8. Joy and Sorrow

Ten sudah mulai kembali bekerja sejak beberapa hari yang lalu, lagipula dalam sehari jadwalnya tidak sepadat dulu. Tentu saja ia berhasil keluar rumah setelah meyakinkan Johnny jika ia akan baik-baik saja, dan sampai saat ini pria tinggi itu sudah berkali-kali menghubungi Doyoung untuk memastikan keadaan istrinya. Jika Johnny bukan atasan kekasihnya mungkin Doyoung sudah memaki pria tinggi itu.

"Johnny benar-benar, lihat dia sudah empat belas kali menghubungiku demi menanyakan keadaanmu." Ucap Doyoung seraya menunjukan log panggilan yang terpampang di layar ponselnya.

"Maafkan aku…. Aku saja bersusah payah untuk sampai disini." Ucap Ten, saat ini ia tengah menikmati kue coklat kesukaannya sambil menunggu pemotretan selanjutnya.

Kedatangan Ten untuk kembali bekerja disambut baik oleh para staf disana. Mereka bahkan terlihat begitu gemas melihat Ten yang datang dengan perutnya yang sedikit menonjol. Beberapa staf memuji Ten yang terlihat lebih cantik saat tengah berbadan dua apalagi dengan pipinya yang terlihat lebih chubby dari sebelumnya, membuatnya terlihat lebih menggemaskan. Para staf juga merapalkan doa-doa baik untuk Ten dan calon anaknya, Ten jadi merasa lebih bahagia. Setelah peristiwa beberapa minggu lalu Ten jadi tersadar jika kita tak bisa mengendalikan semua omongan orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengendalikan pikiran kita sendiri, dan mungkin itu yang tengah Ten lakukan saat ini. Ia berusaha bersikap santai saat mendapati kabar miring tentang dirinya demi keselamatannya dan kacang merah kecilnya.

Ten nampak tengah berpose di hadapan kamera, hari ini adalah jadwal pemotretan untuk salah satu produk skincare. Saat Ten tengah asyik berpose dengan indahnya, Doyoung malah tengah sibuk dengan ponselnya, ia tengah berbincang dengan Johnny untuk yang ke lima belas kalinya.

"Istrimu baik-baik saja, lihat bahkan dia tengah asyik berpose." Ucap Doyoung, ia mengubah panggilan mereka menjadi panggilan video dan mengarahkan kameranya ke arah Ten yang terlihat tengah tertawa karena baru saja melakukan kesalahan setelah pemotretan.

"Kembalikan dia dalam kondisi baik, awas saja jika sampai lecet."

"Astaga kau hampir membuatku gila, setidaknya berikanlah aku hadiah setelah semua ini." Ucap Doyoung.

"Temuilah Taeil setelah selesai nanti."

"Yeay…. Terima kasih Johnny, tenang saja aku akan menjaga istrimu. Kau boleh menghubungiku sesuka hatimu, bye…." Ucap Doyoung sebelum akhirnya mengakhiri panggilan diantara mereka berdua.

"Kau benar-benar terlihat cantik, kurasa anakmu perempuan." Ucap seorang wanita yang tengah menata rambut Ten hari itu.

"Terima kasih, tapi kami belum tahu dia laki-laki atau perempuan." Kekeh Ten seraya mengelus perutnya.

"Apa kau tidak mengalami morning sickness? Sepertinya hari ini terlihat begitu segar." Sambung seorang lainnya yang tengah menyiapkan pakaian untuk Ten.

"Hum…. hanya saat bangun tidur, setelah itu seperti tidak terjadi apa-apa." Jawab Ten.

"Bayinya benar-benar perhatian sekali pada ibunya, aku jadi tidak sabar saat dia lahir." Ucap si penata rambut. Dalam hati Ten sudah berucap, bayinya memang baik padanya namun tak baik pada Johnny, anak mereka pasti selalu membuat Johnny bangun tiap dini hari karena semua keinginan Ten yang kelewat aneh.

"Sepertinya begitu…." Kekeh Ten.

Ten pulang ke rumah tepat di sore hari, wanita itu pulang dengan perasaan yang amat bahagia. Ia jelas masih mengingat bagaimana beberapa orang tadi memujinya bahkan seseorang yang sudah sangat Ten kenal memberikannya hadiah berupa kue coklat kesukaannya. Ada juga yang memberikan Ten multivitamin, walaupun sama seperti yang ia miliki di rumah namun Ten tetap menerimanya, bukankah itu artinya orang-orang begitu menyayangi kacang merah mereka.

Johnny sampai di rumah saat malam hari, akhir-akhir ini pria tampan itu memang sering sekali pulang larut malam karena sebentar lagi akan dilakukan peluncuran produk baru dari perusahaannya. Saat Johnny memasuki rumahnya ia mendapati Ten yang tengah duduk di kursi meja makan dengan semangkuk es krim miliknya. Sejak beberapa hari yang lalu memang Ten jadi amat terobsesi dengan benda dingin itu. Tapi setidaknya Johnny sedikit bersyukur karena kacang merah mereka tidak membuat Ten repot kecuali mual dan muntah setiap pagi, sejauh ini yang Johnny lihat Ten bisa memasukkan apapun ke mulutnya tanpa pilih-pilih.

"Ah kau sudah sampai rupanya, kenapa diam saja." Ucap Ten, ia terlihat bangkit dari duduknya dan menghampiri Johnny yang nampak berdiri sejak tadi.

"Baru sampai, kau juga terlihat serius sekali menyantap es krimnya." Ledek Johnny. Ten hanya tersenyum, ia membantu Johnny melepas dasinya dan mengambil alih jas serta tas suaminya itu.

"Mau mandi atau makan dulu?" Tanya Ten.

"Sepertinya mandi dulu saja." Ucap Johnny, ia mulai melangkah ke kamar mereka dan berniat membersihkan diri sebelum menyantap makan malam.

"Baiklah aku akan siapkan makanannya." Jawab Ten.

Tak butuh waktu lama Johnny terlihat turun dari lantai atas dengan kaos putih yang membalut tubuh kekarnya dan celana pendek hitam yang sering digunakan, ia bergegas menghampiri Ten dan memeluknya dari belakang. Ten yang tengah memanaskan makanan untuk Johnny nampak sedikit tersentak saat mendapati tangan kekar Johnny mengelus perutnya dari belakang.

"Jadi apa kacang merah membuat ulah hari ini?" Tanya Johnny, ia membalikkan tubuh Ten setelah sebelumnya wanita itu mematikan terlebih dahulu kompor yang ada di hadapannya.

"Tidak, dia baik tidak rewel sama sekali." Ucap Ten seraya mengelus perutnya.

"Aku sangat merindukanmu." Ucap Johnny dengan bibir yang mengerucut, Ten jelas tahu kemana arah pembicaraan suami tampannya itu. Ia lantas menyisir lembut rambut Johnny dengan jemari lentiknya dan memberikan kecupan singkat di bibir pria tinggi itu.

"Merindukan tubuhku kan maksudmu." Kekeh Ten. Johnny terlihat mengangguk dan mengeratkan pelukan mereka. Sebenarnya tak ada yang bisa mereka lakukan, apalagi di usia kandungan Ten yang masih amat muda dengan riwayat perdarahan yang terjadi di bulan sebelumnya. Johnny terpaksa memendam hasratnya untuk sementara waktu, tapi tak dipungkiri terkadang ia merasa goyah apalagi ketika mendapati payudara Ten yang berukuran lebih besar daripada sebelumnya.

"Sudah ah makan dulu sana, kalau sudah dingin tidak enak." Ucap Ten, ia melepas paksa pelukan Johnny dan mulai menata beberapa lauk pauk di meja makan mereka.

"Kau tidak makan?" Tanya Johnny saat tengah menyantap makanannya.

"Aku sudah makan duluan, menunggumu membuatku kelaparan." Ucap Ten dengan pipinya yang menggembung karena penuh dengan kue coklat yang tengah ia nikmati.

"Kau dapat dari mana?" Tanya Johnny, ia menatap lekat ke arah kue coklat yang Ten nikmati sejak tadi.

"Temanku yang buat, aku suka sekali. Kau tahu tadi aku mendapatkan beberapa hadiah, mereka baik sekali, beberapa dari mereka mendoakan kacang merah kita ada juga yang memberikanku vitamin. Senang sekali rasanya." Ucap Ten panjang lebar. Johnny nampak tersenyum melihat Ten yang begitu ceria di hadapannya, setidaknya itu jauh lebih baik. Johnny jelas masih ingat bagaimana Ten yang menangis sampai matanya sembab sebulan yang lalu karena membaca komentar-komentar jahat tentang dirinya.

Setelah selesai makan malam, Ten yang merasa sudah amat mengantuk lantas berbaring lebih dulu di kasur besar mereka meninggalkan Johnny yang masih sibuk memainkan ponselnya sejak tadi. Saat tengah malam Ten terbangun dan mendapati jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul satu dini hari. Dengan mata yang setengah terpejam Ten kembali membangunkan Johnny yang terlihat tertidur pulas. Ia mengguncang bahu Johnny beberapa kali sampai akhirnya pria tinggi itu mendengus sebal karena tidurnya yang terusik.

"Kenapa sayang…. Hoam…." Ucap Johnny seraya sesekali menguap.

"Buatkan aku kimbab." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny yang semula bangun dengan mata yang setengah terpejam lantas membulatkan matanya, ayolah demi Tuhan ini masih jam satu dini hari dan tiba-tiba saja istrinya itu minta dibuatkan kimbab.

"Beli atau buatkan?" Tanya Johnny hati-hati, ia hanya ingin memperjelas permintaan istrinya itu.

"Jangan beli, buatkan untukku. Baby mau daddy nya yang membuat sendiri." Ucap Ten sambil mengelus lembut perutnya.

"Ten tidak bisa jam 4 atau 5 saja? Ini tengah malam sayang? Kau yakin akan memakannya?" Tanya Johnny pasalnya matanya masih terasa amat berat dan Ten malah menyuruhnya membuat kimbab.

"Tidak mau, harus sekarang…. Ayo cepat." Ucap Ten, ia terlihat mulai bangkit berdiri dan menarik tangan besar Johnny.

Dengan pasrah Johnny mengikuti Ten yang membawanya ke dapur, berbeda dengan kejadian sebelumnya kali ini Ten menyaksikan langsung bagaimana cara suaminya itu membuat kimbab. Tentu saja ia tak melihat dengan tangan kosong, saat ini Ten tengah menikmati es krim miliknya dan tersenyum cerah memandang suaminya itu. Sebenarnya Johnny tak pernah tahu bagaimana cara membuat kimbab, ingin menghubungi ibunya namun sudah pasti wanita tua itu sudah memejamkan mata jam segini, ingin menghubungi kakak iparnya namun Johnny merasa tidak enak dan takut keponakan kecilnya akan terbangun. Jalan terakhir yang bisa Johnny lakukan adalah mencari video bagaimana cara membuat kimbab, setelah menontonnya dan menghafalkan semua tata caranya dengan penuh keyakinan Johnny mulai membuat kimbab kreasinya, dalam hati Johnny sudah menyumpahi Ten jika wanita itu tak memakan masakannya kali ini.

Sekitar tiga puluh menit berlalu dan kimbab buatan Johnny nampak telah siap, Ten terlihat begitu bersemangat dengan sumpit di tangannya. Ia mulai menyantap kimbab buatan Johnny, ia terlihat begitu bahagia saat sensasi lembut kimbab menyatu dengan mulutnya. Johnny hanya duduk di hadapan Ten dan tak berniat menyantap makanannya, perutnya terasa masih penuh setelah makan malam tadi. Johnny tak habis pikir kenapa nafsu makan istrinya bisa seperti ini, benar-benar mengerikan.

"Mau air…." Ucap Ten dengan mulut yang penuh dengan kimbab. Johnny beranjak dari duduknya dan mengambilkan segelas air untuk Ten yang dibalas wanita itu dengan senyuman cerah.

"Kau tidak mau, ini enak…." Ucap Ten, ia berniat memberikan sepotong kimbab pada Johnny namun ditolak oleh pria tampan itu.

"Kau saja yang habiskan, di perutmu kan ada dua manusia." Ucap Johnny sedikit bercanda.

Selama menunggu Ten menghabiskan kimbabnya Johnny mati-matian menahan kantuknya, bahkan berkali-kali kepalanya terantuk meja makan. Bahkan saat ini Johnny sedikit tersentak saat Ten mebangunkannya, wanita itu nampak baru saja selesai menyantap sepiring kimbab dan tersenyum ke arahnya.

"Ayo ke atas, kau pasti mengantuk." Ucap Ten, ia menarik tangan Johnny dan membawanya kembali ke kamar mereka.

"Terima kasih untuk malam ini." Ucap Ten seraya mengecup kening Johnny yang nampak telah kembali terlelap dalam tidurnya. Setelahnya Ten juga ikut terlelap dengan perut yang kenyang dan hati yang bahagia.

Ten benar-benar sibuk bulan ini, terhitung ini adalah kesekian kalinya ia melakukan syuting CF berbagai macam produk. Lagipula Ten mengerti batasan tubuhnya sendiri, ia pasti akan istirahat saat merasa lelah. Di usia kehamilannya yang memasuki bulan ketiga Ten masih terlihat mengenakan high heels untuk pekerjaannya, tentu saja tingginya tidak separah dulu saat ia masih melajang namun tetap saja terkadang ia merasa kakinya cukup pegal. Seperti hari ini ia baru saja menyelesaikan syuting CF dan tampak tengah berbaring di sofa yang berada di ruang tunggu. Di ujung sofa ada Doyoung yang nampak memangku kaki Ten dan tengah memijat lembut kaki sahabatnya itu.

"Sudah kubilang jangan gunakan sepatu setinggi itu." Kesal Doyoung, pasalnya ia telah berulang kali memperingatkan wanita hamil itu namun Ten tetap saja bersikeras menggunakannya.

"Justru ini kesempatan terakhirku menggunakannya." Elak Ten.

"Dan jadi seperti in? lihat kakimu saja sampai tegang begini." Ucap Doyoung dengan nada suara yang sedikit meninggi.

"Kalau Johnny tahu ia pasti sudah menghabisiku." Ucap Doyoung.

"Aku tidak akan memberitahunya." Balas Ten seraya terkekeh.

Saat malam hari Ten nampak telah berbaring di kasurnya wanita itu terlihat meringis kecil saat mendapati perutnya yang tiba-tiba saja terasa nyeri. Rasa nyeri yang sama seperti yang ia rasakan sebulan yang lalu. Ten berusaha untuk tetap tenang, lagipula besok adalah jadwal kontrol bulanannya ke rumah sakit, mungkin ia akan menanyakannya pada Wendy besok.

Ten dan Johnny terlihat telah sampai di ruangan Wendy, Ten masih menyembunyikan dari Johnny jika semalam ia sempat merasakan nyeri di perutnya. Wendy meminta Ten untuk berbaring seperti biasa dan sedikit menyingkap pakaian yang dikenakan oleh wanita cantik itu.

"Mau coba dengar detak jantungnya?" Tanya Wendy, ia bahkan terlihat lebih antusias dibandingkan Ten dan Johnny hari ini. Wendy mulai mengolesi gel di permukaan perut Ten dan menggerakkan transducer di atas perut Ten yang terlihat mulai membulat karena telah memasuki masa akhir trimester pertama.

Wendy nampak terdiam cukup lama saat tengah menatap monitor yang ada di hadapannya. Hal itu jelas membuat Ten yang tengah berbaring bertanya-tanya.

"Ada apa Wendy-ssi?" Tanya Ten.

"Sepertinya salah satu bayi kalian tidak berkembang." Ucap Wendy.

Ten merasa dunianya hampir runtuh, baru saja ia merasakan kebahagiaan kenapa tiba-tiba saja langsung berubah jadi kesedihan, pikirnya.

"Ma- maksudmu apa?" Tanya Ten, suaranya terdengar mulai bergetar dengan netra indahnya yang terlihat berkaca-kaca. Johnny yang seolah mengerti perasaan istrinya lantas menggenggam erat jemari Ten dan berusaha menenangkannya.

"Lihat, dia tidak berkembang, sangat berbeda dengan kembarannya." Jelas Wendy seraya mengarahkan Ten dan Johnny untuk menatap layar monitornya.

"Aku akan pastikan dengan mengecek detak jantungnya, kau harus tenang." Ucap Wendy, dari ujung matanya ia jelas melihat Ten yang telah menangis deras. Dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Wendy mulai menjelajahi perut Ten untuk menemukan detak jantung bayi kembar pasiennya itu. Detak jantung bayi pertama berhasil ditemukan, terdengar begitu kencang dan cepat dan suara itu berhasil memenuhi ruang pemeriksaan. Ten dapat sedikit bernafas lega, setidaknya ia masih bisa mendengarkan suara detak jantung bayinya. Wendy kembali mencari namun tak menemukan apapun, hari itu salah satu bayi kecil pasiennya tidak tumbuh dengan baik dan harus pergi meninggalkan kembarannya. Wendy bergegas membersihkan sisa gel yang masih menempel di perut Ten dan berusaha menjelaskan sebaik mungkin pada Ten dan Johnny tentang apa yang tengah terjadi.

Wendy menjelaskan jika apa yang Ten alami biasa dikenal sebagai vanishing twin syndrome. Dokter cantik itu mengatakan jika apa yang Ten alami merupakan salah satu komplikasi dalam kehamilan kembar. Ten jelas mulai menangis saat mendengar apa yang Wendy katakan, Johnny yang berada di sebelahnya hanya bisa menenangkan istrinya itu dengan mengelus lembut bahunya.

"Apa karena aku yang terlalu sibuk bekerja akhir akhir ini hiks…." Ten mulai menyalahkan dirinya sendiri yang itu berhasil membuat Wendy cukup khawatir.

"Bukan begitu, dalam kasus seperti ini tidak terjadi secara tiba-tiba, biasanya karena janin yang kau kandung memiliki kelainan kromosom sehingga membuatnya tidak berkembang dengan baik." Ucap Wendy mencoba menjelaskan sebaik mungkin, bagaimanapun juga ia tak mau pasiennya itu menyalahkan dirinya sendiri dan membahayakan janin yang masih hidup.

"Apa itu berbahaya untuk kembarannya yang masih hidup?" Tanya Johnny.

"Tenang saja pada kasus seperti ini karena usia kandungan Ten yang masih muda nantinya cairan ketuban dan jaringan plasenta dari janin yang telah mati akan diserap kembali oleh tubuh ibu atau kembarannya. Kondisi bayi kalian yang lain juga sangat sehat, detak jantungnya juga normal dan dia tumbuh sangat baik, tenang saja jangan terlalu khawatir." Jelas Wendy, Johnny nampak mengangguk berbeda dengan Ten yang masih sibuk menangis dan menyandarkan kepalanya ke bahu kokoh sang suami.

"Sudah ya, sedihnya jangan berlarut-larut. Sekarang kita hanya perlu fokus pada satu bayi yang tersisa. Lihat dia sudah sebesar buah plum." Ucap Wendy berusaha menghibur pasiennya.

Di sepanjang perjalanan pulang Ten hanya terdiam, bahkan ia meminta Johnny langsung membawanya ke rumah. Padahal sebelumnya wanita itu terlihat mengajak sang suami pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bra baru karena ukuran payudaranya yang mulai berubah. Sesampainya di rumah Ten masuk terlebih dahulu meninggalkan Johnny yang berada di belakangnya. Ten nampak memasuki kamar mereka dan berbaring di kasurnya dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya.

"Sayang…. Sudah. Ingat kan Wendy bilang apa, itu bukan salahmu." Ucap Johnny, ia nampak duduk di tepian kasur mereka dan mengelus lembut kepala Ten ia jelas melihat dengan jelas jika istrinya itu mulai menangis.

"Seharusnya aku tidak bekerja terlalu keras hiks…. Aku bukan ibu yang baik ya John." Ucap Ten di sela-sela tangisnya. Johnny membawa Ten dalam dekapannya, ia juga merasakan kesedihan seperti yang Ten rasakan namun ia tak bisa menunjukkannya lebih lama karena sejatinya Ten lebih membutuhkan dukungan saat ini.

"Sudah ya, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kasian bayi kecil kita yang lainnya jika kau terus-menerus bersedih seperti ini." Ucap Johnny, ia mulai mengelus lembut wajah sang istri dan menghapus jejak air mata yang tersisa disana. Lama-kelamaan tangisan wanita itu mereda, Ten nampak memeluk Johnny erat-erat dan meminta pria tinggi yang berstatus sebagai suaminya itu mengelus lembut perutnya.

Bagaimanapun juga Ten masih dilingkupi sedikit rasa penyesalan apalagi jika mengingat rasa nyeri yang ia rasakan semalam. Seandainya semalam ia memberitahu Johnny, mungkin akhirnya tak akan seperti ini. Namun menyesal pun tak akan ada gunanya karena waktu tak akan pernah bisa diputar. Yang perlu Ten lakukan sekarang hanyalah menjaga sisa bayinya dengan baik dan memastikan bayi kecilnya bisa menemuinya beberapa bulan kedepan.

"Tumbuh dengan baik ya, kau harus temui mama…." Monolog Ten pada perut buncitnya.

"Daddy juga…." Tambah Johnny seraya tersenyum menenangkan.

Sepasang suami istri itu lantas tertawa dan mulai memeluk satu sama lain, karena sebenarnya tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya perlu memastikan jika salah satu bayi mereka tumbuh dengan baik dan bisa melihat dunia dengan bebas suatu saat nanti.