9. Ddalgi

Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa usia kandungan Ten telah memasuki bulan keempat. Ia dan Johnny telah pergi menemui Wendy beberapa hari lalu. Dokter cantik itu mengatakan jika kira-kira bayi kecil mereka telah seukuran buah alpukat dan yang lebih mengejutkan Wendy bilang bobot bayi kecil Ten termasuk besar. Ten jadi paham mengapa orang-orang yang ia temui mengiranya hamil lima bulan, tentu saja itu semua berkat nafsu makannya yang meningkat drastis apalagi setelah memasuki trimester kedua.

Hari ini Ten tengah bersantai di rumahnya karena kebetulan ia tak memiliki jadwal apapun. Wanita cantik itu nampak tengah menonton drama dengan semangkuk besar salad yang ia nikmati sejak tadi. Rumah mereka terlihat begitu sepi karena Johnny telah pergi ke kantor pagi-pagi sekali dan Kim ahjumma tidak datang hari ini. Ten nampak fokus menonton drama yang tersaji di televisi besar rumah mereka. Di drama itu si wanita yang tengah hamil besar memanggil janin yang ada dalam perutnya dengan nama buah, Ten merasa itu sungguh lucu. Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di otaknya, sepertinya ia harus memberi nama juga untuk anak yang tengah ia kandung.

Ten tengah bersandar di sofa dan menatap ke arah atap rumah mereka yang berwarna putih bersih. Tangannya ia bawa ke atas perutnya dan mengelusnya perlahan, Ten sedikit terkekeh saat merasakan sensasi geli yang menjalar di perutnya. Ia jadi teringat perkataan Wendy beberapa hari lalu, Wendy bilang saat usia empat bulan bayi dalam kandungan mulai terasa gerakannya walaupun hanya sebatas gelitikan kecil dan Ten telah mulai merasakannya, setiap si kecil menggelitik perutnya ia seolah merasa ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Seolah hatinya tiba-tiba menghangat saat sadar ada nyawa lain dalam tubuhnya. Ten tengah memikirkan nama yang menurutnya cantik untuk digunakan sebagai panggilan untuk anaknya.

Ten tampak tersenyum cerah saat tengah menyantap potongan buah stroberi, akhir-akhir ini Ten sangat menyukai buah itu dan beberapa hari lalu Ten sempat melihat pohon stroberi yang berbuah banyak meski hanya ditanam di sebuah pot kecil. Dan dengan penuh keyakinan Ten memutuskan untuk memanggil anaknya dengan sebutan ddalgi, Ten harap dengan nama panggilan itu si kecil dapat tumbuh dengan sehat bagaimanapun keadaannya seperti buah stroberi yang selalu tumbuh subur dan berbuah banyak dalam satu pohonnya.

"Mama memanggilmu ddalgi, bagaimana?" Monolog Ten pada perut bulatnya dan benar saja setelah itu ia merasakan sensasi gelitikan yang menjalar di perutnya. Sepertinya anak mereka suka dengan panggilan yang baru saja diberikan oleh sang mama.

Ten nampak tengah tertidur setelah menghabiskan makanannya, entah mengapa akhir-akhir ini ia mudah sekali mengantuk. Netra indahnya perlahan terbuka saat merasakan seseorang nampak tengah menyentuh perutnya. Itu Johnny, pria itu terlihat baru saja sampai di rumah. Penampilannya masih cukup berantakan dengan kemeja putihnya yang nampak keluar dari celananya.

"Kapan kau sampai?" Tanya Ten.

"Sepuluh menit yang lalu mungkin." Ucap Johnny, ia mulai menanggalkan kemeja dan celananya dan hanya menyisakan kaos berwarna putih serta celana pendek yang biasanya ia kenakan.

"Mau makan?" Tawar Ten.

"Aku baru saja makan dengan Taeil beberapa menit lalu." Ucap Johnny, saat ini ia nampak berbaring di kasur dengan menjadikan paha Ten sebagai bantalannya.

"Jadi apa hari ini anak kita membuatmu repot?" Tanya Johnny, ia memutar kepalanya hingga berhadapan langsung dengan perut bulat Ten yang nampak terlihat karena Johnny telah menaikkan sedikit pakaian yang Ten kenakan.

"Aku punya nama daddy." Jawab Ten dengan suara anak kecil yang dibuat-buat.

"Hah?" Johnny nampak terkejut seolah tak mengerti maksud perkataan istrinya itu.

"Mulai sekarang panggil dia ddalgi." Ucap Ten semangat, jemari lentiknya nampak sibuk menyisir surai lebat Johnny yang terlihat berantakan.

"Ddalgi? You mean strawberry?" Tanya Johnny.

"Hum…. lucu bukan?" Tanya Ten.

"Kau mau menamai anak kita ddalgi- maksudmu Seo Ddalgi begitu?" Tanya Johnny.

"Yak…. Tentu saja tidak, ddalgi itu nama panggilan saat masih di dalam perut supaya kita lebih mudah berkomunikasi dengan dia. Lagipula kau kan sudah janji mau memberi nama anak kita." Ucap Ten dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Jangan begitu, kau membuatku tergoda tahu." Ucap Johnny, lantas ia meminta Ten sedikit menunduk dan kemudian menyambar bibir tipis istrinya itu.

"Aku tidak tahu ada hal semacam itu." Ucap Johnny.

"Ini sedang populer di kalangan wanita hamil, Wendy juga pernah bercerita padaku jika beberapa pasiennya memiliki nama panggilan untuk janin mereka. Wendy juga mengatakan jika hal yang seperti itu sangat bagus untuk meningkatkan kedekatan anak dan orang tua." Jelas Ten panjang lebar. Dan mulai hari itu baik Ten dan Johnny mulai memanggil anak mereka sebutan ddalgi.

Jika di bulan sebelumnya Doyoung sudah berencana untuk menghentikan semua jadwal Ten, nyatanya tiba-tiba saja wanita cantik itu malah menerima banyak penawaran kontrak kerja. Jangan silahkan Doyoung, silahkan saja Ten yang malah terlihat lebih menawan terutama saat kehamilannya memasuki trimester kedua. Sebagian orang menganggap Ten tengah mengalami pregnancy glow, lihat saja kulit dan rambutnya yang kian bersinar yang membuat siapapun tertarik padanya. Jangan lupakan juga rona merah alami yang berada di pipi chubby nya bukankah membuat banyak orang semakin tertarik.

Hari ini karena Ten tidak memiliki jadwal apapun Doyoung berinisiatif datang ke rumah sahabatnya itu. Wanita manis serupa kelinci itu terlihat membawa beberapa kontrak kerja yang harus Ten tanda tangani. Tentu saja semua kontrak tersebut telah lolos persetujuan Johnny, Ten jelas masih ingat bagaimana suaminya itu membaca semua penawaran yang datang untuk istrinya, menyeleksinya satu-persatu sampai akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Ten!" Teriak Doyoung saat baru saja memasuki rumah mewah pasangan Seo itu. Doyoung memang sudah menganggap rumah sahabatnya itu sebagai rumah kedua, jadi jangan salahkan siapapun jika wanita itu terlihat bersifat santai dan sedikit semena-mena saat berada disana.

"Astaga, kau sedang apa?" Tanya Doyoung saat mendapati Ten tengah menangis dengan semangkuk besar sereal yang tengah ia nikmati.

"Doyoung bagaimana ini…. Kenapa filmnya sedih begini hiks…." Ucap Ten, ternyata wanita itu tengah menikmati tontonannya sejak tadi.

"Kukira kau kenapa." Ucap Doyoung. Wanita itu lantas duduk di sebelah sahabatnya dan mulai membuka beberapa dokumen yang disimpan di tasnya. Dari tempatnya duduk saat ini Doyoung dapat melihat dengan jelas Ten yang bersandar dengan bantal yang berada di belakang pinggulnya hari itu.

"Apa sudah mulai pegal-pegal?" Tanya Doyoung.

"Hum…. kadang sedikit pegal, tapi tak masalah aku masih bisa mengatasinya." Ucap Ten seraya tersenyum.

Sebenarnya tak banyak berubah dari tubuh sahabatnya itu, hanya perutnya saja yang membuncit dan pipinya jadi sedikit lebih chubby. Selebihnya tak ada yang berubah, Ten masih terlihat cukup ramping untuk wanita hamil seusianya. Hanya saja Doyoung jelas masih ingat jika beberapa hari lalu Ten bercerita tentang bobot bayinya cukup besar, mungkin saja itu yang membuat Ten mengalami pegal-pegal. Doyoung menduga jika semua makanan yang Ten makan diserap sempurna oleh bayinya jadi tak perlu banyak bertanya kenapa bayi sahabatnya itu berbobot cukup besar mengingat seberapa banyak makanan yang Ten konsumsi akhir-akhir ini.

"Anakmu benar-benar membawa keberuntungan." Ucap Doyoung.

"Dia punya nama. Panggil ddalgi mulai sekarang." Balas Ten.

"Ah…. Baiklah ddalgi. Kontrak barunya semuanya berhubungan dengan kehamilan mulai dari susu hamil, multivitamin, makanan bayi, detergen bayi, alat sterilisasi. Wah…. Kau luar biasa Ten." Ucap Doyoung panjang lebar.

"Aku juga tidak menyangka, tapi kau harus kosongkan jadwalku di trimester ketiga ya. Johnny sudah mengancamku sejak kemarin. Katanya dia akan membakar agensi Jaehyun jika aku masih bekerja di trimester ketiga." Ucap Ten dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Tenang saja, semuanya akan berakhir di bulan keenam. Johnny benar-benar protective sekali padamu ya." Ucap Doyoung, ia mulai mengambil pulpen dan menyerahkannya pada Ten, meminta wanita itu membaca seluruh kontraknya untuk kemudian ditandatangani.

"Begitulah." Balas Ten singkat.

Ten mulai membaca beberapa dokumen yang Doyoung berikan padanya, setelahnya ia nampak membubuhkan tanda tangannya sebagai tanda jika ia menyetujui kontrak kerja tersebut. Setelah semuanya selesai, Doyoung kembali merapikan semua dokumen dan memasukannya kembali ke dalam tasnya. Karena merasa kelaparan akhirnya Doyoung melenggang pergi ke dapur milik Ten dan bergegas menyantap apapun yang ada disana, lagipula Ten memang sengaja menyediakan semua makanan itu untuknya, jadi tidak masalah bukan.

Setelah Doyoung kembali ke apartemennya, Ten kembali sendirian di rumah. Ia baru saja selesai mandi karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa sedikit lengket karena keringat. Johnny baru saja mengabarinya jika ia akan pulang agak terlambat, pria tinggi itu juga berpesan pada Ten untuk tak memasak makanan apapun karena ia akan membelinya sepulangnya dari kantor nanti.

Ten menghabiskan waktunya menunggu kedatangan Johnny dengan membaca buku di kamarnya, tentu saja buku yang ia baca seputar kehamilan atau bagaimana caranya mempersiapkan diri menjadi orang tua. Dulu saat ia masih lajang Ten pernah berfikir pasti akan sangat membosankan membaca buku semacam itu, namun sekarang Ten menarik kembali kata-katanya, pasalnya ia telah menyelesaikan tiga buku soal kehamilan dalam waktu singkat. Benar-benar luar biasa.

Tak lama berselang Johnny terlihat baru saja kembali dari kantornya. Pria tinggi itu nampak berdiri di ambang pintu kamarnya dan mendapati Ten yang tengah serius membaca buku seraya sesekali mengelus perut besarnya.

"Ekhm…."

"Kau sudah sampai? Kenapa kebiasaan sekali sih tidak pernah bersuara saat masuk rumah." Kesal Ten. Demi Tuhan bahkan tadi Johnny telah memanggil Ten saat masih di bawah, bagaimana bisa wanita itu tak mendengarkan apapun.

Ten dan Johnny baru saja menyelesaikan makan malam mereka, lagi-lagi Johnny dibuat tercengang dengan nafsu makan istrinya yang cukup menggila. Tapi itu tak masalah sama sekali untuknya, seingat Johnny dulu Jaehyun pernah mengeluh padanya karena Taeyong yang menolak makan makanan apapun. Bukankah seharusnya ia bersyukur karena Ten tak mengalami masalah yang sama.

Johnny bergegas memasuki ruang kerjanya setelah selesai makan malam, Ten tengah membersihkan beberapa piring yang baru saja mereka gunakan. Mulanya Johnny melarang Ten melakukan aktivitas tersebut, namun istrinya itu terlihat merajuk dan hampir saja terjadi perdebatan antara sepasang suami istri itu hanya karena piring kotor. Johnny tengah memeriksa beberapa dokumen yang sempat ia bawa pulang dari kantornya seraya sesekali menikmati secangkir kopi yang sempat ia buat beberapa menit lalu.

"John…." Itu Ten, wanita cantik itu nampak berdiri di ambang pintu dan telah berganti pakaian dengan dress tidur pendek yang terlihat menggoda saat ia kenakan, apalagi semenjak hamil payudara wanita itu terlihat lebih berisi sehingga terlihat begitu sempurna saat dibalut dengan dress tersebut.

"Pfttt…." Johnny hampir saja mengotori dokumennya dengan semburan kopi, ia amat terkejut mendapati Ten yang berdiri di ambang pintu dengan dress tidur sepaha berwarna hijau tosca, dan lagi wanita itu perlahan mendekat padanya, ia mulai mengalungkan tangannya di leher Johnny.

"Ayo kita berhubungan sex…." Bisik Ten tepat di telinga Johnny.

Siapa yang bisa menolak, Johnny lantas bangkit dan menggendong Ten ala bridal style untuk segera menuju ke kamar mereka. Lagipula Johnny memang amat merindukan tubuh istrinya itu setelah ia menahan hasrat selama tiga bulan lamanya. Wendy juga mengatakan jika di usia kehamilan yang memasuki trimester kedua sah-sah saja jika mereka mau berhubungan badan asalkan tetap menjaga tempo permainan demi keselamatan bayi yang tengah berada dalam kandungan.

"Pelan-pelan jangan sakiti ddalgi." Ucap Ten.

Setelahnya lampu kamar mereka tampak redup dan mulai terdengar bunyi kecipak sebagai bentuk pelepasan rasa rindu dari dua insan manusia yang dimabuk asmara.