10. Louis & Leon
Hari ini Johnny dikejutkan dengan Ten yang kembali ke rumah dengan dua kandang kucing kecil di tangan kanan dan kirinya. Seharusnya Johnny tidak terlalu terkejut mengingat istrinya itu memang penyuka hewan berbulu seperti kucing dan anjing, namun yang membuatnya terperangah adalah Ten tiba-tiba memutuskan untuk merawat dua hewan berbulu itu saat tengah hamil seperti sekarang ini.
"Kau dapat dari mana?" Tanya Johnny, saat ini ia dan Ten tengah duduk berhadapan di sofa ruang keluarga, Ten nampak tersenyum tanpa dosa sedangkan Johnny tengah memijat pelan pelipisnya mengingat kembali betapa randomnya kelakuan sang istri akhir-akhir ini.
"Aku pergi ke animal shelter, lalu menemukan Louis Leon yang menggemaskan." Ucap Ten bangga.
"Louis Leon?" Tanya Johnny.
"Hum…. yang warna coklat itu kuberi nama Leon dan yang berbulu putih tapi mukanya hitam kuberi nama Louis, bagus kan? Terdengar seperti err- Perancis." Balas Ten.
"Tapi kau sedang hamil Ten, bagaimana bisa memelihara kucing." Kesal Johnny.
"Memangnya ada larangannya?" Tanya Ten polos, Johnny nampak terdiam, ia hanya pernah membacanya di beberapa artikel tentang betapa bahayanya bulu kucing untuk wanita yang tengah mengandung, sebenarnya sampai sekarang ia juga belum tahu itu boleh dilakukan atau tidak.
"Aku tidak mau mereka membahayakan anak kit-"
"Ddalgi Johnny, panggil dia ddalgi." Ucap Ten memotong omongan suaminya.
"Iya maksudku aku tak mau mereka membahayakan ddalgi." Ulang Johnny.
"Louis dan Leon sangat menyukai ddalgi, bahkan mereka menyentuh perutku saat kuajak bermain tadi." Sambung Ten, demi Tuhan seseorang ingatkan Johnny untuk tetap menahan emosinya kali ini.
"Pokoknya tidak bisa, aku tidak akan mengizinkanmu memelihara kucing." Larang Johnny.
"Tapi kenapa? Bukankah mereka menggemaskan. Boleh ya…. Kumohon…." Ucap Ten, ia mulai membujuk Johnny dengan puppy eyes nya.
"Tidak, akan kuberikan satu pada Taeil dan satu pada Doyoung, biar mereka yang merawatnya." Jelas Johnny, ia terlihat mulai menjangkau kandang kucing yang berada di sebelah kaki Ten hari itu, namun tiba-tiba saja suara Ten yang menangis membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Hiks…. Johnny jahat…. Aku kan hanya mau merawat mereka, memangnya kau tidak kasihan dengan mereka yang tidak punya orangtua hiks…." Tangis Ten penuh drama.
"Mana sempat aku terpikir tentang orang tua kucing itu." batin Johnny, ia nampak mengusap kasar wajahnya dan mulai duduk di sebelah Ten yang masih sibuk menangis.
"Ten…. Maksudku baik, aku hanya tak ingin hal buruk terjadi pada kalian berdua." Ucap Johnny seraya menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Tapi aku mau kucing itu hiks…. Memangnya siapa yang bilang jika wanita hamil tak boleh memelihara kucing, kau jahat sekali hiks…." Balas Ten disela-sela tangisnya.
Demi Tuhan kepala Johnny semakin pening menanggapi tingkah laku Ten, bahkan wanita itu sampai menangis sesegukan hanya karena dua ekor kucing yang ingin ia pelihara. Seolah tak ada pilihan lain, Johnny nampak menghembuskan nafas panjang dan menyetujui keinginan sang istri meskipun dengan berbagai persyaratan.
"Okay fine…. Kita pelihara, tapi kau tidak boleh berkontak langsung dengan Louis Leon sampai aku mendengar sendiri penjelasan dari Wendy soal hal ini." Ucap Johnny final.
"Tapi aku mau bermain se-"
"Terima atau kita batalkan?" Ucap Johnny memotong perkataan Ten.
"Baiklah, aku setuju…." Jawab Ten, wanita itu terlihat pasrah dan mulai menghapus jejak air matanya.
Hari ini adalah jadwal Ten memeriksakan kandungannya ke rumah sakit, jika menurut perhitungan Ten dan sesuai dengan keterangan di aplikasi yang ia gunakan, saat ini usia kandungannya sudah 18 minggu atau memasuki awal bulan kelima. Sejak beberapa hari lalu Ten mulai mengeluh jika pinggulnya terasa pegal, terlebih karena ia masih harus melakukan beberapa pekerjaan diluar.
Ten dan Johnny telah berada di ruangan Wendy, Ten nampak berbaring di ranjang pasien yang ada di ruangan Wendy dengan pakaian bagian perutnya yang nampak terbuka. Wendy mulai memeriksa kondisi janin Ten dengan menggerakkan transducer yang ada di tangannya, Wendy bilang jika diibaratkan di minggu ini ukuran janin yang berada dalam perut Ten sudah sebesar buah mangga dan alat reproduksi si kecil juga mulai terbentuk.
"Mau lihat jenis kelaminnya?" Tawar Wendy.
"Bol-"
"Tidak…." Ucap Ten cepat, ia bahkan menyela omongan Johnny yang terlihat begitu penasaran.
"Aku mau jadi kejutan." Ucap Ten seraya terkekeh. Baiklah sepertinya tak ada yang bisa Johnny lakukan, ia terlihat mengangguk seraya tersenyum tipis hari itu.
"Coba mulai ajak janin berbicara, karena di bulan ini si kecil mulai bisa mendengar suara ayah dan ibunya, juga suara televisi atau suara lain yang berada di sekitar mama." Jelas Wendy, tangannya mulai sibuk mengetikan sesuatu dengan keyboard yang ada di mejanya. Ten yang masih terduduk di ranjang dan tengah memperbaiki penampilannya nampak mengangguk semangat, lagipula Ten sudah sering mengajak ddalgi berbicara sejak lama.
Ten pulang ke rumah dengan perasaan yang amat bahagia dan senyuman cerah yang menghiasi wajah cantiknya. Pasalnya beberapa menit lalu Wendy mengatakan jika ibu hamil diperbolehkan memelihara kucing asalkan dijaga kebersihan kandangnya. Jika bisa ibu hamil juga tidak boleh berkontak langsung dengan kotoran kucing. Wendy juga berpesan supaya kucing-kucing milik Ten diberikan makanan sehat dan tidak diperbolehkan bermain keluar demi mejaga keselamatan Ten dan ddalgi.
"Benar kan kataku, ibu hamil tetap boleh memelihara kucing tahu, wle…." Ucap Ten yang nampak menjulurkan lidahnya untuk meledek Johnny yang tengah mengangkut beberapa mainan dan perlengkapan untuk kucing yang baru saja mereka beli beberapa menit lalu.
"Terserah…. Aku akan tetap membatasimu bermain dengan Louis Leon." Ucap Johnny.
Jadi demi menjaga keamanan ddalgi, Johnny berinisiatif menyulap salah satu penjuru rumah mereka menjadi arena khusus para kucing. Ruangan itu akan dibatasi dengan dinding kaca supaya Ten dapat melihat kegiatan para kucing. Johnny juga sudah berpesan pada Kim ahjumma untuk merawat kucing-kucing mereka, memberi mereka makan, membuang kotoran, sampai mengajak mereka bermain. Johnny benar-benar memutar otaknya bagaimana caranya agar Ten tidak terlalu sering berkontak dengan kucing-kucing mereka.
"Sayang kau beli apa lagi…." Teriak Johnny dari pintu depan, pasalnya ini kali ketiganya ia mengambil paket yang berisi barang belanjaan istrinya dan saat dibuka semuanya adalah barang untuk kucing mereka. Johnny benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.
"Ini untuk Louis Leon, nanti mereka bisa bermain disini, tidur disini, lalu buang air disini." Ucap Ten, ia nampak begitu antusias membuka semua barang yang baru saja ia beli dan menunjukkannya pada Johnny.
"Lihat lihat…. Tempat makannya lucu kan." Ucap Ten semangat.
"Kau sesenang itu?" Tanya Johnny, saat ini ia nampak tengah memasukkan beberapa barang ke ruangan kucing mereka dan menatanya dengan rapi.
"Hum…. tidak sabar sekali bisa bermain dengan Louis Leon. Ddalgi cepat besar ya nanti kita bermain bersama." Ucap Ten seraya mengelus lembut perut buncitnya. Johnny yang melihat kegiatan itu nampak tersenyum teduh, walaupun Ten cukup menyebalkan akhir-akhir ini namun ia merasa amat bahagia melihat Ten yang ceria hari itu.
Johnny baru menyelesaikan misi –membuat rumah kucing- nya saat sore menjelang. Saat Louis dan Leon dilepaskan di dalam sana ia jelas melihat bagaimana netra indah Ten berbinar cerah dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
"Lihat John…. Gemas sekali…." Ucap Ten, ia mulai merekam kucing-kucing kecil itu dengan ponsel miliknya.
"Sudah dulu, kau bisa lihat lagi nanti. Kau belum makan kan?" Ucap Johnny, ia menyeret Ten ke ruang makan mereka dan mulai menyantap makanan yang sempat Ten siapkan pagi tadi.
Memasuki bulan kelima ada yang berubah dari pola makan Ten, jika di bulan-bulan sebelumnya ia sering sekali makan dengan porsi yang besar di bulan ini porsi makannya nampak berkurang, hanya saja jam makan Ten benar-benar berantakan. Ia tak peduli lagi kapan harus makan dan tidak.
Saat waktunya tidur netra indah Ten nampak tak bisa terpejam, padahal jika diingat Johnny sudah berpesan padanya untuk tidur sejak dua jam yang lalu karena pria tinggi itu tengah sibuk di ruang kerjanya. Ten tampak sibuk menambahkan beberapa bantal untuk mengganjal bagian pinggulnya karena sejak tadi terasa begitu pegal hingga membuatnya tak nyaman.
"Belum tidur?" Tanya Johnny, ia nampak baru saja tiba dan bergegas menghampiri Ten yang sibuk mengelus perut besarnya.
"Ddalgi rewel sekali…. Dia bergerak terus sejak tadi. Pinggul ku juga pegal sekali." Ucap Ten. Memang sejak beberapa hari yang lalu ddalgi kecil mereka sudah mulai bergerak bahkan tak jarang menendang dan kejadian itu selalu terjadi saat malam hari tepat saat Ten hendak memejamkan mata, Wendy bilang itu hal yang wajar karena saat usia lima bulan bayi mulai banyak bergerak dan bermain dengan ibunya.
"Wendy bilang ddalgi berukuran cukup besar, dia pasti butuh ruang di dalam sana." Ucap Johnny, ia nampak telah duduk di sebelah Ten dan menyingkap piyama yang Ten kenakan hingga ia dapat mengelus perut besar sang istri dengan bebas.
"Dug…." Sebuah tendangan kecil nampak Ten rasakan setelah Johnny mengelus perutnya.
"Ddalgi malah lebih senang saat kau mengelusnya." Ucap Ten, bibirnya nampak menekuk kebawah karena jujur saja tendangan itu sedikit membuatnya tidak nyaman.
"Ddalgi-ya pelan-pelan ya bermainnya, mama harus tidur." Ucap Johnny dihadapan perut besar Ten seraya sibuk mengelusnya. Seolah mendengar perkataan sang ayah ddalgi nampak mulai tenang dan berhasil membuat Ten bernafas lega.
"Sudah ya…. Ayo tidur…." Ucap Johnny, pria tinggi itu terlihat membantu Ten menyamankan posisi tidurnya. Ten nampak miring ke arah kiri dengan bantal yang mengganjal bagian perutnya dan satu bantal lain yang ditaruh dibawah kaki supaya posisi kaki Ten lebih tinggi untuk menjaga peredaran darahnya.
"John usap lagi, ddalgi lebih tenang saat kau menyentuhnya hoam…." Ucap Ten dengan mata yang hampir terpejam dan sesekali menguap lebar. Johnny menuruti apa yang Ten katakan, ia terus mengelus lembut perut besar Ten sampai akhirnya ia juga terlarut ke alam mimpi.
