11. Suspicious
Akhir-akhir ini Ten nampak sangat suka menonton drama, apapun genrenya ia pasti tak akan melewatkannya. Namun ada satu drama yang membuat Ten begitu tertarik sampai hampir emosi saat menontonnya, bahkan wanita cantik itu juga pernah menangis saat menonton drama yang sama.
"Hiks…. Lee Taeoh menyebalkan, bagaimana bisa dia selingkuh dengan wanita lipbalm cherry." Kesal Ten saat tengah menonton drama kesukaannya.
Hari ini ia di rumah bersama Kim ahjumma namun wanita tua itu tengah sibuk memberi makan kucing-kucing majikannya juga membersihkan penjuru rumah. Sedangkan Johnny, pria tinggi itu tengah berada di Busan karena ada masalah pekerjaan yang harus ia selesaikan. Jadi sejak kemarin Doyoung akan datang ke rumah Ten dan menemani wanita itu tidur. Kim ahjumma yang tengah membersihkan penjuru ruangan dengan vacuum cleaner nampak terkekeh saat mendapati Ten yang terlihat marah dengan pipi yang menggembung lucu hari itu.
Seolah sejalan dengan drama perselingkuhan yang tengah marak akhir-akhir ini. Ternyata laman aku gossip pun menunjukkan hal yang tak jauh berbeda. Bahkan kemarin Ten sempat membaca berita yang menyebutkan seorang aktor jepang yang selingkuh selama tiga tahun lamanya padahal sang istri tengah hamil besar. Jujur saja Ten jadi sedikit risau saat membaca berita semacam itu bahkan berulang kali Doyoung memarahinya karena Ten selalu melihat berita yang tak berguna. Manager cantik itu hanya tak mau melihat Ten yang kembali terluka seperti beberapa bulan yang lalu.
Hari ini Ten tengah berada di lokasi pemotretan majalah ibu dan anak, ya rencananya hari ini ia akan melakukan pemotretan untuk cover dari majalah tersebut. Ten terlihat begitu cantik dengan mini dress selutut dan sepatu kets yang ia kenakan jangan lupakan juga riasan tipis yang terlukis di wajah cantiknya.
"Kau sudah dengar jika suami Luna berselingkuh di belakangnya?" Ucap salah satu staf yang tengah merapikan beberapa pakaian. Saat ini Ten tengah berada di ruangan yang digunakan untuk bersiap-siap, jadi ada banyak orang disana dan siapapun yang berbicara pasti akan didengar oleh semua orang disana.
"Hum…. sedih sekali, memangnya apa sih kekurangan Luna. Dia cantik, baik hati, dan sangat menyayangi keluarganya." Balas seorang staf lain.
"Huft…. Pria jaman sekarang semakin aneh saja jenisnya. Lebih baik Luna lepaskan saja pria itu, sudah jelas sekali dia bukan orang yang baik." Ucap seorang staff yang tengah membantu Ten bersiap-siap.
"Chogiyo yang kalian bicarakan Luna sunbaenim kan?" Tanya Ten memastikan.
"Iya Ten, coba kau lihat apa kurangnya Luna. Tidak ada kan?" Ucap salah seorang staff. Ten nampak mengangguk setuju karena seniornya itu memang tak memiliki kekurangan apapun menurut Ten, namun apalah daya manusia memang tak pernah puas kan.
"Di dunia ini mungkin ada pria yang tak pernah berselingkuh, tapi tak ada pria yang selingkuh hanya sekali. Pasti akan ketagihan." Sambar Doyoung, Ten menggelengkan kepalanya seraya bertepuk tangan. Ia tak menyangka jika kata-kata semacam itu bisa keluar dari mulut Doyoung.
"Ah iya Ten sudah berapa bulan?" Tanya seorang staf wanita seraya mengelus lembut perut besar Ten.
"Lima…." Balas Ten, ia nampak antusias dan menunjukkan lima jari tangannya. Saat ini wanita itu tengah duduk di salah satu kursi dengan jus mangga di tangannya. Ia tengah menunggu seorang staff memasangkan sepatunya karena agak sulit bagi Ten jika harus memasang sepatunya sendiri untuk saat ini.
"Wah benarkah? Kukira sudah enam bulan. Pasti anakmu sangat sehat, lahir dengan selamat ya Nak." Balas seorang staf yang memulai mengelus lembut perut Ten.
"Nde imonim…." Ucap Ten dengan suara anak kecil yang dibuat-buat. Semua orang yang berada di sana pun nampak tertawa melihat tingkah Ten. Pasalnya memang kian hari wanita itu terlihat kian menggemaskan.
Ten telah berbaring di kasurnya dengan Doyoung yang berada di sebelahnya. Doyoung nampak telah menguap berkali-kali sejak tadi berbeda dengan Ten yang terlihat masih terjaga dengan ponsel yang berada di tangannya.
"Dasar Yoo Dakyung penyihir jahat…." Kesal Ten saat tengah menonton drama dengan ponselnya.
"Dug…. Dug…." Ddalgi nampak mengganggu Ten dengan menendang perut sang mama hingga membuat sang pemilik perut nampak terkesiap.
"Lihat anakmu bahkan menyuruhmu berhenti. Sudah lebih baik kau tidur, ini sudah malam." Ucap Doyoung seraya menguap lebar. Ten lantas mematikan ponselnya dan mulai memperbaiki posisi bersandarnya.
"Aku sebenarnya sudah ingin tidur sejak tadi, tapi ddalgi bergerak terus kesana-kemari." Keluh Ten.
"Ah dia sering begitu ya?" Tanya Doyoung mulai terlihat penasaran.
"Terkadang begini, biasanya Johnny yang selalu menenangkan dia. Sayang sekali suamiku itu belum juga kembali." Kesal Ten.
"Ddalgi sudah ya…. Daddy sedang pergi, main-mainnya nanti lagi ya. Ayo kita tidur." Ucap Ten.
"Dug… dug… dug…." Bukannya diam ddalgi malah semakin ribut menendang perut sang ibu hingga membuat Ten meringis kecil.
"Sakit Ten?" Tanya Doyoung, ia bahkan merubah posisinya menjadi duduk karena khawatir dengan sahabatnya itu.
"Ahhh…. Tidak terlalu, kau tenang saja." Ucap Ten seraya tersenyum tipis.
"Tapi sepertinya ddalgi masih mau mengajakmu bermain." Ledek Doyoung, ia nampak terkekeh saat mendapati sedikit pergerakan dari perut Ten. Sedangkan Ten nampak menekuk bibirnya ke bawah dan mulai menyamankan posisi berbaringnya.
"Ten boleh aku minta sesuatu?" Tanya Doyoung tiba-tiba.
"Apa?" Balas Ten singkat.
"Boleh aku memegang perutmu? Aku sangat penasaran seperti apa rasanya." Ucap Doyoung malu-malu.
"Astaga ku kira kenapa. Pegang saja." Ucap Ten, ia nampak menaikkan pakaiannya dan membawa tangan Doyoung ke permukaan perut besarnya supaya kulit mereka bisa langsung bersentuhan.
"Woah daebak…." Kagum Doyoung, ia baru saja hendak menarik kembali tangannya namun tiba-tiba Ten nampak menahannya.
"Lagi Doy, sepertinya ddalgi menyukaimu. Dia jadi lebih tenang." Ucap Ten sedikit memelas. Dan malam itu berlanjut dengan Doyoung yang mengelus lembut perut sahabatnya sampai Ten tertidur lelap.
"Mamamu sudah lelah bekerja hari ini, sudah ya kau juga harus istirahat." Ucap Doyoung, ia mulai menurunkan kembali pakaian Ten dan tak butuh waktu lama wanita serupa kelinci itu juga ikut memejamkan mata.
Johnny telah kembali dari Busan sejak dua hari yang lalu. Namun sejak hari itu Ten merasa ada yang aneh dengan suaminya, Johnny sering sekali pulang larut malam dengan alasan pekerjaan atau makan malam bersama koleganya. Pria tinggi itu juga baru akan pergi ke kasur saat dini hari atau terkadang berakhir tertidur di sofa yang ada di ruang kerjanya dengan ponsel yang ia genggam erat-erat. Dan Ten semakin curiga saat tiba-tiba saja Johnny meninggalkannya di tengah sarapan dan mengangkat panggilan telepon dari seseorang yang Ten tak tahu siapa. Hatinya mulai gundah, bayangan tentang drama perselingkuhan yang selalu ia tonton mulai berputar di otaknya. Bahkan drama perselingkuhan suami Luna jadi kembali Ten ingat.
Siang itu Ten nampak mengendap-endap masuk ke kamarnya, baru saja ia mendapati Johnny yang tengah sibuk di ruang kerjanya. Perlahan Ten mendekat ke arah jas kerja sang suami yang tergeletak di salah satu kursi yang ada di kamar mereka.
"Ddalgi ayo kita pastikan jika daddy tak terkena rayuan wanita dengan lip balm cherry." Monolog Ten pada perut besarnya.
Ten mulai menjelajah setiap sisi jas Johnny, memasukkan tangannya ke semua kantong dan memastikan tak ada satupun yang terlewat. Ten tak menemukan lip balm cherry seperti dugaannya, namun ia menemukan satu hal yang membuatnya terkejut dan hampir menangis terisak siang itu.
"Kau sedang apa?" Ucap Johnny yang baru saja datang dan mendapati Ten yang tengah mengacak jasnya.
"Kau menangis?" Tanya Johnny, ia nampak khawatir saat mendapati Ten yang telah berurai air mata.
"Johnny Seo! Kau berani bermain dibelakangku!" Teriak Ten.
"Hah? Apa maksudmu? Aku bermain apa?" Tanya Johnny, ia jelas tak mengerti kemana arah pembicaraan istrinya itu.
"Tak usah banyak bicara. Ini apa hah! Kim Yerim itu siapa?" Teriak Ten murka.
"Hai kau salah paham, itu tak seperti yang kau pikirkan." Jelas Johnny, ia hampir frustasi menghadapi tingkah istrinya itu.
"Tak perlu mengelak! Dasar pria jahat." Ujar Ten, ia nampak melempar kotak cincin yang baru saja ia temukan dari kantong jas yang dikenakan suaminya lengkap dengan sebuah kertas yang bertuliskan nama seseorang beserta nomor ponselnya.
Ten meninggalkan Johnny begitu saja, ia menghentakkan kakinya tanpa mau mendengarkan penjelasan suaminya. Johnny nampak masih berdiri terpaku, otaknya masih memproses apa yang terjadi. Ia mengusap wajahnya kasar saat lagi-lagi harus menghadapi satu dari sekian banyak perubahan sikap yang terjadi pada istrinya.
Disisi lain di ruang keluarga Ten nampak tengah menangis tersedu-sedu, ia berulang kali memukul dadanya karena rasa sakit yang ia rasakan. Belum lagi ddalgi yang nampak menendang sejak tadi. Jadi begini rasanya dikhianati, begini rasa sakitnya, pikir Ten siang itu. Wanita itu terus menangis tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
