak masalah jika kau syuting dengan perut yang membuncit nantinya. Tapi aku tetap harus memastikan pada pihak sana terlebih dahulu." Jelas Doyoung.
"Aku harus bicara dulu dengan Johnny, hari ini saja dia begini. Padahal aku sudah merasa lebih baik tapi dia masih melarangku pergi. Bisa tolong kirimkan salinan jadwalnya padaku?" Ucap Ten.
"Baiklah akan aku kirim ke email mu." Ucap Doyoung, ia mulai sibuk bermain dengan iPad nya untuk mengirim salinan jadwal pada model kesayangannya itu.
"Ngomong-ngomong kau kenapa tidak bilang sejak lama sih jika sedang hamil. Kau tahu saat kami tahu kau tengah mengandung para staf jadi merasa bersalah karena memaksamu memakan high heels beberapa minggu lalu." Keluh Doyoung.
"Aku lupa mengabarimu hehe…." Kekeh Ten.
"Benar-benar." Balas Doyoung, bahkan saat ini wanita itu nampak berdecak kesal.
"Taeyong eonni bilang saat ia hamil dulu ia amat merepotkan Jung sajangnim. Kau bagaimana?" Tanya Doyoung, ia terlihat amat penasaran, tak apalah anggap saja ajang mencari ilmu sebelum ia menikahi Taeil nantinya.
"Hum…. sepertinya aku lebih parah dari Taeyong eonni." Ucap Ten.
"Sudah kuduga kau pasti akan mengerjai suamimu itu." Ucap Doyoung seraya bercanda.
"Bukan, aku jelas tak berniat begitu. Kau tahu rasanya seperti saat kita menginginkan sesuatu dan harus terpenuhi saat itu juga. Aku bahkan ingat jika pernah hampir menangis saat Johnny menolak keinginanku." Jelas Ten.
Ten mulai menceritakan semua pengalaman uniknya, lebih tepatnya pengalaman unik Johnny untuk memenuhi keinginan istrinya yang tengah berbadan dua. Ten benar-benar menjelaskan semuanya pada Doyoung. Tentang Johnny yang ia paksa membeli tteokbokki di jam dua dini hari, mencari remen cup dengan rasa yang begitu spesifik, memaksanya berlari mengitari komplek rumah mereka pukul tiga pagi, dan yang paling parah adalah tentang Ten yang memaksa Johnny mandi pukul dua dini hari dan membuat pria tinggi itu dilanda flu berat keesokan harinya.
"Kurasa anakmu benar-benar jahil, aku bahkan tak habis pikir bagaimana bisa kau menyuruh Johnny mandi jam dua dini hari." Kekeh Doyoung.
"Aku juga bingung apa yang aku pikirkan saat itu." Ucap Ten.
Karena keadaan Ten yang jauh lebih baik, hari ini mereka berdua memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan. Seperti biasa untuk memantau perkembangan kacang hijau kecil mereka. Ten juga tak sabar sudah berubah jadi apa kacang hijau kecilnya. Hari ini baik Ten dan Johnny sama-sama mengenakan setelah santai yang membalut tubuh mereka, kebetulan setelah ini mereka akan pergi berkencan ke salah satu mall yang berada di pusat kota Seoul. Sebenarnya niat awalnya Johnny hanya akan mengecek beberapa produknya yang tengah dipasarkan di mall tersebut namun Ten bersikeras untuk ikut dan berakhirlah mereka berdua dengan membeli tiket film yang saat ini tengah tayang dan berniat untuk berkencan seperti anak remaja yang tengah dimabuk asmara.
Ten nampak telah berbaring di ranjang pasien yang ada di ruangan Wendy, senyuman manisnya tak henti-hentinya merekah hari ini terlebih saat Wendy mengatakan jika bayi mereka dalam keadaan sehat. Rasanya Ten bersyukur masih diberikan kesempatan setelah sempat frustasi beberapa hari sebelumnya.
"Wah ada dua titik…." Ucap Wendy, Ten dan Johnny yang tak mengerti maksud dari perkataan dokter wanita itu hanya saling berpandangan satu sama lain dan menggelengkan kepala mereka.
"Selamat ya, anak kalian kembar." Ucap Wendy dengan senyuman indahnya.
"Apa?" Ten yang nampak tak percaya sedikit berteriak dengan mata yang membulat sempurna, reaksi Johnny tak jauh berbeda, pria tinggi itu nampak membulatkan matanya dan sibuk menatap ke layar monitor yang menggambarkan dua titik yang saling berdampingan dan bergerak.
"Hum…. sepertinya titik yang lain bersembunyi saat USG sebelumnya sampai tak terlihat." Jelas Wendy.
"Karena sekarang sudah masuk minggu ke delapan kira-kira si kecil seukuran kacang merah. Beberapa organ tubuhnya sudah mulai terbentuk, jantungnya juga mulai berdetak. Ah kakinya juga sudah terbentuk. Walaupun tidak terasa apapun tapi sebenarnya si kecil sudah banyak bergerak di dalam sana." Jelas Wendy panjang lebar dihadapan Ten dan Johnny. Sepasang suami istri itu hanya mengangguk dengan senyuman yang tak luntur dari wajah mereka, ayolah siapa yang tak senang saat diberikan berita baik seperti beberapa menit yang lalu.
Setelah menyelesaikan sesi konsultasinya Ten dan Johnny bergegas melanjutkan perjalanan sesuai rencana awal mereka, tentu saja berkencan di sebuah mall seperti anak remaja. Di sepanjang perjalanan senyuman tampak tak luntur dari wajah cantik Ten, ia tak henti-hentinya menatap foto hasil USG nya hari ini. Hatinya bahkan terasa kian menghangat saat mendapati dua titik kecil yang tergambar jelas di sana. Bukankah seharusnya mereka berdua lebih banyak bersyukur, disaat orang lain yang sudah mengharapkan kehadiran buah hati sejak lama namun tak kunjung diberi kepercayaan, mereka berdua malah seperti diberikan jackpot oleh Tuhan, benar-benar luar biasa, pikir Ten.
"Cubit aku John, aku akan pastikan jika ini bukan mimpi." Ucap Ten, ia mengulurkan tangannya pada Johnny yang sibuk menyetir saat itu.
"Kau kenapa sih, seperti orang gila." Kekeh Johnny.
"Hua…. Aku tak menyangka kacang merah kita ada dua. Apa itu sebabnya aku makan sangat banyak akhir-akhir ini. Ah seharusnya kutanyakan pada Wendy tadi." Monolog Ten panjang lebar. Johnny yang berada di kursi kemudi hanya terkekeh melihat tingkah istrinya itu, ia jelas dapat melihat rona bahagia yang terpancar dari wajah cantik istrinya. Siapa yang menyangka jika beberapa bulan lalu Ten yang bersikeras untuk menyingkirkan anak mereka malah jadi yang paling mengharapkan kehadirannya saat ini. Memang hati manusia sangat mudah berubah.
Saat ini sepasang suami istri itu tengah berada di mall, Ten nampak duduk di bangku panjang dengan es krim di tangannya, ia tengah menunggu Johnny yang masuk ke convenient store sejak beberapa menit yang lalu, katanya ingin mengecek secara langsung produk perusahaannya. Saat Ten tengah duduk seorang diri beberapa orang nampak tersenyum ke arahnya yang Ten syukuri adalah mereka tidak mendekat untuk meminta foto atau tanda tangannya karena sejujurnya Ten kurang menyukai hal yang seperti itu. Ayolah ia masih manusia biasa dan membutuhkan banyak ruang untuk bergerak bebas.
Johnny nampak baru saja keluar dari tempatnya, ia berjalan ke arah Ten dan mengajak isrinya itu menuju ke gedung bioskop karena sesuai perhitungannya film yang mereka tonton akan diputar beberapa menit lagi. Di sepanjang film Ten nampak menangis deras dengan popcorn besar yang ia nikmati sejak tadi. Johnny sampai bingung sendiri, rasanya filmya tidak terlalu menyedihkan tapi istrinya itu telah menghabiskan beberapa lembar tisu yang bahkan malas Johnny hitung jumlahnya. Johnny jadi teringat perkataan Jaehyun beberapa hari lalu, pria itu bilang saat hamil mood para wanita akan berubah-ubah, dan Johnny jelas merasakannya tentang bagaimana mood Ten yang serupa roller coaster, kadang ceria dan bersemangat kadang sendu sampai akhirnya bisa menangis seorang diri.
Setelah selesai menonton film Ten memutuskan untuk mengisi kebutuhan rumah tangganya yang kebetulan telah menipis. Saat ini ia tengah berjalan di depan Johnny dan membiarkan pria tinggi itu mendorong sekeranjang penuh bahan makanan yang dibutuhkan. Sebenarnya tidak semuanya dibutuhkan, beberapa hanya karena keinginan Ten yang tak masuk akal. Lagi-lagi Johnny hanya mampu mengikuti semua keinginannya, karena ia jelas masih ingat jika membantah semua keinginan istri cantiknya itu sama saja tengah memulai perang dunia ketiga. Seseorang tolong ingatkan Johnny untuk tetap bersabar sampai akhir pertempuran.
